Tag: Mark Zuckerberg

  • Peternakan dan Pertanian Jadi Lahan Bisnis Baru Miliarder Dunia, Ada Apa?

    Peternakan dan Pertanian Jadi Lahan Bisnis Baru Miliarder Dunia, Ada Apa?

    FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Gelombang baru investasi dari para konglomerat dunia mulai bergeser ke sektor yang jarang terdengar sebelumnya: pertanian dan peternakan. Di tengah ketidakpastian global, dari iklim ekstrem hingga konflik geopolitik, para miliarder memilih agribisnis sebagai langkah strategis untuk menjamin ketahanan pangan sekaligus membuka jalur investasi yang lebih tahan banting.

    Bukan sekadar iseng. Investasi yang mereka tanamkan bernilai besar. Mulai dari pengusaha teknologi macam Jack Ma dan Mark Zuckerberg, hingga sosok senior seperti Warren Buffet dan Bill Gates, kini punya ladang, kebun, bahkan peternakan. Jeff Bezos pun ikut barisan.

    Dilansir dari Farmloka, Jack Ma, pendiri Alibaba yang sempat ‘hilang’ dari publik, ternyata sedang sibuk dengan urusan baru. Ia menyuntikkan dana ke sebuah perusahaan berbasis di Hangzhou yang bergerak di bidang pengolahan hasil pertanian dan perikanan. Namanya 1.8 Meters Marine Technology modal awalnya disebut mencapai lebih dari Rp230 miliar.

    Tak cukup di China, Jack juga menyempatkan diri ke Eropa. Tahun 2022 lalu, ia sempat mampir ke Wageningen University & Research di Belanda. Universitas itu memang terkenal sebagai pusat inovasi pertanian berkelanjutan.

    Mark Zuckerberg juga tidak mau ketinggalan. Bos besar Meta ini bersama istrinya, Priscilla Chan, punya lahan seluas 1.500 hektar. Luasnya lebih dari cukup untuk peternakan, kebun, dan pembibitan. Mereka bahkan menanam jahe dan kunyit organik di sana.

    Tapi ini bukan pertanian tradisional. Semua dikelola dengan pendekatan modern pakai data, teknologi, dan prinsip pertanian ramah lingkungan. Tujuan mereka jelas: bikin sistem pertanian yang awet, sehat, dan tetap menguntungkan.

  • Dokumen Internal Facebook Bocor, Isinya Rencana Tak Terduga

    Dokumen Internal Facebook Bocor, Isinya Rencana Tak Terduga

    Jakarta, CNBC Indonesia – Dokumen internal Meta (Facebook, Instagram, WhatsApp) bocor dan mengungkap rencana besar perusahaan yang membuat kaget. Pasalnya, Meta mengungkap rencana mengembangkan chatbot AI super canggih yang tak terduga sebelumnya.

    Chatbot AI itu bisa mengingat percakapan lama, mengirim pesan lanjutan secara personal, hingga memulai ulang obrolan tanpa harus diminta, dikutip dari digwatch, Jumat (4/7/2025).

    Secara singkat, chatbot AI masa depan bisa menginisiasi obrolan tanpa pengguna harus memasukkan prompt seperti saat ini.

    Dalam proyek rahasia bernama Omni, Meta bekerja sama dengan kontraktor teknologi Alignerr untuk melatih chatbot berbasis kepribadian yang lengkap dan percakapan dengan memori jangka panjang. Tujuannya untuk membuat pengguna lebih betah berlama-lama di Instagram dan Facebook. 

    Dengan kata lain, Meta sedang mencari cara agar pengguna chatbot AI makin ‘kecanduan’ dalam memanfaatkan layanan tersebut.

    Bot ini dikembangkan lewat AI Studio, platform tanpa kode yang diluncurkan Meta pada 2024. Lewat platform ini, pengguna bisa membuat karakter digital khusus seperti chef, desainer, atau bahkan tokoh fiksi.

    Namun, aturan Meta cukup ketat, bot hanya boleh mengirim satu pesan lanjutan dalam waktu 14 hari setelah percakapan pertama, dan tidak boleh menyinggung isu sensitif kecuali dibuka duluan oleh pengguna.

    Meta menyatakan fitur ini sedang dalam tahap uji coba dan akan diluncurkan secara bertahap.

    Perusahaan berharap hal ini tidak hanya meningkatkan retensi pengguna, tetapi juga menjadi jawaban atas apa yang disebut CEO Mark Zuckerberg sebagai ‘epidemi kesepian’ atau ‘loneliness epidemic’.

    Dengan pendapatan dari alat AI generatif diproyeksikan mencapai hingga US$3 miliar pada 2025, fokus Meta untuk memperpanjang dan memperdalam interaksi chatbot tampaknya tidak hanya bersifat sosial tetapi juga strategis.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Profesi Baru Ini Jadi Rebutan, Gajinya Naik Gila-gilaan

    Profesi Baru Ini Jadi Rebutan, Gajinya Naik Gila-gilaan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Berkembangnya Artificial Intelligence juga membuat pekerjaan terkait bidang tersebut jadi buruan. Dampaknya membuat gaji untuk beberapa posisi mengalami peningkatan.

    Salah satunya adalah ilmuwan senior AI. Dalam laporan data perekrut industri dan pergerakan pekerjaan FT, paket gaji untuk posisi tersebut mencapai US$3 juta (Rp 48,7 miliar) hingga US$7 juta (Rp 113,7 juta).

    Bahkan sejumlah orang disebut mengantongi lebih dari US$10 juta (Rp 162,5 miliar) per tahunnya. Angka tersebut meningkat 50% dari tahun 2022 dan jauh lebih tinggi dari gaji untuk insinyur software tanpa pengalaman AI.

    “Ini jadi lebih intens selama beberapa tahun terakhir, hingga titik saat pemain tertentu mau melakukan apa saja atau apapun agar bisa membawa bakat tersebut dalam organisasi,” kata mitra di firma perekrutan AI Riviera Partner, Kyle Langworthy dikutip dari Economic Times, Rabu (2/7/2025).

    Sementara itu, peranan ilmuwan riset AI menengah hingga senior di perusahaan teknologi besar juga mengalami peningkatan. firma perekrutan teknologi Harrison Clarke mengatakan jumlahnya mencapai US$500 ribu (Rp 8,1 miliar) hingga US$2 juta (Rp 32,5 miliar), naik dari US$400 ribu (Rp 6,5 miliar) hingga US$900 ribu (Rp 14,6 miliar) pada 2022 lalu.

    Situs pelacakan gaji, Levels menyebut Meta menawarkan gaji untuk teknisi AI sekitar US$186 ribu (Rp 3 miliar) hingga US$3,2 juta (Rp 52 miliar). Sementara OpenAI berkisar US$212 ribu (Rp 3,4 miliar) hingga US$2,5 juta (Rp 40,6 miliar).

    Namun angka besar itu tak begitu berarti. Karena para peneliti AI lebih mementingkan kepemimpinan dan misi peneliti dibandingkan gaji yang mereka dapat.

    “Selalu ada risiko, jika Anda berakhir di Meta, tidak akan melakukan pekerjaan untuk level yang mungkin dilakukan DeepMind atau OpenAI atau Anthropic,” kata CEO Harrison Clarke, Firas Sozan.

    Sebelumnya, Meta diisukan menawarkan US$100 juta (Rp 1,6 triliun) untuk ahli AI. Bahkan Mark Zuckerberg turun langsung untuk mencari dan menyeleksi karyawan barunya.

    Wall Street Journal menyebut dia menyiapkan daftar insinyur dan peneliti AI yang diinginkan. Zuckerberg jugalah yang menghubungi tiap kandidat.

    Namun Sam Altman, bos OpenAI, mengkritik besaran uang yang dikeluarkan Meta. Dia juga mengklaim tak ada satupun pegawainya yang ingin pindah ke Meta.

    “Saya pikir strategi besarnya kompensasi di depan dan itu alasan untuk seseorang bergabung, seperti sejauh mana mereka berfokus pada hal itu dan bukan pada pekerjaan dan misi, saya pikir tidak menciptakan budaya yang hebat,” tegasnya.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • WhatsApp Umumkan Iklan di Status, Zuckerberg: untuk Jangkau Pelanggan Bisnis – Page 3

    WhatsApp Umumkan Iklan di Status, Zuckerberg: untuk Jangkau Pelanggan Bisnis – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – WhatsApp belum lama ini menggelar konferensi global bertajuk Conversations di Miami, Amerika Serikat.

    Lewat acara yang berfokus pada AI untuk bisnis hingga panggilan dan suara ini, WhatsApp memperkenalkan update terkini yang mampu membuat WhatsApp lebih andal untuk menjalankan bisnis.

    Kehadiran fitur-fitur baru WhatsApp ini diharapkan mampu menjangkau pelanggan dengan lebih tepat dan efektif.

    Yuk satu per satu fitur yang digulirkan WhatsApp untuk membantu pengguna menjangkau lebih banyak pelanggan:

    1. Iklan di Status

    Salah satu yang diungkap adalah kehadiran iklan di status WhatsApp. Lewat fitur ini, bisnis bisa melibatkan pelanggan secara langsung di Tab Pembaruan.

    “Kami baru saja mengumumkan Iklan di Status, agar Anda dapat menjangkau pelanggan secara langsung di Tab Pembaruan. Ini akan menjadi terobosan besar bagi bisnis yang ingin menarik lebih banyak orang untuk mengirim pesan, guna mendapatkan dukungan dan penjualan. Semuanya dilakukan di WhatsApp,” kata CEO Meta Mark Zuckerberg.

    Iklan di Status merupakan bagian dari updaya Meta merampingkan cara bisnis bisa membuat dan mengelola strategi pemasaran di WhatsApp, Facebook, dan Instagram melalui Pengelola Iklan.

    Lewat cara ini, bisnis dalam semua ukuran bisa memakai materi iklan yang sama, alur penyiapan, dan anggaran di satu tempat sentral.

    Setelah fitur ini rilis, bisnis bisa mengunggah daftar pelanggan dan memilih pesan marketing secara manual sebagai penempatan tambahan atau menggunakan Advantage+.

    Setelah itu, sistem AI Meta akan mengoptimalkan anggaran di seluruh penempatan untuk memaksimalkan kinerja. Saat fitur ini tersedia, bisnis yang tertarik membuat iklan di Status akan dapat melakukannya di Pengelola Iklan. 

    Beredar pesan berantai lewat SMS dan applikasi percakapan whatsapp, berisi klaim tawaran uang dari pemerintah melalui Pertamina, sebesar 189 juta rupiah. Penipuan bermodus hadiah lewat pesan berantai masih marak terjadi.

  • Bos ChatGPT Disebut Bohong, Anak Buah Zuckerberg Serang Balik

    Bos ChatGPT Disebut Bohong, Anak Buah Zuckerberg Serang Balik

    Jakarta, CNBC Indonesia – CTO Meta, Andrew Bosworth ikut mengomentari soal kabar Meta yang mencari ahli AI dan berani menggaji mereka hingga US$100 juta (Rp 1,6 triliun). Termasuk menyebut CEO OpenAI Sam Altman tak jujur soal kabar tersebut.

    Belum lama ini dikabarkan Meta giat mencari insinyur dan peneliti AI untuk masuk bekerja di raksasa teknologi tersebut dan menyiapkan gaji besar untuk mereka. Beberapa karyawan dari OpenAI disebut berupaya untuk dibajak oleh Meta.

    Altman juga sempat angkat bicara soal hal ini. Dia mengatakan tawaran Meta tidak mencerminkan budaya yang hebat di perusahaan yang dipimpin oleh CEO Mark Zuckerberg tersebut.

    Beberapa waktu kemudian, hal ini juga dibahas dalam rapat Meta saat sejumlah karyawan menanyakan soal bonus US$100 juta untuk karyawan baru kepada para eksekutif perusahaan.

    Bosworth menyebut Altman tak jujur soal isu tersebut dan mengesankan Meta melakukannya untuk setiap pegawai.

    “Dia memberikan kesan kami melakukan ini untuk setiap orang. Begini, pasarnya memang panas. Namun tidak sepanas itu,” kata Bosworth dikutip dari The Verge, Selasa (1/7/2025).

    Dia juga menuding Altman memberikan penawaran tandingan. Hal itu membuat Altman menciptakan pasar kerja sendiri bagi sejumlah bagian kecil bagi pegawai senior.

    “Itu bukan hal umum terjadi di ruang AI. Dia juga tidak menyebutkan syarat apa saja dari tawaran itu. Ini bukan sebuah bonus masuk, namun semua hal berbeda dari ini,” jelasnya.

    Bukan hanya tak jujur, Bosworth juga menyebut Altman suka melebih-lebihkan pada sesuatu. Menurutnya, hal ini karena ada beberapa pegawai OpenAI yang akhirnya berlabuh ke Meta.

    Keberhasilan Meta mendatangkan talenta berbakat dari OpenAI, Bosworth menambahkan membuat Altman tidak terlalu senang.

    “Sam dikenal suka melebih-lebihkan, dan dalam kasus ini, saya tahu persis mengapa dia melakukannya, karena kami berhasil mendatangkan bakat dari OpenAI. Dia tidak terlalu senang dengan hal itu,” ujarnya.

    Meta Platforms diketahui agresif membajak peneliti OpenAI, perusahaan teknologi di balik aplikasi ChatGPT. Dalam sepekan terakhir, sudah 7 orang pegawai OpenAI pindah ke Meta.

    Meta adalah perusahaan induk dari Facebook, Instragram, dan WhatsApp. Mark Zuckerberg, CEO Meta dan pendiri Facebook, memang punya ambisi besar untuk mendorong pengembangan kecerdasan buatan.

    Laporan The Information yang dikutip Reuters menyatakan empat peneliti OpenAI bernama Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi dan Hongyu Ren telah setuju untuk pindah ke Meta. Sebelumnya, Wall Street Journal mengabarkan bahwa Meta telah merekrut tiga pegawai OpenAi yang bermarkas di Swiss, yaitu Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai

    Zuckerberg telah menyiapkan daftar insinyur dan peneliti AI untuk masuk ke perusahaannya. Laporan Wall Street Journal menyebutkan dia sendiri yang menghubungi tiap kandidat yang diinginkan, dikutip dari The Guardian, Minggu (29/6/2025).

    Beberapa nama dalam daftar itu berasal dari kampus terkemuka seperti lulusan baru PhD di University of California Berkeley dan Carnegie Melon. Adapula dari beberapa pesaing Meta termasuk OpenAI dan DeepMind dari Google.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Zuckerberg Umumkan Tim AI Super Dipimpin Bos Genius

    Zuckerberg Umumkan Tim AI Super Dipimpin Bos Genius

    Jakarta

    Bos Meta Mark Zuckerberg, telah membentuk tim super untuk memuluskan ambisinya membuat kecerdasan buatan atau AI tak tertandingi. Ia mengungkap restrukturisasi operasi AI perusahaan saat mengejar apa yang disebutnya kecerdasan super, kecerdasan AI yang diharapkan melebihi manusia.

    Zuck memberi tahu karyawan bahwa Meta Superintelligence Labs yang baru dibentuk akan dinakhodai mantan CEO Scale AI Alexandr Wang. Wang yang berusia 28 tahun itu, bergabung dengan Meta usai Zuckerberg menghabiskan hampir USD 15 miliar untuk 49% saham startup itu.

    “Seiring dengan percepatan kemajuan AI, pengembangan kecerdasan super mulai terlihat,” kata Zuckerberg dalam pesan internal kepada karyawan yang pertama kali diperoleh Bloomberg.

    “Saya yakin ini akan menjadi awal era baru bagi umat manusia, dan saya berkomitmen penuh untuk melakukan apa pun yang diperlukan agar Meta memimpin jalan,” tambahnya, dikutip detikINET dari NY Post.

    Zuckerberg mengatakan Wang, yang akan menjabat sebagai Chief AI Officer, adalah pendiri startup paling mengesankan di generasinya. Wang akan bekerja erat dengan mantan CEO GitHub Nat Friedman, yang akan mengawasi produk AI dan penelitian terapan.

    Kabar ini membuat harga saham Meta meroket. Investor mengirim induk perusahaan Facebook dan Instagram itu ke level tertinggi USD 747,90 sebelum turun ke rekor penutupan USD 738,09 per saham.

    Meta bersaing dengan perusahaan seperti Google dan OpenAI dalam perlombaan mengembangkan AI tingkat lanjut. Zuckerberg lebih menyukai model AI open source yang tersedia untuk umum bagi siapa saja untuk digunakan, sementara Google dan OpenAI memiliki model sumber tertutup.

    Dalam memonya, Zuckerberg mengonfirmasi bahwa Meta telah merekrut lagi empat peneliti OpenAI, yakni Jiahui Yu, Shuchao Bi, Shengjia Zhao, dan Hongyu Ren.

    Peneliti OpenAI Trapit Bansal, kontributor utama untuk model penalaran AI pertama OpenAI o1, juga telah bergabung dengan Meta. Secara total, Zuckerberg mengumumkan 11 perekrutan baru, termasuk mantan karyawan Google dan Anthropic.

    Bos Open AI Sam Altman secara terbuka mengeluh tentang upaya Zuckerberg membajak karyawannya. Ia mengklaim pada sebuah podcast bahwa pendiri Facebook itu telah menawarkan bonus penandatanganan USD 100 juta dalam upaya menarik bakat terbaik OpenAI.

    (fyk/fyk)

  • Kisah Zuckerberg PDKT Pemuda Genius AI dan Rela Kasih Rp 233 T

    Kisah Zuckerberg PDKT Pemuda Genius AI dan Rela Kasih Rp 233 T

    Jakarta

    Baru-baru ini, CEO Meta Mark Zuckerberg resmi merekrut Alexandr Wang, pemuda genius usia 28 tahun pakar AI yang mendirikan startup Scale AI. Wang mengumumkan pada karyawan Scale AI akan meninggalkan perusahaan untuk gabung dengan Meta. Meta rela menyunti investasi USD 14,3 miliar atau sekitar Rp 233 triliun ke Scale AI dan memperoleh 49% saham.

    “Sebagaimana yang mungkin kalian dengar dalam pemberitaan terakhir, peluang sebesar ini kadang disertai harga. Dalam hal ini, harganya adalah kepergianku. Sungguh merupakan kegembiraan terbesar di hidupku melayani sebagai CEO kalian,” tulisnya di memo.

    Scale AI adalah perusahaan anotasi data yang berkantor di San Francisco. Mereka menyediakan layanan pelabelan data dan evaluasi model untuk mengembangkan aplikasi AI.

    Relasi antara Meta dengan Scale AI sudah berlangsung sejak 2019, saat Meta menyewa jasa perusahaan itu. Di 2024, ketika Scale AI mengumpulkan pendanaan USD 1 miliar, Meta termasuk salah satu investornya.

    April 2025, Zuckerberg mulai PDKT dan sering berkomunikasi dengan Wang. Menurut sumber, Zuck mengutarakan keinginan untuk bekerja lebih erat dengan Wang. Sang CEO Meta mengundangnya datang ke rumahnya di Palo Alto dan Lake Tahoe.

    Percakapan antara kedua CEO itu terjadi saat Zuckerberg frustrasi dengan performa Meta untuk bersaing dengan OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind. Model AI buatan Meta, yakni Llama, kurang mampu berkompetisi.

    Agar bangkit, Zuckerberg turun tangan sendiri mengumpulkan bakat AI terbaik serta jika perlu, akuisisi. Kabarnya, Meta baru-baru ini mengadakan pembicaraan untuk akuisisi perusahaan AI Perplexity serta Safe Superintelligence. Diskusi dengan Scale AI tampaknya terjadi bersamaan dengan banyak pembicaraan Meta lainnya.

    Awalnya, Wang menolak permintaan Zuckerberg agar ia bergabung dengan Meta. Menurut sumber, Wang meminta harus ada timbal balik yang sepadan bagi Scale AI. Akhirnya, Meta pun rela mengguyur investasi miliaran dolar pada Scale AI.

    Namun, berita Wang pergi dari Scale AI bikin kaget. “Benar-benar mengejutkan. Saya tak pernah memikirkan ide Alex meninggalkan Scale” kata mantan manajer Scale AI.

    Setelah kesepakatan diumumkan ke publik, Wang berbicara kepada karyawan Scale AI di San Francisco. Dia mendapat tepuk tangan meriah dan terkadang menangis saat berbicara ke karyawan dan mengenang perjuangannya di Scale AI. Dia memulai perusahaan itu saat masih mahasiswa baru.

    Jared Friedman dari Y Combinator, menyebut Wang sukses karena mengumpulkan pegawai terbaik di Scale AI. “Ia membangun tim yang sangat berbakat dan budaya yang intens dengan orang-orang yang mirip dengannya, siswa matematika ilmu komputer luar biasa lainnya,” kata Friedman yang dikutip detikINET dari Fortune.

    (fyk/fay)

  • ChatGPT Ditinggal Ramai-Ramai, Pemiliknya Merasa Kemalingan

    ChatGPT Ditinggal Ramai-Ramai, Pemiliknya Merasa Kemalingan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan pencipta ChatGPT, OpenAI, sedang gelisah karena tiba-tiba banyak ditinggal oleh pegawainya. Pemicunya adalah tawaran upah menggiurkan dari para pesaing, terutama dari Meta.

    Meta dikabarkan menawarkan gaji selangit untuk pekerja yang ahli di bidang kecerdasan buatan. Bahkan, uang pindah yang ditawarkan disebut menembus US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun.

    Dalam beberapa pekan terakhir, tawaran ini dilaporkan sukses menarik paling tidak delapan ahli AI dari OpenAI untuk pindah kerja ke Meta.

    Petinggi OpenAI mulai gelisah menyaksikan tren resign ini. Chie Research Officer OpenAI, Mark Chen, mengaku merasa seperti “rumahnya dibobol maling.”

    “Saya merasa seperti mulas-mulas, seperti ada orang yang membobol rumah dan mencuri sesuatu,” kata Chen dalam pesan di aplikasi Slack yang didapatkan oleh Wired.

    Chen kemudian menyatakan bahwa para petinggi OpenAI, termasuk dirinya dan CEO Sam Altman, sudah punya strategi untuk mencegah eksodus tersebut terjadi. 

    Ia mengaku bahwa para bos di OpenAI kini sangat “proaktif,” “Kami menghitung ulang upah, dan mencari cara kreatif untuk mengidentifikasi dan memberikan penghargaan kepada talenta teratas.”

    Meta Platforms diketahui agresif membajak peneliti OpenAI, perusahaan teknologi di balik aplikasi ChatGPT. Dalam sepekan terakhir, sudah 7 orang pegawai OpenAI pindah ke Meta.

    Meta adalah perusahaan induk dari Facebook, Instragram, dan WhatsApp. Mark Zuckerberg, CEO Meta dan pendiri Facebook, memang punya ambisi besar untuk mendorong pengembangan kecerdasan buatan.

    Laporan The Information yang dikutip Reuters menyatakan empat peneliti OpenAI bernama Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi dan Hongyu Ren telah setuju untuk pindah ke Meta. Sebelumnya, Wall Street Journal mengabarkan bahwa Meta telah merekrut tiga pegawai OpenAi yang bermarkas di Swiss, yaitu Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai

    Zuckerberg telah menyiapkan daftar insinyur dan peneliti AI untuk masuk ke perusahaannya. Laporan Wall Street Journal menyebutkan dia sendiri yang menghubungi tiap kandidat yang diinginkan, dikutip dari The Guardian, Minggu (29/6/2025).

    Beberapa nama dalam daftar itu berasal dari kampus terkemuka seperti lulusan baru PhD di University of California Berkeley dan Carnegie Melon. Adapula dari beberapa pesaing Meta termasuk OpenAI dan DeepMind dari Google.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Ada yang Membobol Rumah Kami

    Ada yang Membobol Rumah Kami

    Bisnis.com, JAKARTA— Perusahaan di balik ChatGPT, OpenAI mengaku tidak akan tinggal diam setelah Meta berhasil merekrut 8 peneliti senior perusahaan dalam sepekan. 

    Perusahaan AI yang berbasis di San Francisco tersebut  akan mengambil langkah cepat. 

    “Saya merasakan firasat yang kuat saat ini, seolah-olah seseorang telah membobol rumah kami dan mencuri sesuatu,” kata Kepala Riset OpenAI Mark Chen dalam memo Slack yang diperoleh Wired dikutip dari laman TechCrunch pada Senin (30/6/2025). 

    Chen menegaskan dirinya bersama CEO Sam Altman dan tim pimpinan lainnya terus menjalin komunikasi intensif dengan para peneliti yang menerima tawaran dari perusahaan lain, termasuk Meta. 

    Upaya tersebut juga dibarengi dengan penyesuaian ulang sistem kompensasi dan pencarian cara-cara kreatif untuk mempertahankan serta mengapresiasi talenta terbaik mereka. 

    Langkah ini menjadi respons serius atas laporan yang menyebutkan setidaknya delapan peneliti telah hengkang ke Meta dalam sepekan terakhir. 

    Bahkan Altman sempat menyindir Meta di sebuah podcast, menyebut perusahaan itu menawarkan bonus  senilai US$100 juta atau Rp1,6 triliun, klaim yang kabarnya dibantah oleh internal Meta.

    Sebelumnya, Meta dikabarkan berhasil merekrut empat peneliti dari OpenAI. Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari strategi agresif Meta dalam mengembangkan proyek superintelijensi yang dipimpin langsung oleh CEO Mark Zuckerberg. 

    Menurut laporan The Information yang dikutip Reuters pada Sabtu (28/6/2025) keempat peneliti yang direkrut adalah Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi, dan Hongyu Ren. 

    Mereka dikabarkan telah menyetujui tawaran untuk bergabung dengan raksasa teknologi tersebut, sebagaimana disampaikan oleh sumber yang mengetahui proses perekrutan ini. 

    Perekrutan ini terjadi hanya beberapa hari setelah laporan dari The Wall Street Journal menyebut Meta juga berhasil memboyong tiga peneliti AI lainnya dari kantor OpenAI di Zurich, yaitu Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai. Meta dan OpenAI belum memberikan komentar resmi atas laporan tersebut.

  • Meta Bajak 4 Peneliti OpenAI untuk Gabung Proyek Superintelijen

    Meta Bajak 4 Peneliti OpenAI untuk Gabung Proyek Superintelijen

    Bisnis.com, JAKARTA— Meta Platforms Inc. dikabarkan berhasil merekrut empat peneliti dari OpenAI. Langkah tersebut disebut menjadi bagian dari strategi agresif Meta dalam mengembangkan proyek superintelijen yang dipimpin langsung oleh CEO Mark Zuckerberg. 

    Menurut laporan The Information yang dikutip dari Reuters pada Senin (30/6/2025), keempat peneliti yang direkrut adalah Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi, dan Hongyu Ren. 

    Mereka dikabarkan telah menyetujui tawaran untuk bergabung dengan raksasa teknologi tersebut, sebagaimana disampaikan oleh sumber yang mengetahui proses perekrutan ini. Perekrutan ini terjadi hanya beberapa hari setelah laporan dari The Wall Street Journal menyebut Meta juga berhasil memboyong tiga peneliti AI lainnya dari kantor OpenAI di Zurich, yaitu Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai.

    Meta dan OpenAI belum memberikan komentar resmi atas laporan tersebut. Diberitakan sebelum, CEO OpenAI Sam Altman sempat menyoroti Meta yang mencoba merekrut peneliti AI terbaik perusahaan. 

    Bahkan, dia menyebut, Meta memberikan tawaran lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun per orang. Namun, menurut Altman, strategi agresif tersebut belum membuahkan hasil kala itu. Hal tersebut disampaikan Altman dalam sebuah podcast bersama saudaranya, Jack Altman pada 17 Juni Kemarin.

    Dia menyebut, Meta aktif mencoba merekrut talenta OpenAI untuk bergabung dengan tim superintelligence baru yang dipimpin mantan CEO Scale AI, Alexandr Wang.

    “[Meta] mulai memberikan tawaran sangat besar kepada banyak anggota tim kami, US$100 juta sebagai bonus penandatanganan, dan lebih dari itu dalam total kompensasi tahunan. Tapi sejauh ini, saya senang tak satu pun dari orang terbaik kami menerimanya,” kata Altman, dikutip dari TechCrunch, Kamis (19/6/2025).

    Altman menilai para pegawai OpenAI memutuskan bertahan karena percaya pada visi dan potensi OpenAI untuk menjadi perusahaan yang lebih unggul dalam mengembangkan artificial general intelligence (AGI). Dia juga menyinggung budaya perusahaan, dengan menyindir bahwa Meta terlalu berfokus pada iming-iming gaji tinggi ketimbang misi jangka panjang, yang menurutnya bisa berdampak pada budaya kerja yang kurang sehat.

    Lebih lanjut, Altman menyebut budaya inovasi yang kuat menjadi salah satu kunci kesuksesan OpenAI. Dia menilai upaya Meta di bidang AI sejauh ini belum memberikan hasil signifikan. 

    “Saya menghormati banyak hal dari Meta, tapi saya tidak menganggap mereka perusahaan yang unggul dalam hal inovasi,” ujarnya.

    Meta sendiri telah mengakuisisi sejumlah nama besar di industri AI, seperti Jack Rae dari Google DeepMind dan Johan Schalkwyk dari Sesame AI. Selain itu, perusahaan juga mengumumkan investasi besar di Scale AI, perusahaan yang sebelumnya dipimpin oleh Alexandr Wang. 

    Namun, tantangan besar masih menanti Meta untuk membangun tim AI unggulan yang dapat bersaing dengan OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind yang saat ini tengah melaju kencang. Di tengah persaingan itu, OpenAI dikabarkan tengah mengembangkan model AI open-source baru yang berpotensi membuat Meta semakin tertinggal.

    Menariknya, Altman juga membocorkan bahwa OpenAI tengah mengeksplorasi kemungkinan menciptakan aplikasi media sosial berbasis AI yang menyajikan konten sesuai preferensi pengguna yang berbeda dari feed algoritmik tradisional seperti di Instagram atau Facebook. 

    Hal ini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap dominasi Meta di sektor media sosial.  Di sisi lain, Meta tengah menguji aplikasi sosial berbasis AI melalui platform Meta AI, namun peluncurannya sempat memicu kebingungan setelah sejumlah percakapan pribadi dengan chatbot AI tersebar ke publik.