Tag: Mark Zuckerberg

  • Akun Facebook Mark Zuckerberg Diblokir, Meta Digugat ke Pengadilan

    Akun Facebook Mark Zuckerberg Diblokir, Meta Digugat ke Pengadilan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah laporan menyebutkan akun Facebook milik Mark Zuckerberg terus diblokir oleh pihak Meta. Ternyata akun tersebut bukan CEO raksasa media sosial yang dikenal oleh banyak orang di dunia.

    Zuckerberg yang dimaksud adalah seorang pengacara asal Indianapolis, Amerika Serikat (AS). Namanya yang sama dengan salah satu orang kaya di dunia membawa mimpi buruk untuknya.

    Memiliki nama itu membuatnya tak bisa memiliki laman Facebook. Karena media sosial menuduhnya melakukan peniruan seorang selebritas.

    Sejauh ini, Zuckerberg telah membuat beberapa kali akun namun berakhir ditutup. Mulai dari empat kali akun pribadi ditutup dan akun bisnis sebanyak lima kali dalam delapan tahun terakhir.

    Sang pengacara akhirnya menggugat Meta karena kelalaian dan pelanggaran kontrak. Menurutnya ini satu-satunya jalan untuk menghentikan apa yang dilakukan Meta.

    “Dan menggunakan nama palsu! Yang dimiliki jauh lebih lama dari dia,” kata Zuckerberg dikutip dari WTHR, Senin (8/9/2025).

    “Saya punya hal lebih baik daripada menuntut Facebook. Mereka memiliki lebih banyak uang, pengacara dan sumber daya. Saya tidak suka berkelahi dengan mereka, namun tidak tahu cara lain menghentikannya,” dia menambahkan.

    Sebelumnya dia telah melakukan semua hal yang diminta Meta saat akunnya ditangguhkan. Meta meminta pengguna bisa mengajukan banding saat keputusan platform dirasa tidak tepat.

    Namun tidak ada jawaban atas banding itu hingga empat bulan kemudian. Dalam banding lain, butuh lebih dari enam bulan untuk akunnya dikembalikan.

    “Jadi saya tidak tahu cara mendapatkan perhatian mereka lagi,” jelasnya.

    Zuckerberg mempertanyakan proses banding yang dilakukan Meta. Dia mengatakan perusahaan memiliki masalah karena tidak dapat menjalankan proses tersebut.

    “Mengaku sebagai salah satu perusahaan teknologi terkemuka di dunia dan tidak dapat berhenti melakukannya? Sepertinya mereka tidak bisa menjalankan proses banding mereka? Saya pikir mereka punya masalah,” ucap Zuckerberg.

    Akun yang ditangguhkan itu berdampak buruk padanya. Karena dia kehilangan komunikasi dengan klien dan ribuan dolar untuk iklan praktik hukumnya.

    Tuntutan itu meminta Meta bisa memulihkan akunnya dan tetap menggunakannya. Zuckerberg yakin bisa mengalahkan raksasa teknologi itu.

    “Saya tidak aakan melakukannya jika tidak yakin bisa menang,” dia menuturkan.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Trump Ancam Tarif Dagang Baru ke Uni Eropa Usai Google Didenda Rp57 Triliun

    Trump Ancam Tarif Dagang Baru ke Uni Eropa Usai Google Didenda Rp57 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengibarkan bendera perang dagang. Kali ini, Uni Eropa jadi sasaran setelah Brussels menjatuhkan denda hampir 3 miliar euro atau sekitar Rp57 triliun (asumsi kurs Rp19.200 per euro) kepada anak usaha Google yaitu Alphabet Inc. atas praktik penyalahgunaan dominasi pasar iklan digital.

    Trump menegaskan tidak akan tinggal diam menghadapi sanksi Uni Eropa. Menurutnya, sanksi itu merupakan diskriminatif terhadap perusahaan teknologi AS. 

    “Sangat tidak adil, dan pembayar pajak Amerika tidak akan diam saja! Pemerintahan saya tidak akan membiarkan tindakan diskriminatif ini terus berlangsung,” tulis Trump di media sosial Truth Social seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (6/9/2025).

    Trump mengisyaratkan akan membuka investigasi Section 301—instrumen hukum yang kerap dipakai Washington untuk menekan mitra dagang. Jika diterapkan maka langkah itu berpotensi berujung pada pemberlakuan tarif baru atas produk Eropa.

    Sebelumnya, dia telah menggunakan mekanisme yang sama untuk menarget impor Brasil. Kini, Trump kembali memperingatkan negara mana pun yang mengenakan pajak digital terhadap perusahaan Amerika akan dikenai tarif ‘substansial’.

    “Ini bukan soal China atau negara lain. Masalahnya Uni Eropa,” tegas Trump setelah menggelar pertemuan dengan para petinggi teknologi, termasuk CEO Google Sundar Pichai, CEO Meta Mark Zuckerberg, dan CEO Apple Tim Cook.

    Eropa Lawan Dominasi Google

    Adapun Komisi Eropa menyatakan Google melanggar aturan persaingan dengan memberi keunggulan bagi layanan iklannya sendiri.

    “Kebebasan sejati berarti level playing field—semua pemain bersaing setara dan warga punya hak untuk memilih,” ujar Komisioner Antitrust UE Teresa Ribera.

    Google menyatakan akan mengajukan banding atas denda tersebut. Langkah itu menambah panjang daftar penalti dari Brussels terhadap perusahaan teknologi AS, setelah sebelumnya Google diganjar denda Android 4,125 miliar euro dan kasus belanja online 2,42 miliar euro.

    Masalahnya, ancaman tarif baru terhadap UE berpotensi memperlebar ketegangan dagang lintas Atlantik di tengah ekonomi global yang masih rapuh. Total denda yang kini mendekati 10 miliar euro membuat hubungan Washington–Brussels semakin panas, dengan risiko merembet pada stabilitas pasar digital dan perdagangan barang.

  • Trump Bertemu Bos-bos Perusahaan Teknologi, Elon Musk Tak Tampak

    Trump Bertemu Bos-bos Perusahaan Teknologi, Elon Musk Tak Tampak

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggelar jamuan makan malam di Gedung Putih pada Kamis malam bersama pengusaha, bos-bos perusahaan teknologi hingga politisi. Namun, CEO Tesla Elon Musk tak tampak dalam pertemuan tersebut.

    Menurut keterangan Gedung Putih, lebih dari belasan tokoh besar teknologi masuk daftar undangan, termasuk pendiri Meta Mark Zuckerberg, CEO Apple Tim Cook, pendiri Microsoft Bill Gates, pendiri OpenAI Sam Altman, CEO Google Sundar Pichai, dan CEO Microsoft Satya Nadella.

    Dikutip dari CBS News, Sabtu (6/9/2025), dalam acara itu, Trump duduk bersebelahan dengan Zuckerberg, sementara Gates berada di samping Ibu Negara Melania Trump.

    Trump yang belakangan dekat dengan pimpinan Apple dan Nvidia serta berupaya menarik komitmen investasi mereka melontarkan pujian dengan sebutan ‘pemimpin revolusi dalam bisnis dan kecerdasan’.

    “Ini jelas kelompok dengan IQ tinggi, dan saya sangat bangga pada mereka,” kata Trump.

    Beberapa tokoh diminta Trump untuk berbicara, termasuk Zuckerberg, Nadella, dan Pichai. Gates menggunakan kesempatan tersebut untuk menyoroti kemajuan teknologi vaksin. Gates memuji inisiatif vaksin COVID-19 Operation Warp Speed yang diluncurkan Trump, seraya menekankan kebutuhan riset baru untuk penyakit seperti HIV dan anemia sel sabit.

    U.S. President Donald Trump, first lady Melania Trump and Microsoft cofounder Bill Gates attend a private dinner for technology and business leaders in the State Dining Room at the White House in Washington, D.C., U.S., September 4, 2025. REUTERS/Brian Snyder Foto: REUTERS/Brian Snyder

    Elon Musk Tak Bisa Hadir

    Sementara itu, Elon Musk menulis di X bahwa ia sebenarnya diundang tetapi tidak bisa hadir dan mengutus perwakilannya. Pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa orang terkaya di dunia itu memang masuk daftar undangan.

    Hubungan Musk dan Trump sendiri sempat retak awal tahun ini. Elon Musk keluar dari lingkaran pemerintahan sambil mengkritik keras Trump terkait belanja negara dan kasus Epstein, bahkan berjanji membentuk partai politik baru bernama America Party meski hingga kini belum terwujud.

    Meski begitu, awal pekan ini Trump kembali meramalkan bahwa Elon Musk akan balik ke Partai Republik. “Saya rasa dia tidak punya pilihan,” ujar Trump dalam wawancara radio.

    “Masa iya dia mau gabung dengan kaum radikal kiri yang gila? Mereka gila. Dia orang dengan akal sehat, dia orang baik,” tambah Trump.

    Trump menyebut Elon Musk sebagai sosok yang 80% super jenius, tapi 20% bermasalah. Menurutnya, jika bagian yang 20% itu bisa diselesaikan maka Elon Musk akan jadi luar biasa.

    “Dia memang sempat salah langkah, tapi itu wajar, kadang hal-hal begitu terjadi,” ujar Trump.

    Halaman 2 dari 2

    (ily/ara)

  • Video Trump Kumpulkan CEO Teknologi: Bill Gates, Tim Cook, hingga Mark Zuckerberg

    Video Trump Kumpulkan CEO Teknologi: Bill Gates, Tim Cook, hingga Mark Zuckerberg

    Video Trump Kumpulkan CEO Teknologi: Bill Gates, Tim Cook, hingga Mark Zuckerberg

  • Trump Kumpulkan Zuckerberg Sampai Bill Gates, Minus Elon Musk

    Trump Kumpulkan Zuckerberg Sampai Bill Gates, Minus Elon Musk

    Washington

    Presiden Donald Trump mengundang sejumlah tokoh penting dari kalangan elit dunia teknologi untuk makan malam di Gedung Putih. Namun Elon Musk, orang terkaya dunia pemilik Tesla dan SpaceX, tidak kelihatan batang hidungnya.

    Di antara mereka yang hadir dalam makan malam pada 4 September itu adalah pendiri Meta Mark Zuckerberg, pendiri Microsoft Bill Gates, CEO Apple Tim Cook, Sergey Brin dan Sundar Pichai dari Google, dan pendiri OpenAI Sam Altman.

    Dikutip detikINET dari USA Today, Elon Musk yang pernah menjadi sekutu terdekat Trump sebelum berselisih tidak datang. Di X, dia mengaku diundang, tetapi sayangnya tidak dapat hadir.

    Setelah hubungan yang dulunya dingin dengan Silicon Valley, Trump diterima oleh banyak pemimpin teknologi di masa jabatan keduanya. Dia mempromosikan mata uang kripto, memperingatkan negara-negara asing agar tidak meregulasi teknologi, dan mendorong dominasi Amerika dalam AI.

    Para tamu makan malam itu pun bergantian memuji Trump selama acara tersebut. Para pemimpin teknologi yang diundang ke Gedung Putih mewakili beberapa perusahaan AI terbesar di dunia. Zuckerberg duduk di sebelah presiden, sementara Gates duduk di sebelah ibu negara Melania Trump.

    Trump duduk bersama Mark Zuckerberg. Foto: REUTERS/Brian Snyder

    “Merupakan suatu kehormatan berada di sini bersama sekelompok orang ini, mereka memimpin revolusi dalam bisnis, kejeniusan, dan dalam setiap kata yang saya pikir dapat Anda bayangkan,” kata Trump saat membuka acara.

    Melania Trump menyelenggarakan acara Gedung Putih yang berfokus pada AI pada hari sebelumnya yang dihadiri Altman dan Pichai. “Robot sudah ada di sini. Masa depan kita bukan lagi fiksi ilmiah,” kata Melania Trump di acara tersebut.

    Perusahaan-perusahaan AS berlomba membangun dominasi AI atas China, dan Trump menjadi pendorong utama. Ia menunjuk kapitalis ventura David Sacks sebagai kepala AI dan kripto Gedung Putih. Sacks menguraikan upaya pemerintahan Trump untuk memastikan AS mendominasi AI dan berterima kasih ke para pemimpin teknologi yang hadir karena mengutamakan Amerika.

    Trump telah menerapkan program tarif agresif dan mendorong perusahaan untuk mengalihkan manufaktur ke Amerika Serikat, membuat banyak perusahaan untuk mengumumkan investasi baru di AS.

    Pemerintahan Trump merilis cetak biru kecerdasan buatan pada bulan Juni, bertujuan untuk melonggarkan aturan lingkungan dan memperluas ekspor AI ke negara-negara sekutu. Itu sebagai upaya mempertahankan keunggulan Amerika atas China dalam teknologi penting tersebut.

    Daftar undangan makan malam tersebut juga termasuk dua lusin tokoh teknologi terkemuka. Mereka antara lain CEO Figma, Dylan Field, Presiden Groq, Sunny Madra, pendiri Social Capital, Chamath Palihapitiya, pendiri Zynga, Mark Pincus, pendiri Ring, Jamie Siminoff, dan CEO Oracle, Safra Catz.

    Juga ada CEO Blue Origin, David Limp, CEO Micron Technology, Sanjay Mehrotra, Presiden OpenAI, Greg Brockman, CEO Microsoft, Satya Nadella, pendiri Tibco, Vivek Ranadive, dan Chief Technology Officer Palantir, Shyam Sankar.

    (fyk/fyk)

  • Huru-hara di Meta Gegara Para Genius AI Rekrutan Zuckerberg

    Huru-hara di Meta Gegara Para Genius AI Rekrutan Zuckerberg

    Jakarta

    Beberapa hari setelah bergabung Meta, Shengjia Zhao, salah satu pencipta ChatGPT, mengancam mengundurkan diri dan kembali ke perusahaan lamanya. Ini jadi pukulan bagi upaya Mark Zuckerberg yang bernilai miliaran dolar untuk membangun kecerdasan super dan merekrut para pakar AI top.

    Zhao bahkan sampai membuat lamaran kerja untuk kembali ke OpenAI. Tak lama kemudian, menurut sumber, ia diangkat menjadi kepala ilmuwan AI baru di Meta sehingga tak jadi resign.

    Insiden ini menggarisbawahi sulitnya upaya Zuck memimpin reorganisasi kepemimpinan senior Meta. Selain Zhao, nama besar yang gabung adalah mantan CEO Scale AI Alexandr Wang, dan mantan bos GitHub. Nat Friedman.

    Para pendatang baru tersebut berusaha menunjukkan kekuatan dan kepintarannya. “Ada banyak orang penting di sana,” kata investor yang dekat dengan beberapa bos AI baru Meta.

    Beberapa staf AI baru memutuskan resign tak lama setelah direkrut, termasuk Ethan Knight, ilmuwan machine learning yang baru bergabung beberapa minggu lalu. Avi Verma, mantan peneliti OpenAI, tak pernah muncul di hari pertamanya.

    Rishabh Agarwal, peneliti AI yang mulai bekerja di Meta bulan April, juga resign. Menurutnya meski presentasi Zuckerberg dan Wang sangat meyakinkan, ia terdorong mengambil risiko yang berbeda.

    Sementara itu, Chaya Nayak dan Loredana Crisan, staf AI yang masing-masing telah bekerja di Meta 9 dan 10 tahun, termasuk di antara lebih dari setengah lusin karyawan lama yang mundur. Mungkin mereka tidak sreg dengan kepemimpinan baru.

    “Pergantian karyawan adalah wajar bagi organisasi sebesar ini. Sebagian besar karyawan ini telah bekerja di perusahaan selama bertahun-tahun, dan kami mendoakan yang terbaik bagi mereka,” kata Meta.

    Zuckerberg turun tangan melakukan perekrutan besar-besaran. Dia membujuk peneliti AI dari perusahaan pesaing seperti OpenAI dan Apple dengan gaji luar biasa tinggi dalam upaya mengejar ketinggalan.

    Wang sendiri ditunjuk bertanggung jawab atas semua upaya AI Meta. Pria berusia 28 tahun ini memimpin departemen baru Zuckerberg paling rahasia, dikenal sebagai TBD, yang dipenuhi pakar AI terbaik. Beberapa sumber menyebut Zuckerberg sangat terlibat dalam tim TBD.

    Wang dan Zuckerberg berambisi mencapai kecerdasan super, atau AI yang melampaui manusia.Dikutip detikINET dari Ars Technica, Zuckerberg mendesak tim bergerak lebih cepat.

    Meta mengatakan tuduhan ada friksi adalah rekayasa tanpa dasar fakta. Namun menurut sumber, gaya kepemimpinan Wang membuat beberapa orang kesal. Wang tidak memiliki pengalaman mengelola tim di perusahaan Big Tech.

    Seorang mantan orang dalam mengatakan beberapa rekrutan AI baru merasa frustrasi dengan birokrasi perusahaan dan persaingan internal untuk mendapatkan sumber daya yang dijanjikan. Namun ada pula yang menilai upaya Zuckerberg sudah baik.

    Perekrutan Zhao misalnya, dianggap sebagai sebuah pencapaian besar oleh beberapa orang di Meta dan industri, yang merasa ia memiliki ketegasan untuk mendorong pengembangan AI perusahaan.

    (fyk/fay)

  • Dibajak Gaji Tinggi, Karyawan Malah Kompak Resign Baru Sebulan Kerja

    Dibajak Gaji Tinggi, Karyawan Malah Kompak Resign Baru Sebulan Kerja

    Jakarta, CNBC Indonesia – Taruhan besar Meta pada pengembangan “superintelligence” mulai goyah. Sejumlah karyawan kunci justru memilih hengkang meski perusahaan menawarkan gaji selangit demi memperkuat divisi barunya.

    Menurut laporan Business Insider, setidaknya delapan pegawai Meta keluar dalam dua bulan terakhir, termasuk peneliti, insinyur, hingga pimpinan senior produk. Mereka mundur tak lama setelah CEO Mark Zuckerberg mengumumkan pembentukan Meta Superintelligence Labs (MSL), divisi anyar yang dirancang menghadirkan “personal superintelligence” untuk semua orang.

    Para pegawai yang keluar sebagian besar merupakan veteran yang sebelumnya membangun infrastruktur inti AI Meta, diikuti beberapa rekrutan baru yang sempat digoda dengan tawaran kompensasi gaji bernilai ratusan juta dolar, serta merekrut talenta dari OpenAI dan Google DeepMind.

    “Beberapa orang keluar adalah hal yang normal bagi organisasi sebesar ini. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja di perusahaan selama bertahun-tahun, dan kami mendoakan yang terbaik bagi mereka,” kata juru bicara Meta.

    Namun, kedatangan pegawai baru dengan gaji besar justru memicu ketegangan internal. Ancaman eksodus mulai bermunculan di tengah operasi AI Meta yang terus meluas, terutama mereka yang telah bergabung sebelum dorongan besar ke arah superintelligence.

    Salah satu veteran, Bert Maher, memutuskan hengkang setelah 12 tahun di Meta untuk bergabung dengan Anthropic. Ia sebelumnya ikut mengembangkan PyTorch, perangkat lunak open source yang populer untuk melatih AI, dan Triton, bahasa pemrograman untuk mengoptimalkan model AI.

    Tony Liu, yang delapan tahun bekerja di Meta memimpin tim PyTorch GPU, juga mundur. Melalui LinkedIn, Liu menyebut akan meluncurkan newsletter seputar pengembangan dan skala sistem AI.

    Chi-Hao Wu, spesialis AI dan machine learning, keluar setelah lima tahun untuk menjadi Chief AI Officer di startup Memories.ai. Ia menuturkan bahwa beberapa pekerja merasa kondisi kerja di Meta kerap tidak stabil karena seringnya reorganisasi.

    Beberapa eks pegawai Meta justru bergabung ke OpenAI, rival terkuat perusahaan dalam persaingan AI.

    Tak hanya veteran, sejumlah rekrutan anyar juga buru-buru angkat kaki dari perusahaan. Wired melaporkan dua peneliti, Avi Verma dan Ethan Knight, keluar kurang dari sebulan setelah bergabung dan kembali ke OpenAI.

    Sementara itu, Rishabh Agarwal yang baru bergabung dari Google DeepMind pada April lalu, memilih hengkang setelah lima bulan. Lewat posting di X, ia memuji kepadatan talenta dan komputasi di Meta, namun mengaku ingin mengambil risiko berbeda.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Trump Sebut Meta Bangun Pusat Data Raksasa di AS Senilai Rp814 Triliun

    Trump Sebut Meta Bangun Pusat Data Raksasa di AS Senilai Rp814 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA— Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut, Meta Platforms Inc. berencana menggelontorkan dana sebanyak US$50 miliar atau sekitar Rp814,9 triliun (asumsi kurs Rp16.298 per dolar AS) untuk pembangunan pusat data raksasa di pedesaan Louisiana, AS.

    Melansir Bloomberg pada Rabu (27/8/2025), Trump mengungkapkan hal tersebut dalam rapat kabinet pada 26 Agustus kemarin. Dia mengaku terperangah dengan besarnya nilai proyek yang saat ini sedang dibangun tersebut. 

    “Ketika mereka bilang US$50 miliar untuk sebuah pabrik, saya bertanya, ‘Pabrik macam apa itu?’” kata Trump sambil menunjukkan sebuah ilustrasi dari CEO Meta Mark Zuckerberg. 

    Gambar tersebut memperlihatkan pusat data yang ditumpangkan di atas peta Manhattan guna menunjukkan skalanya. 

    “Kalau sudah lihat ini, barulah mengerti kenapa biayanya US$50 miliar,” imbuhnya.

    Juru bicara Meta menolak mengomentari pernyataan Trump terkait pusat data tersebut yang diberi nama Hyperion. Hingga kini, Meta hanya menyebut secara terbuka bahwa investasi pada fasilitas itu akan melebihi US$10 miliar atau sekitar Rp162,9 triliun.

    Trump menambahkan, perusahaan-perusahaan AS baru bisa membangun pusat data raksasa karena adanya izin untuk membangun fasilitas kelistrikan mereka sendiri.

    Sebelumnya, Bloomberg melaporkan Meta telah menunjuk Pacific Investment Management Co. (Pimco) dan Blue Owl Capital Inc. untuk memimpin pembiayaan senilai US$29 miliar atau sekitar Rp472,6 triliun. Paket pendanaan itu menjadi yang terbesar sejauh ini untuk proyek pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

  • Elon Musk Minta Bantuan Zuckerberg untuk Beli Induk ChatGPT

    Elon Musk Minta Bantuan Zuckerberg untuk Beli Induk ChatGPT

    Jakarta

    Elon Musk ternyata meminta bantuan pesaingnya Mark Zuckerberg saat menyusun konsorsium untuk membeli OpenAI senilai USD 97,4 miliar. Namun CEO dan pendiri Meta itu menolak ajakan Musk.

    Hal ini terungkap dokumen pengadilan yang didaftarkan OpenAI terkait kasus hukumnya dengan Elon Musk yang dimulai tahun lalu. Pemilik ChatGPT itu mengklaim Musk pernah berkomunikasi dengan Zuckerberg tentang potensi pembiayaan atau investasi sehubungan dengan tawarannya untuk membeli OpenAI.

    OpenAI mengatakan Musk telah mengungkap komunikasinya dengan Zuckerberg dalam interogasi di bawah sumpah. OpenAI meminta hakim untuk memerintahkan Meta agar menyerahkan dokumen dan komunikasi terkait tawaran untuk OpenAI.

    “Komunikasi Meta dengan penawar lain, atau komunikasi internal, termasuk yang mencerminkan diskusi dengan Musk dan penawar lainnya, juga akan menjelaskan motivasi di balik tawaran tersebut,” kata OpenAI, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/8/2025).

    Dalam dokumen pengadilan yang sama, Meta mengatakan OpenAI seharusnya meminta dokumen yang relevan langsung dari Musk dan startup AI-nya, dan meminta hakim untuk menolak permintaan OpenAI.

    Kasus hukum antara Elon Musk dan OpenAI dimulai ketika CEO dan co-founder OpenAI Sam Altman berencana mengubah model bisnisnya menjadi for-profit.

    Musk, yang ikut mendirikan OpenAI bersama Altman pada tahun 2015, tidak setuju dengan rencana tersebut. Pria kelahiran Afrika Selatan itu kemudian menggugat OpenAI dengan tuduhan pelanggaran kontrak dan mencoba menghentikan OpenAI berubah menjadi perusahaan for-profit.

    Belum lama ini, Hakim Yvonne Gonzales Rogers memutuskan bahwa Musk harus menghadapi gugatan balik OpenAI. Dalam gugatan balasannya, OpenAI menuduh ‘tawaran palsu’ dari Musk dan xAI telah merugikan bisnisnya, dan Musk telah melakukan pelecehan melalui tindakan hukum dan serangan di media sosial dan pers.

    (vmp/vmp)

  • Dulu Perang, Elon Musk Sekarang Ajak Zuckerberg Satukan Kekuatan

    Dulu Perang, Elon Musk Sekarang Ajak Zuckerberg Satukan Kekuatan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Elon Musk ternyata sempat mengajak CEO Meta Mark Zuckerberg untuk bergabung dalam rencana akuisisi OpenAI, pengembang ChatGPT. Musk disebut mencari dukungan dana senilai US$97,4 miliar (sekitar Rp1.500 triliun) pada awal 2025.

    Informasi ini terungkap dalam dokumen pengadilan yang dirilis Kamis (21/8). Dokumen tersebut merupakan bagian dari perkara hukum antara Musk dan OpenAI yang diajukan tahun lalu.

    Kasus ini tengah bergulir di pengadilan federal California Utara, dan hakim baru-baru ini memutuskan bahwa OpenAI dapat melanjutkan gugatan balik terhadap Musk, demikian dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (22/8/2025).

    Musk diketahui ikut mendirikan OpenAI sebagai organisasi nirlaba bersama Sam Altman pada 2015. Namun, hubungan keduanya memburuk setelah OpenAI berkembang menjadi perusahaan AI komersial dengan dukungan miliaran dolar dari Microsoft. Musk disebut kecewa karena Altman mengarahkan OpenAI menjadi entitas profit.

    Pada Februari 2025, Musk melayangkan proposal akuisisi OpenAI melalui xAI, perusahaan AI yang ia dirikan pada 2023 sebagai pesaing langsung. Dalam upaya itu, Musk menghubungi Zuckerberg dengan menyertakan letter of intent (LOI) untuk menanyakan kemungkinan pendanaan atau investasi.

    Namun, dokumen pengadilan menyebutkan bahwa Zuckerberg maupun Meta tidak pernah menandatangani LOI tersebut.

    Seiring berjalannya kasus, OpenAI menuduh Musk dan xAI melakukan “penawaran palsu” yang merugikan bisnis perusahaan, serta menuding Musk melakukan “pelecehan” melalui gugatan hukum, media sosial, dan pemberitaan media.

    Sementara itu, Meta yang diminta menyerahkan dokumen komunikasi dengan Musk menyatakan keberatan. Meta menilai permintaan OpenAI terlalu membebani, dan seharusnya komunikasi terkait dapat diperoleh langsung dari Musk maupun xAI.

    Juru bicara Meta menolak berkomentar. Sementara itu, pengacara Musk, Marc Toberoff, tidak menanggapi permintaan komentar.

    Adapun Meta sendiri diketahui sedang gencar mengembangkan teknologi AI. Perusahaan induk Facebook itu disebut menawarkan paket kompensasi lebih dari US$100 juta untuk peneliti AI papan atas serta berupaya merekrut karyawan OpenAI.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]