Tag: Marc Marquez

  • Martin Pesimis Bisa Tahan Gelar Juara Dunia, Sadar Motornya Lebih Bapuk

    Martin Pesimis Bisa Tahan Gelar Juara Dunia, Sadar Motornya Lebih Bapuk

    Jakarta

    Jorge Martin sadar betul tunggangan Aprilia kurang oke ketimbang Ducati. Dia pesimis bisa mempertahankan gelar juara dunia.

    Martin baru memenangkan kejuaraan dengan motor paling superior di atas lintasan, Ducati Desmosedici GP24. Kini dia harus berjuang dengan motor yang diwariskan oleh sahabatnya, Aleix Espargaro.

    Beberapa kali Martin harus adaptasi dengan motor asal pabrikan Noale tersebut. Ketika start misalnya, motornya sempat gecol alias tidak stabil.

    Aprilia RS-GP sejatinya punya potensi sebagai kompetitor terdekat Ducati. Buktinya Maverick Vinales bisa menyapu bersih kemenangan sprint dan main race di MotoGP Amerika 2024.

    Namun performa Aprilia yang naik turun bikin Martin cemas terkait masa depannya.

    “Tantangannya sangat besar, karena saya mengambil motor yang saya tidak tahu apakah itu telah menjadi yang kedelapan atau kesembilan, melawan motor yang telah melakukan yang pertama, kedua, ketiga dan keempat, yaitu Ducati,” jelas Martin dikutip dari Diario AS, Kamis (2/1/2025).

    Pebalap Spanyol itu sudah menguji Aprilia RS-GP spesifikasi 2024 dan 2025, menyelesaikan total 77 putaran. Dia berada di posisi ke-11 pada catatan waktu. Martin sempat mengalami kecelakaan kecil di akhir sesi.

    Martin sadar betul perannya di Aprilia sangat berbeda saat bersama Ducati. Kali ini dia bertugas untuk mengembangkan sepeda motor lebih baik lagi, bahkan mendekati level Ducati, namun hal ini bukan sesuatu yang mudah dilakukan Martin.

    Bukan hanya itu, muncul kekhawatiran si Martinator akan kesulitan menjinakkan RS-GP. Soalnya, selama berkarier di kelas premier, Jorge Martin belum pernah menunggangi motor selain Desmosedici.

    “Jika saya melanjutkan dengan Ducati, tujuannya akan sama, untuk memberikan yang terbaik. Tapi jelas, pergi untuk meraih kenangan, karena saya siap untuk itu. Sekarang, saya tidak tahu. Saya tidak tahu bagaimana motor baru itu bekerja,” ujar Martin.

    Martin menegaskan bahwa era Ducati belum akan berakhir di MotoGP musim depan. Apalagi, Bagnaia dan Marc Marquez yang akan menjadi joki Desmosedici GP25.

    “Akan ada banyak gelar juara di garasi itu, tapi siapa yang tahu. MotoGP sudah melewati era: ada era Yamaha, ada era Honda, Ducati era…Siapa yang tahu kalau tahun depan akan menjadi era lainnya. Tapi, pada saat ini saya melihat Bagnaia sebagai favorit, dengan Marc Marquez yang sangat dekat,” ujar Martin.

    (riar/rgr)

  • Tanpa Sprint Race, Bagnaia Klaim Bisa Setangguh Marquez di Era Prime

    Tanpa Sprint Race, Bagnaia Klaim Bisa Setangguh Marquez di Era Prime

    Jakarta

    Francesco Bagnaia belum sepenuhnya menerima hasil MotoGP 2024. Sebab, dia membayangkan, seandainya Sprint Race atau balapan pendek dihapus, dia yakin bisa mengulang kisah sukses Marc Marquez di era prime, yakni juara dengan selisih poin jauh!

    Disitat dari Motosan, Bagnaia meraih 11 kemenangan dari 20 balapan inti (race) musim lalu. Namun, gelar juaranya direbut Jorge Martin yang hanya mampu menang tiga kali. Sebab, di sesi Sprint Race, kemenangan The Martinator lebih banyak dari Bagnaia.

    Bagnaia kemudian membayangkan, seandainya Sprint race dihilangkan, maka dia akan menang mutlak di MotoGP 2024. Pebalap Ducati tersebut yakin mampu mengulang catatan manis prime Marquez di MotoGP 2019.

    “Jika Anda melihat balapan Minggu, terlepas soal insiden jatuh, saya selalu finis di tiga besar, kecuali di Austin, di mana saya berada di urutan kelima. Saya pikir itu merupakan musim, jika Anda menghapus Sprint Race, saya setara Marc Marquez di musim 2019,” ujar Bagnaia, dikutip Selasa (31/12).

    Marc Marquez MotoGP 2019. Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images

    Sebagai pengingat, MotoGP 2019 merupakan musim paling sempurna Marc Marquez sepanjang sejarah. Ketika itu, The Baby Alien meraih 12 kemenangan dari 19 kali balapan. Sementara sisanya, dia meraih enam podium dan jatuh sekali.

    Hasilnya, Marquez mengumpulkan 420 poin yang bersejarah. Catatan tersebut jauh mengungguli Andrea Dovizioso di peringkat kedua dengan hanya 269 poin.

    Mari kita berhitung. Bagnaia musim lalu meraih 11 kemenangan, satu podium kedua, empat podium ketiga, sekali finis kelima dan tiga kali jatuh. Maka, dengan demikian, dia sudah mengumpulkan 498 poin hanya dari balapan inti (race).

    “Menurut saya, itu tetap musim yang luar biasa. Kami butuh sedikit waktu untuk memahami motor dengan baik. Kami membutuhkan empat balapan, sampai kami tiba di Jerez (GP Spanyol) dan kami memahami potensinya. Segalanya luar biasa sejak saat itu,” kata Bagnaia.

    (sfn/din)

  • Bos Pramac Paham Kenapa Akhirnya Ducati Lebih Pilih Marquez Ketimbang Martin

    Bos Pramac Paham Kenapa Akhirnya Ducati Lebih Pilih Marquez Ketimbang Martin

    Jakarta

    Manajer Tim Pramac Racing Fonsi Nieto memahami alasan Ducati lebih memilih Marc Marquez daripada Jorge Martin di tim pabrikan. Kata Nieto, Marquez memiliki daya tarik tersendiri, sekalipun Martin memiliki talenta bagus dan berhasil menjuarai MotoGP 2024.

    “Tidak mudah bagi Ducati buat kehilangan Martin, namun dapat dimengerti bahwa mereka memilih Marc Marquez,” kata Nieto dalam wawancara dengan media Europa Press.

    Jorge Martin Foto: REUTERS/Pablo Morano

    Jika dibandingkan dengan Martin, karier Marquez tentunya lebih mentereng di MotoGP. Terjun ke MotoGP sejak 2013, Baby Alien sudah meraih 6 gelar juara MotoGP. Sedang Martin yang baru naik kelas ke MotoGP sejak 2021 bersama Pramac, baru mengoleksi satu gelar. Dengan perbandingan jumlah gelar itu, tak heran Ducati memilih Marquez.

    “Kita berbicara tentang Marc Marquez, juara dunia delapan kali (6 MotoGP, 1 Moto2, 1 Kejuaraan 125cc), dengan daya tarik yang luar biasa. Ini bisa menjadi bersejarah, Anda harus selalu mengandalkan Marc, dia adalah salah satu pebalap terbaik,” bilang Nieto.

    “Setiap kali dia menginjakkan kakinya di sebuah sirkuit di Kejuaraan Dunia, dia diperhitungkan untuk meraih gelar juara. Ini akan jadi pertarungan yang bagus antara Bagnaia dan dia, dengan Jorge juga berjuang untuk menang bersama mereka,” sambung Nieto.

    Martin yang tidak jadi direkrut tim pabrikan Ducati akhirnya memilih jalan lain dengan bergabung bersama tim pabrikan Aprilia Racing. Di tim asal Italia tersebut, Martin bakal berjuang mempertahankan gelar pada musim depan.

    Sementara itu Pramac Racing juga akan memulai perjalanannya dari nol lagi, di mana dia memilih tidak melanjutkan kerja sama dengan Ducati dan lebih memilih bekerja sama dengan Yamaha di MotoGP 2025.

    (lua/din)

  • Ini Alasan Valentino Rossi Jago Banget di Tikungan

    Ini Alasan Valentino Rossi Jago Banget di Tikungan

    Jakarta

    Pernahkah kalian bertanya-tanya, mengapa Valentino Rossi sangat tangguh di tikungan? Bahkan, ketika masih aktif membalap, sosok berjuluk The Doctor itu lebih sering melakukan overtake di belokan ketimbang jalur lurus!

    Rossi tak pernah kesulitan saat melintas di tikungan tajam yang cenderung zig-zag. Dia hampir sempurna di momen tersebut dan jarang sekali jatuh. Bukan hanya belok ke kanan, dia juga mahir saat belok ke kiri. Apa alasannya?

    Dalam wawancara eksklusif bersama BT Sport, Rossi mengatakan, dia punya kemampuan khusus bernama ambidextrous yang memungkinkan kedua tangan dan kakinya bekerja sama baik.

    “Saya punya kemampuan ambidextrous, yang berarti (selain kaki kiri) saya bisa melakukan segalanya dengan kaki kanan juga,” ujar Valentino Rossi saat bicara mengenai kemampuannya menikung di lintasan, dikutip Selasa (31/12).

    Kenapa Valentino Rossi jago di tikungan? Foto: Mohd RASFAN / AFP

    Menurut sejumlah literasi, ambidextrous merupakan kemampuan ‘khusus’ yang membuat seseorang bisa menggunakan tangan kanan dan kirinya dengan baik. Biasanya, bakat tersebut muncul secara alamiah sejak masih kanak-kanak.

    Rossi menjelaskan, kondisi tersebut membantunya lebih cepat saat menikung ke kiri dan kanan. Tangan dan kakinya secara naluriah bisa bekerja baik saat melintas di tikungan.

    “Ketika mengendarai sepeda motor, banyak rider yang hanya bagus di sebelah kiri, namun kemudian kesusahan saat menikung ke arah kanan. Di sisi lain, saya kuat di kedua arah dan dapat memasuki tikungan lebih cepat,” ungkapnya.

    Disitat dari Motosan, sejumlah pebalap mengaku kesusahan saat menikung ke sebelah kanan, seperti Marc Marquez, Johann Zarco dan Marco Bezzecchi. Padahal, dua nama terakhir merupakan pebalap kidal yang seharusnya tak kesulitan menikung ke arah tersebut.

    Valentino Rossi. Foto: Getty Images/Mirco Lazzari gp

    Selain bakat ‘khusus’, kemampuan Rossi di tikungan juga didukung karakter motor Yamaha yang memang cocok untuk situasi tersebut. Tunggangan itu memang dikenal sebagai corner-speed bike. Selain Yamaha, Suzuki juga menganut hal serupa. Berbeda dengan motor Ducati yang kencang saat berada di trek lurus.

    Corner-speed bike didesain memiliki sasis yang sudut-sudutnya memiliki fleksibilitas lateral untuk tetap terhubung saat motor menikung sekalipun derajat kemiringannya tinggi. Sehingga motor bisa melaju lebih cepat saat berada di tikungan.

    Sementara motor Ducati berjenis point and shoot. Motor tersebut dibuat lebih kaku agar saat pengereman mendalam bisa lebih stabil dan bisa bermanuver di tikungan dengan radius pendek.

    Saat belum ada aturan soal ban yang sama, pebalap yang mengendarai corner-speed bike membutuhkan rangka ban lebih kaku agar bisa terus mengegas di tikungan tanpa khawatir akan jatuh.

    (sfn/din)

  • Ducati Nyesel Rekrut Marquez Gegara Martin Juara Dunia? Ini Kata Bosnya

    Ducati Nyesel Rekrut Marquez Gegara Martin Juara Dunia? Ini Kata Bosnya

    Jakarta

    Keputusan Ducati lebih memilih Marc Marquez ketimbang Jorge Martin untuk membela tim pabrikan sempat ditentang banyak pihak. Sebab, musim lalu, The Martinator tampil lebih baik dan meraih gelar juara. Benarkah Ducati menyesali keputusan tersebut?

    Manager Umum Ducati, Gigi Dall’Igna secara tak langsung mengatakan, pihaknya tak menyesal lebih memilih Marquez ketimbang Martin sebagai pebalap tim merah musim depan. Bahkan, sebelum transfer tersebut diumumkan, dia sudah tahu Martin akan juara musim lalu.

    “Itu adalah salah satu kemungkinan. Kami ingin mempertahankan semua rider, tapi kami menemukan beberapa kendala dan pada akhirnya kami hanya bisa memilih dua,” ujar Gigi, dikutip dari Motorsport, Senin (30/12).

    “Pada saat itu, kami memilih Pecco dan Marc sebagai pebalap resmi (tim pabrikan). Namun, saat kami menentukan pilihan, kami tahu betul bahwa Martin bisa memenangkan kejuaraan dunia,” tambahnya.

    Luigi Dall’Igna General Manager of Ducati Corse Foto: SOPA Images/LightRocket via Gett/SOPA Images

    Gigi menjelaskan, Marquez musim lalu hanya mengendarai Ducati Desmosedici GP23. Motor tersebut secara spesifikasi jauh lebih rendah dibandingkan GP24 yang ditunggangi Martin dan Bagnaia.

    Namun, di tengah keterbatasan tersebut, The Baby Alien nyatanya mampu tampil impresif. Bahkan, pebalap 31 tahun itu mampu finis di posisi tiga klasemen akhir atau persis di belakang Martin dan Bagnaia.

    “Kita semua adalah manusia, termasuk para pebalap. Penting untuk memproyeksikan tingkat pertumbuhan yang bisa Anda dapatkan untuk mencoba memahami apakah satu pilihan akan lebih baik atau lebih buruk dari yang lain,” tuturnya.

    “Ini bukan pekerjaan yang mudah, tapi ini menjadi tugas kami. Terkadang kami melakukannya dengan benar dan terkadang kami bisa salah, karena kami juga manusia,” lanjutnya.

    Marc Marquez dan Jorge Martin Foto: Getty Images/Joan Cros

    Martin musim depan akan membela Aprilia. Pebalap asal Spanyol itu menggunakan nomor motor 1 yang sebelumnya dipakai Bagnaia. Gigi mengaku tak masalah Martin memakai nomor ‘keramat’ tersebut.

    “Nomor 1 hanyalah sebuah angka (di motor), yang penting adalah Martin memenangkan gelar juara saat membela Ducati,” kata Gigi.

    (sfn/rgr)

  • Bagnaia Waspadai Yamaha yang Berkembang Pesat

    Bagnaia Waspadai Yamaha yang Berkembang Pesat

    Jakarta

    Francesco Bagnaia memilih nama Fabio Quartararo sebagai salah satu pebalap yang perlu diwanti-wanti musim depan. Bukan tanpa alasan, Bagnaia melihat kemajuan pesat dari Yamaha YZR-M1.

    Yamaha tertatih-tatih selama dua musim terakhir. Pengembangan motor asal pabrikan Jepang itu tertinggal jauh dari merek-merek Eropa. Pebalap andalannya cuma bisa menyelesaikan tempat ke-10 pada 2023, dan posisi 13 pada klasemen akhir MotoGP 2024.

    Dengan status tim yang mendapat jatah hak konsesi musim 2024. Yamaha melakukan banyak upaya untuk meningkatkan M1, tujuannya supaya jarak dengan produsen Eropa, terutama Ducati makin dekat.

    Di balik layar, Yamaha sudah merekrut dua insinyur Ducati untuk mengembangkan performa YZR-M1, yakni Marco Nicotra dan Massimo Bartolini. Untuk menambah jam terbang di lintasan, Yamaha menambah eks pebalap MotoGP, Augusto Fernandez sebagai test rider mulai musim 2025.

    Hasil Yamaha sudah mulai terlihat. Quartararo juga lebih sering masuk ke sesi kualifikasi 2 di paruh kedua musim ini. Kemudian pada balapan akhir pekan, dia mampu mencapai beberapa hasil 10 besar.

    Bagusnya lagi, Yamaha musim depan akan memiliki empat pebalap karena bergabungnya Pramac sebagai tim satelit.

    Quartararo mengamini mentalitas Yamaha telah berubah di musim 2024. Pabrikan asal Jepang ini berani langsung menguji coba suku cadang baru di lintasan saat musim MotoGP berjalan. Hal yang tak dilakukan Yamaha di musim-musim sebelumnya.

    “Tentu saja saya mengharapkannya [peningkatan performa] menjadi sedikit lebih cepat, tetapi di paruh pertama musim ini, lebih dari sekadar peningkatan motor, cara kami mengubah cara kerja sangat penting untuk mengubah mentalitas,” kata Fabio Quartararo dikutip dari Crash, Minggu (29/12/2024).

    Performa yang oke dari Yamaha juga diamini Francesco Bagnaia. Dia mengawasi pabrikan garpu tala itu saat melakoni sesi tes pramusim. Kelihatannya Fabio Quartararo mulai menebar ancaman bagi Bagnaia.

    Pendapat ini dikemukakan saat ditanya bagaimana prediksi lawan terdekatnya untuk musim 2025. Sudah pasti Bagnaia menjawab Marc Marquez, Jorge Martin, dan Marco Bezzecchi.

    “Saya tidak membiarkan Fabio Quartararo, karena Yamaha telah membuat kemajuan yang sangat besar,” kata Bagnaia dikutip dari Speedweek.

    (riar/lua)

  • Hormati Ducati, Marquez Rela Kehilangan Sponsor Setianya Ini

    Hormati Ducati, Marquez Rela Kehilangan Sponsor Setianya Ini

    Jakarta

    Marc Marquez rela kehilangan sponsor setianya, Red Bull, yang sudah menjalin kerja sama selama bertahun-tahun. Marquez menghormati tim barunya saat ini, Ducati Lenovo, yang memiliki kemitraan dengan Monster Energy. Red Bull dan Monster Energy merupakan dua merek minuman berenergi yang bersaing di pasaran.

    Marquez resmi mengakhiri kerja sama dengan raksasa minuman energi asal Austria, Red Bull. Pebalap asal Spanyol itu sudah didukung Red Bull selama kurang lebih 16 tahun.

    Marc Marquez dengan sponsor minuman energi, Red Bull Foto: dok.Istimewa

    “Dari tahun 2008 hingga 2024, sebuah perjalanan luar biasa yang penuh tantangan, kemenangan, dan momen yang tak terlupakan,” ujar Marquez di akun Instagram resminya dikutip Minggu (29/12/2024).

    “Terima kasih Red Bull karena selalu ada di sisiku setiap saat dan memberiku semangat sepanjang karierku. Semoga kita bisa bertemu lagi,” tambah Marquez. Pada unggahan tersebut, Marquez juga menyematkan beberapa foto dirinya yang selalu didukung Red Bull dari kejuaraan junior hingga menjadi seorang juara MotoGP.

    Ducati Lenovo menjalin kerja sama dengan Monster Energy Foto: Getty Images/Josef Bollwein

    Keputusan berpisah dengan Red Bull memang harus diambil oleh Marquez. Soalnya, tim baru Marquez saat ini, Ducati Lenovo, memiliki kerja sama dengan saingan Red Bull di MotoGP, yakni Monster Energy.

    Meski menjadi sponsor Ducati Lenovo, bukan berarti Monster Energy juga akan menjadi sponsor pribadi Marquez. Menurut laman Crash, Marquez dikabarkan juga menghormati sejarahnya dengan Red Bull, dengan tidak membawa sponsor pribadi pada musim 2025.

    Itulah mengapa pada saat tes pascamusim beberapa waktu lalu, motor Ducati Desmosedici Marc Marquez terlihat polos dan minim tempelan stiker sponsor.

    Motor Ducati Desmosedici Marc Marquez saat tes pascamusim beberapa waktu lalu masih polosan Foto: Instagram @marcmarquez93

    (lua/riar)

  • Bagnaia Bertekad Menang Lagi, Terinspirasi Marquez saat Juara Dunia

    Bagnaia Bertekad Menang Lagi, Terinspirasi Marquez saat Juara Dunia

    Jakarta

    Kegemilangan Marc Marquez sebagai bintang MotoGP belum sirna di mata pebalap lain. Terinspirasi dari pola juara dunia The Baby Aliens, Francesco Bagnaia bertekad menambah gelar juara dunia.

    Musim ini, Bagnaia gagal hat-trick juara dunia. Dia kalah dari Jorge Martin yang tampil konsisten.

    Salah satu penyebab Bagnaia gagal gara-gara sprint race. Dia tiga kali terjatuh tanpa poin, dan sembilan kali gagal tembus tiga besar. Sebagai pembanding, Jorge Martin sembilan kali menang dan dua kali finis di luar podium, dan cuma terjatuh dua kali.

    “Saya belajar dari kesalahan yang membuat kehilangan gelar,” kata Bagnaia dikutip dari GPone, Jumat (27/12/2024).

    Pecco Bagnaia siap bangkit tahun depan. Dia teringat karier Marc Marquez, tandem barunya di tim pabrikan Ducati.

    Setelah kesuksesan di musim 2013, Marquez kembali menyabet juara pada tahun 2014 dan 2016-2019. Rider 31 tahun itu punya delapan titel kampiun, hanya berjarak satu gelar dari The Doctor.

    “Kalau kita melihat awal karier Marquez, dia memenangkan dua kejuaraan berturut-turut, sementara yang (tahun) ketiga pada 2015 dia kehilangan. Dia menang lagi pada tahun berikutnya, lalu menambah empat lagi, jadi Anda tidak akan pernah tahu,” tambah dia.

    Kendati gagal back to back juara dunia, Bagnaia diyakini masih jadi pebalap terbaik di atas lintasan.

    Bos Ducati Gigi Dall’Igna menjelaskan kemenangan Bagnaia itu belum tentu bisa diikuti pebalap lain. Bagnaia menang 11 kali grand prix pada 2024.

    “Saya pikir Pecco Bagnaia bisa menuliskan banyak sejarah di kejuaraan balap motor. Pecco kan sudah memenangi dua kejuaraan dunia, dan tidak banyak pebalap yang mencapainya,” kata dia dikutip dari Motosan.

    “Dan pada tahun ini, dia bertarung untuk titel juara ketiganya. Sekarang ini dia jadi tolok ukur pebalap di MotoGP,” ceplosnya lagi.

    (riar/rgr)

  • Bos Pramac Paham Kenapa Akhirnya Ducati Lebih Pilih Marquez Ketimbang Martin

    ‘Pak RT’ Pensiun, Duo Rookie Masuk Susunan

    Jakarta

    MotoGP 2025 bakal segera dimulai awal tahun depan dengan sesi tes pramusim. Tim-tim MotoGP 2025 sudah mendapatkan line up pebalap yang bakal mereka andalkan di tahun depan. ‘Pak RT’ Aleix Espargaro pensiun, sementara duo pebalap rookie Ai Ogura dan Somkiat Chantra akan memulai petualangan baru di kelas premier.

    Tiga pebalap MotoGP pada 2024 dipastikan tidak akan menjadi pebalap utama pada 2025. Mereka adalah Aleix Espargaro, Augusto Fernandez, dan Takaaki Nakagami. Aleix Espargaro memilih pensiun dari MotoGP dan meninggalkan tim Aprilia Racing. Pebalap Spanyol itu akan menjadi pebalap penguji di Honda pada musim 2025.

    Aleix Espargaro Foto: AP/Rui Vieira

    Sementara itu Augusto yang posisinya terdepak dari pebalap utama Red Bull Tech3 GASGAS KTM, gencar diisukan akan menjadi test rider Yamaha pada 2025. Namun berita tersebut belum dikonfirmasi oleh pabrikan berlambang garpu tala.

    Sedangkan Takaaki Nakagami yang terlempar dari LCR Honda Idemitsu juga pensiun dari MotoGP. Tapi tenaga dan pikiran Nakagami masih dibutuhkan tim satelit Honda itu. Nakagami akan menjadi test rider Honda pada 2025 bersama Espargaro.

    Beralih ke susunan pebalap MotoGP 2025. Ada beberapa pebalap yang mendapatkan tim baru, seperti Marc Marquez yang pindah ke tim pabrikan Ducati Lenovo, lalu Jorge Martin yang pindah ke tim pabrikan Aprilia Racing, juga ada dua rookie yang naik kelas dari Moto2, mereka adalah Ai Ogura (Trackhouse Aprilia) dan Somkiat Chantra (LCR Honda Idemitsu).

    Somkiat Chantra Foto: Gold and Goose

    Berikut Daftar Pebalap MotoGP 2025:

    1. Marc Marquez – Ducati Lenovo (kontrak hingga 2026)
    2. Francesco Bagnaia – Ducati Lenovo (kontrak hingga 2026)
    3. Pedro Acosta – Red Bull KTM Factory Racing (kontrak multi-tahun)
    4. Brad Binder – Red Bull KTM Factory Racing (kontrak hingga 2026)
    5. Jorge Martin – Aprilia Racing (kontrak multi-tahun)
    6. Marco Bezzecchi – Aprilia Racing (kontrak multi-tahun)
    7. Fabio Quartararo – Monster Energy Yamaha MotoGP (kontrak hingga 2026)
    8. Alex Rins – Monster Energy Yamaha MotoGP (kontrak hingga 2026)
    9. Luca Marini – Honda (kontrak hingga 2025)
    10. Joan Mir – Honda (kontrak hingga 2026)
    11. Fabio di Giannantonio – Pertamina Enduro VR46 (kontrak dengan Ducati hingga 2026)
    12. Franco Morbidelli – Pertamina Enduro VR46 (kontrak hingga 2025)
    13. Alex Marquez – Gresini Racing MotoGP (kontrak dengan Gresini hingga 2026)
    14. Fermin Aldeguer – Gresini Racing MotoGP (kontrak dengan Ducati hingga 2026 dan opsi perpanjangan dua tahun)
    15. Miguel Oliveira – Prima Pramac Racing (kontrak dengan Yamaha hingga 2026)
    16. Jack Miller – Prima Pramac Racing (kontrak dengan Yamaha hingga 2025)
    17. Johann Zarco – LCR Honda Castrol
    18. Somkiat Chantra – LCR Honda Idemitsu
    19. Raul Fernandez – Trackhouse Racing
    20. Ai Ogura – Trackhouse Racing
    21. Maverick Vinales – Red Bull KTM Tech3 (kontrak multi-tahun)
    22. Enea Bastianini – Red Bull KTM Tech3 (kontrak multi-tahun)

    (lua/lth)

  • Andai Jadi Pindah ke MotoGP, Toprak Tak Ingin Seperti Marc Marquez

    Andai Jadi Pindah ke MotoGP, Toprak Tak Ingin Seperti Marc Marquez

    Jakarta

    Pebalap BMW WSBK Toprak Razglatioglu membuka peluang naik kelas ke MotoGP setelah kontraknya berakhir di BMW pada musim 2025. Andai nantinya Toprak mempunyai kesempatan pindah ke MotoGP, Toprak ingin kontrak dari pabrikan dan motor spek pabrikan.

    Toprak Razglatioglu menjalani musim WSBK 2024 dengan fenomenal. Menggunakan motor BMW yang tak diunggulkan, Toprak berhasil mengakhiri musim di posisi pertama, sekaligus mempersembahkan gelar juara WSBK 2024 untuk pabrikan motor asal Jerman tersebut, yang mana ini merupakan gelar pertama mereka di WSBK.

    Jorge Martin bersama tim Pramac dengan dukungan motor spek pabrikan Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain

    Selain itu, Toprak juga mencatatkan rekor lain, yakni sebagai pebalap WSBK yang menjuarai kompetisi dengan dua pabrikan berbeda. Sebelum juara bersama BMW, pebalap Turki tersebut menjuarai WSBK pada musim 2021 bersama Yamaha.

    Kontrak Toprak bersama BMW akan berakhir pada musim 2025. Setelah mengukir banyak prestasi di WSBK, tentunya Toprak butuh tantangan baru dan satu-satunya tujuan adalah MotoGP. Menurut manajer Toprak, Kenan Sofuoglu, andai kesempatan itu tiba, maka ada satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu paket motor spek pabrikan.

    “Kami menginginkan paket (motor) pabrikan dan kontrak dengan pabrikan seperti yang bekerja di Pramac dengan Martin (mendapatkan kontrak dari Ducati dan motor spek pabrikan),” ungkap Kenan dikutip dari Motosan.

    Marc Marquez saat membela tim Gresini pada MotoGP 2024 Foto: Getty Images/Mirco Lazzari gp

    Kenan mengatakan, Toprak tak tertarik jika hanya direkrut oleh tim satelit tanpa dukungan dari pabrikan seperti yang terjadi dengan Marc Marquez dan Gresini saat Marquez pindah dari tim Repsol Honda.

    “Kami tidak tertarik dengan kesepakatan seperti yang dilakukan Marquez dengan Gresini. Saya mengatakan ini, karena Marc memiliki dukungan dan kekuatan yang besar di belakangnya, sementara kami di Turki, tidak memiliki sponsor dan lebih sedikit dukungan,” ungkap Kenan.

    (lua/dry)