Tag: Marc Marquez

  • Pujian Buat Marc Marquez dari Tangan Kanan Valentino Rossi

    Pujian Buat Marc Marquez dari Tangan Kanan Valentino Rossi

    Jakarta

    Meski baru menjajal motor Ducati, performa Marc Marquez jadi yang terbaik menggeber Desmosidici GP23 tak bisa dibantah lagi. Hasil ini juga diamini tangan kanan Valentino Rossi, sekaligus sahabat The Doctor, Alessio Salucci.

    Uccio merupakan sahabat Rossi sedari bocah. Keduanya sama-sama berasal dari Tavullia, Urbino, Italia. Pria kelahiran 1979 itu menyebut sudah dipertemukan dengan Rossi sejak keduanya masih masih berada di atas stroller.

    Salucci telah menikmati pengalaman unik untuk tetap berdampingan dengan teman masa kecilnya yang menjadi ikon olahraga dunia. Bahkan setelah Rossi pensiun, hubungan mereka tetap ketat.

    Kini saking dekatnya, sahabat kental Rossi itu kini dipercaya mengemban jabatan direktur di tim balap VR46. Para pebalapnya mendapat motor Ducati Desmosedici GP23 pada musim 2024, mereka di antaranya Fabio Di Giannantonio dan Marco Bezzecchi.

    Team Director Pertamina Enduro VR46 Racing Team Alessio Salucci Foto: Dok. Pertamina Enduro VR46 Racing Team

    Namun faktanya, Marquez merupakan pebalap terbaik Desmosedici GP23. Marc Mampu menang tiga balapan dan 10 kali naik podium dengan Desmosedici GP23. Atas hasil itu, Marquez menempati peringkat tiga klasemen akhir MotoGP 2024.

    Uccio tidak punya masalah dalam memuji Marc Marquez, meski hubungan The Baby Aliens dan Rossi belum membaik. Tangan kanan alias orang kepercayaan Rossi itu sadar betul Marquez merupakan pebalap jempolan.

    “Márquez adalah Marquez. Kami mengenalnya dengan sangat baik. Dia tidak memenangkan delapan gelar dunia secara kebetulan. Apa yang dia lakukan dengan motor selalu mengesankan,” kata orang Italia itu dikutip dari Marca.

    Namun keputusan Ducati dalam merekrut Marquez untuk naik ke tim pabrikan juga tidak lepas dari kritikan Uccio. Menurutnya, Jorge Martin lebih pantas menemani Francesco Bagnaia untuk membela Ducati merah.

    “Saya lebih suka mereka memilih Jorge Martin, namun keputusan ini adalah milik Dall’Igna dan Domenicali,” terang Uccio.

    (riar/dry)

  • Bukan Jorge Martin, Ini Pebalap MotoGP dengan Gaji Tertinggi Tahun 2024

    Bukan Jorge Martin, Ini Pebalap MotoGP dengan Gaji Tertinggi Tahun 2024

    Jakarta

    MotoGP 2024 telah berakhir dengan Jorge Martin keluar sebagai juaranya. Selain dinamika yang terjadi di lintasan sirkuit, maupun drama perpindahan pebalap ke tim baru, menarik juga disimak besaran gaji pebalap MotoGP 2024. Siapakah rider yang mendapat bayaran tertinggi tahun ini?

    Mengutip laman Motosan, di urutan ketujuh pebalap dengan gaji pokok sebesar 1 juta euro (Rp 16,9 miliar) ada tiga nama, yakni Brad Binder (KTM) dan 2 pebalap Pramac Racing Ducati, Franco Morbidelli dan Jorge Martin.

    Selanjutnya di posisi keenam ada pebalap dengan gaji pokok sebesar 2 juta euro (Rp 33,8 miliar) yakni Aleix Espargaro (Aprilia Racing). Selanjutnya ada rider dari Yamaha Monster Energy, Alex Rins, yang mengantongi gaji pokok sebesar 2,2 juta euro per tahun atau setara Rp 37,2 miliar.

    Kemudian di posisi keempat, ada dua pebalap MotoGP dengan besaran gaji pokok sebesar 3 juta euro (Rp 50,7 miliar), yakni Joan Mir (Repsol Honda) dan Jack Miller (KTM). Khusus untuk Mir, dia mengalami penurunan gaji signifikan saat pindah dari Suzuki ke Honda pada akhir 2022. Mir sempat mendapatkan gaji fantastis senilai 6 juta euro per tahun (Rp 101 miliar) pada tahun 2021 setelah dia memenangi MotoGP 2020 bersama Suzuki.

    Kembali ke jajaran pebalap dengan gaji tertinggi di tahun 2024, ada nama Johann Zarco di urutan ketiga yang menerima gaji pokok sebesar 4 juta euro (Rp 67,6 miliar) dari timnya, LCR Honda. Selain Zarco, Vinales juga mendapatkan besaran gaji serupa bersama tim Aprilia Racing.

    Di posisi kedua ada nama Fabio Quartararo yang menerima gaji sebesar 6 juta euro per musim dari tim Yamaha Monster Energy. Rider yang menjuarai MotoGP 2021 tersebut mendapatkan kenaikan gaji yang signifikan usai memperpanjang kontrak dengan Yamaha.

    Dan pebalap MotoGP tahun 2024 yang mendapatkan gaji tertinggi adalah Francesco Bagnaia. Pebalap Ducati Lenovo tersebut mengantongi sebanyak 7 juta euro per tahunnya atau setara Rp 118,4 miliar. Tentu wajar bila Pecco Bagnaia mendapatkan bayaran tinggi. Sebab dia adalah pebalap utama Ducati dengan gelar juara dunia 2022 dan 2023. Pada musim 2024 pun Bagnaia tampil konsisten, meski kalah dari Martin di perebutan gelar juara dunia.

    Lantas di manakah posisi Marquez? Besaran gaji Marc Marquez di tim Gresini Racing Ducati belum diketahui pasti. Namun kabarnya, Marquez mengalami penurunan gaji yang signifikan saat memutuskan pindah dari Honda ke Gresini pada akhir 2023 lalu.

    (lua/rgr)

  • Terungkap Alasan Marc Marquez Cerai dengan Red Bull Mulai 2025

    Terungkap Alasan Marc Marquez Cerai dengan Red Bull Mulai 2025

    Jakarta

    Marc Marquez tak lagi disponsori Red Bull. Marquez dan Red Bull bercerai saat rider Spanyol itu membela Ducati merah mulai musim depan.

    Marc Marquez mengungkap dirinya tak akan lagi disponsori Red Bull mulai musim depan saat mulai membela Ducati merah. Padahal Marquez sudah menjadi atlet Red Bull sepanjang kariernya di MotoGP. Logo Red Bull bahkan juga masih tersemat saat dirinya pindah ke Gresini Racing sejak awal musim 2024.

    Perceraian Marquez dan Red Bull ini diduga kuat ada kaitan antara hubungan Ducati dan Monster Energy. Sinyal perpisahan keduanya juga sudah terasa sejak tes pascamusim di Barcelona bulan lalu. Saat menunggangi Ducati Desmosedici GP25, tak ada lagi logo Red Bull di baju balap, helm, maupun motornya.

    Mantan rider Repsol Honda itu sepenuhnya menggunakan warna merah di motor maupun di baju balapnya. Terbaru, Marquez mengkonfirmasi bahwa tak lagi membawa Red Bull sebagai sponsornya.

    “Ducati punya sponsor lain, jadi kami tidak bisa melanjutkannya. Untuk menghormati Red Bull, saya tidak akan memiliki sponsor pribadi,” ungkap Marquez dilansir Crash.

    “Saya ingin berterima kasih ke keluarga Red Bull dan saya harap kami masih berteman,” lanjutnya lagi.

    Belum diketahui apakah Marquez nantinya bakal mendapat sponsor dari Monster Energy. Sekalipun iya, itu jelas bukan sponsor untuk dirinya pribadi. Pada kesempatan yang sama, rider kelahiran Cervera itu juga menegaskan bahwa kedatangannya ke Ducati bukan untuk jadi pebalap nomor satu.

    “Saya datang ke tim juara dunia. Saya juga sudah merasakan tekanan, tapi memang menginginkannya. Saya sudah bilang saya harus meninggalkan zona nyaman di Honda,” ujarnya.

    “Saya punya kesempatan sekarang dan mengambil kesempatan itu. Tahun depan pendekatannya akan berbeda. Di Honda, saya memang nomor satu. Ada pebalap baru selalu datang dan berusaha klop dengan saya. Tapi sekarang saya baru di tim dan Pecco meraih kemenangan lebih banyak di sana (Ducati) dalam beberapa tahun terakhir,” tutur Marquez.

    (dry/din)

  • Wajar Ducati Lebih Pilih Marquez Ketimbang Martin, Ini Sebabnya

    Wajar Ducati Lebih Pilih Marquez Ketimbang Martin, Ini Sebabnya

    Jakarta

    Keputusan tim pabrikan Ducati lebih memilih Marc Marquez ketimbang Jorge Martin sempat mendapat protes dari berbagai pihak. Sebab, The Baby Alien dinilai tak lebih baik dibandingkan rivalnya tersebut di musim lalu.

    Disitat dari Motosan, ayah Jorge Lorenzo, Chicho Lorenzo mengatakan, MotoGP bukan hanya soal kompetisi, melainkan juga ajang promosi suatu merek. Menurutnya, secara exposure, Marquez jauh lebih baik ketimbang Martin.

    “Merek-merek itu ikut MotoGP untuk memasarkan motornya. Mereka ada di balapan karena kejayaan tim membuat motor mereka laku. Alasan itu membuat saya merasa, langkah Ducati merekrut Marquez merupakan keputusan yang wajar,” ujar Chicho Lorenzo, dikutip Jumat (20/12).

    Marc Marquez dan bos Ducati Gigi Dall’Igna tahun 2024. Foto: Doc. Motorsport

    Chicho menjelaskan, Marquez merupakan bintang media. Itulah mengapa, sorotan terhadap pebalap 31 tahun tersebut akan berdampak langsung untuk tim pabrikan Ducati.

    “Tentu mereka tahu bahwa itu akan menghasilkan banyak berita, keuntungan, dan publisitas. Di tingkat olahraga, menurut saya memang tak adil untuk Martin. Tapi ini bukan sekadar olahraga, melainkan juga bisnis,” ungkapnya.

    Meski Marquez tak sebaik Martin musim lalu, namun Chicho yakin, performa pebalap Spanyol itu akan membaik musim depan. Sebab, selain mendapat motor terbaru, daya juang Marquez di lintasan juga masih tinggi.

    “Saya pikir Marc Márquez telah berusaha menemukan jati dirinya, dia telah membuat perubahan yang luar biasa. Ada juga upaya luar biasa untuk mencapainya. Kita lihat saja apa yang akan dia tunjukkan di lintasan,” kata Chicho.

    (sfn/dry)

  • Perbedaan Mencolok Rossi dan Marquez di Mata Legenda MotoGP

    Perbedaan Mencolok Rossi dan Marquez di Mata Legenda MotoGP

    Jakarta

    Legenda balap asal Italia, Giacomo Agostini bicara soal rivalitas Valentino Rossi dan Marc Marquez di MotoGP. Menurutnya, meski sama-sama hebat, mereka berdua punya keunikan masing-masing.

    Agostini mengatakan, Marquez merupakan pebalap yang mudah dicintai penonton. Selain itu, kata dia, The Baby Alien juga mampu menunjukkan aksi-aksi yang membuat perlombaan lebih menarik disaksikan.

    “Marc Marquez (punya sesuatu yang) menjadi kelemahan saya. Karena, saya pikir, dia bisa memberikan gairah ke publik dan membuat penonton senang menyaksikannya. Dia pebalap yang suka tampil memukau dan disukai banyak orang,” ujar Agostini, dikutip dari Crash, Selasa (17/12).

    Giacomo Agostini bicara soal Valentino Rossi vs Marc Marquez. Foto: Getty Images/Mirco Lazzari gp

    Sementara Rossi, kata Agostini, tidak seberani Marquez. Namun, The Doctor merupakan pebalap cerdik dan punya bakat luar biasa.

    “Rossi di lain sisi merupakan pebalap yang hebat, pebalap yang cerdik. Sebagai peraih sembilan gelar juara, dia punya naluri yang kuat,” ungkapnya.

    Meski terlibat rivalitas sengit selama hampir 10 tahun, namun umur Rossi dan Marquez terpaut jauh. Sehingga, kata Agostini, ketika Marquez sedang moncer-moncernya, Rossi justru sudah berada di penghujung karier.

    “Mereka tidak seumuran. Ketika yang satu sudah mulai, yang lain belum menjadi pebalap. Ini bisa saja mempengaruhi hasil akhir, paham kan maksudnya?” kata dia.

    Marc Marquez vs Valentino Rossi. Foto: Capture Youtube MotoGP.

    Pada akhirnya, Agostini secara tak langsung lebih menghargai kelebihan-kelebihan yang ditawarkan Marquez. Menurutnya, secara penampilan, pebalap yang musim depan membela tim pabrikan Ducati tersebut lebih menghibur.

    “Meskipun saya mengakui Rossi bisa membangkitkan antusiasme, sebenarnya, kalau dipikir-pikir, bagi saya Marquez lebih nekat, tangguh dan berani. Dia petarung, dan orang-orang mungkin lebih menyukai ini. Marc tidak pernah menyerah, dia benar-benar subyek tontonan seru,” kata Agostini.

    (sfn/dry)

  • Bukan Jorge Martin, Ini Pebalap MotoGP dengan Gaji Tertinggi Tahun 2024

    Hubungan Marquez-Bagnaia di Ducati Ibarat Mbappe-Vinicius di Real Madrid

    Jakarta

    Marc Marquez membuat perandaian unik saat dirinya pindah ke Ducati merah dan menjadi rekan setim Francesco Bagnaia. Dia mengibaratkan, hubungannya dengan pebalap Italia tersebut seperti Kylian Mbappe dan Vinicius Junior di Real Madrid. Apa maksudnya?

    Disitat dari Crash, Marquez paham Bagnaia merupakan tokoh sentral di Ducati merah. Selain itu, kata dia, Bagnaia juga sudah lebih lama di tim pabrikan tersebut. Itulah mengapa, dia sebagai ‘anak baru’, harus beradaptasi seperti Mbappe ketika gabung ke Real Madrid.

    “Vinicius merupakan pemain yang sudah lebih dulu di timnya, dia adalah referensi. Kemudian Mbappe datang dan dia harus beradaptasi,” ujar Marc Marquez, dikutip Senin (16/12).

    Kylian Mbappe dan Vinicius Junior Foto: Irina R. Hipolito/Europa Press via Getty Images

    Secara tak langsung, Marquez menyamakan dirinya dengan Mbappe dan membandingkan Bagnaia dengan Vinicius. Itu artinya, sangat memungkinkan ada dua sosok terbaik membela tim yang sama.

    “Pecco adalah tolok ukur di tim Ducati, dia telah memenangkan 11 balapan tahun ini, dia telah berjuang untuk kejuaraan dunia hingga balapan terakhir. Pecco juga telah meraih juara dunia dua kali di tim tersebut,” ungkapnya.

    Sebagai catatan, keputusan Ducati menggabungkan Marquez dan Bagnaia di tim yang sama sempat memicu polemik. Sebab, keduanya disebut-sebut tak terlalu akur. Hal itu merujuk pada status Bagnaia yang merupakan murid Valentino Rossi.

    Marc Marquez dan Francesco Bagnaia. Foto: AFP/TOSHIFUMI KITAMURA

    Penunjukan Marquez sebagai pebalap Ducati merah juga sempat ditentang banyak pihak. Karuan saja, tim asal Italia tersebut sebenarnya bisa memilih Jorge Martin yang tampil spesial dan juara dunia bersama Pramac Racing.

    “Ketika mereka mengatakan kepada saya bahwa saya yang terpilih, saya tidak bertanya mengapa, saya hanya berkata ‘oke, di mana saya harus menandatangani kontrak?’, hanya itu,” tuturnya.

    “Gigi Dall’Igna memberi tahu saya dan saya bereaksi dengan rasa terima kasih dan saya akan membuktikan keputusan tersebut tepat,” kata Marquez menambahkan.

    (sfn/dry)

  • Marquez Berambisi Kejar Rekor Valentino Rossi

    Marquez Berambisi Kejar Rekor Valentino Rossi

    Jakarta

    Marc Marquez berambisi mengejar rekor gelar MotoGP milik Valentino Rossi. Saat ini Marquez hanya berjarak satu gelar dari The Doctor. Marc Marquez memiliki peluang besar menyamai perolehan gelar MotoGP Rossi dalam dua musim percobaan ke depan.

    Diketahui, saat ini Valentino Rossi menempati posisi kedua sebagai rider yang paling banyak mendapatkan gelar juara Grand Prix. Rossi memiliki 9 gelar juara Grand Prix yang di antaranya 7 gelar MotoGP pada 2001, 2002, 2003 bersama Honda dan pada 2004, 2005, 2008, 2009, bersama Yamaha. Gelar Rossi lainnya didapat di kelas balap 125 cc pada 1997 dan kelas balap 250 cc pada musim 1999. Saat itu Rossi masih membela Aprilia.

    Valentino Rossi Foto: Doc. Yamaha Racing

    Sementara Marquez memiliki 8 gelar Grand Prix yang diperolehnya saat membela Honda. Pebalap asal Spanyol itu meraih gelar MotoGP musim 2013, 2014, 2016, 2017, 2018, serta 2019. Selanjutnya 2 gelar Marquez lainnya diperoleh pada 2010 kala dia masih membela Derbi di kelas 125 cc dan pada 2012 saat membela Suter di Moto2.

    Mengingat Rossi sudah pensiun dan Marquez masih aktif membalap, Marquez pun berambisi mengejar perolehan gelar MotoGP Rossi. Marquez mempunyai target menyamakan rekor Rossi pada tahun 2027.

    “Pada tahun 2027, saya akan mencoba untuk memiliki sembilan gelar (Grand Prix),” bilang Marquez dikutip dari Motosan. “Saya akan berusaha untuk mendapatkan satu Piala Dunia lagi, setiap tahun saya berusaha memperjuangkannya,” sambung pebalap asal Spanyol tersebut.

    Ambisi Marquez untuk menyamai rekor Rossi bisa saja diraihnya dalam dua musim ke depan. Apalagi sekarang Marquez berada di tim pabrikan Ducati Lenovo yang mempunyai motor paling sempurna dan paling kompetitif di MotoGP, Ducati Desmosedici.

    Ducati Desmosedici saat ini mendominasi ajang MotoGP dengan kemenangan selama 3 musim berturut-turut. Asal bisa tampil konsisten dan minim membuat kesalahan, maka Marquez memiliki peluang besar meraih gelar juara dunia kesembilannya.

    (lua/riar)

  • Masa Lalu Ducati Salah Rekrut Rossi

    Masa Lalu Ducati Salah Rekrut Rossi

    Jakarta

    Ducati mengenang masa-masa sulit, meskipun pernah dibela pebalap sekaliber Valentino Rossi. Kala itu, mengawinkan pebalap dan motor yang sama-sama dari Italia adalah mimpi, namun realisasinya jangankan meraih juara dunia, menang balapan sekalipun sulit.

    Rossi berseragam pabrikan asal Borgo Panigale pada musim 2011 dan 2012. Tapi Pebalap kelahiran Tavullia ini ternyata tidak mampu menunjukkan statusnya sebagai legenda hidup MotoGP.

    Pada musim pertamanya di Ducati, Rossi finis di urutan ketujuh klasemen akhir pebalap dengan 139 poin. Dari 18 seri, pebalap Italia ini cuma naik podium sekali. Lalu Valentino Rossi dan Ducati pun berpisah pada akhir musim 2012. Total selama berseragam Ducati, dia hanya meraih tiga podium.

    Mauro Grassilli, Sporting Director Ducati Corse, mengamini kehadiran Rossi saat itu awalnya dinilai bisa jadi juru selamat Ducati yang bisa meraih kemenangan pasca ditinggal Casey Stoner.

    “Dia (Rossi) datang ke Ducati sebagai fenomena yang dapat menyelamatkan dari situasi tidak sulit, tetapi dapat ditingkatkan,” kata Grassilli.

    Sayangnya motor yang dirancang Ducati tidak nyetel dengan Rossi. Bahkan dia menyebut Rossi ingin mengubah Ducati jadi motor Yamaha.

    “Masalahnya adalah tidak diketahui dengan jelas seperti apa motor itu, kedatangan Valentino dan kebutuhan untuk menyediakan motor yang cukup kompetitif bagi Valentino,” kata Kepala Mekanik Ducati saat itu, Juan Martinez.

    Apalagi permintaan Rossi bahkan tidak sesuai dengan konsep Desmosedici yang telah dikembangkan.

    Akhir pekan bersama Ducati lebih banyak kekecewaan. Masa tinggal Rossi di Borgo Panigale menyisakan noda kegagalan dan keputusasaan bagi Ducati.

    “Sepeda motor yang dirancang oleh Filippo Preziosi adalah sepeda motor yang dirancang, didesain, dan dikonsep untuk tidak memiliki sasis perimeter, dan kedatangan Valentino bahkan mengubah bagian yang sangat penting dari proyek ini, sedikit dengan tujuan mengubah Ducati menjadi Yamaha,” ujar Martinez.

    Ducati sekarang jadi incaran para pebalap. Motornya superior di atas lintasan. Ducati kala itu belum siap menampung Rossi.

    “Memang sebuah kesalahan ketika kami merekrut Valentino ke Ducati, saat itu kami belum siap. Ducati belum siap menangani Valentino Rossi, sedangkan sekarang kami jauh lebih siap. Saya juga mengingatkan bahwa sekarang kami punya dua juara dunia. Saat anda menangani Francesco Bagnaia, saya tidak melihat alasan mengapa Anda tidak mampu menangani Marc Marquez,” ucap Manajer Ducati, Tardozzi.

    “Dengan Valentino, saat itu timing-nya benar-benar keliru dengan Jorge Lorenzo, menurut saya dia membuat kesalahan karena terburu-buru bergabung dengan Honda. Seandainya dia menunggu beberapa hari, ceritanya akan berbeda,” Tardozzi menambahkan.

    (riar/lth)

  • Jorge Martin Juara MotoGP Bukan karena Balas Dendam dengan Ducati

    Jorge Martin Juara MotoGP Bukan karena Balas Dendam dengan Ducati

    Jakarta

    Jorge Martin sukses menjuarai MotoGP 2024. Martin mengaku keberhasilan tersebut bisa dicapai bukan karena dirinya ingin balas dendam terhadap Ducati yang tidak jadi merekrutnya ke tim pabrikan.

    “Sejujurnya, bagi saya, titik kunci kejuaraan bukanlah di sana,” ungkap Martin, dalam wawancara dengan Marca, dikutip Rabu (11/12/2024). “Ya, jelas, untuk pers, untuk masalah kontrak, ada kekacauan dan itu adalah sebelum dan sesudah dalam sejarah saya dengan Ducati, itu jelas,” sambung Martin.

    Lanjut Martin mengatakan, titik balik di MotoGP sehingga dia termotivasi meraih gelar juara dunia 2024 adalah saat seri kesembilan digelar di Sirkuit Sachsenring, Jerman, bulan Juli silam. Di race utama MotoGP Jerman, Martin terjatuh saat memimpin balapan, padahal balapan menyisakan dua lap. Gara-gara itu juga, posisi dia di puncak klasemen saat itu diambil alih pebalap Ducati Lenovo, Francesco Bagnaia.

    “Bagi saya, di level olahraga, titik baliknya mungkin adalah Jerman, saat saya jatuh dengan keunggulan yang sangat besar. Saya pikir itu mungkin jadi titik balik bagi saya untuk membuat perubahan dan berkata, ‘Sejauh ini, saya tidak akan gagal lagi.’ Itu yang memotivasi saya,” tambah pebalap asal Spanyol tersebut.

    “Pada akhirnya, saya melihat bahwa saya tidak perlu membuktikan apa pun dan saya memberikan 100 persen kemampuan saya, seperti yang telah saya lakukan hingga saat itu dan saya berhasil meraih gelar ini,” sambung rider yang kemudian memutuskan pindah ke Aprilia Racing itu.

    Meski begitu, harus diakui keputusan Ducati Lenovo merekrut Marc Marquez pada 2025 telah menjadi pelecut semangat bagi Martin untuk menunjukkan kemampuannya. Apalagi tim Martin, Pramac Racing, yang ikutan kecewa, juga tidak melanjutkan kerja sama dengan Ducati.

    “Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk menyatukan tim, menyatukan mereka semua dan memberi tahu mereka: ‘Teman-teman, ini sudah terjadi…Tahun ini, akhirnya, saya lebih memandang segala sesuatunya sebagai sebuah peluang dan bukan sebagai ancaman,” kata dia.

    “Anda berkata pada diri sendiri: ‘Baiklah, begitulah adanya, peluang apa yang ada di depan kita? Nah, tim satelit yang terdiri dari 10-12 orang dapat mengalahkan tim pabrik yang beranggotakan 200 orang. Jadi mari kita bekerja, tidak ada yang akan memberi kita apa pun dan kita akan melakukannya,” bilang Martin.

    “Dan, pada akhirnya, berkat itu, tentu saja, saya bisa menjadi juara dunia,” tukasnya.

    (lua/rgr)

  • Marquez Berambisi Kejar Rekor Valentino Rossi

    Marquez Disebut-sebut Ingin ‘Kuasai’ Garasi Ducati

    Jakarta

    Marc Marquez disebut-sebut ingin menguasai garasi Ducati. Marquez ingin menjadi pebalap utama Ducati Lenovo dan menyingkirkan pengaruh Francesco Bagnaia. Hal itu bisa sangat mungkin terjadi mengingat kehadiran Marquez dan Bagnaia di Ducati ibarat dua matahari kembar.

    “Pecco (Bagnaia) adalah juara dunia MotoGP dua musim berturut-turut dan telah memimpin garasi (Ducati Lenovo) selama beberapa tahun terakhir,” ujar komentator MotoGP dari TNT Sports, Michael Laverty. “Tiba-tiba, duri besar (Marquez) di sisinya muncul. Ya, Marquez ingin menguasai garasi Ducati,” sambung dia.

    Kendati hubungan Marquez dan Bagnaia tampak baik-baik saja di layar kaca, tidak ada yang tahu bagaimana hubungan keduanya di balik layar. Di masa lalu, Marquez menjadi salah satu rival berat Valentino Rossi. Dan Bagnaia adalah anak didik Rossi. Jadi saat ini Bagnaia ibarat representasi Rossi di MotoGP.

    Francesco Bagnaia Foto: Anadolu via Getty Images/Anadolu

    Sebelumnya Bagnaia juga telah mewanti-wanti Marquez agar tidak bikin gaduh garasi Ducati Lenovo yang selama ini harmonis dan solid. Kata Bagnaia, kehadiran Marquez bisa jadi berkah, sekaligus bencana buat tim asal Italia tersebut.

    “Yang pasti dia akan sangat kompetitif. Tahun ini dia sangat cepat dan tahun depan dia akan memiliki materi motor terbaik. Berada di tim merah tentu saja memberi Anda lebih banyak motivasi untuk menjadi yang teratas,” ungkap Bagnaia.

    “Saya pikir (ini) bisa menjadi sangat bagus atau bencana! Jadi kita lihat saja tahun depan. Ini bisa menjadi bencana jika kami mulai berteriak atau kami mulai berdiskusi. Tapi, saya rasa kami berdua sangat cerdas dan dia akan beradaptasi dengan sempurna,” lanjut Bagnaia.

    Tentu bukan hal mustahil bagi Marquez jika dia ingin menjadi pebalap utama yang dipercaya mengembangkan motor Ducati Desmosedici. Sebagai pemegang enam gelar juara dunia MotoGP, Marquez masih memiliki ambisi dan egoisme yang tinggi.

    Contohnya pada pertengahan musim 2024, ketika Marquez diproyeksikan pindah ke tim satelit Ducati Pramac Racing pada 2025, Marquez dengan tegas menolaknya. Marquez pun hanya ingin membalap buat tim pabrikan Ducati Lenovo.

    Ducati pun menyerah. Awalnya mereka ingin merekrut Jorge Martin. Tapi kemudian mereka lebih memilih Marquez, meski dengan risiko besar kehilangan Martin yang pindah ke Aprilia dan Pramac Racing yang pindah ke Yamaha.

    (lua/rgr)