Tag: Mark

  • Elon Musk Minggir, Zuckerberg Punya Mesin Uang Baru

    Elon Musk Minggir, Zuckerberg Punya Mesin Uang Baru

    Jakarta, CNBC Indonesia – Miliarder teknologi, Mark Zuckerberg dan Elon Musk, kerap saling sindir di hadapan publik. Bahkan, keduanya pernah berniat untuk bergulat secara fisik.

    Sejatinya, Musk dan Zuckerberg memiliki kesamaan. Keduanya masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia, serta mengendalikan raksasa media sosial. Musk merupakan pemilik X, sementara Zuckerberg menguasai Meta yang menaungi Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads.

    Threads merupakan layanan serupa X. Bahkan, ketika X ditinggal pengguna gara-gara keterlibatan Musk dalam kampanye Pilpres memenangkan Trump, banyak yang beralih layanan pesaing termasuk Threads.

    Saat ini, Musk diterpa masalah bertubi-tubi. Mulai dari gerakan boikot Tesla, hingga perang dagang AS-China yang memengaruhi kerajaan bisnisnya.

    Di saat bersamaan, Zuckerberg justru memamerkan ‘mesin uang’ baru. Meta baru-baru ini membuka fitur iklan untuk aplikasi Threads.

    Induk perusahaan Instagram mengatakan memperluas iklan Threads di semua pengiklan seluruh dunia, dikutip dari Threads, Kamis (23/4/2025).

    Iklan di Threads akan diaktifkan secara default untuk semua kampanye iklan baru. Ini menggunakan Advantage+ Meta atau penempatan manual.

    Sebelumnya fitur iklan telah diujicoba di dua negara yakni Amerika Serikat (AS) dan Jepang.

    Penambahan fitur iklan ini akan menambah saingan X milik Elon Musk. Zuckerberg bahkan mengklaim platformnya lebih ramah pengiklan dengan tiga dari empat pengguna sudah mengikuti minimal satu bisnis di Threads.

    Perkembangan Threads juga mengarah ke arah positif. Sekarang sudah ada lebih dari 320 juta pengguna aktif bulanan.

    Dalam laporan pendapatan Meta, Zuckerberg mengatakan ada lebih 1 juta pendaftaran per hari aplikasi itu. Dia juga menargetkan Thread akan menjangkau lebih dari 1 miliar pengguna selama beberapa tahun ke depan.

    Pertumbuhan Threads sendiri berkat konsep jaringan sosial Meta. Aplikasi menjadi semacam perluasan dari Instagram.

    Tech Crunch menuliskan Meta menyontek konsep jaringan sosial yang berkembang seperti Mastodon dan Bluesky untuk mengembangkan Threads.

    Misalnya Meta mengintegrasikan aplikasinya dengan ActivityPub. Protokol menghubungkan Thread ke web terbuka dan terdesentralisasi bernama fediverse.

    Integrasi memang belum selesai. Jika sudah bisa dilakukan, Threads bisa menjadi layanan terbesar yang beroperasi di fediverse dan bahkan mengalahkan Mastodon.

    (fab/fab)

  • Instagram dan WhatsApp Diincar, Kerajaan Mark Zuckerberg Goyah

    Instagram dan WhatsApp Diincar, Kerajaan Mark Zuckerberg Goyah

    Jakarta

    Pengguna internet dalam 20 tahun terakhir, kemungkinan besar memiliki akun Facebook, Instagram dan WhatsApp, atau semuanya sekaligus.

    Facebook awalnya didirikan tahun 2004 oleh Mark Zuckerberg, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes. Apa yang awalnya dimaksudkan sebagai media sosial khusus mahasiswa Harvard perlahan berubah menjadi bisnis raksasa.

    Tahun 2012, Meta yang saat itu masih dikenal sebagai Facebook membeli Instagram USD 1 miliar dari pendiri Kevin Systrom dan Mike Krieger. Instagram kemudian menjadi aplikasi media sosial yang berpusat pada foto dan menjadi platform bagi influencer untuk membangun bisnis mereka.

    Meta juga membeli WhatsApp pada tahun 2014 seharga USD 19 miliar. Saat ini, aplikasi ini memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif secara global dan merupakan aplikasi messenger yang paling banyak digunakan di dunia.

    Patut diakui kerajaan bisnis Meta memang luar biasa. Selain miliaran di WhatsApp, 3,35 miliar orang berbondong ke Facebook tiap bulan, sementara 2 miliar orang menggunakan Instagram. Namun Mark Zuckerberg dapat dipaksa menjual Instagram dan WhatsApp karena gugatan antimonopoli yang sudah dimulai di ruang sidang Washington.

    Gugatan antimonopoli ini awalnya diajukan Desember 2020 oleh Komisi Perdagangan Federal atau Federal Trade Comission (FTC). Mereka menuduh Meta sengaja menyalahgunakan monopoli pasar media sosial untuk membeli Instagram dan WhatsApp sebelum dapat mengancam bisnis Meta, sehingga melanggar undang-undang antimonopoli federal.

    Gugatan tersebut juga mengklaim Zuckerberg sangat menyadari aplikasi tersebut merupakan ancaman dalam komentar di email internal. Salah satu dari tahun 2012 menyebut lonjakan popularitas Instagram sangat menakutkan dan berkomentar, “Kita mungkin perlu mempertimbangkan membayar banyak uang untuk ini.”

    “Facebook secara sistematis melacak calon pesaing dan mengakuisisi perusahaan yang dianggapnya sebagai ancaman persaingan serius,” demikian tuduhan FTC. Tentu Meta sangat menentang klaim tersebut.

    “Bukti di persidangan akan menunjukkan apa yang diketahui setiap anak berusia 17 tahun di dunia, Instagram, Facebook, dan WhatsApp bersaing dengan TikTok, YouTube, X, iMessage milik China, dan banyak lainnya,” kata perusahaan itu yang dikutip detikINET dari Yahoo Finance.

    “Lebih dari 10 tahun setelah FTC meninjau dan menyetujui akuisisi kami, tindakan Komisi dalam kasus ini mengirimkan pesan bahwa tidak ada kesepakatan yang benar-benar final. Regulator seharusnya mendukung inovasi Amerika, daripada berusaha memecah perusahaan Amerika yang hebat dan semakin menguntungkan China dalam masalah kritis seperti AI,” tambah mereka.

    Jika klaim yang dilontarkan FTC terhadap Meta terbukti valid di pengadilan, Zuckerberg dapat dipaksa untuk memisahkan WhatsApp dan Instagram menjadi bisnis yang terpisah. Hal ini bisa berarti perubahan besar pada cara mereka beroperasi atau bahkan potensi penutupan.

    (fyk/rns)

  • Mengenal Trading Futures Crypto

    Mengenal Trading Futures Crypto

    Jakarta: Dalam dunia aset digital yang terus berkembang, trading futures crypto menjadi salah satu instrumen yang paling populer di kalangan trader. Tidak hanya memberikan potensi keuntungan besar, tetapi juga menawarkan fleksibilitas dalam strategi perdagangan. Namun, seperti halnya instrumen keuangan lainnya, trading futures juga memiliki risiko tinggi yang perlu dipahami secara mendalam.
     
    Dengan leverage yang tersedia pada trading futures crypto, trader bisa mengontrol posisi besar hanya dengan modal kecil. Namun, potensi keuntungan yang tinggi juga disertai risiko kerugian yang signifikan. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara kerja futures, menerapkan strategi yang tepat, dan memiliki manajemen risiko yang kuat.
     

    Apa Itu Trading Futures Crypto?

    Secara sederhana, futures adalah kontrak derivatif yang memungkinkan dua pihak untuk membeli atau menjual aset di masa depan dengan harga yang telah disepakati sebelumnya. Dalam konteks crypto, aset yang dimaksud bisa berupa Bitcoin, Ethereum, atau mata uang crypto lainnya.
     
    Trading futures berbeda dari spot trading. Jika dalam spot trading Anda membeli aset crypto secara langsung (misalnya membeli 1 BTC), maka dalam futures, Anda hanya memperdagangkan kontrak yang merepresentasikan aset tersebut, tanpa benar-benar memilikinya.
     

    Sebagai contoh, btc usdt perp (harga Perpetual Bitcoin didalam Dollar US), dikutip dari Pintu Pro Futures, harga Mark tanggal 13 April 2025 (ditentukan dari rata-rata harga spot di beberapa exchange dan nilai funding) berada pada harga 85.417,81. sedangkan nilai funding 0,0100%. Harga BTCUSD Perp mengalami kenaikan sebesar 2,96%.
     

    Jenis-jenis Kontrak Futures Crypto

    Terdapat beberapa jenis kontrak futures yang umum digunakan di pasar crypto:

    1. Futures Berkala (Delivery Futures)
     
    Kontrak ini memiliki tanggal kedaluarsa tertentu. Ketika kontrak berakhir, aset harus diserahkan atau diselesaikan secara tunai. Suatu instrumen derivatif yang diperdagangkan di bursa. Lembaga kliring akan bertindak selaku mitra transaksi atas semua kontrak yang diperdagangkan, dan menentukan aturan marjin yang dibutuhkan, dll.
     
    2. Perpetual Futures (Futures Abadi)
     
    Jenis ini tidak memiliki tanggal kedaluarsa. Posisi dapat dibuka selama yang diinginkan, selama memenuhi margin requirement. salah satu fitur trading yang paling populer di kalangan para trader. Melalui perpetual trading, trader bisa mendapatkan keuntungan baik ketika pasar sedang bullish ataupun bearish. Apalagi, adanya leverage pada perpetual trading juga menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan spot trading. Kendati begitu, potensi keuntungan tersebut juga sebanding dengan risiko yang lebih tinggi. 
     
    3. Cash Settled vs. Physically Settled
     
    Beberapa kontrak diselesaikan dalam bentuk tunai (cash settled), sementara yang lain melibatkan pertukaran aset secara fisik (physically settled).
     

    Bagaimana Trading Futures Crypto Bekerja?

    Trading futures crypto melibatkan dua pihak utama:
     
    Long (Buy): Trader yang percaya bahwa harga crypto akan naik di masa depan.
     
    Short (Sell): Trader yang memperkirakan harga akan turun.
     
    Misalnya, jika Anda membuka posisi long pada kontrak BTC/USDT di harga USD30.000, dan kemudian harga naik ke USD32.000, Anda akan mendapatkan keuntungan dari selisih harga tersebut. Sebaliknya, jika harga turun, Anda akan mengalami kerugian.
     
    Fitur utama dari futures adalah leverage kemampuan untuk mengontrol posisi besar dengan modal kecil. Misalnya, dengan leverage 10x, Anda hanya membutuhkan USD100 untuk mengontrol posisi senilai USD1.000. Namun, leverage juga memperbesar risiko kerugian.
     

    Keuntungan Trading Futures Crypto

    1. Potensi Keuntungan dari Kedua Arah Pasar: Anda bisa menghasilkan profit baik saat harga naik (long) maupun saat turun (short).
     
    2. Leverage Tinggi: Membuka peluang besar dengan modal kecil. Cocok bagi trader yang ingin memaksimalkan potensi keuntungan dalam jangka pendek.
     
    3. Likuiditas Tinggi: Platform seperti Binance, Bybit, dan OKX menyediakan likuiditas besar, memungkinkan trader untuk masuk dan keluar pasar dengan cepat.
     
    4. Hedging (Lindung Nilai): Futures juga digunakan oleh investor besar untuk melindungi portofolio mereka dari pergerakan harga yang merugikan.
     

    Risiko dalam Trading Futures Crypto

    1. Risiko Likuidasi: Karena adanya leverage, jika pasar bergerak berlawanan dari posisi Anda, akun bisa dilikuidasi (ditutup secara otomatis) jika saldo margin tidak mencukupi.
     
    2. Volatilitas Tinggi: Pasar crypto sangat fluktuatif. Pergerakan harga bisa sangat cepat, yang berpotensi menyebabkan kerugian besar dalam waktu singkat.
     
    3. Overtrading dan Emosi: Banyak trader terpancing untuk membuka posisi terlalu sering atau terlalu besar karena tergoda potensi keuntungan cepat.
     
    4. Biaya Pendanaan (Funding Rate): Untuk kontrak perpetual, biasanya ada biaya pendanaan yang dibayar antara long dan short secara berkala, tergantung dari arah dominan pasar.
     

    Strategi Umum dalam Trading Futures

    1. Scalping: Strategi jangka pendek yang memanfaatkan pergerakan harga kecil dalam waktu sangat singkat. Membutuhkan fokus tinggi dan eksekusi cepat.
     
    2. Day Trading: Posisi dibuka dan ditutup dalam hari yang sama. Cocok bagi mereka yang aktif memantau pasar.
     
    3. Swing Trading: Mengejar tren harga dalam jangka menengah (beberapa hari hingga minggu). Mengandalkan analisis teknikal dan fundamental.
     
    4. Hedging: Digunakan oleh investor untuk melindungi nilai investasi utama. Misalnya, jika Anda memegang BTC di spot, Anda bisa membuka posisi short di futures untuk menyeimbangkan risiko.
     

    Cara Menghindari Likuidasi dalam Trading dengan Leverage

    Likuidasi adalah proses di mana posisi terbuka seorang trader ditutup secara otomatis ketika margin usage mencapai 100%. Dalam perdagangan futures, saat seorang trader mengambil posisi leverage, kemudian pasar bergerak berlawanan dari posisi yang sudah diambil, maka mereka berisiko untuk ditutup posisinya oleh exchange.
     
    Ada beberapa strategi yang bisa digunakan, yaitu:
     
    1. Gunakan Leverage Sesuai dengan Manajemen Risiko yang Kamu Tentukan
     
    Cara termudah untuk mengurangi risiko likuidasi adalah dengan menyesuaikan leverage sesuai risiko yang bisa kamu antisipasi. Leverage yang lebih rendah memberikan ruang lebih bagi pasar untuk bergerak melawan posisi yang sudah ditentukan, tanpa mencapai harga likuidasi atau tanpa menguras seluruh dana yang dimiliki.
     
    2. Pahami Ukuran Posisi
     
    Ukuran posisi lebih penting daripada leverage itu sendiri. Sebagai contoh, jika kamu trading dengan leverage 5x dan margin Rp1.000.000, ukuran posisi kamu adalah Rp10.000.000. Namun, jika kamu menggunakan leverage 100x dengan margin USD1, ukuran posisi tetap sama, tetapi risikonya jauh lebih tinggi. Dengan leverage yang lebih tinggi, harga likuidasi lebih dekat dengan entry, sehingga kemungkinan untuk kehilangan posisi menjadi lebih besar.
     
    3. Fokus pada Manajemen Risiko dan Psikologi Trading
     
    Keberhasilan dalam trading tidak tentang menemukan strategi “sempurna,” tetapi tentang manajemen risiko yang disiplin. Bahkan strategi trading terbaik tidak efektif tanpa manajemen risiko yang tepat, termasuk pengaturan ukuran posisi dan fokus pada pengendalian kerugian.
     

    Tips Sukses dalam Trading Futures

    1. Manajemen Risiko: Gunakan stop loss dan atur besaran risiko per transaksi.
     
    2. Pahami Leverage: Gunakan leverage dengan bijak. Lebih tinggi bukan berarti lebih baik.
     
    3. Analisis yang Kuat: Kombinasikan analisis teknikal dan fundamental untuk menentukan arah pasar.
     
    4. Disiplin Psikologis: Hindari keputusan emosional seperti revenge trading atau overconfidence.
     
    5. Gunakan Akun Demo: Berlatih terlebih dahulu untuk memahami mekanisme futures tanpa risiko kehilangan uang sungguhan.
     
    Perlu diingat, semua aktivitas jual beli crypto memiliki resiko dan volatilitas yang tinggi karena sifat crypto dengan harga yang fluktuatif. Maka dari itu, selalu lakukan riset mandiri (DYOR) dan gunakan dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat (uang dingin) sebelum berinvestasi. Segala aktivitas jual beli bitcoin dan investasi aset crypto lainnya menjadi tanggung jawab para trader dan investor.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ROS)

  • Zuckerberg Akui Penggunaan Instagram dan Facebook Turun

    Zuckerberg Akui Penggunaan Instagram dan Facebook Turun

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg, mengakui adanya penurunan waktu yang dihabiskan pengguna untuk Facebook dan Instagram. Hal ini diungkapkan saat Zuck bersaksi dalam persidangan antimonopoli yang melibatkan Komisi Perdagangan Federal (FTC) AS dan raksasa teknologi tersebut.

    Saat persidangan berlangsung, beberapa email internal antara Zuck dan Head of Facebook, Tom Alison, pada April 2022, telah diperlihatkan di pengadilan.

    Dalam salah satu emailnya, Zuck dengan jelas mengatakan bahwa meskipun orang-orang masih menggunakan aplikasi ini secara teratur di banyak area, namun relevansi budaya platform ini menurun dengan cepat dan ini bukan pertanda baik.

    Zuck bahkan memperingatkan bahwa penurunan relevansi ini mungkin merupakan tanda awal dari masalah yang lebih besar di kemudian hari. Ia juga menunjukkan bagaimana kebiasaan online orang berubah. Konsep asli Facebook untuk terhubung melalui teman tidak lagi berfungsi seperti sebelumnya.

    “Pangsa Facebook dan Instagram dalam jumlah waktu yang dihabiskan orang di aplikasi media sosial telah turun secara signifikan,” kata Zuck saat bersaksi di pengadilan pada hari Rabu (16/4), yang dikutip detiKINET dari Social Media Today.

    Lebih lanjut Zuck mengatakan bahwa banyak interaksi yang dilakukan orang secara langsung dengan teman-teman mereka telah bergeser ke aplikasi perpesanan.

    Dulu, Meta secara teratur membagikan informasi terbaru tentang jumlah waktu yang dihabiskan pengguna di aplikasinya. Misalnya, pada tahun 2016 bahwa rata-rata pengguna menghabiskan lebih dari 50 menit per hari menggunakan Facebook, Instagram, dan Messenger.

    Namun setelah itu, Meta berhenti melaporkan angka-angka ini. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan di aplikasi-aplikasinya tidak meningkat secara signifikan sejak saat itu.

    Untuk diketahui persidangan ini menyoal kasus Meta yang dituding FTC melakukan aksi monopoli dengan membeli Instagram pada tahun 2012 dan WahtsApp di tahun 2014. Akuisisi ini dianggap menjadi strategi Meta agar tidak ada persaingan dan mempertahankan mempertahankan kontrolnya atas pasar media sosial.

    (jsn/jsn)

  • Skor Lebih Tinggi dari Riset Swasta, OpenAI Manipulasi Penilaian Model o3?

    Skor Lebih Tinggi dari Riset Swasta, OpenAI Manipulasi Penilaian Model o3?

    Bisnis.com, JAKARTA — OpenAI, perusahaan yang berfokus dalam pengembangan model kecerdasan buatan (AI), menjadi sorotan. Perusahaan milik Sam Altman itu menghadirkan data pengukuran yang berbeda dengan lembaga pengukuran independent terkait model o3.

    Ketika OpenAI meluncurkan o3 pada  Desember, perusahaan mengklaim model tersebut dapat menjawab lebih dari seperempat pertanyaan di FrontierMath, serangkaian soal matematika yang menantang. Skor tersebut mengalahkan pesaingnya — model terbaik berikutnya hanya berhasil menjawab sekitar 2% soal FrontierMath dengan benar.

    “Saat ini, semua penawaran di luar sana memiliki kurang dari 2% [di FrontierMath]… Kami melihat [secara internal], dengan o3 dalam pengaturan komputasi waktu pengujian yang agresif, kami dapat memperoleh lebih dari 25%,”  kata Mark Chen, kepala peneliti di OpenAI, selama siaran langsung dikutip dari Techcrunch, Senin (21/4/2025). 

    Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan setelah ditemukan fakta bahwa angka yang disampaikan OpenAI adalah batas atas, yang dicapai oleh versi o3 dengan komputasi yang lebih baik daripada model yang diluncurkan OpenAI secara publik minggu lalu. 

    Epoch AI, lembaga penelitian di balik FrontierMath, merilis hasil uji benchmark independen o3 pada hari Jumat. Epoch menemukan bahwa o3 memperoleh skor sekitar 10%, jauh di bawah skor tertinggi yang diklaim OpenAI.

    OpenAI has released o3, their highly anticipated reasoning model, along with o4-mini, a smaller and cheaper model that succeeds o3-mini.

    We evaluated the new models on our suite of math and science benchmarks. Results in thread! pic.twitter.com/5gbtzkEy1B

    — Epoch AI (@EpochAIResearch) April 18, 2025

    Epoch menambahkan meski terjadi perbedaan Epoch AI menilai hasil benchmark yang dipublikasikan perusahaan pada  Desember menunjukkan skor batas bawah yang sesuai dengan skor yang diamati Epoch. 

    Epoch juga mencatat bahwa pengaturan pengujiannya kemungkinan berbeda dari OpenAI, dan bahwa mereka menggunakan rilis FrontierMath yang diperbarui untuk evaluasinya.

    “Perbedaan antara hasil kami dan OpenAI mungkin disebabkan oleh OpenAI yang mengevaluasi dengan perancah internal yang lebih kuat, menggunakan lebih banyak waktu pengujian [komputasi], atau karena hasil tersebut dijalankan pada subset FrontierMath yang berbeda (180 soal dalam frontiermath-2024-11-26 vs 290 soal dalam frontiermath-2025-02-28-private),” tulis Epoch.

    Menurut sebuah posting di X dari ARC Prize Foundation, sebuah organisasi yang menguji versi pra-rilis o3, model o3 publik “adalah model yang berbeda […] yang disesuaikan untuk penggunaan obrolan/produk,” yang menguatkan laporan Epoch. “Semua tingkatan komputasi o3 yang dirilis lebih kecil daripada versi yang kami [uji],” tulis ARC Prize. Secara umum, tingkatan komputasi yang lebih besar diharapkan dapat mencapai skor uji yang lebih baik.

  • Pedagang di Pasar Parakanmuncang Sumedang Keluhkan Dugaan Pungli, Polisi Lakukan Penyelidikan

    Pedagang di Pasar Parakanmuncang Sumedang Keluhkan Dugaan Pungli, Polisi Lakukan Penyelidikan

    Liputan6.com, Bandung – Para pedagang di Pasar Parakanmuncang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat mengeluhkan dugaan pungutan liar (pungli). Berdasarkan informasi yang beredar, dugaan pungli yang ditujukan untuk kebersihan dan keamanan ini diklaim merupakan hasil musyawarah.

    Terkait itu, Kasatreskrim Polres Sumedang, AKP Uyun Saeful Uyun menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan penyelidikan atas dugaan tersebut.

    “Ini tentunya kepolisian akan selidiki lebih dalam, kalau ada ranah pidana tentunya polisi akan mengusut terkait siapa yang bertanggung jawab secara hukum,” kata Uyun dalam keterangannya pada Kamis, 17 April 2025.

    Pungli di Pasar Parakanmuncang diduga dilakukan oleh dua pihak, yakni Ikatan Warga Pasar (Ikwapa) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar Parakanmuncang.

    Ikwapa diduga melakukan pungutan liar kepada para pedagang dengan menggunakan karcis bertuliskan hasil musyawarah. Menurut klaim para pedagang, mereka merasa tidak pernah diajak bermusyawarah.

    “Warga pasar merasa bahwa kebersihan dan keamanan merupakan tugas yang diemban oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui UPTD Pasar Parakanmuncang,” kata salah satu pedagang di Pasar Parakanmuncang.

    Sementara itu, UPTD Pasar Parakanmuncang juga diduga melakukan pungli dengan modus mark up (menaikkan) jumlah iuran.

    Saat ini, pihak kepolisian tengah melakukan penyelidikan untuk menegaskan apakah tindakan-tindakan tersebut termasuk ke dalam ranah pidana atau pelanggaran aturan daerah (Perda) saja.

    “Kalau ini belum masuk ranah pidana, tentunya, karena ini retribusi yang di atas wilayah Sumedang, pihak Polres Sumedang akan berkoordinasi dengan pihak inspektorat atas kondisi ini,” tutur Uyun.

    Jika terbukti adanya pelanggaran hukum, Uyun memastikan pihak kepolisian akan mengambil langkah tegas untuk memproses para pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku.

     

    Penulis: Arby Salim

  • PM Kanada Blak-blakan Anggap China Ancaman Terbesar

    PM Kanada Blak-blakan Anggap China Ancaman Terbesar

    JAKARTA  – Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengatakan China merupakan salah satu ancaman terbesar terkait campur tangan asing di Kanada dan merupakan ancaman yang muncul di wilayah Arktik.

    Dalam debat menjelang pemilihan umum pada 28 April, Carney menjawab “China,” ketika diminta menyebutkan ancaman keamanan terbesar bagi Kanada.

    Ketika diminta untuk menjelaskan lebih lanjut pada konferensi pers pada Jumat, 18 April, Carney mengatakan Kanada harus melawan ancaman campur tangan asing dari China.

    Ia juga mengkritik Tiongkok karena menjadi mitra Rusia dalam perang dengan Ukraina dan mengatakan Tiongkok merupakan ancaman bagi Asia dan Taiwan secara khusus.

    Carney mengatakan China adalah ancaman terbesar “dari sudut pandang geopolitik.”

    “Kami mengambil tindakan untuk mengatasinya,” ujarnya dilansir Reuters, Sabtu, 19 April.

    Kedutaan Besar China di Ottawa tidak segera menanggapi permintaan tanggapan.

    Partai Liberal Carney memimpin jajak pendapat saat kampanye memasuki tahap akhir.

    Kanada juga terkunci dalam perang dagang dengan sekutu jangka panjangnya, Amerika Serikat.

    Kanada mengenakan tarif balasan pada barang-barang AS sebagai tanggapan atas tarif AS pada mobil, baja, dan aluminium Kanada, serta barang-barang yang tidak mematuhi kesepakatan Perdagangan Bebas Amerika Utara.

    Carney mengatakan Kanada tidak akan mencoba menyamai dolar AS dengan dolar sebagai balasan, tetapi mengatakan seluruh sistem perdagangan global sedang ditata ulang.

     

    “Tingkat nilai-nilai bersama dengan AS itu sedang bergeser, jadi tingkat keterlibatan kita akan bergeser,” katanya.

    Ada peluang bagi Kanada untuk terlibat di luar Amerika Serikat dan Tiongkok, dua ekonomi terbesar di dunia.

    “Ada peluang besar di Eropa, di ASEAN, Mercosur, bagian lain dunia tempat kita dapat lebih memperdalam, dan kita harus melakukannya, dan saya pikir kita akan melakukannya,” ujar Carney.

  • Review Film The King of Kings: Memahami Iman dari Sudut Pandang Anak

    Review Film The King of Kings: Memahami Iman dari Sudut Pandang Anak

    Jakarta, Beritasatu.com – The King of Kings (2025) menjadi film animasi yang mengajarkan iman spiritual dengan cara yang unik. Menceritakan kisah Yesus Kristus melalui sudut pandang seorang anak kecil, film berdurasi 105 menit ini menggabungkan elemen drama keluarga dan religi.

    The King of Kings memanfaatkan format cerita di dalam cerita, dengan fokus terhadap Charles Dickens (sastrawan legendaris Inggris) menceritakan kehidupan Yesus kepada putranya, Walter. Dari situlah dimulai perjalanan penuh keajaiban dan makna yang mengubah cara pandang sang anak terhadap dunia dan iman.

    Disutradarai oleh Seong-ho Jang, film ini terinspirasi dari karya Charles Dickens, The Life of Our Lord, yang sebelumnya hanya diceritakan untuk keluarga Dickens sendiri. Cerita dimulai saat Dickens (disuarakan oleh Kenneth Branagh) sedang membacakan A Christmas Carol (karya legendaris Dickens lainnya) di London.

    Ketika anak bungsunya, Walter (disuarakan oleh Roman Griffin Davis) membuat onar, Dickens terdorong untuk membacakan kisah Yesus sebagai upaya menyentuh hati anaknya. Dengan gaya penceritaan ala Dickens, Walter pun membayangkan dirinya menyatu dalam perjalanan Yesus, menyaksikan cobaan, mukjizat, hingga pengorbanan di kayu salib.

    Dari sisi produksi, The King of Kings dibintangi oleh jajaran pengisi suara papan atas. Selain dua nama yang sudah disebutkan sebelumnya, deretan pengisi suara lainnya, yakni Oscar Isaac sebagai Yesus, Uma Thurman sebagai Catherine (istri Charles Dickens), Forest Whitaker sebagai Petrus, hingga Mark Hamill, Ben Kingsley, dan Pierce Brosnan yang mengisi suara Herodes, Kayafas, dan Pilatus.

    The King of Kings (2025). – (Mofac Studios/Angel Studios)

    Performa Kenneth Branagh dan Roman Griffin Davis sebagai ayah dan anak menjadi inti emosional dari film ini. Sementara itu, Oscar Isaac dengan suaranya berhasil membawakan sosok Yesus dengan ketenangan dan kedamaian, menggambarkan figur yang lembut dan penuh kasih. Hal ini membuat kisah Yesus menjadi mudah diikuti dan dapat dijangkau oleh penonton yang belum familiar dengan cerita Injil.

    Visualisasi dalam film ini cukup menarik, meski tak sehalus animasi studio besar. Beberapa adegan, seperti Yesus berjalan di atas air, hingga mukjizat memberi makan 5.000 orang, disajikan dengan warna-warna dan efek yang memikat.

    Animasinya memiliki kualitas yang terasa seperti lukisan, memberikan kesan artistik yang membedakannya dari gaya animasi digital pada umumnya. Estetika visual yang khas, sesuai dengan nuansa cerita dan memperkuat dampak emosional film.

    Pada akhirnya, sebagai film yang rilis pada momen Paskah, The King of Kings menjadi tontonan keluarga yang pas. Bagi penonton Kristiani, film ini menjadi cara paling simpel dan menyenangkan dalam menjelaskan kisah Yesus dan nilai spiritual kepada keluarga.

    Bagi penonton yang bukan Kristiani, The King of Kings bukan hanya kisah tentang Yesus, tetapi juga tentang hubungan ayah dan anak, serta pentingnya mengenalkan nilai kasih kepada generasi muda. Film ini rencananya tayang di bioskop Indonesia mulai Jumat (18/4/2025).

  • Ini Dia Wanita Terkaya Sepanjang Sejarah, Lebih Kaya dari Elon Musk

    Ini Dia Wanita Terkaya Sepanjang Sejarah, Lebih Kaya dari Elon Musk

    Jakarta

    Berbicara mengenai orang terkaya di dunia, nama-nama seperti Elon Musk, Mukesh Ambani, Jeff Bezos, Bernard Arnault, dan Mark Zuckerberg kerap terlontar. Namun jauh sebelum itu, ada seorang wanita yang kekayaannya melampaui mereka semua.

    Wanita tersebut adalah Wu Zetian atau dikenal Wu Zhao, atay Wu Hao, atau Permaisuri Wu. Ia merupakan satu-satunya perempuan yang secara resmi dan diakui sebagai maharani atau kaisar wanita dalam sejarah China.

    Bahkan menurut laporan SCMP pada 2022 lalu, satu-satunya kaisar wanita China ini diperkirakan mengendalikan aset senilai lebih dari US$ 16 triliun atau setara dengan Rp 268.720 triliun (kurs Rp 268,72/dolar AS).

    “Tentu saja perbandingan kekayaan lintas abad dan era yang berbeda sulit dilakukan, tetapi mengingat kekayaan China saat itu, dapat dikatakan bahwa Permaisuri Wu adalah wanita terkaya yang pernah hidup,” tulis SCMP dalam laporannya.

    Kekayaan sebesar ini disebut-sebut berasal dari kombinasi berbagai sumber, termasuk kontrol ketat atas sumber daya kekaisaran dan kebijakan perpajakan yang tinggi pada masa pemerintahannya. Namun terlepas dari perdebatan harta yang dimilikinya, Permaisuri Wu merupakan salah satu tokoh paling menarik dalam sejarah Tiongkok.

    Wu Zetian lahir di Provinsi Shanxi pada tahun 624 Masehi. Ayahnya diketahui merupakan seorang pedagang kayu yang kaya dan ibunya berasal dari keluarga Yang, di mana keluarga itu memiliki pengaruh yang luas.

    Singkat cerita, Wu menjadi selir dari Kaisar Taizong pada usia 14 tahun sampai orang nomor satu di China itu meninggal pada 649. Karena Wu tidak memiliki anak dengan kaisar, menurut adat istiadat ia harus tinggal secara permanen di biara Buddha setelah kematian Taizong.

    Meski begitu Wu dikabarkan sudah memiliki hubungan dengan putra Taizong, Kaisar Gaozong saat kaisar masih hidup. Benar atau tidaknya kabar tersebut, Wu berhasil terbebas dari kehidupan di biara dan menjadi selir Gaozong dalam waktu setahun.

    Singkat cerita Wu diangkat menjadi permaisuri pada tahun 655 setelah dirinya berhasil menggulingkan posisi permasuri Wang, istri Kaisar Gaozong. Hingga dalam kurun waktu lima tahun, Kaisar Gaozong mulai sakit-sakitan.

    Karena tidak berdaya, Gaozong mulai menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kaisar kepada istrinya yang dianggap terpelajar dan terus-menerus meminta nasihat darinya. Dari sinilah Wu kemudian memiliki kekuasaan atas pemerintahan China kala itu.

    “Kenaikan atau penurunan jabatan, hidup atau mati, ditentukan oleh kata-katanya,” tulis sejarawan Dinasti Song, Sima Guang, beberapa abad kemudian.

    Di bawah kepemimpinannya, kekaisaran Tiongkok mengalami perluasan wilayah kekuasaan yang cukup signifikan, khususnya di kawasan Asia Tengah.

    Perluasan wilayah kekuasaan ini membantu meningkatkan perdagangan, khususnya dalam komoditas berharga seperti sutra dan teh. Selain itu kondisi ini turut memperluas rute perdagangan hingga ke Eropa dan Timur Tengah, membawa kemakmuran yang luar biasa bagi kekaisaran.

    Tonton juga Video: Momen Orang Terkaya di Dunia Kumpul di Pelantikan Trump

    (igo/fdl)

  • TikTok Raja Aplikasi Nomor 1, Bos Facebook Beri Komen Tak Terduga

    TikTok Raja Aplikasi Nomor 1, Bos Facebook Beri Komen Tak Terduga

    Jakarta, CNBC Indonesia – CEO Meta (Facebook, Instagram, WhatsApp) Mark Zuckerberg berupaya membantah perusahaannya melakukan monopoli industri media sosial. Dalam persidangan atas gugatan monopoli dari Komisi Perdagangan Federal (FTC), Zuckerberg mengaku perusahaannya menghadapi persaingan sengit dengan TikTok milik ByteDance asal China.

    Zuckerberg mengatakan TikTok merupakan ancaman kompetisi tertinggi bagi Facebook dan Instagram selama beberapa tahun belakangan. 

    Menurut laporan Business of Apps, TikTok merupakan aplikasi yang paling banyak diinstal sepanjang 2024, yakni mencapai 773 juta. TikTok berhasil menggeser posisi Instagram yang pada 2023 menjadi aplikasi paling banyak diinstal.

    Sepanjang 2024, Instagram berada di urutan kedua dengan 759 download. Di toko aplikasi Apple App Store, TikTok merajai dengan 186 juta download, sementara Instagram merajai Google Play Store dengan 657 juta download pada 2024.

    Kepala pengacara Meta, Mark Hansen, merujuk pada email dari mantan eksekutif Facebook Vijaye Raji pada 2020 silam. Kala itu, Raji menyebut pertumbuhan TikTok mengkhawatirkan.

    Raji juga menyebut strategi Meta tidak cukup cepat untuk menghadapi persaingan ketat dengan TikTok, dikutip dari The Hill, Kamis (17/4/2025).

    “Meski Reels versi kedua cukup agresif dan menjanjikan, namun masih banyak tantangan untuk menghapus ancaman yang ada,” tulis Raji terkait fitur Reels tahap awal yang dikembangkan untuk berkompetisi dengan TikTok.

    “TikTok di AS adalah ancaman yang sangat besar untuk keseluruhan platform kita. Kita harus menunjukkan kekuatan lebih,” tertera dalam email pada 2020 tersebut.

    FTC menuntut Meta pada 2020 silam dengan tuduhan upaya mengeliminasi kompetisi dan mempertahankan monopoli perusahaan dengan mengakuisisi Instagram dan WhatsApp.

    Meta mengatakan pihaknya tidak melakukan monopoli dengan argumen masih menghadapi kompetisi yang sengit dengan media sosial lain seperti TikTok, YouTube, dan X.

    Setelah sekitar 9 jam diinterogasi oleh FTC selama 2 hari, Zuckerberg menghadapi pertanyaan dari pengacara Meta mulai Selasa (15/4) sore hingga Rabu (16/4) pagi.

    Hansen berusaha menyoroti persaingan dari TikTok dan YouTube, sambil mengecilkan pernyataan FTC bahwa Instagram dan WhatsApp memiliki potensi untuk jadi layanan yang sukses sukses sebelum diakuisisi oleh Meta.

    Ia menyinggung kekhawatiran Zuckerberg tentang Path pada tahun 2012. Media sosial yang sempat populer itu kini sudah tidak ada lagi. Sekitar 2012 pula Meta mempertimbangkan untuk membeli Instagram.

    Zuckerberg mengindikasikan jika ingin mematikan kompetisi, maka perusahaannya akan lebih memilih mengakuisisi Path ketimbang Instagram. Pasalnya, Zuckerberg melihat Path dan Google+ sebagai pesaing langsung kala itu. Sementara itu, Instagram melakukan hal yang sudah searah dengan perusahaannya.

    “Saya sedikit lebih khawatir tentang Path. Dari semua perusahaan rintisan sosial baru, mereka satu-satunya yang benar-benar menyentuh inti dari apa yang kami coba lakukan, yaitu mengidentifikasi dan berbagi teman.”

    “Secara teori, kami bisa bertahan dengan FourSquare, Quora, Dropbox, Instagram, dll yang tumbuh pesat. Namun, jika Path tumbuh dan tidak terhubung erat dengan Facebook, maka itu akan menjadi masalah besar bagi kami,” tambahnya.

    Zuckerberg menekankan pertimbangannya dalam mengakuisisi Instagram berdasar pada pendekatan analisis “bangun atau beli”. Untuk perusahaan, pilihannya adalah membangun sendiri layanan serupa atau membeli perusahaan yang sudah membangun layanan tersebut.

    Selain soal akuisisi Instagram, Hansen juga memberikan argumen terkait akuisisi WhatsApp pada 2014.

    Beberapa email internal yang ditampilkan FTC pada pekan ini menunjukkan kekhawatiran eksekutif Facebook terkait pertumbuhan aplikasi pesan singkat mobile seperti WhatsApp pada 2012 dan 2013. Mereka khawatir ada potensi WhatsApp memberikan kapabilitas jejaring sosial seperti Facebook.

    Namun, Hansen membantahnya dengan menunjukkan email dari Zuckerberg pada 2012 setelah bertemu pendiri WhatsApp Jan Koum. Dalam email itu, Koum dikatakan tak memiliki niat untuk mengembangkan kemampuan aplikasi WhatsApp di luar layanan pesan singkat.

    “Saya melihat dia [Koum] merupakan sosok yang mengesankan, namun kurang ambisius,” tulis Zuckerberg dalam email tersebut.

    (fab/fab)