Tag: Mark Zuckerberg

  • Donald Trump Kemungkinan Akan Perpanjang Tenggat Waktu Penjualan TikTok Lagi

    Donald Trump Kemungkinan Akan Perpanjang Tenggat Waktu Penjualan TikTok Lagi

    JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa 17 Juni, menyatakan bahwa ia kemungkinan akan kembali memberikan perpanjangan waktu kepada ByteDance, perusahaan asal China, untuk menjual operasi TikTok di Amerika Serikat.

    Trump sebelumnya telah menyatakan pada bulan Mei bahwa ia terbuka untuk memperpanjang tenggat waktu yang sebelumnya ditetapkan pada 19 Juni 2025, terutama setelah TikTok membantu meningkatkan dukungannya dari pemilih muda selama Pemilu 2024.

    Berbicara kepada wartawan di Air Force One, Trump mengatakan bahwa ia mempertimbangkan perpanjangan waktu tersebut, dan mengisyaratkan bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan memerlukan persetujuan dari pemerintah China. Namun, ia yakin Presiden China, Xi Jinping, pada akhirnya akan menyetujui penjualan tersebut.

    “Kemungkinan besar, ya,” ujar Trump ketika ditanya apakah ia akan memperpanjang tenggat waktu. “Kemungkinan perlu mendapat persetujuan dari China, tapi saya rasa kita akan mendapatkannya. Saya pikir Presiden Xi pada akhirnya akan menyetujuinya,” tambahnya.

    Selama masa jabatan pertamanya, Trump sempat berupaya untuk melarang TikTok di AS. Namun, sikapnya berubah pada pemilu 2024, dengan alasan bahwa platform tersebut membantu menyeimbangkan dominasi Meta (perusahaan induk Facebook dan Instagram).

    Trump diketahui memiliki hubungan yang tegang dengan CEO Meta, Mark Zuckerberg, yang pernah menangguhkan akun Trump setelah insiden penyerbuan Capitol pada 6 Januari 2021. Trump bahkan sempat menyatakan akan memenjarakan Zuckerberg. Pada Januari lalu, Meta sepakat untuk membayar  25 juta dolar AS (sekitar Rp408 miliar) untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan Trump terkait penangguhan tersebut.

    Tenggat waktu penjualan TikTok ini muncul di tengah negosiasi perdagangan baru antara Amerika Serikat dan China. Sebelumnya, Trump sempat menaikkan tarif impor terhadap barang-barang asal China, namun kemudian menundanya. Laporan menyebut bahwa pemerintah China awalnya bersedia menyetujui kesepakatan TikTok, namun berubah pikiran setelah Trump mengumumkan tarif baru pada April lalu.

    Trump mengatakan bahwa penjualan TikTok kemungkinan besar hanya akan terjadi setelah AS dan China mencapai kesepakatan dagang.

    Sebelumnya, pada era Presiden Joe Biden, ByteDance menegaskan bahwa mereka tidak berniat menjual TikTok. Namun, pada April 2025, perusahaan itu mengonfirmasi bahwa mereka telah mulai berdialog dengan pemerintahan Trump untuk mencari solusi atas operasi bisnisnya di AS. ByteDance juga menekankan bahwa setiap kesepakatan akan memerlukan persetujuan resmi dari pemerintah China.

  • Donald Trump Kemungkinan Akan Perpanjang Tenggat Waktu Penjualan TikTok Lagi

    Donald Trump Kemungkinan Akan Perpanjang Tenggat Waktu Penjualan TikTok Lagi

    JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Selasa 17 Juni, menyatakan bahwa ia kemungkinan akan kembali memberikan perpanjangan waktu kepada ByteDance, perusahaan asal China, untuk menjual operasi TikTok di Amerika Serikat.

    Trump sebelumnya telah menyatakan pada bulan Mei bahwa ia terbuka untuk memperpanjang tenggat waktu yang sebelumnya ditetapkan pada 19 Juni 2025, terutama setelah TikTok membantu meningkatkan dukungannya dari pemilih muda selama Pemilu 2024.

    Berbicara kepada wartawan di Air Force One, Trump mengatakan bahwa ia mempertimbangkan perpanjangan waktu tersebut, dan mengisyaratkan bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan memerlukan persetujuan dari pemerintah China. Namun, ia yakin Presiden China, Xi Jinping, pada akhirnya akan menyetujui penjualan tersebut.

    “Kemungkinan besar, ya,” ujar Trump ketika ditanya apakah ia akan memperpanjang tenggat waktu. “Kemungkinan perlu mendapat persetujuan dari China, tapi saya rasa kita akan mendapatkannya. Saya pikir Presiden Xi pada akhirnya akan menyetujuinya,” tambahnya.

    Selama masa jabatan pertamanya, Trump sempat berupaya untuk melarang TikTok di AS. Namun, sikapnya berubah pada pemilu 2024, dengan alasan bahwa platform tersebut membantu menyeimbangkan dominasi Meta (perusahaan induk Facebook dan Instagram).

    Trump diketahui memiliki hubungan yang tegang dengan CEO Meta, Mark Zuckerberg, yang pernah menangguhkan akun Trump setelah insiden penyerbuan Capitol pada 6 Januari 2021. Trump bahkan sempat menyatakan akan memenjarakan Zuckerberg. Pada Januari lalu, Meta sepakat untuk membayar  25 juta dolar AS (sekitar Rp408 miliar) untuk menyelesaikan gugatan yang diajukan Trump terkait penangguhan tersebut.

    Tenggat waktu penjualan TikTok ini muncul di tengah negosiasi perdagangan baru antara Amerika Serikat dan China. Sebelumnya, Trump sempat menaikkan tarif impor terhadap barang-barang asal China, namun kemudian menundanya. Laporan menyebut bahwa pemerintah China awalnya bersedia menyetujui kesepakatan TikTok, namun berubah pikiran setelah Trump mengumumkan tarif baru pada April lalu.

    Trump mengatakan bahwa penjualan TikTok kemungkinan besar hanya akan terjadi setelah AS dan China mencapai kesepakatan dagang.

    Sebelumnya, pada era Presiden Joe Biden, ByteDance menegaskan bahwa mereka tidak berniat menjual TikTok. Namun, pada April 2025, perusahaan itu mengonfirmasi bahwa mereka telah mulai berdialog dengan pemerintahan Trump untuk mencari solusi atas operasi bisnisnya di AS. ByteDance juga menekankan bahwa setiap kesepakatan akan memerlukan persetujuan resmi dari pemerintah China.

  • Threads Akhirnya Punya DM Sendiri, Tak Perlu Pakai Instagram Lagi

    Threads Akhirnya Punya DM Sendiri, Tak Perlu Pakai Instagram Lagi

    Jakarta

    Threads, aplikasi Meta pesaing Twitter/X, sudah beredar selama dua tahun tapi masih belum memiliki fitur sederhana seperti direct message (DM). Kabar baiknya, pengguna Threads akan bisa berkirim pesan lewat DM dalam waktu dekat.

    CEO Meta Mark Zuckerberg mengatakan Threads akan mulai menguji coba fitur DM yang terpisah dari DM Instagram. Artinya, pengguna Threads tidak perlu menggunakan Instagram atau berpindah aplikasi untuk berkirim pesan dengan pengguna lain.

    “Komunitas kami telah meminta cara untuk melanjutkan percakapan 1:1 mereka tanpa memutus alur pembicaraan dengan beralih ke aplikasi lain,” kata Meta dalam siaran persnya, seperti dikutip dari Mashable, Senin (16/6/2025).

    “Dengan menjaga percakapan tetap di dalam aplikasi, kami mempermudah pengguna untuk terhubung dan membangun perspektif satu sama lain,” sambungnya.

    Threads akan menguji coba fitur DM secara terbatas di negara-negara seperti Hong Kong, Thailand, dan Argentina. Setelah diuji coba dan mendapatkan feedback dari pengguna, fitur DM akan digulirkan secara lebih luas ke seluruh pengguna.

    Kotak masuk DM Threads dapat diakses dengan mengetuk ikon amplop yang ada di taskbar, yang terletak di bagian bawah aplikasi iPhone dan Android, atau di sisi kiri aplikasi desktop.

    Saat ini fitur DM yang diuji coba Threads hanya mendukung percakapan antara dua orang, jadi belum bisa dipakai untuk membuat grup chat. Belum diketahui apakah fitur ini nantinya akan mendukung percakapan grup atau tidak.

    Threads sebenarnya memiliki fitur untuk berkirim pesan sejak tahun lalu, tapi fungsinya sangat terbatas. Fitur ini hanya bisa dipakai pengguna untuk mengirimkan postingan Threads ke temannya via DM Instagram.

    Walaupun terlambat, kehadiran fitur DM membuat Threads menjadi semakin mirip seperti pesaingnya, Bluesky dan X. Bluesky sudah memperkenalkan fitur DM sejak Mei 2024.

    Sementara itu, DM sudah menjadi bagian penting X selama bertahun-tahun. Belum lama ini, aplikasi milik Elon Musk itu meluncurkan fitur XChat yang mendukung chat grup, mode menghilang otomatis, dan berbagi file untuk meningkatkan DM.

    (vmp/fay)

  • Zuckerberg Rela Rogoh Rp 232 Triliun Demi Rekrut Pemuda Ini

    Zuckerberg Rela Rogoh Rp 232 Triliun Demi Rekrut Pemuda Ini

    Jakarta

    Meta resmi berinvestasi di Scale AI dalam kesepakatan yang menilai startup tersebut menjadi USD 29 miliar dan merekrut CEO-nya yang baru berusia 27 tahun, Alexandr Wang. Wang akan memainkan peran penting dalam strategi kecerdasan buatan raksasa teknologi tersebut.

    Meta akan mendapat 49% saham Scale AI senilai USD 14,3 miliar atau sekitar Rp 232 triliun. Ini menandakan Meta dan sang CEO Mark Zuckerberg sangat ngebet untuk mendatangkan Wang.

    “Kami akan memperdalam pekerjaan yang kami lakukan bersama dalam menghasilkan data untuk model AI dan Alexandr Wang akan bergabung dengan Meta untuk mengerjakan upaya superintelijen kami,” kata Meta.

    Scale AI, Inc adalah perusahaan AI yang berkantor pusat di San Francisco. Perusahaan ini menyediakan layanan pelabelan data dan mengembangkan aplikasi bagi kecerdasan buatan. Mereka tak mengembangkan AI sendiri, melainkan membantu raksasa teknologi seperti OpenAI, Google sampai Meta sendiri.

    Dikutip detikINET dari Reuters, menurut sumber terkait, pendorong utama investasi besar Meta di Scale adalah untuk mengamankan Wang guna memimpin unit AI super cerdas barunya.

    Wang, yang lahir di Los Alamos, New Mexico, dari fisikawan imigran China, keluar dari MIT untuk mendirikan Scale AI di 2016. Ia dipuji sebagai salah satu pengusaha muda paling menjanjikan di Silicon Valley, berhasil mengumpulkan dana dari pemodal terkemuka dan mencapai status miliarder di usia 20-an. Kekayaannya saat ini ditaksir USD 3,6 miliar atau di kisaran Rp 58 triliun.

    Ia menjalin hubungan baik dengan para eksekutif teknologi papan atas seperti CEO OpenAI Sam Altman dan membangun koneksi di Washington. Ia pernah bersaksi di depan Kongres dan menjalin relasi dengan pemerintah federal sebagai klien besar Scale AI.

    Meta tengah kesulitan bersaing dengan OpenAI, Google sampai DeepSeek. Dengan merekrut Wang, yang tak punya latar belakang penelitian tapi membangun bisnis AI yang besar, Zuckerberg bertaruh bahwa upaya AI Meta dapat diubah oleh seorang pemimpin bisnis mahir yang lebih mirip Altman daripada para ilmuwan peneliti.

    Beberapa karyawan Scale AI yang punya 1.500 pegawai, akan ikut Wang pindah ke Meta. Wang akan tetap berada di dewan Scale. Investasi tunai tersebut menempati peringkat kedua terbesar Meta setelah pembelian WhatsApp senilai USD 19 miliar.

    Cerdas sejak kecil

    Latar belakang keluarga Wang penting dalam memberinya dasar yang kuat dalam sains dan teknologi. Kedua orang tuanya bekerja sebagai fisikawan pada proyek-proyek untuk Angkatan Udara AS dan militer. “Wang jelas pikirannya cemerlang yang diwariskan kedua orang tuanya. Ia ahli matematika sejak kecil dan gemar berpartisipasi dalam kompetisi pengodean,” kata ZeeBiz.

    Wang memantapkan dirinya di jajaran atas eksekutif Silicon Valley, sebagian melalui bakatnya menjalin koneksi level tinggi. Ia juga memiliki bakat untuk mengalihkan Scale ke sumber pendapatan baru saat bisnis yang lama terindikasi kurang baik.

    “Koneksinya yang mendalam di Washington membuatnya menonjol dalam industri teknologi yang berpusat di California,” kata Louise Matsakis dalam buletin Semafor Technology. Seorang anggota parlemen bahkan menyebut Wang sebagai sahabat sejati.

    Wang sering berbicara kepada anggota parlemen tentang pandangan agresifnya soal China, yang ia nilai pesaing geopolitik terbesar bagi AS. Anggota Kongres Raja Krishnamoorthi memujinya sebagai sangat berwawasan luas dan pada saat yang sama juga ramah.

    (fyk/afr)

  • Zuckerberg Resmi Rekrut Pemuda Ajaib Berharta Rp 58 Triliun

    Zuckerberg Resmi Rekrut Pemuda Ajaib Berharta Rp 58 Triliun

    Jakarta

    CEO Meta Mark Zuckerberg resmi merekrut Alexandr Wang, pemuda usia 27 tahun pakar AI yang mendirikan startup Scale AI. Wang mengumumkan pada karyawan Scale AI bahwa dia akan meninggalkan perusahaan untuk bergabung dengan Meta.

    Dikutip detikINET dari CNBC, Meta akan menyuntikkan investasi USD 14,3 miliar atau sekitar Rp 233 triliun ke Scale AI dan memperoleh 49% sahamnya. Namun mereka tidak punya hak voting.

    “Sebagaimana yang mungkin kalian dengar dalam pemberitaan terakhir, peluang sebesar ini kadang disertai harga. Dalam hal ini, harganya adalah kepergianku. Sungguh merupakan kegembiraan terbesar di hidupku melayani sebagai CEO kalian,” tulisnya di memo.

    Beberapa karyawan Scale AI juga akan ikut bergabung dengan Meta. Sementara CEO baru Scale AI kemungkinan akan diduduki oleh Chief Strategy Officer, Jason Droege.I.

    “Kami akan memperdalam pekerjaan yang kami lakukan bersama dalam menghasilkan data untuk model AI dan Alexandr Wang akan bergabung dengan Meta untuk mengerjakan upaya superintelijen kami,” kata juru bicara Meta.

    Zuckerberg ingin memperkuat AI perusahaannya di tengah persaingan ketat dari OpenAI dan Alphabet. Zuckerberg menjadikan AI sebagai prioritas utama untuk tahun 2025, tapi makin frustrasi dengan timnya, terutama karena versi terbaru model AI Llama menerima respons kurang memuaskan dari para pengembang.

    Wang yang drop out dari Massachuset Institute of Technology (MIT), dikenal pemimpin ambisius yang paham kompleksitas AI sekaligus mengerti bagaimana membangun bisnisnya. Scale AI, yang didirikan tahun 2016, membuat gebrakan di era AI generatif dengan membantu raksasa teknologi seperti OpenAI, Google, dan Microsoft menyiapkan data yang mereka gunakan untuk melatih model AI mutakhir.

    Wang adalah putra imigran China yang bekerja sebagai fisikawan di Laboratorium Nasional Los Alamos. Ia sangat menyukai matematika dan pemrograman komputer sejak kecil. Dia menempuh pendidikan di SMA Los Alamos, kemudian pindah ke Silicon Valley menjadi software engineer di perusahaan manajemen Addepar. Wang juga sempat bekerja untuk Quora sebagai programmer software.

    Dia sempat kuliah di Institut Teknologi Massachusetts, tapi hanya sebentar. Wang adalah sahabat dari Sam Altman, salah satu pendiri dan CEO OpenAI. Selama puncak pandemi COVID-19, Wang tinggal sekamar dengan Altman. Dia sangat kaya dengan hartanya saat ini diestimasi Forbes senilai USD 3,6 miliar atau di kisaran Rp 58 triliun.

    (fyk/fay)

  • Mark Zuckerberg Ingin Bentuk Tim Elit untuk Ciptakan AI Terpintar di Dunia – Page 3

    Mark Zuckerberg Ingin Bentuk Tim Elit untuk Ciptakan AI Terpintar di Dunia – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Meta dilaporkan makin berambisi dalam pengembangan AI buatan perusahaan. Hal itu diketahui dari langkah CEO Meta Mark Zuckerberg yang dilaporkan tengah membentuk tim elit untuk menciptakan AI superintelligence.

    Menurut laporan Bloomberg dan The New York Times, Mark Zuckerberg kini tengah aktif merekrut para ahli terbaik di bidang AI, mulai dari peneliti hingga insinyur infrastruktur.

    Menariknya, seperti dikutip dari Engadget, Kamis (12/6/2025), perekrutan itu dilakukan lewat grup WhatsApp internal yang diberi nama ‘Recruiting Party’. Llau, para kandidat diajak makan siang atau malam di kediamannya di California.

    Sekadar diketahui, ambisi Meta untuk menciptakan AI superintelligence disebut akan menjadi lompatan besar melewati batas Artificial General Intelligence (AGI) yang saat ini jadi tujuan utama banyak perusahaan teknologi.

    Jika AGI disebut sebagai mesin yang memiliki kecerdasan buatan setara manusia, superintelligence merupakan AI yang memiliki kemampuan intelektual jauh melampaui manusia. Ini yang disebut jadi target jangka panjang Zuckerberg.

     

  • Zuckerberg Siapkan Rp 227 Triliun Bikin AI Pengganti Manusia

    Zuckerberg Siapkan Rp 227 Triliun Bikin AI Pengganti Manusia

    Jakarta

    Meta semakin agresif dalam pengembangan AI atau kecerdasan buatan. Bahkan CEO Mark Zuckerberg sendiri kabarnya turun tangan membentuk tim demi ambisi membuat mesin AI super cerdas, yang melewati kepintaran manusia. Ia juga mempersiapkan dana yang sangat besar.

    Menurut Bloomberg, Zuckerberg frustrasi karena Meta dinilai belum maksimal mengembangkan AI. Maka, pendiri Facebook itu mengundang para pakar AI ke rumahnya di Lake Tahoe dan Palo Alto, California.

    Dikutip detikINET dari CNN, Meta membuat AI yang dipadukan ke Facebook, WhatsApp, dan aplikasi Meta lain serta kacamata Ray-Ban dan chatbot. Namun industri AI sangat kompetitif dan model AI Llama milik Meta mengalami beberapa kemunduran. ChatGPT belum dapat mereka saingi.

    Zuckerberg berencana mempekerjakan sekitar 50 pakar AI dan telah mengubah tata letak kantor di Menlo Park untuk tim AI baru. Zuck secara pribadi mengambil alih tugas ini karena frustrasi dengan kemajuan Llama 4, model bahasa besar terbaru Meta.

    New York Times melaporkan Alexandr Wang, pendiri dan CEO berusia 28 tahun dari startup Scale AI, adalah bagian penting proyek itu. Kabarnya, Meta akan menyuntik uang sampai USD 14 miliar ke Scale AI atau di kisaran Rp 227 triliun.

    Wang dinilai pemimpin ambisius yang pintar secara teknis maupun bisnis, sehingga dipercaya dapat mengeksekusi visi AI Zuckerberg. Dengan tidak secara langsung mengakuisisi Scale AI, Zuck mengambil strategi yang sama dengan Alphabet atau Microsoft, yang juga menyuntik investasi besar ke perusahaan AI.

    Zuckerberg berusaha menjadikan Meta pusat kekuatan AI, khususnya setelah melihat sepak terjang OpenAI dengan ChatGPT. Tujuannya adalah agar AI menjadi sangat pintar atau mencapai kapasitas superintelligence.

    Namun sebelum AI bisa mencapai kemampuan melampaui otak manusia, pertama-tama harus mampu mencapai apa pun yang dapat dilakukan manusia, yang disebut kecerdasan umum buatan atau AGI.

    Peneliti AI masih memperdebatkan seberapa dekat kita dengan AGI. Beberapa mengatakan butuh hanya beberapa tahun lagi dan yang lain menilai kita masih jauh dari kemampuan itu.

    Meta berhadapan dengan OpenAI yang didukung Microsoft, Alphabet, serta sejumlah pemain pemula AI lainnya dengan pendanaan serius, termasuk xAI milik Elon Musk dan Anthropic. Apple memulai dengan lambat tapi mengumumkan beberapa pengembangan AI minggu ini.

    (fyk/fay)

  • 7 Tips Keuangan dari Mark Zuckerberg Bagi Gen Z dan Milenial

    7 Tips Keuangan dari Mark Zuckerberg Bagi Gen Z dan Milenial

    Bisnis.com, JAKARTA – Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg yang menjadi salah satu orang terkaya di dunia membagikan 7 tips keuangan bagi generasi Z dan milenial, agar semakin bijak dalam menata hidup.

    Dilansir dari aol, Senin (9/6/2025), tips keuangan ini untuk membantu Gen Z dan milenial di era modern dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang. Mark mengungkapkan bahwa perilaku produktif lebih penting daripada konsumtif.

    Simak tips keuangan dari Mark Zuckerberg:

    1. Mulai Menabung Sedini Mungkin

    Mark Zuckerberg menekankan menabung sejak dini sangatlah penting, tidak peduli berapapun jumlahnya. Dia percaya, semakin awal seseorang menabung, semakin besar pula peluang untuk mengumpulkan dana yang cukup di masa depan. Bahkan, uang yang kecil jika rutin disisihkan bisa menjadi besar seiring waktu.

    Selain itu, menabung sedini mungkin juga memberi ketenangan pikiran. Saat menabung, seseorang bisa memiliki dana darurat dan tidak perlu meminjam uang. Jadi, jangan menunggu sampai punya penghasilan besar, mulai dari sekarang dan lakukan secara konsisten.

    2. Gunakan Uang untuk Investasi, Bukan Hanya Konsumsi

    Mark menyarankan agar generasi milenial tidak hanya fokus pada pengeluaran untuk hal-hal konsumtif, tetapi juga mulai berinvestasi. Dia menjelaskan, investasi adalah cara terbaik untuk mengembangkan kekayaan secara perlahan-lahan.

    Saat seseorang memanfaatkan peluang investasi, uang tersebut bisa bertambah dan memberi manfaat jangka panjang.

    Dia juga menambahkan, investasi tidak harus selalu besar dan rumit. Mulailah dari hal-hal sederhana, seperti reksa dana atau saham kecil, dan tingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan. Ini bisa membuat kestabilan keuangan di masa depan.

    3. Hindari Utang Konsumtif yang Tidak Perlu  

    Mark Zuckerberg mengingatkan bahwa utang yang bersifat konsumtif seperti utang kartu kredit untuk belanja barang mewah bisa menjadi jebakan yang sulit dihindari. Utang sering kali membuat keuangan menjadi tidak sehat dan menambah beban di kemudian hari.

    Sebaliknya, agar keuangan tetap sehat, penting untuk bijak dalam menggunakan utang. Utang untuk keperluan produktif, seperti pendidikan atau bisnis, bisa menjadi pilihan yang lebih baik. Yang terpenting, bayar cicilan tepat waktu dan hindari utang berlebihan agar tidak terjebak dalam masalah finansial.

    4. Milikilah Dana Darurat

    Zuckerberg menyarankan setiap orang, terutama generasi muda, harus punya dana darurat minimal enam bulan pengeluaran. Dana ini sangat penting agar ketika menghadapi keadaan tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau sakit, orang tersebut tetap bisa bertahan tanpa harus panik atau pinjam uang.

    Selain itu, dana darurat juga memberi rasa aman. Saat hal buruk terjadi, maka orang tersebut tidak memiliki kekhawatiran besar soal keuangan. Jadi, buatlah target menabung secara rutin sampai dana darurat tercapai.

    5. Pahami Cara Kerja Uang dan Keuangan  

    Mark Zuckerberg menekankan pentingnya mengenal dan memahami pengelolaan keuangan sejak dini. Jangan hanya mengikuti tren belanja atau pengeluaran tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan. Dengan memahami cara kerja uang, kita bisa membuat keputusan finansial yang lebih bijak dan efisien.

    Dia menyarankan untuk belajar tentang konsep keuangan dasar, seperti bunga, investasi, dan risiko. Semakin paham, semakin besar peluang kita untuk mengelola keuangan secara efektif dan menghindari kesalahan yang bisa merugikan di kemudian hari.

    6. Gunakan Teknologi untuk Mengelola Keuangan  

    Mark Zuckerberg percaya bahwa teknologi bisa sangat membantu dalam mengatur keuangan. Saat ini banyak aplikasi dan platform digital yang bisa digunakan untuk mencatat pengeluaran, menabung otomatis, atau berinvestasi secara mudah dan cepat.

    Teknologi juga membantu manusia mengatur keuangan secara real-time. Teknologi juga membantu seseorang lebih disiplin dalam mengontrol pengeluaran dan menghindari pemborosan.

    7. Fokus pada Tujuan Jangka Panjang  

    Zuckerberg menegaskan bahwa setiap orang harus punya tujuan keuangan yang jelas dan fokus mencapainya. Entah untuk membeli rumah, menikah, atau menyiapkan dana pensiun, perencanaan jangka panjang sangat penting agar kita tetap di jalur yang benar.

    Dia menambahkan, disiplin dan konsistensi adalah kunci utama. Jangan tergoda untuk menguras tabungan demi keinginan sesaat. Tetap fokus dan disiplin mengikuti rencana keuangan, maka cita-cita besar kamu bisa terwujud di masa depan.

  • Meta Berencana Beli Scale AI Rp 162 Triliun

    Meta Berencana Beli Scale AI Rp 162 Triliun

    Jakarta, Beritasatu.com – Meta Platforms, perusahaan milik Mark Zuckerberg, dikabarkan tengah mengincar perusahaan artificial intelligence Scale AI. Diperkirakan nilai transaksinya melebihi US$ 10 miliar atau sekira Rp 162 triliun.

    Melansir Bloomberg, Minggu (8/6/2025), orang-orang yang mengetahui masalah tersebut menyebut kesepakatan belum dirampungkan, dan masih dapat berubah. Sayangnya, Scale AI menolak berkomentar dan Meta tidak memberikan komentar.

    Didirikan pada tahun 2016, Scale AI adalah perusahaan rintisan pelabelan data yang didukung oleh raksasa teknologi Nvidia, Amazon, dan Meta. Valuasi Scale AI sebelumnya diperkirakan mencapai US$ 14 miliar.

    Scale AI juga menyediakan platform bagi para peneliti untuk bertukar informasi terkait AI, dengan kontributor di lebih dari 9.000 kota dan kota kecil.

    Sekadar informasi, CEO Meta Mark Zuckerberg baru-baru mengungkapkan pandangan mengenai kemampuan AI menulis kode. Diwawancara dalam podcast The Joe Rogan Experience, pemilik Instagram, Facebook dan Treads tersebut yakin dalam waktu 18 bulan ke depan, AI bisa menulis kode melampaui engineer manusia.

    Pasalnya, saat ini AI sudah bisa menulis kode setara dengan engineer level menengah. Meta memproyeksikan bahwa sebagian besar kode di platform media sosial mereka nantinya ditulis oleh AI, bukan manusia.

    Meskipun demikian, Zuckerberg menyebut peran manusia tetap tidak tergantikan. Pekerjaan seperti kreativitas, pemecahan masalah, serta pengawasan terhadap hasil kerja AI masih menjadi domain manusia. 

  • Meta Dikabarkan Siap Guyur Startup Scale AI Sebesar Rp162,58 Triliun

    Meta Dikabarkan Siap Guyur Startup Scale AI Sebesar Rp162,58 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA — Meta Platforms Inc. dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk melakukan investasi besar-besaran senilai lebih dari US$10 miliar atau Rp162,58 triliun (asumsi kurs Rp16.258 per dolar AS) ke perusahaan rintisan (startup) kecerdasan buatan (AI) Scale AI.

    Melansir dari Bloomberg, Minggu (8/6/2025), berdasarkan sumber yang mengetahui hal tersebut, pendanaan yang melampaui di atas US$10 miliar itu bisa menjadi salah satu pendanaan terbesar dalam sejarah perusahaan swasta. Namun, kesepakatan tersebut belum final dan masih bisa berubah.

    Sementara itu, perwakilan dari Scale belum memberikan komentar, sedangkan Meta menolak memberikan tanggapan.

    Untuk diketahui, Scale AI merupakan startup yang berfokus pada pengembangan AI dan menyediakan layanan pelabelan data untuk membantu perusahaan melatih model pembelajaran mesin. Perusahaan memiliki klien yang mencakup Microsoft Corp dan OpenAI.

    Adapun, Scale terakhir kali dinilai memiliki valuasi sekitar US$14 miliar pada 2024 dalam putaran pendanaan yang didukung oleh Meta dan Microsoft.

    Pada awal tahun ini, Bloomberg melaporkan bahwa Scale tengah dalam pembicaraan untuk penawaran tender yang dapat menilai valuasinya menjadi US$25 miliar. Jika terealisasi, maka ini akan menjadi investasi AI eksternal terbesar Meta hingga saat ini.

    Selama ini, Meta Platforms yang merupakan perusahaan induk media sosial Facebook dan Instagram itu lebih banyak mengandalkan riset internal dan strategi pengembangan terbuka untuk meningkatkan teknologi AI.

    Sementara itu, perusahaan-perusahaan teknologi besar lainnya telah melakukan investasi besar, seperti Microsoft yang telah menanamkan lebih dari US$13 miliar ke OpenAI, sementara Amazon.com Inc. dan Alphabet Inc. masing-masing telah menginvestasikan miliaran dolar ke pesaing OpenAI, Anthropic.

    Adapun, CEO Meta Mark Zuckerberg telah menetapkan AI sebagai prioritas utama perusahaan. Pada Januari lalu, Zuckerberg menyatakan bahwa Meta akan mengalokasikan hingga US$65 miliar untuk proyek-proyek terkait AI sepanjang tahun ini.