Tag: Mark Zuckerberg

  • Mark Zuckerberg Bakal PHK 5% Pekerja Meta, Incar Pegawai Berkinerja Buruk

    Mark Zuckerberg Bakal PHK 5% Pekerja Meta, Incar Pegawai Berkinerja Buruk

    Bisnis.com, JAKARTA – Meta, induk Instagram dan Facebook, berencana untuk memberhentikan sekitar 5% karyawannya berdasarkan evaluasi kinerja, sebagai bagian dari inisiatif berkelanjutan CEO Mark Zuckerberg untuk meningkatkan efisiensi operasional dalam perusahaan. 

    Meta menyampaikan PHK berbasis kinerja memiliki fokus pada percepatan proses pengelolaan karyawan yang berkinerja buruk. 

    Mark Zuckerberg telah mengindikasikan bahwa meskipun peran-peran ini akan dipotong, Meta bermaksud untuk mengisi posisi-posisi ini dengan karyawan baru, yang bertujuan untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan kemampuan perusahaan di bidang-bidang utama. 

    “Saya telah memutuskan untuk meningkatkan standar manajemen kinerja dan menyingkirkan karyawan dengan kinerja buruk lebih cepat,” kata Zuckerberg, dikutip dari Techcrunch, Rabu (15/1/2025). 

    Techcrunch melaporkan, Meta mempekerjakan sekitar 72.000 orang hingga September 2024. Artinya, pemutusan hubungan kerja sebesar 5% akan berdampak kepada sekitar 3.600 orang. Karyawan yang terdampak akan diberitahukan paling lambat tanggal 10 Februari. 

    Pemutusan hubungan kerja yang akan datang terjadi karena Meta telah memberhentikan sejumlah besar tenaga kerjanya dalam beberapa tahun terakhir. Perusahaan tersebut terakhir kali memberhentikan karyawan pada bulan Oktober dan memberhentikan 10.000 pekerja pada tahun 2023. Pada tahun 2022, Meta memberhentikan 11.000 karyawan.

    “Kami biasanya menyingkirkan orang-orang yang tidak memenuhi harapan selama setahun, tetapi sekarang kami akan melakukan pemutusan hubungan kerja berbasis kinerja yang lebih luas selama siklus ini,” kata Mark. 

    Mengutip Bloomberg pada Selasa (7/1/2025), selain White, Meta juga menunjuk Charlie Songhurst, seorang investor dan mantan eksekutif Microsoft Corp. yang telah memberi nasihat kepada Meta tentang produk kecerdasan buatan.

    Mark Zuckerberg juga mengangkat John Elkann, CEO Exor NV, sebuah perusahaan induk yang dikendalikan oleh keluarga Agnelli. Keluarga tersebut memiliki saham di berbagai bisnis Eropa termasuk Ferrari NV dan klub sepak bola Juventus.

    Penambahan tersebut membuat jajaran direksi Meta menjadi 13 direktur, termasuk CEO Mark Zuckerberg, yang memegang jabatan sebagai ketua dan mempertahankan kendali suara mayoritas melalui struktur saham kelas ganda perusahaan.

    “Charlie, Dana, dan John akan menambah kedalaman keahlian dan perspektif yang akan membantu kami menghadapi peluang besar di masa depan dengan AI, perangkat yang dapat dikenakan, dan masa depan hubungan manusia,” kata Zuckerberg dalam sebuah pernyataan.

    Zuckerberg, 40 tahun, telah banyak merombak jajaran direksi Meta dalam lima tahun terakhir, perubahan kepemimpinan yang bertepatan dengan peralihannya ke arah kecerdasan buatan dan metaverse, dunia digital tempat perusahaan berharap orang-orang suatu hari nanti dapat bekerja, bermain, dan berolahraga. 

    Semua kecuali dua direktur Meta saat ini telah bergabung sejak 2019. Dalam beberapa kasus, Zuckerberg telah mendatangkan sesama pengusaha Silicon Valley, seperti CEO DoorDash Inc. Tony Xu dan CEO Dropbox Inc. Drew Houston, yang merupakan teman dekat salah satu pendiri Meta.

  • Mark Zuckerberg Umumkan PHK Besar-besaran di Meta

    Mark Zuckerberg Umumkan PHK Besar-besaran di Meta

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg telah mengumumkan PHK besar-besaran. Pekerja yang dirumahkan dinilai punya kinerja rendah di perusahaan.

    Menurut memo perusahaan yang diperoleh Bloomberg, Mark Zuckerberg memangkas sekitar 5% stafnya. Perusahaan berencana untuk mempekerjakan orang baru untuk mengisi peran mereka tahun ini.

    Hingga September, Meta mempekerjakan sekitar 72.000 orang, sehingga pengurangan sebesar 5% dapat memengaruhi sekitar 3.600 pekerjaan.

    “Saya telah memutuskan untuk meningkatkan standar manajemen kinerja dan menyingkirkan karyawan dengan kinerja buruk lebih cepat,” kata Mark Zuckerberg dalam memo yang diunggah di papan pesan internal.

    “Kami biasanya menyingkirkan orang-orang yang tidak memenuhi harapan selama setahun,” katanya, “tetapi sekarang kami akan melakukan pemotongan berbasis kinerja yang lebih ekstensif selama siklus ini.”

    Siklus kinerja Meta diharapkan akan berakhir pada bulan Februari, menurut seseorang yang mengetahui masalah tersebut, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya saat membahas prosedur internal perusahaan.

    Pekerja yang terdampak di AS diperkirakan akan diberi tahu pada 10 Februari, sementara mereka yang bekerja di negara lain akan diberi tahu di kemudian hari, menurut memo tersebut. Pemutusan hubungan kerja hanya akan mencakup staf yang telah bekerja di perusahaan cukup lama sehingga memenuhi syarat untuk penilaian kinerja.

    Zuckerberg memberi tahu karyawan bahwa perusahaan akan “memberikan pesangon yang besar” sesuai dengan pemutusan hubungan kerja sebelumnya.

    Untuk diketahui Zuckerberg telah mendeklarasikan tahun 2023 sebagai ” tahun efisiensi ” perusahaan dan mengumumkan rencana untuk menghilangkan 10.000 posisi.

    Secara keseluruhan, Meta memperkirakan jumlah karyawannya akan turun 10% pada akhir siklus kinerja saat ini. Total tersebut termasuk pengurangan tambahan sebesar 5% dari pengurangan karyawan tahun lalu, menurut pesan kepada para manajer.

    (afr/afr)

  • Kritik Keras Zuck untuk Ekosistem Apple: Tidak Ada Sistem Keamanan

    Kritik Keras Zuck untuk Ekosistem Apple: Tidak Ada Sistem Keamanan

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg melontarkan berbagai kritik keras untuk Apple, termasuk soal ekosistemnya yang sangat tertutup.

    Kritik keras ini dilontarkan Zuck dalam podcast Joe Rogan. Dalam podcast berdurasi tiga jam itu, Zuck berbicara banyak soal Apple, namun kritik terkerasnya dilontarkan untuk ekosistem tertutup yang dipakai oleh Apple untuk berbagai perangkatnya.

    Menurutnya, Apple menggunakan dalih keamanan dan privasi untuk melarang perangkat non Apple untuk masuk ke dalam ekosistem mereka. Salah satu contohnya adalah kacamata pintar bikinan Meta dan Ray-Ban, yang menurut Zuck sangat sulit untuk terintegrasi secara mulus dengan iPhone.

    “Mereka merasa tak aman karena tidak membangun sistem keamanan ke dalamnya. Dan kemudian mereka menggunakan justifikasi itu sebagai alasan kenapa hanya produk mereka yang bisa terhubung dengan mudah,” keluh Zuck.

    Padahal menurut Zuck, seandainya Meta bisa melewati aturan aneh Apple soal integrasi hardware itu, mereka bisa melipatgandakan keuntungannya, seperti dikutip detikINET dari Techspot.

    Namun Zuck sepenuhnya menyalahkan Apple, karena menurutnya sektor teknologi ini adalah sektor yang berkembang sangat cepat dan sangat dinamis. Zuck tampaknya meyakini kalau masalahnya bisa terpecahkan karena hal baru di sektor ini muncul dengan cepat.

    Selain soal ekosistem tertutup, Zuck juga mengkritik bahwa Apple sudah lama tak menemukan sesuatu yang hebat. Menurutnya, iPhone mungkin adalah salah satu temuan paling penting dalam sejarah.

    Namun kemudian Zuck menyebut Apple sudah lama tidak mempunyai temuan besar, yaitu sejak Steve Jobs membuat iPhone 20 tahun yang lalu.

    “Mereka tidak menemukan sesuatu yang hebat dalam waktu lama. Ini seperti Steve Jobs membuat iPhone, dan mereka hanya membiarkannya hingga 20 tahun kemudian,” kata Zuck.

    Ia pun menyebut hal ini membuat pengguna iPhone malas membeli iPhone baru, karena peningkatannya yang tak signifikan. Hal ini berdampak pada penjualan Apple, dan untuk menutupi penjualan yang melemah itu, Apple “memeras” konsumen dan pengembang pihak ketiga.

    “Mereka melakukan itu pada dasarnya dengan memeras orang…menetapkan pajak 30% ke pengembang dan memaksa anda untuk membeli aksesoris dan barang yang bisa masuk ke dalam (ekosistem)-nya,” keluh Zuck.

    (asj/afr)

  • Video: Kritikan Mark Zuckerberg untuk Apple

    Video: Kritikan Mark Zuckerberg untuk Apple

    Video: Kritikan Mark Zuckerberg untuk Apple

  • Lama Nggak Bikin Sesuatu yang Hebat

    Lama Nggak Bikin Sesuatu yang Hebat

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg mengeluarkan komentar pedas untuk Apple. Ia menyebut produsen iPhone itu sudah tidak inovatif dalam beberapa tahun belakangan.

    Komentar itu diutarakan Zuckerberg saat berbicara di podcast Joe Rogan. Dalam podcast berdurasi hampir tiga jam itu, Zuckerberg menyinggung banyak hal mulai dari iPhone, AirPods, App Store, hingga Vision Pro.

    “Di satu sisi, iPhone sangat hebat karena sekarang hampir semua orang di seluruh dunia memiliki ponsel dan itu yang memungkinkan hal-hal luar biasa,” kata Zuckerberg, seperti dikutip dari CNBC, Senin (13/1/2025).

    “Di sisi lain, mereka menggunakan platform itu untuk menetapkan banyak aturan yang menurut saya sewenang-wenang dan saya rasa mereka sudah lama tidak menciptakan sesuatu yang hebat,” sambungnya.

    Menurut Zuckerberg saat ini penjualan iPhone sedang menurun karena konsumen menunggu lebih lama untuk upgrade ponselnya karena model baru tidak membawa banyak peningkatan yang signifikan.

    App Store, toko aplikasi utama di iPhone, juga jadi sasaran kritik Zuckerberg. “Cara mereka melakukannya di toko (aplikasi) Apple di mana mereka mengenakan komisi 30%, itu tampak sangat gila mereka bisa lolos begitu saja,” ujar Zuckerberg.

    Zuckerberg juga menyinggung AirPods, yang menurutnya sangat hebat, tapi hanya bisa terhubung secara seamless ke iPhone karena menggunakan protokol khusus. Menurutnya, jika Apple mau membuka protokolnya ke perusahaan lain, akan ada earbuds yang lebih baik ketimbang AirPods.

    Pria berusia 40 tahun ini turut menyindir Vision Pro, produk terbaru Apple yang bersaing langsung dengan headset Quest milik Meta. Ia awalnya memuji Vision Pro sebagai produk Apple paling inovatif dalam beberapa tahun terakhir, namun generasi pertamanya memiliki banyak masalah.

    “Saya tidak ingin terlalu mempermasalahkannya karena kami melakukan banyak hal di mana versi pertamanya tidak begitu bagus, dan Anda ingin menilainya di versi ketiganya. Namun menurut saya, V1, jelas tidak berhasil,” pungkasnya.

    (vmp/vmp)

  • Bos Epic Games Sindir Apple dan Google yang Dekati Donald Trump

    Bos Epic Games Sindir Apple dan Google yang Dekati Donald Trump

    Jakarta

    CEO Epic Games Tim Sweeney menyindir bos-bos perusahaan teknologi besar yang menjilat Presiden AS Terpilih Donald Trump.

    Menurut Sweeney, para bos perusahaan teknologi itu mendekati Trump untuk memuluskan langkah perusahaan yang mereka pimpin, utamanya untuk mempengaruhi undang-undang anti kompetitif.

    “Setelah bertahun-tahun berpura-pura jadi pendukung Partai Demokrat, pemimpin Big Tech kini berpura-pura menjadi pendukung Partai Republik, dengan harapan bisa diuntungkan oleh pemerintahan yang baru,” tulis Sweeney di akun X-nya.

    Sindiran pedas ini tentu ditujukan untuk beberapa perusahaan teknologi besar, seperti Apple dan Google, yang masing-masing mendonasikan USD 1 juta untuk acara pelantikan Trump.

    Bahkan CEO Apple Tim Cook ikut menyumbang secara pribadi, dan ia memang dikenal punya hubungan dekat dengan Trump, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Senin (13/1/2025).

    “Waspadalah terhadap kampanye monopoli licik untuk menghancurkan aturan persaingan usaha karena mereka menipu konsumen dan menghancurkan pesaingnya,” tambah Sweeney.

    Seperti diketahui, Epic Games memang punya masalah dengan Apple dan Google terkait distribusi software mereka. Sejak lama Sweeney selalu menggaungkan opsi penjualan game di Android dan iOS yang terpisah dari App Store dan Google Play.

    Tujuannya agar terlepas dari “pajak” yang diterapkan di dua platform itu, termasuk sistem pembayaran yang dipakai di App Store maupun Google Play. Menurutnya, sistem yang ada saat ini memonopoli pasar software mobile.

    Tak cuma Apple dan Google yang mendekati Trump menjelang pelantikannya itu. Amazon dan Meta juga ikut menyumbang untuk acara inagurasi Trump. Bahkan, CEO Meta Mark Zuckerberg mengambil langkah lebih jauh, yaitu melonggarkan aturan moderasi konten di Facebook, sama seperti yang dilakukan X sejak jauh hari.

    Pada Desember lalu, Trump juga menyebut banyak perubahan sikap dari berbagai pihak. Dari yang sebelumnya menjadi lawan, kini menjadi kawan.

    “Pada periode pertama, semuanya melawan saya. Pada periode ini semuanya ingin menjadi teman saya,” kata Trump.

    (asj/asj)

  • Zuckerberg Ingin Meta Lebih Maskulin

    Zuckerberg Ingin Meta Lebih Maskulin

    Jakarta

    Berbagai perusahaan di Amerika Serikat menerapkan program diversitas dan kesetaraan untuk mewadahi semua kalangan. Akan tetapi CEO Meta Mark Zuckerberg tampaknya sudah muak dengan elemen-elemen yang menurutnya ‘dikebiri secara budaya’ dan ingin lebih merangkul energi maskulin.

    “Mengatakan kami ingin ramah dan menciptakan lingkungan yang baik untuk semua orang adalah satu hal, tapi saya pikir mengatakan bahwa maskulinitas itu buruk adalah hal lain, dan saya pikir secara budaya kita telah beralih ke spektrum itu,” kata Zuck dalam wawancara baru-baru ini dengan Joe Rogan.

    Zuckerberg, yang tumbuh hanya dengan saudara perempuan dan sekarang hanya memiliki anak perempuan, mengatakan pada Rogan bahwa ia ingin wanita sukses, tapi tidak menganggap maskulinitas dikategorikan sebagai racun agar hal itu terjadi.

    Ia menilai seni bela diri yang digelutinya membuat hatinya berubah dalam hal maskulinitas. Melakukan sesuatu dengan teman-teman prianya di mana mereka saling mengalahkan jadi pengalaman positif. “Saya pikir memiliki budaya yang lebih merayakan agresi punya kelebihannya sendiri yang sangat positif,” imbuhnya.

    Meta dilaporkan mengakhiri program keberagaman, kesetaraan, dan inklusi. “Istilah ini dipahami sebagian orang sebagai praktik yang menunjukkan perlakuan istimewa terhadap beberapa kelompok daripada yang lain,” tulis Meta’s vice president of human resources, Janelle Gale.

    Perombakan kebijakan Meta mencakup perintah menyingkirkan tampon dari toilet pria. Meta juga mengumumkan berakhirnya kebijakan pengecekan fakta. “Sudah waktunya kembali ke akar kebebasan berekspresi di Facebook dan Instagram,” ujar Zuck.

    Pemeriksa fakta akan digantikan oleh Catatan Komunitas yang mirip dengan X. Zuck mengakui meskipun telah mencoba dengan itikad baik untuk menangani masalah tentang misinformasi, ada terlalu banyak penyensoran.

    Menurutnya, pemeriksa fakta karena terlalu bias secara politik. Selain itu, Meta dilaporkan akan menghapus tema kustomisasi transgender dan nonbiner dari aplikasi Messenger-nya dan akan mengubah kebijakan untuk mengizinkan kritik terhadap identitas gender.

    (fyk/fay)

  • Mark Zuckerberg Kritik Apple yang Dianggap Mandek Inovasi, Tapi Meta Hadapi Tuduhan Serupa

    Mark Zuckerberg Kritik Apple yang Dianggap Mandek Inovasi, Tapi Meta Hadapi Tuduhan Serupa

    JAKARTA – Dalam wawancara dengan Joe Rogan, CEO Meta Mark Zuckerberg melontarkan kritik tajam kepada Apple, menuduh perusahaan tersebut berhenti berinovasi sejak peluncuran iPhone dua dekade lalu. Namun, kritik ini justru memunculkan kembali tuduhan bahwa Meta juga mengalami stagnasi dalam pengembangan produknya, terutama Facebook.

    Zuckerberg menyampaikan pandangan beragam tentang pengaruh Apple, memuji kesuksesan iPhone, tetapi juga mengkritik perusahaan itu karena terlalu bergantung pada produk tersebut sebagai inti inovasinya.

    Dia juga menyerang praktik bisnis Apple, khususnya “Apple tax,” istilah yang mengacu pada komisi 30% yang dikenakan Apple kepada pengembang aplikasi untuk setiap transaksi di platformnya. Zuckerberg mengklaim bahwa biaya ini menghambat inovasi bisnis dan menyebutkan bahwa Meta dapat menggandakan keuntungannya jika tidak ada kebijakan tersebut.

    Zuckerberg membandingkan perangkat Vision Pro dari Apple dengan perangkat keras Meta, seperti Meta Quest. Menurutnya, meskipun Vision Pro memiliki layar yang unggul untuk menonton film, perangkat tersebut kalah dalam aspek interaktivitas dan gaming, yang menjadi kekuatan Meta Quest. Namun, Zuckerberg mengabaikan kemampuan Vision Pro sebagai alat produktivitas, area yang belum dapat ditandingi perangkat Meta.

    Tantangan Internal Meta

    Kritik terhadap Apple ini memunculkan ironi, mengingat Meta sendiri juga dituding mandek inovasi. Sejak rebranding menjadi Meta dan berinvestasi besar-besaran di metaverse, Facebook tetap menjadi penggerak utama pendapatan perusahaan.

    Meta juga dikenal sering meniru fitur dari kompetitornya. Mulai dari Stories milik Snapchat, video pendek ala TikTok, hingga Threads yang meniru Twitter, semua ini memperkuat tuduhan bahwa Meta lebih sering mereplikasi daripada berinovasi.

    Apple dan Meta sudah lama berseteru soal privasi pengguna. Kebijakan App Tracking Transparency (ATT) yang diperkenalkan Apple berdampak besar pada pendapatan iklan Meta, memperburuk hubungan kedua perusahaan.

    Kritik Zuckerberg terhadap pendekatan privasi Apple muncul di tengah kontroversi kebijakan Meta sendiri, seperti keputusan untuk menghentikan fact-checking dan melonggarkan aturan moderasi konten. Kebijakan baru yang membolehkan ujaran kebencian terhadap komunitas LGBTQ+ dengan dalih “kebebasan berpendapat” menuai kecaman luas.

    Keputusan Meta ini dianggap sebagai upaya mendekati Presiden AS terpilih Donald Trump, mengingat banyak kebijakan baru Meta sejalan dengan retorika Trump dan partainya. Akibatnya, banyak karyawan Meta mengundurkan diri, dan pencarian Google terkait “cara keluar dari Facebook” meningkat hingga 5.000%.

    Perseteruan antara Apple dan Meta mencerminkan ketegangan yang lebih luas di industri teknologi besar. Dengan pengawasan ketat regulator, strategi masing-masing perusahaan—Apple dengan fokus pada privasi dan Meta dengan deregulasi serta kebebasan berpendapat—dapat membentuk masa depan mereka di tengah perubahan lanskap teknologi.

    Sementara Zuckerberg terus menyerang Apple, pertanyaan besar tetap ada: apakah Meta mampu berinovasi lebih jauh dari platform warisannya, atau justru akan terjebak dalam pola yang sama? Upaya Meta untuk mendominasi metaverse masih menjadi pertaruhan besar yang hasilnya belum jelas.

  • Mark Zuckerberg Sebut WhatsApp Tak Mungkin Bisa Dibobol, Kecuali…

    Mark Zuckerberg Sebut WhatsApp Tak Mungkin Bisa Dibobol, Kecuali…

    Bisnis.com, JAKARTA – CEO META Mark Zuckerberg mengatakan bahwa WhatsApp (WA) merupakan aplikasi saling kirim pesan yang paling aman digunakan di dunia.

    Pesan dan data yang saling dikirimkan pengguna dalam WhatsApp tak mungkin bisa diakses dan dibobol secara mudah.

    Hal ini dikarenakan adanya enkripsi yang melindungi pesan seseorang bisa terbaca oleh orang lain. Bahkan Meta sendiri tak memiliki akses terhadap semua pesan yang dikirimkan pengguna.

    “Karena ada enkripsi di dalamnya, tidak ada (pesan) di dalamnya. Mereka tidak bisa membobol Meta dan mengakses pesan Anda,” kata Mark Zuckerberg dalam podcast The Joe Rogan Experience yang dikutip dari Youtube PowerfulJRE, Senin (13/1/2025).

    Enkripsi merupakan layanan keamanan yang membuat pesan dan data di dalamnya tak bisa dilihat oleh siapapun, bahkan perusahaan pembuatnya.

    “Yang dilakukan enkripsi adalah membuat perusahaan yang menjalankan layanan tidak melihatnya. Ketika aku mengirim pesan melalui WhatsApp, tidak mungkin server Meta melihat konten di dalam pesan tersebut. Kecuali kamu memfotonya, atau mengirim kembali pesan tersebut kepada Meta atau sebaliknya,” lanjut Zuckerberg. .

    Namun enkripsi tersebut tidak berlaku, dan tak bisa melindungi WhatsApp pengguna, apabila terhadap pihak yang membobol menggunakan spyware.

    Pihak-pihak seperti CIA dan FBI bisa langsung melihat isi pesan dan data pengguna secara langsung karena enkripsi tidak berfungsi.

    Enkripsi tersebut dibobol menggunakan spyware seperti Pegasus, yang disematkan di dalam ponsel seseorang.

    Pegasus dapat membaca pesan terenkripsi, foto, data penting, hingga mengakses log panggilan tanpa menyadap komunikasi di jalan.

    “Bila FPI menangkap anda dan meminta ponsel anda, mereka mungkin bisa masuk dan melihat (pesan) yang ada di sana (WhatsApp),” jelas Mark.

    WhatsApp sendiri telah menyiapkan fitur yang bisa digunakan pengguna untuk menghindari hal-hal semacam itu.

    Fitur tersebut yakni Disappearing Messages yang memungkinkan seseorang melindungi privasinya dari pembajakan.

    Zuckerberg menilai bahwa fitur ini menjadi langkah keamanan yang efektif bagi pengguna.

    “Memiliki enkripsi dan disappearing messages merupakan standar keamanan dan privasi yang cukup bagus,” pungkasnya.

  • Mark Zuckerberg Sebut CIA Bisa Akses WhatsApp Pengguna, Termasuk Indonesia?

    Mark Zuckerberg Sebut CIA Bisa Akses WhatsApp Pengguna, Termasuk Indonesia?

    Bisnis.com, JAKARTA – Pemilik META Mark Zuckerberg mengatakan bahwa aplikasi WhatsApp (WA) bisa diakses oleh Central Intelligence Agency (CIA).

    Hal ini diungkapkannya saat berbincang dalam podcast The Joe Rogan Experience pada Jumat (10/1/2025).

    CIA bisa membaca pesan dalam WhatsApp dengan cara mengakses secara fisik ponsel pengguna. Bila hal ini dilakukan, maka enkripsi end-to-end tak lagi berlaku.

    “Yang dilakukan enkripsi adalah membuat perusahaan yang menjalankan layanan tidak melihatnya,” kata Zuckerberg, dikutip dari Youtube PowerfulJRE, Senin (13/1/2025).

    Lebih lanjut Zuckerberg menjelaskan, seseorang yang membobol Meta tetap tak bisa mengakses pesan dan data seorang pengguna.

    “Ketika aku mengirim pesan melalui WhatsApp, tidak mungkin server Meta melihat konten di dalam pesan tersebut. Kecuali kamu memfotonya, atau mengirim kembali pesan tersebut kepada Meta atau sebaliknya,” lanjut Zuckerberg memberikan penjelasan.

    Dengan enkripsi, Meta sendiri tidak bisa melihat seluruh pesan yang saling dikirimkan oleh pengguna.

    “Karena ada enkripsi di dalamnya, tidak ada (pesan) di dalamnya. Mereka tidak bisa membobol Meta dan mengakses pesan Anda,”

    Namun untuk CIA, petugas bisa langsung melihat isi pesan dan data pengguna secara langsung karena enkripsi tidak berfungsi.

    Enkripsi tersebut bisa dibobol menggunakan spyware seperti Pegasus, yang disematkan di dalam ponsel seseorang.

    Pegasus dapat membaca pesan terenkripsi, foto, data penting, hingga mengakses log panggilan tanpa menyadap komunikasi di jalan.

    “Bila FPI menangkap anda dan meminta ponsel anda, mereka mungkin bisa masuk dan melihat (pesan) yang ada di sana (WhatsApp),” jelas Mark.

    WhatsApp sendiri telah menyiapkan fitur yang bisa digunakan pengguna untuk menghindari hal-hal semacam itu.

    Fitur tersebut yakni Disappearing Messages yang memungkinkan seseorang melindungi privasinya dari pembajakan.

    Zuckerberg menilai bahwa fitur ini menjadi langkah keamanan yang efektif bagi pengguna.

    “Memiliki enkripsi dan disappearing messages merupakan standar keamanan dan privasi yang cukup bagus. Ini adalah fitur yang bagus,” pungkasnya.

    Ia pun menekankan bahwa WhatsApp adalah salah satu aplikasi perpesanan yang sangat terjamin keamanannya.