Tag: Mark

  • Pemeran Mark Zuckerberg Sekarang Anti Zuckerberg

    Pemeran Mark Zuckerberg Sekarang Anti Zuckerberg

    Jakarta

    Jesse Eisenberg, aktor yang berperan sebagai CEO Meta Mark Zuckerberg dalam film The Social Network tahun 2010, tak mau lagi diidentikkan dengan sang pendiri Facebook itu. Ada apa gerangan?

    “Sepertinya orang ini melakukan hal-hal yang bermasalah, menghilangkan pemeriksaan fakta,” kata Eisenberg, merujuk keputusan Zuck untuk menghilangkan pemeriksaan fakta di konten media sosial mereka.

    “Ini membuat orang-orang yang sudah terancam di dunia menjadi semakin terancam,” tambah pria yang juga membintangi film Now You See Me itu, yang dikutip detikINET dari BBC.

    Meta mengumumkan bulan lalu takkan lagi menggunakan pemeriksa fakta independen di Facebook dan Instagram. Mereka menggantinya dengan catatan komunitas mirip X, di mana komentar tentang keakuratan konten diserahkan kepada pengguna.

    Menurut Zuckerberg, moderator pihak ketiga terlalu bias secara politik dan sudah waktunya perusahaan media sosialnya untuk kembali ke kebebasan berekspresi. Namun Eisenberg mengkritik salah satu orang terkaya di dunia itu sebagai tidak bertanggung jawab.

    “Orang-orang ini punya miliaran dolar, lebih banyak dari yang pernah dikumpulkan manusia mana pun, dan apa yang mereka lakukan dengan uang itu? Oh, mereka melakukannya untuk menarik hati seseorang yang menyebarkan kebencian,” cetusnya.

    Langkah Meta dilakukan saat Zuckerberg dan eksekutif teknologi lainnya berusaha meningkatkan hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump dan sekutunya di Partai Republik mengkritik kebijakan pemeriksaan fakta Meta sebagai usaha penyensoran suara sayap kanan.

    Dan setelah perubahan diumumkan, Trump mengatakan bahwa dia terkesan dengan keputusan Mark Zuckerberg dan bahwa Meta telah melangkah jauh.

    (fyk/fyk)

  • Mark Zuckerberg Tebar Ketakutan Pada Pegawai Meta, Kenapa?

    Mark Zuckerberg Tebar Ketakutan Pada Pegawai Meta, Kenapa?

    Jakarta

    Mark Zuckerberg kini tampaknya benar-benar mengikuti arahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Hal itu membuat para karyawan Meta kebingungan dan ketakutan.

    Zuck telah menyingkirkan pemeriksa fakta di Facebook sampai Instagram, setelah platform itu dituding membungkam konten sayap kanan. Dia menyatakan akan mengembalikan kebebasan berbicara di platform milik Meta.

    Bagi pegawai Meta yang berjumlah hampir 75.000 orang, CEO berusia 40 tahun itu tampaknya jadi lebih keras dan makin bergeser ke politik kanan sejak kemenangan Trump. Pada 6 Februari, Zuck mengunjungi Gedung Putih untuk membahas bagaimana Meta membantu pemerintahan mempertahankan dan memajukan kepemimpinan teknologi Amerika di luar negeri.

    Berdasarkan wawancara dengan lebih dari selusin karyawan dan mantan karyawan Meta, ada rasa ketidakpastian yang mendalam tentang bagaimana budaya Meta akan berubah dalam tahun-tahun mendatang di masa jabatan kedua Trump.

    Di kantor pusat di Silicon Valley, ketegangan terlihat jelas saat Meta baru-baru ini PHK ribuan karyawan. Di Januari, perusahaan mengumumkan rencana memberhentikan karyawan dengan kinerja terendah atau 5% dari keseluruhan tenaga kerjanya dan memulai PHK minggu ini.

    Dikutip detikINET dari CNBC, Meta juga dilaporkan membungkam kritik dari para karyawan. Pegawai yang mengkritik bisa dianggap melakukan hal negatif dan berdampak pada penilaian mereka.

    Meta, seperti banyak perusahaan teknologi lainnya, melakukan perampingan pada tahun 2022 . Perusahaan tersebut memangkas 21.000 pekerjaan atau hampir seperempat tenaga kerja di 2022 dan 2023. Di antara mereka yang kehilangan pekerjaan adalah anggota kelompok integritas sipil, yang dikenal vokal mengkritik kepemimpinan Zuckerberg.

    Beberapa perubahan besar kini tengah terjadi yang tampaknya secara langsung mengikuti arahan Trump dengan mengorbankan karyawan. Yang paling menonjol, Meta baru-baru ini mengakhiri program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi serta melonggarkan pedoman moderasi konten.

    “Pada bulan Januari 2025, kami mengumumkan beberapa perubahan pada kebijakan konten dan upaya penegakan hukum kami untuk lebih meningkatkan kebebasan berekspresi di platform kami dan mengurangi penegakan hukum yang berlebihan terhadap beberapa kebijakan konten kami,” kata Meta.

    (fyk/fay)

  • Tiru Google, Apple Coba Cari Cuan Lewat Apple Maps

    Tiru Google, Apple Coba Cari Cuan Lewat Apple Maps

    Bisnis.com, JAKARTA – Apple tengah mempertimbangkan langkah besar untuk meningkatkan potensi pendapatan dari aplikasi Apple Maps, seperti yang dilakukan oleh Google lewat Google Maps.

    Melansir dari Phone Arena, Senin (17/2/2025), beradasarkan laporan Mark Gurman dari Bloomberg, Apple berencana untuk memonetisasi Apple Maps. Langkah ini dimungkinkan dapat membuka jalan bagi aplikasi tersebut untuk bersaing lebih ketat dengan Google Maps.

    Saat ini, meskipun mayoritas pengguna iPhone cenderung menggunakan Google Maps, Apple Maps tetap menjadi aplikasi navigasi default pada perangkat iPhone, yang berarti memiliki basis pengguna yang cukup besar. 

    Dalam upaya memperkuat posisi Apple Maps di pasar, Apple berencana untuk menambahkan fitur monetisasi. Fitur ini memungkinkan bisnis dapat membayar untuk mendapatkan pencantuman yang lebih mencolok atau bahkan menonjolkan lokasi mereka di peta. 

    Hal ini sama dengan cara yang dilakukan oleh Google dengan Google Maps, di mana bisnis seperti restoran dan tempat lainnya dapat membayar untuk tampil lebih tinggi dalam hasil pencarian Apple Maps.

    Mark Gurman menyebutkan bahwa Apple telah mengadakan pertemuan internal dengan tim Maps, untuk membahas eksplorasi monetisasi aplikasi tersebut. Meski demikian, belum ada informasi mengenai kapan proyek ini akan dimulai atau kapan fitur baru tersebut akan diluncurkan.

    Monetisasi Apple Maps bisa memberikan dampak signifikan, mengingat keberhasilan besar yang diraih oleh Google dengan model bisnis serupa. Google Maps telah menjadi sumber pendapatan yang signifikan melalui iklan dan Apple pun diyakini memiliki potensi untuk meraih kesuksesan yang sama. 

    Sektor layanan Apple menjadi unit bisnis terbesar kedua setelah iPhone dan pada kuartal fiskal pertama 2025, Apple tercatat meraup pendapatan sebesar US$26,34 miliar dari layanan-layanan digitalnya.

    Saat ini, Apple Maps memiliki sekitar 500 juta pengguna aktif bulanan, sementara Google Maps sudah mencapai 2 miliar pengguna aktif bulanan di seluruh dunia. 

    Perbedaan besar ini disebabkan oleh dominasi Android sebagai sistem operasi ponsel, sementara Apple Maps hanya tersedia untuk perangkat iOS. 

    Namun, ada spekulasi bahwa Apple sedang merencanakan untuk meluncurkan versi Apple Maps untuk Android, yang dapat memperluas jangkauan aplikasi ini dan meningkatkan potensi pendapatan iklan.

  • Meta Mau Bikin Robot Pembantu Rumah Tangga Mirip Manusia

    Meta Mau Bikin Robot Pembantu Rumah Tangga Mirip Manusia

    Jakarta

    Meta kabarnya sedang menggarap robot humanoid alias robot mirip manusia. Robot ini nantinya bisa membantu pekerjaan rumah tangga seperti melipat baju.

    Menurut laporan Bloomberg, Meta mendirikan tim baru di divisi Reality Labs untuk mengembangkan proyek robot tersebut. Reality Labs merupakan divisi Meta yang mengurus proyek hardware seperti headset VR Quest dan kacamata AR Orion.

    Bloomberg mengatakan Meta akan memanfaatkan kemajuannya dalam mengembangkan AI dan augmented reality untuk mewujudkan proyek tersebut. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu kabarnya bertujuan membuat AI, sensor, dan software dasar untuk robot yang akan diproduksi dan dijual oleh berbagai perusahaan.

    Artinya, Meta mungkin awalnya tidak akan membuat robotnya sendiri. Dari deskripsi Bloomberg, Meta sepertinya ingin meniru strategi Google dan Android, di mana Google membuat platform software yang dipakai di seluruh industri.

    “Teknologi inti yang telah kami investasikan dan bangun di Reality Labs dan AI melengkapi pengembangan yang dibutuhkan untuk robotika,” kata CTO Meta Andrew Bosworth, seperti dikutip dari Engadget, Senin (17/2/2025).

    “Kami yakin bahwa memperluas portofolio kami untuk berinvestasi di bidang ini hanya akan menambah nilai bagi Meta AI serta program mixed dan augmented reality kami,” sambungnya.

    Bloomberg mengatakan fokus utama robot Meta adalah menjadi pembantu rumah tangga. Robot ini akan bisa melakukan tugas sederhana seperti melipat baju, membawa gelas berisi minuman, menaruh alat makan di mesin pencuci piring, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

    Meta kabarnya sudah berdiskusi dengan Unitree, perusahaan robotika asal China yang dikenal dengan robot anjingnya, untuk membahas proyek ini. Meta juga membahas rencananya dengan Figure AI, perusahaan produsen robot humanoid yang berbasis di California, Amerika Serikat.

    Meta bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang tiba-tiba merambah dunia robotika. Apple kabarnya juga mengembangkan beberapa proyek robot, termasuk robot humanoid, sebagai produk rumah pintar masa depan.

    (vmp/vmp)

  • Diancam, Pembuat ChatGPT Tetap Tolak Ribuan Triliun dari Elon Musk

    Diancam, Pembuat ChatGPT Tetap Tolak Ribuan Triliun dari Elon Musk

    Jakarta

    Sekalipun sudah diancam, pembuat ChatGPT OpenAI tetap menolak tawaran akuisisi dari konsorsium yang dipimpin Elon Musk, yang nilainya mencapai USD 97,4 miliar atau sekitar Rp 1.592 triliun tersebut.

    Menurut dewan direksi OpenAI, startup tersebut tidak akan dijual dan tawaran lain ke depannya akan menjadi tidak jujur, demikian dikutip detikINET dari Reuters, Senin (17/2/2025).

    Ini adalah respon OpenAI terhadap “ancaman” Elon Musk yang menyebut akan memaksa untuk mengakuisisi OpenAI jika mereka tidak menyetop perubahan OpenAI menjadi perusahaan “for profit” atau perusahaan yang mencari keuntungan, dari yang sebelumnya merupakan perusahaan non profit.

    “OpenAI tidak akan dijual, dan dewan direksi sudah sepakat untuk menolak percobaan Musk terbaru untuk mendisrupsi kompetitornya. Jika ke depannya akan ada potensi reorganisasi di OpenAI maka tujuannya adalah memperkuat misi nonprofit kami dan memastikan AGI (artificial general intelligence) akan menguntungkan untuk manusia,” kata Chairman OpenAI Bret Taylor di X.

    Pernyataan Taylor ini kemudian dikomentari oleh Marc Toberoff, pengacara Musk. Menurutnya OpenAI akan mengontrol penuh perusahaan pencari keuntungan OpenAI, dan langkah tersebut hanya akan memperkaya beberapa dewan direksinya, bukan untuk kemanusiaan.

    OpenAI pada Desember lalu mengungkap rencananya untuk merombak struktur perusahaan, dan menyebut akan membuat perusahaan yang menguntungkan publik tersebut lebih mudah menggalang dana, serta menghilangkan pembatasan yang ada pada startup non profit.

    Langkah inilah, yang menurut Musk, akan berbahaya untuk publik. Untuk itulah ia berencana membeli OpenAI bersama konsorsium yang ia pimpin.

    “Jika Dewan Direksi OpenAI mau mempertahankan misinya untuk beramal (menjadi perusahaan non profit) dan menegosiasikan pencabutan tanda ‘dijual’ dari asetnya dengan menyetop konversi, Musk akan menarik tawarannya,” kata pengacara Musk Mark Toberoff saat mendaftarkan rencananya itu di pengadilan California, Amerika Serikat.

    Sebelumnya tawaran Musk itu sudah dimentahkan oleh CEO OpenAI Sam Altman. Alih-alih, Altman malah menawar untuk membeli X/Twitter.

    “Tidak terima kasih, tapi kami akan membeli Twitter senilai $9,74 miliar jika Anda mau,” kata Altman dalam postingannya di X.

    Tawaran USD 97 miliar yang diajukan Musk jauh lebih rendah dibandingkan valuasi OpenAI sebesar USD 157 miliar setelah putaran pendanaan terakhirnya pada Oktober 2024. Upaya Musk mengambil alih OpenAI didukung oleh xAI, serta beberapa pemodal seperti Baron Capital Group dan Valor Management.

    Musk dan Altman mendirikan OpenAI pada tahun 2015 sebagai perusahaan nirlaba. Namun hubungan Musk dengan Altman mulai memburuk setelah bos Tesla dan SpaceX itu meninggalkan direksi OpenAI pada tahun 2018.

    (asj/asj)

  • Bukan iPhone SE 4! Apple bakal Pakai Nama Baru untuk HP Murahnya – Page 3

    Bukan iPhone SE 4! Apple bakal Pakai Nama Baru untuk HP Murahnya – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Apple disebutkan bakal mengumumkan produk baru pada 19 Februari 2025. Walau belum dikonfirmasi, banyak pihak meyakini perusahaan merilis iPhone SE 4 pada tanggal tersebut.

    Namun, sebuah kabar mengejutkan datang dari penamaan iPhone SE 4. Kabarnya, Apple bakal pakai nama baru untuk HP tersebut.

    Dilansir laporan Mark Gurman dari Bloomberg, Senin (17/2/2025), mengonfirmasi rumor tentang Apple mungkin akan menggunakan nama iPhone 16E untuk lini ponsel terjangkaunya.

    Spekulasi ini semakin menguat setelah CEO Apple, Tim Cook, baru-bari ini mencuit di X (dulunya Twitter).

    “Bersiap untuk bertemu anggota keluarga terbaru,” tulis bos Apple disertai dengan video pendek yang menampilkan logo perusahaan. Tidak lupa, Tim Cook menyertakan pula tagar Apple Launch.

    Alasan Apple Buang Nama SE?

    Jika benar, ini menjadi langkah besar dalam strategi Apple karena iPhone SE dikenal sebagai varian murah dari lini iPhone di pasaran saat ini.

    Namun, laporan Gurman menyebutkan, ponsel ini sudah dibekali prosesor serupa dengan iPhone 16 dan sudah mendukung fitur Apple Intelligence dengan RAM 8GB.

    Dibekali hardware setara dengan iPhone 16, wajar jika Apple meninggalkan nama SE dan menyelaraskannya dengan seri iPhone baru.

    Harga iPhone SE 4, Berapa?

    Hal lain yang menarik perhatian fans Apple adalah tentang harga iPhone SE 4 atau iPhone 16E. Jika rumor ini benar, ponsel tersebut kemungkinan bakal sejajar dengan iPhone 15 saat debut.

    Ini berarti, Apple tidak lagi memposisikan seri ini sebagai “iPhone murah” melainkan lebih sebagai varian iPhone dengan fitur lebih ekonomis.

    Semua hal ini akan terjawab pada 19 Februari mendatang. Apakah Apple benar-benar mengumumkan HP iPhone 16E atau iPhone SE 4.

     

  • Meta Kembangkan Robot Humanoid Berbasis AI, Siap Bantu Tugas Rumah Tangga – Page 3

    Meta Kembangkan Robot Humanoid Berbasis AI, Siap Bantu Tugas Rumah Tangga – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Meta, perusahaan induk Facebook, dilaporkan tengah merancang software dan hardware untuk robot humanoid. Informasi itu diketahui dari laporan terbaru Bloomberg.

    Dikutip dari The Verge, Senin (17/2/2025), tim baru dalam divisi Reality Labs Meta akan fokus pada pengembangan hardrware untuk robot humanoid yang mampu melakukan tugas rumah tangga.

    Tidak hanya berencana menciptakan robot dengan merek sendiri, perusahaan juga ingin mengembangkan teknologi dasar seperti kecerdasan buatan (AI), sensor, serta software yang dapat digunakan oleh berbagai perusahaan robotika.

    Dilaporkan, Meta saat ini sedang berdiskusi dengan beberapa perusahaan, termasuk Unitree Robotics dan Figure AI, untuk mewujudkan rencana tersebut.

    Dalam sebuah memo internal, Chief Technology Officer Meta Andrew Bosworth menyebut, investasi besar Meta di bidang AI dan mixed reality dapat mendukung pengembangan robotika.

    “Kami percaya bahwa memperluas portofolio ke bidang ini akan memberikan nilai lebih bagi Meta AI serta program realitas campuran dan augmented reality kami,” tulisnya dalam memo tersebut.

    Untuk menjalankan proyek robot humanoid itu, Meta telah menunjuk Marc Whitten sebagai pemimpin tim robotika. March sebelumnya menjabat sebagai CEO Cruise, perusahaan taksi otonom milik GM yang kini telah berhenti operasi.

    Ia juga memiliki pengalaman di Microsoft, Sonos, Unity, dan Amazon. Selain fokus di bidang robotika, Meta yang dipimpin Mark Zuckerberg juga memperkuat lini produk AI mereka.

    Dengan investasi senilai USD 65 miliar, perusahaan kian agresif mengembangkan dan memasarkan sejumlah perangkat pintar, seperti kacamata pintar.

    Bahkan, Meta telah merekrut John Koryl, mantan CEO The RealReal, untuk menggenjot penjualan produk barunya.

     

  • Trump-Putin ‘Main Belakang’ di Perang Ukraina, Eropa Uring-uringan

    Trump-Putin ‘Main Belakang’ di Perang Ukraina, Eropa Uring-uringan

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampaknya mengubah arah diplomasi global dengan mengutamakan negosiasi langsung dengan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina, sebuah langkah yang membuat para pemimpin Eropa dan pejabat Ukraina khawatir akan tersingkir dari proses tersebut.

    Dilansir The Associated Press, sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Trump, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz, dan utusan khusus Steve Witkoff, dikabarkan akan bertolak ke Arab Saudi dalam waktu dekat untuk melakukan pembicaraan dengan perwakilan Rusia.

    Namun, belum jelas sejauh mana pejabat Ukraina atau Eropa akan dilibatkan dalam perundingan yang direncanakan berlangsung di Riyadh.

    Seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan bahwa Washington masih melihat negosiasi ini sebagai tahap awal dan formatnya masih dapat berubah.

    “Presiden Zelensky akan terlibat dalam negosiasi,” kata Trump kepada wartawan pada Minggu (16/2/2025), tetapi ia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

    Langkah ini muncul setelah pernyataan dari sejumlah penasihat utama Trump, termasuk Wakil Presiden JD Vance, yang menimbulkan kekhawatiran di Kyiv dan berbagai ibu kota Eropa.

    Eropa Merasa Tersingkir dari Proses Negosiasi

    Dalam pidatonya di Munich Security Conference pada Sabtu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengungkapkan kekecewaannya terhadap pendekatan baru AS yang cenderung mengabaikan Eropa dalam proses perdamaian.

    “Dekade hubungan lama antara Eropa dan Amerika telah berakhir,” ujar Zelensky. “Mulai sekarang, segalanya akan berbeda, dan Eropa harus menyesuaikan diri dengan perubahan ini.”

    Meskipun Gedung Putih membantah bahwa Eropa tidak diajak berkonsultasi, berbagai pertemuan tingkat tinggi yang dilakukan oleh pejabat pemerintahan Trump masih meninggalkan banyak tanda tanya.

    Dalam kunjungannya ke Eropa, Vance telah berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy, Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, serta Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.

    Namun, banyak pejabat Eropa yang tetap merasa bahwa mereka hanya menjadi penonton dalam strategi baru Trump ini.

    “Mereka mungkin tidak menyukai urutan negosiasi yang sedang berlangsung, tetapi mereka tetap dikonsultasikan,” ujar Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz dalam wawancara dengan Fox News Sunday. “Pada akhirnya, negosiasi ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Trump untuk mengakhiri perang ini.”

    Rencana Negosiasi AS-Rusia: Ukraina di Posisi Lemah?

    Laporan terbaru menunjukkan bahwa Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin telah berbicara melalui telepon minggu lalu, di mana keduanya menyepakati dimulainya pembicaraan tingkat tinggi untuk mengakhiri perang.

    Awalnya, perundingan ini dipresentasikan sebagai dialog dua arah antara Washington dan Moskow, tetapi Trump kemudian mengklarifikasi bahwa Ukraina juga akan terlibat-meskipun tidak dijelaskan di tahap mana mereka akan berpartisipasi.

    Tidak jelas apakah ada perwakilan Ukraina yang akan bergabung dalam pembicaraan di Riyadh. Namun, seorang pejabat Ukraina mengatakan bahwa delegasi Kyiv saat ini sedang berada di Arab Saudi untuk membuka jalan bagi kemungkinan kunjungan Zelensky.

    Sementara itu, Trump mengeklaim bahwa Putin sebenarnya ingin mengakhiri perang tetapi mengingatkan bahwa Rusia tetaplah kekuatan militer yang tangguh.

    “Saya pikir dia ingin menghentikan pertempuran,” kata Trump. “Mereka memiliki mesin perang yang besar dan kuat. Anda tahu, mereka mengalahkan Hitler dan Napoleon. Mereka telah bertempur selama waktu yang sangat lama.”

    Pendekatan baru ini membuat beberapa mantan pejabat AS angkat bicara. Heather Conley, mantan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri untuk Eropa Tengah di era Presiden George W. Bush, mengatakan bahwa strategi Trump ini seolah menghidupkan kembali pendekatan geopolitik abad ke-19 dan awal abad ke-20.

    “AS tampaknya berusaha menciptakan pendekatan baru berdasarkan konsep kekuatan besar,” ujar Conley. “Seperti dalam sejarah, hanya negara-negara besar yang memutuskan nasib bangsa lain dan mengambil alih apa yang menguntungkan kepentingan ekonomi serta keamanan mereka, baik melalui pembelian maupun paksaan.”

    Pendekatan ini juga menimbulkan perdebatan internal di dalam pemerintahan Trump sendiri. Beberapa pejabat mendukung rekonsiliasi cepat dengan Rusia, sementara yang lain khawatir bahwa Putin hanya ingin memecah belah aliansi transatlantik dan meningkatkan pengaruh Rusia di Eropa.

    Trump Dorong Rusia Kembali ke G7, Eropa Berang

    Dalam pernyataannya pekan lalu, Trump juga menyebut bahwa ia ingin melihat Rusia kembali bergabung dengan kelompok negara-negara maju G7 (sebelumnya G8 sebelum Rusia dikeluarkan pada 2014).

    “Saya ingin mereka kembali. Saya pikir itu adalah kesalahan untuk mengeluarkan mereka,” ujar Trump. “Ini bukan soal apakah saya suka atau tidak suka Rusia, tetapi saya rasa Putin akan sangat senang jika bisa kembali.”

    Pernyataan ini memicu kemarahan di kalangan pejabat Eropa, yang selama bertahun-tahun telah memberlakukan sanksi terhadap Moskow atas aneksasi Krimea.

    Kesepakatan “Mineral Langka” dengan Ukraina

    Selain itu, ada juga ketegangan yang muncul terkait proposal AS agar Ukraina memberikan akses ke cadangan mineral langka sebagai imbalan atas bantuan militer senilai US$66 miliar yang telah diberikan Washington kepada Kyiv sejak perang dimulai.

    Presiden Zelensky sendiri dikabarkan menolak menandatangani kesepakatan ini untuk saat ini, karena merasa bahwa kesepakatan tersebut terlalu menguntungkan AS dan tidak memberikan jaminan keamanan yang cukup bagi Ukraina.

    Gedung Putih menilai penolakan Zelensky sebagai langkah yang tidak bijaksana dan menegaskan bahwa perjanjian itu justru akan mempererat hubungan ekonomi antara AS dan Ukraina, sesuatu yang tidak diinginkan oleh Moskow.

    Eropa Bersiap Menghadapi Era Baru

    Dalam menghadapi pendekatan baru Trump ini, para pemimpin Eropa mulai menyesuaikan strategi mereka. Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengumumkan bahwa ia akan mengumpulkan pemimpin Eropa di Paris pada Senin untuk mengadakan pertemuan darurat guna membahas langkah selanjutnya terkait Ukraina.

    “Angin persatuan sedang bertiup di Eropa, seperti yang belum pernah kita rasakan sejak masa pandemi Covid-19,” ujar Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot kepada media nasional.

    Langkah ini menandakan bahwa Eropa tidak akan tinggal diam menghadapi perubahan kebijakan Washington dan berusaha mencari cara untuk tetap memiliki suara dalam penyelesaian konflik di Ukraina.

    (luc/luc)

  • Ini Ancaman Elon Musk untuk Pembuat ChatGPT

    Ini Ancaman Elon Musk untuk Pembuat ChatGPT

    Jakarta

    Elon Musk tampaknya tak main-main dalam rencananya untuk mengakuisisi OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT.

    Tawaran senilai USD 97,4 miliar atau sekitar Rp 1.592 triliun itu memang langsung ditolak mentah-mentah oleh CEO OpenAI Sam Altman. Namun kemudian Musk menyebut baru akan menyetop rencana akuisisinya itu jika OpenAI kembali menjadi perusahaan non profit.

    “Jika Dewan Direksi OpenAI mau mempertahankan misinya untuk beramal (menjadi perusahaan non profit) dan menegosiasikan pencabutan tanda ‘dijual’ dari asetnya dengan menyetop konversi, Musk akan menarik tawarannya,” kata pengacara Musk Mark Toberoff saat mendaftarkan rencananya itu di pengadilan California, Amerika Serikat.

    Seperti diketahui, Musk dan sejumlah investor mengajukan penawaran ke dewan direksi OpenAI untuk mengambil alih divisi non profit perusahaan AI tersebut, demikian dikutip detikINET dari The Guardian, Jumat (14/2/2025).

    OpenAI sejatinya dipimpin oleh dewan direksi non profit yang terikat pada tujuan awal mereka, yaitu membuat AI yang menguntungkan publik. Namun kini OpenAI menjadi perusahaan yang bisnisnya bertumbuh dengan cepat, dan pada 2024 lalu mengungkap rencananya untuk mengubah struktur perusahaannya secara formal.

    Hal ini membuat Musk dan startup AI-nya yang bernama xAI, bersama konsorsium investor mau mengakuisisi saham pengendali milik divisi non profit OpenAI, yang mengontrol anak perusahaannya yang mau diubah menjadi perusahaan pencari keuntungan.

    Rencana akuisisi ini menjadi babak baru dari perselisihan antara Musk dan Altman. Sebelumnya Musk pernah menggugat Altman karena rencana perubahan OpenAI menjadi perusahaan pencari keuntungan.

    Tawaran USD 97 miliar yang diajukan Musk jauh lebih rendah dibandingkan valuasi OpenAI sebesar USD 157 miliar setelah putaran pendanaan terakhirnya pada Oktober 2024. Upaya Musk mengambil alih OpenAI didukung oleh xAI, serta beberapa pemodal seperti Baron Capital Group dan Valor Management.

    Musk dan Altman mendirikan OpenAI pada tahun 2015 sebagai perusahaan nirlaba. Namun hubungan Musk dengan Altman mulai memburuk setelah bos Tesla dan SpaceX itu meninggalkan direksi OpenAI pada tahun 2018.

    Altman saat ini sedang berusaha mengubah struktur OpenAI dari perusahaan nirlaba (non-profit) menjadi for-profit. Langkah ini diprotes, sampai digugat oleh Musk karena dianggap meninggalkan misi pendiriannya untuk mengembangkan AI demi kepentingan umat manusia.

    (asj/asj)

  • Fitur Apple Intelligence di Vision Pro Bakal Dirilis April 2025

    Fitur Apple Intelligence di Vision Pro Bakal Dirilis April 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Apple diperkirakan akan menyertakan fitur Apple Intelligence pada pembaruan perangkat lunak untuk headset Vision Pro pada bulan April 2025.

    Melansir Techcrunch, Minggu (16/2/2025) berdasarkan laporan terbaru dari Mark Gurman, pembaruan tersebut akan memperkenalkan rangkaian alat AI terbaru Apple, termasuk Writing Tools, Genmoji, dan Image Playground, dalam sistem operasi visionOS 2.4.

    Apple pertama kali mengumumkan Apple Intelligence pada Juni 2024, kini Apple bersiap untuk membawa teknologi ini ke Vision Pro, meskipun masih ada tantangan yang harus dihadapi. 

    Rencananya versi perangkat lunak untuk pengembang akan dirilis pada pekan ini, sedangkan bagi para pengguna umum baru dapat menikmati pembaruan dalam waktu dekat.

    Namun, tidak seperti yang diharapkan, pembaruan pertama ini tampaknya tidak akan menyertakan peningkatan pada Siri. 

    Gurman mengungkapkan bahwa peningkatan yang telah lama dijanjikan untuk asisten virtual Siri kemungkinan besar akan tertunda karena masalah teknis dan bug yang belum terpecahkan.

    Kehadiran Apple Intelligence di Vision Pro diprediksi akan memberikan pengalaman yang lebih canggih, dengan alat-alat AI yang dapat meningkatkan interaksi pengguna dengan headset realitas campuran ini.

    Apple Intelligence sendiri adalah sistem kecerdasan personal yang membantu pengguna Apple berkomunikasi, bekerja, dan mengekspresikan diri. 

    Sistem ini menggabungkan model generatif dengan konteks personal untuk menghadirkan kecerdasan yang paling berguna dan relevan bagi pengguna, sekaligus melindungi privasi penggunanya.