Tag: Jorge Lorenzo

  • 10 Tahun Sepang Clash, MotoGP Rilis Video Insiden Panas Rossi vs Marquez di Malaysia

    10 Tahun Sepang Clash, MotoGP Rilis Video Insiden Panas Rossi vs Marquez di Malaysia

    Jakarta

    MotoGP merilis video ‘Sepang Clash’ yang melibatkan Valentino Rossi vs Marc Marquez pada balapan di Malaysia tahun 2015. Momen-momen panas antara keduanya pun diperlihatkan.

    Meski sudah terjadi 10 tahun lalu, insiden yang melibatkan Valentino Rossi dan Marc Marquez di MotoGP Malaysia masih terus jadi bahan perbincangan. Terbaru, MotoGP juga merilis video berdurasi 26 menit tentang insiden yang disebut ‘Sepang Clash’ tersebut. Suasana panas antara The Doctor dan Baby Aliens itu sejatinya sudah terasa sejak sesi konferensi pers sebelum balapan dimulai.

    Rossi kala itu mengungkap dia harus berbicara dengan Marquez terkait balapan di Sirkuit Phillip Island, Australia. Pihak The Doctor menyebut Marquez berusaha menghalangi laju Rossi. Ketika berada di depan Rossi, Marquez disebut sengaja melambatkan laju motornya.

    “Target dia bukan hanya memenangi balapan tapi juga membantu Lorenzo agar menjauh dan mencuri banyak poin dari saya. Jadi jelas dari Phillip Island Jorge punya suporter baru, yaitu Marc,” ungkap Rossi sembari beberapa kali mengumbar tawa.

    Dalam sesi konferensi pers yang sama, Marquez ditanya soal kecenderungannya membela Lorenzo sekaligus menghalangi laju Rossi. Namun Marquez juga membantahnya. Menurut dia, kalau dia ingin membantu Lorenzo, tak perlu menyalipnya untuk menjadi jawara di MotoGP Australia itu.

    “Jelas tidak, saya balapan untuk sendiri. Kalau saya mau membantu Lorenzo, saya tidak akan melampaui batas dan menyalipnya di lap terakhir sekaligus mengambil risiko,” beber Marquez.

    Tidak sedikit yang menganggap pernyataan Rossi itu hanya gurauan semata. Namun Nick Harris, komentator MotoGP 2015 menyebut itu semua bukan candaan. Rossi mulai menabuh genderang perang ke Marquez.

    Balapan di Sepang pun masuk sesi kualifikasi. Rossi berhasil meraih baris terdepan dengan menghuni posisi ketiga. Dani Pedrosa justru menjadi yang tercepat dengan meraih pole position sementara Marquez di posisi kedua. Pada sesi konferensi pers setelah kualifikasi, Rossi mengungkap dia berharap para pebalap bisa membalap untuk dirinya sendiri dan meraih hasil terbaik. Marquez menyebut dirinya akan berusaha semaksimal mungkin meski dia menanggap Pedrosa, Rossi, dan Lorenzo punya kans yang sama besar.

    Balapan pun dimulai. Persaingan sengit antara Rossi dan Marquez beberapa kali terjadi. Beberapa tikungan di Sirkuit Sepang pun menjadi saksi keduanya saling salip-menyalip. Hingga akhirnya pada lap 7 masuk ke tikungan 13, Rossi mendekat ke motor Marquez dan tak lama The Baby Aliens terjatuh.

    Suasana di paddock pun makin panas usai insiden itu. Semua orang membicarakan Rossi vs Marquez. Race director segera mengumpulkan bukti-bukti dari berbagai angle kamera terkait insiden Marquez dan Rossi setelahnya untuk menentukan hukuman yang tepat.

    Rossi usai balapan mengungkap dirinya sempat kehilangan konsentrasi dan tidak bisa membalap dengan baik. Dia hanya ingin menghajar Marquez katanya. Sebelum podium, Dani Pedrosa sempat bertanya ke Rossi tentang insiden dengan Marquez.

    “Dia itu bajingan. Dia berusaha untuk membuat saya lebar saat sedang mengerem, kemudian dia berhenti di pertengahan tikungan. Ya seperti di Phillip Island,” beber Rossi.

    Usai balapan rampung, Marquez dan Rossi dipertemukan oleh Race Director. Masing-masing punya pendapatnya tersendiri.

    “Balapan yang bagus kan,” tanya Rossi ke Marquez.

    “Tendangan yang bagus,” sahut Marquez.

    Mike Webb yang kala itu menjabat sebagai Race Director mengungkap bahwa Rossi menyebut tak ada yang perlu dibahas. Dia melebar dan Marquez ada di situ dan terjadi kontak antara keduanya.

    “Marquez bilang saya tidak bisa membalap dengan kecepatan yang saya inginkan. Mustahil saya bisa melesat lebih jauh,” kata Mike.

    Pada musim itu, MotoGP masih memberlakukan sistem penalti poin. Rossi pada 2015 telah mengantongi satu poin penalti. Kemudian dia diganjar tiga poin penalti maka total jadi empat poin. Alhasil dia harus memulai balapan dari paling belakang di seri berikutnya.

    “Kalau saya start paling akhir, ini semua berakhir. Mereka memberi tiga poin jadi kami start terakhir di Valencia,” ujar Rossi.

    Pada akhirnya, Rossi gagal merebut gelar juara dunianya yang kesepuluh. Rossi yang memulai balapan dari posisi buncit, finis di tempat keempat terpaut 19 detik dari Jorge Lorenzo di posisi pertama. Sedangkan Marquez menghuni posisi kedua. Gelar juara dunia 2015 pun direbut Lorenzo.

    Sepang Clash sudah menjadi bagian dari sejarah MotoGP. Mungkin 10, 20, hingga puluhan tahun ke depan, insiden ini akan terus diingat di benak para pencinta MotoGP, khususnya penggemar Rossi dan Marquez. Terlebih hubungan antara Rossi dan Marquez masih sangat dingin meski sudah 10 tahun berlalu. Dalam beberapa pertemuan, keduanya terlihat tak saling menyapa.

    (dry/din)

  • Cerita Juara MotoGP Mandalika Belum Punya SIM, Pernah Bawa Motor di Bali

    Cerita Juara MotoGP Mandalika Belum Punya SIM, Pernah Bawa Motor di Bali

    Jakarta

    Fermin Aldeguer, pebalap rookie yang sukses menaklukkan Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat ternyata belum punya Surat Izin Mengemudi (SIM).

    Fermin mengungkapkan sendiri disela-sela kunjungannya ke Jakarta belum lama ini.

    “Saya tidak mempunyai SIM,” ujar Fermin di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

    Meski belum punya SIM untuk berkendara di jalan raya. Rider berusia 20 tahun itu sudah dekat dengan dunia sepeda motor sejak usia balita. Laman resmi MotoGP menyebut Fermin suka menunggangi motor mini yang ia sebut ‘la Bicha’ pada usia dua tahun.

    Sebagai seorang pebalap motor, tentunya mengendarai kendaraan roda dua kemampuan paling dasar sekalipun belum punya SIM. Apalagi Fermin sudah dekat dengan sepeda motor sejak usia dini.

    Dia menceritakan pengalamannya mengendarai motor saat di Bali. Kala itu, dia tengah menikmati liburan bersama Jorge Martin. Meski begitu dia mengatakan dalam waktu dekat untuk membuat SIM di Spanyol.

    “Satu-satunya motor jalanan yang saya pakai adalah skuter saat di Bali. Saya menikmatinya. Saya akan segera melakukan tes untuk mendapatkan SIM,” kata dia.

    Fermin bukan satu-satunya pebalap MotoGP yang belum punya SIM. Pebalap lainnya ada Fabio Quartararo dan Jack Miller.

    Eks pebalap MotoGP, Jorge Lorenzo juga pernah mengaku baru mendapatkan SIM motornya pada usia 23 tahun, lama setelah ia memulai karirnya di MotoGP. Ia bahkan mengaku lebih dulu punya SIM mobil daripada SIM motor.

    Sementara Marc Marquez, pernah menjadi perbincangan karena belum memiliki SIM motor. Ia dilaporkan baru lulus ujian SIM motor pada tahun 2019.

    (riar/dry)

  • Vinales Nyesel Pernah Tolak Ducati

    Vinales Nyesel Pernah Tolak Ducati

    Jakarta

    Maverick Vinales belum pernah melupakan penyesalan terbesar dalam kariernya, yakni menolak kontrak Ducati. Vinales pernah dihubungi Ducati untuk menggantikan Jorge Lorenzo pada musim 2019.

    “Saya salah karena tidak menandatangani kontrak dengan Ducati. Saya sangat dekat dengan Ducati, terutama pada 2019-2020. Saya sangat menghormati Davide Tardozzi, jadi itu pasti keputusan yang tepat saat itu,” kata Vinales dikutip dari Motosan, Minggu (21/9/2025).

    “Tetapi saya tidak dapat meramalkan masa depan.Saya tidak mengerti bahwa Ducati bisa menjadi seperti sekarang. Meskipun motornya sudah mulai berjalan dengan sangat baik pada tahun 2017, saya tidak dapat memprediksinya, jadi itu adalah kesalahan saya,” jelas Vinales.

    Kala itu ragam pabrikan MotoGP sedang kompetitif. Honda yang digawangi Marc Marquez berada di puncak performa. Vinales berakhir di posisi tiga klasemen akhir MotoGP 2019. Dovizioso menjadi runner up.

    Wajar saja Vinales memilih Yamaha. Selain masih kompetitif, dia juga digaji besar. Hal ini diungkap saat dirinya meninggalkan pabrikan Iwata menuju Aprilia.

    “Saya kehilangan 17 juta euro, mungkin lebih banyak lagi dengan bonus,” ujar Vinales.

    Kesulitan Maverick Vinales di Yamaha pada paruh pertama musim 2021 berujung pada kesepakatan pemutusan kontrak. Vinales kemudian memperkuat Aprilia selama tiga setengah musim, sebelum berlabuh di Tech3 pada musim ini.

    Vinales cukup kompetitif di Yamaha. Dia memenangi total delapan balapan, dan dua kali finis ketiga di kejuaraan dunia MotoGP 2017 dan 2019.

    (riar/riar)

  • Lutut Rossi Gerak, Marquez Jatuh

    Lutut Rossi Gerak, Marquez Jatuh

    Jakarta

    Jorge Lorenzo dibikin kaget dengan insiden di Sepang tahun 2015 yang melibatkan Valentino Rossi dan Marc Marquez. Menurutnya lutut Rossi bergerak dan tak lama berselang Marquez terjatuh.

    Nyaris 10 tahun berselang, insiden di MotoGP Sepang tahun 2015 masih menjadi topik pembicaraan di kalangan penggemar balap motor kelas premier tersebut. Sekadar mengingatkan, insiden itu melibatkan dua rider papan atas Valentino Rossi dan Marc Marquez. Kala itu, Rossi dan Marquez terlibat dalam pertarungan sengit. Hingga di sebuah tikungan, Rossi terlihat mendekat ke Marquez dan tak lama berselang Marquez terjatuh. Rossi disebut menendang Marquez hingga tersungkur.

    Insiden itu membuat penggemar MotoGP terbelah. Ada yang membela Marquez namun tak sedikit juga yang memberikan pembelaan ke The Doctor. Jorge Lorenzo yang saat itu ada di Sepang, menceritakan apa yang terjadi antara Rossi dan Marquez.

    Dalam sebuah video, Lorenzo menceritakan bahwa seri Sepang 2015 adalah balapan paling melelahkan yang pernah dia jalani. Dia berusaha untuk menghindari Rossi dan Marquez di lintasan tapi itu tak mudah.

    “Saya tidak melihat apapun soal Marc dan Rossi di layar. Begitu sampai di paddock, mereka menjelaskan kepada saya apa yang terjadi, bahwa Rossi menendang Marc dan dia terjatuh, mereka juga sedang menyelidiki insiden tersebut,” aku Lorenzo dikutip Motosan.

    Lorenzo kemudian akhirnya bisa melihat video insiden keduanya. Pada saat kejadian, kaki Rossi terlihat bergerak dan seketika Marquez terjatuh.

    “Itu bikin saya kaget, karena Anda tak terbiasa melihat dua pebalap, yang satu berusaha mendorong keluar lintasan dengan sangat jelas. Lututnya bergerak dan Marc terjatuh,” ujarnya.

    “Saya tidak ingat meninggalkan podium lebih awal. Saya bertindak seperti pemain sepak bola, yang memberikan banyak gestur untuk mempertahankan posisinya. Saya kesal karena Rossi tidak dikenai sanksi, bendera hitam tidak dikibarkan, karena itu merugikan saya. Saya seharusnya bisa memimpin,” sambungnya lagi.

    Menurut Lorenzo, insiden di Sepang itu murni kesalahan ‘The Doctor’. Sebab, dengan sangat jelas, aksi Rossi itu membuat Marquez terjatuh.

    “Marquez berusaha keras, tapi aksi Valentino di tikungan itu jelas, dia tidak hanya mencoba menyalip, tapi mendorongnya keluar lintasan,” pungkas Lorenzo.

    Atas kejadian itu, steward memutuskan Rossi bersalah. Rossi diganjar sanksi dan harus memulai balapan dari posisi terakhir dalam balapan pamungkas di MotoGP Valencia. Dia akhirnya finis di posisi keempat di bawah Jorge Lorenzo, Marc Marquez, dan Dani Pedrosa.

    (dry/din)

  • Rossi Dorong Marquez Keluar Lintasan

    Rossi Dorong Marquez Keluar Lintasan

    Jakarta

    Jorge Lorenzo menyinggung insiden Sepang Clash 2015 yang melibatkan Rossi dan Marquez. Menurutnya itu murni kesalahan Rossi.

    Jorge Lorenzo belum lama ini ikut tampil dalam video ‘Decod3d:Valentino Rossi’ yang ditayangkan DAZN. Pada kesempatan itu, Lorenzo menceritakan berbagai hal, termasuk soal Valentino Rossi. Salah satu topik yang dibahas adalah pandangan Lorenzo soal Rossi sebagai rivalnya. Tak cuma itu, Lorenzo juga menyinggung soal rivalitas Rossi dengan beberapa rider lain termasuk Marc Marquez.

    “Dia lebih fokus pada balapan dan kecepatan ketimbang posisi pole. Faktanya, dia lebih banyak menang daripada meraih posisi pole. Lebih mudah mengalahkannya dalam satu lap. Dia adalah pebalap yang sangat lengkap, dia benar-benar memiliki sedikit kelemahan. Mungkin dia tidak seberbakat atau seagresif Stoner atau Marquez, tapi dia bagus di semua aspek,” ujar Lorenzo dilansir Motosan.

    Menurut Lorenzo, Rossi juga punya banyak hal positif lainnya. Lorenzo memang cukup mengenal Rossi. Keduanya sempat berbagi garasi saat sama-sama membela Yamaha. Pun setelah keduanya pensiun, baik Lorenzo dan Rossi masih berhubungan baik.

    “Bagi saya Valentino adalah orang yang sangat cerdas, dia sangat pintar, dia memiliki kemampuan untuk memahami hal-hal dan merespons dengan cepat, dia juga seperti itu di lintasan,” bebernya.

    Jika ada satu hal yang menggambarkan Rossi, Lorenzo menyebut adalah sorotan media sepanjang karirnya. Selama 26 musim berkompetisi di MotoGP, Rossi tak pernah absen jadi sorotan di media.

    “Sangat sulit untuk bertarung dengan dia. Valentino lebih sering menang duel melawan saya daripada Marquez,” lanjut Lorenzo.

    Lorenzo juga ikut menyinggung soal insiden Sepang Clash 2015 yang melibatkan Rossi dan juga Marquez. Bagi Lorenzo, itu merupakan balapan terberat yang pernah dia jalani. Dia juga menyebut insiden itu murni kesalahan Rossi karena berusaha menendang Marquez keluar lintasan.

    “Itu mengejutkan saya karena Anda tidak terbiasa melihat dua pebalap, di mana salah satu mendorong yang lain keluar lintasan. Lututnya bergerak dan Marc terjatuh,” ujarnya.

    “Marquez berusaha keras, tapi tindakan Valentino di tikungan itu jelas, dia tidak hanya mencoba menyalipnya, tapi mendorongnya keluar dari lintasan,” pungkas Lorenzo.

    (dry/din)

  • Loris Capirossi Yakin Marquez dan Rossi Bakal Damai

    Loris Capirossi Yakin Marquez dan Rossi Bakal Damai

    Jakarta

    Sudah 10 tahunan hubungan Marc Marquez dan Valentino Rossi retak. Saling sapa pun tidak. Namun, kedua rider MotoGP itu diyakini akan berdamai.

    Legenda MotoGP Loris Capirossi yakin perseteruan sengit antara Rossi dan Marquez pada akhirnya akan mereda. Hal itu sama seperti hubungan Capirossi dengan Tetsuya Harada lebih akrab sekarang.

    Diberitakan Crash, pada Moto2 musim 1998, Capirossi, Harada dan Rossi membalap untuk Aprilia. Capirossi memimpin dengan selisih empat poin memasuki putaran terakhir musim itu di Argentina.

    Di balapan itu, Capirossi memulai balapan di depan. Tapi dia melakukan kesalahan yang membuatnya turun ke posisi tiga di belakang Rossi dan Harada.

    Menjelang tikungan terakhir, Harada membiarkan pintu terbuka untuk Capirossi. Namun, Capirossi tidak dapat melakukan gerakan yang bersih dan langsung menabrak rivalnya. Benturan tersebut membuat Harada tersungkur ke tanah, sementara Capirossi berhasil tetap di atas motor dan finis kedua di belakang Rossi untuk meraih gelar pertamanya.

    FIM awalnya mencabut poin yang ia raih di Argentina, tetapi hal itu tidak mempengaruhi urutan kejuaraan akhir dan Capirossi bahkan berhasil membatalkan putusan tersebut di pengadilan.

    Aprilia pun tidak senang dengan tindakannya dan memutuskan kontraknya tahun 1999. Namun, Capirossi membalikkan keadaan lagi dengan mengambil tindakan hukum, mengamankan ganti rugi sebesar €2 juta.

    Mengenang insiden tersebut, pria berusia 52 tahun itu mengatakan, meski kecelakaan itu telah merenggangkan hubungannya dengan Harada, ia kini menganggap pebalap Jepang itu sebagai sahabatnya.

    “Tentu saja begitu saya naik ke atas jok (motor), saya langsung berfoto dan mengirimkannya kepada Tetsuya,” ujarnya kepada MOW.

    “Hari ini kami berteman baik. Ada persaingan yang kuat dan kisahnya sudah diketahui banyak orang, tetapi waktu selalu mengembalikan semuanya ke tempatnya ketika Anda berhenti balapan dan Anda bukan lagi lawan, melainkan mantan rekan,” sebutnya.

    Atas pengalamannya itu, Capirossi yakin Marquez dan Rossi pada akhirnya akan meninggalkan rivalitas mereka. Ia juga menyoroti hubungan Rossi yang membaik dengan mantan rivalnya yang lain setelah mereka pensiun. Contohnya, Rossi baru-baru ini menyapa dan berpelukan dengan mantan rivalnya, Casey Stoner, di Austria. Rossi juga kini lebih akrab dengan Jorge Lorenzo.

    “Saya pikir mereka (Rossi dan Marquez) juga akan menghentikannya (perseteruan) seiring waktu. Cepat atau lambat mereka harus berhenti, atau setidaknya saya harap begitu,” ujar Capirossi.

    “Lihatlah Casey Stoner atau Jorge Lorenzo. Valentino juga telah mengundang mereka ke Ranch (kandang Rossi) dan sekarang semuanya telah berlalu. Ada rasa hormat, ada persahabatan, dan ada kenangan yang membanggakan tentang masa lalu.”

    “Begitu pula dengan Max Biaggi, kini keduanya bercanda tentang rivalitas mereka dalam berbagai wawancara yang mereka berikan. Waktu selalu membuat segalanya benar ketika kita tidak lagi membalap, dan saya pikir, bahkan saya berharap demikian, hal yang sama akan terjadi antara Vale dan Marc,” harap Capirossi.

    (rgr/dry)

  • Belum Pernah Menang, Ini Sirkuit yang Masih ‘Angker’ buat Marc Marquez

    Belum Pernah Menang, Ini Sirkuit yang Masih ‘Angker’ buat Marc Marquez

    Jakarta

    Marc Marquez berhasil mencoret Sirkuit Red Bull Ring, Austria, dari daftar lintasan yang belum pernah juara. Tinggal tiga sirkuit lagi yang belum pernah dimenangkan Marquez.

    Kemenangan sempurna Marc Marquez pada akhir pekan lalu membuat catatan emasnya makin lengkap. Austria biasanya menjadi trek yang selalu menyulitkan Marquez sejak masih di Honda.

    Marc Marquez berulang kali gagal menang di sana, termasuk duel epik melawan Andrea Dovizioso pada 2017 dan 2019, serta Jorge Lorenzo pada 2018.

    Marc sendiri mengaku lega bisa meraih kemenangan di sirkuit yang sudah lama ia impikan.

    “Saya sangat senang dengan akhir pekan ini. Hari Kamis lalu saya bilang, tidak ada alasan, karena sekarang saya mengendarai motor merah yang membuat saya kalah di tikungan terakhir tiga kali berturut-turut. Itu adalah sirkuit yang sangat saya nanti-nantikan,” ujar Marc Marquez dikutip dari Mundo Deportivo, Rabu (20/8/2025).

    Marquez kini hanya memiliki dua sirkuit tersisa di mana ia belum pernah menang: Mandalika (Indonesia) dan Portimao (Portugal).

    MotoGP Mandalika selalu menghadirkan deretan kesialan buat Marquez. Pada musim perdana dihelat, Marquez mengalami crash di tengah kualifikasi, sampai pebalap Spanyol itu mengalami gangguan penglihatan. Pun tahun berikutnya, Marquez mengalami kecelakaan dan gagal finis. Musim lalu, saat menunggangi Desmosedici GP23, motornya mengalami gangguan teknis. Apakah tahun ini Marc Marquez bisa memutus rentetan nasib apes tersebut? Menarik untuk dilihat aksinya pada 3-5 Oktober 2025.

    Kemudian MotoGP Portugal. Sejak pertama kali MotoGP menggelar balapan di Algarve International Circuit, Portimão, Marquez belum pernah mencatat kemenangan. Bahkan podium pun belum pernah dia rasakan di sana. Sirkuit dengan karakter naik-turun bak roller coaster itu belum memihak Marquez. Tahun lalu saja, Marquez finis di urutan 16, alias di luar zona poin. Musim ini, MotoGP Portugal akan digelar pada 7-9 November 2025.

    Perlu dicatat bahwa ada sirkuit lain di kalender musin ini. Baik Marc Marquez maupun siapa pun, belum pernah menang. Akhir pekan ini, Balaton Park akan memulai debutnya sebagai tuan rumah seri GP Hungaria.

    (riar/rgr)

  • Marc Marquez Seharusnya Minta Maaf ke Valentino Rossi!

    Marc Marquez Seharusnya Minta Maaf ke Valentino Rossi!

    Jakarta

    Legenda MotoGP yang besar di periode 1990-an, Loris Reggiani berpendapat, Marc Marquez seharusnya minta maaf ke Valentino Rossi soal insiden 10 tahun lalu. Menurutnya, permintaan maaf The Baby Alien bisa membuat hubungan keduanya membaik.

    Rivalitas Rossi-Marquez memang dimulai dari rentetan kejadian di musim 2015. Keduanya mulai berjarak setelah balapan di Argentina, kemudian makin memburuk setelah perlombaan di Malaysia. Menariknya, Reggiani menyimpulkan, Marquez merupakan pihak yang bersalah.

    “Saya percaya (jika) Marc dicemooh, seharusnya dia meminta maaf, bahkan meski sudah 10 tahun berlalu. Itu akan menjadi permintaan maaf untuk dunia balap motor dan para penggemarnya,” ujar Reggiani, dikutip dari Crash, Rabu (20/8).

    Marc Marquez dan Valentino Rossi. Foto: Jorge Guerero/AFP

    Reggiani percaya, Marquez telah mencuri mahkota yang seharusnya menjadi milik Rossi. Menurutnya, pebalap asal Spanyol tersebut sengaja ‘main kotor’ demi memuluskan langkah rekan senegaranya, Jorge Lorenzo meraih gelar juara.

    “Dia (Rossi) memimpin dari balapan pertama hingga balapan sebelum terakhir. Lorenzo memang lebih banyak menang, tapi Rossi lebih konsisten. Dan Jorge sedikit ikut dalam permainan ini, dia mengatakannya bahkan setelah Valencia,” tuturnya.

    “Kalau tiga balapan terakhir itu tidak terjadi, atau jika berjalan sebagaimana mestinya, saya yakin Rossi akan memenangkan gelar pada usia 36 tahun,” tambahnya.

    Marquez dan Rossi. Foto: Getty Images/Mirco Lazzari gp

    Reggiani mengklaim, dia pernah menjadi penggemar berat Marquez di MotoGP. Bahkan, perasaan itu masih ada hingga sekarang. Hanya saja, kata dia, pebalap 32 tahun itu sudah melakukan kesalahan yang membuat citranya berubah.

    “Tadinya saya juga penggemarnya. Bahkan, saya lebih suka dia dibandingkan Valentino. Saya benar-benar kagum dengan anak muda ini yang datang ke MotoGP dan langsung menaruh semua orang di tempatnya dengan bakat luar biasa,” ungkapnya.

    “Dan perasaan itu tetap ada, mustahil untuk tidak mengakuinya, tapi Marquez sebagai pribadi sudah kehilangan banyak hal,” kata dia menambahkan.

    (sfn/rgr)

  • Marquez Belum Pernah Menang di Red Bull Ring, Bisa Pecah Telur?

    Marquez Belum Pernah Menang di Red Bull Ring, Bisa Pecah Telur?

    Jakarta

    Sejak bergabung dengan tim pabrikan Ducati, Marc Marquez sangat mendominasi. Di sisi lain, adalah fakta bahwa Marquez belum pernah menang di sirkuit Red Bull Ring, Austria. Akankah rekor baru terpecahkan?

    Pemimpin klasemen sementara MotoGP itu ingin melanjutkan kesuksesannya setelah jeda musim panas. Dari 24 balapan (termasuk sprint race), Marquez sudah menang 19 kali. Dia juga tidak terkalahkan dalam lima balapan terakhir.

    Namun, Marquez selama ini belum pernah menang di Red Bull Ring. Hasil terbaiknya adalah tiga kali finis kedua, pada 2017 dan 2019 di belakang Andrea Dovizioso serta pada 2018 di belakang Jorge Lorenzo. Akankah kemenangan pertama Marquez di Austria diraih akhir pekan ini?

    “Seribu orang sudah menanyakan hal itu kepada saya,” kata Marquez tertawa, seperti dikutip Speedweek.

    “Tentu saja kami akan mencoba. Namun, pada akhirnya, ini tentang kembali ke kejuaraan seperti yang saya alami baru-baru ini. Saya kalah tiga atau empat kali dari motor (Ducati) merah, dan sekarang saya berada di atas motor (Ducati) merah. Mari kita lihat apakah saya bisa melakukannya dengan cara itu, tetapi itu bukan prioritas,” sebut Marquez.

    “Jika Anda memasuki paruh kedua musim dengan keunggulan 120 poin, maka Anda satu-satunya yang bisa kehilangan kejuaraan. Saya harus mengendalikan diri di beberapa balapan. Saya tidak bisa menjadi yang tercepat di setiap sesi dan setiap balapan. Tetapi itu tidak akan mengubah fakta bahwa saya akan berusaha memberikan yang terbaik di akhir pekan,” katanya.

    Marquez menggambarkan sirkuit Red Bull Ring sebagai trek balap yang bagus. Dulu, balapan di Red Bull Ring selalu menyajikan duel-duel sengit.

    “Itu karena suspensi yang dapat disesuaikan ketinggiannya dan aerodinamika yang jauh lebih baik. Itu berdampak besar ketika Anda mengikuti seseorang, karena Anda tidak dapat memilih titik pengereman normal, dan fase roll di ujung tikungan juga berubah. Kita lihat saja nanti, tetapi saya tidak bisa membayangkan kita akan melihat pertarungan seperti yang biasa kita lihat di balapan di sini,” ujar Marquez.

    (rgr/dry)

  • MotoGP Austria 2025, Peluang Marquez Akhiri Kutukan

    MotoGP Austria 2025, Peluang Marquez Akhiri Kutukan

    JAKARTA – Balapan MotoGP 2025 akan berlanjut akhir pekan ini di Austria. Ini kesempatan emas buat Marc Marquez untuk mengakhiri kutukan tidak pernah menang di sana.

    MotoGP Austria akan berlangsung pada 15-17 Agustus 2025 di atas lintasan Sirkuit Red Bull Ring. Ini adalah balapan seri ke-13 dalam kalender musim 2025.

    Marquez saat ini memimpin klasemen dengan koleksi 381 poin. Dia unggul sebanyak 120 dari adiknya Alex Marquez di tempat kedua dan 168 poin dari Francesco Bagnaia di posisi ketiga.

    Pebalap asal Spanyol dan juara dunia MotoGP enam kali itu tercatat sudah mengamankan delapan kemenangan Grand Prix dan 11 kemenangan Sprint Race dari 12 seri yang sudah berlangsung.

    Meski demikian, Marquez tercatat belum pernah menang balapan di Red Bull Ring sejak sirkuit tersebut kembali menghelat balapan motor paling bergengsi ini pada 2016.

    Red Bull Ring adalah salah satu dari empat sirkuit dalam kalender balapan saat ini yang belum pernah ditaklukkan oleh Marquez dalam perjalanan kariernya di ajang Grand Prix.

    Marquez hampir saja finis di urutan pertama pada edisi 2017, 2018, dan 2019 setelah bertarung melawan mantan pebalap Ducati, Andrea Dovizioso dan Jorge Lorenzo. Namun, ia berakhir di tempat kedua.

    Usaha pebalap berjuluk The Baby Alien untuk mengakhiri kutukan di Red Bull Ring tentu tidak akan berjalan mudah. Pasalnya, rekan setimnya Francesco Bagnaia menang dalam tiga edisi terakhir.

    Bagnaia belum dalam performa terbaik pada musim ini bersama motor Ducati GP25, terutama masalah pengereman. Namun, juara dunia dua kali tersebut bisa saja memendam mimpi rekannya.