Tag: Mark Zuckerberg

  • Zuckerberg Berhenti Rekrut Pakar AI Bergaji Fantastis, Kapok?

    Zuckerberg Berhenti Rekrut Pakar AI Bergaji Fantastis, Kapok?

    Jakarta

    Meta menyetop sementara rekrutmen peneliti AI untuk divisi kecerdasan buatannya. Penghentian sementara ini mengakhiri belanja peneliti AI dengan bayaran fantastis yang dimulai CEO Mark Zuckerberg dalam beberapa bulan terakhir.

    Hal ini pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal yang mengatakan penghentian rekrutmen sementara ini mulai berlaku pekan lalu di tengah proses restrukturisasi perusahaan yang lebih luas.

    Dalam pernyataan resminya kepada CNBC, juru bicara Meta mengatakan jeda tersebut hanyalah perencanaan organisasi dasar.

    “(Kami) menciptakan struktur yang solid untuk divisi superintelijen baru kami setelah menggandeng banyak orang serta melakukan penganggaran dan perencanaan tahunan,” kata juru bicara Meta, seperti dikutip dari CNBC, Kamis (21/8/2025).

    Menurut laporan Wall Street Journal, Meta telah membagi divisi AI-nya menjadi empat tim yang terdiri dari tim ‘TBD Lab’ atau ‘To Be Determined’ yang fokus membangun mesin superintelijen, tim produk AI, tim infrastruktur, dan tim yang fokus untuk proyek jangka panjang.

    Keempat tim tersebut merupakan bagian dari ‘Meta Superintelligence Lab’, nama yang mencerminkan ambisi Zuckerberg untuk menciptakan AI yang melampaui kecerdasan manusia.

    Untuk mewujudkan ambisi tersebut, Meta dan Zuckerberg telah menggelontorkan miliaran dolar untuk merekrut peneliti AI teratas dari perusahaan kompetitor, termasuk menawarkan bonus hingga USD 100 juta.

    Namun, penghentian sementara rekrutmen Meta yang mendadak menjadi sorotan di tengah kekhawatiran bahwa investasi di AI bergerak terlalu cepat. Belum lama ini, CEO OpenAI Sam Altman juga mengatakan ia yakin AI berada dalam gelembung.

    Tapi banyak analis yang tidak setuju dengan ucapan Altman. Menurut sejumlah analis, Meta mungkin mengurangi pengeluaran untuk rekrutmen AI karena raksasa teknologi itu sedang dalam ‘mode pencernaan’ setelah belanja besar-besaran.

    “Setelah melakukan penawaran seukuran akuisisi dan merekrut karyawan dengan tawaran gaji di kisaran sembilan digit, saya melihat penghentian rekrutmen sebagai titik istirahat yang wajar bagi Meta,” kata Daniel Newman, CEO Futurum Group.

    Sebelum menggelontorkan lebih banyak investasi ke dalam tim AI-nya, perusahaan teknologi seperti Meta membutuhkan waktu untuk menempatkan dan mengakses talenta barunya untuk menentukan apakah mereka siap untuk membuat terobosan yang dicari perusahaan, tambahnya.

    (vmp/vmp)

  • China Luncurkan Perangkat Pengganti HP Pertama, Amerika Minggir

    China Luncurkan Perangkat Pengganti HP Pertama, Amerika Minggir

    Jakarta, CNBC Indonesia – Raksasa teknologi berlomba-lomba menghadirkan headset yang menggabungkan teknologi VR dan AR atau disebut ‘mixed reality’ (XR). Digadang-gadang, perangkat ini akan menggantikan peran HP di masa depan.

    Hal ini sudah pernah diungkap oleh CEO Meta Mark Zuckerberg. Diketahui, Meta memiliki kacamata pintar (smartglasses) yang menggandeng Ray-Ban dan ditenagai kecerdasan buatan (AI).

    Zuckerberg memprediksi dalam dekade mendatang, semua orang akan memiliki smartglasses, seperti fenomena HP saat ini yang digunakan sehari-hari.

    Apple juga mengembangkan Vision Pro yang merupakan perangkant mixed-reality. Meski penjualannya masih minim dibandingkan iPhone, tetapi Apple dilaporkan akan terus mengembangkan Vision Pro dengan versi lebih canggih dan compact.

    Tak cuma raksasa Amerika Serikat (AS), China juga mulai menggarap perangkat mixed reality. Terbaru, Vivo menghadirkan perangkat yang dinamai ‘Vision Discovery Edition’ dalam perayaan ulang tahunnya ke-30.

    Vivo Vision Discovery Edition menandai perangkat mixed reality pertama asal China yang diperkenalkan secara luas. Raksasa China tersebut mengatakan sudah 4 tahun mengembangkan perangkat mixed reality-nya.

    Dikutip dari Android Central, penampakan Vivo Vision Discovery Edition sangat mirip dengan Apple Vision Pro. Ada kacamata yang dilindungi dengan bingkai aluminium dan ikat kepala kain tebal.

    Perbedaannya adalah headset XR Vivo cukup ringan dibandingkan Vision Pro, hanya 398g, sementara Apple sekitar 600g. Vivo juga mengklaim menawarkan empat ukuran segel cahaya dan delapan pilihan bantalan busa untuk memastikan kesesuaian yang optimal.

    Samsung juga disebut akan mengembangkan headset mixed-reality yang berjalan pada sistem operasi Android XR. Hal ini berbeda dengan Vivo yang menggunakan sistem operasi sendiri bernama OriginOS Vision untuk Discovery Edition.

    Vivo mengklaim elemen antarmuka perangkat menyatu sempurna dengan lingkungan sekitar. Headser tersebut juga mendukung pelacakan mata dan pengenalan gestur ujung jari.

    Dari sisi hardware, Vivo Vision Discovery Edition hadir dengan layar ganda Micro-OLED 8K dan ditenagai oleh chipset Qualcomm Snapdragon XR2+ Gen 2. Vivo mengklaim chipset ini cukup bertenaga untuk rendering berkecepatan tinggi dalam komputasi spasial.

    Headset ini dapat menghasilkan layar teater virtual hingga 120 kaki (35 meter), yang memungkinkan pengguna menonton siaran olahraga dan e-sports dari berbagai sudut. Berkat fitur layar terpisahnya, headset ini juga dapat menampilkan berbagai pertandingan secara bersamaan.

    Vivo belum mengumumkan harga atau ketersediaannya, tetapi perusahaan akan mulai memamerkan headset ini kepada pengguna di China mulai minggu depan. Kita tunggu saja!

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Pendiri AI Google Sebut Gelar Dokter dan Pengacara Akan Sia-sia

    Pendiri AI Google Sebut Gelar Dokter dan Pengacara Akan Sia-sia

    Jakarta

    Salah satu pelopor kecerdasan buatan di Google memperingatkan calon dokter dan pengacara bahwa AI dapat mencuri masa depan mereka. Mengapa demikian?

    Dalam wawancara dengan Business Insider, Jad Tarifi, pendiri tim AI generatif pertama Google yang keluar di 2021 untuk membuat startup Integral AI, menyatakan kemampuan AI yang terus meningkat mungkin segera membuat gelar sarjana hukum atau kedokteran menjadi sia-sia.

    Dikutip detikINET dari Futurism, Tarifi juga memberi saran bahwa tidak seorang pun harus menempuh gelar PhD kecuali mereka terobsesi dengan bidang ilmunya.

    Tarifi sendiri lulus PhD bidang AI tahun 2012, ketika subjek itu masih kurang umum. Namun saat ini, kata pria berusia 42 tahun itu, lebih baik menghabiskan waktu mempelajari topik khusus terkait AI, seperti AI untuk biologi. Bahkan mungkin orang sudah tidak perlu gelar sama sekali.

    “Pendidikan tinggi seperti yang kita kenal sekarang berada di ambang kepunahan. Keberhasilan di masa depan takkan datang dari mengumpulkan kredensial, melainkan dari mengembangkan perspektif unik, kesadaran emosional, dan ikatan antarmanusia yang kuat,” cetusnya.

    “Saya mendorong kaum muda untuk berfokus pada dua hal yaitu seni terhubung secara mendalam dengan orang lain, dan upaya batin untuk terhubung dengan diri sendiri,” papar Tarifi.

    Menurutnya, belajar jadi dokter medis atau pengacara mungkin tak lagi sepadan. Meraih gelar di bidang tersebut perlu waktu sangat lama dibandingkan seberapa cepat AI berevolusi sehingga dapat mengakibatkan siswa hanya membuang tahun-tahun dalam hidup mereka.

    “Dalam sistem medis saat ini, apa yang Anda pelajari di sekolah kedokteran sangat ketinggalan zaman dan didasarkan pada hafalan,” katanya.

    Tarifi tidak sendirian menilai pendidikan tinggi tidak mengikuti gelombang AI yang terus berubah. Meningkatnya biaya sekolah dipadukan dengan kurikulum yang ketinggalan zaman menciptakan badai sempurna bagi tenaga kerja yang tidak siap.

    “Saya tidak yakin bahwa perguruan tinggi mempersiapkan orang untuk pekerjaan yang mereka butuhkan saat ini. Saya pikir ada masalah besar tentang itu dan juga semua masalah utang mahasiswa,” kata Mark Zuckerberg belum lama ini.

    Adapun CEO OpenAI Sam Altman mengjlaim model AI terbaru perusahaannya sudah dapat bekerja dengan cara yang setara dengan mereka yang memiliki gelar PhD.

    “GPT-5 benar-benar terasa seperti berbicara dengan pakar tingkat PhD dalam topik apa pun. Sesuatu seperti GPT-5 hampir tak terbayangkan di masa lain dalam sejarah,” cetus Altman.

    (fyk/fay)

  • Bocah Ajaib Direkrut Zuckerberg Malah Acak-acak Meta, Ini Dampaknya

    Bocah Ajaib Direkrut Zuckerberg Malah Acak-acak Meta, Ini Dampaknya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Meta kabarnya tengah mengalami gejolak internal setelah Mark Zuckerberg merombak besar-besaran divisi kecerdasan buatan (AI).

    Sosok Alexandr Wang, pendiri Scale AI yang disebut sebagai “anak ajaib” Silicon Valley dan kini menjabat Chief AI Officer Meta, dituding menjadi pemicu kekacauan baru di perusahaan induk Facebook tersebut.

    Tim Wang difokuskan pada pengembangan model AI terkuat perusahaan yang disebut frontier model.

    “Sejak Zuckerberg membentuk tim superintelligence di bawah Wang, ketegangan mulai muncul,” tulis laporan New York Times, dikutip Jumat (22/8/2025).

    Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Meta kini membagi Meta Superintelligence Labs menjadi empat kelompok, yakni riset, pengembangan superintelligence, produk, serta infrastruktur AI seperti pusat data dan perangkat keras.

    Restrukturisasi ini kemungkinan akan menjadi yang terakhir untuk sementara waktu. Langkah ini bertujuan agar Meta lebih terorganisasi, sehingga bisa mencapai target superintelligence serta mengembangkan produk AI dengan lebih cepat untuk bersaing dengan perusahaan lain.

    Tim baru ini telah membahas kemungkinan membuat model AI terbaru Meta bersifat closed, sebuah langkah besar yang menyimpang dari filosofi lama Meta yang mengedepankan open source.

    Namun, keputusan tim Wang untuk menghentikan proyek frontier model lama bernama Behemoth dan membangun model baru dari nol justru memicu ketegangan dengan tim peneliti lama.

    Seiring dengan tindakan Zuckerberg menggelontorkan miliaran dolar untuk merekrut talenta AI, beberapa anggota lama merasa terganggu dengan masuknya para pendatang baru.

    Beberapa eksekutif dan ilmuwan AI senior dilaporkan hengkang, termasuk Joelle Pineau yang kini bergabung dengan Cohere, serta Angela Fan yang pindah ke OpenAI. Loredana Crisan, VP generative AI Meta, juga meninggalkan perusahaan untuk bergabung dengan Figma.

    Di sisi lain, Zuckerberg tetap agresif menggelontorkan dana besar demi memenangkan perlombaan AI. Tahun ini belanja modal Meta diproyeksikan bisa mencapai US$72 miliar, sebagian besar untuk pembangunan pusat data dan perekrutan talenta.

    Juru bicara Meta menolak berkomentar.

    Nasib Meta menjadi sorotan, seiring persaingan AI yang pada akhirnya akan melahirkan pemenang baru di antara pemain yang ada, seperti Google dan OpenAI.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Meta Kembali Rombak Struktur Divisi AI, Kejar Ketertinggalan dari OpenAI & Google

    Meta Kembali Rombak Struktur Divisi AI, Kejar Ketertinggalan dari OpenAI & Google

    Bisnis.com, JAKARTA— Meta Platforms Inc. milik Mark Zuckerberg resmi merombak struktur divisi kecerdasan buatannya atau artificial intelligence/AI). 

    Melansir laman TechCrunch pada Rabu (20/8/2025), perusahaan membentuk empat kelompok baru di bawah payung organisasi bernama Meta Superintelligence Labs (MSL). Perubahan tersebut disampaikan melalui memo internal perusahaan. 

    Pengumuman dilakukan langsung oleh Alexandr Wang, pendiri Scale AI yang pada Juni lalu bergabung dengan Meta sebagai Chief AI Officer.

    Struktur baru tersebut menempatkan TBD Labs sebagai pusat utama pengembangan. Unit ini akan dipimpin oleh Wang dan difokuskan pada pengembangan foundation models, seperti seri Llama, yang versi terbarunya dirilis pada April lalu.

    Selain itu, tiga kelompok lain akan berfokus pada riset murni, integrasi produk, dan pengembangan infrastruktur. 

    Langkah perombakan ini dilakukan seiring kekhawatiran bahwa Meta mulai tertinggal dari para pesaing utamanya, seperti OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind. Bahkan, Zuckerberg disebut turun langsung dalam proses perekrutan talenta AI kelas dunia untuk memperkuat tim barunya tersebut.

    Sebelumnya, Meta juga dikabarkan berhasil membajak sejumlah peneliti dari OpenAI. Menurut laporan The Information yang dikutip Reuters, empat peneliti yang sudah resmi bergabung adalah Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi, dan Hongyu Ren. 

    Kesepakatan perekrutan mereka terjadi hanya beberapa hari setelah laporan The Wall Street Journal menyebut Meta juga sukses merekrut tiga peneliti AI dari kantor OpenAI di Zurich, yakni Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai.

  • Gaji Pakar AI Bikin Minder Pembuat Bom Atom dan Bintang NBA

    Gaji Pakar AI Bikin Minder Pembuat Bom Atom dan Bintang NBA

    Jakarta

    Perang untuk menarik para pakar AI di Silicon Valley tengah terjadi di antara raksasa teknologi. Bahkan perusahaan seperti Meta dan lainnya, berani membayar mereka begitu tinggi, jauh dari ilmuwan penting di masa lalu.

    Dikutip detikINET dari Ars Technica, Selasa (19/8/2025) Meta baru-baru ini menawarkan peneliti AI Matt Deitke penghasilan USD 250 juta selama empat tahun dengan potensi pemberian USD 100 juta di tahun pertama saja.

    Keahlian Deitke dalam sistem AI yang menyulap gambar, suara, dan teks, menjadikannya target utama Meta. Dia tidak sendirian. CEO Meta, Mark Zuckerberg, dilaporkan juga menawarkan kompensasi USD 1 miliar ke seorang insinyur AI yang tak disebut namanya, yang akan dibayarkan selama beberapa tahun.

    Para pakar AI itu direkrut dalam lomba menciptakan kecerdasan umum buatan (AGI) atau kecerdasan super, yang mampu melakukan tugas intelektual pada atau di atas manusia. Meta, Google, OpenAI, dan lainnya bertaruh, siapa pun yang mencapai terobosan ini terlebih dulu dapat mendominasi pasar senilai triliunan dolar.

    Itu mendorong kompensasi ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagai perbandingan, ilmuwan pembuat bom atom J. Robert Oppenheimer, yang memimpin Proyek Manhattan yang mengakhiri Perang Dunia II, memperoleh USD 10.000 per tahun di 1943. Disesuaikan inflasi, jumlahnya menjadi sekitar USD 190.865, kira-kira setara penghasilan insinyur perangkat lunak senior saat ini.

    Deitke yang berusia 24 tahun, akan memperoleh sekitar 327 kali lipat dari apa yang diperoleh Oppenheimer saat mengembangkan bom atom.

    Bahkan banyak atlet top tidak dapat bersaing dengan angka-angka ini. New York Times mencatat bahwa kontrak empat tahun terakhir Stephen Curry dengan Golden State Warriors adalah USD 35 juta lebih rendah dari kesepakatan Meta untuk Deitke.

    Mark Zuckerberg baru-baru ini memberi tahu para investor bahwa Meta berencana terus menggelontorkan dana untuk bakat AI. “Karena kami yakin bahwa kecerdasan super akan meningkatkan setiap aspek dari apa yang kami lakukan,” cetusnya.

    Perusahaan pun memperlakukan peneliti AI seperti aset tak tergantikan. Jika perusahaan-perusahaan ini jadi yang pertama mencapai kecerdasan super, mereka akan memiliki teknologi hebat untuk mengotomatiskan jutaan pekerjaan dan mengubah ekonomi global. Perusahaan yang mengendalikan teknologi semacam itu bisa menjadi perusahaan terkaya dalam sejarah.

    Tidak mengherankan bahwa bahkan gaji tertinggi karyawan dari era teknologi awal lebih kecil dibanding gaji peneliti AI. Program Apollo menawarkan perbandingan lain yang mencolok. Neil Armstrong, manusia pertama yang berjalan di bulan, memperoleh USD 27.000 per tahun, kira-kira USD 244.639 saat ini. Peneliti AI Meta memperoleh penghasilan lebih banyak dalam tiga hari dari yang diperoleh Armstrong dalam setahun.

    Para insinyur yang merancang roket dan sistem untuk program Apollo juga memperoleh gaji cukup rendah. Laporan NASA tahun 1970 menyebut insinyur yang baru lulus memulai karier dengan gaji tahunan antara USD 84.622 sampai USD 99.555 menurut nilai saat ini. Bahkan insinyur elit dengan pengalaman 20 tahun digaji USD 278.000 per tahun dalam nilai tukar saat ini, jumlah yang dapat diperoleh oleh peneliti AI seperti Deitke hanya dalam beberapa hari.

    (fyk/fay)

  • Zuckerberg Berhenti Rekrut Pakar AI Bergaji Fantastis, Kapok?

    Anggaran Keamanan Zuckerberg Tembus Rp 437 Miliar

    Jakarta

    Para bos teknologi di Silicon Valley adalah orang-orang penting berpengaruh, yang tak jarang mendapat ancaman keamanan. Tak mengherankan jika mereka mendapatkan perlindungan super ketat dengan biaya sangat mahal. Contohnya adalah Meta yang mengeluarkan banyak anggaran untuk melindungi sang CEO, Mark Zuckerberg.

    Menurut laporan terbaru, perusahaan mengalokasikan lebih dari USD 27 juta atau sekitar Rp 437 miliar pada tahun 2024 untuk Zuckerberg, melampaui gabungan pengeluaran keamanan untuk CEO Apple, Nvidia, Microsoft, Amazon, dan Alphabet. Itu menggarisbawahi meningkatnya ancaman yang dihadapi para juragan teknologi.

    Pengeluaran Meta mencakup penjaga bersenjata, langkah-langkah keamanan siber canggih, tempat tinggal yang dibentengi, dan pengamanan perjalanan jet pribadi, semuanya dirancang untuk memitigasi risiko yang terkait dengan Zuckerberg.

    Sebagai perbandingan, Nvidia menghabiskan USD 3,5 juta untuk CEO Jensen Huang, naik dari USD 2,2 juta pada tahun sebelumnya. Kesenjangan anggaran keamanan antara Meta dan Nvidia ini menyoroti peran Zuckerberg sebagai pemicu kontroversi mulai dari skandal privasi data hingga dampak media sosial.

    Lonjakan belanja keamanan tidak hanya terjadi di Meta. Menurut Financial Times, 10 perusahaan Big Tech teratas menggelontorkan lebih dari USD 45 juta untuk perlindungan CEO pada tahun 2024, meningkat 10% dari tahun sebelumnya.

    Dikutip detikINET dari Daily Beast, peristiwa seperti pembunuhan CEO UnitedHealthcare Brian Thompson pada tahun 2024 telah mendorong perubahan besar, termasuk penghapusan foto eksekutif dari situs web perusahaan.

    Anggaran keamanan Meta untuk Zuck membengkak seiring waktu. Pada tahun 2023, perusahaan menaikkan tunjangan perlindungannya sebesar USD 4 juta menjadi USD 14 juta. Di 2024, jumlahnya mencapai USD 27 juta, melampaui para pesaingnya.

    Kabarnya, Zuckerberg mengundang penguntit, ancaman pembunuhan, dan ancaman siber. Ke depannya, seiring para CEO perusahaan teknologi menjadi ikon, anggaran keamanan mungkin akan terus meningkat.

    (fyk/fyk)

  • Keluarga Terkaya di Dunia Punya Kekayaan Fantastis, Nilainya 16 Kali Lipat dari Kerajaan Inggris

    Keluarga Terkaya di Dunia Punya Kekayaan Fantastis, Nilainya 16 Kali Lipat dari Kerajaan Inggris

    GELORA.CO – Status keluarga terkaya di dunia ternyata milik keluarga kerajaan yang berkuasa di Arab Saudi, Keluarga Saud. Diperkirakan kekayaan tersebut memiliki kekayaan bersih mencapai 1,4 triliun dolar AS atau setara Rp22,63 kuadriliun (kurs Rp16.165 per dolar).

    Angka tersebut bahkan melampaui kekayaan yang dimiliki keluarga kerajaan Inggris yang diperkirakan memiliki harta mencapai 88 miliar dolar AS atau setara Rp1,42 kuadriliun.

    Kekayaan mereka terutama berasal dari kepemilikan real estate dan merek keluarga. Aset berharga mereka meliputi Kadipaten Cornwall dan Lancaster yang sangat menguntungkan, Hotel Savoy yang bergengsi, dan Somerset House senilai 755,4 juta dolar AS atau setara Rp12,21 triliun.

    Adapun, kekayaan pribadi Raja Charles III diperkirakan mendekati 772 juta dolar AS setara Rp12,47 triliun, menjadikannya orang terkaya ke-258 di Britania Raya.

    Melansir Sarajevo Times, harta yang dimiliki keluarga kerajaan terkaya di dunia, Keluarga Saud juga bahkan melampaui orang-orang terkaya di dunia, termasuk Elon Musk, Larry Ellison hingga Mark Zuckerberg. 

    Orang terkaya di dunia, Elon Musk memiliki kekayaan bersih sebesar 416 miliar dolar AS atau setara Rp6.724 triliun, pundi-pundi Larry Ellison mencapai 291 miliar dolar AS atau setara Rp4.704 triliun, serta harta Mark Zuckerberg senilai 269 miliar dolar AS atau setara Rp4.348 triliun, menurut data Forbes.

    Kekayaan Keluarga Saud yang luar biasa sebagian besar berasal dari cadangan minyak yang melimpah, kumpulan istana megah, jet pribadi, kapal pesiar mewah, dan koleksi seni yang sangat berharga.

    Monarki Timur Tengah tersebut mengalami peningkatan kekuasaan dan kekayaan yang eksponensial selama 50 tahun terakhir.

    Keluarga kerajaan Saudi diperkirakan memiliki hampir 15.000 anggota, dengan sebagian besar kekayaan terkonsentrasi di antara 2.000 kerabat. Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud, yang telah memerintah sejak 2015, merupakan kepala resmi keluarga kerajaan. 

    Putra dan pewarisnya yang paling terkemuka, Mohammed bin Salman Al Saud, menjabat sebagai penguasa de facto Arab Saudi.

    Menurut laporan, Saudi telah sangat aktif dalam beberapa tahun terakhir dalam memperluas aset mereka. Mereka mengakuisisi Chateau Louis XIV Prancis senilai 300 juta dolar AS, lukisan Leonardo da Vinci, Salvator Mundi, seharga 450 juta dolar AS, dan beberapa kapal pesiar senilai 500 juta dolar AS. Angka tersebut tampak kecil mengingat total kekayaan keluarga kerajaan yang melimpah.

  • Para Tetangga Ungkap Kelakuan Mark Zuckerberg yang Bikin Resah

    Para Tetangga Ungkap Kelakuan Mark Zuckerberg yang Bikin Resah

    Palo Alto

    Selama beberapa dekade, lingkungan elit Crescent Park di Palo Alto adalah tempat tinggal impian di California. Para dokter, pengacara, eksekutif bisnis, dan profesor Universitas Stanford tinggal di rumah-rumah menawan di sana.

    Mereka pun akrab antar tetangga dan kerap mengadakan pertemuan. Lalu Mark Zuckerberg pindah. Sejak kedatangan sang pendiri Facebook itu 14 tahun yang lalu, ketenangan lingkungan Crescent Park lenyap. Banyak warga juga pergi karena rumahnya dibeli olehnya.

    Dikutip detikINET dari Seattle Times, warga hampir tidak pernah melihat pendiri Facebook tersebut, yang kini memiliki kekayaan USD 270 miliar, tapi mereka merasakan kehadirannya setiap hari.

    Dia menghabiskan lebih dari USD 110 juta untuk membeli setidaknya 11 rumah. Ia menawarkan kepada para pemiliknya hingga $14,5 juta, dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dari nilai rumah tersebut.

    Zuck mengubah lima di antaranya menjadi kompleks perumahan untuknya, istrinya, Priscilla Chan, dan ketiga putri mereka. Ada rumah untuk tamu, taman rimbun, lapangan, dan kolam renang. Kompleks ini dikelilingi deretan pagar tanaman tinggi. Di bawahnya, Zuckerberg membuat ruang bawah tanah luas yang oleh tetangganya disebut bunker atau gua kelelawar. Pengerjaannya dilakukan delapan tahun, memenuhi jalan-jalan dengan peralatan besar dan banyak kebisingan.

    Kelakuan Zuckerberg di Crescent Park terungkap melalui wawancara dengan sembilan tetangga. “Tidak ada lingkungan yang ingin dijajah. Tapi itulah yang mereka lakukan,” kata Michael Kieschnick, yang rumahnya berbatasan di tiga sisi dengan properti Zuckerberg.

    Kieschnick dan beberapa tetangganya marah kepada Zuckerberg karena seperti mengambil alih Crescent Park. Padahal dia bisa membangun kompleks besar di kota terdekat yang jauh lebih luas.

    Mereka juga marah ke kota Palo Alto. Di 2016, dewan kota sempat menolak permohonan Zuck membangun kompleks namun kemudian mengizinkannya, hanya saja lebih lambat dan bertahap. Warga juga memberi tahu bahwa Zuckerberg mengoperasikan sekolah swasta di sebuah rumah, tapi tak ada tindakan.

    “Para miliarder di mana-mana terbiasa membuat aturan mereka sendiri. Zuckerberg dan Chan bukanlah orang yang unik, kecuali bahwa mereka adalah tetangga kita. Tapi masih menjadi misteri mengapa kota ini begitu ceroboh,” kata Kieschnick.

    Pemerintah kota menyetujui 56 izin untuk properti Zuckerberg. Pembangunan terhenti beberapa bulan terakhir, tapi diperkirakan akan ada lebih banyak pembangunan lagi. Warga mengatakan jalan masuk rumah terblokir, ban kempes akibat puing konstruksi, dan kaca spion terbentur peralatan.

    Sesekali, banyak truk bergemuruh datang, mengantarkan makanan, dekorasi, dan perabotan untuk pesta yang diadakan Zuck. Terkadang, jalan terblokir berhari-hari. Ada layanan parkir valet bagi pengunjung pesta yang mengenakan gaun dan tuksedo, atau kostum jika temanya mengharuskan mereka. Musiknya seringkali bising.

    Peter Forgie, pensiunan pengacara yang tinggal di Crescent Park 20 tahun, mengatakan ia menerapkan kebijakan pintu terbuka bagi tetangga, menyambut mereka dan memberikan hadiah ketika ada yang pindah rumah atau memiliki bayi.

    Tetapi Zuckerberg tidak mau bergaul. “Kami mencoba mengajaknya bergabung. Selalu ditolak,” katanya.

    Staf Zuckerberg membuat penyesuaian. Petugas keamanan kini duduk di kendaraan listrik senyap. Zuckerberg tidak menghadiri pesta tahunan warga, tapi ia mengirimkan gerobak es krim ke pesta terakhir.

    Dan stafnya mengirimkan hadiah kepada tetangga, termasuk anggur bersoda, cokelat, dan donat Krispy Kreme. Hadiah termahal adalah headphone dengan peredam bising.

    (fyk/fay)

  • Kiamat HP Segera Tiba, Penggantinya Sudah Ramai Bermunculan

    Kiamat HP Segera Tiba, Penggantinya Sudah Ramai Bermunculan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Rasanya sulit membayangkan kehidupan manusia modern tanpa smartphone. Dalam aktivitas sehari-hari, smartphone membantu manusia berinteraksi dengan dunia luar secara real-time. 

    Namun, ternyata sudah ada tanda-tanda ‘kiamat’ HP. Pasalnya, sudah banyak ahli yang merancang perangkat penggantinya.

    Seperti yang dilakukan oleh Jony Ive, mantan Chief Design Officer Apple yang dikenal sebagai sosok di balik desain iPhone dan MacBook.

    Ive kabarnya tengah mengembangkan perangkat baru yang didukung kecerdasan buatan (AI). Meski orang-orang yang tahu soal proyek menegaskan bahwa perangkat ini bukan HP pada umumnya, tapi fungsinya kemungkinan akan menyerupai HP dalam banyak hal.

    Proyek ini muncul setelah  Jony Ive bekerja sama dengan CEO OpenAI, Sam Altman, untuk menciptakan perangkat AI generasi baru.

    Perangkat tersebut tengah dikembangkan oleh io products, sebuah startup yang diluncurkan oleh Sam Altman dan LoveFrom, firma desain milik Jony Ive.

    Keduanya mengumumkan kemitraan strategis dengan OpenAI mengakuisisi startup milik Jony Ive. Meski ada kendala hak cipta nama, tetapi proyek ini digadang-gadang akan mengubah masa depan. 

    Akuisisi tersebut diyakini dapat mempercepat proses pengembangan dan peluncuran perangkat, demikian dikutip dari Phone Arena, Selasa (12/8/2025).

    Sumber yang mengetahui proyek ini menyebutkan bahwa desain perangkat masih dalam tahap pengembangan. Beberapa konsep yang tengah dieksplorasi mencakup bentuk tanpa layar-sering disebut sebagai “ponsel tanpa layar”-hingga perangkat rumah tangga pintar yang dikendalikan oleh AI.

    Dengan kata lain, perangkat ini mungkin akan sulit diklasifikasikan secara konvensional, meskipun istilah “ponsel” tetap sering muncul saat orang mencoba menjelaskannya.

    Meski detailnya masih terbatas, satu hal yang jelas adalah tim di balik proyek ini tidak hanya ingin menciptakan aksesori kecil, melainkan mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi.

    Kata Elon Musk dan Mark Zuckerberg soal kepunahan HP

    Baru-baru ini, CEO Meta Mark Zuckerberg juga mengungkap prediksi yang menghebohkan. Ia mengatakan dominasi smartphone sebagai perangkat sehari-hari saat ini akan tergantikan oleh smartglasses atau kacamata pintar.

    Bahkan, Zuckerberg memprediksi fenomena itu akan mulai terlihat di pengujung dekade ini atau 2030 mendatang.

    Ternyata, sebelumnya miliarder Elon Musk juga pernah menyinggung soal kepunahan smartphone dan penggantinya.

    Berbeda dengan Zuckerberg, Musk mengatakan pengganti smartphone masa depan adalah Neuralink, yakni produk chip otak yang saat ini sudah bisa membuat manusia lumpuh mampu menjalankan komputer hanya dengan telepati otak.

    Hal ini disampaikan Musk beberapa saat lalu di X. Kala itu ada akun parodi Not Elon Musk (@iamnot_elon) yang bertanya ke netizen “apakah Anda akan menginstal antarmuka Neuralink untuk mengontrol ponsel hanya melalui pikiran?”.

    Musk kemudian menjawab tweet itu dengan menyebut, “di masa depan tak ada lagi HP, hanya Neuralink,” kata dia, dikutip dari DeccanHerald.

    Nah, itu dia beberapa sinyal yang mengindikasikan perang smartphone akan diganti oleh perangkat baru. Kita tunggu saja!

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]