Tag: Johnson

  • Soal Transmisi Manual di Mobil Performa, Hyundai: Itu Sudah Lewat Zamannya

    Soal Transmisi Manual di Mobil Performa, Hyundai: Itu Sudah Lewat Zamannya

    JAKARTA – Mobil dalam segmen performa tinggi haruslah memiliki karakteristik menyenangkan untuk dikendarai sehingga para pengemudi mampu merasakan sensasi berbeda yang membuatnya menyatu bersama kendaraannya.

    Salah satu hal yang dirindukan pada mobil performa tinggi saat ini adalah kehadiran kembali transmisi manual, di mana para pengemudi memiliki kuasa dalam memindahkan gigi ketika mengendarai kendaraannya secara tradisional.

    Meskipun demikian, Managing Director Hyundai Motor Europe Technical Centre, Tyrone Johnson mengatakan bahwa anggapan tersebut tidaklah tepat. Ia berpendapat bahwa saat ini pengemudi tidaklah merindukan hal berbau konvensional seperti tuas transmisi manual, rem parkir konvensional, hingga instrumen analog.

    “Tidak ada yang menginginkan transmisi manual dan rem tangan lagi, atau instrumen analog seperti pada masa lampau,” kata Johnson dikutip dari Car Magazine, Rabu, 9 Juli.

    Ia juga menambahkan bahwa dunia mobil sport saat ini tidak dalam sekarat dan menunjukkan transisi era baru kendaraan listrik (EV) dengan performa lebih baik dibandingkan mesin pembakaran internal (ICE).

    “Saya tidak mengerti gagasan bahwa mobil performa sedang sekarat. Jika kalian ingin melaju kencang, tidak ada yang lebih baik dari EV,” tambah Johnson.

    Meskipun demikian, Johnson masih bisa memahami mengapa banyak orang merindukan mobil sport yang memiliki suara dengan sensasi berbeda. Oleh karenanya, pihak Hyundai memasukkan suara imitasi dalam Ioniq 5 N.

    “Saya bisa mengerti bahwa beberapa orang ingin memiliki mobil dengan suara, getaran, dan hal-hal seperti itu. Masukan sensorik tersebut membantu otak manusia memahami apa yang terjadi di dalam mobil,” jelasnya.

    Saat ini, Hyundai menunjukkan komitmennya dalam transisi menuju elektrifikasi dengan menghadirkan Ioniq 5 N yang memulai debut globalnya sejak 2023 lalu. Mobil ini disebut merupakan revolusioner bagi dunia EV performa tinggi.

    Ioniq 5 N ditenagai oleh motor listrik ganda yang menghasilkan tenaga sebesar 600 hp dan torsi sebesar 748 Nm. Dengan fitur N Grin Boost, angka tersebut dapat meningkat menjadi 641 hp dan torsi 770 Nm.

    Dengan daya tersebut, Ioniq 5 N mampu mencapai kecepatan 0 hingga 100 km/jam dalam waktu sekitar 3,5 detik, dengan kecepatan maksimal mencapai 260 km/jam.

    Dalam waktu dekat, pabrikan berlogo ‘H’ miring ini akan memperluas jajaran mobil subdivisi Hyundai N dengan meluncurkan Ioniq 6 N yang berlangsung pada gelaran Goodwood Festival of Speed 2025 dalam waktu dekat.

  • 4 Fakta UU Baru di AS Dikritik Habis-habisan, tapi Trump Cuek Aja

    4 Fakta UU Baru di AS Dikritik Habis-habisan, tapi Trump Cuek Aja

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani undang-undang (UU) pemangkasan pajak dan anggaran yang diberi nama One Big Beautiful Bill Act. Paket kebijakan yang dianggap kontroversial itu tetap disetujui meskipun menuai kritik keras.

    Beberapa kalangan khawatir UU ini justru akan membebani keuangan Negeri Paman Sam. Namun, Trump mengklaim undang-undang terbaru yang dinantikan oleh banyak pihak.

    “Saya belum pernah melihat rakyat kita sebahagia ini. Banyak kelompok masyarakat yang merasa diperhatikan, dari kalangan militer, masyarakat sipil, hingga berbagai jenis pekerjaan,” ujar Trump saat upacara, dilansir dari Reuters, Sabtu (5/7/2025).sebahagia ini. Banyak kelompok masyarakat merasa diperhatikan, dari kalangan militer, masyarakat sipil, hingga berbagai jenis pekerjaan,” ujar Trump saat upacara, dilansir dari Reuters, Sabtu (5/7/2025).

    Berikut 4 fakta undang-undang baru buat warga AS itu:1. Diteken 4 Juli Disertai Perayaan Besar

    Penandatanganan undang-undang tersebut dilakukan Trump pada Jumat, (4/7/2025) atau bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan AS, 4 Juli. Acara penandatanganan diadakan di luar ruangan dan bernuansa seperti kampanye politik Trump.

    Para pendukung Trump hadir di sana serta menampilkan juga pertunjukan jet militer di langit. Rancangan undang-undang tersebut disahkan hanya sehari sebelumnya oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang menguasai Partai Republik, dengan perolehan suara tipis 218-214, setelah kejadian sengit di ruang sidang.

    Trump juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua DPR Mike Johnson dan Pemimpin Mayoritas Senat John Thune yang memuluskan proses pengesahan di parlemen.Thune yang memuluskan proses pengesahan di parlemen.

    2. Isi Singkat

    Aturan ini akan memasukkan kebijakan keras Trump soal imigrasi, menjadikan pemotongan pajak tahun 2017 bersifat permanen, serta diperkirakan akan menyebabkan jutaan warga Amerika kehilangan asuransi kesehatan.

    Isi akhir RUU itu menetapkan pemotongan pajak 2017 menjadi permanen serta menambahkan berbagai insentif lainnya. Regulasi ini juga memberikan insentif pajak untuk penghasilan tip, gaji lembur, dan pinjaman mobil.

    Di sisi lain, pemotongan besar diberlakukan terhadap program sosial seperti Medicaid dan bantuan pangan, penghapusan insentif energi bersih, serta mengubah sistem pinjaman mahasiswa federal.

    Analisis dari Yale Budget Lab menyebutkan kebijakan ini bisa menguntungkan mereka yang memiliki tingkat kepuasan tinggi, tetapi justru menyulitkan warga berpendapat rendah yang bergantung pada Medicaid dan SNAP.

    Salah satu contoh kebijakannya adalah terkait ambang nilai yang tidak dikenakan pajak terkait warisan dan hadiah. Dalam aturan terbaru terakumulasi dari sebelumnya US$ 13,99 juta menjadi US$ 15 juta (lajang), serta dari US$ 27,98 juta menjadi US$ 30 juta (yang sudah berpasangan).kebijakannya adalah terkait ambang nilai yang tidak dikenakan pajak terkait warisan dan hadiah. Dalam aturan terbaru nilainya dinaikkan dari sebelumnya US$ 13,99 juta menjadi US$ 15 juta (lajang), serta dari US$ 27,98 juta menjadi US$ 30 juta (yang sudah berpasangan).

    Kemudian, ada potongan pajak sebesar US$ 6.000 bagi lansia berusia 65 tahun, berlaku tahun 2025-2028. Dengan catatan, kebijakan ini berlaku bagi tempat bermalam tak lebih dari US$ 75 ribu (pribadi) dan US$ 150 ribu (berpasangan).

    Lalu program asuransi kesehatan federal yang mencakup lebih dari 71 juta orang mengalami pemotongan anggaran. Berdasarkan estimasi dari Congressional Budget Office (CBO), undang-undang baru ini akan memangkas sekitar US$ 1 triliun dari Medicaid.

    Undang-undang ini juga memotong anggaran program bantuan pangan melalui Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP), yang sebelumnya dikenal sebagai food stamps. Menurut Center on Budget and Policy Priorities (CBPP), pemangkasan ini berpotensi mempengaruhi lebih dari 40 juta orang.

    Jumlah itu mencakup sekitar 16 juta anak-anak, 8 juta lansia, dan 4 juta penyandang disabilitas dewasa yang bukan lansia. Negara bagian akan diminta menanggung sebagian biaya untuk menutupi kekurangan pendanaan dari pemerintah pusat.

    Masih banyak aturan lain yang diatur dalam undang-undang tersebut, seperti batas pinjaman dan manfaat pinjaman bagi mahasiswa, potongan pajak terhadap tip, potongan pajak untuk lembur, hingga penghapusan insentif pajak untuk program kendaraan listrik.

    3. Diprediksi Nambah Utang Rp 53.000 Triliun

    Regulasi yang baru disahkan itu dianggap kontroversial karena bakal membebani keuangan AS. Analisis terbaru dari Congressional Budget Office (CBO) undang-undang itu akan memperburuk kondisi utang nasional dan membuat banyak warga kehilangan akses layanan kesehatan.

    Dilansir dari New York Times, Sabtu (5/7/2025), utang pemerintah AS diprediksi akan naik sebesar US$ 3,3 triliun atau Rp 53.460 triliun (kurs Rp 16.200). Saat ini utang nasional AS tercatat mencapai US$ 36,2 triliun.

    Bahkan, angka US$ 3,3 triliun dari CBO disebut belum mencakup biaya bunga tambahan atas utang baru, yang bisa membuat total penambahan utang mendekati US$ 4 triliun.

    Hitungan itu jauh lebih tinggi dari yang sebelumnya dinyatakan oleh sebagian anggota Partai Republik yang dikenal konservatif soal anggaran. Hitungan itu lebih tinggi dari versi DPR AS yang sebesar US$ 2,4 triliun.

    Dari total utang nasional AS yang sebesar US$ 36,2 triliun, sebesar US$ 29 triliun di antaranya adalah jenis utang publik. Diproyeksi pemerintahan Trump akan meminjam tambahan US$ 21 triliun dalam dekade mendatang.

    Selain itu, dilansir dari AFP, sekitar 11,8 juta warga AS diprediksi akan kehilangan asuransi kesehatan pada 2034. Jumlah itu meningkat dari 10,9 juta dalam versi sebelumnya.

    4. Tuai Kritik Keras

    Mengutip NBC News, kritik tajam membanjiri undang-undang tersebut, terutama dari pihak oposisi. Hakeem Jeffries dari Partai Demokrat bahkan mencatatkan rekor orasi terlama dalam sejarah DPR AS saat mengkritik partai Republik yang mendukung undang-undang tersebut.

    Ia tercatat berpidato selama 8 jam 44 menit sambil melontarkan kritikan dan meminta pengesahan aturan tersebut ditunda. Pidatonya dimulai tepat sebelum pukul 5 pagi.

    Dalam orasi panjang tersebut, Jeffries membacakan catatan dari sejumlah warga AS yang menurutnya akan terdampak oleh pemangkasan program Medicaid dan bantuan pangan SNAP.

    Jeffries menyebut RUU tersebut hanya akan menguntungkan para miliarder. Ia juga menyebut puluhan ribu orang akan mati akibat pengurangan terhadap layanan kesehatan.Jeffries menyebut RUU tersebut hanya akan menguntungkan para miliarder. Ia juga menyebut puluhan ribu orang akan mati akibat pengurangan terhadap layanan kesehatan.

    “Orang-orang akan mati. Puluhan ribu, mungkin tahun demi tahun, sebagai akibat dari serangan Partai Republik terhadap layanan kesehatan rakyat Amerika,” tegas Jeffries.Jeffries.

    Jeffries mengakhiri pidatonya yang berlangsung selama 8 jam 44 menit tak lama setelah pukul 13.30 siang. Ia menutup dengan sambutan tepuk tangan meriah dari para anggota Demokrat yang mengenalnya dan memeluknya satu per satu.Jeffries mengakhiri pidatonya yang berlangsung selama 8 jam 44 menit tak lama setelah pukul 13.30 siang. Ia menutup dengan disambut tepuk tangan meriah dari para anggota Demokrat yang meneriakkan namanya dan memeluknya satu per satu.

    (ily/hns)

  • Trump Teken UU Pajak-Anggaran ‘Big Beautiful’ Saat Seremoni 4 Juli

    Trump Teken UU Pajak-Anggaran ‘Big Beautiful’ Saat Seremoni 4 Juli

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani rancangan undang-undang (RUU) pajak dan belanja negara yang disebut “One Big Beautiful Bill” pada Jumat (4/7), saat seremoni hari kemerdekaan AS 4 Juli di Gedung Putih. Ini menandai RUU itu telah resmi menjadi undang-undang yang akan berlaku di AS.

    Penandatanganan ini, seperti dilansir AFP dan Reuters, Sabtu (5/7/2025), dilakukan setelah parlemen AS, yang didominasi politisi Partai Republik, meloloskan RUU yang menuai kritikan dari Partai Demokrat dan miliarder terkemuka AS, Elon Musk, mantan sekutu dekat Trump.

    “Amerika menang, menang, memang seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Trump sebelum menandatangani RUU tersebut dalam seremoni yang digelar di luar ruangan di South Lawn Gedung Putih, tepat saat perayaan 4 Juli.

    Undang-undang itu menjadi perwujudan dari banyak janji kampanye Trump, mulai dari memperpanjang pemotongan pajak sejak masa jabatan pertamanya, meningkatkan pengeluaran militer, dan menyediakan dana baru yang besar untuk upaya deportasi migran oleh pemerintahan Trump.

    “Itu bagus. One Big Beautiful Bill,” ucap Trump saat menandatangani dokumen UU itu dengan diapit oleh sejumlah anggota parlemen AS dari Partai Republik.

    Trump berusaha mengecilkan kritikan dari kalangan Partai Demokrat yang menilai UU itu akan memangkas program kesejahteraan sosial, dengan mengatakan: “Anda bahkan tidak akan menyadarinya”.

    Undang-undang yang akan mendanai penindakan keras Trump terhadap imigrasi itu, menjadikan pemotongan pajak yang berlaku tahun 2017 permanen, dan diperkirakan akan melepaskan jutaan warga Amerika dari asuransi kesehatan.

    Lihat juga Video ‘Trump Lagi-lagi Ngaku Kecewa ke Putin: Dia Tak Mau Hentikan Perang’:

    DPR AS meloloskan RUU itu dengan 218 suara dukungan melawan 214 suara yang menolak — semua anggota DPR dari Partai Demokrat memberikan penolakan. Dua anggota DPR dari Partai Republik — dari total 220 anggota Republikan — bergabung dengan para anggota DPR dari Partai Demokrat dalam menolak RUU itu.

    “Saya tidak pernah melihat orang-orang begitu bahagia di negara kita karena hal itu, karena begitu banyak kelompok orang yang berbeda yang sedang diurus: militer, warga sipil dari semua golongan, pekerjaan dari semua jenis,” ucap Trump saat berpidato dalam seremoni itu.

    Trump berterima kasih kepada Ketua DPR AS Mike Johnson dan Pemimpin Mayoritas Senat AS John Thune yang membawa RUU itu diloloskan melalui dua majelis dalam Kongres AS.

    “Jadi, Anda memiliki pemotongan pajak terbesar, pemotongan pengeluaran terbesar, investasi keamanan perbatasan terbesar dalam sejarah Amerika,” kata Trump.

    Seremoni penandatanganan itu diwarnai oleh jet-jet militer AS yang terbang di atas kepala dan kehadiran ratusan pendukung Trump. Didampingi Ibu Negara AS, Melania, Trump kemudian menyaksikan dari balkon Gedung Putih saat dua pesawat pengebom B-2 mengudara dengan disertai jet tempur F-35 dan F-22.

    Lihat juga Video ‘Trump Lagi-lagi Ngaku Kecewa ke Putin: Dia Tak Mau Hentikan Perang’:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Bodo Amat Banjir Kritik! Trump Teken Undang-undang Kontroversial Ini

    Bodo Amat Banjir Kritik! Trump Teken Undang-undang Kontroversial Ini

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menandatangani paket undang-undang pemangkasan pajak dan anggaran (One Big Beautiful Bill Act), di Gedung Putih pada Jumat kemarin (4/7/2025). Proses itu dilakukan bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan AS, 4 Juli.

    Acara penandatanganan digelar di luar ruangan dan bernuansa seperti kampanye politik Trump. Para pendukung Trump hadir di sana serta ditampilkan juga pertunjukan jet militer di langit.

    Rancangan undang-undang tersebut disahkan hanya sehari sebelumnya oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang dikuasai Partai Republik, dengan perolehan suara tipis 218-214, setelah perdebatan sengit di ruang sidang.

    Aturan ini akan mendanai kebijakan keras Trump soal imigrasi, menjadikan pemotongan pajak tahun 2017 bersifat permanen, serta diperkirakan akan menyebabkan jutaan warga Amerika kehilangan asuransi kesehatan.

    “Saya belum pernah melihat rakyat kita sebahagia ini. Banyak kelompok masyarakat merasa diperhatikan, dari kalangan militer, masyarakat sipil, hingga berbagai jenis pekerjaan,” ujar Trump saat upacara, dilansir dari Reuters, Sabtu (5/7/2025).

    Trump juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua DPR Mike Johnson dan Pemimpin Mayoritas Senat John Thune yang memuluskan proses pengesahan di parlemen.

    “Inilah pemotongan pajak terbesar, pemangkasan belanja terbesar, dan investasi keamanan perbatasan terbesar dalam sejarah Amerika,” tambah dia.

    Acara ini memang sengaja dijadwalkan bertepatan dengan Hari Kemerdekaan di halaman selatan Gedung Putih, lengkap dengan atraksi pesawat pembom siluman dan jet tempur. Pesawat ini merupakan jenis yang sebelumnya digunakan dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.

    Dalam pidato yang penuh pernyataan bangga soal posisi AS di bawah kepemimpinannya, Trump kemudian menandatangani undang-undang tersebut. Ia juga berfoto bersama para pemimpin Partai Republik di Kongres, anggota kabinetnya, dan menyapa para pendukung yang hadir.

    Pengesahan undang-undang ini dianggap sebagai kemenangan besar bagi Trump dan sekutunya dari Partai Republik. Mereka meyakini kebijakan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi.

    Namun, sejumlah ekonom memperkirakan langkah ini justru akan menambah lebih dari US$ 3 triliun alias sekitar Rp 53.000 triliun ke utang nasional yang saat ini sudah mencapai US$ 36,2 triliun.

    Tuai Kritik Tajam

    Mengutip NBC News, kritik tajam membanjiri undang-undang tersebut, terutama dari pihak oposisi. Hakeem Jeffries dari Partai Demokrat bahkan mencatatkan rekor orasi terlama dalam sejarah DPR AS saat mengkritikpartai Republik yang mendukung undang-undang tersebut.

    Ia tercatat berpidato selama 8 jam 44 menit sambil melontarkan kritikan dan meminta pengesahan aturan tersebut ditunda. Pidatonya dimulai tepat sebelum pukul 5 pagi. Dalam orasi panjang tersebut, Jeffries membacakan catatan dari sejumlah warga AS yang menurutnya akan terdampak oleh pemangkasan program Medicaid dan bantuan pangan SNAP.

    Jeffries menyebut RUU tersebut hanya akan menguntungkan para miliarder. Ia juga menyebut puluhan ribu orang akan mati akibat pengurangan terhadap layanan kesehatan.

    “Orang-orang akan mati. Puluhan ribu, mungkin tahun demi tahun, sebagai akibat dari serangan Partai Republik terhadap layanan kesehatan rakyat Amerika,” tegas Jeffries.

    Jeffries mengakhiri pidatonya yang berlangsung selama 8 jam 44 menit tak lama setelah pukul 13.30 siang. Ia menutup dengan disambut tepuk tangan meriah dari para anggota Demokrat yang meneriakkan namanya dan memeluknya satu per satu.

    (ily/hns)

  • Geregetan dengan Trump, Elon Musk Ancam Bikin Partai Sendiri!

    Geregetan dengan Trump, Elon Musk Ancam Bikin Partai Sendiri!

    Jakarta

    Usai pecah kongsi dengan Donald Trump, orang terkaya di dunia ini tampaknya telah menetapkan pikirannya untuk memulai usaha baru: Mendirikan partai politiknya sendiri.

    Saat keretakan hubungannya dengan Presiden AS Donald Trump ini terus terpampang nyata di depan publik, Elon Musk kembali melampiaskan penentangannya terhadap apa yang disebut “Big Beautiful Bill,” – sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) pajak dan belanja, yang menurutnya akan merusak mantra efisiensi yang ingin ditanamkannya di Washington.

    Musk bahkan memperingatkan anggota parlemen kubu Republik yang meloloskan RUU tersebut bahwa ia akan mencalonkan kandidat melawan mereka dalam pemilu pendahuluan tahun depan.

    Dan ia juga mengancam sistem dua partai AS yang lebih luas dengan janji akan membentuk faksi sendiri. “Jika RUU belanja yang gila ini disahkan, Partai Amerika akan dibentuk keesokan harinya,” tulisnya di X. “Negara kita membutuhkan alternatif untuk unipartai Demokrat-Republik, sehingga rakyat benar-benar memiliki SUARA.”

    Partai ketiga yang benar-benar kompetitif akan menjungkirbalikkan dominasi Demokrat-Republik selama lebih dari satu abad di semua tingkat pemerintahan.

    Tapi meskipun ada puluhan partai kecil yang sudah ada di seluruh AS selama puluhan tahun, sangat sedikit yang benar-benar mendekati atau bisa menyaingi dominasi dua partai besar itu.

    Partai Libertarian, yang didirikan pada tahun 1971, adalah yang terbesar ketiga di Amerika. Berkampanye untuk pasar bebas, pemerintahan kecil, dan kebebasan pribadi. Partai ini memiliki kinerja pemilihan presiden terbaiknya pada tahun 2016 dengan kandidat Gary Johnson, yang memenangkan 3,27% suara nasional.

    Partai Hijau adalah partai lama lainnya yang telah mencalonkan kandidat dalam pemilihan negara bagian dan federal. Seperti Libertarian, partai ini juga tidak memiliki kursi di pemerintahan.

    Daftar yang lengkap

    Sifat dasar sistem politik Amerika adalah prinsip “pemenang mengambil semuanya” melalui penggunaan sistem pemungutan suara “first past the post” yang meluas. Hal ini memberikan kemenangan bagi kandidat dengan suara terbanyak — yang hampir selalu dimenangkan Partai Republik atau Demokrat.

    Ada faktor lain yang menghambat keberhasilan partai ketiga, demikian menurut Bernard Tamas, seorang ilmuwan politik di Valdosta State University, AS, yang telah banyak menulis tentang subjek tersebut.

    Tamas mengatakan bahwa sangat penting bagi partai ketiga untuk memanfaatkan keresahan rakyat — sejumlah besar orang yang tidak puas dengan pilihan politik saat ini — dan membangun gerakan akar rumput yang kuat.

    “Salah satu masalah terbesar dengan partai-partai yang muncul adalah bahwa mereka tidak benar-benar memanfaatkan kemarahan itu,” ujar Tamas. Sebaliknya, partai-partai baru “cenderung lebih plin-plan dan [tidak] benar-benar berfokus pada dorongan kuat untuk perubahan.”

    Memanfaatkan akar rumput penting, begitu pula cuan

    Partai-partai menghabiskan miliaran dolar untuk membuat kandidat mereka terpilih. Menurut pengawas donasi OpenSecrets, hampir $16 miliar dihabiskan untuk pemilihan presiden dan kongres AS tahun 2024.

    Musk sendiri adalah donor terbesar dalam siklus pemilihan 2023-2024. Ia memberikan lebih dari $291 juta kepada Partai Republik, tersebar di berbagai kompetisi pemenangan pemilu.

    Dana kampanye yang besar membantu partai “mendapatkan suara” — misalnya untuk membeli materi iklan dan kampanye yang memperkenalkan kandidat kepada publik dan mendapatkan suara mereka.

    Banyaknya fulus yang mengalir tidak menjamin kemenangan. Demokrat menghabiskan lebih banyak uang daripada Republik pada tahun 2024. Meski demikian kucuran cuan tetap saja pasti membantu dalam proses memenangkan pemilu.

    “Anda membutuhkan uang untuk hal-hal seperti akses pemungutan suara dan sejumlah hal lainnya, tetapi tidak ada pihak ketiga yang akan memiliki cukup uang untuk bersaing dengan Partai Republik dan Demokrat dengan ketentuan mereka sendiri,” imbuh Tamas.

    Peringatan spoiler

    Bisakah partai ketiga menggantikan dominasi Demokrat atau Republik? Menurut Tamas, hal itu masih “jauh panggang dari api”. Alih-alih memenangkan kursi dan membangun kesuksesan jangka panjang, Tamas mengatakan mereka malah “menyengat seperti lebah.”

    “Mereka muncul dengan sangat cepat, mereka mencalonkan banyak kandidat di seluruh negeri dan kemudian mereka menyebabkan satu atau kedua partai besar menderita,” paparTamas. “Mereka pada dasarnya menarik suara.” Ini disebut “efek spoiler”, di mana kandidat yang tak puas mencuri suara dari kandidat arus utama yang seringkali memiliki ideologi yang sama.

    Dalam beberapa kasus, mereka dapat menarik cukup banyak suara sehingga calon terdepan kehilangan keunggulan dan jatuh ke posisi kedua. Ketakutan akan gelombang besar partai ketiga inilah yang menyebabkan partai-partai besar mengubah kebijakan mereka untuk menenangkan hati para pemilih ini.

    Namun setelah perubahan tercapai, seperti lebah yang menyengat korbannya, “ia akan mati”. ” Partai ketiga yang paling sukses di Amerika bertahan sekitar satu dekade. Begitu mereka menjadi ancaman yang terlalu besar, partai-partai besar mulai mencuri retorika dan ideologi mereka,” ujar Tamas.

    Apakah orang Amerika menginginkan partai baru?

    Tidak semua orang Amerika senang dengan pilihan mereka. Peringkat dukungan terhadap Donald Trump berada di wilayah negatif. Sedangkan jajak pendapat terbaru YouGov menemukan hampir 3 dari 5 orang Amerika memandang Partai Demokrat secara tidak baik. Pada tahun 2022, analisis Pew Research menemukan dukungan keseluruhan untuk lebih banyak partai dalam sistem politik.

    Namun, itu tidak berarti partai baru akan berhasil. Sebuah studi oleh dua ilmuwan politik AS pada Mei 2024 menemukan bahwa “partisan yang tidak puas” — Partai Republik dan Demokrat yang tidak puas dengan partai mereka sendiri — cenderung tidak memilih alternatif ketiga yang lebih berhaluan tengah.

    Menurut Tamas, cara tercepat untuk meraih sukses adalah dengan memanfaatkan kemarahan dan kekecewaan rakyat terhadap kondisi yang ada saat ini (status quo).

    Untuk orang seperti Musk, dia mungkin akan mendapat keuntungan jika mencontoh gerakan “Lawan Oligarki” yang dipimpin oleh tokoh-tokoh kiri seperti Alexandra Ocasio-Cortez dan Bernie Sanders yang sekarang sedang berkeliling Amerika.

    Atau, Musk juga bisa melihat gerakan MAGA (Make America Great Again) yang asli sebagai inspirasi jika dia ingin memulai partai politik baru.

    “Ini adalah contoh yang sangat bagus untuk ditirui, benar-benar mengambil peluang dari keluhan rakyat,” kata Tamas. “Mereka memaksa partai [besar] untuk merespons dengan mengancam karier dan mata pencaharian mereka,” pungkasnya.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
    Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
    Editor: Yuniman Fariid

    (ita/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Trump Menang Lagi, Senat Loloskan RUU Kontroversial ‘Utang’ Rp53.000 T

    Trump Menang Lagi, Senat Loloskan RUU Kontroversial ‘Utang’ Rp53.000 T

    Jakarta, CNBC Indonesia – Senat Amerika Serikat meloloskan rancangan undang-undang (RUU) besar-besaran soal pajak dan belanja yang diusulkan Presiden Donald Trump pada Selasa (1/7/2025) dengan selisih suara tipis.

    RUU ini berpotensi mengubah lanskap fiskal dan sosial negara, dengan pemangkasan besar-besaran pada program bantuan sosial, perpanjangan pemotongan pajak, peningkatan belanja militer dan imigrasi, sekaligus menambah utang nasional sebesar US$3,3 triliun atau sekitar Rp53.000 triliun.

    RUU ini disahkan dengan suara 51-50 di Senat, setelah Wakil Presiden JD Vance menggunakan hak suaranya untuk memecah kebuntuan. Tiga senator Partai Republik-Thom Tillis (North Carolina), Susan Collins (Maine), dan Rand Paul (Kentucky)-bergabung dengan seluruh 47 senator Demokrat untuk menolak RUU tersebut.

    Setelah disahkan di Senat, RUU kini menuju DPR untuk disetujui secara final. Namun, sejumlah anggota DPR dari Partai Republik telah menyuarakan penolakan terhadap beberapa ketentuan dalam versi Senat.

    Presiden Trump menyatakan keinginannya untuk menandatangani RUU ini menjadi undang-undang sebelum Hari Kemerdekaan AS, 4 Juli. Ketua DPR Mike Johnson mengatakan pihaknya akan berupaya mengejar tenggat itu.

    “Ini adalah RUU yang hebat. Semua pihak akan mendapat manfaat,” kata Trump dalam sebuah acara di Florida, dilansir Reuters. “Saya pikir RUU ini akan berjalan mulus di DPR.”

    RUU ini memperpanjang pemotongan pajak dari 2017, menambah insentif pajak baru untuk pendapatan dari uang tip dan lembur, dan meningkatkan anggaran untuk militer dan penegakan imigrasi.

    Namun, di sisi lain, RUU ini juga memangkas sekitar US$930 miliar dari anggaran Medicaid dan bantuan makanan bagi warga berpenghasilan rendah serta mencabut sebagian besar insentif energi hijau warisan Presiden Joe Biden.

    RUU tersebut juga menaikkan batas utang pemerintah federal sebesar US$5 triliun, suatu langkah yang dinilai penting agar negara tidak gagal bayar, namun menimbulkan kekhawatiran tentang arah kebijakan fiskal jangka panjang AS.

    Menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO), versi Senat akan menambah sekitar US$800 miliar lebih banyak utang dibandingkan versi RUU yang sebelumnya disahkan di DPR pada Mei lalu dengan hanya dua suara kelebihan.

    Salah satu drama utama dalam pengesahan RUU ini terjadi saat Senator Lisa Murkowski (Alaska) menyatakan akan menolak jika tak ada perubahan signifikan. Untuk mengamankan suaranya, versi final RUU memasukkan dua ketentuan khusus: tambahan dana bantuan pangan untuk Alaska dan negara bagian lain, serta US$50 miliar untuk membantu rumah sakit pedesaan menghadapi dampak pemotongan Medicaid.

    “Ini adalah proses yang buruk – perlombaan panik untuk memenuhi tenggat buatan yang menguji semua batas lembaga ini,” kata Murkowski dalam pernyataannya. “RUU ini masih perlu banyak perbaikan lintas kamar dan belum siap untuk meja Presiden.”

    Namun, kelompok konservatif garis keras seperti House Freedom Caucus tetap menentang biaya besar dalam RUU ini.

    “Ada banyak yang khawatir,” ujar anggota DPR Chip Roy dari Texas. Kelompoknya menyoroti beban utang dan pemangkasan Medicaid sebagai titik keberatan utama.

    Sementara itu, anggota DPR dari negara bagian dengan pajak tinggi seperti New York, New Jersey, dan California juga mengancam akan menarik dukungan kecuali ketentuan pemotongan pajak lokal (SALT) diperbesar.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • RUU Pajak & Belanja Trump Lolos, Potensi Tambah Utang AS US,5 Triliun

    RUU Pajak & Belanja Trump Lolos, Potensi Tambah Utang AS US$4,5 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA – Senat AS, yang dikuasai Partai Republik, secara tipis menyetujui pembukaan debat atas Rancangan Undang-Undang atau RUU mengenai pemotongan pajak dan belanja pemerintah usulan Presiden Donald Trump pada Sabtu (28/6) malam waktu setempat.

    Dilansir dari Reuters, Minggu (29/6/2025), pemungutan suara dipenuhi drama politik, perpecahan internal, dan penundaan panjang akibat. Hasilnya, 51 banding 49 untuk membuka debat atas RUU setebal 940 halaman tersebut.

    Dua senator dari Partai Republik ikut bergabung dengan kubu Demokrat dalam menolak pembukaan debat. RUU ini mencakup pendanaan untuk berbagai prioritas utama Trump, mulai dari kebijakan imigrasi, pengamanan perbatasan, pemangkasan pajak, hingga peningkatan belanja militer.

    Melalui media sosial, Donald Trump menyambut langkah ini sebagai “kemenangan besar” atas RUU yang ia sebut “besar, indah, dan luar biasa.”

    Penundaan dan Permintaan Baca Ulang

    Setelah berjam-jam tertunda, para pemimpin Partai Republik dan Wakil Presiden JD Vance melakukan lobi tertutup guna membujuk para senator yang masih ragu untuk mendukung RUU tersebut.

    Namun, demikian, kubu Partai Demokrat meminta agar seluruh isi RUU dibacakan di lantai Senat—langkah prosedural yang bisa menunda dimulainya debat hingga Minggu sore.

    Demokrat menilai pemotongan pajak dalam RUU ini lebih menguntungkan kalangan kaya dengan mengorbankan program sosial untuk warga berpenghasilan rendah.

    “Senator Republik tengah berlomba meloloskan RUU radikal yang dirilis ke publik di tengah malam, berharap rakyat Amerika tidak menyadari isinya,” kata Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat Chuck Schumer.

    Setelah pembacaan selesai, Senat akan menjalani debat hingga 20 jam, dilanjutkan dengan sesi amandemen maraton atau vote-a-rama, sebelum akhirnya dilakukan pemungutan suara final. Proses ini ditargetkan selesai pada Senin.

    Penolakan Internal dan Tekanan Trump

    Dua senator Republik, Thom Tillis dan Rand Paul, menolak pembukaan debat. Penolakan tersebut sempat membuat peluang pengesahan terlihat goyah.

    Trump mengecam Tillis, yang menentang pemangkasan program Medicaid untuk warga miskin karena dinilai akan berdampak buruk bagi negara bagian asalnya, North Carolina. Tillis sendiri akan maju dalam pemilu ulang tahun depan.

    “Sudah banyak orang menyatakan ingin menantang Senator Thom Tillis di pemilu pendahuluan. Saya akan bertemu mereka dalam beberapa minggu ke depan,” tulis Trump di media sosial.

    Rand Paul juga menolak RUU tersebut karena dinilai akan menaikkan batas pinjaman federal sebesar US$5 triliun, memperparah utang AS yang sudah mencapai US$36,2 triliun.

    “Apakah Rand Paul kembali memilih ‘TIDAK’ malam ini? Ada apa dengan orang ini???” cuit Trump.

    Negosiasi Tertutup dan Dukungan Kelompok Garis Keras

    Pemungutan suara sempat berada dalam ketidakpastian selama berjam-jam saat JD Vance, pemimpin mayoritas John Thune, dan sejumlah tokoh Republik lainnya mencoba meyakinkan para penolak. Tidak diketahui pasti kesepakatan apa saja yang ditawarkan untuk menarik dukungan.

    Senator garis keras seperti Rick Scott, Mike Lee, dan Cynthia Lummis yang semula ingin pemangkasan anggaran lebih dalam akhirnya mendukung RUU ini. Senator Ron Johnson yang awalnya menolak, kemudian juga membalikkan suara menjadi mendukung.

    Menurut seorang pejabat Gedung Putih, Trump memantau jalannya pemungutan suara dari Oval Office hingga larut malam.

    RUU besar ini akan memperpanjang pemotongan pajak pada 2017—capaian utama Trump di masa jabatan pertamanya—serta memotong pajak lainnya dan meningkatkan anggaran pertahanan serta keamanan perbatasan.

    Berdasarkan analisis Komite Pajak Gabungan (Joint Tax Committee) independen, ketentuan pajak dalam RUU ini akan mengurangi pendapatan pemerintah sebesar US$4,5 triliun dalam 10 tahun ke depan, memperbesar beban utang nasional.

    Kendati demikian, Gedung Putih mengklaim RUU ini akan memangkas defisit tahunan sebesar US$1,4 triliun.

    Perubahan Medicaid dan Pajak Daerah

    Sejumlah senator Republik dari negara bagian dengan wilayah rural menolak pemangkasan dana Medicaid bagi penyedia layanan kesehatan di pedesaan, termasuk rumah sakit kecil. RUU ini akhirnya merevisi kebijakan tersebut dengan menunda pemotongan dan menambahkan dana sebesar US$25 miliar bagi penyedia Medicaid rural mulai 2028 hingga 2032.

    RUU ini juga menaikkan batas potongan pajak negara bagian dan lokal (SALT cap) menjadi US$40.000 dengan penyesuaian inflasi tahunan 1% hingga 2029. Setelah itu, batasnya akan kembali ke level saat ini, yakni US$10.000. Bagi individu berpenghasilan di atas US$500.000 per tahun, batas ini secara bertahap akan dikurangi.

    Ketentuan ini menjadi perhatian serius bagi anggota DPR dari Partai Republik yang berasal dari negara bagian pesisir seperti New York, New Jersey, dan California, yang peran mereka penting dalam menjaga mayoritas tipis partai di DPR.

    Mekanisme Legislasi Khusus dan Risiko Gagal Bayar

    Partai Republik menggunakan manuver legislasi khusus untuk melewati ambang 60 suara yang biasanya dibutuhkan untuk meloloskan RUU di Senat yang beranggotakan 100 orang.

    Sementara itu, Demokrat bersiap mengajukan berbagai amandemen untuk membatalkan pemotongan anggaran pada program bantuan kesehatan pemerintah untuk lansia, warga miskin, dan penyandang disabilitas, serta bantuan pangan bagi keluarga berpenghasilan rendah.

    RUU ini juga mencakup kenaikan plafon utang pemerintah federal dalam jumlah besar untuk menghindari risiko gagal bayar utang negara dalam beberapa bulan ke depan.

    Jika RUU ini disahkan oleh Senat maka akan dikembalikan ke DPR untuk disahkan secara final sebelum ditandatangani Trump menjadi undang-undang. Versi awal RUU ini sebelumnya telah disetujui DPR bulan lalu.

  • 5 Kondisi Kritis Saat Melahirkan yang Lebih Berisiko dari Pendarahan

    5 Kondisi Kritis Saat Melahirkan yang Lebih Berisiko dari Pendarahan

    Jakarta

    Melahirkan adalah sebuah proses medis yang sangat krusial. Ada banyak risiko yang bisa terjadi saat melahirkan, salah satunya perdarahan.

    Perdarahan sendiri dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya rahim tidak berkontraksi dengan baik, robekan jalan lahir, dan gangguan pembekuan darah. Jika tidak segera ditangani, perdarahan dapat memicu kegagalan organ hingga kematian.

    Kondisi Kritis saat Melahirkan

    Selain perdarahan, masih ada banyak faktor yang berisiko mengancam keselamatan ibu selama melahirkan. Berikut beberapa di antaranya:

    1. Eklampsia dan Preeklampsia

    Eklampsia merupakan komplikasi serius yang dapat terjadi akibat preeklampsia, gangguan kehamilan yang membuat ibu mengalami tekanan darah tinggi. Eklampsia terjadi ketika wanita dengan preeklampsia mengalami kejang selama kehamilan.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menuturkan preeklampsia merupakan penyebab kematian ibu melahirkan terbanyak di Indonesia. Berdasarkan data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN), jumlah kematian ibu tahun 2022 mencapai 4.005. Jumlahnya meningkat menjadi 4.129 pada tahun 2023.

    “Penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah hipertensi dalam kehamilan, biasa kami sebut dengan preeklamsia dan perdarahan yang sebenarnya ini bisa dicegah,” kata Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan, dr Lovely Daisy, MKM, dikutip dari laman resmi Kemenkes.

    2. Sepsis

    Sepsis adalah reaksi tubuh yang ekstrem terhadap infeksi, sehingga ia menyerang organ dan jaringannya sendiri. Ini dapat memicu kerusakan jaringan, kegagalan organ, hingga kematian.

    Sepsis ketika melahirkan biasanya terjadi karena infeksi bakteri parah pada rahim selama kehamilan atau beberapa saat sebelum melahirkan. Ini merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu.

    Sepsis maternal umumnya terjadi ketika sayatan operasi caesar, robekan, atau luka lain dari proses persalinan terinfeksi dalam beberapa hari atau pekan setelah melahirkan. Segala bentuk infeksi selama kehamilan atau melahirkan, seperti pneumonia, radang tenggorokan, dan saluran infeksi kemih, bisa memicu sepsis.

    3. Amniotic Fluid Embolism

    Amniotic fluid embolism (AFE) merupakan komplikasi langka mengancam jiwa yang terjadi ketika cairan ketuban masuk ke dalam aliran darah selama periode melahirkan. Beberapa orang mengalami respons alergi parah ketika cairan ketuban bercampur dengan darah mereka.

    AFE dapat menyebabkan gagal jantung, paru-paru, hingga memicu komplikasi berkurangnya darah mengandung oksigen dalam tubuh, dan serangan jantung. Orang dengan AFE juga dapat mengalami perdarahan yang tidak terkendali dari rahim.

    Kondisi AFE biasanya muncul secara tiba-tiba dan sulit diprediksi. Sangat sulit untuk mengobatinya dan memerlukan perawatan medis darurat.

    4. Uterine Inversion (Rahim Terbalik)

    Uterine inversion merupakan komplikasi darurat yang terjadi ketika rahim terbalik sebagian atau seluruhnya. Pada persalinan normal, bayi akan keluar dari rahim melalui vagina. Setelah itu, plasenta juga akan keluar dan rahim tetap dalam bentuk aslinya.

    Pada kasus uterine inversion, bagian atas rahim kolaps ke dalam rongga rahim. Rahim bahkan bisa berbalik sepenuhnya dan keluar dari vagina. Ketika ini terjadi, ibu bisa mengalami perdarahan, syok, dan kematian.

    Salah satu studi kasus di jurnal Clinical Journal of Obstetrics and Gynecology pada tahun 2021 mengungkapkan seorang wanita hamil berusia 21 tahun di Brasil ditemukan tergeletak di kamar mandi mengalami perdarahan dengan bayi prematurnya sudah keluar.

    Setelah dilarikan ke rumah sakit, wanita itu didiagnosis uterine inversion total. Dokter terpaksa harus melakukan operasi setelah rahim gagal dikembalikan ke posisi semula dengan manuver Johnson.

    Untungnya, setelah operasi histerektomi, sang ibu bisa diselamatkan. Wanita itu akhirnya pulang dari rumah sakit, enam hari setelah perawatan intensif.

    5. Uterine Rupture

    Dikutip dari Cleveland Clinic, uterine rupture merupakan komplikasi serius yang terjadi ketika rahim robek atau pecah. Kondisi ini terkadang terjadi pada ibu yang pernah menjalani operasi caesar, lalu mencoba melahirkan normal.

    Uterine rupture paling umum terjadi di sepanjang garis bekas luka dari sayatan operasi caesar sebelumnya. Pada persalinan caesar, dokter akan memotong rahim untuk mengeluarkan bayi.

    Kondisi ini sangat berbahaya dan dapat memicu perdarahan. Ketika rahim robek, janin tidak lagi terlindungi. Ini membuat detak janin melambat dan tidak mendapatkan oksigen. Tanpa oksigen, bayi berisiko mengalami kerusakan otak dan mati lemas.

    (avk/tgm)

  • Sembuh dari Penyakit Langka, Rafi Bocah 7 Tahun Kini Lawan Leukemia, Dirujuk ke Palembang
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        24 Juni 2025

    Sembuh dari Penyakit Langka, Rafi Bocah 7 Tahun Kini Lawan Leukemia, Dirujuk ke Palembang Regional 24 Juni 2025

    Sembuh dari Penyakit Langka, Rafi Bocah 7 Tahun Kini Lawan Leukemia, Dirujuk ke Palembang
    Tim Redaksi
    KOTA JAMBI, JAMBI, KOMPAS.com –
    Wakil Wali Kota Jambi,
    Diza Hazra Aljosha
    , menyempatkan diri untuk mengunjungi M Rafi, seorang bocah berusia 7 tahun yang tengah berjuang melawan penyakit leukemia atau kanker darah.
    Diza mengunjungi Rafi yang tengah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi, Selasa (24/6/2025).
    Usai mengunjungi Rafi, Diza mengatakan bahwa bocah tersebut akan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat Dr Mohammad Hoesin di Kota Palembang, Sumatera Selatan, guna menjalani pemeriksaan dan pengobatan lebih intensif.
    Ini dilakukan karena keterbatasan fasilitas di RSUD Raden Mattaher.
    “Dari hasil pemeriksaan darahnya kecenderungan kanker darah. Tapi untuk memastikan secara menyeluruh, cuma untuk pemeriksaan lebih lanjut tergantung hasil lembar TEP (Tindakan Evaluasi Pengobatan), kebetulan ini belum ada di Jambi,” jelas Diza, saat ditemui di RSUD Raden Mattaher Jambi, Selasa (24/6/2025).
    Diza juga menegaskan bahwa
    Pemerintah Kota Jambi
    akan memberikan pendampingan penuh kepada Rafi dan keluarganya selama proses pengobatan berlangsung.
    Ia telah menginstruksikan Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kota Jambi untuk secara aktif memantau kondisi Rafi, termasuk kebutuhan pengobatan dan keperluan lainnya.
    Adapun biaya pengobatan Rafi ditanggung dari Kartu Indonesia Sehat (KIS).
    Sementara, biaya keberangkatan dari Jambi ke Palembang ditanggung Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Jambi.
    Begitu juga biaya penginapan orangtua Rafi bakal ditanggung Pemkot Jambi.
    Sebelumnya diberitakan, Rafi, bocah 7 tahun asal Kota Jambi, yang sempat mengidap
    Stevens Johnson Syndrome
    atau Sindrom Stevens Johnson (SJS), kini kembali harus menjalani perjuangan berat.
    Setelah dinyatakan pulih dari SJS, Rafi kini didiagnosis menderita leukemia atau kanker darah.
    Ibunda Rafi, Novita, mengungkapkan bahwa gejala baru muncul tak lama setelah Rafi pulih dari penyakit sebelumnya.
    “Awalnya perutnya sakit dan terasa keras. Waktu saya buka bajunya, perutnya tampak membengkak,” ujar Novita dengan nada cemas saat ditemui di rumah sakit, Selasa (24/6/2025).
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Ramai Dikaitkan Kondisi Jokowi, Apa Beda Steven Johnson Syndrome dan Alergi Kulit?

    Ramai Dikaitkan Kondisi Jokowi, Apa Beda Steven Johnson Syndrome dan Alergi Kulit?

    Jakarta

    Warganet ramai menyoroti kondisi kulit Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo. Banyak spekulasi mencuat salah satunya dikaitkan dengan penyakit langka dan serius yakni Stevens-Johnson Syndrome (SJS).

    Ajudan Presiden, Komisaris Polisi Syarif Fitriansyah, belakangan membantah kabar tersebut dan memastikan secara fisik Jokowi dinyatakan sehat. Adapun perbedaan yang tampak pada kulit wajah dikaitkan dengan alergi kulit yang tidak serius.

    “Wah hoaks itu, nggak benar,” tegasnya kepada wartawan baru-baru ini.

    Terlepas dari kabar yang beredar di media sosial, memang apa sih bedanya SJS dengan alergi kulit ringan? Spesialis penyakit dalam yang juga pakar alergi dan imunologi Prof Iris Rengganis, SpPD-KAI ikut buka suara.

    Menurut Prof Iris, Stevens Johnson Syndrome adalah reaksi hipersensitivitas berat yang salah satunya bisa dipicu karena penggunaan obat, jelas berbeda dengan alergi kulit biasa.

    Secara kasat mata, juga terdapat perbedaan jelas gejala akibat SJS dengan alergi kulit.

    Beberapa gejala khas yang cukup mudah dikenali, di antaranya:

    Ruam merah yang menyebar di seluruh tubuhLepuhan dan pengelupasan kulit seperti luka bakarLuka di rongga mulut, mata, dan area kelamin

    Keluhan tersebut diikuti demam tinggi hingga 38 derajat celsius akibat reaksi inflamasi atau peradangan. Pasien SJS juga kerap musah lelah, lemas, mengalami nyeri mulut hingga sakit di bagian kepala.

    Semakin lama ditangani, semakin mungkin gejala terus menyebar ke daerah lain yang juga memicu area mata terasa tak nyaman bahkan hisa membuat gangguan penglihatan.

    “Karena kulit yang melepuh dan mengelupas, pasien SJS sangat rentan terkena infeksi. Di luar negeri, pasien SJS bahkan sering dirawat di unit luka bakar, bukan karena terbakar, tapi karena perlindungan terhadap infeksi menjadi sangat penting jika lapisan kulit terbuka,” sorot Prof Iris menegaskan penanganan pasien SJS perlu secara multidisiplin atau oleh beberapa dokter dan ahli.

    Next: Kelompok orang berisiko Steven Johnson Syndrome

    SJS tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Anak-anak, dewasa, pria, maupun wanita semua berpotensi mengalami SJS, tergantung pada tingkat sensitivitas tubuh masing-masing.

    Tidak seperti alergi biasa yang gatal dan bentol, SJS tidak disertai rasa gatal, melainkan lepuhan kulit parah, seperti kulit terbakar.

    Beberapa obat yang sering memicu SJS, menurut Prof Iris, khususnya pada orang yang sensitif, antara lain:

    Obat asam urat: allopurinolObat pereda nyeri: piroxicam, meloxicamAntibiotik: penisilin, sulfaObat antivirus: nevirapineObat antikejang: fenitoin, dan lainnya

    Biasanya, pasien SJS sudah memiliki riwayat konsumsi obat tertentu, sehingga penting dilakukan penelusuran obat yang dikonsumsi sebelum gejala muncul.

    Karena kompleksitasnya, penanganan SJS memerlukan kerja sama tim dokter dari berbagai spesialisasi. Pasien biasanya memerlukan rawar inap intensif, pemberian cairan yang cukup, obat-obatan suntik untuk mengatasi peradangan, perawatan luka di kulit, mulut, dan mata. Lalu, kontrol kebersihan mulut secara khusus.

    Kebersihan mulut sangat penting karena luka di area ini bisa menyebabkan nyeri hebat dan mengganggu makan, minum, hingga berbicara.

    Simak Video “Video: Mengenal Jenis Alergi Kulit, Biduran Hingga Stevens Johnson Syndrome”
    [Gambas:Video 20detik]