Tag: Mark Zuckerberg

  • Mark Zuckerberg Kritik Apple: Minim Inovasi – Page 3

    Mark Zuckerberg Kritik Apple: Minim Inovasi – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta CEO Meta, Mark Zuckerberg, melontarkan kritik tajam terhadap Apple dalam sebuah wawancara podcast pada Jumat (12/1/2025).

    Ia menyoroti minimnya inovasi dari raksasa teknologi tersebut dan menyebut aturan mereka sebagai “random” atau tidak konsisten.

    Minim Inovasi Sejak Era Steve Jobs

    Dalam wawancara di podcast “Joe Rogan Experience”, Zuckerberg memuji dampak besar iPhone dalam mempopulerkan ponsel pintar, namun mengkritik kurangnya perkembangan signifikan dalam inovasi produk.

    “iPhone telah menjadi platform yang memungkinkan banyak hal luar biasa. Namun, saya merasa Apple belum menciptakan sesuatu yang hebat dalam beberapa waktu terakhir,” ujar Zuckerberg, dikutip dari CNBC, Senin (13/1/2024).

    “Steve Jobs menciptakan iPhone, dan sekarang, 20 tahun kemudian, mereka seperti hanya bertahan dengan itu,” tambahnya.

    Mark Zuckerberg juga menyoroti bahwa penjualan iPhone mengalami stagnasi karena konsumen membutuhkan waktu lebih lama untuk mengganti perangkat. Ia menilai bahwa model terbaru tidak memberikan peningkatan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya.

    Kritik terhadap Kebijakan dan Model Bisnis Apple

    Zuckerberg menuding Apple memaksimalkan keuntungan melalui strategi bisnis yang dinilai memberatkan pengguna dan pengembang aplikasi.

    “Mereka memeras orang dengan kebijakan seperti pajak 30% untuk pengembang dan menjual berbagai aksesori tambahan seperti AirPods,” katanya. Ia juga mengkritik Apple karena membatasi konektivitas perangkat pihak ketiga dengan iPhone.

    Apple sering membela kebijakan mereka dengan alasan menjaga privasi dan keamanan pengguna. Namun, Zuckerberg menilai alasan tersebut kurang kuat.

    “Itu tidak aman karena mereka tidak membangun keamanan yang memadai sejak awal. Lalu, mereka menggunakan itu sebagai alasan untuk membatasi koneksi perangkat lain,” jelasnya.

    Menurut Zuckerberg, jika Apple menghentikan aturan yang arbitrer, laba Meta bisa meningkat dua kali lipat.

     

  • Top 3 Tekno : Meta Pakai Materi Bajakan hingga Dimulainya FFNS 2025 Spring – Page 3

    Top 3 Tekno : Meta Pakai Materi Bajakan hingga Dimulainya FFNS 2025 Spring – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Laporan yang menuduh Meta menggunakan materi bajakan untuk melatih model kecerdasan buatan AI besutannya Llama menjadi salah satu artikel terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com, Sabtu (11/1/2025).

    Laporan itu kian mencuri perhatian, karena CEO Meta Mark Zuckerberg merestui aksi tersebut. Tuduhan ini muncul dalam gugatan pelanggaran hak cipta yang sedang berlangsung pada perusahaan tersebut.

    Di samping itu, strategis Bitget di tahun ini juga menarik perhatian para pembaca. Menurut CEO Bitget Gracy Chen, perusahaan telah merancang strategis yang fokus pada tiga pilar utama.

    Terakhir, gelaran turnamen Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2025 Spring yang memasuki babak City Qualifier juga menjadi artikel yang mendapat sorotan para pembaca.

    Babak City Qualifer FFNS 2025 dimulai 11 Januari hingga 2 Februari 2025 di 72 kota di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lengkap, simak informasinya berikut ini.

    1. Meta Dituduh Sengaja Gunakan Materi Bajakan untuk Latih AI Atas Restu Mark Zuckerberg

    Meta dituduh menggunakan materi bajakan untuk melatih model kecerdasan buatan (AI) besutannya, Llama, bahkan dengan restu langsung dari CEO Mark Zuckerberg.

    Diwartakan Engadget, Sabtu (11/1/2025), tuduhan ini muncul dalam gugatan pelanggaran hak cipta yang sedang berlangsung terhadap perusahaan tersebut.

    TechCrunch melaporkan, penggugat dalam kasus Kadrey v. Meta mengajukan dokumen pengadilan yang mengungkap penggunaan dataset LibGen untuk pelatihan AI.

    LibGen sendiri dikenal sebagai “perpustakaan bayangan” yang menyediakan akses berbagi berkas untuk buku akademik dan umum, jurnal, gambar, dan materi lainnya.

    Baca selengkapnya di sini. 

  • Makin Mesra, Bos Meta Bertemu Donald Trump di Florida

    Makin Mesra, Bos Meta Bertemu Donald Trump di Florida

    Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan CEO Meta Mark Zuckerberg dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kian mesra. Keduanya dilaporkan bertemu di Mar-A-Lago Florida.

    Pertemuan itu dilaporkan oleh website Semafor yang mengutip seorang sumber. Namun, baik tim transisi Trump dan pihak Meta tidak langsung merespon permintaan berkomentar dari Reuters, dikutip Minggu (12/1/2025).

    Trump dan Zuckerberg bertemu jelang perubahan yang terjadi di Meta sebelum pelantikan Trump pada 20 Januari 2025. Meta baru-baru ini dilaporkan  telah menghapus program cek fakta di dalam platformnya, kebijakan paling drastis selama beberapa tahun terakhir.

    “Kami mencapai titik sehingga terlalu banyak kesalahan dan terlalu banyak sensor. Ini saatnya untuk balik ke akar yaitu kebebasan berekspresi,” kata Zuckerberg.

    Program cek fakta, di Instagram, Facebook hingga Threads akan diganti dengan sistem catatan komunitas, mirip seperti yang diterapkan media sosial X.

    Perubahan kebijakan baru berlaku untuk wilayah AS. Meta belum mengumumkan rencana melakukan hal serupa untuk pasar lain, termasuk Uni Eropa.

    Sebagai catatan, Uni Eropa memiliki aturan Digital Services Act yang berlaku mulai 2023. Di sana dituliskan kewajiban media sosial raksasa menangani konten ilegal dan yang menimbulkan risiko keamanan publik, perusahaan yang gagal akan didenda 6% pendapatan global.

    Trump menyambut baik perubahan kebijakan di Meta. Dia juga memuji Zuckerberg sebagai orang yang sangat mengesankan.

    Ucapan itu cukup berbeda beberapa waktu lalu, saat Trump mengancam memenjarakan Zuckerberg. Menurut Trump, perubahan kebijakan Meta kemungkinan karena merespon ancaman yang dilontarkan olehnya.

    “Mereka sudah berubah banyak, Meta. Orang itu [Zuckerberg] sangat mengesankan,” katanya.

    (hsy/hsy)

  • 7 Buku Favorit Orang-orang Sukses, dari Bill Gates sampai Elon Musk

    7 Buku Favorit Orang-orang Sukses, dari Bill Gates sampai Elon Musk

    Jakarta: Membaca buku telah menjadi kebiasaan penting di kalangan individu sukses. Buku-buku favorit mereka sering kali menjadi sumber inspirasi, wawasan, dan panduan dalam mencapai kesuksesan. Berikut adalah beberapa tokoh sukses dunia dan buku favorit mereka:
     
    1. Bill Gates: “Business Adventures” oleh John Brooks
    Bill Gates menggambarkan buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik yang pernah dibacanya. “Business Adventures” adalah kumpulan kisah tentang Wall Street yang memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan kesuksesan dalam dunia bisnis.

    Buku ini tidak hanya membahas kisah sukses, tetapi juga kegagalan besar yang memberikan pelajaran penting dalam mengambil keputusan strategis.
     
    2. Jeff Weiner: “The Art of Happiness” oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler
    CEO LinkedIn ini merekomendasikan buku ini karena pandangannya yang mendalam tentang kebahagiaan, belas kasih, dan kepemimpinan.

    Buku ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Dalai Lama dan menjelaskan bagaimana sifat empati dapat memperkuat hubungan personal dan profesional. Weiner menekankan pentingnya belas kasih dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif.
     
    3. Steve Jobs: “The Innovator’s Dilemma” oleh Clayton M. Christensen
    Steve Jobs sangat menghargai buku ini karena menjelaskan bagaimana perusahaan besar sering gagal beradaptasi terhadap inovasi yang disruptif.

    Buku ini membahas konsep “disruptive innovation” yang menunjukkan bagaimana perusahaan kecil dengan inovasi radikal dapat mengguncang industri yang mapan. Jobs menggunakan prinsip-prinsip ini untuk menjaga Apple tetap di garis depan teknologi.
     
    4. Warren Buffett: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham
    Warren Buffett menganggap buku ini sebagai panduan terbaik untuk investasi. Buku ini mengajarkan prinsip-prinsip investasi yang aman dan bijaksana, menjadikannya referensi utama bagi para investor. Buffett memuji konsep “margin of safety” yang diajarkan dalam buku ini sebagai kunci keberhasilan investasinya.
     
    5. Oprah Winfrey: “The Power of Now” oleh Eckhart Tolle
    Oprah merekomendasikan buku ini karena dampaknya yang besar pada pertumbuhan pribadi. Buku ini mengajarkan pentingnya hidup di saat ini dan menjadi panduan untuk mencapai kedamaian batin.

    Winfrey sering berbicara tentang bagaimana buku ini membantunya menghadapi tekanan dan menemukan ketenangan dalam kehidupannya.
     
    6. Mark Zuckerberg: “Sapiens: A Brief History of Humankind” oleh Yuval Noah Harari
    Buku ini memberikan gambaran besar tentang evolusi manusia, dari masa prasejarah hingga era modern.

    Mark Zuckerberg memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan wajibnya untuk memahami perjalanan umat manusia. Harari menjelaskan bagaimana revolusi kognitif, pertanian, dan teknologi telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.
     
    7. Elon Musk: “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” oleh Douglas Adams
    Elon Musk menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya karena perpaduan unik antara humor dan eksplorasi ilmiah.

    Novel fiksi ilmiah ini memberikan pandangan segar tentang keberadaan manusia di alam semesta dan mendorong Musk untuk berpikir besar, terutama dalam proyek-proyek seperti eksplorasi luar angkasa dengan SpaceX.

    Buku-buku favorit dari tokoh-tokoh sukses ini mencerminkan beragam minat dan fokus mereka, mulai dari bisnis dan investasi hingga pengembangan pribadi dan inovasi.

    Membaca buku-buku ini dapat memberikan wawasan berharga dan inspirasi untuk siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.

    Baca Juga:
    Membaca Buku Dapat Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat

    Jakarta: Membaca buku telah menjadi kebiasaan penting di kalangan individu sukses. Buku-buku favorit mereka sering kali menjadi sumber inspirasi, wawasan, dan panduan dalam mencapai kesuksesan. Berikut adalah beberapa tokoh sukses dunia dan buku favorit mereka:
     
    1. Bill Gates: “Business Adventures” oleh John Brooks
    Bill Gates menggambarkan buku ini sebagai salah satu buku bisnis terbaik yang pernah dibacanya. “Business Adventures” adalah kumpulan kisah tentang Wall Street yang memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan kesuksesan dalam dunia bisnis.
     
    Buku ini tidak hanya membahas kisah sukses, tetapi juga kegagalan besar yang memberikan pelajaran penting dalam mengambil keputusan strategis.
     
    2. Jeff Weiner: “The Art of Happiness” oleh Dalai Lama dan Howard C. Cutler
    CEO LinkedIn ini merekomendasikan buku ini karena pandangannya yang mendalam tentang kebahagiaan, belas kasih, dan kepemimpinan.
     
    Buku ini ditulis berdasarkan wawancara dengan Dalai Lama dan menjelaskan bagaimana sifat empati dapat memperkuat hubungan personal dan profesional. Weiner menekankan pentingnya belas kasih dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif.
     
    3. Steve Jobs: “The Innovator’s Dilemma” oleh Clayton M. Christensen
    Steve Jobs sangat menghargai buku ini karena menjelaskan bagaimana perusahaan besar sering gagal beradaptasi terhadap inovasi yang disruptif.

    Buku ini membahas konsep “disruptive innovation” yang menunjukkan bagaimana perusahaan kecil dengan inovasi radikal dapat mengguncang industri yang mapan. Jobs menggunakan prinsip-prinsip ini untuk menjaga Apple tetap di garis depan teknologi.
     

    4. Warren Buffett: “The Intelligent Investor” oleh Benjamin Graham
    Warren Buffett menganggap buku ini sebagai panduan terbaik untuk investasi. Buku ini mengajarkan prinsip-prinsip investasi yang aman dan bijaksana, menjadikannya referensi utama bagi para investor. Buffett memuji konsep “margin of safety” yang diajarkan dalam buku ini sebagai kunci keberhasilan investasinya.
     
    5. Oprah Winfrey: “The Power of Now” oleh Eckhart Tolle
    Oprah merekomendasikan buku ini karena dampaknya yang besar pada pertumbuhan pribadi. Buku ini mengajarkan pentingnya hidup di saat ini dan menjadi panduan untuk mencapai kedamaian batin.
     
    Winfrey sering berbicara tentang bagaimana buku ini membantunya menghadapi tekanan dan menemukan ketenangan dalam kehidupannya.
     
    6. Mark Zuckerberg: “Sapiens: A Brief History of Humankind” oleh Yuval Noah Harari
    Buku ini memberikan gambaran besar tentang evolusi manusia, dari masa prasejarah hingga era modern.
     
    Mark Zuckerberg memasukkan buku ini ke dalam daftar bacaan wajibnya untuk memahami perjalanan umat manusia. Harari menjelaskan bagaimana revolusi kognitif, pertanian, dan teknologi telah membentuk dunia seperti yang kita kenal hari ini.
     
    7. Elon Musk: “The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” oleh Douglas Adams
    Elon Musk menyebut buku ini sebagai salah satu favoritnya karena perpaduan unik antara humor dan eksplorasi ilmiah.
     
    Novel fiksi ilmiah ini memberikan pandangan segar tentang keberadaan manusia di alam semesta dan mendorong Musk untuk berpikir besar, terutama dalam proyek-proyek seperti eksplorasi luar angkasa dengan SpaceX.
     
    Buku-buku favorit dari tokoh-tokoh sukses ini mencerminkan beragam minat dan fokus mereka, mulai dari bisnis dan investasi hingga pengembangan pribadi dan inovasi.
     
    Membaca buku-buku ini dapat memberikan wawasan berharga dan inspirasi untuk siapa pun yang ingin mencapai kesuksesan dalam hidup mereka.
     
    Baca Juga:
    Membaca Buku Dapat Meningkatkan Fungsi Kognitif dan Daya Ingat
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (WAN)

  • Meta Dituduh Sengaja Gunakan Materi Bajakan untuk Latih AI Atas Restu Mark Zuckerberg – Page 3

    Meta Dituduh Sengaja Gunakan Materi Bajakan untuk Latih AI Atas Restu Mark Zuckerberg – Page 3

    Silverman, bersama penulis lainnya, menggugat Meta dan OpenAI atas pelanggaran hak cipta pada tahun 2023.

    Mereka menuduh perusahaan-perusahaan tersebut menggunakan materi bajakan dari perpustakaan bayangan untuk melatih model AI mereka.

    Pengadilan sebelumnya menolak beberapa klaim mereka, tetapi para penggugat mengatakan bahwa pengaduan mereka yang telah direvisi mendukung tuduhan mereka dan menjawab alasan pengadilan sebelumnya untuk penolakan.

  • Meta Stop Pemeriksa Fakta, Koalisi: Lemahkan Perangi Hoaks

    Meta Stop Pemeriksa Fakta, Koalisi: Lemahkan Perangi Hoaks

    Jakarta, FORTUNE – Koalisi pemeriksa fakta terbesar di Indonesia, CekFakta.com terkejut dan kecewa atas kebijakan Meta baru-baru ini. Meta telah mengakhiri Program Pemeriksa Fakta Pihak Ketiga yang dimulai di Amerika Serikat (AS).

    Untuk diketahui, CekFakta.com sudah aktif terlibat dalam kegiatan pengecekan fakta di Asia Tenggara sejak tahun 2018 lalu.

    “Keputusan Meta untuk menghentikan program pemeriksaan fakta dengan pihak ketiga di Amerika Serikat menimbulkan kekhawatiran akan potensi dampaknya terhadap komitmen Meta di negara lain, termasuk Indonesia,” kata Koordinator Koalisi CekFakta.com, Adi Marsiela lewat keterangan tertulis yang diterima Fortune Indonesia, Jumat (10/1) sore.

    Bisa lemahkan upaya perangi hoaks

    Menurut dia, kebijakan ini dapat melemahkan upaya memerangi penyebaran informasi palsu atau hoaks di platform Meta, terutama di negara-negara dengan tingkat literasi digital yang rendah. Kebijakan ini juga dapat memicu penyebaran hoaks dan propaganda secara masif, mengingat jangkauan pengguna yang sangat luas di Indonesia.

    Selain itu, lanjut Marsiela, mereka pun menyesalkan pernyataan CEO Meta, Mark Zuckerberg yang mengaitkan pengecekan fakta dengan bias politik dan penyensoran. Padahal pemeriksa fakta memiliki standar tertinggi dalam hal pelaporan yang tidak bias, transparansi, integritas, dan akuntabilitas.

    “Kami dipantau oleh publik dan secara teratur dinilai oleh badan independen seperti International Fact Checking Network,” tutur Marsiela.

    Menurut dia, Facebook dan Instagram memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penyebaran misinformasi, termasuk di Indonesia. Per Desember 2024, pengguna Facebook di Indonesia mencapai setidaknya 174 juta, atau sekitar 63% dari total populasi Indonesia yang mencapai 275 juta jiwa. Selain itu, pengguna Instagram di Indonesia mencapai 90,1 juta.

    “Angka-angka ini menunjukkan tanggung jawab besar yang dipegang Meta dalam memastikan platformnya tidak digunakan untuk menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan,” kata Marsiela.

    Sementara itu, sejak 2018, program cek fakta oleh Koalisi CekFakta.com yang bekerja sama dengan platform digital telah menjadi langkah penting dalam memerangi misinformasi di Indonesia.

    Program ini melibatkan setidaknya 100 organisasi media, jurnalis, dan pemeriksa fakta independen yang berkomitmen untuk menjaga integritas informasi publik. Kehadiran program tersebut tak hanya membantu mengurangi penyebaran hoaks, tetapi juga meningkatkan literasi digital di masyarakat.

    “Koalisi CekFakta.com percaya bahwa penghentian ini dan penggantinya dengan Community Notes dan program moderasi konten lainnya yang berbasis algoritma, bukanlah solusi yang efektif dibandingkan dengan pengecekan fakta oleh media independen,” pungkas Marsiela.

    Desak Meta batalkan keputusannya

    Oleh karena itu, lebih lanjut dia, Koalisi CekFakta.com mendesak Meta untuk mengklarifikasi dampak dari perubahan kebijakan ini terhadap program pengecekan fakta di negara lain, membatalkan keputusannya dan menggandakan dukungan terhadap program-program pemeriksaan fakta di seluruh dunia, serta terlibat lebih sering dan secara substansial dengan para pemangku kepentingan penting dalam memerangi mis/disinformasi.

    “Kami percaya bahwa langkah proaktif Meta dalam mendukung program pemeriksaan fakta selama ini merupakan wujud nyata dari tanggung jawab sosial perusahaan terhadap para penggunanya di seluruh dunia. Kami berharap Meta dapat mempertimbangkan kembali kebijakan ini dan terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga integritas informasi di platformnya, terutama di negara-negara dengan basis pengguna yang besar seperti Indonesia,” tutup Marsiela.

  • Threads dan Instagram Bakal Rekomendasikan Konten Politik

    Threads dan Instagram Bakal Rekomendasikan Konten Politik

    Jakarta

    Meta terus merombak aturan moderasi dan kontennya. Head of Instagram Adam Mosseri dalam postingannya di Threads mengatakan bahwa Instagram dan Threads akan mulai memasukkan konten politik dalam rekomendasi.

    Hal tersebut merupakan perubahan dari kebijakan yang diadopsi kedua platform tersebut tahun lalu, yang membuat konten politik menjadi sesuatu yang harus dipilih oleh pengguna jika mereka ingin melihatnya.

    Sekarang, Mosseri mengatakan bahwa akan ada tiga tingkat konten politik yang dapat dipilih oleh pengguna Instagram dan Threads untuk dilihat: lebih sedikit, standar (yang akan menjadi default) dan lebih banyak.

    “Terbukti tidak praktis untuk menarik garis merah di sekitar apa yang merupakan konten politik dan bukan,” tulis Mosseri sebagaimana dikutip detikINET dari Engadget, Jumat (10/1/2025).

    Perubahan ini akan mulai diluncurkan secara bertahap mulai minggu ini di Amerika Serikat dan di seluruh dunia dalam beberapa minggu ke depan.

    Pengumuman ini adalah yang terbaru dari serangkaian perubahan yang dilakukan Meta yang tampaknya merupakan upaya untuk ‘menjilat’ Presiden Amerika Serikat terpilih Donald Trump.

    CEO Meta, Mark Zuckerberg mengatakan bahwa mereka akan menghilangkan pemeriksa fakta pihak ketiga dan memilih model Community Notes untuk Facebook, Instagram dan Threads, meniru pendekatan yang dilakukan di X (sebelumnya Twitter).

    Nick Clegg mengundurkan diri sebagai President of Global Affairs Meta dan digantikan oleh Joel Kaplan, yang memiliki hubungan baik dengan Partai Republik di Washington DC.

    Belum lama ini, Instagram juga diketahui telah memblokir beberapa tagar LGBTQ dan memperlakukannya sebagai materi yang mengandung unsur seksual selama berbulan-bulan. Pihak Instagram mengatakan ini adalah sebuah kesalahan.

    (jsn/fay)

  • Trump Melunak, Tiba-tiba Berubah 180 Derajat Gegara Ini

    Trump Melunak, Tiba-tiba Berubah 180 Derajat Gegara Ini

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Donald Trump melempar banyak pujian pada Meta. Ini dilakukannya usai raksasa teknologi menonaktifkan program pengecekan fakta milik platform yang dimiliknya, termasuk Facebook dan Instagram.

    Pujian Trump ke Meta menunjukkan sikap yang berbeda 180 derajat dibanding beberapa tahun lalu. Sebelumnya, Trump sempat menghujat Meta bahkan mengancam akan menjebloskan CEO Mark Zuckerberg ke penjara jika terpilih sebagai Presiden AS. 

    Trump juga menyebut Meta sebagai platform ‘penipu pemilu’. Kebencian Trump kepada Meta dimulai ketika platform tersebut memblokir Trump selama 2 tahun dari Facebook dan Instagram.

    Namun, setelah Meta melakukan gebrakan kontroversial dengan mematikan fitur pengecekan fakta, Trump langsung melunak.

    “Presentasi Meta sangat baik. Mereka telah menempuh perjalanan jauh,” kata Trump, dikutip dari Fox News, Kamis (9/1/2025).

    Cek fakta mulai berlaku setelah pemilu AS 2016 lalu. Baru-baru ini Meta mengumumkan menghapus kebijakan tersebut.

    Pemeriksaan fakta akan diganti dengan model Catatan Komunitas, yang sebelumnya sudah hadir di media sosial X.

    Kepala Kebijakan Meta Global, Joel Kaplan juga menjelaskan perusahaannya akan mengubah sejumlah aturan soal moderasi konten. Khususnya kebijakan yang disebut terlalu ketat dan tidak mencakup topik sensitif seperti imigrasi hingga masalah gender.

    “Kami ingin memastikan wacana bisa terjadi secara bebas di platform tanpa takut disensor,” jelasnya.

    Menurutnya, Meta punya kekuatan untuk mengubah aturan dan mendukung kebebasan berekspresi. Namun dia menolak menyebut keputusan perusahaannya untuk mengubah aturan, tapi sebagai cara menegakkan aturan.

    Sistem otomatis yang diadopsi Meta, disebutnya terlalu banyak kesalahan. Bahkan bisa membuat sebuah konten yang tidak melanggar ikut menghilang.

    Sebelumnya CEO Meta Mark Zuckerberg mengumumkan perusahaan akan kembali ke tujuan awal dan mengurangi kesalahan. Selain itu juga ingin menyederhanakan kebijakan dan memulihkan kebebasan berekspresi.

    (fab/fab)

  • Zuckerberg Contek Elon Musk Demi Puaskan Donald Trump

    Zuckerberg Contek Elon Musk Demi Puaskan Donald Trump

    Jakarta

    Mark Zuckerberg selaku pemilik Meta melakukan perubahan besar. Meta akan menyingkirkan pemeriksa fakta atau fact checker dan secara drastis mengurangi penyensoran.

    Mereka juga merekomendasikan lebih banyak konten politik di platformnya, termasuk Facebook, Instagram, dan Threads. Dengan kata lain, platform Meta akan jauh lebih bebas dalam menampilkan konten dibandingkan sebelumnya.

    Dalam video, Zuckerberg berjanji memprioritaskan kebebasan bicara setelah kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih dan mengatakan bahwa, dimulai di AS, ia akan menyingkirkan pemeriksa fakta dan menggantinya dengan community notes atau catatan komunitas yang mirip dengan X.

    X, media sosial milik Elon Musk, bergantung pada pengguna lain untuk menambahkan peringatan dan konteks pada postingan kontroversial. Menurut Zuck, para pemeriksa fakta Meta terlalu bias secara politis.

    Meta memiliki lebih dari 3 miliar pengguna. Zuck menyebut akan bekerja dengan Trump untuk melawan pemerintah di seluruh dunia yang mengekang perusahaan-perusahaan Amerika dan mendorong lebih banyak sensor.

    Ia menyinggung Eropa sebagai tempat dengan makin banyak undang-undang yang melembagakan penyensoran dan mempersulit inovasi. Ia menambahkan Negara-negara Amerika Latin memiliki pengadilan rahasia yang dapat memerintahkan perusahaan untuk diam-diam menghapus sesuatu.

    “Ada juga banyak hal yang benar-benar buruk di luar sana, narkoba, terorisme, eksploitasi anak. Ini adalah hal-hal yang kami tanggapi dengan sangat serius, dan saya ingin memastikan bahwa kami menanganinya dengan bertanggung jawab,” katanya.

    Pilpres AS menurutnya jadi titik balik. “Pemilu baru-baru ini juga terasa seperti titik balik budaya menuju, sekali lagi, memprioritaskan kebebasan berbicara,” cetusnya. yang dikutip detikINET dari Guardian.

    Menurutnya, menghapus beberapa batasan pada konten tentang topik seperti gender dan imigrasi akan memastikan orang dapat berbagi keyakinan dan pengalaman mereka. Fokus filter akan dialihkan hanya untuk menangani pelanggaran ilegal atau tingkat keparahan tinggi.

    Meta akan mengandalkan pengguna untuk melaporkan pelanggaran dengan tingkat keparahan yang lebih rendah sebelum mengambil tindakan. “Dengan menguranginya, kami akan mengurangi jumlah penyensoran di platform kami secara drastis,” katanya.

    (fyk/rns)

  • Bos Big Tech Ramai-ramai Merapat ke Trump

    Bos Big Tech Ramai-ramai Merapat ke Trump

    Jakarta

    Langkah CEO Meta, Mark Zuckerberg, menghapuskan tim pemeriksa fakta dan menggantinya dengan catatan komunitas dinilai sebagai kemenangan terbaru bagi presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump, dan penasihatnya, Elon Musk.

    Langkah induk perusahaan Facebook, Meta, untuk membentuk tim pemeriksa fakta muncul delapan tahun lalu setelah Trump secara mengejutkan memenangkan pemilu tahun 2016. Menurut para kritikus, hasil ini dimungkinkan oleh disinformasi yang merajalela di Facebook dan campur tangan oleh aktor asing, termasuk Rusia, di platform tersebut. Sekarang tim itu akan dihapus.

    Pemangkasan tim pengecek fakta ini terjadi beberapa hari sebelum pelantikan Trump, dan setelah beberapa pemimpin perusahaan teknologi AS menjalin hubungan dengannya.

    Sejak pemilihan umum pada November 2024, sejumlah tokoh senior telah bertemu dengan Trump di kediamannya di Florida, termasuk Zuckerberg dari Meta, CEO Apple Tim Cook, dan pendiri Amazon sekaligus eksekutif teknologi antariksa Jeff Bezos.

    Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!

    Amazon dan Meta telah mengumumkan sumbangan sebesar $1 juta untuk dana pelantikan Trump, seperti yang dilaporkan dilakukan oleh Cook dari Apple, dalam kapasitas pribadinya.

    Sementara itu, Elon Musk, pemilik platform media sosial X dan orang terkaya di dunia saat ini, adalah salah satu penasihat terdekat Donald Trump.

    Bos Meta Mark Zuckerberg mengatakan keputusan itu adalah tentang “mengembalikan kebebasan berekspresi” di platformnya dan “mengurangi kesalahan” yang katanya dibuat oleh sistem moderasi konten otomatis, yang mereka yakini langkah itu sama saja dengan penyensoran dalam beberapa kasus, menuduh beberapa pemeriksa fakta dipengaruhi oleh bias mereka sendiri.

    Pentingnya pemeriksa fakta di media sosial

    Lembaga pemeriksa fakta independen di Inggris, Full Fact, mengatakan keputusan itu kemungkinan akan membantu misinformasi menyebar lebih mudah secara daring.

    “Keputusan Meta untuk mengakhiri kemitraannya dengan pemeriksa fakta di AS mengecewakan dan merupakan langkah mundur yang berisiko menimbulkan efek mengerikan di seluruh dunia,” ujar Chris Morris, kepala eksekutif Full Fact.

    “Dari menjaga pemilu hingga melindungi kesehatan masyarakat hingga meredakan potensi kerusuhan di jalanan, pemeriksa fakta adalah penanggap pertama di lingkungan informasi. Spesialis kami dilatih untuk bekerja dengan cara yang mempromosikan bukti yang kredibel dan memprioritaskan penanganan informasi yang berbahaya. Kami percaya masyarakat punya hak untuk mengakses keahlian kami,” ujarnya.

    Sementara Ethan Zuckerman, profesor kebijakan publik, mengatakan bahwa perubahan dalam pemeriksaan fakta adalah “keputusan yang memajukan tujuan bisnis Zuckerberg: pemeriksaan fakta sulit, mahal, dan kontroversial,” kata yang baru-baru ini menggugat Meta atas kebijakan algoritmanya, kepada AFP.

    Namun bagi mereka yang berada di wilayah sayap kanan, keputusan tersebut merupakan titik balik.”Bagi kami yang telah berjuang dalam perang kebebasan berbicara selama bertahun-tahun, ini terasa seperti kemenangan besar dan titik balik,” kata investor David Sacks, yang berminat mengambil alih portofolio kecerdasan buatan dalam pemerintahan Trump.

    Trump telah menjadi kritikus keras Meta dan Zuckerberg selama bertahun-tahun. Ia menuduh perusahaan tersebut bias terhadapnya dan mengancam akan membalas begitu kembali menjabat.

    Ketika ditanya oleh wartawan apakah menurutnya langkah pemeriksaan fakta tersebut merupakan respons atas ancamannya terhadap Zuckerberg, Trump menjawab: “Mungkin, ya.”

    Pemulihan hubungan antara Mark Zuckerberg dan Trump telah lama diprediksi. Meta baru-baru juga ini menempatkan sekutu Trump, Dana White, di jajaran direksi.

    Meta terapkan “catatan komunitas”

    Keputusan itu, dan langkah untuk memangkas operasi pengecekan fakta, muncul setelah pilihan Trump untuk Komisi Komunikasi Federal, Brendan Carr, menuduh Facebook, Google, dan Apple “memainkan peran utama” dalam “kartel sensor.”

    Sam Altman, CEO di OpenAI, juga telah mengirimkan sinyal mendekat kepada pemerintahan yang akan datang, dengan mengatakan kepada penyiar konservatif Fox News pada bulan Desember bahwa ia yakin Trump akan mempertahankan Amerika Serikat sebagai pemain terkemuka di sektor kecerdasan buatan.

    Profesor ilmu politik Universitas Brown, Wendy Schiller, mengaku tidak terkejut bahwa perusahaan media sosial seperti Meta mulai meninggalkan pemeriksaan fakta karena partai politik dan perusahaan media sosial berkembang pesat ketika ada perpecahan.

    Namun, ia menambahkan bahwa “hal yang menyelamatkan mungkin adalah masih ada sejumlah outlet media sosial yang kompetitif sehingga tidak ada satu orang atau perusahaan pun yang mengendalikan semua arus informasi, termasuk pemerintah.”

    Facebook akan mengganti program pemeriksaan fakta dengan fitur bergaya “catatan komunitas”, mirip dengan yang digunakan pada platform X milik Musk.

    Musk segera mengisyaratkan persetujuannya, menyebut perubahan itu “keren.”

    AFP saat ini bekerja dalam 26 bahasa dengan program pemeriksaan fakta Facebook, di mana Facebook membayar untuk menggunakan pemeriksaan fakta dari sekitar 80 organisasi di seluruh dunia pada platformnya, WhatsApp dan Instagram.

    ae/hp (AFP, dpa)

    (ita/ita)