Tag: Mark

  • Tersangka Kasus Pemerasan, Immanuel Ebenezer Berharap Presiden Prabowo Berikan Amnesti

    Tersangka Kasus Pemerasan, Immanuel Ebenezer Berharap Presiden Prabowo Berikan Amnesti

    Bisnis.com, JAKARTA — Tersangka kasus dugaan pidana pemerasan yang menjerat Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer berharap agar Presiden Prabowo Subianto memberikan amnesti kepada dirinya.

    Adapun, Noel, sapaan Immanuel Ebenezer resmi menjadi tersangka kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh KPK. Lembaga antirasuah itu menyebut bahwa Noel telah melakukan mark up tarif sertifikasi K3 dari yang seharusnya Rp275.000 menjadi Rp6 juta.

    Selain itu, Presiden Prabowo juga telah menindaklanjuti kasus yang menimpa Noel, dengan memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya sebagai Wamenaker.

    “Semoga saya mendapatkan amnesti dari Presiden Prabowo,” ujar Noel di Gedung KPK Jakarta, Jumat (22/8/2025).

    Adapun, amnesti adalah pengampunan dari negara yang menghapuskan akibat hukum pidana terhadap individu atau kelompok.

    Terkait dengan penetapannya sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Noel pun meminta maaf kepada Presiden Prabowo Subianto, keluarganya, dan masyarakat Indonesia atas tindakan pemerasan yang dilakukan dirinya hingga menjadi tersangka KPK.

    “Saya ingin sekali, pertama saya meminta maaf kepada Presiden Pak Prabowo. Lalu kedua saya minta maaf kepada anak dan istri saya,” katanya.

    Dalam kasus ini, Noel ditetapkan sebagai tersangka bersama 10 orang lainnya yaitu Koordinator Bidang Kelembagaan dan Personil K3 Irvian Bobby Mahendro, Koordinator Bidang Pengujian dan Evaluasi Kompetensi Keselamatan Kerja Gerry Aditya Herwanto Putra, Sub Koordinator Keselamatan Kerja Ditjen Bina K3 Subhan, dan Sub Koordinator Kemitraan dan Personel Kesehatan Kerja Anita Kusumawati.

    Selain  itu, juga ada Ditjen Binwasnaker dan K3 Fahrurozi, Direktur Bina Kelembagaan Hery Sutanto, Subkoordinator Sekarsari Kartika Putri, Koordinator Supriadi, dan dua pihak PT KEM Indonesia Temurila serta Miki Mahfud.

    Untuk diketahui, kasus ini diduga dilakukan dengan modus ancaman kepada pihak yang tengah mengurus pembuatan sertifikasi K3. Mereka diminta untuk membayar Rp6 juta, dari yang seharusnya hanya Rp275.000. Total pemerasannya adalah Rp81 miliar, dan Noel diduga menerima Rp3 miliar.

    Para tersangka diduga telah melanggar  Pasal 12 huruf e dan atau Pasal 12B UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 jo Pasal 64 ayat (1) KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

  • Istana Minta Kasus Immanuel Ebenezer Jadi Pembelajaran Anggota Kabinet Merah Putih

    Istana Minta Kasus Immanuel Ebenezer Jadi Pembelajaran Anggota Kabinet Merah Putih

    Bisnis.com, JAKARTA — Istana Kepresidenan mengingatkan kepada anggota Kabinet Merah Putih dan jajaran pemerintahan untuk menjadikan kasus dugaan pidana pemerasan yang menjerat Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer dijadikan pembelajaran agar upaya pemberantasan korupsi terus dijalankan.

    “Kami berharap ini menjadi pembelajaran bagi kita semuanya, terutama bagi seluruh anggota Kabinet Merah Putih dan seluruh pejabat pemerintahan,” ujar Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangannya, Jumat (22/8/2025).

    Menurut Prasetyo, Presiden Prabowo Subianto selalu mengingatkan kepada jajaran anggota Kabinet Merah Putih dan jajaran pemerintahannya untuk senantiasa bekerja keras melakukan segala upaya dalam hal pemberantasan tindak pidana korupsi.

    “Pak Presiden ingin kita semua bekerja keras, berupaya memberantas tindak-tindak pidana korupsi,” jelasnya.

    Selain itu, Presiden Prabowo juga langsung menindaklanjuti kasus yang menimpa Noel, sapaan Immanuel Ebenezer, dengan memberhentikan yang bersangkutan dari jabatannya sebagai Wamenaker.

    Prabowo menerbitkan Keputusan Presiden pemberhentian Noel hanya beberapa saat setelah yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    “Bapak Presiden telah menandatangani Keputusan Presiden tentang pemberhentian saudara Immanuel Ebenezer dari jabatannya sebagai Wakil Menteri Tenaga Kerja. Selanjutnya, kami menyerahkan seluruh [hukum] untuk dijalankan sebagaimana mestinya,” kata Prasetyo.

    Untuk diketahui, Immanuel Ebenezer resmi menjadi tersangka kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh KPK. Lembaga antirasuah menyebut bahwa Noel telah melakukan mark up tarif sertifikasi K3 dari yang seharusnya Rp275.000 menjadi Rp6 juta.

    Ketua KPK Setyo Budiyanto mengatakan bahwa jika uang Rp6 juta tidak diberikan, maka tersangka Noel akan mempersulit, memperlambat, dan bahkan tidak memproses sertifikasi K3 yang diajukan oleh pihak perorangan tersebut.

    Sementara itu, Noel dalam pernyataannya di KPK menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto, keluarga, dan rakyat Indonesia. Dia juga mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

    Selain itu, Noel membantah bahwa kasus yang menjeratnya bukan terkait pemerasan. “Intinya kasus saya ini bukanlah kasus pemerasan, agar narasi di luar tidak jadi narasi yang kotor dan memberatkan saya,” ujar Noel.

  • Elon Musk Minta Bantuan Zuckerberg untuk Beli Induk ChatGPT

    Elon Musk Minta Bantuan Zuckerberg untuk Beli Induk ChatGPT

    Jakarta

    Elon Musk ternyata meminta bantuan pesaingnya Mark Zuckerberg saat menyusun konsorsium untuk membeli OpenAI senilai USD 97,4 miliar. Namun CEO dan pendiri Meta itu menolak ajakan Musk.

    Hal ini terungkap dokumen pengadilan yang didaftarkan OpenAI terkait kasus hukumnya dengan Elon Musk yang dimulai tahun lalu. Pemilik ChatGPT itu mengklaim Musk pernah berkomunikasi dengan Zuckerberg tentang potensi pembiayaan atau investasi sehubungan dengan tawarannya untuk membeli OpenAI.

    OpenAI mengatakan Musk telah mengungkap komunikasinya dengan Zuckerberg dalam interogasi di bawah sumpah. OpenAI meminta hakim untuk memerintahkan Meta agar menyerahkan dokumen dan komunikasi terkait tawaran untuk OpenAI.

    “Komunikasi Meta dengan penawar lain, atau komunikasi internal, termasuk yang mencerminkan diskusi dengan Musk dan penawar lainnya, juga akan menjelaskan motivasi di balik tawaran tersebut,” kata OpenAI, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/8/2025).

    Dalam dokumen pengadilan yang sama, Meta mengatakan OpenAI seharusnya meminta dokumen yang relevan langsung dari Musk dan startup AI-nya, dan meminta hakim untuk menolak permintaan OpenAI.

    Kasus hukum antara Elon Musk dan OpenAI dimulai ketika CEO dan co-founder OpenAI Sam Altman berencana mengubah model bisnisnya menjadi for-profit.

    Musk, yang ikut mendirikan OpenAI bersama Altman pada tahun 2015, tidak setuju dengan rencana tersebut. Pria kelahiran Afrika Selatan itu kemudian menggugat OpenAI dengan tuduhan pelanggaran kontrak dan mencoba menghentikan OpenAI berubah menjadi perusahaan for-profit.

    Belum lama ini, Hakim Yvonne Gonzales Rogers memutuskan bahwa Musk harus menghadapi gugatan balik OpenAI. Dalam gugatan balasannya, OpenAI menuduh ‘tawaran palsu’ dari Musk dan xAI telah merugikan bisnisnya, dan Musk telah melakukan pelecehan melalui tindakan hukum dan serangan di media sosial dan pers.

    (vmp/vmp)

  • Dulu Perang, Elon Musk Sekarang Ajak Zuckerberg Satukan Kekuatan

    Dulu Perang, Elon Musk Sekarang Ajak Zuckerberg Satukan Kekuatan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk ternyata sempat mengajak CEO Meta Mark Zuckerberg untuk bergabung dalam rencana akuisisi OpenAI, pengembang ChatGPT. Musk disebut mencari dukungan dana senilai US$97,4 miliar (sekitar Rp1.500 triliun) pada awal 2025.

    Informasi ini terungkap dalam dokumen pengadilan yang dirilis Kamis (21/8). Dokumen tersebut merupakan bagian dari perkara hukum antara Musk dan OpenAI yang diajukan tahun lalu.

    Kasus ini tengah bergulir di pengadilan federal California Utara, dan hakim baru-baru ini memutuskan bahwa OpenAI dapat melanjutkan gugatan balik terhadap Musk, demikian dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (22/8/2025).

    Musk diketahui ikut mendirikan OpenAI sebagai organisasi nirlaba bersama Sam Altman pada 2015. Namun, hubungan keduanya memburuk setelah OpenAI berkembang menjadi perusahaan AI komersial dengan dukungan miliaran dolar dari Microsoft. Musk disebut kecewa karena Altman mengarahkan OpenAI menjadi entitas profit.

    Pada Februari 2025, Musk melayangkan proposal akuisisi OpenAI melalui xAI, perusahaan AI yang ia dirikan pada 2023 sebagai pesaing langsung. Dalam upaya itu, Musk menghubungi Zuckerberg dengan menyertakan letter of intent (LOI) untuk menanyakan kemungkinan pendanaan atau investasi.

    Namun, dokumen pengadilan menyebutkan bahwa Zuckerberg maupun Meta tidak pernah menandatangani LOI tersebut.

    Seiring berjalannya kasus, OpenAI menuduh Musk dan xAI melakukan “penawaran palsu” yang merugikan bisnis perusahaan, serta menuding Musk melakukan “pelecehan” melalui gugatan hukum, media sosial, dan pemberitaan media.

    Sementara itu, Meta yang diminta menyerahkan dokumen komunikasi dengan Musk menyatakan keberatan. Meta menilai permintaan OpenAI terlalu membebani, dan seharusnya komunikasi terkait dapat diperoleh langsung dari Musk maupun xAI.

    Juru bicara Meta menolak berkomentar. Sementara itu, pengacara Musk, Marc Toberoff, tidak menanggapi permintaan komentar.

    Adapun Meta sendiri diketahui sedang gencar mengembangkan teknologi AI. Perusahaan induk Facebook itu disebut menawarkan paket kompensasi lebih dari US$100 juta untuk peneliti AI papan atas serta berupaya merekrut karyawan OpenAI.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Wamenaker Noel Minta Maaf ke Prabowo Usai Jadi Tersangka Pemerasan

    Wamenaker Noel Minta Maaf ke Prabowo Usai Jadi Tersangka Pemerasan

    Bisnis.com, Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer minta maaf kepada Presiden Prabowo Subianto usai ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

    Selain minta maaf ke Presiden Prabowo, pria yang akrab disapa Noel itu juga menyampaikan permintaan maaf ke keluarganya dan rakyat Indonesia.

    “Saya ingin sekali pertama saya meminta maaf kepada Presiden Pak Prabowo. Lalu kedua saya minta maaf kepada anak dan istri saya,” kata Noel sebelum digiring ke mobil tahanan KPK Jakarta, Jumat (22/8).

    Noel pun mengklarifikasi bahwa dirinya tidak pernah ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Sayangnya, Noel tidak menjelaskan lebih lanjut ihwal hal tersebut.

    “Saya juga ingin mengklarifikasi bahwa saya tidak pernah di OTT,” katanya

    Tersangka Noel juga membantah bahwa kasus yang menjerat dirinya adalah kasus pemerasan seperti yang disampaikan Ketua KPK Setyo Budiyanto. Menurut Noel, narasi pemerasan yang disampaikan Ketua KPK Setyo Budiyanto kepada media massa merupakan narasi kotor yang memberatkan dirinya.

    “Intinya kasus saya itu bukanlah kasus pemerasan, agar narasi di luar tidak jadi narasi yang kotor dan memberatkan saya,” ujarnya.

    Untuk diketahui, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel ‘Noel’ Ebenezer sebagai tersangka dalam kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

    KPK menyebut Wamenaker Noel telah melakukan mark up tarif sertifikasi K3 dari yang seharusnya Rp275.000 menjadi Rp6.000.000.

    Ketua KPK, Setyo Budiyanto mengatakan jika uang sebesar Rp6.000.000 itu tidak diberikan, tersangka Noel mengancam akan mempersulit, memperlambat, bahkan tidak memproses sertifikasi K3 yang diajukan oleh pihak perorangan.

    Padahal, menurut Setyo, biaya pengurusan sertifikasi K3 yang resmi hanya sebesar Rp275.000 sesuai aturan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun dilakukan mark up oleh tersangka Noel sehingga biayanya menjadi Rp6.000.000.

    “Kegiatan tangkap tangan KPK ini telah mengungkap bahwa dari tarif sertifikasi K3 sebesar Rp275.000, tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa para pekerja atau buruh harus mengeluarkan biaya hingga Rp6.000.000,” kata di Gedung KPK Jakarta, Jumat (22/8).

    Setyo mengungkapkan aksi pemerasan itu sudah berjalan sejak 2019 di mana tersangka Noel belum menjadi wakil menteri, alih-alih mencegah tindak pidana pemerasan, Noel malah ikut menikmatinya usai ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menjadi wakil menteri ketenagakerjaan.

    Selain Noel, ada 13 tersangka lainnya yang turut menikmati hasil pemerasan tersebut. Para tersangka itu berinisial IBM atau Irvian Bobby Mahendro selaku Koordinator bidang Kelembagaan dan Personil K3 2022-2025, GAH atau Gerry Aditya Herwanto Putra selaku Koordinator Bidang Pengujian dan Evaluasi Kompetensi Keselamatan Kerja tahun 2022-2025.

    Kemudian tersangka ketiga berinisial SB atau Subhan selaku Sub Koordinator Keselamatan Kerja Direktorat Bina K3 tahun 2020-2025, AK atau Anitasari Kusumawati selaku Sub Koordinator Kemitraan dan Personel Kesehatan Kerja tahun 2020-2025.

    Lalu tersangka kelima FRZ atau Fahrurrozi selaku Direktur Jenderal Binwasnaker dan K3 Maret 2025. Selanjutnya keenam yaitu HS atau Hery Sutanto selaku Direktur Bina Kelembagaan tahun 2021-Februari 2025.

    Tersangka ketujuh SKP atau Sekarsari Kartika Putri Sub Koordinator, tersangka kedelapan yaitu SUP atau Supriadi selaku koordinator, kesembilan berinisial TEM atau Temurila selaku pihak KEM Indonesia, lalu kesepuluh MM atau Miki Mahfud dari pihak KEM Indonesia dan terakhir Immanuel Ebenezer selaku Wakil Menteri Ketenagakerjaan.

    “Lalu tiga tersangka terakhir tidak terkait dan tidak dilakukan pemeriksaan, jadi total yang diamankan ada 14 orang,” ujarnya.

  • Wamenaker Noel Tersangka Pemerasan K3, KPK Ungkap Modusnya

    Wamenaker Noel Tersangka Pemerasan K3, KPK Ungkap Modusnya

    Bisnis.com, Jakarta — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel ‘Noel’ Ebenezer sebagai tersangka dalam kasus pemerasan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

    KPK menyebut Wamenaker Noel telah melakukan mark up tarif sertifikasi K3 dari yang seharusnya Rp275.000 menjadi Rp6.000.000.

    Ketua KPK, Setyo Budiyanto mengatakan jika uang sebesar Rp6.000.000 itu tidak diberikan, tersangka Noel mengancam akan mempersulit, memperlambat, bahkan tidak memproses sertifikasi K3 yang diajukan oleh pihak perorangan.

    Padahal, menurut Setyo, biaya pengurusan sertifikasi K3 yang resmi hanya sebesar Rp275.000 sesuai aturan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun dilakukan mark up oleh tersangka Noel sehingga biayanya menjadi Rp6.000.000.

    “Kegiatan tangkap tangan KPK ini telah mengungkap bahwa dari tarif sertifikasi K3 sebesar Rp275.000, tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa para pekerja atau buruh harus mengeluarkan biaya hingga Rp6.000.000,” kata di Gedung KPK Jakarta, Jumat (22/8).

    Setyo mengungkapkan aksi pemerasan itu sudah berjalan sejak 2019 di mana tersangka Noel belum menjadi Menteri, alih-alih mencegah tindak pidana pemerasan, Noel malah ikut menikmatinya usai ditunjuk Presiden Prabowo Subianto menjadi wakil menteri ketenagakerjaan.

    “Praktik dugaan pemerasan ini sudah terjadi sejak tahun 2019 sampai saat ini,” katanya.

    Selain Noel, ada 13 tersangka lainnya yang turut menikmati hasil pemerasan tersebut. Para tersangka itu berinisial IBM atau Irvian Bobby Mahendro selaku Koordinator bidang Kelembagaan dan Personil K3 2022-2025, GAH atau Gerry Aditya Herwanto Putra selaku Koordinator Bidang Pengujian dan Evaluasi Kompetensi Keselamatan Kerja tahun 2022-2025.

    Kemudian tersangka ketiga berinisial SB atau Subhan selaku Sub Koordinator Keselamatan Kerja Direktorat Bina K3 tahun 2020-2025, AK atau Anitasari Kusumawati selaku Sub Koordinator Kemitraan dan Personel Kesehatan Kerja tahun 2020-2025.

    Lalu tersangka kelima FRZ atau Fahrurrozi selaku Direktur Jenderal Binwasnaker dan K3 Maret 2025. Selanjutnya keenam yaitu HS atau Hery Sutanto selaku Direktur Bina Kelembagaan tahun 2021-Februari 2025. 

    Tersangka ketujuh SKP atau Sekarsari Kartika Putri Sub Koordinator, tersangka kedelapan yaitu SUP atau Supriadi selaku koordinator, kesembilan berinisial TEM atau Temurila selaku pihak KEM Indonesia, lalu kesepuluh MM atau Miki Mahfud dari pihak KEM Indonesia dan terakhir Immanuel Ebenezer selaku Wakil Menteri Ketenagakerjaan.

    “Lalu tiga tersangka terakhir tidak terkait dan tidak dilakukan pemeriksaan, jadi total yang diamankan ada 14 orang,” ujarnya.

  • Zuckerberg Berhenti Rekrut Pakar AI Bergaji Fantastis, Kapok?

    Zuckerberg Berhenti Rekrut Pakar AI Bergaji Fantastis, Kapok?

    Jakarta

    Meta menyetop sementara rekrutmen peneliti AI untuk divisi kecerdasan buatannya. Penghentian sementara ini mengakhiri belanja peneliti AI dengan bayaran fantastis yang dimulai CEO Mark Zuckerberg dalam beberapa bulan terakhir.

    Hal ini pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal yang mengatakan penghentian rekrutmen sementara ini mulai berlaku pekan lalu di tengah proses restrukturisasi perusahaan yang lebih luas.

    Dalam pernyataan resminya kepada CNBC, juru bicara Meta mengatakan jeda tersebut hanyalah perencanaan organisasi dasar.

    “(Kami) menciptakan struktur yang solid untuk divisi superintelijen baru kami setelah menggandeng banyak orang serta melakukan penganggaran dan perencanaan tahunan,” kata juru bicara Meta, seperti dikutip dari CNBC, Kamis (21/8/2025).

    Menurut laporan Wall Street Journal, Meta telah membagi divisi AI-nya menjadi empat tim yang terdiri dari tim ‘TBD Lab’ atau ‘To Be Determined’ yang fokus membangun mesin superintelijen, tim produk AI, tim infrastruktur, dan tim yang fokus untuk proyek jangka panjang.

    Keempat tim tersebut merupakan bagian dari ‘Meta Superintelligence Lab’, nama yang mencerminkan ambisi Zuckerberg untuk menciptakan AI yang melampaui kecerdasan manusia.

    Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Meta dan Zuckerberg telah menggelontorkan miliaran dolar untuk merekrut peneliti AI teratas dari perusahaan kompetitor, termasuk menawarkan bonus hingga USD 100 juta.

    Namun, penghentian sementara rekrutmen Meta yang mendadak menjadi sorotan di tengah kekhawatiran bahwa investasi di AI bergerak terlalu cepat. Belum lama ini, CEO OpenAI Sam Altman juga mengatakan ia yakin AI berada dalam gelembung.

    Tapi banyak analis yang tidak setuju dengan ucapan Altman. Menurut sejumlah analis, Meta mungkin mengurangi pengeluaran untuk rekrutmen AI karena raksasa teknologi itu sedang dalam ‘mode pencernaan’ setelah belanja besar-besaran.

    “Setelah melakukan penawaran seukuran akuisisi dan merekrut karyawan dengan tawaran gaji di kisaran sembilan digit, saya melihat penghentian rekrutmen sebagai titik istirahat yang wajar bagi Meta,” kata Daniel Newman, CEO Futurum Group.

    Sebelum menggelontorkan lebih banyak investasi ke dalam tim AI-nya, perusahaan teknologi seperti Meta membutuhkan waktu untuk menempatkan dan mengakses talenta barunya untuk menentukan apakah mereka siap untuk membuat terobosan yang dicari perusahaan, tambahnya.

    (vmp/vmp)

  • China Luncurkan Perangkat Pengganti HP Pertama, Amerika Minggir

    China Luncurkan Perangkat Pengganti HP Pertama, Amerika Minggir

    Jakarta, CNBC Indonesia – Raksasa teknologi berlomba-lomba menghadirkan headset yang menggabungkan teknologi VR dan AR atau disebut ‘mixed reality’ (XR). Digadang-gadang, perangkat ini akan menggantikan peran HP di masa depan.

    Hal ini sudah pernah diungkap oleh CEO Meta Mark Zuckerberg. Diketahui, Meta memiliki kacamata pintar (smartglasses) yang menggandeng Ray-Ban dan ditenagai kecerdasan buatan (AI).

    Zuckerberg memprediksi dalam dekade mendatang, semua orang akan memiliki smartglasses, seperti fenomena HP saat ini yang digunakan sehari-hari.

    Apple juga mengembangkan Vision Pro yang merupakan perangkant mixed-reality. Meski penjualannya masih minim dibandingkan iPhone, tetapi Apple dilaporkan akan terus mengembangkan Vision Pro dengan versi lebih canggih dan compact.

    Tak cuma raksasa Amerika Serikat (AS), China juga mulai menggarap perangkat mixed reality. Terbaru, Vivo menghadirkan perangkat yang dinamai ‘Vision Discovery Edition’ dalam perayaan ulang tahunnya ke-30.

    Vivo Vision Discovery Edition menandai perangkat mixed reality pertama asal China yang diperkenalkan secara luas. Raksasa China tersebut mengatakan sudah 4 tahun mengembangkan perangkat mixed reality-nya.

    Dikutip dari Android Central, penampakan Vivo Vision Discovery Edition sangat mirip dengan Apple Vision Pro. Ada kacamata yang dilindungi dengan bingkai aluminium dan ikat kepala kain tebal.

    Perbedaannya adalah headset XR Vivo cukup ringan dibandingkan Vision Pro, hanya 398g, sementara Apple sekitar 600g. Vivo juga mengklaim menawarkan empat ukuran segel cahaya dan delapan pilihan bantalan busa untuk memastikan kesesuaian yang optimal.

    Samsung juga disebut akan mengembangkan headset mixed-reality yang berjalan pada sistem operasi Android XR. Hal ini berbeda dengan Vivo yang menggunakan sistem operasi sendiri bernama OriginOS Vision untuk Discovery Edition.

    Vivo mengklaim elemen antarmuka perangkat menyatu sempurna dengan lingkungan sekitar. Headser tersebut juga mendukung pelacakan mata dan pengenalan gestur ujung jari.

    Dari sisi hardware, Vivo Vision Discovery Edition hadir dengan layar ganda Micro-OLED 8K dan ditenagai oleh chipset Qualcomm Snapdragon XR2+ Gen 2. Vivo mengklaim chipset ini cukup bertenaga untuk rendering berkecepatan tinggi dalam komputasi spasial.

    Headset ini dapat menghasilkan layar teater virtual hingga 120 kaki (35 meter), yang memungkinkan pengguna menonton siaran olahraga dan e-sports dari berbagai sudut. Berkat fitur layar terpisahnya, headset ini juga dapat menampilkan berbagai pertandingan secara bersamaan.

    Vivo belum mengumumkan harga atau ketersediaannya, tetapi perusahaan akan mulai memamerkan headset ini kepada pengguna di China mulai minggu depan. Kita tunggu saja!

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Pendiri AI Google Sebut Gelar Dokter dan Pengacara Akan Sia-sia

    Pendiri AI Google Sebut Gelar Dokter dan Pengacara Akan Sia-sia

    Jakarta

    Salah satu pelopor kecerdasan buatan di Google memperingatkan calon dokter dan pengacara bahwa AI dapat mencuri masa depan mereka. Mengapa demikian?

    Dalam wawancara dengan Business Insider, Jad Tarifi, pendiri tim AI generatif pertama Google yang keluar di 2021 untuk membuat startup Integral AI, menyatakan kemampuan AI yang terus meningkat mungkin segera membuat gelar sarjana hukum atau kedokteran menjadi sia-sia.

    Dikutip detikINET dari Futurism, Tarifi juga memberi saran bahwa tidak seorang pun harus menempuh gelar PhD kecuali mereka terobsesi dengan bidang ilmunya.

    Tarifi sendiri lulus PhD bidang AI tahun 2012, ketika subjek itu masih kurang umum. Namun saat ini, kata pria berusia 42 tahun itu, lebih baik menghabiskan waktu mempelajari topik khusus terkait AI, seperti AI untuk biologi. Bahkan mungkin orang sudah tidak perlu gelar sama sekali.

    “Pendidikan tinggi seperti yang kita kenal sekarang berada di ambang kepunahan. Keberhasilan di masa depan takkan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif unik, kesadaran emosional, dan ikatan antarmanusia yang kuat,” cetusnya.

    “Saya mendorong kaum muda untuk berfokus pada dua hal yaitu seni terhubung secara mendalam dengan orang lain, dan upaya batin untuk terhubung dengan diri sendiri,” papar Tarifi.

    Menurutnya, belajar jadi dokter medis atau pengacara mungkin tak lagi sepadan. Meraih gelar di bidang tersebut perlu waktu sangat lama dibandingkan seberapa cepat AI berevolusi sehingga dapat mengakibatkan siswa hanya membuang tahun-tahun dalam hidup mereka.

    “Dalam sistem medis saat ini, apa yang Anda pelajari di sekolah kedokteran sangat ketinggalan zaman dan didasarkan pada hafalan,” katanya.

    Tarifi tidak sendirian menilai pendidikan tinggi tidak mengikuti gelombang AI yang terus berubah. Meningkatnya biaya sekolah dipadukan dengan kurikulum yang ketinggalan zaman menciptakan badai sempurna bagi tenaga kerja yang tidak siap.

    “Saya tidak yakin bahwa perguruan tinggi mempersiapkan orang untuk pekerjaan yang mereka butuhkan saat ini. Saya pikir ada masalah besar tentang itu dan juga semua masalah utang mahasiswa,” kata Mark Zuckerberg belum lama ini.

    Adapun CEO OpenAI Sam Altman mengjlaim model AI terbaru perusahaannya sudah dapat bekerja dengan cara yang setara dengan mereka yang memiliki gelar PhD.

    “GPT-5 benar-benar terasa seperti berbicara dengan pakar tingkat PhD dalam topik apa pun. Sesuatu seperti GPT-5 hampir tak terbayangkan di masa lain dalam sejarah,” cetus Altman.

    (fyk/fay)

  • Bocah Ajaib Direkrut Zuckerberg Malah Acak-acak Meta, Ini Dampaknya

    Bocah Ajaib Direkrut Zuckerberg Malah Acak-acak Meta, Ini Dampaknya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Meta kabarnya tengah mengalami gejolak internal setelah Mark Zuckerberg merombak besar-besaran divisi kecerdasan buatan (AI).

    Sosok Alexandr Wang, pendiri Scale AI yang disebut sebagai “anak ajaib” Silicon Valley dan kini menjabat Chief AI Officer Meta, dituding menjadi pemicu kekacauan baru di perusahaan induk Facebook tersebut.

    Tim Wang difokuskan pada pengembangan model AI terkuat perusahaan yang disebut frontier model.

    “Sejak Zuckerberg membentuk tim superintelligence di bawah Wang, ketegangan mulai muncul,” tulis laporan New York Times, dikutip Jumat (22/8/2025).

    Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Meta kini membagi Meta Superintelligence Labs menjadi empat kelompok, yakni riset, pengembangan superintelligence, produk, serta infrastruktur AI seperti pusat data dan perangkat keras.

    Restrukturisasi ini kemungkinan akan menjadi yang terakhir untuk sementara waktu. Langkah ini bertujuan agar Meta lebih terorganisasi, sehingga bisa mencapai target superintelligence serta mengembangkan produk AI dengan lebih cepat untuk bersaing dengan perusahaan lain.

    Tim baru ini telah membahas kemungkinan membuat model AI terbaru Meta bersifat closed, sebuah langkah besar yang menyimpang dari filosofi lama Meta yang mengedepankan open source.

    Namun, keputusan tim Wang untuk menghentikan proyek frontier model lama bernama Behemoth dan membangun model baru dari nol justru memicu ketegangan dengan tim peneliti lama.

    Seiring dengan tindakan Zuckerberg menggelontorkan miliaran dolar untuk merekrut talenta AI, beberapa anggota lama merasa terganggu dengan masuknya para pendatang baru.

    Beberapa eksekutif dan ilmuwan AI senior dilaporkan hengkang, termasuk Joelle Pineau yang kini bergabung dengan Cohere, serta Angela Fan yang pindah ke OpenAI. Loredana Crisan, VP generative AI Meta, juga meninggalkan perusahaan untuk bergabung dengan Figma.

    Di sisi lain, Zuckerberg tetap agresif menggelontorkan dana besar demi memenangkan perlombaan AI. Tahun ini belanja modal Meta diproyeksikan bisa mencapai US$72 miliar, sebagian besar untuk pembangunan pusat data dan perekrutan talenta.

    Juru bicara Meta menolak berkomentar.

    Nasib Meta menjadi sorotan, seiring persaingan AI yang pada akhirnya akan melahirkan pemenang baru di antara pemain yang ada, seperti Google dan OpenAI.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]