Tag: Mark Zuckerberg

  • Daftar Terbaru Orang Terkaya Dunia Versi Forbes, 3.000 Miliarder dengan Total Harta USD 16 Triliun – Page 3

    Daftar Terbaru Orang Terkaya Dunia Versi Forbes, 3.000 Miliarder dengan Total Harta USD 16 Triliun – Page 3

    Orang terkaya dari semuanya adalah Elon Musk, yang kekayaannya diperkirakan mencapai USD 342 miliar. Meskipun menghabiskan lebih banyak waktunya untuk memimpin DOGE, lembaga yang dibentuk donald Trump untuk pemotongan biaya pemerintahan, Elon Musk telah menambahkan USD 147 miliar ke kekayaannya selama setahun terakhir.

    Kenaikan harta ini berkat tahun yang luar biasa untuk perusahaan roketnya SpaceX dan perusahaan AI-nya xAI, yang ia gabungkan dengan raksasa media sosialnya X minggu lalu.

    Bahkan Tesla, meskipun ada protes baru-baru ini dan aksi jual pasar saham, masih diperdagangkan lebih tinggi dari tahun lalu.

    Itu memungkinkan Musk untuk merebut kembali gelar orang terkaya di dunia dari Arnault, dan telah memberinya jarak harta USD 126 miliar atas orang terkaya berikutnya yaitu Mark Zuckerberg yang merupakan pendiri Meta.

    kekayaan Mark Zuckerberg diperkirakan mencapai USD 216 miliar, yang menempati peringkat nomor 2 untuk pertama kalinya.

    Jeff Bezos dari Amazon diperkriakan memiliki harta USD 215 miliar, menempati peringkat nomor 3 orang terkaya dunia dan Larry Ellison dari Oracle dengan kekayaan USD 192 miliar menempati peringkat keempat.

    Arnault dengan jumlah harta USD 178 miliar, turun ke peringkat kelima, peringkat terendahnya sejak 2017, di tengah kemerosotan saham konglomerat mewahnya LVMH.

    Forbes menggunakan harga saham dan nilai tukar dari 7 Maret 2025 untuk pemeringkatan tahun ini.

     

  • Agresif Kembangkan AI, Meta Malah Ditinggal Bosnya

    Agresif Kembangkan AI, Meta Malah Ditinggal Bosnya

    Jakarta

    Kepala penelitian kecerdasan buatan atau AI Meta, mengumumkan akan meninggalkan perusahaan tersebut. Joelle Pineau, Vice President of AI Research, mengumumkan kepergiannya melalui LinkedIn, di mana hari terakhirnya di perusahaan media sosial tersebut adalah 30 Mei.

    Kepergiannya terjadi pada saat penuh tantangan bagi Meta. CEO Mark Zuckerberg menjadikan AI prioritas utama, menginvestasikan miliaran dolar dalam upaya menjadi pemimpin pasar dan bersaing dengan AI dari OpenAI sampai Google.

    Zuckerberg menguak tujuannya adalah Meta membuat asisten AI dengan lebih dari 1 miliar pengguna dan mencapai kecerdasan umum buatan, istilah untuk AI yang dapat berpikir dan mengambil tindakan yang setara manusia.

    “Seiring dunia mengalami perubahan signifikan, seiring kian cepatnya perlombaan AI, dan saat Meta bersiap untuk babak selanjutnya, ini saatnya memberi ruang bagi orang lain melanjutkan pekerjaan itu,” tulis Pineau yang dikutip detikINET dari CNBC.

    “Saya akan mendukung Anda dari pinggir, karena Anda memiliki semua bahan yang dibutuhkan untuk membangun sistem AI terbaik dunia,dan secara bertanggung jawab menerapkannya ke dalam kehidupan miliaran orang,” imbihnya.

    Pineau adalah salah satu peneliti AI terkemuka di Meta dan memimpin unit penelitian AI fundamental perusahaan, atau FAIR, sejak 2023. Ia gabung dengan Meta tahun 2017 untuk memimpin lab penelitian AI Meta di Montreal.

    Pineau juga profesor ilmu komputer di Universitas McGill, tempat ia menjadi salah satu direktur lab penalaran dan pembelajaran.

    Beberapa proyek besar yang diawasi Pineau meliputi keluarga model AI Llama sumber terbuka milik Meta dan teknologi lain seperti perangkat lunak PyTorch untuk pengembang AI.

    Pineau tidak mengungkapkan alasan dia resign dan apa pekerjaan selanjutnya. Dia menyebut akan meluangkan waktu untuk mengamati dan merenung, sebelum terjun ke petualangan baru.

    (fyk/ask)

  • Kepala Penelitian AI Meta Mendadak Umumkan Mundur, Ada Apa?

    Kepala Penelitian AI Meta Mendadak Umumkan Mundur, Ada Apa?

    Bisnis.com, JAKARTA – Meta Platforms Inc. kehilangan salah satu orang terpenting dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

    Joelle Pineau, wakil presiden yang memimpin tim Penelitian AI Fundamental Meta Platforms Inc. yang dikenal sebagai FAIR mengumumkan hengkang dari perusahaan.

    Langkah tersebut dilakukan saat perusahaan tengah agresif berinvestasi untuk bersaing secara agresif dalam bidang kecerdasan buatan atau AI.

    Melansir Bloomberg, Rabu (2/4/2025), Pineau resmi mengumumkan pengunduran dirinya setelah bekerja di perusahaan selama 8 tahun pada Selasa (1/4/2025). Dia diketahui telah memimpin tim FAIR sejak awal 2023.

    Tim FAIR yang dipimpinnya melakukan upaya penelitian AI Meta, yang berfokus pada segala hal mulai dari teknologi penerjemahan suara dan pengenalan gambar hingga model bahasa besar sumber terbuka milik perusahaan, yang disebut Llama. Unit tersebut juga mengeksplorasi pengembangan apa yang disebut Meta sebagai “kecerdasan mesin tingkat lanjut,” atau kecerdasan tingkat manusia untuk mesin.

    Pineau, yang juga merupakan seorang profesor ilmu komputer di Universitas McGill di Montreal, mengatakan bahwa dia akan tetap bekerja di perusahaan tersebut hingga Mei.

    “Saat ini, saat dunia mengalami perubahan signifikan, saat perlombaan AI semakin cepat, dan saat Meta bersiap untuk babak selanjutnya, inilah saatnya untuk memberi ruang bagi orang lain untuk melanjutkan pekerjaan tersebut,” tulisnya dalam sebuah catatan kepada rekan-rekannya. Pineau juga mengunggah pengumumannya di media sosial seperti dilansir Bloomberg, Rabu (2/4/2025).

    Mundurnya Pineau dari perusahaan berisiko mempersulit upaya Meta untuk bersaing dengan para pesaing seperti OpenAI, Anthropic, dan xAI milik Elon Musk.

    CEO Meta, Mark Zuckerberg telah menjadikan AI Meta sebagai prioritas utama, dan mengatakan pada bulan Januari bahwa perusahaan akan menghabiskan sebanyak $65 miliar untuk proyek-proyek terkait AI pada tahun ini.

    Dorongan perusahaan tersebut mencakup upaya untuk menjadikan Llama sebagai standar industri di seluruh dunia. Zuckerberg mengaku yakin chatbot AI Meta, yang sudah tersedia di Facebook, Instagram, dan WhatsApp, dapat digunakan oleh 1 miliar orang pada tahun ini.

    Seorang juru bicara META mengatakan bahwa perusahaan hingga saat ini belum memiliki pengganti Pineau, tetapi sedang mencari penggantinya. Pada tahun lalu, perusahaan tersebut menata ulang tim AI untuk mendekatkan Pineau dan FAIR dengan divisi produk, sebuah keputusan yang dimaksudkan untuk mempercepat proses penelitian grup tersebut terhadap berbagai produk Meta.

    “Meta tetap berkomitmen pada penelitian AI dan rencananya tidak berubah sebagai bagian dari kepergian Pineau,” ujar juru bicara META.

  • Lima Miliarder Dunia Ini Kehilangan Miliaran Dolar Tapi Tetap Kaya Raya, Siapa Saja Mereka?

    Lima Miliarder Dunia Ini Kehilangan Miliaran Dolar Tapi Tetap Kaya Raya, Siapa Saja Mereka?

    Jakarta: Meskipun mengalami penurunan kekayaan, lima miliarder ini masih mempertahankan posisi teratas dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes per 29 Maret 2025. 
     
    Siapa saja mereka dan bagaimana penurunan harta mereka? Berikut ulasannya dirangkum dari laman Forbes.
    1. Elon Musk
    Sebagai pendiri dan CEO Tesla serta SpaceX, Elon Musk tetap menduduki posisi puncak dengan kekayaan mencapai USD342,9 miliar. Namun, kekayaannya turun sebesar 1,55 persen atau sekitar USD5,4 miliar. Penurunan ini tidak menggoyahkan dominasinya di daftar miliarder dunia.?

    2. Jeff Bezos
    Pendiri Amazon, Jeff Bezos, berada di posisi kedua dengan kekayaan sebesar USD209,2 miliar. Ia mengalami penurunan harta sebesar 3,62 persen atau sekitar USD7,9 miliar. 
     
    Meskipun demikian, Bezos tetap menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia bisnis global.?
     

    3. Mark Zuckerberg
    CEO Meta Platforms, Mark Zuckerberg, memiliki kekayaan sebesar USD199,5 miliar, mengalami penurunan sebesar 4,24 persen atau sekitar USD8,8 miliar. 

    Transformasi Facebook menjadi Meta menunjukkan visinya dalam mengarahkan perusahaan ke arah metaverse.?

    4. Larry Ellison
    Sebagai pendiri dan CTO Oracle, Larry Ellison memiliki kekayaan sebesar USD176,3 miliar, turun 3,12 persen atau sekitar USD5,7 miliar. 
     
    Perannya dalam mengembangkan Oracle menjadikannya salah satu tokoh penting di industri teknologi.?
    5. Bernard Arnault & Keluarga
    Chairman dan CEO LVMH, Bernard Arnault, bersama keluarganya memiliki kekayaan sebesar USD164,8 miliar, mengalami penurunan sebesar 0,37 persen atau sekitar USD614 juta. 
     
    Kepemimpinannya atas 75 merek fesyen dan kosmetik ternama dunia mempertahankan posisinya di puncak industri mewah.?
     
    Meskipun harta mereka merosot miliaran dolar, lima miliarder ini masih menjadi penguasa di dunia bisnis. Apakah tren penurunan ini akan berlanjut, atau mereka akan kembali menambah kekayaan dalam waktu dekat? 
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Meta Diam-diam Raup Untung dari Skema Bagi Hasil Model AI Llama

    Meta Diam-diam Raup Untung dari Skema Bagi Hasil Model AI Llama

    Bisnis.com, JAKARTA — Meta, perusahaan induk Facebook, diketahui memiliki perjanjian bagi hasil pendapatan dengan penyedia hosting model kecerdasan buatan (AI) Llama.  

    Melansir Reuters, Minggu (23/3/2025), hal ini terungkap dalam dokumen pengadilan terbaru yang terkait dengan gugatan hak cipta Kadrey v. Meta, di mana Meta dituduh melatih model Llama menggunakan ratusan terabyte e-book bajakan.

    Dalam sebuah unggahan blog pada Juli 2024, CEO Meta Mark Zuckerberg pernah mengatakan bahwa menjual akses ke model AI Llama yang tersedia secara terbuka bukanlah model bisnis Meta. 

    Namun, dokumen pengadilan yang baru-baru ini disunting menunjukkan bahwa Meta memperoleh sejumlah uang dari Llama melalui kesepakatan dengan mitra hosting yang menawarkan model tersebut ke pengguna. 

    Pengajuan ini tidak menyebutkan nama-nama host tertentu yang membayar Meta, tetapi Meta sebelumnya telah mencantumkan beberapa mitra hosting terkemuka seperti AWS, Nvidia, Databricks, Groq, Dell, Azure, Google Cloud, dan Snowflake.

    Meskipun pengembang tidak diwajibkan menggunakan model Llama melalui mitra-mitra tersebut, banyak dari mereka yang menyediakan layanan tambahan yang membuat penggunaan dan pengoperasian Llama menjadi lebih mudah. 

    Zuckerberg pernah mengungkapkan kemungkinan monetisasi Llama dengan cara lain, seperti melalui layanan pesan bisnis atau iklan dalam interaksi AI, tetapi tanpa menjelaskan detail lebih lanjut.

    “Jika Anda adalah seseorang seperti Microsoft atau Amazon atau Google dan pada dasarnya Anda akan menjual kembali layanan ini, itu adalah sesuatu yang menurut kami harus kami dapatkan sebagian dari pendapatannya,” katanya.

    Selain itu, Zuckerberg menekankan bahwa sebagian besar nilai yang diperoleh Meta dari Llama berasal dari kontribusi komunitas penelitian AI yang meningkatkan kemampuan model ini. Llama digunakan untuk mendukung berbagai produk di seluruh platform Meta, termasuk asisten AI mereka, Meta AI.

    Namun, penggugat dalam kasus Kadrey v. Meta mengklaim bahwa Meta tidak hanya menggunakan karya bajakan untuk melatih Llama, tetapi juga memfasilitasi pelanggaran hak cipta dengan cara menyemai atau mengunggah karya-karya tersebut melalui metode torrenting. 

    Penggugat menuduh bahwa Meta secara diam-diam mengunduh dan membagikan e-book untuk melatih model mereka, yang berisiko melanggar hak cipta pengarang karya-karya tersebut.

    Meta sendiri berencana untuk meningkatkan belanja modalnya secara signifikan pada tahun ini, dengan sebagian besar dana dialokasikan untuk pengembangan AI. 

    Perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa mereka akan menghabiskan antara US$60 miliar hingga US$80 miliar untuk belanja modal pada tahun 2025, yang hampir dua kali lipat dibandingkan anggaran belanja modal mereka pada tahun 2024. Sebagian besar anggaran tersebut akan digunakan untuk pusat data dan pengembangan tim AI di perusahaan.

  • Threads Permudah Pengguna Atur Feed Default dan Fitur Lainnya – Page 3

    Threads Permudah Pengguna Atur Feed Default dan Fitur Lainnya – Page 3

    Meta lagi-lagi menambahkan fitur baru di Threads. Setelah sebelumnya menghadirkan opsi untuk membuat custom feeds dan pilihan tampilan timeline default, sekarang Threads menambahkan fitur baru berbagi custom feeds dengan pengguna lain.

    Bagikan Custom Feeds dengan Mudah

    Mark Zuckerberg, menunjukkan kalau Threads saat ini memungkinkan pengguna untuk membagikan custom feeds mereka ke orang lain.

    Dengan fitur ini, mengutip informasi dari 9to5mac, Kamis (6/2/2025), pengguna lain bisa melihat dan menyimpan feed yang telah dibuat, lengkap dengan akun yang dipilih. Misalnya, kamu bisa berbagi feed khusus berita teknologi dengan teman.

    Cara mengaktifkan feed custom di profil cukup mudah. Tinggal tekan dan tahan feed yang kamu buat di bagian atas aplikasi Threads, lalu pilih Edit feeds. 

    Di sana ada opsi “Public” yang bisa kamu aktifkan. Kalau ingin membagikan feed ke orang lain, cukup tekan tombol “Share Feed” dan bisa dikirimkan lewat tautan atau DM.

    Custom feeds ini bakal muncul di tab bagian atas layar utama aplikasi Threads. Selain itu, feed yang dibagikan juga bisa disematkan ke home screen agar lebih gampang diakses.

  • Musuh AS Makin Banyak di Tangan Trump, Negara Eropa Teriak

    Musuh AS Makin Banyak di Tangan Trump, Negara Eropa Teriak

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kebijakan perang tarif yang digaungkan Presiden AS Donald Trump membuat beberapa negara bereaksi. Kini, bukan cuma China, Rusia, dan Iran yang menjadi musuh AS.

    Beberapa negara lain yang terdampak kebijakan tarif tambahan mulai menunjukkan gesekan. Antara lain Kanada, Meksiko, Uni Eropa, Inggris, Brasil, hingga Korea Selatan.

    Terbaru, Belanda yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat AS juga mulai lantang bersuara. Parlemen Belanda pada pekan ini menyetujui beberapa mosi yang mendorong pemerintah mengurangi ketergantungan dengan perusahaan software asal AS.

    Parlemen juga meminta pemerintah menggenjot pembentukan platform layanan cloud di bawah kontrol Belanda, dikutip dari Reuters, Rabu (19/3/2025).

    Inisiatif serupa memang pernah gagal di masa lalu karena kurangnya alternatif dari Eropa yang memadai. Namun, para legislator mengatakan perubahan hubungan dengan AS di bawah kepemimpinan Trump membuat langkah kemandirian ini bersifat darurat.

    “Pertanyaan yang harus kita utarakan sebagai bangsa Eropa adalah: apakah kita nyaman orang seperti Trump, Mark Zuckerberg (CEO Meta), dan Elon Musk (Pemilik X) menguasai data kita?” kata Marieke Koekkoek yang merancang 1 dari 8 mosi yang disetujui parlemen terkait isu ini.

    Selain meluncurkan platform layanan cloud berdaulat, mosi tersebut meminta pemerintah untuk mengaji ulang keputusan untuk menggunakan Amazon Web Services untuk hosting domain internet di Belanda.

    Parlemen meminta pemerintah Belanda mengembangkan alternatif untuk perangkat lunak AS dan perlakuan istimewa untuk perusahaan Eropa dalam tender publik.

    Pemungutan suara untuk persetujuan mosi tersebut dilakukan sehari setelah puluhan perusahaan teknologi Eropa meminta Komisi Eropa untuk membentuk dana kedaulatan (sovereign fund) dalam rangka berinvestasi dalam teknologi Eropa, termasuk infrastruktur cloud.

    Juru bicara Kementerian Kebijakan Ekonomi Belanda menolak berkomentar.

    Pakar teknologi Belanda, Bert Hubert, telah menyarankan pengurangan ketergantungan terhadap AS. Ia mengatakan teknologi yang berdaulat merupakan satu-satunya langkah awal untuk menghadapi tekanan AS.

    Ia mengatakan pemerintah perlu memaksa lembaga untuk melaporkan secara publik risiko yang terkait dengan ketergantungan mereka pada perusahaan cloud AS.

    “Dengan munculnya Trump 2.0, menjadi jelas bahwa ini bukan sesuatu yang dapat Anda setujui begitu saja,” katanya.

    Salah satu isu yang muncul dalam debat parlemen adalah kemungkinan Microsoft yang merupakan raksasa asal AS menyetop kerja sama dengan Pengadilan Kriminal Internasional yang berbasis di Belanda.

    Pemerintahan Trump menjatuhkan sanksi pada pengadilan kejahatan perang tersebut bulan lalu setelah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

    Amazon dan Microsoft tidak segera menanggapi permintaan komentar.

    (fab/fab)

  • Meta Bungkam Mantan Karyawan yang Bongkar Borok Perusahaan

    Meta Bungkam Mantan Karyawan yang Bongkar Borok Perusahaan

    Jakarta

    Meta berupaya menghentikan peredaran buku memoar seorang mantan karyawan yang berisi sejumlah borok perusahaan. Seorang arbiter berpihak kepada Meta dan mengatakan penulis buku tersebut harus berhenti menjual dan mempromosikan tulisannya.

    Drama ini berawal dari buku memoar berjudul ‘Careless People: A Cautionary Tale of Power, Greed, and Lost Idealism’ yang ditulis oleh Sarah Wynn-Williams, mantan karyawan di divisi kebijakan publik Facebook yang kini menjadi whistleblower.

    ‘Careless People’ merupakan kisah pribadi tentang apa yang Wynn-Williams lihat dan alami saat bekerja bersama eksekutif Facebook seperti Mark Zuckerberg, Sheryl Sandberg, dan Joel Kaplan. Ia bekerja di Facebook dari tahun 2011 sampai tahun 2017.

    Wynn-Williams mengungkap sejumlah informasi kontroversial terkait Facebook, termasuk menuduh Kaplan, yang saat ini menjabat sebagai Chief Global Affairs Officer, melakukan pelecehan terhadapnya.

    Ia juga membagikan informasi baru tentang upaya Zuckerberg membawa Facebook ke China sekitar satu dekade yang lalu, dan pertemuannya yang canggung dengan sejumlah pemimpin dunia.

    Buku ini baru diumumkan pekan lalu dan saat ini sudah dijual di sejumlah toko buku besar. Namun Meta langsung kepanasan dan menyebut buku ini sebagai ‘buku baru berisi berita lama’. Sejumlah mantan karyawan lainnya juga membantah klaim Wynn-Williams dalam buku tersebut.

    Meta juga mengajukan mosi darurat kepada seorang arbiter dalam upayanya untuk memblokir penerbitan buku tersebut, dengan alasan bahwa Wynn-Williams melanggar perjanjian non-disparagement yang ia tanda tangani saat dipecat dari Facebook pada tahun 2017.

    Arbiter tersebut berpihak kepada Meta dan mengatakan bahwa Wynn-Williams harus berhenti membuat komentar yang merendahkan tentang Meta dan berhenti menerbitkan atau mendistribusikan buku tersebut. Padahal buku itu saat ini sudah dijual di pasaran.

    “Putusan ini menegaskan bahwa buku Sarah Wynn Williams yang palsu dan penuh fitnah tidak seharusnya diterbitkan,” kata juru bicara Meta Andy Stone dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari Engadget, Sabtu (15/3/2025).

    “Tindakan hukum yang mendesak ini perlu dilakukan karena Williams, yang sudah lebih dari delapan tahun sejak dipecat oleh perusahaan, dengan sengaja menyembunyikan keberadaan proyek bukunya dan menghindari proses pengecekan fakta agar bisa segera menerbitkannya setelah menunggu selama delapan tahun,” sambungnya.

    Dalam pernyataan resminya, Flatiron Books selaku penerbit ‘Careless People’ mengaku terkejut dengan tindakan Meta dan mengatakan tidak akan berhenti mempromosikan buku tersebut. Mereka juga menekankan buku tersebut sudah melewati proses penyuntingan dan pemeriksaan secara menyeluruh.

    (vmp/rns)

  • Heboh Mantan Pegawai Facebook Klaim Bosnya Suka Mesum

    Heboh Mantan Pegawai Facebook Klaim Bosnya Suka Mesum

    Jakarta

    Seorang mantan pegawai Facebook menulis kisah saat dia bekerja dalam sebuah buku berjudul Careless People: A Cautionary Tale of Power, Greed, and Lost Idealism. Isinya bisa dikatakan menghebohkan dan membuat Meta selaku induk Facebook mencak-mencak.

    Dalam buku itu, Sarah Wynn-Williams yang dulu posisinya Global Public Policy at Facebook, antara lain menuding mantan Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg, berbuat kurang pantas alias mesum. Sandberg dulu banyak dipandang sebagai tangan kanan Mark Zuckerberg.

    Wynn menulis pernah saat penerbangan panjang ke Eropa, Sandberg dan asistennya yang berusia 26 tahun tidur saling memangku dan menyentuh rambut masing-masing.

    Dalam perjalanan itu, Wynn juga diminta membeli beberapa lingerie seharga USD 13 ribu atau ratusan juta rupiah. Tak hanya itu, Sandberg yang memakai piyama, meminta Wynn untuk bergabung dengannya di kasur, tapi Wynn menolaknya.

    Di akhir perjalanan Sandberg menurutnya berkata: “Kamu seharusnya ke tempat tidur”. Setelah kejadian itu, dikutip detikINET dari NBC, Wynn mengklaim merasa diasingkan oleh Sandberg saat bekerja.

    Selain Sandberg, Wynn juga mengklaim eksekutif top Facebook lainnya, Joel Kaplan, bertingkah tidak pantas, antara lain berkomentar bahwa penampilan Wynn mengundang.

    Meta telah membantah semua tudingan Wynn, bahkan mengancam akan melakukan gugatan hukum. “Buku ini adalah gabungan dari tudingan salah dan usang terhadap eksekutif kami,” kata juru bicara Meta.

    “Delapan tahun lalu, Sarah Wynn Williams dipecat karena performanya buruk dan sikapnya toxic, dan investigasi pada saat itu memastikan dia membuat tuduhan yang salah dan tidak berdasar mengenai pelecehan,” tambahnya.

    Menurutnya, sejak saat itu Wynn dibayar oleh aktivis anti Facebook dan buku itu juga termasuk dalam kampanye itu. Sosok anonim yang mengaku berada di pesawat yang sama dengan Wynn dan Sandberg juga mengungkapkan kesaksiannya.

    Menurutnya, semua orang di pesawat, termasuk Sandberg dan anggota staf lainnya, mendorong Wynn-Williams untuk tidur. Orang ini mengatakan mereka melakukannya karena Wynn tampak sedang hamil dan mereka khawatir tentang kesehatannya, bukan karena alasan lain.

    (fyk/fay)

  • Badai PHK Massal Makin Ganas, Sebulan 15.000 Orang Jadi Pengangguran

    Badai PHK Massal Makin Ganas, Sebulan 15.000 Orang Jadi Pengangguran

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Badai PHK di sektor teknologi makin ganas di bulan Februari. Bahkan menjadi yang terburuk dalam enam bulan terakhir. Jika ditotal, ada sekitar 15 ribu orang yang jadi pengangguran.

    Meta, HP, dan Workday adalah beberapa nama besar yang memangkas sebagian besar tenaga kerjanya.

    Menurut situs pelacak PHK Layoffs.fyi, sepanjang bulan Februari, total 46 perusahaan memberhentikan 15.994 karyawan. Jika dibandingkan dengan bulan Januari, PHK melonjak sekitar 184 persen di Februari. Bulan Januari tercatat hanya 25 perusahaan yang dilaporkan melakukan PHK dengan total 5.641 karyawan terdampak.

    Pada awal bulan, dilaporkan bahwa Meta melakukan PHK yang dapat berdampak pada sekitar 5 persen dari tenaga kerjanya, yaitu sekitar 3.600 karyawan.

    PHK ini digambarkan sebagai ‘pemangkasan berdasarkan kinerja,’ dan dimulai pada 10 Februari dengan pemberitahuan yang akan disampaikan sepanjang minggu berikutnya.

    Sebelumnya di bulan Januari, CEO Meta, Mark Zuckerberg, telah menginformasikan kepada para stafnya bahwa ia berencana untuk meningkatkan standar manajemen kinerja dan mengeluarkan karyawan yang berkinerja buruk.

    “Kami biasanya mengeluarkan orang-orang yang tidak memenuhi ekspektasi selama satu tahun,” katanya dalam sebuah memo internal. Ia menambahkan, “Sekarang kami akan melakukan pemangkasan berbasis kinerja yang lebih ekstensif selama siklus ini.”

    Namun, setelah pengumuman tersebut, dilaporkan bahwa beberapa karyawan dengan tinjauan kinerja yang baik juga terkena dampaknya.

    HP memangkas lebih dari 2.000 pekerjaan

    Pada 27 Februari, perusahaan teknologi raksasa HP mengumumkan bahwa mereka akan memangkas hingga 2.000 pekerjaan sebagai bagian dari rencana restrukturisasi yang sedang berlangsung.

    Saat ini HP tercatat memiliki sekitar 58.000 pekerja di 59 negara. Perusahaan berharap dapat menghemat sekitar US$300 juta pada akhir Oktober 2025 dengan pemangkasan tersebut.

    Namun, perusahaan PC ini dilaporkan juga akan mengeluarkan biaya restrukturisasi sekitar US$150 juta. HP telah memperkenalkan rencana restrukturisasi yang dinamai ‘Future Now’ pada November 2022 dengan target pemangkasan 7.000 pekerjaan.

    Dengan adanya PHK terbaru ini, jumlah total di bawah rencana tersebut akan mencapai 9.000 orang.

    Dengan pemutusan hubungan kerja terbaru, raksasa teknologi ini berharap dapat menghemat US$1,9 miliar melalui rencana tersebut, dengan total biaya restrukturisasi sekitar $1,2 miliar.

    Mengapa banyak raksasa teknologi yang melakukan PHK ?

    Ada banyak faktor yang mendorong terjadinya PHK massal pada Februari 2025. Ketidakpastian tentang masa depan ekonomi telah menjadi kekhawatiran yang terus berlanjut, ditambah dengan kenaikan suku bunga dan tekanan inflasi.

    Aspek-aspek ini telah mendorong bisnis untuk menilai kembali strategi keuangan mereka. Sebagian besar perusahaan telah mengutip volatilitas ekonomi sebagai pendorong utama untuk inisiatif pemangkasan biaya mereka. Selain itu, perekrutan yang berlebihan selama pandemi menyebabkan banyak organisasi kelebihan staf, mendorong mereka untuk mengurangi peran yang tidak perlu di tengah penurunan pendapatan.

    Faktor utama lainnya adalah meningkatnya adopsi solusi AI yang membuat banyak pekerjaan menjadi tak terpakai, terutama pekerjaan-pekerjaan seperti layanan pelanggan, SDM, pemasaran, dan lain-lain.

    Dalam beberapa kasus, merger dan akuisisi juga telah memaksa perusahaan untuk merestrukturisasi, yang mengakibatkan tumpang tindihnya peran dan pemutusan hubungan kerja.

    Melemahnya kepercayaan investor juga menjadi alasan, karena banyak perusahaan menghadapi penurunan harga saham karena proyek pendapatan yang lebih rendah dari perkiraan. Hal ini mendorong banyak perusahaan untuk memangkas biaya demi mempertahankan profitabilitas mereka.

    (fab/fab)