Tag: Johnson

  • Astronaut NASA yang Terdampar di Antariksa Umumkan Pensiun

    Astronaut NASA yang Terdampar di Antariksa Umumkan Pensiun

    Jakarta

    Astronaut NASA Butch Wilmore, yang sempat terjebak sembilan bulan di stasiun luar angkasa (ISS), mengumumkan pensiun setelah 25 tahun berkarier. Hal itu diumumkan hanya lima bulan setelah misi terakhirnya yang menjadi sorotan dunia.

    Steve Koerner, Acting Head Johnson Space Center di Houston tempat NASA melatih astronaut, mengatakan komitmen Wilmore terhadap misi NASA dan dedikasinya terhadap eksplorasi luar angkasa benar-benar patut dicontoh.

    “Warisan keteguhannya yang abadi akan terus memberikan dampak dan menginspirasi karyawan Johnson, para penjelajah masa depan, dan bangsa ini hingga beberapa generasi ke depan,” kata Koerner, seperti dikutip dari CNN, Minggu (10/8/2025).

    Wilmore pensiun di usia 62 tahun, hampir 20 tahun lebih tua dibandingkan usia rata-rata astronaut. Kandidat astronaut NASA biasanya dipilih di antara usia 26 sampai 46 tahun.

    Sebelum menjadi astronaut, Wilmore adalah kapten Angkatan Laut AS dan pilot uji terbang yang bertugas dalam 21 misi tempur. Ia bergabung dengan korps astronaut NASA pada tahun 2000.

    Selama 25 tahun kariernya di NASA, Wilmore pernah mengikuti tiga misi antariksa, termasuk misi menggunakan kapal ulang alik Atlantis dan penerbangan ke ISS menggunakan kapsul Soyuz milik Rusia. Secara total, Wilmore sudah menghabiskan 464 hari di luar angkasa.

    Misi terakhir Wilmore sebagai astronaut adalah menguji kapsul Boeing Starliner bersama astronaut Suni Williams dalam penerbangan uji coba ke ISS pada pertengahan tahun 2024. Namun karena masalah teknis, kapsul itu tidak bisa membawa Wilmore dan Williams pulang, dan keduanya harus tinggal di ISS lebih lama.

    Wilmore dan Williams awalnya hanya direncanakan untuk tinggal di ISS selama delapan hari. Namun NASA dan Boeing menghabiskan berbulan-bulan untuk mencari penyebab masalah kapsul Starliner dan menimbang apakah kapsul itu aman untuk membawa para astronaut pulang.

    NASA memutuskan kapsul Starliner terlalu berisiko untuk membawa Wilmore dan Williams pulang, dan keduanya harus menunggu kendaraan lain untuk kembali ke Bumi. Setelah menunggu sembilan bulan di antariksa, Wilmore dan Williams akhirnya pulang ke Bumi menggunakan kapsul SpaceX Crew Dragon pada Maret 2025.

    Meski misi terakhirnya berjalan kurang mulus, Wilmore mengatakan secara teori ia ingin terbang lagi menggunakan kapsul Boeing Starliner jika diberi kesempatan.

    “Kami akan memperbaiki semua masalah yang kami hadapi. Kami akan memperbaikinya, kami akan memastikan itu berhasil. Dan dengan itu, saya akan melakukannya lagi tanpa berpikir dua kali,” ujar Wilmore dalam konferensi pers pada 31 Maret 2025.

    (vmp/fay)

  • Geger Perintah Trump Hajar Kartel Narkoba Pakai Kekuatan Militer

    Geger Perintah Trump Hajar Kartel Narkoba Pakai Kekuatan Militer

    Jakarta

    Kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat geger banyak pihak. Orang nomor satu di AS itu akan menurunkan Pentagon demi melawan kartel narkoba di Amerika Latin.

    Dirangkum dari berbagai sumber seperti The New York Times, The Wall Street Journal, dan AFP, mereka melaporkan Washington pada Jumat (8/8) kemarin menetapkan beberapa kelompok penyelundup narkotika sebagai organisasi “teroris”.

    Trump bahkan dilaporkan telah memerintahkan Pentagon untuk menggunakan kekuatan militer terhadap kartel-kartel yang dianggap sebagai organisasi teroris.

    Selain itu, disebutkan juga Trump telah menyiapkan berbagai opsi, yakni menggunakan pasukan khusus dan penyediaan dukungan intelijen yang sedang dibahas, dan bahwa setiap tindakan akan dikoordinasikan dengan mitra-mitra asing.

    Pernyataan Gedung Putih

    Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, meskipun tidak mengonfirmasi laporan tersebut, dia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “prioritas utama Trump adalah melindungi tanah air, itulah sebabnya ia mengambil langkah berani untuk menetapkan beberapa kartel dan geng sebagai organisasi teroris asing.”

    Sebelumnya, otoritas Amerika Serikat telah menetapkan kartel Tren de Aragua di Venezuela, Kartel Sinaloa di Meksiko, dan enam kelompok pengedar narkoba lainnya yang berakar di Amerika Latin sebagai kelompok teroris pada bulan Februari lalu.

    Kedutaan Besar AS di Meksiko merilis pernyataan pada Jumat malam, yang menyatakan bahwa kedua negara akan menggunakan “setiap alat yang kami miliki untuk melindungi rakyat kami dari kelompok-kelompok pengedar narkoba”.

    Namun, Kementerian Luar Negeri Meksiko menekankan bahwa Meksiko “tidak akan menerima keterlibatan pasukan militer AS di wilayah kami”.

    Janji Trump

    Pada Maret lalu, Trump pernah berjanji kalau dia akan “berperang” melawan kartel-kartel narkoba Meksiko, yang ia tuduh melakukan pemerkosaan dan pembunuhan. Trump juga menuding kartel-kartel Meksiko membanjiri AS dengan narkoba, khususnya fentanil.

    Menanggapi laporan potensi aksi militer AS terhadap kartel, Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum menegaskan pada hari Jumat (8/8) bahwa “tidak akan ada invasi” ke negaranya.

    Sheinbaum telah berupaya keras untuk menunjukkan kepada Trump bahwa ia bertindak melawan kartel-kartel Meksiko.

    “Kami bekerja sama, kami berkolaborasi, tetapi tidak akan ada invasi. Itu sama sekali tidak mungkin,” ujarnya.

    Meksiko Tolak Jika Militer AS Masuk

    Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, meminta rakyatnya tidak khawatir dengan aturan baru Trump ini. Dia menegaskan “tidak akan ada invasi ke Meksiko”.

    “Tidak akan ada invasi ke Meksiko,” kata Sheinbaum, dilansir kantor berita AFP.

    Pernyataan itu dikeluarkan setelah media AS, The New York Times melaporkan bahwa Trump diam-diam telah menandatangani perintah eksekutif untuk menggunakan kekuatan militer terhadap kartel-kartel yang telah dinyatakan oleh pemerintahannya sebagai organisasi teroris.

    “Kami diberitahu bahwa perintah eksekutif ini akan segera dikeluarkan dan tidak ada hubungannya dengan partisipasi personel militer atau institusi mana pun di wilayah kami,” kata Sheinbaum dalam konferensi pers rutinnya di pagi hari.

    Kementerian Luar Negeri Meksiko kemudian mengatakan bahwa Meksiko “tidak akan menerima partisipasi pasukan militer AS di wilayah kami.”

    Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pernyataan yang dirilis oleh Kedutaan Besar AS di Meksiko, yang menyatakan bahwa kedua negara akan menggunakan “setiap alat yang kami miliki untuk melindungi rakyat kami dari kelompok-kelompok penyelundup narkoba”.

    Duta Besar AS untuk Meksiko, Ronald Johnson, menuliskan di media sosial X bahwa kedua negara “menghadapi musuh bersama: kartel-kartel kriminal yang kejam.”

    Sheinbaum diketahui telah berupaya keras untuk menunjukkan kepada Trump bahwa ia bertindak melawan kartel-kartel di negaranya, yang ia tuduh membanjiri Amerika Serikat dengan narkoba, khususnya fentanil.

    “Kami bekerja sama, kami berkolaborasi, tetapi tidak akan ada invasi. Itu sama sekali tidak mungkin,” ujar presiden perempuan pertama Meksiko itu.

    Ia mengatakan bahwa dalam “setiap panggilan telepon” dengan para pejabat AS, Meksiko bersikeras bahwa hal itu “tidak diizinkan.”

    Halaman 2 dari 5

    (zap/lir)

  • Trump Perintahkan Militer Lawan Kartel Narkoba, Meksiko Ingatkan Ini!

    Trump Perintahkan Militer Lawan Kartel Narkoba, Meksiko Ingatkan Ini!

    Jakarta

    Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum menegaskan bahwa “tidak akan ada invasi ke Meksiko”. Ini disampaikannya menyusul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memerintahkan militer AS untuk menargetkan kartel-kartel narkoba Amerika Latin.

    “Tidak akan ada invasi ke Meksiko,” kata Sheinbaum, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (9/8/2025). Ini dikatakannya setelah media AS, The New York Times melaporkan bahwa Trump diam-diam telah menandatangani perintah eksekutif untuk menggunakan kekuatan militer terhadap kartel-kartel yang telah dinyatakan oleh pemerintahannya sebagai organisasi teroris.

    “Kami diberitahu bahwa perintah eksekutif ini akan segera dikeluarkan dan tidak ada hubungannya dengan partisipasi personel militer atau institusi mana pun di wilayah kami,” kata Sheinbaum dalam konferensi pers rutinnya di pagi hari.

    Kementerian Luar Negeri Meksiko kemudian mengatakan bahwa Meksiko “tidak akan menerima partisipasi pasukan militer AS di wilayah kami.”

    Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pernyataan yang dirilis oleh Kedutaan Besar AS di Meksiko, yang menyatakan bahwa kedua negara akan menggunakan “setiap alat yang kami miliki untuk melindungi rakyat kami dari kelompok-kelompok penyelundup narkoba”.

    Duta Besar AS untuk Meksiko, Ronald Johnson, menuliskan di media sosial X bahwa kedua negara “menghadapi musuh bersama: kartel-kartel kriminal yang kejam.”

    Sheinbaum telah berupaya keras untuk menunjukkan kepada Trump bahwa ia bertindak melawan kartel-kartel di negaranya, yang ia tuduh membanjiri Amerika Serikat dengan narkoba, khususnya fentanil.

    “Kami bekerja sama, kami berkolaborasi, tetapi tidak akan ada invasi. Itu sama sekali tidak mungkin,” ujar presiden perempuan pertama Meksiko itu.

    Ia mengatakan bahwa dalam “setiap panggilan telepon” dengan para pejabat AS, Meksiko bersikeras bahwa hal itu “tidak diizinkan.”

    The New York Times melaporkan bahwa perintah Trump memberikan dasar resmi untuk operasi militer di laut atau di tanah asing terhadap kartel-kartel tersebut.

    Sebelumnya pada bulan Februari lalu, pemerintahan Trump menetapkan delapan kelompok penyelundup narkoba sebagai organisasi teroris. Enam berasal dari Meksiko, satu dari Venezuela, dan yang kedelapan berasal dari El Salvador.

    Dua minggu lalu, pemerintahannya menambahkan geng Venezuela lainnya, Kartel Matahari, yang telah mengirimkan ratusan ton narkotika ke Amerika Serikat selama dua dekade.

    Pada hari Kamis lalu, Departemen Kehakiman AS menggandakan hadiah uang menjadi US$50 juta untuk penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang dituduh memimpin Kartel Matahari.

    Venezuela telah menepis tuduhan tersebut, dan Menteri Luar Negeri Yvan Gil menyebutnya “tipuan paling konyol yang pernah kita lihat.”

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Teror Penembakan Brutal Terjadi di Kampus, Petugas Polisi Tewas

    Teror Penembakan Brutal Terjadi di Kampus, Petugas Polisi Tewas

    Jakarta, CNBC Indonesia – Situasi mencekam terjadi di kampus Universitas Emory, Atlanta, Amerika Serikat, pada Jumat (8/8/2025) waktu setempat. Pihak universitas mengonfirmasi adanya insiden penembakan aktif di kawasan mereka, yang berlokasi di bagian timur kota tersebut.

    Penembakan dilaporkan terjadi di Emory Point CVS, yang terletak di pusat perbelanjaan berisi restoran, toko, dan apartemen yang menjadi tempat tinggal sebagian mahasiswa.

    Lokasi kejadian juga berada tepat di seberang gedung Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Clifton Avenue.

    Menurut laporan CNN, penembak memiliki beberapa senjata, dua pistol, satu senapan dan satu senapan. Mereka juga mengenakan apa yang digambarkan oleh seorang penegak hukum di tempat kejadian sebagai terlihat seperti masker bedah.

    Penembak juga membawa beberapa magasin dan mengenakan pelindung telinga, kata pejabat tersebut. Ketika penegak hukum tiba di tempat kejadian, pelaku tengah menembak langsung ke arah mobil petugas.

    Walikota Atlanta, Andre Dickens, mengatakan bahwa tidak ada warga sipil yang tertembak dalam insiden di kampus Emory University.

    Ia juga mengonfirmasi bahwa pelaku penembakan telah meninggal dunia.

    Ada 92 anak di tempat penitipan anak di kampus CDC, dan mereka dinyatakan dalam keadaan aman.

    Namun satu petugas yang menangani insiden ini dilaporkan telah meninggal dunia. Departemen Kepolisian Atlanta sebelumnya telah mengumumkan bahwa seorang petugas terluka selama proses penanganan.

    Petugas polisi yang meninggal dalam penembakan hari Jumat itu meninggalkan seorang istri yang sedang hamil dan dua orang anak, kata CEO DeKalb County Lorraine Cochran-Johnson.

    “Malam ini, ada seorang istri tanpa suami. Ada tiga anak, satu yang belum lahir, tanpa ayah. Ada seorang ibu dan seorang ayah, serta saudara kandung yang juga ikut merasakan kehilangan yang traumatis ini,” kata Cochran-Johnson.

    Pihak berwenang tidak merilis nama petugas tersebut hingga saat ini.

    “Mari kita bergabung bersama untuk memberikan dukungan yang dibutuhkan keluarga ini selama kehilangan yang traumatis ini,” tambahnya.

    CDC di Atlanta masih dalam keadaan terkunci, kata sumber CDC yang mengetahui situasi tersebut kepada CNN.

    (pgr/pgr)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Daftar 17 Raksasa Farmasi Diultimatum Trump Turunkan Harga Obat

    Daftar 17 Raksasa Farmasi Diultimatum Trump Turunkan Harga Obat

    Jakarta

    Presiden Donald Trump menuntut perusahaan-perusahaan farmasi raksasa menurunkan harga obat yang beredar di Amerika Serikat (AS). Ultimatum ini sudah diberikan Trump secara tertulis langsung kepada 17 perusahaan farmasi besar.

    Melansir CNBC, Sabtu (2/8/2025), Gedung Putih melaporkan surat kepada 17 perusahaan farmasi besar itu berisi perintah segera menguraikan langkah-langkah nyata dalam upaya menurunkan harga obat di AS.

    Perusahaan diminta memberikan harga yang paling terjangkau kepada semua pasien Medicaid, program kesehatan AS untuk pasien berpenghasilan rendah. Di mana uraian langkah-langkah penurunan harga obat ini harus sudah diserahkan paling lambat pada 29 September 2025.

    Jika tidak, Trump mengancam akan mengerahkan setiap kemampuannya melindungi keluarga Amerika dari praktik penetapan harga obat yang tidak adil tanpa menjelaskan tindakan apa saja yang akan diambil.

    “Mereka juga diberi tahu agar tidak menawarkan obat-obatan ke pasar maju lainnya dengan harga lebih baik daripada harga yang ditawarkan di AS, dan bahwa mereka harus menjual obat-obatan langsung ke pasien AS, sehingga menghilangkan perantara apotek yang dikenal sebagai manajer manfaat farmasi (PBM),” tulis CNBC dalam laporannya.

    Imbas ultimatum dari Trump tersebut, nilai saham perusahaan-perusahaan sektor kesehatan anjlok selama perdagangan Jumat (1/8) kemarin. Misalkan saja ada Novo Nordisk, perusahaan pembuat Wegovy yang nilai sahamnya turun 5% pada perdagangan pagi waktu setempat, dan diperdagangkan 1,3% lebih rendah pada pukul 11.15 waktu London.

    “Trump telah lama mengecam perusahaan farmasi atas apa yang disebutnya sebagai praktik penetapan harga yang tidak adil, sebelumnya mengatakan bahwa ia berencana untuk menurunkan harga di AS sebesar 80%,” terang CNBC.

    Bahkan pada Mei 2025 kemarin, Trump sudah menandatangani perintah eksekutif untuk menurunkan biaya obat-obatan dengan mengikat harga beberapa obat di AS dengan harga yang jauh lebih rendah di luar negeri berdasarkan kebijakan MFN.

    Mengutip CNBC, berikut daftar perusahaan yang menerima surat ultimatum dari Trump:

    1. AbbVie
    2. Amgen
    3. AstraZeneca
    4. Boehringer Ingelheim
    5. Bristol-Myers Squibb
    6. Eli Lilly
    7. EMD Serono
    8. Roche
    9. Gilead
    10. GSK
    11. Johnson & Johnson
    12. Merck
    13. Novartis
    14. Novo Nordisk
    15. Pfizer
    16. Regeneron
    17. Sanofi

    (igo/hns)

  • Video Deadline 60 Hari untuk Perusahaan Obat AS Turunkan Harga

    Video Deadline 60 Hari untuk Perusahaan Obat AS Turunkan Harga

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengirimkan surat kepada 17 perusahaan farmasi terkemuka untuk menurunkan harga obat resep agar setara dengan harga terendah yang ditawarkan di negara maju lainnya, atau dikenal sebagai harga most favored nation/negara paling disukai (MFN).

    Daftar 17 perusahaan obat yang mendapatkan surat dari Trump adalah AbbVie, Amgen, AstraZeneca, Boehringer Ingelheim, Bristol Myers Squibb, Eli Lilly, EMD Serono, Genentech, Gilead, GSK, Johnson & Johnson, Merck, Novartis, Novo Nordisk, Pfizer, Regeneron, dan Sanofi.

    Dalam pernyataan yang dirilis di laman Gedung Putih (White House), pemerintahan Trump akan menindak tegas perusahaan yang menolak untuk bertindak. “Pemerintah federal akan mengerahkan segala cara yang kami miliki untuk melindungi keluarga-keluarga Amerika dari praktik penetapan harga obat yang terus-menerus dan tidak adil” tertulis dalam surat tersebut.

    Tonton video selengkapnya di sini…

  • AS Kembali Berdiskusi Setelah 7 Tahun, Bahas Proyek Luar Angkasa

    AS Kembali Berdiskusi Setelah 7 Tahun, Bahas Proyek Luar Angkasa

    Bisnis.com, JAKARTA — Kepala badan antariksa Rusia Roscosmos, Dmitry Bakanov tiba di Houston, Amerika Serikat (AS), untuk mengadakan pembicaraan dengan kepala sementara NASA, Sean Duffy pada Selasa (29/07/25).

    Pertemuan tatap muka tersebut menjadi yang pertama kalinya sejak terakhir kali diadakan pada 2018. Bakanov dan Duffy dijadwalkan akan melakukan pembicaraan pada 31 Juli mendatang, menurut kantor berita TASS Rusia.

    “Kami, bersama NASA berencana membahas proyek bersama yang sedang berlangsung,” jelas pihak Roscosmos terkait tujuannya berkunjung ke AS, dilansir Reuters (29/07/25).

    Proyek kerjasama Roscosmos-NASA itu mencakup program lintas penerbangan, perpanjangan masa operasional Stasiun Luar Angkasa Internasional, dan kerja gugus tugas gabungan Rusia-AS terkait deorbit ISS yang aman, serta pembuangan laut terkendali di masa mendatang.

    Nantinya, Bakanov bersama pejabat NASA akan mengunjungi divisi Johnson Space Center dan fasilitas produksi Boeing untuk pembicaraan dengan pimpinan program luar angkasa perusahaan.

    Selain itu, menjelang peluncuran penerbangan SpaceX Crew-11 NASA, yang dijadwalkan pada 31 Juli, Kepala Roscosmos itu juga akan bertemu dengan awak pesawat ruang angkasa Crew Dragon, yang mencakup kosmonot Rusia, Oleg Platonov.

    Oleg akan tergabung dalam kumpulan kru yang juga terdiri dari tiga astronot lainnya. Mereka adalah perwakilan NASA, Zena Cardman dan Mike Fincke, dan satu astronot Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Kimiya Yui.

    Selama waktu empat astronot tersebut berada di laboratorium yang mengorbit di luar angkasa, mereka akan melakukan penelitian baru untuk mempersiapkan eksplorasi manusia di luar orbit rendah bumi, serta untuk memberi manfaat bagi sesama manusia di Bumi.

    Hubungan Amerika Serikat dan Rusia di sejumlah bidang sudah memburuk sejak invasi Rusia ke Ukraina dilancarkan pada tahun 2022. Namun, kedua negara tersebut masih melakukan kerja sama yang erat di bidang program luar angkasa.

    Pertemuan terakhir antara pimpinan Roscosmos dan NASA terjadi pada Oktober 2018, ketika Direktur Jenderal Roscosmos saat itu, Dmitry Rogozin bertemu langsung dengan Administrator NASA, Jim Bridenstine di Kosmodrom Baykonur, Kazakhstan.

    Pada hari-hari awal setelah Trump kembali menjabat pada Januari, Rusia dan AS bergerak lebih dekat untuk memulihkan hubungan, tetapi Presiden Donald Trump sejak saat itu menjadi tidak sabar dengan Moskow, dengan memberi Rusia waktu 10-12 hari untuk membuat kemajuan dalam mengakhiri perang di Ukraina. (Muhamad Rafi Firmansyah Harun).

  • Trump dan Fenomena Sepak Bola sebagai Alat Politik

    Trump dan Fenomena Sepak Bola sebagai Alat Politik

    JAKARTA – Panggung final Piala Dunia Antarklub 2025 dicoba dicuri sorot kameranya oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Laga final yang berlangsung panas antara Chelsea menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) di Stadion MetLife, New York, Senin pagi WIB, itu seolah-olah menjadi kesempatan emas bagi Trump untuk muncul dan mengambil alih sorotan dunia.

    Sejatinya panggung final dalam kompetisi dengan format baru ini adalah milik Chelsea yang menghajar jawara Liga Champions musim ini, Paris Saint-Germain, dengan keunggulan tiga gol tanpa balas.

    Jika ditanya seseorang yang layak memperoleh sorotan utama tentu saja aksi dari Cole Palmer yang membawa The Blues jawara setelah menyumbangkan dua gol dan satu assits dalam laga ini.

    Pemain tim nasional Inggris tersebut juga diganjar gelar pemain terbaik turnamen atas aksinya yang begitu konsisten hingga mengantarkan Chelsea juara.

    Namun, sorotan utama seakan dicuri dari Palmer, setelah Trump muncul sebagai cameo dalam laga final ini.

    Trump dan sorotan

    Dalam kondisi suhu New York yang berada di titik 30 derajat celcius, upacara pengangkatan trofi Piala Dunia Antarklub 2025 justru terkesan bertele-tele.

    Secara susunan waktu, kick-off laga ini juga terlambat selama sembilan menit dari waktu yang dijadwalkan.

    Upacara seremoni pengangkatan trofi dilakukan pada pukul 22.58 waktu setempat, atau memakan kurang lebih durasi 40 menit untuk mempersiapkan panggung upacara seremoni.

    Seremoni pengangkatan trofi juga tak berjalan baik, ketika Trump yang seharusnya meninggalkan podium malah ikut berselebrasi di samping kapten Chelsea, Reece James.

    Padahal aksi Trump tersebut menuai tanda tanya dan reaksi dari para pemain Chelsea yang berdiri di belakangnya seperti Robert Sanchez, Marc Cucurella, dan Cole Palmer.

    Dalam sebuah seremoni, tak seharusnya Trump ikut berdiri merayakan kemenangan dengan tim juara terlepas posisinya kini sebagai Presiden Amerika Serikat.

    Ini menjadi seremoni buruk yang terkesan menjadi panggung bagi para politisi khususnya Trump yang ingin mencuri perhatian publik melalui gelaran turnamen sepak bola.

    Padahal kehadiran Trump sejak awal memang tak begitu dianggap setelah serangkaian cemooh dilontarkan para penggemar di stadion ketika kamera menyorot dan menampilkannya di layar raksasa saat pertandingan akan dimulai.

    Namun, Presiden berusia 79 tahun tersebut tetap memanfaatkan panggung sepak bola ini sebagai salah satu momentum mendapatkan sorotan publik.

    Trump mengungkapkan bahwa olahraga bisa menjadi salah satu alat untuk bisa menyatukan perdamaian dunia.

    “Ini tentang persatuan, tentang semua orang berkumpul, banyak cinta antara negara-negara. Saya rasa ini adalah olahraga yang paling internasional, itu benar-benar bisa menyatukan dunia,” kata Trump sebagaimana dikutip dari DAZN.

    Segala cara kini coba dilakukan oleh Trump yang memang tengah dalam sorotan sebagai salah satu dalang di balik sejumlah kebijakan kontroversial seperti mengenai penetapan tarif perdagangan Amerika Serikat hingga keikutsertaan Amerika Serikat dalam perang antara Israel melawan Iran.

    Sepak bola sebagai alat politik

    Trump bukanlah satu-satunya politisi yang memanfaatkan sepak bola sebagai momen untuk bisa memperoleh sorotan dunia.

    Sepak bola sebagai ajang olahraga yang paling digemari oleh publik di seluruh jagad raya ini memang kerap dimanfaatkan oleh politisi untuk bisa menuai popularitas hingga membangun citra.

    Ajang sepak bola kini tak bisa dipisahkan dengan alat propaganda politik, bahkan fenomena ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu.

    Hal yang mendasari fenomena ini bisa terjadi adalah karena sepak bola bisa menjadi magnet yang kuat untuk bisa menarik berbagai aspek kepentingan.

    Sebut saja gelaran Piala Dunia 1934 yang berlangsung di Italia sebagai alat politik dari Benito Mussolini.

    Mussolini kala itu ingin menanamkan paham fasisme agar lebih kuat mengakar di Italia, serta memperkenalkan fasisme ke dunia dengan menghelat ajang sepak bola yang punya muatan dan kental dengan hal-hal berbau fasis.

    Lalu Piala Dunia 1978 yang berlangsung di Argentina sebagai alat propaganda dari Jorge Rafael Videla yang tengah berupaya membangun citra kepada dunia pasca kudeta.

    Jorge Rafael Videla yang naik takhta dan memimpin Argentina sejak Maret 1976 memang mempersiapkan ajang Piala Dunia 1978 untuk memoles citranya sebagai pemimpin yang baik-baik saja dan memperkuat nasionalisme penduduk Argentina.

    “Piala Dunia 1978 amat penting bagi Videla. Ajang empat tahunan FIFA itu bahkan bisa memberikan dampak besar terhadap kekuasaannya: menunjukkan Argentina masih baik-baik saja, memperkuat semangat nasionalisme, hingga memberikan kesempatan lebih besar bagi Videla untuk membungkam musuh-musuhnya,” tulis Jonathan Wilson dalam bukunya Angel with Dirty Faces (2015).

    Hal yang sama juga terjadi di gelaran Piala Dunia 2018, ketika Rusia selaku tuan rumah ingin memanfaatkan ajang tersebut sebagai panggung untuk memperbaiki citra dan reputasi mereka di mata dunia internasional.

    Kala itu, Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson menuding Presiden Rusia Vladimir Putin mencurigai bahwa ajang Piala Dunia 2018 dimanfaatkan sebagai propaganda Rusia.

    Melihat sorotan yang begitu besar diperoleh dari pentas sepak bola, rasanya terlalu naif jika para politisi tak memanfaatkannya bahkan untuk sekedar soft selling. Melepaskan sepak bola dengan politisi seakan menjadi mitos dan bualan semata yang dijual hingga kini.

  • Kepulan Asap Setelah Pesawat Jatuh di Bandara London Southend

    Kepulan Asap Setelah Pesawat Jatuh di Bandara London Southend

    Kepolisian Essex menerima laporan sebuah pesawat kecil sepanjang 12 meter jatuh dan terbakar di Bandara London Southend. Kepulan asap membumbung tinggi dari lokasi kejadian.

    Reuters melaporkan belum diketahui secara pasti berapa penumpang yang ada di dalam pesawat tersebut. Sementara pihak bandara mengatakan layanan penerbangan akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

    Melansir BBC, seorang saksi mata bernama John Johnson (40) mengatakan, “Pesawat lepas landas mungkin dalam tiga atau empat detik. Pesawat mulai miring berat ke kiri. Dalam beberapa detik setelah itu, pesawat hampir terbalik dan menghantam tanah. Ada bola api besar”. Johnson lalu menelepon 999 untuk melaporkan kejadian itu.

    Tonton berita video lainnya di sini!

  • Badai PHK Massal Hantam NASA, 2.415 Orang Dipecat Gara-gara Trump

    Badai PHK Massal Hantam NASA, 2.415 Orang Dipecat Gara-gara Trump

    Jakarta, CNBC Indonesia – Efisiensi anggaran yang dicanangkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berdampak besar pada NASA. Badan Antariksa itu diperkirakan akan kehilangan 2.415 staf senior.

    Informasi tersebut berasal dari laporan Politico. Sementara, Engadget mengatakan pengurangan staf bersifat sukarela.

    Dalam laporan Politico menyebutkan kebanyakan pekerja yang akan kena PHK berada di posisi senior. Artinya NASA akan kehilangan talenta dengan keahlian khusus atau pengalaman.

    Sebagian besar pegawai disebutkan bertugas untuk misi NASA menuju antariksa. Sisanya berasal dari manajemen lembaga.

    “Termasuk 1.818 staf di bidang misi seperti sains atau penerbangan antariksa manusia, sisanya dengan peran pendukung misi seperti IT, manajemen fasilitas atau keuangan,” kata laporan Politico, dikutip dari Engadget, Kamis (10/9/2025).

    Selain itu, PHK juga akan berdampak pada mereka yang bekerja di pusat regional organisasi. Termasuk 311 orang dari Kennedy Space Center dan 366 staf Johnson Space Center.

    Engadget menuliskan seluruh pusat NASA itu mengerjakan beberapa misi penting NASA. Kennedy Space Center jadi lokasi peluncuran roket utama NASA, Johnson Space untuk pangkalan operasi penerbangan manusia ke luar angkasa.

    Politico mengatakan pengunduran diri sukarela para pegawai itu hanya setengah dari usulan pemotongan staf yang diajukan dalam anggaran Gedung Putih.

    Sebelumnya pemerintahan Trump meminta anggaran NASA dipangkas lebih dari US$6 miliar pada tahun ini. Kebijakan kemungkinan akan berdampak pada berbagai misi dan proyek penelitian, termasuk stasiun orbit bulan Gateway.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]