Tag: Mark

  • Zuckerberg Ramal Gadget Ini Jadi Pengganti Smartphone

    Zuckerberg Ramal Gadget Ini Jadi Pengganti Smartphone

    Jakarta

    Smartphone telah menjadi perangkat utama manusia di zaman ini. Akan tetapi menurut pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, tidak selamanya smartphone akan menguasai dunia. Ia meramal bahwa nantinya, kacamata pintar akan menyingkirkan smartphone.

    “Saya pikir kacamata (pintar) akan menjadi platform komputer besar berikutnya. Tapi setiap platform baru cenderung tidak menggantikan yang lama,” katanya baru-baru ini dalam sebuah wawancara.

    Contohnya adalah saat ini, di mana meski smartphone banyak dipakai, komputer tidak lantas hilang tapi lebih sedikit digunakan.

    “Dalam satu titik di 10 tahun terakhir, perangkat mobile sungguh menjadi platform komputasi utama. Kita tak membuang komputer kita, hanya saja meski kalian memilikinya (komputer), kalian masih melakukan lebih banyak hal di ponselmu,” demikian paparnya.

    Menurutnya, kacamata pintar akan bernasib sama seperti smartphone. Orang di masa mendatang masih akan memakai smartphone, tapi lebih banyak menggunakan kacamata pintar.

    “Jadi yang kupikir akan terjadi pada kacamata pintar adalah kita akan sampai di titik itu, mungkin suatu waktu di 2020-an atau 2030-an di mana kalian punya ponsel, tapi akan lebih banyak di saku karena kalian akan melakukan lebih banyak hal di kacamata yang mungkin saat ini kalian lakukan di ponsel. Kacamata akan jadi platform komputer utama kalian,” cetusnya.

    Wajar saja pria berusia 40 tahun itu berkata demikian. Pasalnya, Zuck melalui perusahaannya Meta memang sedang giat mengembangkan kacamata pintar augmented reality (AR) dan berharap gadget itu akan menjadi mainstream alias disukai kalangan banyak.

    Dalam wawancara terpisah dengan The Verge yang dikutip detikINET, Zuck menilai kacamata biasa sangat populer sehingga mungkin tidak akan sulit bahwa nanti, orang akan terbiasa memakai kacamata pintar.

    “Sudah ada 1 hingga 2 miliar orang memakai kacamata tiap hari. Sama seperti semua orang beralih ke smartphone, kupikir semua orang yang berkacamata segera beralih ke kacamata pintar dalam dekade berikutnya. Lalu kupikir itu akan mulai jadi sangat berharga, dan banyak orang lain yang tak berkacamata saat ini akan berakhir memakainya juga,” cetusnya.

    (fyk/rns)

  • Elon Musk dan Mark Zuckerberg Jadi Musuh Warga AS, Kenapa?

    Elon Musk dan Mark Zuckerberg Jadi Musuh Warga AS, Kenapa?

    Jakarta

    Studi terbaru yang dilakukan oleh Pew Research Center menemukan pandangan warga Amerika Serikat terhadap Elon Musk dan Mark Zuckerberg cenderung negatif ketimbang positif.

    Untuk melakukan studi ini, Pew melibatkan 5.086 warga AS berusia dewasa yang dipilih secara acak. Survei ini dilakukan pada 27 Januari 2025 sampai 2 Februari 2025, jadi jawaban mereka mencerminkan opini terbaru masyarakat.

    Survei tersebut menemukan Zuckerberg kalah populer dibandingkan Musk. 67% responden mengatakan mereka memiliki pandangan negatif terhadap Zuckerberg, sedangkan 54% mengaku kurang suka dengan Musk.

    “Dua pertiga warga Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Zuckerberg. Ini termasuk 26% yang sangat tidak menyukainya,” kata Pew dalam hasil jajak pendapatnya, seperti dikutip dari Gizmodo, Minggu (23/2/2025).

    “Seperempat lainnya memandangnya secara positif, termasuk hanya 2% yang memandangnya sangat positif,” imbuhnya.

    Dua bos teknologi ini terus menjadi sorotan setelah Donald Trump kembali terpilih menjadi Presiden AS. Keduanya duduk bersama Trump saat pelantikannya dan sama-sama memberikan sumbangan untuk dana pelantikannya.

    Zuckerberg juga menjadi sasaran kritik setelah mengubah kebijakan moderasi konten Meta untuk membatasi pengecekan fakta dan tindakan terhadap ujaran kebencian. Sementara itu, Musk menjadi tangan kanan Trump dan memiliki peran besar dalam pemerintahannya.

    Mengingat hubungan Musk yang sangat dekat dengan Trump, wajar jika 85% responden yang berhaluan Partai Demokrat atau condong ke Partai Demokrat memiliki pandangan negatif terhadap bos Tesla tersebut. Sementara itu, 73% responden yang berhaluan Partai Republik atau condong ke Partai Republik memiliki pandangan yang lebih positif.

    Berbeda dengan Zuckerberg yang tidak disukai secara umum, meskipun ia menuai lebih banyak kritik dari kelompok demografi yang condong Demokrat. 76% responden dari Partai Demokrat memiliki pandangan negatif terhadap CEO Meta tersebut, sedangkan 60% responden dari Partai Republik memiliki sentimen yang sama.

    Padahal Zuckerberg sudah menghabiskan banyak tenaga untuk mengubah citranya agar terlihat lebih keren. Tapi sepertinya pakaian yang lebih trendi dan kalung emas yang kini sering dikenakan Zuckerberg tidak berhasil menarik simpati warga AS.

    (vmp/vmp)

  • Batal Pakai Ducati GP25, Ini Motor yang Akan Dipakai Diggia di MotoGP 2025

    Batal Pakai Ducati GP25, Ini Motor yang Akan Dipakai Diggia di MotoGP 2025

    Jakarta

    Tim pabrikan Ducati batal menggunakan motor terbaru Desmosedici GP25 untuk mengarungi MotoGP 2025. Ducati telah memutuskan menggunakan racikan mesin tahun lalu alias GP24. Motor itu akan digunakan kembali oleh pebalap tim pabrikan Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia dan Marc Marquez. Selain itu, pebalap tim satelit Pertamina VR46, Fabio Di Giannantonio, yang semula dijanjikan menggunakan Desmosedici GP25, mau tidak mau juga harus kembali menggunakan motor tahun lalu.

    Direktur VR46 Alesio ‘Uccio’ Salucci mengatakan, Fabio Di Giannantonio alias Diggia akan menggunakan motor yang sesuai karakter balapnya. Maka itu, Diggia akan memakai motor bekas Francesco ‘Pecco’ Bagnaia.

    Fabio Di Giannantonio Foto: Getty Images/Mark Wieland

    “Kami telah melanjutkan pekerjaan dan telah meminta motor Pecco untuk pengujian pertama. Paket yang di sana seperti pilihan Pecco. Itu gaya mengemudi yang kami sukai, yang serupa. Diggia akan tiba dalam kondisi–yang sayangnya, saya tidak ingin menyebutnya kondisi yang biasa–tetapi ia akan tiba dalam kondisi yang mengharuskannya untuk mencoba mengikuti ujian pada akhir pekan,” ungkap Uccio dikutip dari Motosan.

    Sebelumnya Diggia absen pada sebagian besar tes pramusim MotoGP 2025 karena pebalap Italia itu mengalami cedera. Diggia pun tak memiliki banyak kesempatan mencoba performa motor Ducati Desmosedici GP25.

    Di sisi lain, keputusan prinsipal Ducati untuk beralih dari GP25 ke GP24 untuk tiga pebalapnya, bisa sangat menguntungkan Diggia. Sebab motor itu sudah digunakannya tahun lalu, jadi Diggia bakal bisa lebih beradaptasi. Uccio pun berharap Diggia bisa menemukan kembali performa terbaiknya.

    “Karena ia adalah pebalap lokal (asli Italia) dan ia punya keinginan kuat untuk maju. Sayangnya Diggia hanya membalap satu hari dari lima hari yang diikuti pebalap lain, jadi ia memang sedikit kehilangan ritme,” bilang Uccio.

    (lua/dry)

  • TikTok PHK Massal Lagi, Pegawai di Seluruh Dunia Terdampak

    TikTok PHK Massal Lagi, Pegawai di Seluruh Dunia Terdampak

    Bisnis.com, JAKARTA – TikTok dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap sejumlah staf di unit kepercayaan dan keamanan yang bertanggung jawab atas moderasi konten.

    Melansir dari Reuters, Jumat (21/2/2025) informasi ini diperoleh dari tiga sumber yang mengetahui situasi tersebut pada Kamis.

    Menurut dua sumber, Adam Presser, kepala operasi TikTok yang juga memimpin unit kepercayaan dan keamanan, mengirim memo kepada staf pada hari yang sama untuk memberitahukan perubahan tersebut.

    Pemutusan hubungan kerja ini dimulai pada hari yang sama di wilayah Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, kata dua sumber tersebut. Hingga saat ini, TikTok belum memberikan komentar terkait isu ini.

    Restrukturisasi ini terjadi di tengah ketidakpastian mengenai masa depan TikTok. Aplikasi video pendek yang sangat populer, yang digunakan oleh hampir setengah dari populasi Amerika Serikat, sempat menghadapi ancaman berhenti beroperasi pada bulan lalu.

    Ancaman tersebut muncul setelah undang-undang yang diberlakukan pada 19 Januari mengharuskan pemilik TikTok, ByteDance dari China, untuk menjual aplikasi tersebut atau menghadapi larangan dengan alasan masalah keamanan nasional.

    Pada Januari tahun lalu, CEO TikTok, Shou Chew, bersaksi di hadapan Kongres bersama kepala perusahaan besar lainnya, seperti Mark Zuckerberg dari Meta, di mana anggota parlemen menuduh mereka gagal melindungi anak-anak dari ancaman pelecehan seksual yang meningkat di platform mereka.

    Dalam sidang tersebut, Chew berjanji bahwa TikTok akan menginvestasikan lebih dari US$2 miliar untuk meningkatkan upaya menjaga kepercayaan dan keamanan platform.

    Pada bulan Oktober lalu, TikTok juga melakukan pemutusan hubungan kerja besar-besaran terhadap ratusan karyawan di seluruh dunia, termasuk sejumlah besar staf di Malaysia, sebagai bagian dari strategi untuk mengalihkan fokus ke penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam moderasi konten.

    Meskipun TikTok menyatakan memiliki lebih dari 40.000 profesional yang bekerja di bidang kepercayaan dan keamanan di seluruh dunia, Reuters belum dapat memastikan sejauh mana pemotongan ini berdampak pada jumlah staf yang terkena dampaknya.

  • ‘Pintu Kematian’ NATO Terbuka Gegara Trump, Warga Eropa Teriak

    ‘Pintu Kematian’ NATO Terbuka Gegara Trump, Warga Eropa Teriak

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengecilkan pengaruhnya dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) membuat warga di negara anggota aliansi itu resah. Keresahan dirasakan warga di negara NATO yang berbatasan dengan Rusia, yang bersitegang dengan aliansi itu setelah Moskow menyerang Ukraina.

    Mengutip Reuters, langkah-langkah Trump terhadap Ukraina, Rusia, dan pertahanan Eropa dalam beberapa hari terakhir telah menjungkirbalikkan keyakinan lama bahwa Washington akan bertindak sebagai penjamin keamanan benua itu. Dan, dengan Trump yang tampaknya menyalahkan Kyiv karena memulai konflik dan pada saat yang sama mencairkan hubungan dengan Moskow, beberapa warga Polandia misalnya, khawatir bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin akan merasa berani untuk menyerang lebih banyak negara termasuk sejumlah negara NATO yang berbatasan dengannya.

    “Kebijakan luar negeri AS sangat menakutkan saya. Saya merasakan stabilitas ini, dan setelah Polandia bergabung dengan NATO, setelah bergabung dengan Uni Eropa, saya pikir kita memiliki momen perdamaian ini, tetapi ternyata itu hanya sesaat,” kata seorang warga Polandia bernama Katarzyna Paprota, Kamis (20/2/2025).

    Pensiunan Latvia bernama Silvija Spriedniece, 84 tahun, juga khawatir tentang kemungkinan agresi Rusia. Menurutnya, dengan kebijakan Trump yang sedikit melepaskan tangannya untuk Eropa, Putin dapat menjelma menjadi agresor.

    “Saya bukan politisi, tetapi saya mengerti bahwa Trump ini bukan pertanda baik bagi kita. Putin sudah menjadi agresor seperti Stalin, Hitler, dan yang lainnya. Kita tidak bisa mengharapkan sesuatu yang baik di sana,” tandasnya.

    Sejumlah pemimpin Eropa pun telah berupaya memadamkan kekhawatiran publik ini. Para pemimpin Benua Biru seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer, PM Italia Giorgia Meloni, serta Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte telah menggelar pertemuan di Paris Senin lalu terkait hal ini.

    Setelah pertemuan di Paris, PM Inggris Starmer mengatakan harus ada komitmen keamanan AS bagi negara-negara Eropa untuk mengirim pasukan penjaga perdamaian pascaperang ke Ukraina, meskipun ia mengatakan masih terlalu dini untuk mengatakan berapa banyak pasukan Inggris yang bersedia ia kerahkan.

    “Eropa harus memainkan perannya, dan saya siap mempertimbangkan untuk mengerahkan pasukan Inggris di lapangan bersama negara-negara lain jika ada perjanjian perdamaian yang langgeng, tetapi harus ada jaminan AS, karena jaminan keamanan AS adalah satu-satunya cara untuk secara efektif mencegah Rusia menyerang Ukraina lagi,” ungkap Starmer kepada wartawan.

    Namun, imbauan Eropa ini masih memicu ketakutan besar pada warga kawasan tersebut, dengan Washington masih belum memberikan tanggapan yang rinci soal pernyataan Starmer. Pensiunan Imants Robeznieks, 73 tahun, mengatakan bahwa ia berharap Eropa dapat memberikan tanggapan dan konkret dalam menangani ancaman yang datang dari Moskow.

    “Saya merasa terganggu bahwa Putin dan Trump, atau sebaliknya, benar-benar akur. Semoga sekarang Paris akan memikirkan sesuatu, Eropa akan memikirkan sesuatu… kalau tidak, semuanya akan menjadi buruk,” tuturnya.

    (sef/sef)

  • Perbedaan iPhone 16e Vs iPhone 16, Harga Lebih Murah Rp 4 Juta

    Perbedaan iPhone 16e Vs iPhone 16, Harga Lebih Murah Rp 4 Juta

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Apple baru saja mengumumkan kehadiran ponsel murahnya 16e. Penamaannya cukup berbeda dari jajaran SE yang dihadirkan sejak 2016, HP ini nampaknya jadi pelengkap dari seri iPhone 16 yang dirilis tahun lalu.

    Rumor nama baru itu disebutkan Mark Gurman dari Bloomberg yang mengutip pernyataan CEO Apple Tim Cook beberapa waktu lalu. Cook menyebut adanya ‘anggota keluarga baru’ yang diartikan Apple akan menghadirkan tambahan baru keluarga iPhone 16 bukan kelanjutan dari seri SE.

    Secara sekilas, iPhone 16e memang cukup mirip dengan empat model dari iPhone 16. Termasuk Apple menyematkan chip Apple A18 yang juga ada pada seri utama, dan membuat ponsel murah itu bisa mengakses Apple Intelligence.

    Selain itu, iPhone 16e diberikan Face ID dan action button yang memang sudah tersedia dalam jajaran utamanya. Apple menanggalkan tombol home dan sensor fingerprint untuk ponsel barunya.

    Terkait tombol tindakan atau action button bisa digunakan untuk mengakses cepat berbagai fitur misalnya membuka kamera, senter, beralih dari mode Dering dan Hening, hingga mengaktifkan memo suara.

    Namun tetap ada perbedaan mendasar antara ponsel-ponsel tersebut. Berikut rangkuman perbandingan iPhone 16e dengan jajaran model iPhone 16, dirangkum Kamis (20/2/2025):

    1. Tampilan

    iPhone 16e menggunakan notch kecil, bukan notch berbentuk pil yang disebut dynamic island seperti pada seri iPhone 16. Seluruh ponsel dikelilingi bezel yang cukup tipis.

    Dari segi ukuran, iPhone 16e dan iPhone 16 model standar memiliki layar 6,1 inci. Namun dimensinya sedikit berbeda, iPhone 16e dengan 146.7 x 71.5 x 7.8 mm dan iPhone 16 147.6 x 71.6 x 7.8 mm.

    2. Kamera

    Apple hanya menyiapkan satu model kamera di bagian belakang untuk HP barunya. Berbeda dengan seri iPhone 16 yang memiliki dua hingga tiga kamera sekaligus di bagian belakang.

    GSM Arena menuliskan kamera belakang iPhone 16e berukuran 48 MP, sama dengan kamera utama milik iPhone 16, iPhone 16 Plus, iPhone 16 Pro, dan iPhone 16 Pro Max.

    Untuk kamera selfie, semua ponsel tersebut serempak menggunakan lensa 12 MP.

    3. Warna

    Hanya ada dua opsi warna untuk iPhone 16e, yakni Black dan White. Sementara itu Apple menyiapkan lebih banyak warna untuk seri iPhone 16.

    Versi dasar dan iPhone 16 Plus tersedia dengan warna Black, White, Pink, Teal, Ultramarine.

    4. Harga

    Seperti yang disebutkan, iPhone 16e hadir dengan harga yang lebih murah. Ponsel dijual dengan harga mulai US$599 (Rp 9,7 juta). Di Malaysia, harganya mulai RM 2.999 (Rp 11 juta).

    Sementara itu, iPhone 16 dijual mulai dari US$799 atau sekitar Rp 13 jutaan. Di Malaysia, harganya mulai RM 3.999 (Rp 14,7 juta).

    (fab/fab)

  • Rencana Serial She-Hulk dan Kameo Mark Ruffalo

    Rencana Serial She-Hulk dan Kameo Mark Ruffalo

    JAKARTA – Mark Ruffalo akan bertemu dengan presiden Marvel Studios, Kevin Feige dalam waktu dekat untuk membahas kameo dalam She-Hulk.

    Saat mempromosikan film barunya yang berjudul Dark Waters baru-baru, Mark Ruffalo ditanya oleh majalah People tentang kemungkinan dirinya muncul dalam seri She-Hulk yang baru-baru ini diumumkan Kevin Fiege untuk Disney Plus.

    Dikenal karena terus-menerus membocorkan rahasia-rahasia Marvel Studios, Mark Ruffalo tetap membisu semampunya mengenai calon kameo dalam She-Hulk. Ia hanya menyebut bahwa dirinya akan bertemu presiden Kevin Feige untuk membahas inklusi dalam seri She-Hulk. Sayangnya, dia tidak mengatakan kapan akan bertemu sang presdien.

    “Saya seharusnya berbicara dengan Kevin Feige untuk melihat apakah ada tempat untuk saya (dalam She-Hulk),” kata Mark Ruffallo. melansir Heroic Hollywood, Senin, 18 November.

    Pemeran Hulk itu kemudian menekankan dirinya akan tampil sebagai kameo jika ia bisa, yang ia jawab dengan tegas, “Tentu, mengapa tidak?”. Mengetahui jumlah kerahasiaan yang ingin dipertahankan oleh Kevin Feige, kemungkinan penampilan Mark Ruffalo dalam She-Hulk akan lebih baik jika dibuat kejutan.

    Bakal menarik untuk melihat bagaimana Kevin Feige menggeret She-Hulk ke dalam Marvel Cinematic Universe yang sudah mapan. Pada titik ini, tidak banyak yang diketahui tentang serial tersebut selain penulis utamanya adalah Jessica Gao dari Rick and Morty Fame. 

    Dalam komik, She-Hulk merupakan alter-ego dari Jennifer Walters, seorang pengacara pribadi dan sepupu Bruce Banner. Setelah ditembak, Jennifer Walters menerima transfusi darah dari Bruce yang mengubah dirinya menjadi She-Hulk bertenaga gamma. 

    Namun, tidak seperti kebanyakan inkarnasi dari Hulk-nya Bruce Banner, Jennifer Walters mempertahankan kecerdasannya yang tajam dan kontrol emosional dalam bentuk She-Hulk, yang kemudian menjadi permanen.

    Sebagai tambahan informasi. Kevin Feige merencanakan langkah berikut pasca-Avengers: Endgame dengan mengumumkan serangkaian acara televisi untuk Disney Plus. Acara TV ini akan diperlakukan dengan cara yang sama layaknya film berdurasi panjang Marvel Studios.

    Film terbaru Marvel Studios meliputi Black Widow, The Eternals, Shang-Chi and Legend of the Ten Rings, Doctor Strange in Multiverse of Madness, dan Thor: Love and Thunder. Selain film-film yang disebutkan di atas, Marvel Studios sedang mengembangkan beberapa pertunjukan untuk Disney Plus, termasuk The Falcon dan the Winter Soldier, WandaVision, Loki, How If … ?, Hawkeye, Ms. Marvel, Moon Knight, dan tentu saja She-Hulk.

  • 7 Fakta & Hasil Pertemuan AS-Rusia di Arab Saudi: Perang Ukraina End?

    7 Fakta & Hasil Pertemuan AS-Rusia di Arab Saudi: Perang Ukraina End?

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Arab Saudi mempertemukan perwakilan Amerika Serikat (AS) dan Rusia di Riyadh, Selasa (18/2/2025). Pertemuan ini dilakukan saat hubungan antara Washington dan Moskow memanas lantaran serangan Rusia ke wilayah tetangganya, Ukraina.

    Dalam pertemuan tersebut, Rusia dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri (Menlu) Sergei Lavrov dan Penasihat Utama Kebijakan Luar Negeri, Yuri Ushakov. Di sisi lain, AS diwakili Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz.

    Kemudian, Saudi sebagai tuan rumah diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud. Turut mendampingi Pangeran Faisal adalah Penasihat Keamanan Nasional Saudi, Mosaad bin Mohammad Al Aiban.

    Berikut sejumlah fakta terbaru pertemuan tersebut:

    1. Mengapa Saudi Menyelenggarakan Pertemuan Ini?

    Lokasi pembicaraan ini, yang dijelaskan oleh Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov sebagai lokasi yang ‘secara umum cocok’ bagi AS dan Rusia, secara luas dianggap sebagai kemenangan bagi pemimpin de facto kerajaan yang berusia 39 tahun, Putra Mahkota Mohammed Bin Salman.

    Diketahui, Mohammed Bin Salman memiliki misi untuk mengubah negaranya yang kaya minyak dan masa lalunya yang beraliran Islam fundamentalis. Ia juga ingin menjadikan negara yang dapat mengembangkan kekuatan lunak dari kekayaan yang sangat besar.

    “Saya rasa tidak ada tempat lain di mana pemimpin memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Trump dan Putin,” kata komentator Saudi Ali Shihabi, seraya menambahkan bahwa bagi “Arab Saudi, (acara tersebut) bergengsi dan meningkatkan kekuatan lunak Saudi secara regional dan global.”

    Itu semua adalah bagian dari perubahan yang lebih luas. Dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi telah menyelaraskan kembali kebijakannya menuju netralitas dalam konflik global dengan harapan menarik miliaran investasi yang dapat membantu mencapai “Visi 2030”.

    Pangeran bin Salman telah menarik diri secara signifikan dari Yaman setelah bertahun-tahun berperang dengan tetangganya Houthi. Ia juga memperbaiki hubungan dengan saingan regional Iran dan telah mempertahankan hubungan dekat dengan China dan Rusia, sambil menjaga hubungan dekat Riyadh dengan Barat.

    2. Penghubung Trump dan Putin

    Arab Saudi berupaya menampilkan citra sebagai penjaga perdamaian global dengan menyelenggarakan pertemuan donor bantuan dan konferensi perdamaian. Pada bulan Agustus 2023, negara ini menyelenggarakan pertemuan puncak perdamaian dua hari mengenai Ukraina dengan perwakilan dari lebih dari 40 negara (meskipun tanpa Rusia).

    Pada bulan Februari tahun yang sama, Saudi kemudian menjanjikan bantuan sebesar US$ 400 juta (Rp 6,5 triliun) untuk Ukraina.

    Peningkatan posisi Pangeran Bin Salman sebagai pialang kekuasaan dalam perundingan internasional dimulai dari hubungan dekatnya dengan Presiden AS Donald Trump, yang mendukung bangsawan muda tersebut ketika ia dikucilkan secara internasional setelah pembunuhan kolumnis Jamal Khashoggi oleh agen Saudi.

    Pada tahun 2017, Trump melanggar tradisi dengan memilih Arab Saudi sebagai tempat kunjungan presiden internasional pertamanya. Bahkan setelah ia kalah dalam pemilihan umum tahun 2020, Arab Saudi tetap menjalin hubungan bisnis yang erat dengan Trump

    Di sisi lain, Putra mahkota juga memiliki hubungan hangat dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menolak mengisolasi sang pangeran setelah pembunuhan Khashoggi. Putin bahkan mengunjungi Saudi pada tahun 2023 dan telah merayu Riyadh untuk bergabung dengan BRICS.

    “Lindung nilai hubungan Arab Saudi di dunia yang semakin terpolarisasi telah terbukti bermanfaat. Pangeran bin Salman berperan penting dalam pembebasan guru Amerika Mark Fogel dari tahanan Rusia minggu lalu,” kata utusan Trump untuk Timur Tengah Steve Witkoff.

    3. Soal Gaza

    Dalam jangka panjang, Arab Saudi mungkin bermaksud menggunakan perannya sebagai mediator dalam pertemuan antara Rusia dan AS untuk memanfaatkan masalah regional yang mendesak, yakni soal isu Gaza. Persoalan ini semakin kompleks setelah Trump berniat mengambil alih Gaza dan merelokasi penduduknya secara permanen.

    Negara-negara Arab dengan cepat menolak gagasan tersebut. Akan ada pertemuan puncak pada akhir minggu ini di Arab Saudi di mana proposal balasan akan dibahas sebelum menyampaikannya kepada Trump.

    “Dengan memfasilitasi tujuan yang dinyatakan Presiden Trump untuk mengakhiri perang Ukraina, Arab Saudi berada dalam posisi yang baik untuk mengumpulkan niat baik di Washington,” kata Hasan Alhasan, peneliti senior untuk kebijakan Timur Tengah di Institut Internasional untuk Studi Strategis di Bahrain.

    Kerajaan Saudi, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan puncak mini-Arab pada hari Jumat, dapat memanfaatkan peningkatan hubungan dengan pemerintahan Trump untuk membantu menjembatani kesenjangan antara posisi AS dan Arab mengenai nasib Gaza.

    Empat tahun ke depan, Pangeran Bin Salman dapat mengandalkan hubungan dekatnya dengan Trump. Namun sang pangeran mungkin masih menemukan dirinya dalam posisi sulit saat mencoba menyeimbangkan kepentingan regionalnya di tengah tuntutan agresif dari presiden Amerika yang transaksional.

    Trump ingin melihat hubungan Saudi-Israel dinormalisasi, tetapi di tengah meningkatnya kemarahan di Timur Tengah atas kampanye militer Israel di Gaza, mempertahankan jalan menuju negara Palestina secara politis tidak dapat dinegosiasikan bagi Pangeran Bin Salman.

    “Mencapai perdamaian yang langgeng dan adil tidak mungkin dilakukan tanpa rakyat Palestina memperoleh hak-hak mereka yang sah sesuai dengan resolusi internasional, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya kepada pemerintahan AS sebelumnya dan saat ini,” kata Saudi.

    4. Permintaan Rusia

    Di Riyadh, Rusia menggunakan diskusi tentang kemungkinan penyelesaian Ukraina sebagai daya ungkit untuk mendorong keringanan sanksi.

    Yang memimpin negosiasi ekonomi Moskow adalah Kirill Dmitriev, kepala Dana Investasi Langsung Rusia yang berusia 49 tahun dan teman dekat putri Putin. Sebagai mantan bankir investasi, Dmitriev telah memainkan peran penting dalam upaya Rusia menjangkau investor internasional.

    Meskipun ia tidak hadir selama pertemuan antara pejabat Rusia Sergei Lavrov dan Yuri Ushakov serta rekan-rekan mereka dari AS, Dmitriev mengadakan diskusi terpisah di Riyadh.

    “Perusahaan minyak besar AS telah melakukannya dengan sangat baik di Rusia,” kata Dmitriev dalam wawancara singkat pada Selasa pagi sebelum pembicaraan dimulai. “Kami percaya bahwa, pada suatu saat, mereka akan kembali. Mengapa mereka akan melewatkan kesempatan yang telah diberikan Rusia untuk mengakses sumber daya alamnya?”

    5. Putin Siap Temui Zelensky

    Saat perundingan di Riyadh terus berlanjut secara tertutup, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa Presiden Putin akan siap untuk berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelinsky ‘jika perlu’. Namun Peskov masih tampaknya mempertanyakan legitimasinya.

    “Putin sendiri mengatakan bahwa dia akan siap untuk berunding dengan Zelensky jika perlu, tetapi dasar hukum perjanjian perlu didiskusikan mengingat kenyataan bahwa legitimasi Zelensky dapat dipertanyakan,” katanya kepada wartawan.

    Peskov juga mengatakan bahwa masalah aksesi Ukraina ke Uni Eropa adalah hak kedaulatannya dan bahwa Rusia tidak bermaksud untuk mendikte Kyiv bagaimana seharusnya mendekati masalah tersebut. Namun ia menegaskan Moskow akan menarik garis ketika menyangkut aliansi militer.

    “Kita berbicara tentang integrasi dan proses integrasi ekonomi. Dan di sini, tentu saja, tidak seorang pun dapat mendikte apa pun kepada negara mana pun, dan kami tidak akan melakukan itu.”

    Peskov kemudian mengatakan bahwa ‘resolusi yang langgeng dan layak dalam jangka panjang tidak mungkin tercapai tanpa pertimbangan yang komprehensif mengenai isu-isu keamanan di benua Eropa’.

    Ia juga menambahkan bahwa pembicaraan di Riyadh mungkin akan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai kemungkinan pertemuan antara Vladimir Putin dan Donald Trump. Akan tetapi, belum ada kesepahaman mengenai hal ini.

    6. Eropa Siap Bantu AS Akhiri Perang Ukraina

    Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan kepada utusan AS untuk Ukraina Keith Kellog bahwa pihaknya ingin bekerja sama dengan Washington untuk mengakhiri pertumpahan darah dan membantu mengamankan perdamaian yang adil dan abadi serta layak diterima Ukraina dan rakyatnya.

    Von der Leyen juga menyampaikan kepada Kellogg terkait rencana Eropa untuk meningkatkan produksi dan pengeluaran pertahanan, yang memperkuat kemampuan militer Eropa dan Ukraina.

    “Kami juga menegaskan kembali komitmen Uni Eropa untuk perdamaian yang adil dan abadi, Kami menegaskan kembali bahwa resolusi apa pun harus menghormati kemerdekaan, kedaulatan, dan integritas teritorial Ukraina, yang didukung oleh jaminan keamanan yang kuat,” kata catatan itu.

    “Seperti yang dijelaskan Presiden von der Leyen: sekarang adalah saat yang kritis,” tambahnya.

    7. Hasil Pertemuan di Riyadh

    Rusia bahwa pembicaraannya dengan AS di Arab Saudi “tidak buruk”, tetapi masih sulit untuk menentukan apakah posisi kedua negara semakin mendekat.

    “Sulit untuk mengatakan bahwa posisi kami semakin mendekat, tetapi kami telah membahasnya,” ujar Yuri Ushakov, saat ditanya apakah ada kemajuan dalam penyamaan sikap antara Moskow dan Washington.

    “Ada diskusi yang sangat serius mengenai semua isu yang ingin kami bahas.”

    Ushakov menambahkan bahwa belum ada pembicaraan mengenai tanggal pertemuan puncak antara Donald Trump dan Vladimir Putin.

    Ketika ditanya apakah Ukraina menjadi topik pembahasan, Ushakov mengonfirmasi hal tersebut.

    “Ya, kami mendiskusikannya dan menguraikan pendekatan prinsip kami. Kami juga sepakat bahwa tim negosiator khusus untuk isu ini akan tetap berkomunikasi pada waktunya.”

    Menurut laporan media pemerintah Rusia, pembicaraan berlangsung selama empat setengah jam.

    (luc/luc)

  • Model Basic iPhone SE 4 bakal Punya Storage 64GB, Ini Bocoran Lengkapnya – Page 3

    Model Basic iPhone SE 4 bakal Punya Storage 64GB, Ini Bocoran Lengkapnya – Page 3

    Sebelumnya, Apple telah memastikan akan memperkenalkan perangkat terbarunya dalam waktu dekat. Informasi itu diperoleh langsung dari CEO Apple Tim Cook.

    Melalui ungggahan terbarunya di platform X, Tim Cook mengonfirmasi kalau ada anggota keluarga baru dari Apple yang akan diperkenalkan pada 19 Februari 2025.

    “Bersiap untuk bertemu anggota keluarga terbaru,” tulis Tim Cook disertai dengan video pendek yang menampilkan logo Apple. Tidak lupa, ia menyertakan pula tagar Apple Launch.

    Tim Cook memang tidak secara gamblang menyebut perangkat apa yang dimaksud, tapi seperti dikutip dari GSM Arena, Jumat (14/2/2025), berdasarkan sejumlah bocoran, perangkat yang akan diperkenalkan adalah iPhone SE generasi terbaru.

    Menurut laporan jurnalis Bloomberg Mark Gurman, perangkat tersebut kemungkinan besar akan memakai nama iPhone SE 4. Namun, ada pula rumor yang menyebut kalau perangkat itu bisa saja disebut iPhone 16E.

    Dari bocoran yang beredar selama ini, iPhone tersebut akan mengadopsi desain yang mirip iPhone 14. Ini berarti lini SE terbaru akan memiliki tampilan yang modern, ketimbang pendahulunya yang masih menggunakan desain iPhone lawas.

    iPhone SE 4 juga diprediksi akan dibekali chip A18. Selain itu, Apple juga disebut masih akan mempertahankan satu kamera belakang di smartphone tersebut, mirip dengan lini SE sebelumnya.

    Mengingat pengumuman tersebut akan dilakukan sebentar, menarik untuk menunggu informasi resmi dari Apple soal perangkat barunya itu. 

  • Pemeran Mark Zuckerberg Sekarang Anti Zuckerberg

    Pemeran Mark Zuckerberg Sekarang Anti Zuckerberg

    Jakarta

    Jesse Eisenberg, aktor yang berperan sebagai CEO Meta Mark Zuckerberg dalam film The Social Network tahun 2010, tak mau lagi diidentikkan dengan sang pendiri Facebook itu. Ada apa gerangan?

    “Sepertinya orang ini melakukan hal-hal yang bermasalah, menghilangkan pemeriksaan fakta,” kata Eisenberg, merujuk keputusan Zuck untuk menghilangkan pemeriksaan fakta di konten media sosial mereka.

    “Ini membuat orang-orang yang sudah terancam di dunia menjadi semakin terancam,” tambah pria yang juga membintangi film Now You See Me itu, yang dikutip detikINET dari BBC.

    Meta mengumumkan bulan lalu takkan lagi menggunakan pemeriksa fakta independen di Facebook dan Instagram. Mereka menggantinya dengan catatan komunitas mirip X, di mana komentar tentang keakuratan konten diserahkan kepada pengguna.

    Menurut Zuckerberg, moderator pihak ketiga terlalu bias secara politik dan sudah waktunya perusahaan media sosialnya untuk kembali ke kebebasan berekspresi. Namun Eisenberg mengkritik salah satu orang terkaya di dunia itu sebagai tidak bertanggung jawab.

    “Orang-orang ini punya miliaran dolar, lebih banyak dari yang pernah dikumpulkan manusia mana pun, dan apa yang mereka lakukan dengan uang itu? Oh, mereka melakukannya untuk menarik hati seseorang yang menyebarkan kebencian,” cetusnya.

    Langkah Meta dilakukan saat Zuckerberg dan eksekutif teknologi lainnya berusaha meningkatkan hubungan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump dan sekutunya di Partai Republik mengkritik kebijakan pemeriksaan fakta Meta sebagai usaha penyensoran suara sayap kanan.

    Dan setelah perubahan diumumkan, Trump mengatakan bahwa dia terkesan dengan keputusan Mark Zuckerberg dan bahwa Meta telah melangkah jauh.

    (fyk/fyk)