Tag: Mark Zuckerberg

  • Cek Cara Buat Gambar Pakai Meta AI di Aplikasi WhatsApp – Page 3

    Cek Cara Buat Gambar Pakai Meta AI di Aplikasi WhatsApp – Page 3

    Untuk diketahui, Meta kian agresif menjadikan asisten AI sebagai bagian penting dalam aplikasinya dan tampaknya upaya tersebut mulai terbayar. Pasalnya, Meta AI kini punya banyak pengguna di seluruh dunia.

    Dalam video yang diunggah di Instagram pribadinya, Founder sekaligus Bos Meta, Mark Zuckerberg, menyebut kalau Meta AI kini dipakai oleh hampir 600 juta pengguna aktif bulanan.

    “Meta AI ditargetkan jadi asisten AI paling banyak dipakai di dunia hingga akhir 2024,” kata Zuckerberg dalam video yang ia unggah di akun Instagram @zuck.

    Zuck pun mempersilakan pengguna yang belum pernah menjajal Meta AI untuk mencobanya, terutama Meta AI dengan perintah suara.

    Capaian 600 juta pengguna itu terbilang cukup cepat, padahal, Meta AI baru debut sekitar November tahun lalu. Perkembangannya cukup pesat karena pada Oktober ini, jumlah penggunanya sudah mencapai lebih dari 500 juta user.

    Mark Zuckerberg juga mengatakan, peningkatan jumlah pelanggan ini tidak lepas dari perilisan model bahasa open source Llama 3.3 70B terbaru Meta yang membuat Meta AI kian pintar dan kontekstual.

    Menurut Meta, sebagaimana dikutip The Verge, Minggu (8/12/2024), model teks baru ini memiliki performa yang mirip dengan model Llama 3.1 405B, namun biayanya jauh lebih efisien.

  • Facebook Kembangkan AI untuk Lindungi Perempuan

    Facebook Kembangkan AI untuk Lindungi Perempuan

    JAKARTA, (VOI.id) – Facebook memperbaiki kebijakan dan teknologi yang mereka gunakan untuk melindungi para perempuan pengguna platform tersebut dari para pengganggu di dunia maya.

    “Tema umum mengenai keamanan perempuan cenderung sama di berbagai tempat di dunia. Tapi jika melihat lebih spesifik ke negara atau wilayah tertentu, perilaku sangat dipengaruhi budaya setempat,” kata Wakil Direktur Manajemen Kebijakan Global Monica Bickert dikutip dari blog resmi Facebook, Rabu 30 Oktober.

    Facebook mempertajam kemampuan kecerdasan buatan dan machine learning mereka agar secara proaktif dapat mendeteksi gambar dan video telanjang atau hampir telanjang yang dibagikan tanpa izin, tanpa harus menunggu laporan dari pengguna.

    Perusahaan yang berbasis di San Francisco, AS itu menggunakan ciri khas digital (digital fingerprint) dan teknologi pencocokan foto (photo-matching) untuk menghapus dan memblokir foto tersebut agar tidak bisa dibagikan lagi di platform Facebook dan Instagram.

    Facebook juga memperbarui kebijakan mereka untuk memahami isu keamanan perempuan di dunia maya, setelah berdiskusi dengan ahli dan organisasi pemberdayaan perempuan dari berbagai negara.

    Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu menemukan setiap negara atau wilayah bisa jadi memiliki isu pelecehan seksual yang berbeda berdasarkan norma dan kebiasaan yang berlaku di negara itu.

    Contohnya, menurut Facebook, perempuan di Amerika Serikat merasa dilecehkan jika foto tanpa busananya tersebar di dunia maya. Sedangkan perempuan di negara lain merasa dipermalukan jika ada yang mengunggah fotonya bersama laki-laki yang bukan anggota keluarganya.

    “Untuk menyikapi perbedaan tipe pelecehan yang luas itu, aturan kami harus bijaksana dan komprehensif,” kata Facebook dalam blog.

    Facebook juga memberikan fitur khusus bagi para perempuan pengguna platform tersebut di India, Pakistan dan Mesir, berupa kontrol untuk mengatur siapa yang bisa mengunduh dan membagikan foto profil mereka.

    Perempuan pengguna Facebook di negara tersebut, juga organisasi keamanan siber, memiliki kekhawatiran foto profil mereka dicuri dan digunakan untuk membuat akun palsu yang bertujuan mempermalukan mereka atau keluarga mereka.

    Facebook secara global juga memberikan peralatan untuk mengelola akun, antara lain mengabaikan pesan yang tidak diinginkan dan memblokir akun lain tanpa sepengetahuan pemilik akun tersebut.

  • Elon Musk & Mark Zuckerberg Kompak Layangkan Protes ke OpenAI, Soal Apa?

    Elon Musk & Mark Zuckerberg Kompak Layangkan Protes ke OpenAI, Soal Apa?

    Bisnis.com, JAKARTA – Bos Meta, Mark Zuckerberg mengikuti langkah Elon Musk untuk mencegah OpenAI bertransformasi dari organisasi nirlaba menjadi perusahaan yang berorientasi pada keuntungan.

    Melansir dari Techcrunch, Minggu (15/12/2024), Meta yang merupakan perusahaan induk Facebook dan Instagram mengirimkan surat kepada Jaksa Agung California, Rob Bonta, yang didalamnya berisi kekhawatiran tentang dampak perubahan tersebut terhadap industri teknologi di Silicon Valley.

    Menurut laporan The Wall Street Journal, dalam surat tersebut, Meta menegaskan bahwa perubahan model bisnis OpenAI dapat menimbulkan implikasi besar bagi Silicon Valley dan berpotensi mengubah dinamika investasi di sektor teknologi. 

    Meta meminta Bonta untuk mengambil tindakan langsung terhadap perubahan yang dilakukan oleh OpenAI.

    Sebab, jika OpenAI beralih menjadi perusahaan laba, investor nirlaba yang sebelumnya terlibat akan kehilangan keuntungan dari status pajak khusus yang mereka dapatkan.

    “Jika model bisnis baru OpenAI valid, investor nirlaba akan mendapatkan keuntungan yang sama seperti investor konvensional, namun tetap mendapatkan manfaat dari pengurangan pajak yang diberikan pemerintah,” ujar Meta dalam suratnya.

    Pertarungan ini menambah ketegangan di dunia teknologi, di mana beberapa perusahaan besar, termasuk Meta dan xAI, berkompetisi ketat dengan OpenAI dalam pengembangan kecerdasan buatan.

    Diberitakan sebelumnya, Pemilik Perusahaan kecerdasan buatan xAI dan SpaceX Elon Musk kembali menggugat OpenAI. Gugatan ini menyoroti niat perusahaan untuk beralih menjadi organisasi yang mencari laba.

    Melansir dari The Verge, Senin (2/12/2024) dalam pengajuan mosi yang diajukan Jumat malam, pengacara Musk meminta hakim untuk mengeluarkan putusan pendahuluan yang menghentikan peralihan bentuk perusahaan tersebut.

    Sebab, apa yang nantinya dilakukan OpenAI bakal melanggar undang-undang antimonopoli Amerika Serikat.

    Menurut pengacara Musk, jika OpenAI benar-benar menjadi perusahaan yang mencari laba, pihak Musk khawatir OpenAI akan kekurangan dana untuk membayar ganti rugi jika Musk memenangkan gugatan tersebut. 

    Tidak hanya itu, dalam gugatan ini juga menyoroti dugaan bahwa CEO OpenAI, Sam Altman terlibat dalam transaksi yang diduga untuk kepentingan pribadi, yang dapat merugikan keuangan perusahaan.

    Pengacara Musk juga menuduh bahwa OpenAI dan Microsoft bekerja sama untuk menekan pesaing mereka, termasuk dengan meminta investor untuk tidak mendanai proyek bersama mereka. Hal ini, menurut pengacara Musk, melanggar ketentuan Undang-Undang Sherman yang mengatur persaingan usaha. 

  • Zuckerberg dan Bezos Sumbang Miliaran untuk Pelantikan Trump

    Zuckerberg dan Bezos Sumbang Miliaran untuk Pelantikan Trump

    Washington

    Donald Trump akan dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat pada awal tahun 2025. Untuk mendukung pelantikan itu, para raksasa teknologi menyumbangkan uangnya.

    Raksasa toko online Amazon berencana menyumbang USD 1 juta atau Rp 16 miliar untuk dana pelantikan Trump. Juru bicara Amazon mengungkap mereka juga akan menyiarkan pelantikan Trump di Prime Video.

    Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, juga menyebut telah menyumbang USD 1 juta untuk dana pelantikan Trump. Baik Jeff Bezos, pemilik Amazon dan Mark Zuckerberg selaku bos Meta, tampaknya ingin menjalin hubungan baik dengan Trump setelah dulu sempat berseteru.

    Trump menyebut Bezos berencana mengunjunginya langsung. Kedua pria itu berselisih di masa lalu. Di masa jabatan pertamanya, Trump mengkritik Amazon dan mencela liputan politik Washington Post, yang dimiliki Bezos. Bezos juga mengkritik beberapa retorika Trump di masa lalu.

    Tahun 2019, Amazon berargumen dalam kasus pengadilan bahwa bias Trump terhadap perusahaan tersebut merusak peluangnya memenangkan kontrak Pentagon senilai USD 10 miliar.

    Saat ini, Bezos melunak dan menyatakan dia optimis tentang masa jabatan kedua Trump. Dikutip detikINET dari Associated Press, dia juga mendukung rencana presiden terpilih untuk memangkas regulasi.

    Di Oktober, Bezos tak mengizinkan Post mendukung kandidat presiden, menyebabkan puluhan ribu orang membatalkan langganan dan protes dari jurnalis. Washington Post biasanya mendukung calon dari Partai Demokrat.

    Secara terpisah, donasi dari Meta datang beberapa minggu setelah Zuckerberg bertemu Trump secara pribadi di Mar-a-Lago. Stephen Miller, wakil kepala staf untuk masa jabatan kedua Trump, mengatakan bahwa Zuck seperti pemimpin bisnis lainnya, ingin mendukung rencana ekonomi Trump.

    Trump sempat ditendang dari Facebook setelah serangan 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS. Perusahaan itu memulihkan akunnya awal tahun 2023. Selama kampanye 2024, Zuckerberg tidak mendukung siapa pun, tapi sikapnya lebih positif terhadap Trump. Awal tahun ini, ia memuji tanggapan Trump terhadap upaya pembunuhan yang menimpanya.

    Namun, Trump sempat terus menyerang Zuckerberg di depan umum selama kampanye. Pada bulan Juli, ia mengunggah pesan di platform Truth Social miliknya yang mengancam akan memenjarakan para penipu pemilu termasuk Zuckerberg.

    Perusahaan secara tradisional melakukan donasi pelantikan presiden. Google menyumbang masing-masing USD 285.000 untuk pelantikan pertama Trump dan pelantikan Biden. Panitia pelantikan diharuskan mengungkap sumber dana, tapi tidak untuk bagaimana mereka membelanjakan uang tersebut. Microsoft menyumbang USD 1 juta untuk pelantikan Obama yang kedua, tapi hanya USD 500.000 untuk Trump tahun 2017 dan Biden di 2021.

    (fyk/fay)

  • Ikuti Zuckerberg, Giliran Jeff Bezos dan Bos Google Sowan ke Trump

    Ikuti Zuckerberg, Giliran Jeff Bezos dan Bos Google Sowan ke Trump

    Jakarta

    Dua bos teknologi akan mengikuti jejak CEO Meta Mark Zuckerberg untuk menemui Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump. Keduanya adalah CEO Google Sundar Pichai dan pendiri Amazon Jeff Bezos.

    Menurut laporan The Information, Pichai sudah terbang ke Palm Beach, Florida untuk bertemu Trump pada Kamis (12/12) kemarin. Sementara itu, Bezos akan bertemu Trump pada pekan depan.

    Trump memiliki hubungan yang kurang baik dengan Google. Ia pernah mengklaim bahwa mesin pencari itu ‘dicurangi’ untuk menyembunyikan berita positif tentangnya.

    Namun, dalam beberapa pekan terakhir Trump mengklaim bahwa Pichai pernah menghubunginya via telepon. Saat ditanya tentang panggilan telepon tersebut di acara The New York Times Deal Book Summit pekan lalu, Pichai mengatakan panggilan itu tidak ada hubungannya dengan kasus anti-monopoli yang saat ini dihadapi Google.

    Sumber The Information meyakini Pichai tidak akan melakukan pendekatan langsung kepada Trump tentang gugatan anti-monopoli atau topik regulasi lainnya, seperti dikutip dari The Verge, Sabtu (14/12/2024).

    Saat ditanya apakah ia ingin memecah Google, Trump mengatakan ia akan melakukan sesuatu. Seperti diberitakan sebelumnya, Kementerian Kehakiman AS belum lama ini meminta Google untuk menjual browser Chrome untuk guna mengakhiri monopoli di sektor pencarian online.

    Sama seperti sejumlah perusahaan Big Tech lainnya, Trump memiliki hubungan yang renggang dengan Bezos dan Amazon. Meski begitu, Bezos belum lama ini mengaku optimistis dengan pemerintahan Trump.

    Pichai dan Bezos bukan satu-satunya bos teknologi yang berusaha memperbaiki hubungannya dengan Trump. Zuckerberg bulan lalu juga bertemu Trump untuk makan malam di kediamannya di Mar-a-Lago.

    Meta juga menyumbangkan USD 1 juta untuk pelantikan Trump yang akan digelar pada Januari 2025. Tidak lama kemudian, Amazon juga dikabarkan akan memberikan donasi dengan jumlah yang sama untuk pelantikan Trump serta menyiarkannya lewat livestream di Prime Video.

    (vmp/fay)

  • Ogah Dukung Trump, Zuckerberg Kini Keluar Uang Rp 16 Miliar

    Ogah Dukung Trump, Zuckerberg Kini Keluar Uang Rp 16 Miliar

    Jakarta, CNBC Indonesia – CEO Meta Platforms (Facebook, WhatsApp, Instagram) Mark Zuckerberg menolak mendukung Donald Trump atau Kamala Harris dalam kontestasi Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) 2024.

    Namun, setelah Trump dinyatakan menang, Zuckerberg tampak mulai merapat. Laporan Reuters, dikutip Jumat (13/12/2024), menyebut Meta mendonasikan US$1 juta (Rp 16 miliar) untuk mendanai pelantikan Trump.

    The Wall Street Journal, yang pertama kali melaporkan berita tersebut, mengatakan donasi tersebut berangkat dari dari kebiasaan selama ini yang dilakukan oleh Zuckerberg dan Meta.

    Sebelumnya, Zuckerberg juga sempat memuji Trump pasca upaya penembakan yang menimpa dirinya pada 13 Juli lalu. Zuckerberg mengatakan aksi Trump yang tenang sebagai “salah satu hal paling menakjubkan yang saya lihat selama hidup”.

    Trump sendiri kerap mengolok-olok Meta karena menilai platform-platform perusahaan kerap menyebarkan konten negatif tentang dirinya.

    Pada akhir November lalu, Zuckerberg sudah bertemu dengan Trump, menurut laporan New York Times. Pertemuan itu dikatakan merupakan upaya Zuckerberg untuk mendekatkan diri ke Trump yang akan memimpin pemerintahan AS selanjutnya.

    Ketegangan Trump dan Meta memuncak pada Pilpres AS 2020. Kala itu, Trump menuduh Meta menyembunyikan konten-konten yang berdampak negatif ke lawannya, Joe Biden.

    Meta juga memblokir akun Facebook dan Instagram Trump selama 2 tahun, menyusul kerusuhan pada Januari 2021 lalu.

    (fab/fab)

  • Meta Donasi Rp15,8 Miliar, Perseteruan Mark Zuckerberg vs Donald Trump Berakhir?

    Meta Donasi Rp15,8 Miliar, Perseteruan Mark Zuckerberg vs Donald Trump Berakhir?

    Bisnis.com, JAKARTA – Meta, perusahaan teknologi induk Facebook dan Instagram, memberikan dana sebesar US$1 juta atau Rp15,8 miliar untuk pelantikan Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump. Mark Zuckerberg dan Trump sempat berseteru sejak 2020.

    Donasi Ini merupakan kali pertama Bos Meta Mark menyatakan dukungan kepada Trump. Selama pilpres AS 2024, Mark memilih diam dan tidak memihak pasangan calon manapun. 

    Namun, setelah Trump dinyatakan menang, Mark melunak dan mulai mendekati Trump. Financial Time, Jumat (13/12/2024) melaporkan bahwa Mark bertemu dengan Trump pada November dan sekarang memberikan donasi belasan miliar rupiah kepada Trump. 

    Meta mengambil langkah strategis untuk menarik hati Trump yang sudah sangat dekat dengan Elon Musk, rival Mark. Bos X.com itu bahkan diajak Trump masuk ke dalam kabinetnya. 

    Ketegangan Trump vs Marks

    Keduanya sempat berseteru pada pemilu tahun ini. Trump melontarkan kritikan pedas kepada Mark dan menuding bahwa Meta membatasi konten negatif yang menyerang Biden, tetapi membiarkan konten negatif untuk Trump berkeliaran di Facebook dan Instagram. 

    Trump juga sempat mengancam akan menjebloskan Mark ke penjara karena Mark dituding berkomplot melawannya selama pemilihan 2020. 

    Dalam postingannya pada Juli 2024, Trump juga menulis bahwa jika terpilih, dia akan mengejar ‘pemberontak dan pembual pemilu’. Mereka akan dikirim ke penjara untuk jangka waktu yang lama.

    “Kami sudah tahu siapa kalian. Jangan lakukan itu! ZUCKERBUCKS, berhati-hatilah!” kata Trump. 

    Sementara itu, sebelumnya pada 2021, Zuckerberg memblokir Trump dari Facebook dan Instragram karena Trump dianggap punya andil dalam kerusuhan 6 Januari di gedung US Capitol. Kerusuhan itu buntut dari hasil pemilu 2020, di mana Partai Republik kalah dari Partai Demokrat yang mengusung Joe Biden.  

    Selama kampanye 2020, Zuckerberg mendonasikan USD400 juta (Rp6,3 triliun) pada sejumlah institusi yang mayoritas dikuasai Partai Demokrat agar mendorong proses pemungutan suara yang lebih mudah dan demokrasi. 

  • Meta AI Punya 600 Juta Pengguna Bulanan, Apa Saja Kemampuannya?

    Meta AI Punya 600 Juta Pengguna Bulanan, Apa Saja Kemampuannya?

    Jakarta, CNN Indonesia

    Meta mencatat pencapaian baru, dengan teknologi chatbot AI andalan mereka, Meta AI kini sudah digunakan oleh ratusan juta pengguna bulanan di seluruh dunia.

    Hal tersebut disampaikan oleh pendiri Meta, Mark Zuckerberg, dalam sebuah postingan di platform media sosial Threads.

    “Meta AI sekarang memiliki hampir 600 juta pengguna aktif bulanan,” kata Zuck dalam postingannya beberapa waktu lalu, melansir Engadget, Rabu (11/12).

    Informasi ini disampaikan berbarengan dengan peluncuran model Llama 3.3 70B terbaru dari Meta. Menurut Meta, model teks terbaru ini memiliki “performa yang mirip dengan model Llama 3.1 405B,” namun dengan harga yang lebih murah.

    Ahmad Al-Dahle, Wakil Presiden AI generatif di Meta, dalam sebuah unggahan menunjukkan bahwa Llama 3.3 mendapat skor lebih tinggi pada beberapa tolok ukur dibandingkan dengan Gemini Pro 1.5 dari Google dan GPT-4o dari OpenAI.

    Zuckerberg juga sempat mengisyaratkan rilis besar berikutnya adalah perilisan Llama 4. Ia mengungkap bahwa rilis Llama 3.3 adalah pembaruan AI besar terakhir tahun ini.

    Zuckerberg sejauh ini masih bungkam mengenai apa yang akan ada di Llama 4, meskipun ia telah memberikan beberapa petunjuk. Sang CEO mengatakan pada awal tahun ini bahwa model tersebut sedang dilatih pada sebuah klaster yang terdiri dari lebih dari 100.000 H100 dengan perkiraan peluncuran salah satu model Llama 4 yang “lebih kecil” “pada awal tahun depan.”

    Meta AI hadir tidak hanya sebagai asisten digital tetapi juga dalam bentuk karakter-karakter unik dengan kepribadian berbeda.

    Meta AI adalah asisten pintar yang dibangun menggunakan teknologi Meta Llama 3, generasi terbaru dari model bahasa buatan Meta. Dengan teknologi ini, Meta mengklaim Llama 3 lebih cepat, cerdas, dan menyenangkan untuk diajak berinteraksi.

    Fitur ini telah dirilis di berbagai aplikasi Meta, seperti Facebook, Instagram, Messenger, dan WhatsApp. WhatsApp menjadi platform utama untuk integrasi Meta AI, yang memungkinkan pengguna mengakses asisten virtual langsung melalui aplikasi chat sehari-hari mereka.

    Meta AI dapat digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk menjawab pertanyaan dan memberikan rekomendasi, berdiskusi tentang minat atau topik tertentu, serta membantu menghasilkan ide kreatif.

    Kemudian, Meta AI juga dapat membuat gambar berbasis AI langsung di dalam obrolan, hingga berinteraksi dengan karakter AI unik yang memiliki kepribadian dan minat tertentu.

    Fitur ini sudah tersedia dalam beberapa bahasa, termasuk Inggris, Prancis, Hindi, Portugis, Spanyol, Tagalog, dan Indonesia. Meski demikian, peluncurannya masih terbatas di beberapa negara dan belum tersedia secara global.

    Meta AI dapat digunakan baik di obrolan pribadi maupun grup. Namun, untuk obrolan grup, pengguna harus menyebutkan @Meta AI selayaknya ingin tag orang di WhatsApp agar fitur ini aktif.

    (tim/dmi)

    [Gambas:Video CNN]

  • Kunker ke Yogyakarta, Menkomdigi Kunjungi Kampung Cyber dan Literasi AI

    Kunker ke Yogyakarta, Menkomdigi Kunjungi Kampung Cyber dan Literasi AI

    Yogyakarta

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid akan melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta pada hari ini, Rabu (11/12/2024). Agenda kali ini, Meutya akan blusukan ke Kampung Cyber yang pernah dikunjungan Pendiri Facebook Mark Zuckerberg, literasi akan judi online, Artificial Intelligence (AI) dan kebutuhan talenta digital nasional.

    Di hari sebelumnya, Meutya telah tiba di Kota Pelajar ini dan langsung makan malam bersama dengan beberapa penggiat komunitas, Siberkreasi, dan organisasi masyarakat setempat, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Persis. Pertemuan tersebut, Meutya didampingi Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, Plt Dirjen Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar, Staf Ahli Menteri sekaligus Plt Dirjen Komunikasi Publik dan Media Molly Prabawati.

    “Nah, kita bicara tentang kolaborasi yang dilakukan oleh Komdigi, sebelumnya dikenal dengan Kominfo ya, untuk membangun program literasi digital khususnya. Kita bicara bagaimana meningkatkan kerjasama, terutama kampanye judi online, dan bagaimana menggunakan internet secara sehat,” tutur Nezar di Yogyakarta, Selasa malam (10/12/2024).

    Pada kesempatan ini pula, Nezar mengungkapkan dibahas pula terkait digital ethics, digital culture, digital safety, dan digital skill.

    Kunjungan Kerja Menkomdigi dan jajaran Komdigi di Yogyakarta. Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET

    “Kita berkomitmen untuk memberikan peningkatan kualitas dari program literasi digital ini, antara lain mengenalkan pada masyarakat terkait deep teknologi, seperti artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Karena ini sudah dipakai di semua sektor dan karena itu masyarakat harus mengenal apa aspek negatifnya, dan di mana aspek positif,” tuturnya.

    Sementara itu, untuk agenda kunjungan kerja Menkomdigi Meutya Hafid beserta jajaran Komdigi pada Rabu (11/12/2024) yang diawali dengan blusukan ke Kampung Cyber dan melakukan dialog dengan warga sekitarnya. Sebagai informasi, Kampung Cyber ini pernah dikunjungi Pendiri Facebook Mark Zuckerberg.

    Setelah itu dilanjutkan dengan menyambangi Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) yang merupakan perguruan tinggi yang dikelola oleh Kementerian Komdigi.

    Kemudian agenda terakhir kunjungan kerja Meutya Hafid ini akan ditutup dengan menghadiri acara di Universitas Gadjah Mada (UGM). Menkomdigi akan menyampaikan respon pemerintah terkait perkembangan teknologi AI di Tanah Air.

    [Gambas:Instagram]

    (agt/rns)

  • Pencapaian Baru, Meta AI Punya 600 Juta Pengguna Bulanan

    Pencapaian Baru, Meta AI Punya 600 Juta Pengguna Bulanan

    Jakarta

    Upaya Meta mendorong asisten AI-nya untuk selalu ada di dalam aplikasi-aplikasinya kini membuahkan hasil menggembirakan. Meta AI kini telah mencapai tonggak pencapaian besar karena telah digunakan oleh ratusan juta pengguna di seluruh dunia.

    Pendiri Meta Mark Zuckerberg melalui pembaruan terbarunya mengungkapkan bahwa Meta AI kini telah dipakai oleh hampir 600 juta pengguna aktif bulanan.

    “Meta AI, yang memulai debutnya pada musim gugur lalu (November), telah melewati 500 juta pengguna dan pada Oktober kini hampir 600 juta,” kata Zuck sebagaimana dikutip detiKINET dari Engadget, Rabu, (11/12/2024).

    Pengumuman tersebut dilakukan bersamaan dengan peluncuran model Llama 3.3 70B terbaru dari Meta. Meta mengatakan bahwa model teks terbaru ini memiliki kinerja yang mirip dengan model Llama 3.1 405B namun dengan harga yang lebih murah.

    Ahmad Al-Dahle, Wakil Presiden AI generatif di Meta memposting grafik di X yang menunjukkan Llama 3.3 mendapat skor lebih tinggi pada beberapa tolok ukur dibandingkan dengan Gemini Pro 1.5 milik Google dan GPT-4o milik OpenAI.

    Zuck juga sempat menyinggung tentang rilis besar berikutnya. Dalam unggahan video yang dibagikan Zuck melalui akun Instagramnya, ia memberikan teaser terkait perilisan besar model AI Meta berikutnya yakni model bahasa Llama 4.

    “Perilisan Llama 3.3 adalah pembaruan AI besar terakhir tahun ini,” ujarnya.

    Namun demikian Zuck sejauh ini masih bungkam mengenai apa yang akan ada di Llama 4, meskipun ia telah memberikan beberapa bocoran.

    Sang CEO mengatakan pada awal tahun ini bahwa model tersebut sedang dilatih pada sebuah klaster yang terdiri dari lebih dari 100.000 H100 dengan perkiraan peluncuran salah satu model Llama 4 yang lebih kecil pada awal tahun depan.

    (jsn/rns)