Tag: Mark Zuckerberg

  • Mark Zuckberg Hentikan Penjualan Ray-Ban Display di Prancis, Italia, dan Kanada

    Mark Zuckberg Hentikan Penjualan Ray-Ban Display di Prancis, Italia, dan Kanada

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi Meta mengumumkan penundaan rencana penjualan secara global untuk produk kacamata pintar Ray-Ban Display. 

    Keputusan mengejutkan ini disampaikan di tengah gelaran Consumer Electronics Show (CES) 2026. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu mengonfirmasi bahwa peluncuran yang semula dijadwalkan untuk awal tahun 2026 di pasar Inggris, Prancis, Italia, dan Kanada kini dihentikan sementara.

    Meta menyebutkan bahwa tingginya permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya serta keterbatasan pasokan menjadi alasan utama dibalik langkah ini. 

    Akibatnya, daftar tunggu untuk mendapatkan perangkat seharga Rp13,4 juta ini dilaporkan telah mengular hingga jauh ke tahun 2026.

    “Sejak diluncurkan pada musim gugur lalu, kami telah melihat minat yang luar biasa besar,” tulis Meta dalam pernyataan resminya,” tulis Meta dikutip dari Reuters Jumat (9/1/2026). 

    Perusahaan menambahkan bahwa fokus operasional saat ini akan dialihkan sepenuhnya untuk memenuhi pesanan yang sudah ada di Amerika Serikat sembari melakukan evaluasi ulang terhadap pendekatan ketersediaan internasional mereka.

    Sebagai informasi, Ray-Ban Display pertama kali diluncurkan di Amerika Serikat pada 30 September 2025. Perangkat ini merupakan kacamata pintar berteknologi augmented reality (AR) yang jauh lebih canggih dibandingkan varian Ray-Ban Meta yang sudah ada sebelumnya. 

    Perangkat ini dilengkapi dengan tampilan layar warna tunggal yang tertanam pada lensa kanan, sebuah fitur premium yang membedakannya dari pesaing lain di pasar, termasuk model Oakley Meta HSTN.

    Salah satu fitur unik yang menjadi daya tarik utama perangkat ini adalah “Meta Neural Band,” sebuah gelang khusus yang dikenakan di pergelangan tangan pengguna. 

    Meta menjelaskan bahwa gelang ini berfungsi untuk menerjemahkan aktivitas otot pengguna, memungkinkan kontrol pengalaman AR yang lebih intuitif. Kecanggihan teknologi inilah yang disinyalir memicu lonjakan minat yang besar sejak peluncuran September lalu.

    Meta mengakui bahwa produk ini adalah yang pertama dari jenisnya dengan persediaan yang memang sangat terbatas sejak awal. 

    Namun, kesuksesan penjualan yang melampaui ekspektasi justru menjadi bumerang bagi strategi distribusi global mereka. Berita penundaan ini menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi konsumen di luar Amerika Serikat yang telah menanti kedatangan teknologi ini di pasar lokal mereka.

    Meskipun Meta menyatakan akan memfokuskan kembali energinya untuk pasar Amerika Serikat, situasi bagi konsumen di negara tersebut juga dilaporkan masih cukup menantang. 

    Ketersediaan produk ini digambarkan sebagai sesuatu yang tidak merata. Proses pembelian Ray-Ban Display tidak semudah melakukan transaksi online; calon pembeli diharuskan mengunjungi toko fisik secara langsung.

    Konsumen di AS harus mendatangi gerai-gerai tertentu seperti Best Buy, LensCrafters, Sunglass Hut, atau toko resmi Ray-Ban yang berpartisipasi. 

    Selain itu, pembeli juga diharuskan menjadwalkan sesi demonstrasi produk sebelum dapat membelinya. Persyaratan ini jadi hambatan tersendiri bagi mereka yang tidak tinggal di kota-kota besar yang memiliki akses ke jaringan ritel tersebut. 

    Selain menyatakan bahwa mereka sedang mengevaluasi kembali pendekatan distribusi mereka, Meta masih belum memberikan tanggal pengganti yang spesifik untuk peluncuran di belahan negara lainnya. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Miliarder Muda Berusia 22 Tahun Pecahkan Rekor Mark Zuckerberg

    Miliarder Muda Berusia 22 Tahun Pecahkan Rekor Mark Zuckerberg

    Liputan6.com, Jakarta – Ledakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya mengubah lanskap industri global, tetapi juga menciptakan fenomena baru dalam peta kekayaan dunia.

    Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sektor AI menjadi mesin utama pencetak miliarder muda, dengan sembilan dari 13 miliarder mandiri di bawah usia 30 tahun memperoleh kekayaan mereka dari perusahaan rintisan berbasis kecerdasan buatan.

    Capaian ini menjadi rekor baru, menegaskan bahwa AI telah bertransformasi dari sekadar teknologi masa depan menjadi fondasi ekonomi bernilai triliunan dolar.

    Dikitup dari e.vnexpress, Selasa (6/1/2026), berdasarkan laporan terbaru Forbes, total terdapat 13 individu berusia di bawah 30 tahun yang masuk kategori self-made billionaire atau miliarder hasil kerja keras sendiri.

    Dari jumlah tersebut, mayoritas membangun kekayaan melalui startup AI yang bergerak di berbagai bidang, mulai dari perekrutan tenaga kerja berbasis algoritma, pengkodean otomatis, pembuatan situs web dengan perintah teks, hingga pelabelan data yang menjadi tulang punggung pengembangan chatbot dan model bahasa besar.

    Sementara itu, tiga nama lainnya meraih status miliarder lewat platform pasar prediksi, sebuah industri yang hampir tidak dikenal satu dekade lalu, serta satu pengusaha dari sektor kasino daring.

    Secara kolektif, para miliarder muda ini, dengan usia termuda baru 22 tahun, menguasai kekayaan bersih gabungan sekitar USD 23 miliar, sekitar Rp 385 triliun (kurs USD 1 = Rp 16.745). Beberapa di antaranya bahkan memecahkan rekor sejarah, melampaui tokoh teknologi generasi sebelumnya seperti Mark Zuckerberg.

    Fenomena ini mencerminkan betapa cepatnya pertumbuhan valuasi startup AI di tengah lonjakan permintaan global terhadap solusi berbasis data, otomatisasi, dan kecerdasan buatan, sekaligus menandai lahirnya generasi baru pengusaha teknologi yang membangun imperium bisnisnya sebelum usia 30 tahun.

  • 71 Miliarder di Bawah 40 Tahun, Separuh Kekayaan Datang dari AI

    71 Miliarder di Bawah 40 Tahun, Separuh Kekayaan Datang dari AI

    Penyanyi dunia Taylor Swift (36) dan Rihanna (37), misalnya, tidak masuk daftar 40 besar karena kekayaan mereka berada di bawah ambang USD 1,8 miliar. Sebaliknya, miliarder termuda justru datang dari dunia AI, seperti tiga pendiri startup Mercor yang baru berusia 22 tahun.

    Namun, sejarah juga mengajarkan bahwa kekayaan besar di usia muda tidak selalu menjamin keberlanjutan. Forbes mencatat, tidak semua miliarder muda akan mengikuti jejak panjang Mark Zuckerberg, Michael Dell, atau Sergey Brin. Beberapa justru tumbang akibat masalah tata kelola, etika, hingga hukum, seperti kasus Sam Bankman Fried dari FTX.

    Satu hal yang pasti, booming AI telah mengubah ekonomi global. Generasi baru miliarder tidak lagi menunggu puluhan tahun untuk membangun kerajaan bisnis. Dengan teknologi, akses modal, dan skala global, kekayaan bisa tercipta dalam hitungan tahun bahkan sebelum usia 30.

    Ke depan, publik dunia bisnis akan menyaksikan siapa yang mampu bertahan, berkembang, dan membangun nilai jangka panjang, serta siapa yang hanya menjadi bintang sesaat di era emas kecerdasan buatan.

  • Meta Mark Zuckerberg Akuisisi Startup AI Singapura Manus Rp32 Triliun

    Meta Mark Zuckerberg Akuisisi Startup AI Singapura Manus Rp32 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA— Meta Platforms Inc. resmi mengakuisisi Manus, sebuah startup kecerdasan buatan (AI) berbasis di Singapura. 

    Mengutip laporan Techcrunch, Selasa (30/12/2025), Meta sepakat membayar US$2 miliar atau sekitar Rp32 triliun, sejalan dengan valuasi yang dibidik Manus untuk putaran pendanaan berikutnya. 

    Bagi CEO Meta Mark Zuckerberg, akuisisi ini dinilai strategis. Di tengah kekhawatiran investor terhadap belanja infrastruktur AI Meta yang mencapai US$60 miliar atau sekitar Rp960 triliun, Manus dipandang sebagai contoh produk AI yang sudah menghasilkan pendapatan nyata.

    Meta menyatakan Manus akan tetap beroperasi secara independen. Namun, teknologi agen AI-nya akan diintegrasikan ke dalam ekosistem Meta, termasuk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, yang saat ini telah dilengkapi layanan Meta AI.

    Di balik kesepakatan tersebut, terdapat satu isu sensitif. Manus didirikan oleh pendiri asal China yang sebelumnya membangun perusahaan induk Butterfly Effect di Beijing pada 2022, sebelum memindahkan basis operasional ke Singapura pada pertengahan tahun ini.

    Fakta ini sempat memicu perhatian politik di Amerika Serikat. Senator John Cornyn, anggota senior Komite Intelijen Senat AS, sebelumnya mengkritik investasi Benchmark di Manus. Ia mempertanyakan keputusan investor AS yang dinilai berpotensi memperkuat kemampuan AI China, yang dianggap sebagai pesaing strategis AS. 

    Menanggapi hal tersebut, Meta menegaskan setelah proses akuisisi rampung, Manus tidak lagi memiliki keterkaitan dengan investor China dan akan menghentikan seluruh operasi serta layanannya di China.

    “Tidak akan ada kepemilikan China yang berlanjut di Manus AI setelah transaksi ini, dan Manus AI akan menghentikan layanan serta operasinya di China,” ujar juru bicara Meta kepada Nikkei Asia.

    Adapun, Manus mencuri perhatian sejak kemunculannya awal tahun ini lewat video demonstrasi yang viral. 

    Dalam tayangan tersebut, Manus menampilkan agen AI yang mampu melakukan berbagai tugas kompleks, mulai dari menyaring kandidat kerja, merencanakan perjalanan wisata, hingga menganalisis portofolio saham. 

    Perusahaan itu bahkan mengklaim performanya melampaui fitur Deep Research milik OpenAI.

    Tak lama setelah peluncuran, tepatnya pada April 2025, Manus berhasil mengamankan pendanaan tahap awal senilai US$75 juta atau sekitar Rp1,2 triliun, yang dipimpin oleh Benchmark. Pendanaan tersebut menempatkan valuasi Manus pada level US$500 juta atau sekitar Rp8 triliun (post-money). Sejumlah investor ternama turut masuk, termasuk Tencent, ZhenFund, dan HSG (sebelumnya Sequoia China).

    Meski sempat menuai kritik setelah menetapkan tarif berlangganan US$39 hingga US$199 per bulan sekitar Rp624.000 hingga Rp3,18 juta saat produknya masih dalam tahap pengujian, Manus belakangan mencatat kinerja impresif. Perusahaan mengklaim telah menggaet jutaan pengguna dan membukukan pendapatan berulang tahunan (annual recurring revenue/ARR) lebih dari US$100 juta atau sekitar Rp1,6 triliun.

  • Robot Anjing Berwajah Elon Musk

    Robot Anjing Berwajah Elon Musk

    Bisnis.com, JAKARTA — Seniman digital ternama Mike Winkelmann atau Beeple membuat karya yang menampilkan robot anjing berwajah pemimpin raksasa teknologi dunia, yakni Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Jeff Bezos.

    Dia mencatatkan kesuksesan komersial dalam gelaran Art Basel Miami Beach (ABMB) edisi ke-23 tahun ini. Karya terbarunya yang bertajuk “Regular Animals” (2025) dilaporkan ludes terjual pada hari pembukaan pameran.

    Melansir dari The Art Newspaper Kamis (25/12/2025), setiap unit robot dalam instalasi tersebut dibanderol seharga US$100.000 atau sekitar Rp1,6 miliar.

    Instalasi ini menampilkan sekumpulan robot berkaki empat yang mengenakan topeng hiper-realistis wajah tokoh teknologi dunia seperti CEO Tesla Elon Musk, Pendiri Amazon Jeff Bezos, dan CEO Meta Mark Zuckerberg. Selain tokoh teknologi, Beeple juga menyertakan wajah seniman legendaris seperti Pablo Picasso, Andy Warhol, serta wajah dirinya sendiri.

    Secara teknis, robot-robot ini dirancang untuk melakukan aksi “poop mode”, di mana mereka mencetak gambar yang diambil kamera depan layaknya sedang buang air besar.

    Beeple menjelaskan bahwa karya ini merupakan kritik terhadap dominasi algoritma teknologi yang kini menggantikan peran seniman dalam membentuk perspektif visual manusia.

    “Dulu kita melihat dunia yang diinterpretasikan melalui mata para seniman, tetapi sekarang Mark Zuckerberg dan Elon, khususnya, mengendalikan sebagian besar cara kita melihat dunia,” kata Beeple dikutip dari Page Six.

    Dia menilai, para miliarder tersebut memiliki kendali penuh atas algoritma kuat yang menentukan apa yang dilihat oleh publik setiap harinya.

    Setiap robot menghasilkan output visual berbeda. Robot berwajah Zuckerberg mencetak gambar estetika Metaverse, sementara robot Musk menghasilkan gambar bernuansa robotik hitam-putih.

    Adapun robot berwajah Jeff Bezos tidak mencetak gambar sama sekali, namun tetap dihadirkan karena dianggap memiliki pengaruh besar dalam membentuk pandangan dunia.

    Karya kontroversial itu ditempatkan di sektor Zero10, sebuah area baru di Miami Beach Convention Center yang didedikasikan khusus untuk instalasi berbasis teknologi dan digital.

    Sebagai informasi, Beeple merupakan seniman yang sebelumnya memecahkan rekor penjualan NFT senilai US$69 juta di rumah lelang Christie’s pada 2021.

    Direktur pameran Bridget Finn menilai kehadiran karya berbasis teknologi ini memicu rasa penasaran yang kuat di kalangan pengunjung dan kolektor.

    “Seringkali, rasa ingin tahu sama kuatnya, jika tidak lebih kuat, daripada pengetahuan. Ini adalah titik masuk untuk percakapan lebih lanjut,” ujar Finn dikutip dari Artsy. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • Adopsi dan Investasi Tumbuh Pesat, Regulasi Masih Mengejar

    Adopsi dan Investasi Tumbuh Pesat, Regulasi Masih Mengejar

    Bisnis.com, JAKARTA— Tahun 2025 menjadi fase krusial bagi perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), baik di tingkat global maupun di Indonesia. Di satu sisi, investasi AI mengalir deras, pencetakan talenta digenjot, dan inovasi aplikasi lokal mulai menunjukkan taring. 

    Namun di sisi lain, regulasi AI nasional belum juga rampung, sementara penipuan berbasis AI justru semakin marak di tengah masifnya adopsi teknologi ini. Berikut kaleidoskop AI pada 2025 yang dirangkum Bisnis: 

    Investasi AI Makin Masif 

    Gelombang investasi AI global sepanjang 2025 menunjukkan eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

    Microsoft mengumumkan investasi US$17,5 miliar atau sekitar Rp291 triliun di India untuk periode 2026–2029, difokuskan pada pembangunan pusat data, infrastruktur cloud, dan pengembangan talenta AI. Langkah ini menjadi investasi terbesar Microsoft di Asia.

    Meta bahkan melangkah lebih agresif. Perusahaan milik Mark Zuckerberg itu menyatakan akan menggelontorkan US$600 miliar atau sekitar Rp10 kuadriliun di Amerika Serikat hingga 2028, sebagian besar untuk membangun pusat data AI.

    Meta menargetkan pengembangan “personal superintelligence”, istilah yang merujuk pada kecerdasan buatan yang berpotensi melampaui kemampuan kognitif manusia.

    Tren serupa tercermin di Indonesia. PT Telkom Indonesia (Persero) meluncurkan AI Center of Excellence yang tersebar di sembilan kota strategis, mulai dari Jakarta hingga Papua. Langkah ini diambil seiring meningkatnya kebutuhan AI di sektor pemerintahan, korporasi, hingga UMKM, yang bahkan mulai menunjukkan gejala fear of missing out (FOMO).

    Indosat Ooredoo Hutchison bersama Nokia dan NVIDIA juga meresmikan AI-RAN Research Center di Surabaya.

    Pusat riset ini menjadi fondasi pengembangan jaringan Radio Access Network berbasis AI, yang diklaim mampu meningkatkan kualitas layanan AI sekaligus memperkuat kedaulatan digital nasional.

    Pencetakan Talenta AI 

    Sejalan dengan masifnya investasi, pencetakan talenta AI juga dikebut. Microsoft Indonesia menargetkan sertifikasi 500.000 talenta AI pada 2026. Pemerintah melalui BPSDM Komdigi mencatat lebih dari 30.000 talenta AI berhasil dibina sepanjang 2025 melalui berbagai program, seperti Digital Talent Scholarship dan AI Talent Factory.

    Komitmen Indonesia membangun talenta AI bahkan mulai menarik perhatian global. Sejumlah organisasi luar negeri menyatakan minat memberikan dukungan, mulai dari GPU berkapasitas besar hingga platform open source tanpa biaya.

    Namun, di balik optimisme tersebut, muncul catatan kritis. Pengamat telekomunikasi dari ITB Agung Harsoyo menilai masalah utama Indonesia bukan semata kekurangan talenta, melainkan belum siapnya ekosistem pemanfaatan AI. Talenta yang dicetak membutuhkan akses data, masalah nyata, dan ruang berkarya yang konkret di industri.

    Sementara itu, Heru Sutadi mengingatkan AI juga membawa tantangan serius bagi tenaga kerja. Perkembangan AI berpotensi menggeser banyak pekerjaan manusia jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

    Ilustrasi kecerdasan buatan

    Persaingan Pasar Chatbot

    Meski masih memimpin pasar, laju pertumbuhan ChatGPT mulai melambat. Data Sensor Tower menunjukkan pengguna aktif bulanan ChatGPT hanya tumbuh sekitar 6% pada Agustus–November 2025. Sebaliknya, Google Gemini justru melesat hingga 30%, didorong integrasi langsung dengan sistem operasi Android dan popularitas fitur pembuat gambar Nano Banana.

    Persaingan chatbot semakin ketat dengan kehadiran Claude dan Perplexity yang mencatat pertumbuhan pengguna ratusan persen sepanjang 2025. Kondisi ini menandai fase baru pasar AI global yang mulai matang dan kompetitif.

    Aplikasi Lokal Menggeliat

    Di tengah dominasi pemain global seperti ChatGPT dan Gemini, pengembangan aplikasi AI lokal mulai menunjukkan kemajuan. GoTo dan Indosat meluncurkan Sahabat-AI dengan model 70 miliar parameter yang mendukung berbagai bahasa daerah, mulai dari Bahasa Indonesia hingga Batak. Sahabat-AI diposisikan sebagai LLM open-source yang sesuai dengan konteks dan karakteristik Indonesia.

    KORIKA juga meluncurkan Korika Chat (KChat), platform generative AI berbasis agentic AI yang ditujukan untuk BUMN dan lembaga publik. KChat dirancang untuk mengelola informasi publik terverifikasi secara real-time, mempercepat birokrasi, hingga meningkatkan transparansi regulasi.

    Regulasi AI Mundur, Payung Hukum Belum Turun

    Di tengah pesatnya adopsi AI, regulasi nasional justru tertinggal. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan dua regulasi AI yakni peta jalan AI dan etika AI kemungkinan baru akan terbit pada kuartal pertama atau kedua 2026.

    Pemerintah menyiapkan regulasi tersebut sebagai payung kebijakan umum, sementara pengaturan sektoral akan diserahkan kepada masing-masing kementerian dan lembaga.

    Penipuan AI Marak

    Di sisi gelap perkembangan AI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat maraknya penipuan berbasis AI sepanjang 2025. Satgas PASTI menemukan modus voice cloning dan deepfake semakin sering digunakan untuk menipu masyarakat, mulai dari penyamaran suara anggota keluarga hingga rekayasa video yang sangat meyakinkan.

    OJK mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, melakukan verifikasi silang, dan tidak mudah percaya pada permintaan transfer dana atau data sensitif, meski berasal dari pihak yang tampak dikenal.

    Di lain sisi, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) telah menerima 343.402 laporan terkait dugaan penipuan selama setahun terakhir, sejak mulai beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025. Dari total 563.558 rekening yang dilaporkan, sebanyak 106.222 rekening telah diblokir. Kerugian yang dicatat korban mencapai Rp7,8 triliun, sementara dana yang berhasil dibekukan sebesar Rp386,5 miliar.

  • Bapak AI Peringatkan Semua Pekerjaan Bisa Digantikan AI

    Bapak AI Peringatkan Semua Pekerjaan Bisa Digantikan AI

    Jakarta

    Geoffrey Hinton yang kerap dijuluki Bapak AI, kerap berbicara suram tentang AI. Dalam percakapan dengan Senator Bernie Sanders di Universitas Georgetown, ilmuwan komputer asal Inggris ini memaparkan prediksi mengkhawatirkan tentang bagaimana AI menjungkirbalikkan tatanan masyarakat menjadi lebih buruk.

    Salah satu alasannya adalah penerapan AI yang begitu cepat akan sangat berbeda dengan revolusi teknologi di masa lalu yang justru menciptakan kelas pekerjaan baru. “Orang-orang yang kehilangan pekerjaan tidak akan memiliki pekerjaan lain untuk dituju,” kata Hinton.

    “Jika AI menjadi secerdas manusia atau lebih cerdas, pekerjaan apa pun yang mungkin mereka lakukan bisa dikerjakan oleh AI,” imbuhnya, seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Minggu (30/11/2025). Menurutnya, para pemimpin teknologi benar-benar bertaruh bahwa AI akan menggantikan banyak pekerja yang jika terjadi, fatal akibatnya.

    Hinton memelopori teknik deep learning yang menjadi dasar bagi model AI generatif yang memicu ledakan AI saat ini. Karyanya pada jaringan saraf tiruan membuatnya meraih Turing Award pada 2018, bersama peneliti Universitas Montreal Yoshua Bengio dan mantan kepala ilmuwan AI di Meta, Yann LeCun. Ketiganya dianggap sebagai ‘bapak baptis’ AI.

    Ketiga ilmuwan ini telah blak-blakan mengenai risiko teknologi tersebut dengan tingkat kekhawatiran yang berbeda-beda. Namun, Hinton-lah yang pertama kali membuat heboh ketika ia mengatakan menyesali karya hidupnya setelah mundur dari jabatannya di Google pada 2023.

    Ia tidak mengubah pendiriannya sejak saat itu. Ia secara konsisten memperingatkan bahwa AI akan menghancurkan lapangan kerja dan menciptakan pengangguran massal. Bulan ini, Hinton menambahkan industri AI tidak akan bisa meraup untung tanpa menggantikan tenaga kerja manusia.

    Dalam diskusinya dengan Sanders, Hinton menegaskan kembali risiko-risiko ini. Ia menambahkan bahwa para miliarder yang memimpin AI, seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan Larry Ellison, belum benar-benar memikirkan matan fakta bahwa jika para pekerja tidak dibayar, tidak ada yang akan membeli produk mereka.

    Sebelumnya, Hinton pernah mengatakan bahwa bukan hal mustahil jika umat manusia dimusnahkan oleh AI. Ia juga percaya bahwa kita tidak terlalu jauh dari pencapaian Artificial General Intelligence (AGI), sebuah sistem AI hipotetis dengan tingkat kecerdasan setara atau melebihi manusia yang mampu melakukan berbagai macam tugas, yang kini sedang mati-matian dibangun oleh industri AI.

    “Sampai belum lama ini, saya pikir butuh waktu sekitar 20 hingga 50 tahun sebelum kita memiliki AI serba guna,” kata Hinton pada tahun 2023. “Dan sekarang saya pikir mungkin 20 tahun atau kurang.”

    Hinton juga mengklaim model terbaru seperti GPT-5 dari OpenAI sudah tahu ribuan kali lebih banyak dari manusia. Namun sejauh ini, banyak upaya untuk menggantikan pekerja dengan agen AI sering gagal, termasuk dalam peran dukungan pelanggan (customer support) yang diprediksi paling rentan tergantikan. Dengan kata lain, belum bisa dipastikan bahwa teknologi ini akan dengan mudah menggantikan pekerjaan bergaji rendah sekalipun, setidaknya untuk saat ini.

    (fyk/fay)

  • Zuckerberg Dituding Tahu Bahaya Instagram Tapi Pilih Masa Bodoh

    Zuckerberg Dituding Tahu Bahaya Instagram Tapi Pilih Masa Bodoh

    Jakarta

    Sebuah berkas perkara yang diajukan sebagai bagian dari gugatan hukum terhadap empat raksasa media sosial, dibuka untuk publik. Meskipun TikTok, Google, dan Snapchat turut terseret, tuduhan terhadap Meta sejauh ini adalah yang paling mendetail.

    Dokumen tersebut mencantumkan lebih dari 1.800 penggugat, mulai dari orang tua hingga dewan sekolah dan jaksa agung negara bagian Amerika Serikat. Semuanya menuduh Meta telah melakukan pola penipuan untuk menyembunyikan bahaya serius yang secara sadar mereka timbulkan pada pengguna di bawah umur.

    Singkatnya, berkas tersebut menuduh bahwa Meta sengaja merancang fitur keselamatan remaja agar tidak efektif, atau bahkan sepenuhnya mengabaikan keselamatan pengguna di bawah umur demi memprioritaskan interaksi remaja, pilar utama keuntungan fantastis mereka.

    Menurut Time, alat moderasi AI Instagram sengaja mengabaikan konten pelecehan anak dan gangguan makan. Selain itu, platform tersebut dibiarkan tanpa cara yang mudah untuk melaporkan penyalahgunaan semacam itu secara manual.

    Menurut Reuters yang telah melihat berkas tersebut, CEO Mark Zuckerberg, sudah sangat menyadari masalah ini sejak tahun 2017, namun memilih untuk fokus pada hal-hal yang lebih sepele.

    Dikutip detikINET dari Futurism, dalam pesan teks yang ditemukan oleh pengacara penggugat, Zuckerberg diduga mengatakan bahwa keselamatan anak bukanlah perhatian utamanya karena sejumlah bidang lain yang lebih dia fokuskan, seperti membangun metaverse.

    Reuters mencatat saat Zuckerberg terus memacu proyek metaverse, ia secara aktif menolak permohonan dari kepala kebijakan publik global Meta saat itu, Nick Clegg, untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya bagi keselamatan anak.

    Dalam beberapa kasus, dokumen tersebut menuduh Zuck tak hanya mengabaikan keselamatan anak, tapi mengakalinya. Sebagai contoh, setelah sebuah studi internal tahun 2018 menemukan bahwa 40% anak-anak Amerika berusia 9-12 tahun menggunakan Instagram setiap hari, pelanggaran terhadap kebijakan usia minimum 13 tahun, sang CEO disebut mengarahkan perusahaan tetap menarget pra remaja.

    Pada titik ini, Meta dituduh mulai menggunakan data lokasi untuk mengirim notifikasi ke siswa di sekolah, kemungkinan besar demi meningkatkan interaksi user di bawah umur saat jam pelajaran berlangsung. Sedangkan tim riset mempelajari psikologi anak pra-remaja dan mengembangkan proposal fitur baru untuk pengguna semuda 5-10 tahun.

    “Oh bagus, kita mengejar anak-anak di bawah 13 tahun sekarang?” tulis seorang karyawan dalam komunikasi internal. “Zuck sudah membicarakan itu sejak lama. Seolah kita serius mengatakan kita harus membuat mereka kecanduan sejak muda.”

    Previn Warren, salah satu pengacara utama penggugat, menyebut analogi industri rokok. “Meta merancang produk dan platform media sosial yang mereka sadari bersifat adiktif bagi anak-anak, dan mereka sadar bahwa kecanduan tersebut mengarah pada berbagai masalah kesehatan mental serius,” kata Warren.

    “Seperti tembakau, ini adalah situasi di mana terdapat produk berbahaya yang dipasarkan ke anak-anak. Mereka tetap melakukannya, karena penggunaan yang lebih banyak berarti keuntungan yang lebih besar bagi perusahaan,” cetusnya.

    (fyk/vmp)

  • Meta Mau Terjun ke Bisnis Perdagangan Listrik, Susul Apple

    Meta Mau Terjun ke Bisnis Perdagangan Listrik, Susul Apple

    Bisnis.com, JAKARTA — Meta Platforms, Inc. berencana untuk masuk ke bisnis perdagangan listrik. Perusahaan akan membangun pembangkit listrik baru untuk memasok energi ke data center mereka dan warga Amerika Serikat (AS).

    Melansir dari laman Techcrunch, Senin (24/11/2025), bahwa baik Meta maupun Microsoft sedang mengajukan permohonan persetujuan federal untuk melakukan perdagangan listrik. Sementara Apple telah mendapatkan persetujuan ini.  

    Menurut Meta, hal ini akan memungkinkan perusahaan untuk membuat komitmen jangka panjang untuk membeli listrik dari pembangkit baru, sambil mengurangi risiko dengan kemampuan untuk menjual kembali sebagian listrik tersebut di pasar listrik grosir.

    Kepala Energi Global Meta Urvi Parekh mengatakan bahwa pengembang pembangkit listrik ingin mengetahui bahwa konsumen listrik bersedia mengambil risiko.

    “Tanpa Meta mengambil peran yang lebih aktif dalam kebutuhan untuk memperluas jumlah listrik yang tersedia di sistem, hal ini tidak terjadi secepat yang kami inginkan,” kata Parekh.

    Sebagai contoh kebutuhan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya di balik rencana pusat data AI ambisius perusahaan teknologi, setidaknya tiga pembangkit listrik berbahan bakar gas baru perlu dibangun untuk memasok listrik ke kampus pusat data Meta di Louisiana.

    Sementara melansir dari Bloomberg, Meta mengatakan bahwa kemampuan untuk memperdagangkan listrik akan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perusahaan untuk mengamankan dan mengelola kesepakatan energi dan kapasitas. 

    Dalam email balasan ke Bloomberg, Meta menyebutkan, pihaknya dapat berkomitmen untuk pembelian jangka panjang dari pembangkit listrik yang belum dibangun. 

    “Hal ini akan memungkinkan pembangkit listrik baru ini dapat menyelesaikan [lebih cepat] atas langkah-langkah yang memerlukan waktu lama dalam proses pembangunan,” ungkap Meta. 

    Sementara Chief Executive Officer Mark Zuckerberg telah berulang kali menyarankan sepanjang tahun ini bahwa dia melihat risiko yang lebih besar bagi Meta akibat pengeluaran yang kurang untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) daripada risiko dari pengeluaran berlebihan untuk hal tersebut. 

    Zuckerberg menggambarkan hal ini sebagai “strategi untuk secara agresif mempercepat pembangunan kapasitas.” Dia melihatnya sebagai persiapan untuk momen bersejarah ketika Meta mencapai tujuannya untuk “superintelligence,” sebuah evolusi AI yang bertujuan untuk melampaui kemampuan manusia dalam banyak tugas.

    Untuk mewujudkan visi tersebut, tentu saja, Meta akan membutuhkan jumlah listrik yang sangat besar.

    “Kami semua yakin secara mendasar bahwa perlu ada pembangunan kembali kapasitas ini dalam membangun pembangkit listrik baru dan mempercepat prosesnya,” kata Parekh.

  • Raksasa Teknologi Guyur Miliaran Dolar untuk AI, Kapan Untungnya?

    Raksasa Teknologi Guyur Miliaran Dolar untuk AI, Kapan Untungnya?

    Jakarta

    Gelombang besar belanja AI di Silicon Valley tampaknya belum akan melambat dalam waktu dekat. Namun, kesabaran Wall Street untuk melihat hasilnya mulai menipis.

    Meta, Microsoft, Amazon, Apple, dan induk perusahaan Google, Alphabet, semuanya menyatakan minggu ini akan menggelontorkan lebih banyak dana untuk belanja modal, termasuk sewa dan peralatan bagi data center serta infrastruktur.

    Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Meta semuanya memang mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan dan melampaui ekspektasi Wall Street. Bisnis cloud Microsoft dan Google tumbuh 40% dan 34%, sementara penjualan Amazon Web Services meningkat 20% dari tahun lalu, menandakan banyak perusahaan makin bergantung pada layanan mereka di era AI.

    Mereka pun terus menanamkan puluhan miliar dolar ke infrastruktur AI dan data center yang dinggap penting untuk memasuki era baru internet. Jumlah uang yang terlibat sungguh mencengangkan.

    Google memperkirakan akan menghabiskan antara USD 91 hingga USD 93 miliar untuk belanja modal di 2025, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar USD 85 miliar. Microsoft memperkirakan pengeluaran melonjak 74% menjadi USD 34,9 miliar tahun ini. Meta menghabiskan USD 19,37 miliar, naik dari 9,2 miliar tahun lalu.

    Sementara Amazon memperkirakan tagihan tahun 2025 akan mencapai USD 125 miliar. Bahkan Apple yang bukan penyedia layanan cloud besar, juga berencana meningkatkan belanja modal untuk investasi AI.

    Menurut Melissa Otto, kepala riset di S&P Global Visible Alpha, data center yang sudah ada perlu ditingkatkan agar mampu menangani beban kerja AI dan itulah yang memicu lonjakan besar pengeluaran.

    Para raksasa teknologi membenarkan pengeluaran itu dengan alasan permintaan jauh melampaui pasokan. “Secepat apa pun kami menambah kapasitas saat ini, kami langsung bisa memonetisasinya,” kata CEO Amazon Andy Jassy yang dikutip detikINET dari CNN.

    Wall Street menuntut jawaban besar dari Big Tech

    Namun Wall Street menginginkan lebih dari sekadar janji. Saham Meta anjlok hingga 13,5% pada Kamis, sementara saham Microsoft turun lebih dari 3%.

    Hampir semua pertanyaan pada Meta fokus pada bagaimana perusahaan memandang investasi AI dapat menghasilkan keuntungan, kapan produk dan model baru Superintelligence Lab dirilis, serta pendekatan umum mereka terhadap AI.

    Mark Zuckerberg mengatakan AI berguna untuk menjalankan asisten virtual dan membantu pengiklan merencanakan kampanye. Lebih dari 1 miliar orang menggunakan Meta AI setiap bulan dan AI menurutnya dapat membuka jalan bagi berbagai jenis produk baru dengan format konten berbeda.

    Untuk Microsoft, analis ingin tahu apakah klien benar-benar akan menepati komitmen pembelian dan apakah industri teknologi sungguh bisa menghasilkan keuntungan dari investasi AI. Amy Hood, CFO Microsoft, menyebut investasi perusahaan mencerminkan bisnis yang sudah dikontrak, menegaskan bahwa permintaan terus meningkat.

    Investor Google ingin tahu bagaimana AI mengubah cara perusahaan menghasilkan uang dari layanan pencarian. Chief Business Officer Google mengatakan perusahaan menghasilkan uang dalam jumlah yang hampir sama dari iklan yang muncul di bawah dan di dalam tanggapan AI seperti pada pencarian tradisional.

    Jawaban itu memuaskan sebagian analis. Optimisme itu dinilai akan bertahan selama perusahaan-perusahaan ini tetap mampu menumbuhkan produk-produk yang dulu membuat mereka menjadi raksasa teknologi dunia.

    “Sekarang ada tekanan untuk mempercepat inovasi. Ada ruang baru dalam AI yang diyakini akan sangat berharga, jadi semua pihak berlomba untuk mengisinya,” kata Evan Schlossman dari SuRo Capital. “

    (fyk/rns)