Tag: Mark

  • Google Cloud: Membuat AI mudah bagi semua orang jadi tujuan penting

    Google Cloud: Membuat AI mudah bagi semua orang jadi tujuan penting

    Salah satu hal penting yang selalu ingin kami capai adalah membuatnya mudah bagi semua orang

    Singapura (ANTARA) – CEO Google Cloud Thomas Kurian menekankan salah satu hal yang ingin dicapai perusahaannya adalah membuat penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) mudah bagi semua orang.

    “Salah satu hal penting yang selalu ingin kami capai adalah membuatnya mudah bagi semua orang. Infrastruktur kami bersifat homogen, sehingga di manapun Anda melakukan penempatan, infrastrukturnya bersifat homogen,” ujar Thomas dalam konferensi AI Asia: Building Beyond Borders di Singapura, Kamis.

    Thomas mengatakan Google Cloud dibangun di atas fondasi teknologi global. Hal itu didukung dengan infrastruktur yang tersebar di setiap dunia, terhubung satu sama lain dan pada jaringan yang menangani sekitar sepertiga lali lintas internet dunia setiap harinya.

    “Di atas fondasi itu, kami menambahkan kebijakan data inti yang memungkinkan orang melakukan banyak hal: memodernisasi infrastruktur TI, mengembangkan aplikasi, memahami data dari sisi keamanan, hingga membangun agen dan aplikasi baru,” kata dia.

    Selain konsistensi teknis, Thomas mengatakan Google Cloud juga melengkapi infrastrukturnya dengan seperangkat fitur keamanan dan kepatuhan yang memungkinkan pengguna menjaga data tetap di bawah kendali penuh.

    Melalui Security Command Center, organisasi dapat memantau konfigurasi dan memastikan sistem berjalan sesuai regulasi dan standar keamanan global.

    Di atas fondasi tersebut, menurut Thomas, terdapat tiga lapisan teknologi utama dari Google Cloud yakni model dasar kelas dunia (large language models, diffusion models, scientific models), platform pengembangan aplikasi dan agen AI, serta agen praktis untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sains data hingga layanan pelanggan dan keamanan siber.

    Pada Jumat ini di Singapura, Google Cloud juga mengumumkan ketersediaan Gemini, model bahasa besar terbarunya, di Google Cloud Singapura.

    “Kami menghadirkan model serta alat AI paling canggih dari Google di sini (Singapura). Dengan menghadirkan Gemini di mana saja , di cloud publik dengan jaminan residensi data, di lingkungan on-premises atau terputus, dan di edge, kami membuka gelombang inovasi bagi organisasi publik maupun bisnis lintas industri. Dengan AI, kami menyediakan katalis yang kuat untuk transformasi sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru,” kata Thomas.

    Menurut paparan Managing DIrector Southeast Asia Google Cloud Mark Micallef di hari sebelumnya, tren saat ini adalah pemerintah, perusahaan dan perusahaan rintisan telah beralih ke Google Cloud AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan meningkatkan perekonomian mereka dalam rantai nilai.

    Menurut Google Cloud, kawasan Asia Tenggara sedang berada di pergeseran fundamental, di mana AI menjadi teknologi paling signifikan yang diutilisasi untuk mendorong fase pertumbuhan di kawasan dengan proyeksi nilai perekonomian di kawasan dapat mencapai 270 miliar dolar AS.

    Pewarta: Indra Arief Pribadi
    Editor: Agus Salim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Tebar Ranjau di Perbatasan, Kamboja Pancing Protes Thailand

    Tebar Ranjau di Perbatasan, Kamboja Pancing Protes Thailand

    Jakarta

    Thailand dan Kamboja mungkin tidak lagi saling serang setelah bentrokan mematikan di perbatasan bulan lalu, tetapi ketegangan antara kedua jiran Asia Tenggara itu enggan mereda.

    Pertempuran lintas batas selama lima hari pada Juli, yang melibatkan pasukan darat, artileri, dan jet tempur, menewaskan sedikitnya 43 orang dan memaksa lebih dari 300.000 warga sipil mengungsi.

    Kedua pihak menyetujui kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Malaysia, Cina, dan Amerika Serikat. Perjanjian damai itu mulai berlaku pada 29 Juli.

    Sejak itu, Thailand dan Kamboja saling tuduh melakukan pelanggaran gencatan senjata. Namun kedua negara menyatakan tetap berkomitmen untuk mempertahankan perjanjian damai.

    “Tidak bisa diterima”

    Kedua negara memiliki sengketa perbatasan yang telah berlangsung lebih dari satu abad. Pertempuran pada Juli dipicu oleh klaim Thailand bahwa Kamboja menanam ranjau darat yang melukai tentaranya.

    Bahkan setelah gencatan senjata, ranjau darat tetap menjadi titik pertikaian besar. Otoritas Thailand menuduh Kamboja terus menanam bahan peledak di kawasan perbatasan.

    “Dalam waktu kurang dari sebulan, sudah ada lima insiden ledakan ranjau yang menyebabkan korban parah pada tentara kami. Lima orang di antaranya kehilangan kaki. Ini tidak bisa diterima,” kata Menteri Luar Negeri Thailand, Maris Sangiampongsa, dalam konferensi pers di Ubon Ratchatani, dekat perbatasan Kamboja, pada 16 Agustus.

    Otoritas Thailand menyatakan bulan ini telah menemukan lebih dari selusin ranjau jenis PMN-2 yang baru dipasang di wilayah mereka yang berbatasan dengan Kamboja.

    “Bagi rakyat Thailand, ranjau darat itu benar-benar kejam. Kadang ranjau tidak membunuh, tapi memutus kaki sehingga membuat seseorang menderita seumur hidup,” kata Kapten Pakapron Sawangpiean dari militer Thailand kepada DW.

    Tentara dari kedua pihak terancam

    Sersan Tanee Paha, seorang prajurit Thailand, kehilangan kakinya setelah menginjak ranjau.

    Dia adalah komandan unit senapan mesin yang bertugas di garis depan konflik.

    “Pada hari ketika saya menginjak ranjau, kami sedang berpatroli mencari lokasi untuk memasang kawat berduri sebagai jalur patroli baru. Saya menginjak ranjau itu dan meledak. Dua orang anggota saya juga terluka,” ujarnya.

    Kini, pria berpangkat sersan itu sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Ubon Ratchatani.

    “Menanam ranjau di jalur patroli tidak bisa diterima karena tentara dari kedua pihak sama-sama berpatroli di rute itu,” tambahnya.

    Mark S. Cogan, profesor studi perdamaian dan konflik di Universitas Kansai Gaidai, Jepang, mengatakan kedua negara perlu bersikap transparan.

    “Masalahnya adalah komunikasi, sesuai dengan kesepakatan yang ditulis, di mana masing-masing negara harus melapor ke Komite Perbatasan Regional Thailand-Kamboja. Bahayanya, pertemuan terakhir justru menjadi ajang saling menyalahkan,” tegasnya.

    Kekhawatiran warga di perbatasan

    Pertempuran Juli lalu memaksa ratusan ribu warga di kawasan perbatasan mengungsi.

    Banyak warga desa Thailand masih diliputi kekhawatiran.

    Boon Thongleung dan keluarganya masih bertahan di pusat evakuasi darurat karena ancaman ranjau darat.

    “Karena ranjau, kami tidak bisa mencari makan,” katanya.

    “Bahkan kalau konflik ini berakhir, butuh satu hingga dua bulan untuk membersihkan ranjau. Itu artinya kami tidak bisa mencari hasil hutan untuk dijual. Bahkan jika ranjau sudah dibersihkan, kami tidak bisa yakin benar-benar aman untuk kembali,” ujar Thongleung kepada DW.

    Menteri Luar Negeri Maris pekan ini berada di Jenewa untuk melobi komunitas internasional agar menekan Kamboja dalam isu ranjau darat.

    Baik Thailand maupun Kamboja sama-sama menjadi pihak dalam Konvensi Ottawa, yang mulai berlaku pada 1999 dan melarang produksi serta penggunaan ranjau antipersonel.

    Kamboja tolak tuduhan Thailand

    Kamboja, di sisi lain, membantah tuduhan dari negeri jiran.

    “Kamboja menolak klaim Thailand bahwa ada ranjau baru yang ditanam,” kata Ou Virak, direktur Future Forum, lembaga think-tank berbasis di Phnom Penh yang fokus pada kebijakan publik.

    Dia mengatakan kepada DW bahwa sebagian besar masyarakat Kamboja percaya dan mendukung pemerintah mereka dalam isu ini.

    “Orang Kamboja umumnya tidak meragukan alasan atau klaim pemerintah. Kebanyakan percaya pada posisi pemerintah. Saya rasa ini tidak akan berpengaruh pada negara, kecuali jika terjadi pertempuran baru,” tambahnya.

    Kementerian Pertahanan Kamboja tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar DW mengenai klaim Thailand tersebut.

    Ranjau jadi hambatan besar

    Tita Sanglee, peneliti di ISEAS–Yusof Ishak Institute, mengatakan isu ranjau darat adalah “hambatan besar bagi upaya perdamaian.”

    “Dari perspektif Thailand, fakta bahwa tentara mereka masih terluka akibat ranjau setelah gencatan senjata memberi sinyal ketidak-tulusan di pihak Kamboja,” ujarnya kepada DW.

    “Ranjau itu tampak dalam kondisi siap pakai, yang melemahkan klaim Kamboja bahwa ranjau itu sudah puluhan tahun dan usang. Setiap korban baru dari pihak Thailand menambah frustrasi domestik dan memberi tekanan pada militer untuk merespons,” lanjutnya.

    Sementara itu, Kamboja berargumen bahwa ranjau berada di dalam wilayah mereka, sehingga tentara Thailand tidak akan terluka jika tidak melanggar batas, kata Sanglee.

    “Itu mencerminkan adanya sudut pandang soal kedaulatan dan kompleksitas demarkasi perbatasan yang, secara objektif, memang masih disengketakan,” ujarnya.

    “Tapi bisa dimengerti, dari perspektif Kamboja sebagai negara lebih kecil dan lemah secara militer, ladang ranjau berfungsi sebagai penangkal taktis terhadap pergerakan pasukan Thailand.”

    Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris
    Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
    Editor: Yuniman Farid

    (ita/ita)

  • Dibajak Gaji Tinggi, Karyawan Malah Kompak Resign Baru Sebulan Kerja

    Dibajak Gaji Tinggi, Karyawan Malah Kompak Resign Baru Sebulan Kerja

    Jakarta, CNBC Indonesia – Taruhan besar Meta pada pengembangan “superintelligence” mulai goyah. Sejumlah karyawan kunci justru memilih hengkang meski perusahaan menawarkan gaji selangit demi memperkuat divisi barunya.

    Menurut laporan Business Insider, setidaknya delapan pegawai Meta keluar dalam dua bulan terakhir, termasuk peneliti, insinyur, hingga pimpinan senior produk. Mereka mundur tak lama setelah CEO Mark Zuckerberg mengumumkan pembentukan Meta Superintelligence Labs (MSL), divisi anyar yang dirancang menghadirkan “personal superintelligence” untuk semua orang.

    Para pegawai yang keluar sebagian besar merupakan veteran yang sebelumnya membangun infrastruktur inti AI Meta, diikuti beberapa rekrutan baru yang sempat digoda dengan tawaran kompensasi gaji bernilai ratusan juta dolar, serta merekrut talenta dari OpenAI dan Google DeepMind.

    “Beberapa orang keluar adalah hal yang normal bagi organisasi sebesar ini. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja di perusahaan selama bertahun-tahun, dan kami mendoakan yang terbaik bagi mereka,” kata juru bicara Meta.

    Namun, kedatangan pegawai baru dengan gaji besar justru memicu ketegangan internal. Ancaman eksodus mulai bermunculan di tengah operasi AI Meta yang terus meluas, terutama mereka yang telah bergabung sebelum dorongan besar ke arah superintelligence.

    Salah satu veteran, Bert Maher, memutuskan hengkang setelah 12 tahun di Meta untuk bergabung dengan Anthropic. Ia sebelumnya ikut mengembangkan PyTorch, perangkat lunak open source yang populer untuk melatih AI, dan Triton, bahasa pemrograman untuk mengoptimalkan model AI.

    Tony Liu, yang delapan tahun bekerja di Meta memimpin tim PyTorch GPU, juga mundur. Melalui LinkedIn, Liu menyebut akan meluncurkan newsletter seputar pengembangan dan skala sistem AI.

    Chi-Hao Wu, spesialis AI dan machine learning, keluar setelah lima tahun untuk menjadi Chief AI Officer di startup Memories.ai. Ia menuturkan bahwa beberapa pekerja merasa kondisi kerja di Meta kerap tidak stabil karena seringnya reorganisasi.

    Beberapa eks pegawai Meta justru bergabung ke OpenAI, rival terkuat perusahaan dalam persaingan AI.

    Tak hanya veteran, sejumlah rekrutan anyar juga buru-buru angkat kaki dari perusahaan. Wired melaporkan dua peneliti, Avi Verma dan Ethan Knight, keluar kurang dari sebulan setelah bergabung dan kembali ke OpenAI.

    Sementara itu, Rishabh Agarwal yang baru bergabung dari Google DeepMind pada April lalu, memilih hengkang setelah lima bulan. Lewat posting di X, ia memuji kepadatan talenta dan komputasi di Meta, namun mengaku ingin mengambil risiko berbeda.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Dorong Belanja Pintar, FairPrice Perluas Penggunaan AI Google Cloud

    Dorong Belanja Pintar, FairPrice Perluas Penggunaan AI Google Cloud

    Bisnis.com, SINGAPURA – Peritel terbesar di Singapura FairPrice Group, hari ini Kamis (28/8/2025), mengumumkan perluasan kerja sama pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dengan Google Cloud untuk membantu belanja pelanggan lebih cerdas dan pemberdayaan karyawan.

    Kolaborasi yang merupakan bagian dari program Store of Tomorrow FairPrice Group, meliputi peluncuran serangkaian asisten AI agentis, yang dikembangkan menggunakan Agent Development Kit (ADK) Google Cloud dan standar terbuka seperti Model Context Protocol (MCP).

    Pembeli kini dapat menggunakan asisten tersebut di FairPrice Finest Punggol Digital District. Kemitraan itu juga mencakup pemberdayaan karyawan FPG, dengan dihadirkannya agen AI bagi para frontline workers dan knowledge workers untuk efisiensi dan inovasi yang lebih tinggi.

    “Tujuan FairPrice Group sederhana, yaitu membuat hidup para pelanggan kami lebih baik lagi setiap hari. Kolaborasi kami dengan Google Cloud dan peluncuran Store of Tomorrow menjadi bukti dari komitmen ini,” kata Vipul Chawla, Group Chief Executive Officer FairPrice Group.

    Kehadiran tools berteknologi AI baru ini, yang mencakup asisten belanja cerdas hingga asisten kesehatan yang dipersonalisasi, dirancang untuk membuat pengalaman pembeli lebih lancar dan mudah.

    Inovasi ini tidak hanya membuat para pembeli kagum, tetapi juga memberdayakan staf untuk bekerja lebih efisien, sehingga FairPrice dapat menepati janji untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari yang terjangkau bagi semua orang.

    “Kami percaya bahwa teknologi harus bermanfaat bagi pelanggan, dan kami antusias memanfaatkannya untuk menghadirkan pengalaman berbelanja di toko lebih baik lagi yang kami bangun sebagai yang pertama di Asia Tenggara, dengan kemitraan dan teknologi Google Cloud sebagai powerful enabler,” kata Vipul Chawla.

    FairPrice telah mengintegrasikan asisten belanja multimodal dengan Smart Cart untuk semakin meningkatkan pengalaman belanja di toko. Fitur ini melengkapi fitur awal Smart Cart, seperti navigasi di dalam toko, pemindai barcode bawaan, dan kemampuan untuk menyoroti promosi produk-produk terdekat saat pelanggan berjalan menyusuri lorong toko.

    Di FairPrice Finest Punggol Digital District dan Sengkang Grand Mall, pembeli dapat berinteraksi langsung dengan asisten virtual melalui tablet yang terintegrasi pada troli, sehingga mereka memperoleh rekomendasi produk lebih lengkap dan dipersonalisasi.

    Pengalaman ini dimungkinkan oleh beberapa agen AI yang bekerja saling mendukung. Pertama, agen percakapan multi-turn yang dibangun menggunakan Chirp 2, speech recognition model tercanggih Google Cloud, dan Gemini API multimodal.

    Kedua, agen penelusuran inventaris dan katalog produk, yang dibangun menggunakan Vertex AI Search dan Gemini API, untuk mengambil dan meringkas informasi produk.

    Ketiga, agen pengetahuan yang dibangun menggunakan Gemini API, Mesin RAG Vertex AI, dan Grounding with Google Search API, untuk memproses informasi barcode dan menyarankan produk pelengkap berdasarkan resep makanan dan menu pasangannya yang diambil dari sumber tepercaya.

    Mark Micallef, Managing Director, Southeast Asia, Google Cloud, mengatakan bahwa perluasan kolaborasi dengan FairPrice Group merupakan momentum penting bagi penerapan AI agentic di sektor ritel.

    “Upaya bersama kami telah menghasilkan berbagai solusi yang merupakan yang pertama di Asia Tenggara, didukung oleh kombinasi platform terbuka Google Cloud, Google-quality search, serta model penalaran dan media generatif canggih Google yang cukup unik,” ujarnya.

    Ia memandang transformasi AI FairPrice Group sebagai blueprint yang terbukti untuk mewujudkan masa depan ritel.

  • Google Cloud: ROI yang menjanjikan jadi alasan utama adopsi AI

    Google Cloud: ROI yang menjanjikan jadi alasan utama adopsi AI

    Singapura (ANTARA) – Google Cloud menilai saat ini industri semakin cepat mengadopsi kecerdasan buatan (AI) baik bagi sektor konsumer maupun korporasi besar didorong tren pengembalian investasi (return on investment/ROI) yang menjadi magnet utama.

    Chief Operating Officer (COO) Google Cloud Francis DeSouza melihat tren adopsi AI kian masif, dengan fenomena perusahaan atau organisasi besar yang biasanya lambat mengadaptasi teknologi baru, kini bergerak lebih cepat, seperti halnya perusahaan khusus digital.

    “Itu menunjukkan besarnya peningkatan pengembalian investasi yang dilihat organisasi dengan AI,” katanya dalam media roundtable di Singapura, Rabu.

    ROI yang menjadi magnet itu tercermin dari data yang dipaparkan DeSouza. Pelanggan mendapatkan rata-rata pengembalian investasi sebesar 727 persen di Google Cloud AI dalam tiga tahun, katanya, mengklaim.

    Bisnis yang menggunakan Google Cloud AI, menurut dia, juga memperoleh rata-rata 205 ribu dolar AS dalam hal produktivitas dan nilai output per 1.000 karyawan.

    Bahkan, DeSouza menuturkan berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia IT selama ini di mana dia pernah berkarir di Microsoft hingga mendirikan SynthLab , tren AI saat ini menjadi teknologi yang paling cepat berpindah dari tahap uji coba (pilot) ke produksi.

    Karena itu, ia mengaku yakin AI akan menyentuh setiap bagian dari sebuah perusahaan.

    “Jadi kami yakin bahwa saat ini kami berada di awal pada pasar konsumen yang akan merambah ke pasar (sektor) perusahaan, dan kami yakin bahwa itu akan terlihat lagi dalam hasil yang diperoleh perusahaan,” ujar dia.

    Di Google, ujar DeSouza, AI juga dimanfaatkan para pengembang (developer) untuk menulis kode yang hingga saat ini lebih dari 30 persen kode produksi Google ditulis dengan bantuan AI. Pengadopsian AI itu menghasilkan manfaat yang besar

    Studi yang dilakukan Google Cloud dengan sebuah firma, dikutip DeSouza, menunjukkan dalam periode tiga tahun, perusahaan pelanggan dapat mendapatkan ROI dan produktivitas signifikan dengan mengadopsi AI.

    “Ini terjadi karena investasi yang telah kami lakukan selama lebih dari satu dekade terakhir. Jadi, kami adalah hyperscaler cloud,” ujar dia.

    Google Cloud menjadi hyperscaler cloud dan mengembangkan chip sendiri. Pada 2025, menurut DeSouza, Google Cloud akan merilis generasi terbaru Tensor Processing Unit (TPU) atau sirkuit terintegrasi khusus aplikasi yang 10 kali lebih cepat.

    Sementara itu, Managing DIrector Southeast Asia Google Cloud Mark Micallef mengatakan pemerintah, perusahaan dan perusahaan rintisan telah beralih ke Google Cloud AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan meningkatkan perekonomian mereka dalam rantai nilai.

    Saat ini, menurutnya lagi, kawasan Asia Tenggara sedang berada di pergeseran fundamental, di mana AI menjadi teknologi paling signifikan yang diutilisasi untuk mendorong fase pertumbuhan di kawasan dengan proyeksi nilai perekonomian di kawasan dapat mencapai 270 miliar dolar AS.

    Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar Google Cloud di Asia Tenggara. Tujuh bank terbesar di Indonesia, tiga perusahaan telekomunikasi, sejumlah perusahaan ritel, dan perusahaan rintisan bervaluasi 1 miliar dolar AS (unicorn) di telah menggunakan layanan di Google Cloud.

    Pewarta: Indra Arief Pribadi
    Editor: Virna P Setyorini
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Google Cloud Pastikan Perubahan Mendasar di Asia Tenggara

    Google Cloud Pastikan Perubahan Mendasar di Asia Tenggara

    Bisnis.com, JAKARTA – Google Cloud memastikan bahwa teknolog kecerdasan buatan (artificial intelligent) telah membuat perubahan mendasar di Asia Tenggara, dan siap menciptakan fase pertumbuhan cepat hingga mencapai US$270 miliar.

    Mark Micallef, Managing Director Southeast Asia Google Cloud, mengatakan bahwa perubahan mendasar sedang berlangsung di kawasan Asia Tenggara, dan kecerdasan buatan (AI) adalah teknologi paling signifikan di dalamnya.

    “AI adalah teknologi paling signifikan di zaman kita, siap untuk mendorong fase pertumbuhan Asia Tenggara berikutnya dan mendorong perekonomiannya sebesar US$270 miliar,” ujarnya di acara bertajuk Lets Talk Google Cloud di Singapura, Rabu (27/8/2025).

    Pemerintah, perusahaan, dan startup telah beralih ke Google Cloud AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan meningkatkan perekonomian mereka dalam rantai nilai.

    Momentum ini, katanya, juga tercermin dalam pertumbuhan bisnis Google Cloud. Secara global, Google Cloud menghasilkan pendapatan US$13,6 miliar pada kuartal kedua tahun ini, meningkat 32% dibandingkan tahun sebelumnya.

    Hal ini didorong oleh pelanggan yang berinovasi Bersama AI Google Cloud dengan cara-cara baru, dalam skala yang luar biasa. Hal yang sama juga terjadi di kawasan Asia Tenggara.

    Mark mengungkapkan setidaknya empat contoh bukti penerapan AI Google Cloud di Asia Tenggara.

    Pertama, di Indonesia. Menurutnya, sebanyak 7 dari 10 bank teratas, ketiga perusahaan telekomunikasi besar, dan peritel besar seperti Salim Group dan Alfamart, serta 70% unicorn lokal membangun platform di Google Cloud.

    Kedua, di Malaysia. Perintah Malaysia telah membekali 445.000 pegawai negeri dengan agen Gemini bawaan Google Workspace untuk mentransformasi penyediaan layanan publik.

    Ketiga di Singapura. FairPrice Group membuka Store of Tomorrow pertama di Asia Tenggara. Toko ini menawarkan pengalaman berbelanja menyeluruh dan operasional toko yang didukung oleh Google Cloud AI.

    Keempat, DBS adalah bank pertama di Asia yang menyoroti dampak ekonomi AI dalam hasil keuangan mereka. Didukung oleh Google Cloud, inisiatif AI mereka menghasilkan lebih dari US$700 juta pada 2024. Mereka kini memperdalam kemitraan dengan Google Cloud untuk membuka nilai yang lebih besar dari AI generatif dan agensi.

    Menurut Mark, kesamaan dari contoh-contoh tersebut adalah komitmen di tingkat dewan direksi untuk mengintegrasikan AI ke dalam proses bisnis inti. “Dan mereka memilih Google Cloud karena dua alasan Utama.”

    Pertama, tumpukan AI Google Cloud yang terintegrasi penuh dirancang bersama, mulai dari perangkat keras hingga model untuk memberikan kinerja dan laba atas investasi terbaik.

    Kedua, Google Cloud menyediakan interoperabilitas dan kebebasan memilih di setiap lapisan tumpukan ini, yang memungkinkan perusahaan untuk mempersiapkan investasi teknologi mereka di masa depan.

    Mark juga memastikan bahwa Google Cloud berinvestasi besar-besaran untuk mendukung transformasi berkelanjutan di Asia Tenggara.

    Untuk tetap terdepan dalam memenuhi permintaan komputasi AI yang terus meningkat, Google Cloud terus memperluas kapasitas wilayah cloud di Indonesia dan Singapura. Google Cloud juga segera meluncurkan wilayah cloud baru di Malaysia dan Thailand.

    Melalui program tingkat nasional terstruktur seperti AI Cloud Takeoff dan Indonesia BerdAIa, Google menyediakan sumber daya dan keahlian yang telah terbukti bagi perusahaan untuk menerapkan solusi AI praktis, dengan cepat, aman, dan hemat biaya.

    Melalui program pelatihan keterampilan lokal di enam negara, Google Cloud secara aktif memperkuat kemahiran pengembang dalam perangkat AI perusahaan seperti Vertex AI dan Gemini Code Assist, mengembangkan kumpulan talenta di kawasan ini untuk era baru ini.

    Sebagai perusahaan yang mengutamakan AI, misi Google adalah mengelola informasi dunia dan menjadikannya dapat diakses dan bermanfaat secara universal. Google Cloud memperluas misi ini ke tingkat perusahaan.

     

    1756310601_d486e0f9-f21a-4341-b8d4-ccdcbf1dced5.

  • COO Google Cloud: Privasi-keamanan data hal teramat penting di era AI

    COO Google Cloud: Privasi-keamanan data hal teramat penting di era AI

    Ada serangkaian penawaran keamanan yang sangat tangguh, dan itu mencakup banyak hal.

    Singapura (ANTARA) – Chief Operating Officer (COO) Google Cloud Francis DeSouza menegaskan bahwa privasi dan keamanan data pelanggan menjadi hal yang teramat penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

    Menjawab ANTARA dalam sesi media roundtable di Singapura, Rabu, DeSouza mengatakan perusahaan komputasi cloud itu berinvestasi teknologi untuk memastikan data tetap tersimpan di dalam batas wilayah yang ditentukan, sekaligus terlindungi dari ancaman siber yang semakin kompleks.

    “Ada serangkaian penawaran keamanan yang sangat tangguh, dan itu mencakup banyak hal. Pertama, bagaimana Anda dapat mengamankan model Anda? Apa pelindung model yang Anda miliki untuk memastikan model Anda tetap aman?,” ujarnya.

    Google Cloud menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesarnya di Asia Tenggara. Tujuh bank terbesar di Indonesia, tiga perusahaan telekomunikasi, sejumlah perusahaan ritel, dan perusahaan rintisan bervaluasi 1 miliar dolar AS (unicorn) di Indonesia menggunakan layanan Google Cloud.

    Google Cloud juga menawarkan penggunaan AI untuk meningkatkan postur keamanan perusahaan secara keseluruhan. Ia menyebut sudah banyak perusahaan memanfaatkan agen berbasis AI dari Google Cloud untuk memperkuat operasional keamanan.

    Teknologi AI itu digunakan untuk membantu mengelola jutaan log dari infrastruktur IT dan keamanan, mendeteksi potensi pelanggaran, hingga meringankan beban pusat operasi keamanan yang kerap kewalahan menghadapi banjir peringatan.

    “Kami juga membahas kemampuan seputar penggunaan AI untuk mempercepat alur kerja yang terkait dengan terjadinya pelanggaran,” kata dia lagi.

    Ketika pelanggaran mengenai ketentuan penyimpanan data terjadi, ujar dia, setiap menit dan jam sangat penting untuk memitigasi dampak kerusakan yang lebih besar. Dengan begitu, penggunaan AI dapat membantu otomatisasi alur kerja sehingga respons yang diterbitkan dapat lebih cepat.

    Hal itu juga terkait dengan proyeksi ancaman keamanan data di masa datang. Google Cloud membahas itu dengan berbagai perusahaan mitra untuk memitigasi ancaman-ancaman penyimpanan data seperti malware termutakhir, dan deepfake.

    “Sehingga keamanan, ‘data compliance’ adalah hal yang sangat penting,” ujarnya.

    Solusi AI, kata DeSouza, turut membantu melipatgandakan pendapatan Google Cloud secara global. Google Cloud mencatatkan pendapatan sebesar 13,6 miliar pada kuartal 2025 atau meningkat 32 persen (year on year/yoy).

    Managing DIrector Southeast Asia Google Cloud Mark Micallef berujar bahwa pemerintah, perusahaan, dan perusahaan rintisan telah beralih ke Google Cloud AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, dan meningkatkan perekonomian mereka dalam rantai nilai.

    Saat ini, menurutnya lagi, kawasan Asia Tenggara sedang berada di pergeseran fundamental, di mana AI menjadi teknologi paling signifikan yang diutilisasi untuk mendorong fase pertumbuhan di kawasan. AI diperkirakan dapat mendorong nilai perekonomian Asia Tenggara hingga mencapai 270 miliar dolar AS.

    Pewarta: Indra Arief Pribadi
    Editor: Budisantoso Budiman
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Trump Sebut Meta Bangun Pusat Data Raksasa di AS Senilai Rp814 Triliun

    Trump Sebut Meta Bangun Pusat Data Raksasa di AS Senilai Rp814 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA— Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut, Meta Platforms Inc. berencana menggelontorkan dana sebanyak US$50 miliar atau sekitar Rp814,9 triliun (asumsi kurs Rp16.298 per dolar AS) untuk pembangunan pusat data raksasa di pedesaan Louisiana, AS.

    Melansir Bloomberg pada Rabu (27/8/2025), Trump mengungkapkan hal tersebut dalam rapat kabinet pada 26 Agustus kemarin. Dia mengaku terperangah dengan besarnya nilai proyek yang saat ini sedang dibangun tersebut. 

    “Ketika mereka bilang US$50 miliar untuk sebuah pabrik, saya bertanya, ‘Pabrik macam apa itu?’” kata Trump sambil menunjukkan sebuah ilustrasi dari CEO Meta Mark Zuckerberg. 

    Gambar tersebut memperlihatkan pusat data yang ditumpangkan di atas peta Manhattan guna menunjukkan skalanya. 

    “Kalau sudah lihat ini, barulah mengerti kenapa biayanya US$50 miliar,” imbuhnya.

    Juru bicara Meta menolak mengomentari pernyataan Trump terkait pusat data tersebut yang diberi nama Hyperion. Hingga kini, Meta hanya menyebut secara terbuka bahwa investasi pada fasilitas itu akan melebihi US$10 miliar atau sekitar Rp162,9 triliun.

    Trump menambahkan, perusahaan-perusahaan AS baru bisa membangun pusat data raksasa karena adanya izin untuk membangun fasilitas kelistrikan mereka sendiri.

    Sebelumnya, Bloomberg melaporkan Meta telah menunjuk Pacific Investment Management Co. (Pimco) dan Blue Owl Capital Inc. untuk memimpin pembiayaan senilai US$29 miliar atau sekitar Rp472,6 triliun. Paket pendanaan itu menjadi yang terbesar sejauh ini untuk proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

  • Nego Dagang Berlanjut, Kanada Siap Temui AS Usai Cabut Tarif Balasan

    Nego Dagang Berlanjut, Kanada Siap Temui AS Usai Cabut Tarif Balasan

    Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Kabinet Kanada Dominic LeBlanc, yang memimpin pembicaraan dagang dengan Amerika Serikat (AS), dijadwalkan bertolak ke Washington untuk bertemu dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick. 

    Melansir Bloomberg pada Selasa (26/8/2025), pertemuan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah Kanada berkomitmen mencabut sebagian besar tarif balasan atas produk-produk asal AS.

    “Kami berharap dapat mencapai kesepakatan yang menempatkan posisi kami lebih baik dari kondisi sekarang,” ujar LeBlanc dalam wawancara radio berbahasa Prancis di penyiar publik Kanada.

    LeBlanc menyebut kedua pihak telah membahas situasi yang sangat menarik bagi pemerintah AS, tanpa merinci lebih jauh. Namun, dia menegaskan Kanada juga menginginkan perbaikan dalam hubungan dagang dengan AS sebagai imbalannya.

    Kantor LeBlanc menyampaikan bahwa dia berangkat ke Washington pada Senin malam dan pertemuan dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari ke depan.

    Sebelumnya, pada Jumat pekan lalu, Perdana Menteri Mark Carney mengumumkan Kanada akan mencabut tarif balasan terhadap sejumlah besar produk AS yang sesuai dengan perjanjian dagang Amerika Utara (USMCA). Tarif balasan itu diberlakukan sejak Maret lalu oleh mantan Perdana Menteri Justin Trudeau.

    Adapun, Lutnick sebelumnya telah menekan pemerintah Kanada untuk mencabut tarif tersebut agar pembicaraan dagang dapat berlanjut.

    Meski demikian, Kanada tetap mempertahankan bea impor sebesar 25% terhadap baja dan aluminium asal AS, serta sebagian tarif untuk mobil dan truk. Presiden Donald Trump sendiri telah menetapkan tarif impor bagi seluruh sektor tersebut.

    Menurut LeBlanc, pencabutan sebagian tarif balasan akan membuka jalan menuju kesepakatan dagang yang lebih luas dengan pemerintahan Trump. Langkah itu juga bisa menjadi fondasi bagi kemungkinan renegosiasi perjanjian United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA) yang akan ditinjau bersama pada tahun depan.

    Namun, sejauh ini Kanada belum mendapat sinyal bahwa Trump bersedia menurunkan tarif impor baja dan aluminium asing yang saat ini masih dipatok di level 50%, tambah LeBlanc.

  • Apple Siapkan iPhone Air 2025, iPhone Lipat 2026, dan iPhone 20 2027

    Apple Siapkan iPhone Air 2025, iPhone Lipat 2026, dan iPhone 20 2027

    Jakarta

    Apple dilaporkan sedang menyiapkan perombakan besar pada lini iPhone dalam tiga tahun ke depan. Mulai 2025, perusahaan asal Cupertino ini akan memperkenalkan iPhone Air, disusul iPhone lipat pertama pada 2026, dan iPhone 20 berdesain kaca lengkung pada 2027.

    Menurut laporan jurnalis Mark Gurman dari Bloomberg, rencana ini disebut sebagai perubahan paling berani Apple sejak meluncurkan iPhone X pada 2017.

    iPhone Air 2025

    Pada September 2025, Apple diperkirakan akan merilis iPhone Air sebagai pengganti iPhone 16 Plus. Model ini akan hadir dengan desain lebih ramping dan ringan, meski ada beberapa kompromi fitur.

    Spesifikasi iPhone Air yang dibocorkan:

    Kamera belakang tunggalMendukung eSIM saja (tanpa slot SIM fisik)Daya tahan baterai lebih pendek dibandingkan model PlusChip modem internal generasi pertama AppleOpsi warna biru muda

    iPhone Air akan diluncurkan bersama iPhone 17, iPhone 17 Pro, dan iPhone 17 Pro Max.

    iPhone Lipat 2026

    Setahun berikutnya, pada 2026, Apple disebut akan merilis iPhone lipat dengan nama kode V68. Desainnya bergaya buku, mirip Samsung Galaxy Z Fold.

    Fitur yang diperkirakan hadir di iPhone lipat:

    Empat kamera (depan, dalam, dan belakang ganda)Konfigurasi hanya eSIMSensor Touch ID alih-alih Face IDModem C2 generasi kedua AppleLayar sentuh dalam sel untuk lipatan lebih minim

    Produksi iPhone lipat diprediksi mulai meningkat di awal 2026 dengan pilihan warna hitam dan putih.

    iPhone 20 2027

    Konsep iPhone lipat Foto: GSM Arena

    Pada 2027, Apple akan merayakan 20 tahun iPhone dengan merilis iPhone 20. Model ini kabarnya akan hadir dengan desain kaca lengkung yang melingkupi bodi, meninggalkan gaya tepi datar yang dipakai iPhone sejak beberapa tahun terakhir.

    Selain itu, iPhone 20 juga akan membawa desain ulang iOS berbasis Liquid Glass, memberi pengalaman visual yang lebih futuristik.

    Transisi Modem Apple

    2025: iPhone Air & iPhone 16e pakai modem internal generasi pertama.2026: iPhone 18 Pro beralih ke modem C2 generasi kedua.

    Langkah ini menandai usaha Apple untuk mengurangi ketergantungan pada Qualcomm.

    Ekosistem Apple Juga Akan Diperbarui

    Tak hanya iPhone, Mark Gurman menyebut Apple juga menyiapkan pembaruan besar lain, seperti:

    Apple Watch model baruVision Pro lebih cepatiPad Pro dengan chip M5AirPods Pro dengan fitur pemantauan detak jantungHomePod mini & Apple TV baruHomePod dengan layar berbasis homeOS Charismatic

    Bahkan, Apple dikabarkan mengembangkan perangkat futuristik seperti kacamata pintar tanpa layar, AirPods dengan kamera, hingga robot rumah pintar.

    Rencana iPhone Air 2025, iPhone lipat 2026, dan iPhone 20 pada 2027 ini diprediksi akan menjadi lompatan terbesar Apple dalam desain dan inovasi iPhone sejak era iPhone X.

    Apakah Apple bisa kembali mengguncang pasar smartphone dengan strategi ambisius ini? Menarik untuk ditunggu gebrakan mereka dalam tiga tahun mendatang.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Video: Apple Bakal Bangun Pabrik di Batam Tahun Ini!”
    [Gambas:Video 20detik]
    (afr/afr)