Tag: Mark Zuckerberg

  • TikTok Kalah Jauh, 3 Miliar Orang Pilih Pakai Instagram

    TikTok Kalah Jauh, 3 Miliar Orang Pilih Pakai Instagram

    Jakarta, CNBC Indonesia – Instagram berhasil melampaui popularitas raksasa media sosial TikTok. Platform milik Meta itu telah mengalami pertumbuhan audiens hingga 3 miliar pengguna aktif bulanan (MAU)

    Angka tersebut jauh lebih besar dari capaian TikTok. Juru bicara perusahaan mengatakan aplikasi tersebut ‘baru’ mengantongi 1 miliar pengguna per bulan, dikutip dari Reuters, Kamis (25/9/2025).

    Sementara itu, penambahan 1 miliar pengguna Instagram terjadi selama tiga tahun. Pada 2022, CEO Mark Zuckerberg mengumumkan Instagram mendapatkan 2 miliar pengguna aktif bulanan.

    Perkembangan pesat Instagram terjadi setelah dibeli Facebook yang kini bernama Meta. Pembelian senilai US$1 miliar.

    Sejak saat itu, aplikasi berkembang pesat dari hanya platform berbagi foto saja. Beragam fitur diluncurkan sejak saat itu, termasuk Reels yang diluncurkan 2020.

    Reels memungkinkan pengguna membuat konten dengan durasi pendek. Fitur ini menantang para pesaingnya seperti TikTok hingga YouTube Shorts milik Google.

    Perkembangan signifikan Instagram juga bakal berdampak pada Meta. Sejumlah perusahaan memperkirakan aplikasi akan menghasilkan lebih dari setengah pendapatan iklan Meta di Amerika Serikat (AS) tahun 2025 ini.

    TikTok Raja Aplikasi RI

    Kendati Instagram menang secara global, namun Tiktok berada di puncak aplikasi media sosial yang sering digunakan masyarakat Indonesia. Informasi ini berdasarkan laporan ‘Profil Internet Indonesia 2025’ yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).

    Pada 2025, terdapat 35,17% responden disurvei APJII yang mengakses Tiktok. Jumlah itu meningkat tajam dari tahun sebelumnya sebanyak 18,61%.

    Youtube berada di posisi ke-2 dengan 23,76%. Jumlahnya menurun 27,53% dari tahun 2024.

    Facebook mengalami penurunan tajam sebanyak 21,58% posisi ketiga. Aplikasi itu menurun peringkat dari posisi pertama (34,85%).

    Untuk posisi keempat ditempati Instagram sebanyak 15,94% dan X atau Twitter dengan jumlah 0,56%.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Instagram Punya 3 Miliar Pengguna September 2025, Naik 1 Miliar MAU dalam 4 Tahun

    Instagram Punya 3 Miliar Pengguna September 2025, Naik 1 Miliar MAU dalam 4 Tahun

    Bisnis.com, JAKARTA — Instagram mencatat rekor baru dengan 3 miliar pengguna aktif bulanan (mounth active user/MAU) di dunia. Meloncat sekitar 1 miliar pengguna dibandingkan dengan 2021 yang saat itu berjumlah 2 miliar MAU.

    CEO Meta, Mark Zuckerberg mengatakan pertumbuhan pesat ini terjadi hanya empat tahun setelah Instagram menembus angka 2 miliar pengguna pada Desember 2021.

    Instagram, kata Zuckerberg, adalah salah satu jejaring sosial terbesar di dunia, sejajar dengan Facebook dan WhatsApp.

    Dilansir dari  Verge, Kamis (25/9/2025) Zuckerberg sebelumnya mengumumkan bahwa Facebook telah melampaui 3 miliar pengguna pada Januari, diikuti WhatsApp pada April. 

    Instagram konsisten menunjukkan pertumbuhan pengguna aktif yang impresif selama beberapa tahun terakhir. Pada akhir 2021, pengguna aktif bulanan berada di angka 2 miliar, kemudian melonjak drastis menjadi 3 miliar pada September 2025. 

    Pencapaian terbaru Instagram ini diperkirakan juga mencakup pengguna Threads, pesaing X yang diluncurkan pada Juli 2023 dan mengharuskan pengguna mendaftar menggunakan akun Instagram atau Facebook.

    Bloomberg melaporkan bahwa fitur pesan privat dan video pendek Reels merupakan pendorong pertumbuhan terbesar Instagram, dan kini menjadi fokus utama pembaruan platform.

    Kepala Instagram Adam Mosseri mengatakan pembaruan mendatang mencakup kemudahan menemukan DMs dan Reels di bilah navigasi beranda aplikasi.

    “Serta pembaruan algoritma yang memungkinkan pengguna memengaruhi topik apa yang muncul lebih atau lebih jarang di feed Instagram dan Reels,” kata Adam.

    Sementara itu, Techcrunch melaporkan terjadi peningkatan waktu yang dihabiskan pengguna di aplikasi Instagram pada kuartal II/2025 dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI).

    Di tengah kondisi konsumen yang makin banyak mengeluh tentang banyaknya “konten AI berkualitas rendah” yang membanjiri aplikasi sosial, Meta menyebut sistem AI makin baik dalam membantu pengguna terhubung dengan konten yang direkomendasikan.

    Zuckerberg mengatakan kemajuan dalam sistem rekomendasi perusahaan telah meningkatkan kualitas sehingga menyebabkan peningkatan 5% waktu yang dihabiskan di Facebook dan 6% di Instagram hanya dalam kuartal ini.

    “AI secara signifikan meningkatkan kemampuan kami untuk menampilkan konten yang menarik dan berguna bagi pengguna,” kata Zuckerberg.

    Secara keseluruhan, Meta memperkirakan bahwa lebih dari 3,4 miliar orang menggunakan salah satu “keluarga aplikasi” – yaitu Facebook, Instagram, Messenger, dan/atau WhatsApp – setiap hari pada bulan Juni.

    Angka ini meningkat 6% dibandingkan tahun sebelumnya dan membantu meningkatkan pendapatan total keluarga aplikasi menjadi $47,1 miliar, meningkat 22% dibandingkan tahun sebelumnya.

    Perusahaan juga membagikan bahwa waktu yang dihabiskan untuk menonton video meningkat 20% dibandingkan tahun sebelumnya pada kuartal tersebut, juga karena optimalisasi sistem peringkat Meta dan upayanya untuk mempromosikan lebih banyak konten asli di Instagram.

    Kompetitor X Meta, Threads, juga mengalami peningkatan waktu yang dihabiskan karena “pengintegrasian LLM”, catat Meta.

  • Bos AI Muda Tajir Rp 58 T Punya Pesan Penting buat Gen Z

    Bos AI Muda Tajir Rp 58 T Punya Pesan Penting buat Gen Z

    Jakarta

    Alexandr Wang, pendiri Scale AI sekaligus Chief AI Officer Meta, dikenal sebagai salah satu sosok paling berpengaruh di dunia kecerdasan buatan. Di usianya yang baru 28 tahun, ia sudah mengantongi kekayaan fantastis senilai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 58 triliun. Namun di balik kesuksesannya, Wang punya pesan penting untuk generasi muda, khususnya Gen Z.

    Dalam wawancara terbaru dengan Fortune, Wang menekankan bahwa anak muda seharusnya tidak takut untuk terjun langsung ke dunia pemrograman berbasis kecerdasan buatan. Ia menyebut konsep vibe coding sebagai cara baru yang bisa membuka jalan bagi siapa saja untuk berinovasi.

    Apa Itu Vibe Coding?

    Alih-alih menulis kode ribuan baris secara manual, vibe coding lebih menekankan interaksi kreatif dengan AI. Coder cukup memberi instruksi atau ide, lalu membiarkan AI menghasilkan kode awal, melakukan tes, dan menyempurnakannya. Konsep ini menurut Wang bisa jadi gerbang baru untuk anak muda yang ingin cepat membangun produk atau solusi tanpa terbebani detail teknis yang rumit.

    “Kalau kamu sekarang berusia 13 tahun, habiskan waktumu untuk vibe coding. Dari situlah bakal lahir Bill Gates berikutnya,” ujar Wang.

    Peluang dan Tantangan

    Meski menarik, metode vibe coding bukan tanpa resiko. Mengandalkan AI untuk menulis kode bisa melahirkan bug atau celah keamanan yang sulit dilacak. Di sisi lain, terlalu cepat melompat ke vibe coding juga bisa membuat generasi muda melewatkan pemahaman fundamental soal algoritma dan struktur data.

    Namun Wang menilai, keberanian untuk bereksperimen lebih penting. Dengan bantuan AI, anak muda bisa lebih cepat menciptakan prototipe, menguji ide, dan bahkan membangun startup sejak usia belia.

    Bisa Lahirkan “Bill Gates Baru”?

    Pesan Wang mengingatkan publik pada kisah para pendiri raksasa teknologi yang memulai perjalanan mereka sejak muda, seperti Bill Gates, Steve Jobs, hingga Mark Zuckerberg. Bedanya, kali ini anak muda punya senjata baru: kecerdasan buatan.

    Jika dimanfaatkan dengan benar, vibe coding bisa jadi jalan pintas bagi generasi muda untuk menciptakan terobosan, bahkan mungkin menjadi miliarder teknologi berikutnya seperti Wang sendiri.

    (afr/afr)

  • Zuckerberg Ingin Singkirkan HP iPhone Cs, Rilis Meta Ray-Ban Seharga Rp13,2 Juta

    Zuckerberg Ingin Singkirkan HP iPhone Cs, Rilis Meta Ray-Ban Seharga Rp13,2 Juta

    Bisnis.com, JAKARTA — Meta meluncurkan kacamata pintar AI Meta Ray-Ban Display untuk menantang dominasi Apple dan Android. Kaca mata pintar yang dilengkapi teknologi kecerdasan buatan (AI) itu juga diharapkan mampu menggantikan perangkat smartphone.

    Dalam ajang Meta Connect 2025, CEO Mark Zuckerberg menyampaikan ambisinya untuk menghapus smartphone yang sering membuat manusia abai dengan kehadiran sosial.

    Mark menghadirkan kacamata AI yang langsung menampilkan notifikasi, pesan, navigasi, hingga live translation di sudut mata pengguna.

    Dengan desain klasik Ray-Ban dan layar Heads-Up Display (HUD) monokular berwarna penuh, Meta Ray-Ban Display membawa privasi dan kemudahan tanpa mengorbankan gaya. Kecerahan layar mencapai 5.000 nits, memadukan pengalaman digital dan fisik yang “nyaris seamless”. 

    Techcrunch pada Jumat (19/9/2025) melaporkan hal yang membuat perangkat ini menjadi spesial adalah gelang Neural Band yang mendeteksi sinyal otot-otak (EMG), memungkinkan pengguna “mengetik di udara” hingga 30 kata per menit—nyaris menyamai kecepatan mengetik di layar smartphone, tanpa suara atau sentuhan fisik.

    Model menggunakan Kacamata AI Meta Ray

    Teknologi ini menampilkan aplikasi Meta seperti Instagram, WhatsApp, dan Facebook langsung di lensa, menerima panggilan video, mengatur musik, hingga menampilkan subtitle dan terjemahan real-time.

    Navigasi pejalan kaki bisa dipantau tanpa membuka peta di ponsel. Semua kontrol dilakukan hanya dengan gerakan jari, sentuhan minim, dan tanpa mengganggu aktivitas sosial. Bahkan, perangkat ini ramah difabel berkat ketepatan EMG dan hadir dalam tiga ukuran tahan air IPX7.

    Meta Ray-Ban Display dibanderol US$799, setara Rp13 jutaan, dan siap dipasarkan di AS mulai 30 September 2025.

    Mark secara terang-terangan menggunakan ide “teknologi yang tak mencuri perhatian”, membalikkan citra smartphone sebagai penghalang interaksi, dan menggiring tren budaya baru: dari menggeser layar ponsel hingga menggeser dunia lewat lensa kacamata pintar.

    Dengan investasi lebih dari US$70 miliar dolar sejak 2020, Meta mempertaruhkan masa depan perusahaan pada Ray-Ban Display setelah “metaverse gagal”, menempatkan perangkat ini sebagai jembatan ke era tanpa smartphone.

  • Top 3 Tekno: Meta Ray Ban Gen 2 Resmi Diluncurkan hingga Alasan Baterai iPhone Boros Usai Update iOS 26 – Page 3

    Top 3 Tekno: Meta Ray Ban Gen 2 Resmi Diluncurkan hingga Alasan Baterai iPhone Boros Usai Update iOS 26 – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Artikel terkait Meta memperkenalkan kacamata AI Meta Ray Ban generasi ke-2 dan beragam fitur yang ditampilkan, mencuri perhatian pembaca kanal Tekno Liputan6.com, Kamis (18/9/2025).

    Selain itu, berita tentang China melarang Bytedance hingga Alibaba untuk membeli chip AI di Nvidia hingga Apple ungkap alasan baterai iPhone boros usai update iOS 26 juga populer kemarin.

    Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.

    1. Kacamata AI Meta Ray Ban Gen 2 Resmi Rilis, Apa Saja Kehebatannya?

    Sukses dengan kacamata AI generasi pertama, Meta resmi meluncurkan penerusnya yaitu Meta Ray Ban Gen 2.

    Mengutip Reuters, Kamis (18/9/2025), peluncuran kacamata pintar ini diperkenalkan langsung oleh CEO Meta, Mark Zuckerberg, di acara Meta Connect 2025, bersamaan dengan kontroler wristband.

    Kemudian, menurut salah satu postingan di Gizmochina, kecamata AI ini hadir dengan dual sensor kamera ultrawide sebesar 12MP di bagian depan, dan lima buah mikrofon untuk setup audio.

    Baca selengkapnya di sini

  • Rilis Pengganti HP, Mark Zuckerberg Klaim Kunci Kecerdasan Super

    Rilis Pengganti HP, Mark Zuckerberg Klaim Kunci Kecerdasan Super

    Jakarta, CNBC Indonesia – Meta meluncurkan kacamata pintar pertamanya yang menggunakan layar tertanam (built-in display). Perangkat yang diproduksi bersama Ray-Ban ini menjadi smart glass pertama yang dipasarkan di era teknologi kecerdasan buatan (AI).

    CEO Mark Zuckerberg memamerkan fitur Meta Ray-Ban Display beserta pengendali berbentuk gelang. Ia mengklaim produk kacamata pintar Meta adalah cara terbaik untuk menusia mencapai “kecerdasan super” atau superintelligence memanfaatkan AI.

    “Kaca mata adalah perangkat terbaik untuk superintelligence personal, karena membiarkan Anda mengalami sekitar sambil mengakses semua fitur AI yang membuat Anda lebih pintar, membantu komunikasi, mendukung ingatan, memperkuat sensori, dan lainnya,” kata Zuckerberg seperti dikutip Reuters.

    Kacamata baru Meta memiliki layar kecil di lensa sebelah kanan yang bisa menampilkan fitur dasar seperti notifikasi. Smartglasses Meta dibanderol dengan harga mulai US$799 dan tersedia di pasaran mulai 30 September. Pengendali gelang disediakan bersama produk kacamata untuk menerjemahkan gestur tangan.

    Foto: Mark Zuckerberg menunjukkan display di kaca meta Meta Ray-Ban yang dikenakannya. (Tangkapan Layar Youtube)
    Mark Zuckerberg menunjukkan display di kaca meta Meta Ray-Ban yang dikenakannya. (Tangkapan Layar Youtube)

    Zuckerberg sepertinya ingin menjadikan teknologi kaca mata pintarnya dalam kompetisi keras pengembangan teknologi AI. Saat ini, Meta AI dinilai masih tertinggal dibanding ChatGPT milik OpenAI dan Gemini milik Google.

    Meta juga meluncurkan kacamata pintar baru lewat kerja sama dengan Oakley yang diberi nama Vanguard. Kacamata jenis baru ini didesain untuk atlet dan dirilis dengan harga mulai US$499.

    Vanguard terintegrasi dengan platform teknologi fitnes seperti Garmin dan Strava sehingga bisa menampilkan statistik aktivitas dan analisis secara real-time, dengan baterai yang bertahan hingga 9 jam.

    Meta Ray-Ban generasi sebelumnya juga diupdate. Meskipun belum dilengkapi oleh layar, produk sebelumnya dirilis dengan baterai yang bertahan dua kali lebih lama dengan kamera yang lebih baik.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Kacamata AI Canggih dengan Kontrol Saraf

    Kacamata AI Canggih dengan Kontrol Saraf

    Jakarta

    Meta resmi meluncurkan Ray-Ban Display, kacamata pintar AI generasi baru yang menggabungkan desain klasik Ray-Ban dengan layar mini penuh warna serta gelang pengontrol saraf Meta Neural Band. Produk ini diperkenalkan langsung oleh CEO Meta, Mark Zuckerberg, di acara Meta Connect 2025.

    Meta Ray-Ban Display menghadirkan layar penuh warna beresolusi tinggi di sisi kanan lensa. Pengguna dapat melihat notifikasi, pesan, navigasi, hingga terjemahan real-time tanpa perlu menyentuh ponsel. Layar ini hanya aktif saat dibutuhkan sehingga tidak mengganggu pandangan.

    Setiap pembelian kacamata sudah termasuk Meta Neural Band, gelang berbasis elektromiografi (EMG) yang mendeteksi sinyal saraf-otot di pergelangan tangan. Dengan gerakan jari halus, pengguna bisa menggulir menu, mengetik di udara, hingga mengontrol kamera secara intuitif.

    Meta Ray-Ban Display Foto: Meta

    Teknologi EMG Meta dikembangkan selama empat tahun dengan lebih dari 200 ribu partisipan dan dirancang agar akurat untuk hampir semua orang, termasuk penyandang disabilitas.

    Berikut beberapa fitur unggulan Meta Ray-Ban Display dan Neural Band:

    Meta AI Visual: AI tidak hanya menjawab dengan suara, tetapi juga menampilkan panduan langkah demi langkah di layar.Pesan & Panggilan Video: Teks, foto, hingga panggilan video bisa dilihat dan diterima langsung dari kacamata.Navigasi Pejalan Kaki: Petunjuk belokan demi belokan ditampilkan di layar secara visual.Terjemahan Real-Time: Subtitle percakapan atau terjemahan bahasa asing langsung di depan mata.Kontrol Musik: Navigasi playlist dan atur volume lewat gerakan tangan.Meta Ray-Ban Display Foto: MetaMeta Ray-Ban Display Foto: Meta

    Kacamata ini tetap tampil modis dengan desain Ray-Ban yang ikonik. Lensa Transitions otomatis menggelap di bawah sinar matahari. Neural Band hadir dalam tiga ukuran, tahan air IPX7, baterai hingga 18 jam, dan menggunakan material Vectran – bahan superkuat yang juga dipakai di Mars Rover NASA.

    Harga & Ketersediaan

    Meta Ray-Ban Display dibanderol mulai USD 799 atau kisaran Rp 13 jutaan (termasuk kacamata + Neural Band) dan tersedia dalam warna Hitam dan Pasir. Baterai kacamata mampu bertahan hingga 6 jam penggunaan campuran (30 jam dengan case pengisi daya).

    Meta Ray-Ban Display Foto: Meta

    Penjualan dimulai 30 September 2025 di Amerika Serikat melalui Best Buy, LensCrafters, Sunglass Hut, dan Ray-Ban Stores. Ekspansi ke Kanada, Prancis, Italia, dan Inggris dijadwalkan awal 2026.

    Tiga Kategori Kacamata AI Meta

    Peluncuran ini melengkapi lini kacamata AI Meta:

    Meta Ray-Ban Display Foto: MetaKacamata AI Kamera: Ray-Ban dan Oakley dengan kamera AI.Kacamata AI Display: Meta Ray-Ban Display sebagai pionir layar kontekstual.Kacamata AR: Prototipe Orion dengan layar holografik besar, versi konsumen segera hadir.

    (afr/afr)

  • Mark Zuckerberg Mau Rilis Perangkat Pengganti HP, Segini Harganya

    Mark Zuckerberg Mau Rilis Perangkat Pengganti HP, Segini Harganya

    Jakarta, CNBC Indonesia – CEO Meta (Facebook, WhatsApp, Instafram), Mark Zuckerberg, pernah menyebut kacamata pintar (smart glasses) akan menjadi teknologi masa depan yang menggantikan fungsi HP.

    Zuckerberg mengatakan ada 1-2 miliar orang di dunia yang menggunakan kacamata setiap hari. Berdasarkan fakta tersebut, peralihan HP ke smart glasses bukan hal aneh.

    “Kacamata pintar akan secara bertahap menggantikan ponsel pada 2030, mirip dengan bagaimana perangkat seluler menyalip komputer tanpa sepenuhnya menggantikannya,” kata Zuckerberg di acara tahunan Connect Meta 2024, dikutip dari Forbes.

    Optimisme Zuckerberg berbanding lurus dengan upayanya menelurkan smart glasses yang kian canggih dari tahun-ke-tahun. Kabarnya, Meta akan meluncurkan smart glasses teranyar di ajang Connect Meta 2025 pada pekan ini.

    Peningkatan smart glasses terbaru Meta diprediksi tampak pada kemampuan realitas tertambah (augmented reality) berbasis kecerdasan buatan (AI) yang makin mumpuni.

    Smart glasses ini dikatakan akan menjadi yang pertama digelontorkan untuk konsumen dengan layar built-in. Analis memprediksi harga ritelnya mencapai US$800 (Rp13 jutaan), dikutip dari Reuters, Rabu (17/9/2025).

    Secara internal, smart glasses tersebut memiliki nama kode “Hypernova”. Namun, saat dirilis kabarnya namanya berubah menjadi “Celeste”.

    Analis mengatakan smart glasses ini akan memiliki layar digital kecil di bagian kanan lensa untuk fungsi standar seperti notifikasi.

    Diketahui, Zuckerberg sudah menggelontorkan uang sebesar US$60 miliar sejak 2020 untuk mengembangkan unit augmented reality Meta.

    Sebelumnya, Meta juga cukup berhasil dalam menjual smart glasses yang menggandeng Ray-Ban. Menurut laporan, smart glasses tersebut sudah terjual 2 juta unit sejak 2023.

    Namun, jika benar harga smart glasses terbaru Meta tembus US$800, analis menilai akan sulit meraup pangsa pasar. Pasalnya, smart glasses Meta Ray-Ban yang cukup berhasil hanya dipatok mulai US$299.

    Kita tunggu saja seperti apa smart glasses terbaru Meta dan berapa harga pastinya saat resmi meluncur!

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Proyek Bunker Kiamat Orang Super Kaya, Ada Kolam Renangnya

    Proyek Bunker Kiamat Orang Super Kaya, Ada Kolam Renangnya

    Jakarta

    Dalam beberapa tahun terakhir, para kaum ultra kaya diam-diam telah mempersiapkan rumah mereka untuk bencana besar, dengan membangun bunker bawah tanah super mewah.

    CEO Meta, Mark Zuckerberg, membangun kompleks USD 300 juta di Hawaii, lengkap dengan bunker luas yang memiliki infrastruktur energi, air, dan makanan sendiri. Adapun Bill Gates dilaporkan memiliki bunker di bawah beberapa rumahnya. Dari kalangan selebriti, Kim Kardashian dan Shaquille O’Neal, kabarnya menjajaki ide tersebut.

    “Yang dulunya merupakan tempat perlindungan sederhana telah menjadi tempat perlindungan yang dirancang khusus. Klien masa kini menginginkan fitur yang mencerminkan gaya hidup mereka, seringkali dengan sentuhan yang sangat individual,” ujar Naomi Corbi dari SAFE, firma yang desain hunian yang aman.

    Corbi mengatakan klien meminta fasilitas seperti galeri seni ber-AC, teater pribadi, dan kebun hidroponik. Fasilitas lain bisa berupa pusat kebugaran, kolam renang, sauna, tempat tinggal staf, dan apa pun yang bisa membuat bertahan hidup di tengah krisis terasa jauh lebih nyaman.

    Oppidum, perusahaan spesialis hunian bawah tanah terlindung, mengatakan privasi adalah kunci. “Salah satu prinsip desain hunian adalah Anda tidak ingin siapa pun mengetahuinya. Saya jarang sekali bertemu langsung klien miliarder. Dan bahkan ketika bertemu, mereka selalu punya nama samaran,” jelas Tom Grmela, kepala komunikasi perusahaan itu.

    Douglass Rushkoff, yang mewawancarai para miliarder yang siap siaga menghadapi bencana untuk bukunya Survival of the Richest, mengatakan banyak dari mereka ingin menjauhkan orang asing dari tempat perlindungan.

    “Orang-orang ini tidak lagi didorong oleh rasa takut, melainkan oleh keinginan. Gagasan untuk terisolasi di stasiun luar angkasa atau bunker bawah tanah adalah hal yang baik bagi banyak orang seperti mereka,” cetusnya yang dikutip detikINET dari Yahoo News.

    Selain bunker pribadi, ada pula yang menginginkan bunker untuk banyak orang. Perusahaan Vivos mengkhususkan diri dalam kompleks seperti ini, dapat menampung hingga 800 orang dan lebih murah daripada bunker individu.

    “Ini seperti kapal pesiar bawah tanah. Ada kamar asrama pribadi, area tidur pribadi, kamar mandi pribadi, dan lainnya. Tapi secara keseluruhan, ini adalah area bersama dengan ruang-ruang berorientasi komunitas tempat orang bisa berkumpul, makan bersama, dan bersantai,” kata Dante Vicino, arsitek dan pimpinan proyek Vivos.

    Rushkoff sendiri mengusulkan sebaiknya bunker tidak dibuat untuk diri sendiri. “Jika Anda benar-benar ingin selamat dari kiamat, temui tetangga Anda, jalin pertemanan, dan bentuklah komunitas dengan orang lain. Itu adalah teknik bertahan hidup yang jauh lebih mungkin daripada mengisolasi diri sepenuhnya di bawah tanah,” katanya.

    (fyk/rns)

  • Blak-blakan Mark Zuckerberg, Kesal Akun Ditutup Hingga Gugat Meta

    Blak-blakan Mark Zuckerberg, Kesal Akun Ditutup Hingga Gugat Meta

    Jakarta

    Mark Zuckerberg meluapkan kekesalannya hingga menggugat Meta. Pasalnya, Meta memblokir akunnya berulangkali karena mencurigai dia mempermainkan nama sang bos, yang juga adalah Mark Zuckerberg.

    Mark Zuckerberg ini adalah seorang pengacara kebangkrutan di Indianapolis, Amerika Serikat, yang sudah 38 tahun berkarier. Dia mengalami masalah kesalahan identitas di Facebook selama 15 tahun karena berbagi nama dengan pendirinya.

    Akun pribadinya yang terverifikasi telah ditutup lima kali, dan setelah kehilangan dana iklan sebesar USD 11.000 ketika halaman firma hukumnya ditutup pada bulan Mei untuk keempat kalinya, ia mengajukan gugatannya ke pengadilan.

    “Biasanya Anda akan berkata, ya, ini hanya Facebook dan bukan masalah besar, tapi kali ini hal ini memengaruhi keuntungan saya karena saya membayar iklan untuk bisnis saya dalam upaya mendapatkan klien,” katanya yang dikutip detikINET dari New York Post.

    “Jadi mereka mengambil uang saya, tapi setelah mengambilnya, mereka menutup saya karena apa yang mereka katakan menyamar sebagai selebritas, tidak menggunakan nama asli, dan melanggar standar komunitas mereka. Dan itu pesan yang sama yang saya terima setiap kali mereka menutup saya,” keluhnya.

    Zuckerberg menuduh perusahaan induk Facebook itu lalai dan melanggar kontrak lantaran menangguhkan akunnya karena alasan yang tidak berdasar dan tidak pantas.

    Halaman Facebook-nya pertama kali dinonaktifkan tahun 2010, dan setiap kali sejak itu, dia harus menjalani proses banding sangat panjang. Itu termasuk mengirimkan foto diri, SIM, dan kartu kredit, untuk membuktikan bahwa dia orang sungguhan dan tidak iseng meniru nama Mark Zuckerberg.

    “Saya pikir sangat menyinggung bahwa perusahaan yang seharusnya sangat paham teknologi di dunia tidak dapat menemukan cara untuk menandai akun saya dan mencegah hal ini terjadi,” kata Zuckerberg, yang telah berpraktik hukum kepailitan selama 38 tahun.

    Meta sendiri mengaku sudah mengaktifkan kembali akunnya. “Kami tahu ada lebih dari satu Mark Zuckerberg di dunia, dan kami sedang menyelidiki masalah ini,” kata juru bicara Meta.

    Meskipun Zuckerberg bercanda bahwa berbagi nama CEO Meta yang terkenal itu memiliki keuntungan tersendiri, cseperti mendapatkan meja yang bagus di restoran setelah melakukan reservasi, hal itu juga menyebabkan masalah.

    Firma hukumnya sering ditelepon pengguna Facebook yang mencari bantuan, menerima banyak paket yang ditujukan untuk tokoh media sosial tersebut, dan tahun 2020, ia secara keliru dituntut Departemen Layanan Sosial di Washington atas dugaan eksploitasi finansial.

    Zuckerberg terpaksa masih mengandalkan platform seperti Facebook untuk menarik klien baru dan bersaing dengan praktik hukum lokal lain yang juga menghabiskan uang iklan di jejaring sosial tersebut. “Faktanya adalah mereka memengaruhi bisnis saya sekarang, klien saya tak bisa menemukan saya,” ucap pengacara yang frustrasi itu.

    (fyk/fay)