Tag: Joe Biden

  • Maduro Didampingi Pengacara Kawakan AS yang ‘Selamatkan’ Pendiri Wikileaks

    Maduro Didampingi Pengacara Kawakan AS yang ‘Selamatkan’ Pendiri Wikileaks

    Washington DC

    Ketika Nicolas Maduro diseret pemerintah AS ke pengadilan di New York, Senin (05/01), Presiden Venezuela itu bukanlah satu-satunya figur yang menarik perhatian media.

    Di sampingnya ada orang yang akan memimpin pembelaannya seorang pengacara Amerika yang dikenal karena memenangkan kasus-kasus luar biasa dan kompleks, seperti yang tengah dihadapi Maduro.

    Pengacara itu bernama Barry Pollack. Dia adalah pengacara pribadi Maduro.

    Pollack akan mendampingi Maduro menghadapi tuduhan memperdagangkan narkotik, mengimpor kokain, dan kepemilikan senapan mesin dan alat peledak.

    Dalam sidang perdana itu, Maduro menyatakan dirinya tidak bersalah atas semua tuduhan. Maduro bilang telah diculik pemerintah AS dan menegaskan bahwa dia tetap berstatus Presiden Venezuela.

    Pollack kini berusia 61 tahun. Dia merupakan pimpinan di firma hukum Wall Street Harris St. Laurent & Wechsler, yang kantornya berjarak beberapa menit berjalan kaki dari gedung pengadilan tempat Maduro diadili.

    Pollack juga berstatus sebagai profesor ilmu hukum di Universitas Georgetown.

    Ilustrasi Pollack di ruang sidang New York bersama Maduro (Reuters)

    ‘Teliti dan bijaksana’

    Menurut website firma hukum Harris St. Laurent & Wechsler, Pollack secara luas diakui sebagai salah satu pengacara litigasi paling terkemuka di negara AS.

    Pollack juga disebut sebagai mantan Presiden Asosiasi Pengacara Pembela Kriminal Nasional.

    Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Pollack dikenal karena menangani “persidangan dan investigasi yang sensitif dan seringkali berprofil tinggi.”

    Di antara kasus-kasus penting yang dia tangani, Pollack berhasil membebaskan Julian Assange, jurnalis dan aktivis asal Australia yang mendirikan WikiLeaks, pada tahun 2024.

    Situs Chambers USA, yang menyusun peringkat firma hukum dan pengacara terbaik di AS, menggambarkan Pollack sebagai “pengacara yang teliti dan bijaksana”.

    Lembaga ini menyebut Pollack “hidup dan bernapas dalam persidangannya” dan “memiliki cara alami untuk tampil di hadapan juri.”

    Dalam wawancara dengan Law Dragon, April 2025,, sebuah media massa yang didedikasikan untuk para profesional hukum, dan dikutip oleh surat kabar Inggris The Guardian, Pollack menyebut beberapa refleksi tentang pekerjaannya.

    “Biasanya, ketika saya bertemu dengan klien, mereka sedang menghadapi krisis terburuk dalam hidup mereka,” kata Pollack.

    “Membimbing mereka melalui proses itu sangatlah memuaskan. Sulit membayangkan melakukan sesuatu yang memiliki dampak lebih besar pada kehidupan orang yang Anda bantu.”

    Pollack juga menyebutkan kekuatan yang dimilikinya.

    “Saya memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan juri,” katanya.

    “Dalam arti tertentu, saya adalah seorang penerjemah. Saya mengambil banyak informasi yang sangat teknis dari industri yang mungkin tidak dikenal oleh juri dan mengkomunikasikannya dengan cara yang mudah dipahami.”

    Pollack bersama Julian Assange, pada hari pembebasan jurnalis asal Australia tersebut pada 2024 (Getty Images)

    Kasus-kasus penting

    Pollack menegosiasikan kesepakatan pembelaan dalam kasus Jullian Assange, yang dia sebut akhirnya membebaskan jurnalis tersebut.

    Assange menghadapi dakwaan berdasarkan Undang-Undang Spionase AS karena mengungkap secara besar-besaran dokumen rahasia AS ke situs WikiLeaks. Assange membeberkan kabel diplomatik dan laporan tindakan militer di Irak dan Afghanistan.

    Setelah berbulan-bulan negosiasi, Assange mengaku bersalah atas satu dakwaan konspirasi untuk memperoleh dan mengungkapkan informasi pertahanan rahasia.

    Sebagai imbalannya, Assange dijatuhi hukuman penjara di Inggris, meski AS berupaya keras mengekstradisinya.

    Assange menghabiskan lima tahun di penjara keamanan maksimum Belmarsh di London dan tujuh tahun melarikan diri dari penegak hukum Inggris dan AS di kedutaan Ekuador di Inggris.

    Dalam kasus ini, kesepakatan yang tidak biasa yang dicapai oleh Pollack pada tahun 2024.

    Kesepakatan itu memungkinkan Assange untuk meninggalkan penjara di Inggris, serta bisa memberikan kesaksian di wilayah AS di Kepulauan Mariana Utara sebelum kembali ke negara asalnya, Australia.

    Di antara kasus-kasus penting lainnya, Pollack juga membebaskan mantan eksekutif Enron Corp., Michael Krautz, dari tuduhan penipuan kriminal.

    Kasus Krautz ini hanyalah satu dari dua kasus yang berakhir dengan putusan bebas dalam rentetan skandal kebangkrutan Enron.

    Pollack juga berhasil membebaskan orang-orang yang telah dipenjara secara tidak adil, seperti Martin Tankleff, yang menghabiskan 17 tahun di penjara setelah dituduh secara tidak adil membunuh orang tuanya saat masih remaja.

    Pollack dipotret di London selama sidang kasus Assange (Getty Images)

    “Penangkapan Maduro jelas ilegal”

    Selama di persidangan Maduro, Pollack menyatakan akan mengantisipasi pertarungan hukum yang panjang tentang apa yang disebutnya sebagai “penculikan Maduro oleh militer AS”.

    Artinya, Pollack akan berkeras dengan argumentasi bahwa operasi AS di Venezuela ilegal, seperti yang dilaporkan Reuters.

    Alonso Gurmendi, seorang ahli hukum internasional dan profesor di London School of Economics di London, mengatakan bahwa berdasarkan hukum internasional, operasi untuk menangkap Maduro “secara jelas, mutlak, dan tak terbantahkan ilegal dan tidak sah.”

    Hukum internasional melarang penggunaan kekuatan lintas batas antarnegara kecuali dalam tiga situasi, kata Gurmendi.

    “Skenario pertama, Dewan Keamanan PBB memberi Anda izin, tapi itu tidak terjadi dalam kasus Maduro. Skenario kedua, negara lain menyerang Anda terlebih dahulu dan Anda membela diri. Itu juga tidak terjadi karena Venezuela tidak menyerang AS berdasarkan interpretasi terluas dari pembelaan diri. Tidak ada serangan bersenjata oleh Venezuela terhadap Amerika Serikat.

    “Skenario ketiga, persetujuan Negara. Artinya, Venezuela harus memberi tahu AS bahwa ‘Anda dapat masuk dan menangkap Maduro,’ sesuatu yang juga tidak terjadi,” ujar Gurmendi.

    “Tidak satu pun dari tiga izin tersebut ada, oleh karena itu operasi tersebut merupakan tindakan ilegal menurut hukum internasional, merupakan tindakan agresi, dan sebagai tindakan agresi, melanggar hak-hak fundamental orang-orang yang terlibat, dalam hal ini Maduro,” ujar Gurmendi.

    Potret Maduro dan istrinya saat tiba di AS usai ditangkap militer AS (Getty Images)

    Profesor William Shabas mengatakan, “pertanyaan tentang ilegalitas penculikan Maduro adalah argumen yang sangat sah.”

    Shabas mencontohkan salah satu kasus yang paling terkenal yakni pada tahun 1960, Adolf Eichmann diculik di Argentina, lantas dibawa ke Israel. Pengadilan Israel menerima dalil penangkapan terhadap mata-mata Mossad itu, tapi pengadilan di Inggris tak sependapat.

    “Dari perspektif hak asasi manusia fundamental, ini adalah argumen yang sangat bagus, tetapi mungkin tidak akan terlalu berhasil di pengadilan AS,” ujarnya.

    Pada sisi lain, Gurmendi menyebut penangkapan dengan cara yang bertentangan dengan hukum tidak membatalkan proses hukum di Amerika Serikat. Hal ini tidak berlaku di banyak negara Amerika Latin.

    “Menurut pola pikir Amerika Latin, itu tidak masuk akal karena penangkapan ilegal berarti Anda merusak yurisdiksi pengadilan dan juga hukum internasional karena perlu perjanjian ekstradisi untuk itu,” ujarnya.

    “Hukum internasional tidak dimulai dari premis bahwa Anda dapat memasuki suatu negara dan melakukan apa pun yang Anda inginkan,” tuturnya.

    Menurut Gurmendi, argumentasi ini menunjukkan sesuatu yang mendasar yang harus dipertimbangkan pengadilan AS.

    “Meskipun Konstitusi Amerika Serikat menyatakan bahwa perjanjian internasional (dan hukum federal) adalah hukum tertinggi di negara itu, dalam tradisi konstitusional Amerika, hukum domestik lebih diutamakan daripada hukum internasional.”

    “Ketika kita berbicara tentang legalitas operasi tersebut, orang-orang di AS akan bertanya apakah presiden memiliki kekuasaan berdasarkan Konstitusi untuk melakukan ini dan membahas, misalnya, apakah Trump membutuhkan otorisasi dari Kongres atau tidak.”

    Potret Demonstrasi di Caracas setelah penangkapan Maduro (Getty Images)

    Argumen kekebalan hukum bagi kepala negara

    Pembelaan lain yang mungkin diajukan untuk Maduro adalah bahwa, sebagai kepala negara, dia menikmati kekebalan hukum.

    “Saya pikir ini adalah argumen dengan potensi yang jauh lebih besar, karena ini sangat jelas dalam hukum internasional,” kata Shabas.

    “Ada putusan dari Mahkamah Internasional yang menetapkan bahwa kepala negara, negara bagian, atau pemerintah menikmati kekebalan hukum di hadapan pengadilan negara lain.”

    Ada preseden di mana pemerintah AS menangkap pemimpin sebuah negara di Amerika Latin, yaitu Jenderal Panama Manuel Noriega, pada Januari 1990.

    Dalam memerintahkan penangkapan Noriega, Gedung Putih mengandalkan pendapat hukum tahun 1989 oleh Wakil Jaksa Agung saat itu, Bill Barr, yang dikeluarkan enam bulan sebelum invasi AS ke Panama.

    Barr kala itu berpendapat, larangan penggunaan kekerasan dalam hubungan internasional, yang diabadikan dalam Piagam PBB, tidak bisa mencegah AS untuk melakukan penangkapan di luar negeri demi menegakkan hukum domestik.

    Noriega adalah pemimpin de facto Panama pada saat itu dan tidak pernah memegang jabatan presiden secara resmi. Negara itu saat itu berada dalam kekacauan akibat protes dan upaya pemberontakan militer.

    Kasus Noriega “adalah satu-satunya preseden yang menurut saya dapat dijadikan acuan oleh pihak penuntut,” menurut Shabas.

    “Tetapi saya pikir ada beberapa perbedaan penting antara kasus itu dan situasi Maduro. Dan karena itu, saya pikir Maduro memiliki argumen yang jauh lebih kuat dalam hal itu.”

    Amerika Serikat menangkap pemimpin de facto Panama, Jenderal Manuel Noriega, pada tahun 1990 (Getty Images)

    Beberapa pakar hukum berpendapat, jaksa AS kemungkinan akan berargumen bahwa mereka tidak mengakui Maduro sebagai kepala negara yang sah.

    Sebagai konteks, AS mendeklarasikan pemimpin oposisi Juan Guaid sebagai presiden sementara pada tahun 2019.

    Namun menurut Shabas, “intinya adalah Amerika Serikat mengakui Venezuela. Dan pertanyaannya kemudian sederhana: siapa kepala negara di Venezuela? Dan jika bukan Maduro, mengapa dia diculik? Jelas, dia adalah kepala negara dalam arti objektif, bahkan jika mereka keberatan, jika mereka tidak menyukainya, jika mereka mengklaim dia merebut kekuasaan secara tidak sah.”

    “Lagipula, Donald Trump mengatakan bahwa Joe Biden adalah kepala negara yang tidak sah selama empat tahun karena dia mengklaim telah memenangkan pemilihan. Jadi ini tidak mengubah apa pun dari perspektif hukum internasional,” ujarnya.

    Menurut Gurmendi, kegagalan pemerintah AS untuk mengakui Maduro “tidak berarti bahwa ia tidak memiliki kendali efektif atas negara tersebut dan oleh karena itu, berdasarkan hukum internasional, ia adalah orang yang harus dilindungi oleh kekebalan hukum.”

    Gurmendi bilang, fakta bahwa argumen kekebalan hukum tidak berhasil dalam kasus Noriega sekali lagi menunjukkan bahwa “kita berada dalam realitas di mana terdapat dua sistem normatif yang saling bertentangan, hukum nasional Amerika Serikat dan hukum internasional.”

    “Di Amerika Latin, misalnya, ada banyak negara yang mengatakan bahwa ketika terjadi konflik antara hukum internasional dan hukum domestik, hukum internasional yang berlaku.

    “Itulah yang terjadi di Peru dan beberapa negara lain di kawasan ini, tetapi tidak demikian halnya di Amerika Serikat,” kata Gurmendi.

    (nvc/nvc)

  • AS Terapkan Pajak Side-by-Side, Apa Dampaknya ke RI?

    AS Terapkan Pajak Side-by-Side, Apa Dampaknya ke RI?

    Bisnis.com, JAKARTA — Penerapan skema perpajakan side-by-side oleh Amerika Serikat yang menggantikan Global Minimum Tax (GMT) dinilai tidak akan menganggu skema perpajakan global maupun menggerus potensi penerimaan negara Indonesia.

    Kepala Riset Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menjelaskan bahwa mekanisme Qualified Domestic Minimum Top-up Tax (QDMTT) yang telah diadopsi Indonesia tetap berlaku efektif, meski AS mendapatkan pengecualian dari pajak minimum global/Pilar Dua OECD.

    Skema perpajakan side-by-side, sambungnya, memang tidak lagi mematuhi mekanisme Income Inclusion Rules (IIR) dan Undertaxed Payment Rule (UTPR) dalam pajak minimum global. Hanya saja, skema side-by-side tetap sejalan dengan mekanisme QDMTT.

    “Pemerintah Indonesia masih bisa mengenakan pajak tambahan jika perusahaan asal AS memiliki tarif efektif kurang dari 15% [lewat mekanisme QDMTT]. Jadi, kita tidak perlu takut akan kebocoran basis pajak, hal itu tidak terjadi,” ungkapnya kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).

    Fajry menjelaskan bahwa skema side-by-side justru membuktikan komitmen AS untuk menjaga eksistensi pajak minimum global. Instrumen ini dinilai tetap ampuh mencegah praktik penghindaran pajak ke yurisdiksi bertarif rendah serta menahan laju penurunan tarif pajak penghasilan korporasi (PPh Badan) atau race to the bottom seperti tujuan skema pajak global OECD.

    Oleh sebab itu, dia melihat pengecualian perusahaan multinasional asal AS tidak akan mengubah Negeri Paman Sam menjadi surga pajak (tax haven). Pasalnya, meski tidak tunduk pada IIR ataupun UTPR, korporasi AS tetap terikat aturan domestik yang ketat.

    Fajry menjelaskan mekanisme Global Intangible Low-Taxed Income (GILTI) yang kini bertransformasi menjadi Non-Continental Taxable Income (NCTI) dalam rancangan undang-undang One Big Beautiful Bill (OBBA).

    “Sebaliknya, tarif efektif dari NCTI jauh lebih besar dibandingkan tarif efektif dari GMT,” tambahnya.

    Dari sisi geopolitik, Fajry menganalisis manuver Kementerian Keuangan AS ini sebagai upaya penyelarasan insentif fiskal, khususnya terkait riset dan pengembangan (R&D). Langkah ini dinilai wajar mengingat AS tengah berkompetisi ketat dengan China dalam supremasi teknologi, seperti artificial intelligence atau akal imitasi (AI).

    Langkah serupa, menurutnya, juga terlihat pada kebijakan insentif fiskal era pemerintahan Joe Biden lewat Inflation Reduction Act (IRA) maupun CHIPS Act.

    Bagi Indonesia, dia menilai perkembangan ini tidak mengganggu peta jalan implementasi pajak internasional yang telah disusun.

    “Kita masih on-track dengan timeline [peta jalan] yang sudah ada. Sampai sekarang saya belum melihat ancaman besar dari hal tersebut bagi Pemerintah Indonesia,” tutup Fajry.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent menegaskan bahwa kesepakatan pajak minimum global atau Pilar Dua OECD/G20 tidak akan berlaku bagi perusahaan multinasional asal Negeri Paman Sam usai mencapai kesepakatan multilateral.

    Bessent menyatakan langkah ini merupakan tindak lanjut dari Perintah Eksekutif Hari Pertama (Day One Executive Orders) Presiden AS Donald Trump yang secara tegas menganulir kesepakatan Pilar Dua OECD/G20 yang sebelumnya diajukan oleh pemerintahan presiden sebelumnya, Joe Biden. Menurutnya, proposal era Biden tersebut tidak lagi memiliki kekuatan hukum bagi AS.

    “Hari ini, Pemerintahan [Trump] memenuhi janji tersebut. Melalui koordinasi erat dengan Kongres, Kementerian Keuangan bekerja untuk mencapai kesepakatan dengan lebih dari 145 negara dalam OECD/G20 Inclusive Framework,” ungkap Bessent dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (6/1/2026).

    Bessent menjelaskan bahwa dalam kesepakatan tersebut, perusahaan yang berkantor pusat di AS akan tetap tunduk hanya pada pajak minimum global AS, sekaligus mendapatkan pengecualian dari ketentuan Pillar Dua OECD/G20.

    Kesepakatan yang bertajuk “side-by-side agreement” ini dinilai mengakui kedaulatan pajak AS atas operasi perusahaan AS di seluruh dunia, sekaligus menghormati kedaulatan pajak negara lain atas aktivitas bisnis di dalam batas wilayah mereka masing-masing.

    Lebih lanjut, Bessent menyoroti bahwa kesepakatan ini penting untuk melindungi nilai kredit penelitian dan pengembangan (R&D) AS serta insentif investasi lainnya yang telah disetujui Kongres. Perkembangan tersebut dinilai krusial untuk mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja di dalam negeri, sejalan dengan visi AS untuk memimpin inovasi dan kemajuan teknologi.

    “Kesepakatan ini merupakan kemenangan bersejarah dalam menjaga kedaulatan AS dan melindungi pekerja serta bisnis Amerika dari jangkauan ekstrateritorial yang berlebihan,” katanya.

    Ke depan, Kementerian Keuangan AS berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dengan negara-negara asing guna memastikan implementasi penuh dari kesepakatan ini. Selain itu, sambung Bessent, AS akan berupaya membangun stabilitas pajak internasional serta bergerak menuju dialog konstruktif terkait perpajakan ekonomi digital.

  • Gimana Nasib Minyak Venezuela Setelah AS Singkirkan Maduro?

    Gimana Nasib Minyak Venezuela Setelah AS Singkirkan Maduro?

    Jakarta

    Serangan Amerika Serikat (AS) ke Caracas dan penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro membuat negara Amerika Selatan itu berada dalam situasi penuh kebingungan dan ketidakpastian.

    Presiden AS Donald Trump, sesaat setelah operasi tersebut, menyatakan bahwa AS akan “mengelola” Venezuela. Pernyataan itu tampaknya ingin memberitahukan tentang bagaimana Washington akan menangani komoditas utama negara itu, yakni minyak.

    “Kami akan mengirim perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, untuk masuk ke sana, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, terutama infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut,” kata Trump.

    Seberapa penting minyak bagi Venezuela?

    Perekonomian Venezuela yang rapuh sangat bergantung pada sektor minyak. Pemerintahan Maduro hampir sepenuhnya mengandalkan hidrokarbon sebagai sumber pendapatan negara.

    Minyak mentah dan produk turunannya, termasuk petrokimia, menyumbang sekitar 90 persen dari total pendapatan ekspor Venezuela. Sektor ini membantu pemerintah yang terisolasi dan terkena sanksi berat tetap bertahan meski negara itu dilanda krisis ekonomi parah.

    Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel, bahkan melampaui Arab Saudi. Namun, kontribusinya terhadap produksi minyak global kini kurang dari 1 persen. Angka ini merosot tajam dibandingkan dekade 1960-an, ketika Venezuela menyumbang lebih dari 10 persen produksi minyak dunia. Produksi minyak mentah Venezuela telah anjlok lebih dari 70 persen sejak akhir 1990-an, dan negara ini kini berada di peringkat ke-21 produsen minyak dunia.

    Kemerosotan ini berakar pada kebijakan pemerintahan mantan Presiden Hugo Chavez. Revolusi sosialis yang ia jalankan pada 1990-an dan 2000-an memicu korupsi besar-besaran di perusahaan minyak negara PDVSA, serta mendorong hengkangnya investasi asing akibat campur tangan pemerintah dalam sektor energi.

    PDVSA saat ini mampu menstabilkan produksi di kisaran satu juta barel per hari. Hal ini sebagian dimungkinkan oleh lisensi AS yang mengizinkan sejumlah mitra asing terbatas beroperasi di Venezuela dan mengekspor minyak.

    Sejauh mana keterlibatan perusahaan minyak AS di Venezuela?

    Sepanjang abad ke-20, AS merupakan mitra utama sektor minyak Venezuela, dengan perusahaan-perusahaan besar AS menanamkan investasi besar di negara itu.

    Namun, hampir semua perusahaan tersebut hengkang setelah revolusi Chavez, kecuali Chevron.

    Meski terkena dampak sanksi, Chevron memperoleh lisensi khusus dari pemerintahan Joe Biden pada 2022 untuk kembali mengekspor minyak Venezuela dengan syarat ketat. Langkah ini bertujuan meredakan tekanan pasar minyak global setelah invasi Rusia ke Ukraina.

    Pada Oktober tahun ini, pemerintahan Trump memberikan kembali izin kepada Chevron untuk memproduksi minyak di Venezuela, dengan alasan perusahaan AS tersebut merupakan mitra penting bagi Caracas.

    Chevron menjadi pihak yang paling berpotensi diuntungkan jika Trump membuka kembali pintu investasi AS di Venezuela. Saat ini, Chevron mempekerjakan sekitar 3.000 orang di negara tersebut. Dalam pernyataannya, Chevron menyebut akan beroperasi “dengan mematuhi sepenuhnya seluruh hukum dan peraturan yang berlaku”, tetapi tidak mengomentari kemungkinan ekspansi bisnis.

    Trump juga menyatakan perusahaan-perusahaan minyak besar AS akan kembali ke Venezuela, termasuk ExxonMobil dan ConocoPhillips.

    ExxonMobil, perusahaan minyak terbesar AS, asetnya disita oleh pemerintahan Chavez pada 2007. Proyek-proyek ConocoPhillips di Hamaca, Petrozuata, dan Corocoro juga mengalami nasib serupa. Kedua perusahaan memenangkan kompensasi bernilai miliaran dolar dalam arbitrase internasional, tetapi hingga kini Venezuela belum membayarnya. Inilah yang menjadi dasar klaim Trump tentang “minyak yang dicuri”.

    “Kami membangun industri minyak Venezuela dengan bakat, dorongan, dan keahlian Amerika, lalu rezim sosialis mencurinya dari kami pada pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Mereka mencurinya dengan kekerasan,” kata Trump.

    “Ini merupakan salah satu pencurian properti Amerika terbesar dalam sejarah negara kami,” tambahnya.

    ConocoPhillips menyatakan sedang “memantau perkembangan di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap pasokan dan stabilitas energi global”. Perusahaan itu menambahkan bahwa masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan.

    Apakah AS benar-benar membutuhkan minyak Venezuela?

    AS saat ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia. Sekilas, hal ini menimbulkan pertanyaan mengapa Trump begitu berambisi terhadap minyak Venezuela.

    Kuncinya terletak pada jenis minyak. Produksi utama AS adalah minyak mentah ringan, bukan minyak berat yang lebih kental. Padahal, banyak kilang minyak AS, terutama di wilayah Teluk Meksiko, dirancang untuk mengolah minyak berat menjadi bensin, diesel, dan produk penting lainnya.

    Meski menjadi produsen besar, AS tetap mengimpor minyak berat dari negara seperti Kanada dan Meksiko untuk memasok kilang-kilang tersebut. Akibatnya, sebagian besar minyak mentah ringan yang diproduksi di AS justru diekspor.

    “Menggunakan jenis minyak mentah yang tepat membuat kilang kami lebih efisien, menekan biaya, dan menjaga ketahanan energi,” kata Asosiasi Produsen Bahan Bakar dan Petrokimia Amerika Serikat (AFPM). “Mengubah kilang agar hanya memproses minyak mentah AS akan menelan biaya miliaran dolar, berisiko tinggi, dan membutuhkan waktu puluhan tahun.”

    Meski produksi Venezuela merosot tajam, cadangan minyaknya mencakup cadangan minyak berat terbesar di dunia, jenis yang dibutuhkan kilang-kilang AS. Selama beberapa dekade, minyak berat Venezuela menjadi pasokan utama bagi kilang AS.

    Hal inilah yang membuat akses kembali ke minyak Venezuela sangat menarik bagi perusahaan-perusahaan AS.

    Mungkinkah janji minyak Trump di Venezuela terwujud?

    Masih ada pertanyaan hukum dan logistik besar terkait apakah minyak akan kembali mengalir dari Venezuela.

    Bentuk pemerintahan yang akan terbentuk di Venezuela setelah ketiadaan Maduro masih belum jelas. Selain itu, sejauh mana pemerintahan baru akan mempermudah upaya AS memengaruhi sektor minyak negara tersebut juga masih belum diketahui.

    Kondisi infrastruktur minyak Venezuela juga menjadi tanda tanya. Menurut mantan Menteri Energi AS pada pemerintahan pertama Trump, Dan Brouillette, laporan awal yang menunjukkan fasilitas minyak Venezuela masih utuh tidak serta-merta menjamin cadangan besar itu bisa segera dimanfaatkan.

    “Kendala utama bukan pada geologi, melainkan tata kelola, sanksi, akses modal, dan pelaksanaan,” tulis Brouillette di LinkedIn. “Jika perubahan politik membawa stabilitas cepat dan otoritas yang kredibel atas PDVSA, potensi tambahannya bersifat bertahap, bukan lonjakan mendadak.”

    Meski beberapa perusahaan asing tetap bertahan di Venezuela, sanksi membuat fasilitas minyak negara itu kekurangan investasi untuk pembaruan. Besarnya kebutuhan investasi baru kemungkinan baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan.

    Faktor lain adalah permintaan global terhadap minyak. Harga minyak telah turun sepanjang tahun lalu dan diperkirakan akan terus melemah pada 2026 akibat kelebihan pasokan. Jika janji Trump soal Venezuela terwujud, pasokan minyak tambahan akan masuk ke pasar global yang sudah jenuh.

    Bagaimana dengan Cina?

    Selama dua dekade terakhir, Cina menjadi mitra politik dan ekonomi penting bagi Venezuela.

    Di sektor minyak, perusahaan Cina National Petroleum Corporation (CNPC) memiliki usaha patungan dengan PDVSA. Sebagian besar minyak Venezuela dikirim ke Cina. Namun, Beijing tidak secara signifikan memperluas operasinya di Venezuela meski AS sebelumnya menarik diri.

    Cina mengecam keras penyingkiran Maduro oleh AS dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Venezuela.

    Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

    Editor: Prihardani Purba

    (ita/ita)

  • Tutup 2025, Ini Daftar Kunjungan Kenegaraan Prabowo Subianto Selama Menjabat

    Tutup 2025, Ini Daftar Kunjungan Kenegaraan Prabowo Subianto Selama Menjabat

    Bisnis.com, JAKARTA – Tahun 2025 ditutup Presiden Prabowo Subianto dengan satu ciri yang menonjol: diplomasi bergerak. Dari Beijing hingga Moskow, dari Riyadh sampai Washington, dari forum ekonomi global hingga kunjungan kemanusiaan di Timur Tengah, langkah Prabowo sepanjang tahun ini memperlihatkan arah politik luar negeri Indonesia yang aktif, personal, dan sarat pesan geopolitik.

    Dalam tempo kurang dari satu tahun penuh masa pemerintahannya, Prabowo menjelma menjadi salah satu kepala negara dengan intensitas kunjungan luar negeri tertinggi di kawasan. Lawatan itu tidak semata seremoni, melainkan dirangkai dengan pertemuan bilateral, forum multilateral, penandatanganan perjanjian strategis, hingga diplomasi simbolik—dari parade militer hingga tabur bunga di makam korban perang.

    Diplomasi ini menandai gaya kepemimpinan Prabowo: keras dalam kepentingan nasional, lentur dalam pergaulan global, dan konsisten membawa satu narasi utama—Indonesia sebagai negara besar Global South yang mengusung prinsip seribu kawan, tanpa musuh.

    Babak Awal: Asia Timur dan Amerika Serikat

    Berdasarkan data yang dirangkum Bisnis, Prabowo mengawali lawatan internasionalnya ke Beijing, China pada 8 November 2024, hanya tiga pekan setelah dilantik. Setelah itu, rangkaian diplomasi berlanjut ke Amerika Serikat, Brasil, Uni Emirat Arab, hingga ke Eropa dan Timur Tengah.

    Langkah awal diplomasi Prabowo dibuka di Beijing pada November. Dalam kunjungan ke China, ia bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping, Perdana Menteri Li Qiang, dan Ketua Kongres Rakyat Nasional Zhao Leji. Di balik protokoler kenegaraan, pembahasan mencakup isu konkret pendidikan, perdagangan, hingga program makan bergizi gratis (MBG) yang menjadi salah satu ikon kebijakan domestik Prabowo.

    Puncaknya adalah penandatanganan nota kesepahaman bisnis Indonesia–China senilai lebih dari US$10 miliar. Ini bukan hanya angka investasi, tetapi penegasan bahwa hubungan Jakarta–Beijing tetap menjadi salah satu poros ekonomi Asia.

    Dari Beijing, Prabowo terbang ke Washington, D.C. Di Gedung Putih, ia bertemu Presiden Joe Biden, Menteri Pertahanan Lloyd Austin, hingga Direktur CIA William J. Burns. Isu Indo-Pasifik, transisi energi, rantai pasok global, serta konflik Gaza dan Laut China Selatan menjadi menu utama perbincangan. Kunjungan ini menegaskan keseimbangan politik luar negeri Indonesia: menjaga hubungan erat dengan China, tanpa menjauh dari Amerika Serikat.

    Ritme diplomasi Prabowo berlanjut ke forum-forum global. Dia hadir di KTT APEC di Lima, Peru, lalu melanjutkan ke KTT G20 di Rio de Janeiro, Brasil. Di dua forum ini, Prabowo menempatkan Indonesia sebagai suara negara berkembang yang menuntut keadilan ekonomi global dan reformasi tata kelola internasional.

    Desember 2024 ditutup dengan lawatan ke Kairo untuk menghadiri KTT Developing Eight (D-8). Mesir bukan hanya mitra ekonomi, tetapi juga simpul penting diplomasi dunia Islam. Di sana, Prabowo menegaskan posisi Indonesia dalam isu Palestina dan solidaritas kemanusiaan global.

    Salah satu lawatan paling disorot adalah kunjungan Prabowo ke Britania Raya. Bertemu Raja Charles III dan Perdana Menteri Keir Starmer, Prabowo membawa isu lingkungan dan pengelolaan hutan berkelanjutan ke jantung monarki Inggris. Lawatan ini juga menghasilkan komitmen investasi senilai US$8,5 miliar.

    Dari London, Prabowo terbang ke Abu Dhabi. Hubungan dengan Uni Emirat Arab menjadi salah satu pilar strategis diplomasi Prabowo. Bersama Presiden Mohammed bin Zayed, ia membahas perdamaian Timur Tengah, stabilitas kawasan, serta kerja sama ekonomi jangka panjang.

    Rangkaian kunjungan ke Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania pada April 2025 memperlihatkan diplomasi intensif Prabowo di kawasan konflik. Dari Ankara hingga Amman, isu Gaza, kemitraan strategis, dan solidaritas dunia Islam menjadi benang merah.

    Asean dan Asia Tenggara: Rumah Besar Diplomasi

    Asia Tenggara tetap menjadi halaman depan diplomasi Indonesia. Sepanjang 2025, Prabowo tercatat berulang kali mengunjungi Malaysia—baik dalam kapasitas pribadi, silaturahmi Idulfitri, hingga forum resmi Asean.

    Dia menghadiri KTT Asean ke-46 dan ke-47 di Kuala Lumpur, menyaksikan pengukuhan Timor Leste sebagai anggota penuh Asean, serta menegaskan komitmen Indonesia terhadap integrasi kawasan, ekonomi digital, dan keberlanjutan.

    Kunjungan ke Thailand, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina (melalui forum regional) menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai jangkar stabilitas Asean.

    Salah satu penanda penting diplomasi Prabowo adalah penguatan hubungan dengan Rusia dan negara-negara Eropa Timur. Di Saint Petersburg International Economic Forum, Prabowo tampil sebagai pembicara utama dan bertemu Presiden Vladimir Putin.

    Kesepakatan yang dibahas meliputi pertahanan, energi nuklir, perdagangan, teknologi, hingga pendidikan. Indonesia juga mendorong kemajuan kerja sama perdagangan bebas dengan Eurasian Economic Union (EAEU). Prabowo juga menyempatkan diri menabur bunga di Piskaryovskoye Memorial Cemetery—gestur simbolik yang kuat dalam diplomasi Rusia.

    Di Belarus, dia bertemu Presiden Aleksandr Lukashenko untuk membahas pasokan pupuk, isu krusial bagi ketahanan pangan Indonesia.

    Sementara itu, kehadiran Prabowo di KTT BRICS di Brasil mempertegas posisi Indonesia di Global South. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya kerja sama Selatan-Selatan dan menolak politik blok.

    Simbol dan Pesan: Bastille Day, Expo Osaka, dan PBB

    Diplomasi Prabowo juga kaya simbol. Dia menjadi tamu kehormatan Presiden Emmanuel Macron dalam parade militer Hari Bastille di Paris. Kontingen gabungan TNI–Polri yang berparade di Champs-Élysées menjadi pesan kuat bahwa Indonesia adalah mitra strategis, bukan sekadar tamu.

    Di Osaka, Prabowo meninjau Paviliun Indonesia di Expo 2025, membawa wajah ekonomi kreatif dan inovasi nasional ke panggung dunia.

    Sementara di New York, dia tampil di Sidang Majelis Umum PBB ke-80, menyampaikan pidato tentang solusi dua negara untuk Palestina dan menegaskan komitmen Indonesia pada multilateralisme.

    Menjelang akhir tahun 2025, Prabowo mengunjungi Australia, Pakistan, dan Rusia. Di Sydney, ia bertemu PM Anthony Albanese dan mengumumkan substansi perjanjian keamanan bilateral baru. Di Islamabad, ia memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Pakistan.

    Tahun ditutup di Moskow, saat Prabowo kembali bertemu Vladimir Putin di Istana Kremlin—menjadi penanda bahwa hubungan Indonesia–Rusia tetap strategis di tengah dinamika global.

    Tabel: Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo Subianto

    No

    Tanggal (perkiraan)

    Negara

    Kota

    Jenis kunjungan / Agenda utama

    Hasil / catatan ringkas

    1

    8–10 Nov 2024

    China (RRC)

    Beijing

    Kunjungan kerja/kenegaraan: pertemuan bilateral dengan pimpinan RRT; agenda investasi & kerja sama

    Penandatanganan nota/kerja sama ekonomi — bagian dari lawatan pembukaan rangkaian kunjungan luar negeri perdana.

    2

    10–12 Nov 2024

    Amerika Serikat

    Washington, D.C.

    Pertemuan bilateral dengan pejabat AS (agenda: hubungan bilateral, investasi)

    Pertemuan tingkat tinggi; bagian dari lawatan multinegara.

    3

    12–16 Nov 2024

    Peru

    Lima

    Hadir pada rangkaian kegiatan APEC 2024

    Partisipasi pada forum APEC; pertemuan multilateral & bilateral.

    4

    16–20 Nov 2024

    Brasil

    Rio de Janeiro

    Hadir pada KTT G20 / forum bilateral Indonesia-Brasil

    Forum investasi dan business forum; agenda perdagangan.

    5

    20–23 Nov 2024

    Britania Raya

    London

    Kunjungan bilateral / pertemuan dengan pemimpin UK

    Agenda: pertemuan tingkat tinggi (termasuk pertemuan protokoler dengan tokoh UK).

    6

    23–24 Nov 2024

    Uni Emirat Arab

    Abu Dhabi

    Pertemuan bilateral tingkat tinggi

    Penguatan kerja sama ekonomi/strategis.

    7

    23–27 Jan 2025

    India

    New Delhi

    Kunjungan kenegaraan; Chief Guest peringatan Hari Republik India

    Penandatanganan serangkaian MoU kerja sama, perbincangan pertahanan, ekonomi, kesehatan.

    8

    19 May 2025

    Thailand

    Bangkok

    Kunjungan kenegaraan resmi — peningkatan hubungan jadi Strategic Partnership

    Pengumuman peningkatan hubungan menjadi Strategic Partnership dan beberapa MoU kerjasama.

    9

    18–20 Jun 2025

    Rusia

    St. Petersburg

    Kunjungan resmi / pertemuan bilateral (ikut forum/agenda ekonomi)

    Pertemuan dengan Presiden Putin; pernyataan kemitraan strategis dan beberapa nota kerja sama.

    10

    17–18 Jun 2025*

    Republik Ceko (transit)

    Praha

    Transit resmi / pertemuan transit dengan pejabat

    Catatan transit/protokoler (dilaporkan dalam ringkasan kunjungan Eropa).

    11

    1–3 Jul 2025

    Arab Saudi

    Jeddah / Riyadh

    Kunjungan kenegaraan awal lawatan luar negeri (agenda kerja sama, diplomasi haji/energi)

    Dialog strategis, pertemuan tingkat tinggi; rencana tindak lanjut kerja sama.

    12

    13–15 Jul 2025

    Prancis

    Paris

    Kunjungan kenegaraan / menghadiri peringatan Bastille Day (undangan) & pertemuan bilateral

    Penguatan kemitraan strategis; serangkaian pertemuan tingkat tinggi, penghargaan diplomatik (liputan luas).

    13

    (Juni–Jul 2025) — rangkaian Eropa

    Beberapa kota Eropa

    Paris, (kunjungan lain tercatat)

    Rangkaian pertemuan dengan pemimpin Uni Eropa dan negara Eropa

    Pertemuan multilater/ bilateral; penguatan kerja sama perdagangan dan pertahanan.

    14

    Sep 2025 (mid-Sep)

    Jepang

    Osaka

    Kunjungan/kunjungan resmi dan meninjau Paviliun Indonesia di Expo Osaka 2025

    Kunjungan pameran, promosi investasi dan budaya.

    15

    20–23 Sep 2025

    Amerika Serikat

    New York 

    Hadir di Sidang Umum PBB (debate general) → lanjut ke Ottawa (pertemuan bilateral)

    Pidato di Sidang Umum PBB; pertemuan bilateral di Ottawa dan pengumuman investasi/kerja sama.

    16

    24 Sep 2025

    Kanada

    Ottawa

    Melakukan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Mary Simon dan Perdana Menteri Mark Carney

    Menyaksikan penandatanganan Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), serta membahas isu perdagangan, pertahanan, hubungan masyarakat, Indo-Pasifik, dan Palestina

    17

    25—26 Sep 2025

    Belanda

    Amsterdam

    Melakukan pertemuan resmi dengan Raja Willem-Alexander dan Ratu Máxima di Istana Huis ten Bosch

    Membahas penguatan hubungan bilateral dan kerja sama strategis Indonesia–Belanda.

    18

    13 Okt 2025

    Mesir

    Sharm El-Sheikh

    Menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Abdel Fattah El-Sisi di Istana Al Ittihadiyah,

    Membahas isu kemanusiaan dan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina dalam rangka memperkuat diplomasi regional dan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Mesir.

    19

    25—28 Okt 2025

    Malaysia

    Kuala Lumpur

    Melakukan kunjungan kenegaraan ke Kuala Lumpur, Malaysia, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 Asean

    Berpartisipasi dalam sesi pembukaan, penandatanganan pengukuhan Timor Leste sebagai anggota penuh Asean, sejumlah pertemuan pleno dan bilateral, serta menyampaikan komitmen Indonesia terhadap penguatan kerja sama kawasan, inklusivitas, keberlanjutan, dan pengembangan ekonomi digital

    20

    30 Okt—1 Nov 2025

    Korea Selatan

    Gyeongju

    Menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC 2025 dan melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Lee Jae-myung

    Membahas kerja sama ekonomi dan pertahanan termasuk proyek KF-21 Boramae, serta menghadiri jamuan kenegaraan

    21

    11-12 Nov 2025

    Australia

    Sydney

    Menghadiri upacara kenegaraan, bertemu Perdana Menteri Anthony Albanese untuk membahas penguatan kemitraan strategis serta kerja sama ekonomi, pendidikan, dan pertahanan, meninjau kapal HMAS Canberra

    Mengumumkan poin substantif perjanjian keamanan bilateral baru, dan menghadiri jamuan serta pertemuan dengan sejumlah tokoh Australia

    22

    8—9 Des 2025

    Pakistan

    Islamabad

    Memperingati 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, menghadiri pertemuan bilateral dengan Presiden Asif Ali Zardari, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan pimpinan militer Pakistan,

    Menandatangani sejumlah nota kesepahaman yang mencakup bidang perdagangan, pertahanan, kesehatan, pendidikan, teknologi, dan kerja sama budaya

    23

    10 Des 2025

    Rusia

    Moskow

    Melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin

    Membahas penguatan kerja sama strategis Indonesia–Rusia di bidang politik, ekonomi, energi, dan perdagangan

    Sumber: berbagai sumber diolah penulis secara mandiri

  • AS Tuding China Distorsi Pasar Chip, Tetap Tunda Tarif Tambahan hingga 2027

    AS Tuding China Distorsi Pasar Chip, Tetap Tunda Tarif Tambahan hingga 2027

    Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat (AS) menuduh China melakukan praktik perdagangan tidak adil di sektor semikonduktor. Meski demikian, AS memutuskan untuk menunda pengenaan tarif tambahan atas impor chip setidaknya hingga pertengahan 2027.

    Melansir Bloomberg pada Rabu (24/12/2025), Kantor Perwakilan Dagang AS atau Office of the US Trade Representative (USTR) merilis hasil penyelidikan hampir satu tahun terhadap sektor chip China. 

    USTR menyimpulkan China telah menerapkan kebijakan nonpasar yang semakin agresif dan luas untuk memperkuat industri semikonduktornya, sekaligus menciptakan ketergantungan global terhadap produk China dengan cara yang merugikan perdagangan AS.

    Meski belum mengumumkan tarif baru dalam waktu dekat, pemerintah AS membuka peluang penerapan bea masuk di masa mendatang. USTR menyatakan tarif awal akan tetap nol selama 18 bulan, sebelum dinaikkan pada 23 Juni 2027 ke tingkat yang akan diumumkan setidaknya 30 hari sebelumnya.

    “Upaya China menargetkan dominasi industri semikonduktor merupakan tindakan yang tidak masuk akal serta membebani atau membatasi perdagangan AS, sehingga dapat ditindaklanjuti,” tulis USTR dalam sebuah pemberitahuan.

    Adapun, Kedutaan Besar China di Washington DC belum memberikan tanggapan terkait pengumuman USTR tersebut

    Adapun, pengumuman USTR berfokus pada chip dasar atau foundational chips—juga dikenal sebagai chip generasi lama atau mature-node—yang diproduksi di China. 

    Meski tidak secanggih chip untuk kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), teknologi lama ini digunakan secara luas di berbagai sektor, termasuk otomotif, penerbangan, perangkat medis, dan telekomunikasi.

    Produk yang berpotensi dikenai tarif baru mencakup dioda, transistor, silikon mentah, sirkuit terintegrasi elektronik, serta berbagai komponen input lainnya. Namun, kebijakan tersebut untuk saat ini tidak akan berlaku pada produk jadi, seperti komputer dan ponsel pintar, yang menggunakan chip buatan China.

    “Perwakilan Dagang AS akan terus memantau efektivitas kebijakan ini, perkembangan penyelesaian isu terkait, serta kebutuhan akan langkah tambahan,” tulis USTR.

    Penyelidikan tersebut diluncurkan pada pekan-pekan terakhir masa pemerintahan Presiden Joe Biden, dengan ekspektasi penyelesaiannya akan ditangani di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.

    Dalam periode tersebut, Trump mencapai kesepakatan gencatan senjata perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping untuk mengakhiri perang dagang yang sebelumnya mengguncang pasar global.

    Hubungan China-AS

    Keputusan menunda pengenaan tarif baru ini menjadi sinyal terbaru bahwa pemerintahan Trump berupaya menstabilkan hubungan dengan China dan mengokohkan kesepakatan yang dicapai Trump dan Xi pada Oktober lalu di Korea Selatan. 

    Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat menahan lonjakan tarif ekstrem serta melonggarkan pembatasan ekspor teknologi dan mineral kritis.

    Secara hukum, USTR wajib mempublikasikan hasil penyelidikan Pasal 301 dalam waktu 12 bulan sejak dimulai pada Desember tahun lalu. 

    Sebelumnya, pemerintahan Biden memerintahkan kenaikan tarif semikonduktor asal China hingga dua kali lipat menjadi 50% pada akhir 2025 melalui penyelidikan Pasal 301 yang terpisah. Dengan tetap membuka opsi kenaikan tarif lanjutan, Trump menciptakan potensi alat tawar tambahan jika kesepakatan tarif dengan Xi gagal dipertahankan.

    Otoritas AS dan Eropa semakin khawatir terhadap dominasi China dalam rantai pasok chip generasi lama.

    Kekhawatiran tersebut menjadi inti sengketa antara Belanda dan China terkait Nexperia Holding BV, produsen chip milik China yang memasok komponen penting bagi industri otomotif, dan sempat berupaya disita oleh otoritas Belanda pada Oktober lalu dengan alasan keamanan nasional.

  • Trump Pecat Puluhan Dubes Karier yang Diangkat Era Pemerintahan Biden

    Trump Pecat Puluhan Dubes Karier yang Diangkat Era Pemerintahan Biden

    Jakarta

    Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memecat puluhan duta besar (dubes) yang diangkat di bawah pemerintahan eks Presiden AS Joe Biden. Pemecatan oleh Trump sebagai bagian dari perombakan besar-besaran untuk menyelaraskan korps diplomatik dengan prioritas kebijakan luar negerinya.

    Dilansir AFP, Selasa (23/12/2025), para kepala misi, sebagian besar diplomat karier, telah diberitahu bahwa mereka harus meninggalkan jabatan mereka pada pertengahan Januari, menurut Asosiasi Layanan Luar Negeri Amerika (AFSA), yang mewakili karyawan Departemen Luar Negeri.

    Laporan pers mengatakan duta besar dari 30 negara akan terpengaruh, terutama di Afrika. Pemecatan tersebut pertama kali dilaporkan oleh Politico.

    Meskipun sudah lazim bagi suatu pemerintahan untuk merombak duta besar yang diangkat ke pos-pos strategis atau ibu kota dan untuk menunjuk donor atau pendukung, perubahan besar-besaran yang menargetkan diplomat karier seperti itu tidak biasa sebelum masa jabatan mereka berakhir atau pengganti mereka diangkat.

    Asosiasi Layanan Luar Negeri Amerika mengatakan telah menerima “laporan yang kredibel dari anggota kami di pos-pos diplomatik di seluruh dunia bahwa beberapa duta besar karier, yang diangkat selama pemerintahan Biden, telah diarahkan melalui panggilan telepon untuk mengosongkan jabatan mereka pada tanggal 15 atau 16 Januari.”

    “Tidak ada penjelasan yang diberikan untuk pemecatan ini,” tambah asosiasi tersebut dalam unggahannya di Facebook.

    “Memecatkan diplomat senior tanpa alasan yang jelas merusak kredibilitas AS di luar negeri dan mengirimkan sinyal yang menakutkan kepada Dinas Luar Negeri profesional: pengalaman dan sumpah setia kepada Konstitusi dikesampingkan demi loyalitas politik,” katanya.

    Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan pada Senin (22/12), bahwa pergantian duta besar adalah “proses standar dalam pemerintahan mana pun.”

    “Seorang duta besar adalah perwakilan pribadi Presiden, dan merupakan hak Presiden untuk memastikan bahwa ia memiliki individu di negara-negara ini yang memajukan agenda ‘America First’,” kata pejabat itu dengan syarat anonim. Pejabat tersebut tidak mengkonfirmasi detail pemecatan, atau negara mana yang terkena dampaknya.

    Pada masa jabatan keduanya, Presiden Donald Trump dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio telah merombak diplomasi AS untuk memfokuskan prioritas seperti memerangi imigrasi ilegal, memangkas bantuan luar negeri, dan kebijakan keberagaman. Rubio telah mengawasi pemecatan ratusan personel di Departemen Luar Negeri, dan Trump telah menempatkan loyalis sebagai duta besar kunci.

    Halaman 2 dari 2

    (rfs/rfs)

  • Demi Bisa Jual 35 Pesawat Kargo, Boeing Minta Nego Aturan Emisi

    Demi Bisa Jual 35 Pesawat Kargo, Boeing Minta Nego Aturan Emisi

    Jakarta

    Boeing meminta Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) memberikan pengecualian aturan emisi pesawat. Hal ini agar perusahaan tetap dapat menjual 35 unit pesawat kargo Boeing 777F tambahan di tengah tingginya permintaan.

    Aturan emisi baru yang berpotensi menghentikan penjualan 777F akan berlaku pada 2028. Sementara itu, Boeing mengatakan pesawat kargo 777-8 generasi berikutnya yang diharapkan bisa memenuhi aturan tidak akan siap hingga waktu tersebut.

    “Pengecualian tersebut akan memungkinkan memenuhi permintaan pelanggan untuk pesawat kargo sebelum 777-8F mulai beroperasi,” kata Boeing dikutip dari Reuters, Minggu (21/12/2025).

    Boeing mengatakan pihaknya sedang mengupayakan persetujuan pada 1 Mei 2026. Pihaknya memperkirakan akan mengirimkan 777-8F pertama sekitar dua tahun setelah pengiriman pertama 777-9, yang saat ini ditargetkan pada 2027.

    Sebagai informasi, FAA pada Februari 2024 mengeluarkan peraturan final yang mengadopsi standar internasional untuk mengurangi polusi karbon dari sebagian pesawat besar yang terbang di wilayah udara AS. Peraturan tersebut tidak berlaku untuk pesawat yang beroperasi sebelum tanggal tersebut.

    Boeing mengatakan pesawat kargo berbadan besar sangat penting untuk ekspor barang. “Dari US$ 600 miliar barang yang diekspor melalui kargo udara pada 2024, lebih dari US$ 260 miliar diangkut dengan pesawat kargo berbadan lebar besar,” kata Boeing.

    Lebih lanjut dijelaskan, setiap pesawat 777F yang diekspor ke pelanggan asing memberikan kontribusi US$ 440 juta pada nilai katalog terhadap neraca perdagangan positif. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari US$ 15 miliar nilai ekspor AS dapat hilang tanpa pengecualian.

    Boeing mengatakan 777F adalah pesawat paling hemat bahan bakar untuk pasar kargo global dan satu-satunya pesawat kargo berbadan besar yang sedang diproduksi. Tahun lalu Kongres mengesahkan undang-undang yang memungkinkan Boeing untuk terus memproduksi pesawat kargo 767 selama lima tahun lagi hingga 2033 di AS, yang membebaskannya dari peraturan efisiensi FAA yang berlaku pada 2028.

    Tahun lalu, FAA mengatakan pesawat sipil bertanggung jawab atas 9% emisi transportasi domestik dan 2% dari total polusi karbon AS. Di bawah pemerintahan Joe Biden saat itu, AS meluncurkan rencana aksi iklim yang bertujuan untuk mencapai emisi nol bersih dari sektor penerbangan AS pada tahun 2050.

    (aid/kil)

  • Demi Bisa Jual 35 Pesawat Kargo, Boeing Minta Nego Aturan Emisi

    Demi Bisa Jual 35 Pesawat Kargo, Boeing Minta Nego Aturan Emisi

    Jakarta

    Boeing meminta Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat atau Federal Aviation Administration (FAA) memberikan pengecualian aturan emisi pesawat. Hal ini agar perusahaan tetap dapat menjual 35 unit pesawat kargo Boeing 777F tambahan di tengah tingginya permintaan.

    Aturan emisi baru yang berpotensi menghentikan penjualan 777F akan berlaku pada 2028. Sementara itu, Boeing mengatakan pesawat kargo 777-8 generasi berikutnya yang diharapkan bisa memenuhi aturan tidak akan siap hingga waktu tersebut.

    “Pengecualian tersebut akan memungkinkan memenuhi permintaan pelanggan untuk pesawat kargo sebelum 777-8F mulai beroperasi,” kata Boeing dikutip dari Reuters, Minggu (21/12/2025).

    Boeing mengatakan pihaknya sedang mengupayakan persetujuan pada 1 Mei 2026. Pihaknya memperkirakan akan mengirimkan 777-8F pertama sekitar dua tahun setelah pengiriman pertama 777-9, yang saat ini ditargetkan pada 2027.

    Sebagai informasi, FAA pada Februari 2024 mengeluarkan peraturan final yang mengadopsi standar internasional untuk mengurangi polusi karbon dari sebagian pesawat besar yang terbang di wilayah udara AS. Peraturan tersebut tidak berlaku untuk pesawat yang beroperasi sebelum tanggal tersebut.

    Boeing mengatakan pesawat kargo berbadan besar sangat penting untuk ekspor barang. “Dari US$ 600 miliar barang yang diekspor melalui kargo udara pada 2024, lebih dari US$ 260 miliar diangkut dengan pesawat kargo berbadan lebar besar,” kata Boeing.

    Lebih lanjut dijelaskan, setiap pesawat 777F yang diekspor ke pelanggan asing memberikan kontribusi US$ 440 juta pada nilai katalog terhadap neraca perdagangan positif. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari US$ 15 miliar nilai ekspor AS dapat hilang tanpa pengecualian.

    Boeing mengatakan 777F adalah pesawat paling hemat bahan bakar untuk pasar kargo global dan satu-satunya pesawat kargo berbadan besar yang sedang diproduksi. Tahun lalu Kongres mengesahkan undang-undang yang memungkinkan Boeing untuk terus memproduksi pesawat kargo 767 selama lima tahun lagi hingga 2033 di AS, yang membebaskannya dari peraturan efisiensi FAA yang berlaku pada 2028.

    Tahun lalu, FAA mengatakan pesawat sipil bertanggung jawab atas 9% emisi transportasi domestik dan 2% dari total polusi karbon AS. Di bawah pemerintahan Joe Biden saat itu, AS meluncurkan rencana aksi iklim yang bertujuan untuk mencapai emisi nol bersih dari sektor penerbangan AS pada tahun 2050.

    (aid/kil)

  • Tahun Rekor, Induk TikTok Diproyeksikan Raup Laba US Miliar pada 2025

    Tahun Rekor, Induk TikTok Diproyeksikan Raup Laba US$50 Miliar pada 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan Induk media sosial TikTok, ByteDance Ltd. diproyeksikan meraup laba sekitar US$50 miliar pada 2025, menandai tahun rekor di tengah ekspansi agresif ke e-commerce dan pasar global.

    Menurut sumber yang dilansir dari Bloomberg pada Sabtu (20/12/2025), perusahaan yang berbasis di Beijing tersebut berada di jalur pencapaian tersebut setelah mengantongi laba bersih sekitar US$40 miliar sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. 

    Sumber itu juga mengatakan, capaian tersebut bahkan telah melampaui target internal ByteDance untuk 2025.

    Dengan proyeksi tersebut, laba ByteDance mendekati kinerja pesaingnya asal Amerika Serikat, Meta Platforms Inc., yang diperkirakan meraih laba sekitar US$60 miliar tahun ini.

    Namun, belum diketahui secara pasti seberapa besar pertumbuhan pendapatan ByteDance sepanjang tahun ini. Perusahaan sebelumnya menargetkan kenaikan pendapatan sekitar 20% pada 2025 menjadi US$186 miliar.

    Pencapaian tersebut menandai puncak dari pertumbuhan dua digit selama bertahun-tahun bagi ByteDance, perusahaan yang didirikan Zhang Yiming pada 2012. 

    ByteDance mengembangkan sejumlah layanan digital paling populer di China, termasuk Toutiao dan Douyin—versi TikTok untuk pasar domestik. 

    Perusahaan juga bersaing dengan pemain besar seperti Alibaba Group Holding Ltd. dan Tencent Holdings Ltd. di bidang kecerdasan buatan, melalui pengembangan large language model, chatbot, dan layanan berbasis AI lainnya.

    Jika target pendapatan tercapai, posisi ByteDance akan sedikit di bawah proyeksi pendapatan Meta yang diperkirakan mencapai sekitar US$200 miliar tahun ini. ByteDance mengklaim memiliki lebih dari 4 miliar pengguna aktif bulanan di seluruh portofolio aplikasinya, angka yang berada di kisaran serupa dengan Meta.

    Adapun, hingga saat ini juru bicara ByteDance belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

    Kesuksesan TikTok belakangan berada di bawah sorotan setelah pemerintahan Presiden AS Joe Biden mendorong upaya pelarangan aplikasi berbagi video tersebut di Amerika Serikat dengan alasan keamanan nasional. 

    Menyikapi hal itu, ByteDance dikabarkan hampir merampungkan rencana pemisahan (spin-off) operasi TikTok di AS, yang bertujuan memastikan kelangsungan platform sekaligus mengurangi kendali perusahaan China tersebut.

    CEO TikTok Shou Chew, dalam memo internal yang dikutip Bloomberg, menyampaikan kepada karyawan bahwa ByteDance telah menandatangani perjanjian mengikat untuk membentuk perusahaan patungan yang mayoritas sahamnya dimiliki investor Amerika Serikat, termasuk Oracle Corp. Namun, regulator China hingga kini belum menyatakan persetujuannya, yang menjadi syarat krusial agar transaksi dapat dilanjutkan.

    Di tengah pengawasan ketat Washington, TikTok tetap mencatat ekspansi global yang pesat, termasuk di AS. Perusahaan mendorong pertumbuhan agresif di segmen e-commerce dan livestream shopping, serta menjalin kemitraan dengan perusahaan teknologi besar seperti Amazon.com Inc.

    Terkait valuasi, Vision Fund milik SoftBank Group Corp. merevaluasi ByteDance ke level di atas US$400 miliar tahun lalu, antara lain didorong ekspansinya di bidang generative AI. Fidelity Investments dan T. Rowe Price Group Inc. juga menaikkan valuasi ByteDance masing-masing menjadi di atas US$410 miliar dan US$450 miliar.

    Terbaru, sebuah perusahaan investasi China membeli sebagian saham ByteDance pada valuasi US$480 miliar, jauh di atas level sebelumnya, mencerminkan tingginya minat investor terhadap perusahaan tersebut. 

    Sebagai perbandingan, valuasi Meta saat ini sekitar US$1,7 triliun, menempati posisi keenam tertinggi di dunia hingga penutupan pasar AS pada Kamis.

    Meski demikian, laju pertumbuhan ByteDance diperkirakan melambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Douyin sebagai mesin pendapatan utama perusahaan menghadapi tekanan akibat melemahnya konsumsi dan belanja iklan di China. 

    Sementara itu, TikTok—yang memiliki model serupa—kian menjadi penopang utama pertumbuhan pendapatan ByteDance secara global.

  • TikTok Sepakat Lepas Saham di AS, Ini Pihak Investor Utama

    TikTok Sepakat Lepas Saham di AS, Ini Pihak Investor Utama

    Jakarta

    TikTok telah menandatangani kesepakatan untuk menjual sekitar 80% asetnya di Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah pihak. Kesepakatan ini membuka jalan bagi TikTok untuk tetap beroperasi di kawasan Paman Sam di tengah tekanan regulasi terkait keamanan nasional.

    Perjanjian yang sepakati pada Kamis (18/12) tersebut terjadi antara Tiktok dan ByteDance, bersama Oracle, perusahaan teknologi asal AS yang selama ini menjadi mitra penyimpanan data TikTok di Amerika Serikat, kemudian Silver Lake, perusahaan ekuitas swasta, dan MGX, investor teknologi berbasis di Abu Dhabi. Ketiganya akan membentuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC.

    Dalam sebuah memo internal perusahaan, CEO TikTok Shou Zi Chew mengatakan bahwa langkah ini dapat membuat platform tersebut terhindar dari larangan pemerintah AS dan tetap dapat diakses oleh lebih dari 170 juta pengguna rutin di negara itu.

    Struktur kepemilikan usaha patungan ini menempatkan 50 persen saham di tangan konsorsium investor baru. Oracle, Silver Lake, dan MGX masing-masing memegang 15 persen. Sebanyak 30,1% saham akan dimiliki afiliasi investor ByteDance yang sudah ada, sementara ByteDance mempertahankan 19,9 persen. Entitas perusahaan baru ini akan dipimpin oleh dewan direksi beranggotakan tujuh orang dengan mayoritas warga negara Amerika Serikat, serta diklaim akan melindungi data warga AS dan kepentingan keamanan nasional.

    Data pengguna di Amerika Serikat akan tetap disimpan dalam sistem yang dikelola oleh Oracle. Dalam memo tersebut juga disebutkan bahwa pengguna TikTok di AS akan tetap “menikmati pengalaman yang sama seperti sekarang” dan para pengiklan tetap dapat menjangkau audiens global tanpa terdampak oleh kesepakatan ini.

    Algoritma TikTok akan dilatih ulang menggunakan data pengguna di Amerika Serikat untuk memastikan distribusi konten video pendek di linimasa para pengguna tidak dipengaruhi pihak luar. Pengelolaan moderasi konten dan kebijakan di AS juga akan berada di bawah kelompok bisnis baru ini.

    Kesepakatan baru pemecah kebuntuan

    TikTok, dan perusahaan induknya ByteDance, sejak lama menjadi sumber kekhawatiran bagi pemerintah AS. Para pejabat AS mencurigai ByteDance menyalurkan data sensitif pengguna warga negara Amerika kepada Cina. Tuduhan lain menyebut Cina memanfaatkan algoritma TikTok untuk menyebarkan propaganda dan disinformasi, meski pengguna tidak memilih konten tersebut.

    Nasib TikTok berada dalam ketidakpastian sejak 2020, ketika Donald Trump pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden berupaya melarang aplikasi tersebut.

    Di era pemerintahan Joe Biden, AS mengesahkan undang-undang yang mewajibkan TikTok melepas bisnisnya di Amerika Serikat atau terancam dihapus dari platform aplikasi mulai Januari 2025. Aplikasi ini bahkan sempat tak bisa diakses selama beberapa jam pada Januari 2025.

    Namun, Trump pada hari pertamanya kembali menjabat sebagai presiden menandatangani perintah eksekutif untuk memperpanjang tenggat waktu dan menunda potensi pelarangan. Dia mempertahankan operasional aplikasi berbagi video itu di AS dengan memberikan tiga kali perpanjangan tambahan sepanjang tahun 2025.

    Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Pratama Indra

    Editor: Muhammad Hanafi

    Tonton juga video “Deal! TikTok Tanda Tangan Perjanjian Biar Nggak Dilarang AS”

    (ita/ita)