Tag: Mark Zuckerberg

  • Bos Meta Nick Clegg Tinggalkan Perusahaan Setelah 7 Tahun Mengabdi, Ini Alasannya – Page 3

    Bos Meta Nick Clegg Tinggalkan Perusahaan Setelah 7 Tahun Mengabdi, Ini Alasannya – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Mantan Wakil Perdana Menteri Inggris, Nick Clegg, yang menjadi eksekutif Meta menyatakan bakal meninggalkan perusahaan media sosial tersebut setelah tujuh tahun bekerja.

    Clegg mengumumkan kepergiannya dalam posting di X dan Threads, dengan alasan bahwa “Ini adalah waktu yang tepat bagi saya untuk meninggalkan peran saya sebagai Presiden, Urusan Global di Meta.”

    Clegg akan digantikan oleh Joel Kaplan, seorang eksekutif kebijakan lama dan mantan ajudan Gedung Putih untuk George W. Bush yang dikenal karena hubungannya yang erat dengan lingkaran Republik di Washington. Demikian sebagaimana dikutip dari Engadget, Jumat (3/1/2025).

    Sebagai Chief Global Affairs Officer, Kaplan akan berada dalam posisi yang baik untuk menjalankan campur tangan bagi Meta saat Donald Trump mengambil alih Gedung Putih.

    Clegg bergabung dengan Meta pada 2018, setahun setelah publik Inggris menganggap mantan pemimpin Partai Demokrat Liberal itu tidak dapat dipilih.

    Perusahaan yang saat itu dikenal sebagai Facebook berupaya memperbaiki hubungan politiknya setelah Cambridge Analytica dan skandal lainnya.

    Pada tahun 2022, ia dipromosikan menjadi Presiden Urusan Global, sebuah posisi yang melapor langsung kepada Mark Zuckerberg (jabatan sebelumnya diawasi oleh COO Meta saat itu, Sheryl Sandberg).

  • Headset Quest Meta Dikabarkan Rusak Berminggu-minggu Usai Pembaruan Software

    Headset Quest Meta Dikabarkan Rusak Berminggu-minggu Usai Pembaruan Software

    Bisnis.com, JAKARTA – Perangkat Headset VR Quest milik Meta mengalami kerusakan berminggu-minggu setelah perusahaan milik Mark Zuckerberg itu melakukan pembaharuan perangkat lunak (software). 

    Dalam postingan Meta di platform x.com pada 7 Desember 2024, Meta menyebut sedang melakukan pembaruan perangkat lunak atau software headset Quest 2, Quest 3 dan Quest 3S yang rusak. 

    Namun, The Verge melaporkan hingga Minggu (29/12), pembaruan tersebut tidak kunjung tersedia. Tidak hanya itu, pengguna juga merasakan perangkat mereka bermasalah setelah pembaruan dilakukan. 

    “Kami menyadari bahwa beberapa perangkat Meta Quest 3S baru mengalami masalah dengan pembaruan perangkat lunak awal,” tulis Meta. 

    Meta berupaya memperbaiki perangkat tersebut dan meminta masyarakat bersabar. Tidak ada pergantian headset. 

    Untuk diketahui, Meta Quest adalah seri perangkat virtual reality (VR) yang dikembangkan oleh Meta Platforms, dengan tujuan memberikan pengalaman VR yang imersif dan interaktif.

    Quest memiliki fitur utama antara lain tampilan grafis yang tajam, alat kontrol yang presisi, fitur pelacakan gerak hingga dukungan untuk pengalaman VR sosial.

    Ada 3 Model Meta Quest yaitu Meta Quest 2 (sebelumnya Oculus Quest 2),  Meta Quest Pro dan Meta Quest 3. 

    Adapun permasalahan software Quest sebelumnya juga pernah dikeluhkan pengguna. Kerusakan software membuat perangkat Quest menjadi tidak responsif menurut laporan Techradar.  

    Dari sisi penjualan, pada tahun 2020, Oculus Meta Quest Store mengeklai mengantongi pendatapan US$1 miliar sejak peluncuran Quest pada 2019. Kemudian, pada November 2021, dikabarkan 10 juta unit headset Meta Quest 2 telah terjual. 

    Pesaing Vision Pro

    Model menggunakan perangkat Vision ProPerbesar

    Meta meluncurkan headset mixed reality (MR) Quest 3 mulai dengan harga US$499,99 atau Rp7,8 juta (asumsi kurs Rp15.666/US$) pada Oktober 2023. Quest 3 akan diluncurkan pada 10 Oktober 2023 untuk menandingi Vision Pro Apple.

    Dikutip dari laman Meta, headset ini dapat membuat pengguna mengalami pengalaman mixed reality yang lebih mulus dengan adanya kamera depan dan sensor pendeteksi gerakan. 

    Selain itu, walaupun tidak ada alat yang mendeteksi kaki, sistem komputerisasi dapat mendeteksi gerakan sehingga dapat memprediksi tindakan yang dilakukan kaki.  

    Dikutip dari laman The Verge, headset tersebut akan dua kali lebih tipis, dua kali lebih kuat dibandingkan dengan Quest 2. 

    Setiap pembelian Quest 3 ini juga dilengkapi dengan sepasang controller yang membuat pengalaman mixed reality menjadi lebih optimal.

    Belajar dari pengalaman Quest 2 yang telah menjual hampir 20 juta barang, Meta pun optimistis peluncuran Quest 3 akan sukses. 

    “Kami harus membuktikan kepada masyarakan bahwa semua kekuatan ini, semua fitur baru ini sangat berharga,” ujar Wakil Presiden Meta bidang VR, Mark Rabkin.

    Meta melakukan tindakan tersebut untuk mengalahkan headset Vision Pro Apple yang sudah meluncur ke pasar pada awal 2023. 

    Adapun, Vision Pro Apple dibanderol dengan harga yang jauh lebih mahal, yakni US$3.499 atau senilai Rp54,8 juta 

  • Trump Jadi Juru Selamat TikTok, Kirim Surat Sakti ke Mahkamah Agung

    Trump Jadi Juru Selamat TikTok, Kirim Surat Sakti ke Mahkamah Agung

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden terpilih Donald Trump memiliki kebijakan khusus baru untuk menangani polemik keberadaan TikTok di Amerika Serikat.

    Ia telah mengajukan dokumen hukum kepada Mahkamah Agung untuk meminta penundaan undang-undang yang akan memblokir TikTok sehari sebelum pelantikannya pada 20 Januari 2025, kecuali aplikasi tersebut dijual oleh pemiliknya dari China, ByteDance.

    Padahal, pada periode pertama menjabat sebagai Presiden AS, yakni pada 2017-2021, Trump bersikeras melarang TikTok beredar di negaranya, dengan alasan keamanan nasional.

    “Mengingat sifat unik dan kompleksitas kasus ini, pengadilan sebaiknya mempertimbangkan untuk menunda tenggat waktu yang ditetapkan dalam undang-undang demi memberikan ruang bernapas untuk menangani isu-isu ini,” tulis tim hukum Trump dalam dokumen yang diajukan ke MA, dilansir AFP, dikutip Minggu (29/12/2024).

    Dalam dokumen hukum yang diajukan Trump ke MA tersebut, ia sejatinya tidak mengambil sikap atas legalitas kasus TikTok saat ini.

    “Presiden Trump tidak mengambil posisi atas substansi hukum dalam perselisihan ini,” tulis John Sauer, pengacara Trump, dalam dokumen yang dikenal sebagai amicus curiae atau “teman pengadilan”.

    Sebagai gantinya, Trump meminta pengadilan untuk menunda tenggat waktu divestasi hingga 19 Januari 2025. Hal ini, menurut Sauer, akan memungkinkan pemerintahan Trump yang akan datang untuk mencari resolusi politik terhadap permasalahan tersebut.

    “Dia dengan hormat meminta pengadilan mempertimbangkan untuk menunda tenggat waktu dalam undang-undang divestasi hingga pengadilan memutuskan perkara ini, sehingga memberikan kesempatan bagi Pemerintahan Trump yang akan datang untuk mengejar penyelesaian politik atas pertanyaan-pertanyaan dalam kasus ini,” tulis Sauer.

    Perubahan Sikap

    Selama masa jabatan pertamanya, Trump mengklaim bahwa aplikasi berbagi video yang populer di kalangan anak muda Amerika itu berpotensi digunakan oleh pemerintah China untuk mengakses data pengguna atau memanipulasi konten yang mereka lihat.

    Kekhawatiran ini juga diungkapkan oleh sejumlah pejabat dan politisi lain, termasuk dari partai oposisi.

    Trump saat itu meminta agar TikTok dijual kepada perusahaan AS dengan sebagian hasil penjualannya masuk ke pemerintah. Meski langkah ini gagal dilakukan selama masa jabatannya, penerusnya, Presiden Joe Biden, melangkah lebih jauh dengan menandatangani undang-undang yang melarang aplikasi tersebut dengan alasan serupa.

    Namun, baru-baru ini, Trump menyatakan perubahan sikapnya terhadap TikTok.

    Dalam wawancara dengan Bloomberg sebagaimana dikutip dari AFP, dia mengatakan bahwa TikTok penting untuk menjaga persaingan di dunia media sosial.

    “Sekarang saya berpikir ulang, saya mendukung TikTok, karena Anda butuh persaingan,” kata Trump. “Jika tidak ada TikTok, Anda hanya punya Facebook dan Instagram-dan itu, Anda tahu, hanya Zuckerberg.”

    Komentar ini merujuk pada Mark Zuckerberg, pendiri Facebook dan CEO Meta, perusahaan teknologi yang juga memiliki Instagram.

    (hsy/hsy)

  • Trump Kirim Surat ke Mahkamah Agung AS Minta Tunda Pemblokiran TikTok

    Trump Kirim Surat ke Mahkamah Agung AS Minta Tunda Pemblokiran TikTok

    Jakarta, CNN Indonesia

    Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengajukan surat pada hari Jumat (27/12) yang mendesak Mahkamah Agung negara itu untuk menghentikan sementara undang-undang yang akan melarang TikTok.

    Permintaan Trump itu diminta dipenuhi sehari sebelum pelantikannya pada tanggal 20 Januari 2025, apabila TikTok tidak dijual ke AS oleh pemiliknya di China, ByteDance.

    “Mengingat kebaruan dan sulitnya kasus ini, pengadilan harus mempertimbangkan untuk menunda batas waktu menurut undang-undang guna memberikan lebih banyak ruang untuk mengatasi masalah ini,” tulis tim hukum Trump, seperti dilansir CNN.

    Trump sangat menentang TikTok selama masa jabatan pertamanya tahun 2017-2021 dan mencoba dengan sia-sia untuk melarang aplikasi berbagi video tersebut dengan alasan keamanan nasional.

    Partai Republik yang mengusung Trump menyuarakan kekhawatiran, yang juga disuarakan oleh para pesaing politiknya, bahwa Pemerintah Tiongkok mungkin menyadap data pengguna TikTok AS atau memanipulasi apa yang mereka lihat di platform tersebut.

    Pejabat AS juga telah menyuarakan kekhawatiran atas popularitas TikTok di kalangan anak muda, dengan menuduh bahwa perusahaan induknya tunduk pada Beijing dan bahwa aplikasi tersebut digunakan untuk menyebarkan propaganda, klaim yang dibantah oleh perusahaan dan Pemerintah China.

    Trump meminta perusahaan AS untuk membeli TikTok, dengan Pemerintah berbagi harga jual, tapi penggantinya di kursi Presiden AS kala itu, Joe Biden, melangkah lebih jauh, menandatangani undang-undang untuk melarang TikTok karena alasan yang sama.

    Namun, Trump kini telah membalikkan haluan. Pada konferensi pers minggu lalu, Trump mengatakan bahwa ia memiliki solusi untuk TikTok dan bahwa pemerintahannya akan melihat aplikasi tersebut dan potensi larangannya.

    Awal bulan ini, presiden terpilih tersebut bertemu dengan CEO TikTok Shou Zi Chew di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida. Baru-baru ini, Trump mengatakan kepada Bloomberg bahwa ia telah berubah pikiran tentang aplikasi tersebut.

    “Sekarang (setelah) saya memikirkannya, saya mendukung TikTok, karena Anda membutuhkan persaingan. Jika Anda tidak punya TikTok, Anda punya Facebook dan Instagram – dan itu, Anda tahu, itu Zuckerberg,” ucap Trump.

    Facebook, yang didirikan oleh Mark Zuckerberg dan bagian dari kerajaan teknologi Meta miliknya, termasuk di antara jaringan media sosial yang melarang Trump setelah serangan oleh para pendukungnya di US Capitol pada 6 Januari 2021.

    Larangan tersebut didorong oleh kekhawatiran bahwa Trump akan menggunakan platform tersebut untuk mempromosikan lebih banyak kekerasan. Larangan tersebut pada platform media sosial utama milik Zuckerberg itu kemudian dicabut.

    (wiw/wiw)

    [Gambas:Video CNN]

  • TikTok Segera Diblokir Permanen, Trump Muncul Jadi Juru Selamat

    TikTok Segera Diblokir Permanen, Trump Muncul Jadi Juru Selamat

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, telah mengajukan dokumen hukum kepada Mahkamah Agung untuk meminta penundaan undang-undang yang akan melarang TikTok sehari sebelum pelantikannya pada 20 Januari 2025, kecuali aplikasi tersebut dijual oleh pemiliknya dari China, ByteDance.

    Trump, yang selama masa jabatan pertamanya pada 2017-2021 bersikeras untuk melarang TikTok dengan alasan keamanan nasional, kini mengambil langkah berbeda. Dalam dokumen yang diajukan, tim hukumnya meminta agar tenggat waktu divestasi TikTok ditunda guna memberikan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan masalah tersebut secara politik.

    “Mengingat sifat unik dan kompleksitas kasus ini, pengadilan sebaiknya mempertimbangkan untuk menunda tenggat waktu yang ditetapkan dalam undang-undang demi memberikan ruang bernapas untuk menangani isu-isu ini,” tulis tim hukum Trump dalam dokumen tersebut, dilansir AFP, Sabtu (28/12/2024).

    Dalam dokumen hukum yang diajukan, Trump sejatinya tidak mengambil sikap atas legalitas kasus TikTok saat ini.

    “Presiden Trump tidak mengambil posisi atas substansi hukum dalam perselisihan ini,” tulis John Sauer, pengacara Trump, dalam dokumen yang dikenal sebagai amicus curiae atau “teman pengadilan”.

    Sebagai gantinya, Trump meminta pengadilan untuk menunda tenggat waktu divestasi hingga 19 Januari 2025. Hal ini, menurut Sauer, akan memungkinkan pemerintahan Trump yang akan datang untuk mencari resolusi politik terhadap permasalahan tersebut.

    “Dia dengan hormat meminta pengadilan mempertimbangkan untuk menunda tenggat waktu dalam undang-undang divestasi hingga pengadilan memutuskan perkara ini, sehingga memberikan kesempatan bagi Pemerintahan Trump yang akan datang untuk mengejar penyelesaian politik atas pertanyaan-pertanyaan dalam kasus ini,” tambahnya.

    Sikap Berbeda

    Selama masa jabatan pertamanya, Trump bersikap keras terhadap TikTok. Dia mengeklaim bahwa aplikasi berbagi video yang populer di kalangan anak muda Amerika itu berpotensi digunakan oleh pemerintah China untuk mengakses data pengguna di AS atau memanipulasi konten yang mereka lihat.

    Kekhawatiran ini juga diungkapkan oleh sejumlah pejabat dan politisi lain, termasuk dari partai oposisi.

    Trump saat itu meminta agar TikTok dijual kepada perusahaan AS dengan sebagian hasil penjualannya masuk ke pemerintah. Meski langkah ini gagal dilakukan selama masa jabatannya, penerusnya, Presiden Joe Biden, melangkah lebih jauh dengan menandatangani undang-undang yang melarang aplikasi tersebut dengan alasan serupa.

    Namun, baru-baru ini, Trump menyatakan perubahan sikapnya terhadap TikTok.

    Dalam wawancara dengan Bloomberg sebagaimana dikutip dari AFP, dia mengatakan bahwa TikTok penting untuk menjaga persaingan di dunia media sosial.

    “Sekarang saya berpikir ulang, saya mendukung TikTok, karena Anda butuh persaingan,” kata Trump. “Jika tidak ada TikTok, Anda hanya punya Facebook dan Instagram-dan itu, Anda tahu, hanya Zuckerberg.”

    Komentar ini merujuk pada Mark Zuckerberg, pendiri Facebook dan CEO Meta, perusahaan teknologi yang juga memiliki Instagram.

    (luc/luc)

  • Video: Mark Zuckerberg Ungkap Pengganti HP 6 Tahun Lagi

    Video: Mark Zuckerberg Ungkap Pengganti HP 6 Tahun Lagi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pendiri Facebook dan Bos Meta, Mark Zuckerberg mengungkapkan smartphone bakal tergantikan di masa depan. Penggantinya adalah perangkat kacamata pintar atau smart glasses.

    Simak informasi selengkapnya dalam program Profit CNBC Indonesia (Selasa, 24/12/2024) berikut ini.

  • Kiamat HP 6 Tahun Lagi, Zuckerberg Ungkap Penggantinya

    Kiamat HP 6 Tahun Lagi, Zuckerberg Ungkap Penggantinya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pendiri Facebook dan bos Meta Mark Zuckerberg mengungkapkan smartphone bakal tergantikan di masa depan. Penggantinya adalah perangkat kacamata pintar atau smart glasses.

    “Sama seperti semua orang yang meng-upgrade ke smartphone, saya pikir semua orang yang memiliki kacamata akan upgrade menjadi kacamata pintar pada dekade mendatang,” ujar Zuck saat acara pengembang tahunan Connect Meta, dikutip dari Forbes.

    Dia menjelaskan bukan sesuatu yang aneh saat HP digantikan ke smart glasses. Sebab ada miliaran orang yang menggunakan kacamata dalam kesehariannya.

    “Dan kemudian saya pikir itu akan mulai menjadi sangat berharga, dan banyak orang lain yang sebenarnya tidak memakai kacamata sekarang, tapi akan berakhir dengan memakai [kacamata pintar] juga,” imbuhnya.

    Situasi ini, menurutnya sama seperti saat komputer dan smartphone di masa lalu. Sedikit demi sedikit ponsel menambahkan fungsi yang hanya ada di komputer, lalu semua itu akhirnya hadir dalam perangkat sebesar genggaman tangan saja.

    Zuckerberg memprediksi kacamata pintar akan mulai banyak digunakan mulai 2030 mendatang. Namun menyamakan seperti HP dan komputer, perangkat smart glasses tidak akan sepenuhnya menggantikan.

    “Kacamata pintar akan secara bertahap menggantikan ponsel pada 2030, mirip dengan bagaimana perangkat seluler menyalip komputer tanpa sepenuhnya menggantikannya,” ujarnya.

    Meta diketahui memang telah mengembangkan kacamata pintar Ray-Ban Meta yang didukung AI. Selain itu juga ada headset Oculus dengan harga yang lebih terjangkau.

    (fab/fab)

  • Elon Musk Dkk Minggir Dulu, Ini Bos Raksasa Tech Baru Asal Malaysia

    Elon Musk Dkk Minggir Dulu, Ini Bos Raksasa Tech Baru Asal Malaysia

    Jakarta, CNBC Indonesia – CEO Broadcom yakni Hock Tan memiliki gaya kepemimpinan yang cukup unik di dalam dunia teknologi yang berbeda dengan bos teknologi lain seperti Jensen Huang dari Nvidia atau Tim Cook dari Apple.

    Sebagai seseorang yang baru saja masuk ke dalam klub super eksklusif, CEO perusahaan dengan kapitalisasi US$ 1 triliun (Rp 16.000 triliun) atau lebih, Hock Tan memiliki karakteristik yang berbeda dari CEO teknologi lainnya.

    Para bos perusahaan teknologi besar Amerika biasanya dapat dikategorikan ke dalam dua tipe. Pertama, pendiri visioner eksentrik seperti Mark Zuckerberg dari Meta, Elon Musk dari Tesla, dan Jensen Huang dari Nvidia, yang dikenal dengan obsesi mereka terhadap produk dan kekuasaan tak terbatas.

    Kedua, tipe manajer yang meneruskan kesuksesan seperti Tim Cook dari Apple, Satya Nadella dari Microsoft, dan Sundar Pichai dari Alphabet, yang fokus pada optimalisasi bisnis. Namun demikian, Hock Tan tidak masuk dalam kedua kategori tersebut, karena dirinya bukan pendiri dan tidak juga diwarisi bisnis yang sukses.

    Di bawah kepemimpinannya, ia mampu membawa Broadcom ke puncak dengan nilai pasar melonjak 40% dalam sepekan, terutama berkat prosesor khusus kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk klien besar seperti Google dan Meta.

    Hal ini langsung dibandingkan dengan Jensen Huang dan Nvidia, yang chip AI-nya telah mendorong kapitalisasi pasarnya menjadi US$ 3,4 triliun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Broadcom sesuai dengan namanya, jauh lebih beragam.

    Selain menjual prosesor AI, Broadcom juga menjual segala hal mulai dari chip jaringan nirkabel hingga perangkat lunak virtualisasi.

    Dalam wawancara pada 2023 lalu, Tan dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak memiliki “strategi besar” untuk 23 divisi Broadcom. “Saya benci mengatakannya, jawabannya adalah tidak,” ujarnya dikutip dari The Economist, Minggu (22/12/2024).

    Menurut The Economist, Hock Tan berbeda dari bos teknologi abad ke-21 lainnya dalam beberapa cara yang mencolok. Pertama, dirinyaa lahir di Malaysia, bukan tempat yang dikenal menghasilkan banyak talenta global untuk posisi CEO.

    Usianya lebih tua satu dekade dibandingkan Tim Cook dan Jensen Huang, dan tiga dekade lebih tua dari Mark Zuckerberg. Sulit untuk menemukan foto dirinya tanpa kemeja rapi dan jas formal.

    Metodenya juga unik, meskipun ia mengaku tidak memiliki strategi besar, ia sangat metodis. William Kerwin dari Morningstar menilai pendekatannya lebih menyerupai gaya para taipan dalam pembelian aset.

    Temukan bisnis yang matang, idealnya yang penting bagi pelanggan. Belilah dengan harga yang wajar. Pangkas habis tenaga kerja, hilangkan produk yang kurang menguntungkan, dan kurangi anggaran penelitian dan pengembangan.

    Naikkan harga untuk pelanggan yang tidak punya pilihan lain. Kumpulkan uang tunai. Bagikan dividen dan pembelian kembali saham kepada pemegang saham, lalu ulangi prosesnya.

    Meskipun gemar melakukan akuisisi (US$ 150 miliar sejak Avago go public pada tahun 2009), obsesi terhadap arus kas, dan ketidaksabaran terhadap perusahaan yang kinerjanya buruk mengingatkan pada industri private equity, Hock Tan enggan membandingkan Broadcom dengan perusahaan ekuitas swasta atau hedge fund.

    (fsd/fsd)

  • Elon Musk Buka Prasekolah Dekat Pabrik Satelit SpaceX Starlink – Page 3

    Elon Musk Buka Prasekolah Dekat Pabrik Satelit SpaceX Starlink – Page 3

    Elon Musk adalah pendukung vokal dan finansial kampanye presiden Donald Trump tahun 2024. Sebelumnya, mereka sering membuat komentar yang meremehkan inisiatif keragaman, kesetaraan, dan inklusi baru-baru ini dalam pendidikan.

    Ia bukanlah tokoh teknologi pertama yang menerapkan pendapatnya tentang pendidikan ke sekolah-sekolah AS.

    CEO Meta, Mark Zuckerberg, mencoba mempersonalisasi pengalaman tersebut lewat Summit Learning. Sementara CEO Amazon, Jeff Bezos, memasukkan nama dan sumber dayanya ke dalam serangkaian prasekolah.

    Lalu pendiri Microsoft Bill Gates memiliki sejarah panjang dalam mengusulkan ide-ide untuk pendidikan publik yang menghasilkan peningkatan yang meragukan bagi siswa, seperti sekolah piagam dan Standar Negara Inti Umum.

  • Meta AI Bisa Digunakan di Grup WhatsApp, Begini Cara Mengaktifkannya

    Meta AI Bisa Digunakan di Grup WhatsApp, Begini Cara Mengaktifkannya

    Jakarta, CNN Indonesia

    Meta resmi menghadirkan chatbot kecerdasan buatan mereka, Meta AI, di platform WhatsApp. Salah satu fitur unggulan Meta AI adalah bisa diakses pada grup WhatsApp.

    Meta AI adalah asisten pintar yang dibangun menggunakan teknologi Meta Llama 3, generasi terbaru dari model bahasa buatan Meta. Dengan teknologi ini, Meta mengklaim Llama 3 lebih cepat, cerdas, dan menyenangkan untuk diajak berinteraksi.

    Meta AI resmi masuk WhatsApp per September 2024 lalu bersamaan dengan pembaruan aplikasi. Fitur ini hadir tidak hanya sebagai asisten digital, tapi juga dalam bentuk karakter-karakter unik dengan kepribadian berbeda.

    “Pesan dari Meta AI dibuat oleh AI menggunakan teknologi dari Meta sebagai respons atas prompt dan pesan yang dikirim ke AI. Pesan AI berbeda dengan pesan pribadi,” tulis WhatsApp dalam laman resminya.

    Namun demikian, Meta AI saat ini hanya tersedia di negara tertentu. Beruntung, Indonesia menjadi salah satu negara yang kedapatan fitur ini lebih awal.

    “Saat ini, bahasa yang didukung hanya Bahasa Arab, Hindi, Indonesia, Inggris, Portugis, Prancis, Spanyol, Tagalog, Thailand, dan Vietnam,” tulis WhatsApp dalam laman dukungannya.

    Dengan fitur Meta AI di WhatsApp, pengguna bisa bertanya, meminta diajari sesuatu, atau bahkan meminta referensi ketika mencari ide.

    Meta AI juga dapat digunakan di chat grup untuk mengajukan pertanyaan atau mendapatkan saran. Anggota lain di chat dapat melihat pesan Anda ke Meta AI serta tanggapan dari Meta AI.

    Berikut cara menggunakan Meta AI di chat grup WhatsApp:

    1. Buka chat grup tempat Anda ingin menggunakan AI.
    2. Ketik @ di kolom pesan, lalu klik Meta AI.
    3. Ketik prompt Anda.
    4. Klik ikon kirim
    5. Tanggapan AI akan ditampilkan di chat.

    600 juta pengguna

    Meta mencatat bahwa saat ini Meta AI sudah digunakan oleh ratusan juta pengguna bulanan di seluruh dunia.

    Hal tersebut disampaikan oleh pendiri Meta, Mark Zuckerberg, dalam sebuah postingan di platform media sosial Threads.

    “Meta AI sekarang memiliki hampir 600 juta pengguna aktif bulanan,” kata Zuck dalam postingannya beberapa waktu lalu, melansir Engadget, Rabu (11/12).

    Informasi ini disampaikan berbarengan dengan peluncuran model Llama 3.3 70B terbaru dari Meta. Menurut Meta, model teks terbaru ini memiliki “performa yang mirip dengan model Llama 3.1 405B,” namun dengan harga yang lebih murah.

    Ahmad Al-Dahle, Wakil Presiden AI generatif di Meta, dalam sebuah unggahan menunjukkan bahwa Llama 3.3 mendapat skor lebih tinggi pada beberapa tolok ukur dibandingkan dengan Gemini Pro 1.5 dari Google dan GPT-4o dari OpenAI.

    Zuckerberg juga sempat mengisyaratkan rilis besar berikutnya adalah perilisan Llama 4. Ia mengungkap bahwa rilis Llama 3.3 adalah pembaruan AI besar terakhir tahun ini.

    (tim/dmi)

    [Gambas:Video CNN]