Tag: Mark

  • Miliarder yang Menolak Tunduk

    Miliarder yang Menolak Tunduk

    OLEH: AHMADIE THAHA

       

    DI tengah dunia miliarder yang sibuk menumpuk harta, mengoleksi yacht, dan membangun bunker bawah tanah demi menghadapi kiamat ciptaan mereka sendiri, ada satu sosok yang memilih jalan berbeda: Jimmy Lai. Alih-alih menikmati kejayaan kapitalisme dalam diam, ia justru menjadikan dirinya musuh otoritarianisme.

    Perjalanan epik Lai diabadikan oleh Mark L. Clifford dalam bukunya “The Troublemaker: How Jimmy Lai Became a Billionaire, Hong Kong’s Greatest Dissident, and China’s Most Feared Critic” (Free Press, 3 Desember 2024). Buku ini lebih dari sekadar biografi; ia catatan tentang bagaimana seorang buruh miskin di pabrik sweater bisa menjadi duri dalam daging bagi Beijing.

    Lebih dari itu, buku ini juga menggambarkan bagaimana otoritarianisme berusaha melenyapkan siapa pun yang memiliki modal —baik finansial maupun intelektual— untuk membongkar kebobrokannya. Lai, yang menjadi mimpi buruk bagi Partai Komunis Tiongkok (PKT), kini mendekam di sel yang mungkin akan ia huni seumur hidup.

    Clifford menulis bahwa kisah Lai telah “mengungkap kekejaman dan kebiadaban sistem komunis Tiongkok.” Sistem yang selama ini menikmati dukungan finansial dan politik dari banyak pihak di Amerika Serikat dan dunia Barat, didorong oleh keserakahan atau ketidaktahuan mereka terhadap realitas PKT.

    Jimmy Lai, yang nama aslinya Lai Chee-ying, lahir di Guangzhou pada 1947 atau 1948 —tak ada kepastian, karena di Tiongkok saat itu, bahkan tanggal lahir bisa menjadi alat propaganda. Sejak kecil, ia sudah merasakan bagaimana otoritarianisme bisa menghancurkan kehidupan orang-orang biasa.

    Ketika ayahnya kabur ke Hong Kong, keluarganya ditinggalkan dalam penderitaan yang nyaris tak terhindarkan. Ibunya dianggap “kelas musuh” hanya karena menikah dengan pria yang sedikit lebih kaya daripada petani miskin pada umumnya. Akibatnya, ia harus menghadapi “struggle session”, kerja paksa, dan kemiskinan yang luar biasa.

    Dari situ, Lai belajar satu hal: kebebasan adalah barang langka yang hanya bisa diraih dengan perlawanan. Maka, ia pun kabur ke Hong Kong dan bekerja di pabrik sejak remaja. Seperti kisah klasik “rags to riches”, ia bekerja keras, berhemat, dan akhirnya membangun kerajaan bisnis retail pakaian Giordano.

    Sebagai miliarder mode dengan jenama (merk) terkenal, Lai bisa saja memilih hidup nyaman seperti kebanyakan orang kaya lainnya. Namun, ia justru mengambil jalur yang lebih berisiko: dunia media. Ya, dia mendirikan Next Digital (semula Next Media), perusahaan media yang terdaftar di bursa saham.

    Bila ada satu hal yang paling ditakuti oleh rezim otoriter selain rakyat yang berpikir kritis, itulah media yang berani memberitakan kebenaran. Lai, yang sudah kaya raya dan bisa saja pensiun dengan santai di vila mewahnya, justru mendirikan “Apple Daily”, surat kabar yang secara terang-terangan mengkritik PKT.

    Ia tak hanya menyediakan platform bagi gerakan pro-demokrasi Hong Kong, tetapi juga menjadi pengkritik vokal terhadap pembungkaman kebebasan oleh Beijing. Sejak 1997, saat Hong Kong “dikembalikan” ke Tiongkok dengan janji kebebasan yang akhirnya menjadi sekadar kertas kosong, Lai sudah masuk daftar musuh utama Beijing.

    Pada Desember 2020, Lai dianugerahi “Penghargaan Kebebasan Pers” oleh Reporters Without Borders atas perannya dalam mendirikan “Apple Daily,” sebuah media berita di bawah kepemimpinannya yang pro-demokrasi. Media ini masih berani secara terbuka mengkritik rezim Tiongkok dan secara luas meliput protes pro-demokrasi.

    Puncaknya terjadi pada 2020: ia ditangkap atas tuduhan mengada-ada dan dijebloskan ke penjara. Sampai sekarang, dan entah kapan keluarnya, ia masih meringkuk dalam sel isolasi di Penjara Stanley, Hong Kong. Pada 19 Agustus 2024, pengajuan bandingnya ditolak. Ia tetap berada dalam sel isolasi.

    Setelah dipenjara, Lai semakin mendalami ajaran Katolik dan membaca tulisan-tulisan filsuf teologis yang menguatkan keyakinannya bahwa kebebasan sejati tak bisa dikurung dalam sel. Clifford mencatat bahwa Lai, yang awalnya seorang agnostik, akhirnya menemukan ketenangan dalam iman Katoliknya.

    Di dalam sel, ia menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku teologi Katolik, termasuk “The Collected Works of St. John of the Cross” dan karya-karya G. K. Chesterton. Clifford menulis bahwa Lai “merangkul keterbatasan fisik di penjara sebagai cara untuk memelihara kebebasan mental dan spiritualnya.”

    Jimmy Lai bukan sekadar pebisnis atau aktivis. Ia simbol bahwa kebebasan berpendapat memiliki harga —dan terkadang harga itu adalah kehilangan seluruh harta, kebebasan, bahkan nyawa. Namun, yang membedakannya dari banyak orang yang memilih menyerah adalah keyakinannya yang tak tergoyahkan.

    Clifford menggambarkan Lai dengan penuh hormat, tetapi tanpa menjadikannya martir sempurna. Ia tetap manusia, dengan segala kelemahan dan kontradiksinya. Namun, di dunia yang penuh dengan pengusaha yang lebih memilih berkompromi dengan kekuasaan demi mempertahankan keuntungan, Jimmy Lai muncul sebagai anomali yang mengganggu.

    Maka, apakah Jimmy Lai seorang troublemaker? Bagi rakyat Hong Kong dan para pencinta kebebasan, ia adalah pahlawan. Namun, bagi PKT, ia masalah yang harus diselesaikan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa kebebasan selalu memiliki harga—dan ada orang-orang yang berani membayarnya hingga lunas.

    *(Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur’an)

  • Konser Hari Pertama di Jakarta, NCT 127 Ungkap Kerinduan kepada NCTzen

    Konser Hari Pertama di Jakarta, NCT 127 Ungkap Kerinduan kepada NCTzen

    Jakarta, Beritasatu.com – Boyband NCT 127 membuka konser Neo City: Jakarta – The Momentum hari pertama, Sabtu (15/2/2025) dengan semarak. Member NCT 127 mengungkapkan rasa rindu mereka kepada NCTzen (nama penggemar NCT).

    Konser Neo City: Jakarta – The Momentum dimulai pukul 19.00 WIB. Johnny, Yuta, Doyoung, Jungwoo, Mark dan Haechan muncul di atas panggung mengenakan pakaian serba hitam.

    Penampilan apik NCT 127 ditambah tata cahaya dan kembang api menambah kemeriahan konser malam ini. Selain itu, interaksi antara member dan penggemar membuat konser Neo City: Jakarta – The Momentum semakin terasa akrab.

    “Lebih keras lagi, mana suaranya? Sudah lama sekali tidak bertemu dengan Sijeunni di Jakarta. Karena sudah lama tidak berjumpa, maka kami akan membuat Anda semua bahagia,” kata Jungwoo.

    Ia juga mengingatkan agar para penggemar untuk tetap mengutamakan keamanan selama konser berlangsung. Kerinduan terhadap penggemar juga diungkapkan oleh member NCT 127 lainnya, Mark.

    “Kalian kangen kami tidak? Kami pun kangen sekali dengan kalian. Kita akan bersenang-senang sampai akhir, tentunya dengan aman ya,” kata Mark kepada NCTzen.

    Keenam member pun secara bergantian menyapa para penggemar. Konser NCT 127 bertajuk Neo City: Jakarta – The Momentum yang diadakan oleh Dyandra Global Edutainment berlangsung sekitar 2,5 jam.

    Keenam member NCT 127 membawakan Gas sebagai lagu pertama dan disambut penuh antusias oleh NCTZen. Kemudian lagu Faster, Bring The Noize dan 2 Baddies dibawakan tanpa jeda dan membuat suasana di Indonesia Arena, Senayan semakin panas.

    Setelah berganti baju, lagu berikutnya yang dibawakan adalah Skyscraper dan Chain. Ribuan penggemar ikut bernyanyi bersama sambil mengayunkan Neo-bong atau lightstick NCT.

    Total ada lebih dari 20 lagu yang dibawakan dalam konser ini, beberapa judul lagu lainnya ada Designer, Kick It, Regular, Sticker, No Longer, Fact Check dan masih banyak lagi. 

    Konser NCT 127 yang bertajuk Neo City: Jakarta – The Momentum akan kembali digelar di Indonesia Arena, Senayan, Minggu, (16/2/2025) pukul 15.00 WIB.

  • NCT 127 Suguhkan Penampilan Enerjik dan Penuh Semangat Saat Konser di Jakarta

    NCT 127 Suguhkan Penampilan Enerjik dan Penuh Semangat Saat Konser di Jakarta

    Jakarta, Beritasatu.com – Boy group asal Korea Selatan, NCT 127, kembali menggelar konser di Jakarta dalam rangka tur dunia mereka bertajuk “NCT 127 4th Tour NEO CITY: Jakarta – THE MOMENTUM”. Konser yang sangat dinantikan ini diselenggarakan dengan penuh kemeriahan, diiringi antusiasme tinggi dari para penggemar.

    Sejak awal pertunjukan, para anggota NCT 127 tampil dengan energi luar biasa, membuat suasana stadion semakin semarak.

    Konser dibuka dengan pemutaran video eksklusif yang menampilkan para member NCT 127, membangun ketegangan dan ekspektasi di antara para penggemar.

    Tak lama setelah itu, keenam anggota yang hadir malam itu, yakni Doyoung, Jungwoo, Mark, Johnny, Yuta, dan Haechan, muncul di atas panggung dengan kostum serba hitam yang memberikan kesan karismatik. Konser yang dipromotori oleh Dyandra Global Edutainment ini pun resmi dimulai dengan lagu Gas, yang langsung membakar semangat seluruh penonton.

    Sejak detik pertama, para penggemar setia NCT 127 yang dikenal sebagai NCTzen atau Sijeuni menyambut idola mereka dengan sorakan penuh semangat. 

    Venue dipenuhi oleh lautan warna hijau neon dari lightstick resmi mereka, “NCT Lightstick”, yang terus berkedip-kedip mengikuti irama musik. Tak hanya itu, mereka juga dengan kompak menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan serta meneriakkan fanchant dengan penuh energi, menciptakan atmosfer konser yang luar biasa.

    Setelah membawakan lagu pembuka, NCT 127 melanjutkan penampilan mereka dengan deretan lagu penuh energi, seperti Faster, Bring The Noize, 2 Baddies, Skyscraper, dan Chain (versi Korea). Koreografi yang kuat dan harmonisasi vokal yang apik semakin membuat penonton terpukau.

    Tak hanya tampil dengan penuh karisma, para member juga berusaha berinteraksi dengan penggemar di Jakarta menggunakan bahasa Indonesia.  Salah satu momen yang mencuri perhatian pada konser NCT 127 adalah ketika Doyoung menyapa penonton dengan senyum hangatnya.

    “Apa kabar? Aku Doyoung,” ucapnya dengan aksen yang menggemaskan, disambut sorakan histeris dari para penggemar yang hadir pada Sabtu (15/2/2025).

    Konser ini tetap berlangsung dengan meriah meskipun kali ini NCT 127 hanya tampil dengan enam anggota. Dua member lainnya, Taeyong dan Jaehyun, tidak dapat hadir karena sedang menjalani wajib militer mereka.

    Namun, para personel yang hadir berusaha memberikan penampilan terbaik mereka untuk mengobati rasa rindu para penggemar.

    Dengan pertunjukan yang penuh energi, efek visual yang spektakuler, serta interaksi hangat antara member dan penggemar, “NCT 127 4th Tour NEO CITY: Jakarta – THE MOMENTUM” sukses menciptakan malam yang tak terlupakan bagi NCTzen Indonesia.

    Konser ini sekali lagi membuktikan bahwa NCT 127 tetap menjadi salah satu grup K-Pop yang mampu memberikan pengalaman panggung luar biasa dan menjalin kedekatan emosional dengan para penggemarnya di seluruh dunia.

  • Gegap Gempita Jelang Konser NCT 127: Euforia Penggemar Tak Terbendung di Hari Pertama

    Gegap Gempita Jelang Konser NCT 127: Euforia Penggemar Tak Terbendung di Hari Pertama

    Jakarta, Beritasatu.com – Konser boy group asal Korea Selatan, NCT 127, bertajuk “NCT 127 4th Tour NEO CITY: Jakarta – THE MOMENTUM” hari pertama akan digelar pada Sabtu (15/2/2025) malam, di Indonesia Arena. Acara ini menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para penggemar, mengingat popularitas NCT 127 yang terus meningkat di Indonesia.

    Sejak siang hari, para penggemar setia NCT 127 yang dikenal dengan sebutan NCTzen sudah mulai memadati area sekitar venue. Padahal, konser baru dijadwalkan dimulai pada pukul 19.00 WIB.

    Antusiasme para penggemar terlihat jelas dari banyaknya yang datang lebih awal, bahkan beberapa di antaranya sudah berkumpul sejak pagi demi mendapatkan pengalaman konser yang maksimal.

    Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, suasana di sekitar Indonesia Arena begitu meriah dengan lautan warna hijau, yang merupakan warna resmi fandom NCT.

    Mayoritas penggemar mengenakan pakaian, aksesoris, hingga membawa lightstick hijau khas NCT, yang disebut “NCT Light Stick” atau Czennie Bong.

    Mereka tidak hanya sekadar menunggu konser dimulai, tetapi juga memanfaatkan waktu untuk berfoto bersama di berbagai spot ikonik yang telah disediakan di area venue.

    Salah satu yang paling diminati adalah banner bergambar para member NCT 127, dengan penggemar dengan penuh antusias mengabadikan momen di depan banner idola mereka.

    Selain itu, pihak penyelenggara telah mengadakan sesi check sound pada pukul 16.30 WIB untuk pemegang tiket kategori NEO CITY, 127 Squad, dan Kategori 1. Sesi ini menjadi kesempatan emas bagi beberapa penggemar yang beruntung untuk melihat langsung persiapan para member sebelum konser utama dimulai.

    Namun, dalam konser kali ini, NCT 127 hanya tampil dengan enam personel, yakni Doyoung, Jungwoo, Mark, Johnny, Yuta, dan Haechan. Dua member lainnya, Taeyong dan Jaehyun, absen karena sedang menjalani wajib militer di Korea Selatan.

    Namun, semangat para penggemar tetap tinggi, dan mereka menunjukkan dukungan penuh kepada grup favorit mereka.

    Dengan atmosfer yang luar biasa dan antusiasme NCTzen yang begitu besar, konser NCT 127 ini menjadi salah satu peristiwa yang tak terlupakan bagi para penggemar K-Pop di Indonesia.

    Hari pertama konser NCT 127 pun diharapkan berjalan lancar, dan para penggemar semakin tidak sabar menantikan kejutan yang akan diberikan NCT 127 pada hari kedua.

  • TikTok Akhirnya Kembali ke App Store di AS Usai Sempat Diblokir – Page 3

    TikTok Akhirnya Kembali ke App Store di AS Usai Sempat Diblokir – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta TikTok dikabarkan akan kembali tersedia di App Store Amerika Serikat (AS) mulai Kamis, 25 Februari 2025, waktu setempat.

    Kabar ini datang dari jurnalis Bloomberg, Mark Gurman, yang melaporkan bahwa mantan Jaksa Agung Amerika Serikat, Pam Bondi, sudah memberikan izin kepada Apple untuk memulihkan aplikasi tersebut.

    Bagaimana Status TikTok di iPhone?

    Mengutip 9to5mac, Sabtu (15/2/2025), saat ini pengguna iPhone yang sudah menginstal TikTok di AS masih bisa mengaksesnya melalui aplikasi atau pun web. 

    Tapi, aplikasi ini tidak bisa diperbarui lewat App Store, tidak bisa diunduh ulang juga jika terhapus, dan tidak bisa ditransfer ke iPhone baru.

    Kenapa TikTok Sempat Dihapus?

    TikTok sebelumnya dihapus dari App Store dan Google Play di AS setelah ByteDance, perusahaan induknya gagal memenuhi persyaratan pemerintah AS untuk mendivestasikan kepemilikannya.

    Undang-undang soal ini sudah disahkan Kongres dan ditandatangani Presiden Joe Biden, tapi eksekusinya sempat ditunda.

    Saat ini, pemerintah Donald Trump akan menentukan langkah selanjutnya. Menariknya, walau Trump sebelumnya bersikeras ingin melarang TikTok saat masih menjabat dulu, sekarang justru memberi sinyal mendukung aplikasi ini tetap tersedia.

    Bahkan, ia memberikan tambahan waktu 75 hari bagi ByteDance untuk mencari solusi dengan perusahaan AS atau pemerintah setempat.

    Pengguna TikTok di Indonesia Perlu Khawatir?

    Saat ini, larangan ini cuma berlaku di AS dan tidak berdampak pada pengguna di Indonesia. Jadi penggunna Indonesia tidak perlu khawatir.

  • Taktik Baru PHK Massal Dikritik Habis-habisan, Karyawan Dizalimi

    Taktik Baru PHK Massal Dikritik Habis-habisan, Karyawan Dizalimi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Badai PHK massal menjadi momok di industri teknologi. Tren yang kencang sejak pandemi tersebut masih berlanjut hingga kini.

    Di 2025, raksasa teknologi menggunakan ‘modus’ baru untuk PHK. Misalnya Microsoft dan Meta Platforms (Facebook, Instagram, WhatsApp) yang memangkas karyawan dengan alasan ‘kinerja buruk’.

    Bahkan, Business Insider melaporkan beberapa karyawan terdampak PHK di Microsoft diputuskan secara langsung dan tanpa pesangon.

    Sementara itu, Meta menyebut 3.600 karyawan yang kena PHK adalah mereka yang memiliki kinerja paling rendah di perusahaan. CEO Meta Mark Zuckerberg sejak pertengahan Januari lalu mengatakan perusahaan telah menaikkan standar kinerja karyawan.

    Perusahaan juga mengatakan akan melakukan pemangkasan lebih ekstensif berbasis kinerja. Namun, banyak karyawan Meta yang terdampak PHK merasa bingung dengan penilaian kinerja tersebut.

    Beberapa karyawan terdampak membagikan cerita mereka di LinkedIn. Salah satu karyawan mengaku tetap kena PHK, padahal laporan tengah tahunnya menunjukkan kinerja yang melebihi ekspektasi.

    “Saya secara berkala menanyakan feedback dan selalu diberi tahu bahwa saya melakukan pekerjaan dengan baik,” kata Kaila Curry, mantan Content Manager Meta, melalui laman LinkedIn, dilaporkan Fortune dan dikutip dari Yahoo Finance, Jumat (14/2/2025).

    “Saya kena PHK hari ini. Tapi bukan karena saya berkinerja buruk,” kata pengguna LinkedIn lainnya, Steven S.

    “Ini harus jelas. Label itu sangat tidak benar untuk kebanyakan dari kami,” ia menambahkan.

    Meta belum mengklarifikasi pengkategorian untuk karyawan terdampak PHK. Meta juga belum merespons permintaan komentar dari Fortune terkait pertanyaan itu.

    Beberapa pakar mengatakan kepada Fortune bahwa label ‘kinerja rendah’ yang diatribusikan ke karyawan terdampak PHK, secara sengaja atau tidak, bersifat sangat subjektif dan berpotensi tidak adil.

    “Ini adalah cara yang buruk untuk memberikan label seperti itu. Tentu saja label itu tidak membantu karyawan terdampak di bursa kerja,” kata Sally Maitlis, profesor kepemimpinan dan perilaku organisasi di Said Business School.

    Dan Cable yang merupakan profesor perilaku organisasi di London Business School mengatakan pekerja yang diberikan label ‘berkinerja buruk’ di Meta belum tentu secara otomatis membuat mereka juga berkinerja buruk di perusahaan lain.

    “Orang-orang ini bisa saja menjadi bintang di tempat lain,” kata dia.

    “Menurut saya, label ini seperti hukuman tambahan, sebab orang-orang yang kena PHK bisa saja sebenarnya bernilai tinggi,” ia menambahkan.

    (fab/fab)

  • Meta Ingatkan Bahaya Penipu yang Menyamar Jadi Selebriti

    Meta Ingatkan Bahaya Penipu yang Menyamar Jadi Selebriti

    Jakarta

    Menjelang Hari Valentine, Meta memperingatkan pengguna untuk berhati-hati saat didekati orang tidak dikenal di Facebook dan Instagram. Bukannya mendapat teman atau pasangan baru, pengguna malah terancam menjadi korban romance scam.

    Romance scam alias penipuan berbasis asmara sebenarnya bukan hal yang baru. Namun pelaku penipuan ini sangat gigih dalam mencari korban dan memanfaatkan teknologi baru untuk mengelabui korban.

    Meta mengatakan sepanjang tahun 2025 mereka sudah menghapus lebih dari 116.000 akun dan halaman di Facebook dan Instagram yang terkait dengan romance scam. Tahun lalu, mereka menghapus lebih dari 408.000 akun sejenis.

    Menurut laporan Meta, akun penipu ini banya yang berasal dari negara di Afrika Barat. Penipu biasanya berpura-pura sebagai selebriti terkenal atau anggota militer Amerika Serikat.

    Dalam kedua kasus tersebur, penipu akan mengaku sedang mencari cinta dan akan memulai percakapan dengan pengguna via Facebook, Instagram, WhatsApp, dan platform berkirim pesan lainnya. Akhirnya, penipu akan meminta korban mengirimkan gift card, kripto, atau jenis pembayaran lainnya.

    Meta sudah mengambil sejumlah langkah untuk melawan penipuan seperti ini. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu tahun lalu mengatakan akan menghadirkan teknologi pengenal wajah untuk mengatasi kasus pemalsuan identitas selebriti.

    Meta juga bekerjasama dengan perusahaan lainnya untuk menindak kelompok penipu yang terorganisir. Namun, Director of Threat Disruption Meta David Agranovich mengatakan penipu terus berevolusi.

    Salah satu bentuk evolusinya adalah dengan memanfaatkan teknologi baru seperti AI. Peneliti keamanan AI memudahkan penipu untuk menggunakan identitas palsu yang meyakinkan.

    “Dalam tiga atau empat bulan terakhir, ada beberapa tools berbeda yang dirilis secara gratis, mudah diakses, mudah digunakan, dan memungkinkan penipu mengubah wajah mereka secara dinamis dalam panggilan video,” kata CEO SocialProof Security Rachel Tobac, seperti dikutip dari Engadget, Jumat (14/2/2025).

    “Mereka juga dapat menggunakan bot deepfake yang memungkinkan pembuatan persona, melakukan panggilan telepon, menggunakan kloningan suara dan tidak perlu melibatkan manusia,” sambungnya.

    (vmp/vmp)

  • Review Film Bridget Jones: Mad About the Boy, Bab Baru Romansa Gaya Lama

    Review Film Bridget Jones: Mad About the Boy, Bab Baru Romansa Gaya Lama

    Jakarta, Beritasatu.com – Setelah 24 tahun sejak film pertamanya Bridget Jones’s Diary (2001), serial film komedi romantis yang dibintangi Renee Zellweger kembali dengan film keempatnya, Bridget Jones: Mad About the Boy (2025). Film yang mulai tayang di bioskop Indonesia bertepatan dengan Hari Kasih Sayang, Jumat (14/2/2025) itu menjadi bab baru romansa Bridget Jones dengan gaya pendekatan yang sama dengan film-film sebelumnya.

    Beritasatu.com mendapatkan kesempatan mengikuti screening perdana film ini, Kamis (13/2/2025). Perbedaan utama dari Bridget Jones: Mad About the Boy dengan film pendahulunya ialah kali ini Bridget telah bertransformasi dari wanita muda kikuk menjadi ibu tunggal yang berjuang menghadapi kehilangan dan menjalani kehidupan baru tanpa pasangan.

    Bridget Jones: Mad About the Boy mengambil latar cerita kehidupan Bridget setelah kematian suaminya, Mark Darcy (Colin Firth), yang meninggal beberapa tahun setelah kejadian pada film ketiga (Bridget Jones’s Baby, 2016). Menjadi seorang ibu dari dua anak kecil, Bridget berusaha menyeimbangkan kehidupan keluarga, pekerjaan, dan masalah pribadi.

    Mengingat janji kepada almarhum ayahnya untuk menjalani hidup dengan bahagia, Bridget berusaha membuka hatinya untuk dua pria yang berbeda, Roxster (Leo Woodall) yang muda dan lebih ekspresif, dan Wallicker (Chiwetel Ejiofor) guru anaknya yang lebih kalem dan rasional.

    Sutradara Michael Morris berhasil mengarahkan film ini dengan nuansa yang lebih mendalam daripada sebelumnya. Meskipun ada komedi khas Bridget Jones yang menyenangkan, film ini juga membawa penonton dalam perjalanan emosional yang lebih serius, menyentuh tema kehilangan dan bagaimana seorang ibu yang menghadapi kesedihan.

    Salah satu aspek terbaik dari film ini adalah kemampuannya untuk menyelipkan momen-momen emosional tanpa mengurangi inti komedi yang sudah melekat erat pada karakter Bridget. Kita melihat sosok lugu Bridget merawat anak-anaknya yang berduka dan menghadapi ketakutan untuk melupakan suaminya yang telah tiada. Semua dilema ini digambarkan dengan mulus.

    Renee Zellweger kembali memerankan Bridget dengan sangat apik. Pemenang dua Piala Oscar itu mampu menampilkan sisi Bridget yang ceroboh dan penuh semangat yang penonton kenal, tetapi dengan kedalaman emosional yang baru. Zellweger membuktikan ia adalah jiwa utama dari waralaba film ini.

    Bridget Jones: Mad About the Boy (2025). – (Universal Pictures/-)

    Kembalinya Hugh Grant sebagai Daniel Cleaver dengan pesona dan rayuan khasnya, membuat penonton teringat akan romansa naik turun antara Bridget dan Daniel. Kehadiran karakter Roxster dan Wallicker sebagai love interest juga menambah dinamika dan kompleksitas kehidupan Bridget.

    Selain kembalinya beberapa pemeran pendukung dari film sebelumnya, Bridget Jones: Mad About the Boy juga memiliki beberapa referensi dari film terdahulu yang cuplikannya dimunculkan pada post credit scene. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi para penonton yang mengikuti serial ini sejak film pertama, meski gaya pendekatan dan komedi romantis yang ditampilkan seolah menjadi repetisi dari film-film sebelumnya.

    Bridget Jones: Mad About the Boy menawarkan keseimbangan antara komedi, drama, dan refleksi tentang bagaimana kita mengatasi kehilangan. Dengan cerita yang lebih matang dan totalitas seni peran Renee Zellweger, film berdurasi 125 menit ini sejatinya menjadi penutup yang pas dari waralaba yang bertahan lebih dari dua dekade.

  • Polda Sultra Naikkan Status Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Kapal Pesiar Azimut Atlantis 43

    Polda Sultra Naikkan Status Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Kapal Pesiar Azimut Atlantis 43

    Sulawesi Tenggara, Beritasatu.com – Ditreskrimsus Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menaikkan status perkara dugaan korupsi terkait pengadaan kapal pesiar Azimut Atlantis 43 oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra.

    Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Sultra Kombes Pol Bambang Wijanarko melalui Kasubdit III Tipidkor AKBP Ario Putranto Tuhu Mangabdi mengungkapkan, status perkara ini naik setelah pihaknya mengumpulkan bukti permulaan yang cukup dan menerima hasil audit investigasi awal dari Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) perwakilan Sultra.

    “Pada 6 Februari, status perkara ini naik ke penyidikan,” ujar AKBP Ario Putranto Tuhu kepada wartawan, Kamis (13/2/2025).

    AKBP Ario Putranto Tuhu menambahkan, sejauh ini penyidik telah memeriksa sebanyak 23 saksi, dan saat ini mereka tengah menunggu perhitungan pasti kerugian negara berdasarkan hasil audit investigasi awal yang dilakukan oleh BPKP. Meski demikian, hingga saat ini, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka dalam perkara ini.

    “Kami tidak bisa serta-merta menentukan tersangka sebelum ada hasil audit yang memastikan adanya unsur pidana, khususnya penyalahgunaan anggaran,” tegasnya.

    AKBP Ario Putranto Tuhu meminta semua pihak untuk bersabar dan memastikan bahwa kasus ini akan ditangani dengan serius hingga tuntas.

    Kasus dugaan korupsi pengadaan kapal pesiar Azimut Atlantis 43 ini sebelumnya dilaporkan ke Tipidkor Ditreskrimsus Polda Sultra.

    Kepolisian mulai menyelidiki dugaan mark up anggaran yang dilakukan oleh Pemprov Sultra dalam pengadaan kapal tersebut, karena spesifikasi barang dalam proses lelang yang dimenangkan oleh CV Wahana pada tahun 2020 tidak sesuai dengan hasil pengadaan.

    Dalam penyelidikan sebelumnya, penyidik mencurigai bahwa kapal yang didatangkan dari Singapura melalui Bea Cukai Marunda pada 2019 itu dibeli dalam kondisi bekas, dan kapal tersebut pernah terdeteksi terparkir di Pantai Indah Kapuk, kawasan perumahan elite di Jakarta.

    Pengadaan kapal pesiar ini menghabiskan anggaran sebesar Rp 9,98 miliar yang bersumber dari APBD Sultra tahun anggaran 2020, pada masa pandemi Covid-19. Dana tersebut digunakan oleh Biro Umum Sekretariat Provinsi Sultra.

    Sementara itu, Auditor Muda bagian investigasi BPKP perwakilan Sultra, Prian Mardia Kusuma, saat dikonfirmasi mengenai perkembangan kasus korupsi pengadaan kapal pesiar ini enggan memberikan tanggapan lebih lanjut.

  • Di Balik Obrolan Trump-Putin, Kala Eropa Tersedak Kenyataan Kalau AS Kini Bukan Lagi Penyelamat – Halaman all

    Di Balik Obrolan Trump-Putin, Kala Eropa Tersedak Kenyataan Kalau AS Kini Bukan Lagi Penyelamat – Halaman all

    Makna Obrolan Trump-Putin, Kala Eropa Tersedak Kenyataan Kalau AS Kini Bukan Lagi Guardian Angel

    TRIBUNNEWS.COM – Panggilan telepon antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Rabu (12/2/2025) dinilai punya makna mendalam terkait realias baru hubungan AS dengan para sekutu mereka di Eropa, khususnya terkait aliansi keamanan.

    Sebagai catatan, obrolan Trump-Putin berisi rencana mereka untuk mengakhiri perang di Ukraina dan sepakat untuk bertukar kunjungan.

    Reporter senior CNN, Stephen Collinson, menganalisis, panggilan telepon antar-presiden tersebut sebagi satu di antara dua kejutan geopolitik yang akan mengubah hubungan transatlantik, merujuk pada aliansi pertahanan negara-negara Eropa, NATO.

    Satu kejutan lainnya adalah, juga pada Rabu, kepergian Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth ke Brussels dan meminta sekutu Eropa untuk “mengambil alih kepemilikan keamanan konvensional di benua itu.”

    Collinson menggarisbawahi, dua kejutan ini menggambarkan kalau AS, di bawah kendali Trump, kini punya kebijakan luar negeri dan keamanan yang cenderung tidak lagi ramah bagi para sekutunya, khususnya mereka yang tidak menghasilkan keuntungan materialistis bagi negara Paman Sam.

    “Titik balik ini menyoroti jargon ‘America First’ Trump dan kecenderungannya untuk melihat setiap isu atau aliansi sebagai proposisi nilai dolar dan sen,” kata ulasan tersebut, dikutip Kamis.

    Artinya, meminjam istilah ‘matre’ untuk menunjukkan hal yang mengutamakan sisi matrialistis, AS kini akan lebih menimbang untung-rugi dalam jalinannya terhadap negara-negara sekutunya. 

    Selain berubah ‘matre’ demi AS, sikap Trump ini juga dinilai sebagai gambaran betapa sang presiden AS tak lagi mematuhi saran-saran yang berlandaskan pada pakem lama kebijakan luar negeri Barat.

    Kebijakan luar negeri yang lazimnya dijalankan AS lazimnya bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional, keamanan, dan kemakmuran ekonomi baik untuk AS maupun bagi negara-negara sekutunya. 

    Collinson menyebut pakem ini dengan istilah ‘mitologi’ yang sudah tidak dipakai lagi oleh Trump karena dianggap andil dalam kegagalan pada masa jabatan pertamanya di kursi presiden AS, empat tahun lalu.

    Dengan kata lain, Trump kini berfokus pada keuntungan materi dan strategis AS semata, dan untuk itu, kepentingan para sekutu tidak lagi menjadi hal utama. 

    Ilustrasi tank M1 Abram buatan AS yang disumbangkan ke Ukraina (Kementerian Pertahanan Ukraina)

    Bukan Lagi Guardian Angel

    Collinson juga menyoroti sikap AS terhadap aliansi pertahanan Eropa, NATO.
     
    “Meskipun Hegseth tetap berkomitmen membantu NATO, sesuatu yang mendasar telah berubah,” kata sang jurnalis.

    Ulasannya menyinggung soal peran besar Amerika memenangkan dua perang dunia yang dimulai di Eropa dan kemudian menjamin kebebasan benua itu dalam menghadapi ancaman Soviet.

    Namun, kata Collinson, makan siang tidak lagi gratis, dan AS meminta jatah lebih dalam porsi bagiannya.

    “Trump mengatakan di jalur kampanye bahwa ia mungkin tidak akan membela anggota aliansi yang belum cukup berinvestasi dalam pertahanan. Dengan demikian, ia menghidupkan kembali poin abadi yang dikemukakan dengan sangat fasih oleh Winston Churchill pada tahun 1940 tentang kapan “Dunia Baru, dengan segala kekuatan dan kekuasaannya” akan melangkah “untuk menyelamatkan dan membebaskan yang lama”,” kata ulasan Collinson menggambarkan paradigma baru AS terhadap hubungannya dengan negara-negara Eropa.

    Sebenarnya, tanda-tanda pemerintahan Trump ‘akan lebih matre’ dan lebih menuntut ke sekutu-sekutu AS di Eropa, sudah terlihat lebih mana.

    Namun, aksi dan pernyataan terang-terangan dari kubu Trump seperti membuat Eropa tersedak kenyataan kalau AS bukan lagi ‘Guardian Angel’ yang murah hati memberi perlindungan secara murah atau bahkan gratis.

    Terlebih, AS merasa dikerjai karena banyak negara-negara di Eropa banyak yang lebih mementingkan anggaran keperluan sosial ketimbang pertahanan.

    Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan kepada Parlemen Eropa bulan lalu bahwa orang-orang Eropa harus menyediakan lebih banyak uang untuk militer mereka.

    “Jika Anda tidak melakukannya, ambil kursus bahasa Rusia atau pergilah ke Selandia Baru,” katanya.

    Wujud kegerahan AS atas sikap negara-negara Eropa soal anggaran pertahanan ditegaskan Hegseth.

    Ia memformalkan permintaan Trump agar anggota aliansi membelanjakan 5 persen dari PDB untuk pertahanan dan mengatakan AS akan memprioritaskan konfliknya yang semakin meningkat dengan Tiongkok dan keamanan perbatasannya daripada Eropa. 

    “Amerika Serikat tidak akan lagi menoleransi hubungan yang tidak seimbang yang mendorong ketergantungan,” kata kepala Pentagon yang baru tersebut.

    Collinson menyebut, pendekatan baru yang keras AS ini tidak seperti fantasi Trump untuk menggusur warga Palestina di Gaza untuk membangun “Riviera Timur Tengah.” 

    “Ini adalah respons rasional terhadap realitas politik yang berubah.  Generasi Terhebat yang berjuang dalam Perang Dunia II dan menghasilkan presiden yang memahami bahaya kekosongan kekuasaan di Eropa telah tiada. Setiap orang Amerika yang memiliki ingatan dewasa tentang Perang Dingin melawan Uni Soviet setidaknya berusia pertengahan 50-an,” kata dia dalam ulasannya untuk menjelaskan kalau perimbangan kekuatan dunia sudah berubah. 

    Realitasnya adalah, pesaing terkuat Amerika Serikat, China, ada di Asia, bukan Eropa. 

    “Jadi, wajar bagi Trump untuk bertanya mengapa benua itu masih belum mengambil alih pertahanan dirinya sendiri 80 tahun setelah kekalahan Nazi,” kata ulasan tersebut mencermati cara pandang Trump yang memandang NATO terlalu bergantung ke AS.

    “Presiden Amerika dan pemimpin Eropa (dalam beberapa dekade belakanan) berturut-turut telah gagal memikirkan kembali NATO untuk abad ke-21. Jika melihat ke belakang, aliansi transatlantik itu membuat dirinya sangat rentan terhadap presiden Amerika yang paling transaksional dan nasionalis (Trump) sejak abad ke-19,” sambung ulasan tersebut.

    Tulisan itu dimaksudkan untuk menohok NATO yang cenderung mengandalkan AS untuk maju bertempur, sedangkan mereka ‘asyik’ memikirkan negara masing-masing.

    Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengusulkan dalam sebuah wawancara baru-baru ini di “The Megyn Kelly Show” di Sirius XM bahwa AS seharusnya tidak menjadi “ujung tombak” keamanan Eropa, tetapi justru sebagai “back stopper”, beking di belakang.

    Rubio menegur negara-negara besar Eropa. “Ketika Anda bertanya kepada mereka, mengapa Anda tidak bisa menghabiskan lebih banyak uang untuk keamanan nasional, argumen mereka adalah karena itu akan mengharuskan kita melakukan pemotongan pada program kesejahteraan, tunjangan pengangguran, agar bisa pensiun pada usia 59 tahun dan semua hal lainnya,” kata Rubio. 

    “Itu pilihan yang mereka buat. Tapi kita mensubsidi itu?”

    Perlakuan Trump terhadap sekutu seperti Kanada dan Meksiko, serta seruannya agar Denmark menyerahkan Greenland, menunjukkan rasa jijiknya terhadap kebijakan luar negeri multilateral AS di masa lalu. 

    Ia selalu memuji Putin dan Presiden China Xi Jinping atas kecerdasan dan kekuatan mereka. Jelas ia menganggap mereka satu-satunya lawan bicara yang layak bagi pemimpin tangguh dari negara adidaya lainnya, Amerika Serikat.

    “Agenda Trump bukan tentang keamanan Eropa: ia berpendapat bahwa AS tidak perlu membayar keamanan Eropa,” kata Nicholas Dungan, pendiri dan CEO CogitoPraxis, konsultan strategis di Den Haag.

    “Ini bukan era baru hubungan transatlantik, melainkan era baru hubungan negara-negara besar global yang menggantikan struktur kelembagaan tatanan internasional liberal yang disengaja.”

    PRESIDEN ZELENSKY – Foto yang diambil dari laman President.gov.ua tanggal 5 Februari 2025 menunjukkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Presiden Ukraina nyatakan kesiapannya untuk berunding dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. (President.gov.ua)

    Kabar Buruk Bagi Ukraina

    Ujian pertama realitas baru AS-Eropa ini akan datang melalui Ukraina.

    Trump mengatakan kalau negosiasi untuk mengakhiri perang Ukraina akan dimulai “segera” setelah panggilan teleponnya dengan Putin.

    Perlu dicatat, Putin adalah sosok yang telah dikucilkan oleh Barat sejak invasi militer Rusia ke Ukraina, sebuah negara demokrasi berdaulat, tiga tahun lalu.

    Obrolan Trump-Putin ini tidak menyertakan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, sebuah tanda yang mengkhawatirkan bagi pemerintah di Kyiv. 

    Selama ini, Zelensky berada di pusat (prioritas) semua hal yang dilakukan pemerintahan Joe Biden dalam perang tersebut. 

    “Trump memang menelepon Zelensky pada hari Rabu, tetapi presiden Amerika tersebut sudah memicu kekhawatiran bahwa dia akan menyusun resolusi yang menguntungkan Rusia,” kata ulasan tersebut. 

    Ketika ditanya oleh seorang reporter apakah Ukraina akan menjadi mitra yang setara dalam perundingan damai, Trump menjawab: “Itu pertanyaan yang menarik,” dan tampak berpikir dengan hati-hati, sebelum menjawab, “Saya katakan itu bukan perang yang baik untuk dilakukan,”.

    Ucapan Trump ini tampaknya menunjukkan kalau dia mempercayai pernyataan Putin kalau konflik tersebut adalah ‘kesalahan sebuah negara yang secara brutal diserbu oleh negara tetangga yang otoriter.’

    Pernyataan Hegseth juga terus terang menyudutkan posisi Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia.

    “Ia memaparkan titik awal AS untuk negosiasi tersebut: Ukraina tidak dapat kembali ke perbatasannya sebelum tahun 2014 sebelum invasi Krimea, Ukraina tidak dapat bergabung dengan NATO, dan pasukan AS tidak akan berperan dalam pasukan keamanan apa pun untuk menjamin perdamaian pada akhirnya,” kata laporan tersebut. 

    Pasukan penjaga perdamaian apa pun harus terdiri dari pasukan Eropa dan non-Eropa dan tidak akan tercakup dalam klausul pertahanan bersama NATO — yang berarti AS tidak bisa campur tangan menyelamatkan aliansi ini jika terjadi bentrokan dengan pasukan Moskow.

    Sebagai catatan, mantan Presiden Joe Biden juga enggan membahas kemungkinan Ukraina mendapatkan keanggotaan NATO, karena khawatir akan terjadi bentrokan dengan Rusia yang memiliki senjata nuklir yang dapat berubah menjadi Perang Dunia III. 

    “Dan desakan Trump bahwa pasukan penjaga perdamaian Eropa tidak akan mengenakan seragam NATO akan dilihat sebagai langkah yang sama bijaksananya oleh banyak pengamat untuk menghindari menyeret AS ke dalam konflik dengan Rusia,” papar ulasan tersebut

    Namun, Rabu juga merupakan hari terbaik bagi Putin sejak invasi, karena hari itu menyapu bersih banyak ‘mimpi’ yang diperjuangkan Ukraina dalam perangnya dengan Rusia. 

    Hegseth berpendapat bahwa ia hanya mengutarakan kenyataan yang ada di lapangan.

    “Dan ia ada benarnya. Tidak seorang pun di AS atau Eropa berpikir waktu dapat diputar kembali ke tahun 2014. Dan Ukraina tidak dapat merebut kembali wilayahnya di medan perang meskipun mendapat bantuan miliaran dolar dari Barat,” papar ulasan tersebut.

    “Namun, dengan menyingkirkan isu-isu tersebut dari meja perundingan, Trump, yang seharusnya menjadi pembuat kesepakatan tertinggi, telah merampas kesempatan Ukraina untuk mendapatkan konsesi dari teman lamanya, Putin,” kata ulasan tersebut. 

    “Seperti yang terjadi saat ini, Trump tampaknya tidak keberatan Rusia mempertahankan hasil rampasan invasi yang tidak beralasan itu,” lanjut tulisan tersebut.

    Sikap AS terhadap negosiasi yang cenderung menguntungkan Rusia ini dinilai bukan hal yang mengejutkan.

    “Sebab, seperti Rusia, Amerika sekarang memiliki presiden yang percaya bahwa negara-negara besar berhak melakukan ekspansionisme di wilayah pengaruh regional mereka. Namun, memberi Rusia penyelesaian yang menguntungkan akan menjadi preseden yang buruk,” kata ulasan tersebut.

    Kemesraan yang Mengerikan

    Panggilan telepon AS-Rusia dan pertemuan puncak mendatang dengan Putin di Arab Saudi, yang menurut Trump akan segera terjadi, bisa jadi kode kalu Trump tidak hanya mengeluarkan Zelensky dari kesepakatan – tetapi Eropa juga.

    Dalam sebuah pernyataan, Prancis, Jerman, Polandia, Italia, Spanyol, Uni Eropa, Komisi Eropa, ditambah Inggris dan Ukraina, memperingatkan kalau “Ukraina dan Eropa harus menjadi bagian dari setiap negosiasi.”

    Dan mereka memperingatkan Trump, yang tampaknya menginginkan kesepakatan damai dengan cara apa pun, bahwa “perdamaian yang adil dan abadi di Ukraina merupakan syarat yang diperlukan untuk keamanan transatlantik yang kuat.”

    Mantan Perdana Menteri Swedia Carl Bildt merasa khawatir dengan panggilan telepon yang mesra antara Trump dan Putin. 

    “Yang mengganggu tentu saja adalah kita memiliki dua orang besar, dua ego besar… yang percaya bahwa mereka dapat mengatur semua masalah sendiri,” katanya kepada Richard Quest di CNN International.

    Bildt membangkitkan analogi sejarah yang paling memberatkan yang mungkin terjadi — peredaan Adolf Hitler oleh Inggris yang memungkinkan Nazi untuk mencaplok Sudetenland.

    “Bagi telinga orang Eropa, ini terdengar seperti Munich. Kedengarannya seperti dua pemimpin besar yang menginginkan perdamaian di zaman kita, (atas) negara yang jauh yang tidak mereka ketahui. Mereka sedang mempersiapkan untuk membuat kesepakatan di atas kepala negara tertentu. Banyak orang Eropa tahu bagaimana film itu berakhir.”

    Strategi Trump Masih belum Jelas

    Hancurnya banyak keinginan dan harapan Zelensky berarti bahwa persetujuan Kyiv terhadap kesepakatan Putin-Trump tidak dapat dianggap remeh. 

    Dan setelah kemenangannya yang stabil di medan perang, tidak ada kepastian bahwa pemimpin Rusia itu sangat menginginkan penyelesaian yang cepat seperti Trump, yang telah lama mendambakan Hadiah Nobel Perdamaian.

    Namun, kerangka penyelesaian yang memungkinkan telah menjadi topik pembicaraan pribadi di Washington dan ibu kota Eropa selama berbulan-bulan, bahkan selama pemerintahan Biden.

    Seperti yang dijelaskan Hegseth, harapan Ukraina untuk mendapatkan kembali semua tanahnya yang hilang tidaklah realistis.

    Yang mungkin muncul adalah solusi yang sejalan dengan pemisahan Jerman setelah Perang Dunia II, dengan wilayah yang diduduki Rusia dibekukan di bawah kendalinya sementara wilayah Ukraina lainnya — di sisi lain perbatasan yang keras — tetap menjadi negara demokrasi.

    Mungkin wilayah barat akan diizinkan untuk bergabung dengan Uni Eropa, seperti Jerman Barat lama. Namun kali ini, pasukan AS tidak akan membuatnya aman untuk kebebasan.

    “Posisi AS terhadap Ukraina sebagaimana diutarakan hari ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun di Eropa: itu hanyalah apa yang telah dikatakan oleh orang dalam Eropa kepada saya secara rahasia, di saluran rahasia, di balik layar selama dua tahun: Ukraina Barat dan Ukraina Timur, seperti Jerman Barat dan Jerman Timur, tetapi dalam kasus ini – Uni Eropa Ya, NATO Tidak,” kata Dungan.

    “Solusi semacam itu akan memunculkan ironi sejarah yang kejam. Putin, yang menyaksikan dengan putus asa dari jabatannya sebagai perwira KGB di Dresden saat Uni Soviet bubar, mungkin akan segera menciptakan Jerman Timur baru di Eropa abad ke-21 dengan bantuan Amerika,” tulis kesimpulan Collinson dalam ulasannya.