Tag: Jessica Rosenworcel

  • AS Restui Musk Luncurkan 7.500 Starlink Gen2, Era HP Tanpa Menara BTS Makin Dekat

    AS Restui Musk Luncurkan 7.500 Starlink Gen2, Era HP Tanpa Menara BTS Makin Dekat

    Bisnis.com, JAKARTA — Komisi Komunikasi Federal atau Federal Communications Commission (FCC) memberikan persetujuan penambahan satelit kepada SpaceX untuk memperluas jaringan internet Starlink generasi terbaru yang dapat terhubung langsung ke smartphone.

    Regulator telekomunikasi Amerika Serikat tersebut mengizinkan perusahaan milik Elon Musk untuk mengoperasikan 7.500 satelit Starlink Generasi 2 (Gen2) tambahan guna meningkatkan layanan internet di seluruh dunia.

    Keputusan strategis ini membawa 15.000 unit total satelit Gen2 yang diizinkan beroperasi secara global. 

    Persetujuan ini dinilai krusial bagi rencana bisnis SpaceX untuk menyediakan konektivitas direct-to-cell di luar Amerika Serikat serta memperluas cakupan tambahan di Amerika Serikat (AS). 

    Selain itu, peningkatan infrastruktur ini memungkinkan layanan seluler generasi berikutnya dengan kecepatan internet mencapai 1 gb per detik.

    Ketua FCC Brendan Carr menyambut baik langkah ini sebagai momen penting bagi industri telekomunikasi satelit.

    “Otorisasi FCC ini adalah pengubah permainan (game-changer) untuk memungkinkan layanan generasi berikutnya,” kata Carr melansir dari Reuters, Senin (12/1/2026).

    Carr menambahkan bahwa dengan memberikan lampu hijau bagi 15.000 satelit baru yang canggih ini, FCC mendorong SpaceX untuk menghadirkan kemampuan broadband satelit yang belum pernah ada sebelumnya. 

    Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat persaingan pasar dan memastikan tidak ada komunitas yang tertinggal dalam akses digital. Meski demikian, FCC tidak mengabulkan seluruh permohonan ekspansi yang diajukan oleh raksasa teknologi antariksa tersebut. 

    Diketahui, SpaceX awalnya mengajukan izin untuk menyebarkan hampir 30.000 satelit, namun regulator memutuskan untuk menunda otorisasi terhadap sisa 14.988 satelit Gen2 yang diusulkan. 

    Penundaan ini mencakup satelit yang diusulkan beroperasi di atas ketinggian 600 km, mengingat sebagian satelit Gen2 masih belum teruji di orbit.

    Dalam dokumen persetujuannya, FCC menetapkan tenggat waktu operasional yang ketat bagi SpaceX. Perusahaan diwajibkan meluncurkan 50% dari jumlah satelit Gen2 yang disetujui paling lambat 1 Desember 2028. 

    Sementara itu, sisa setengah satelitnya harus sudah diluncurkan dan beroperasi pada Desember 2031. FCC juga memberikan fleksibilitas teknis dengan mengizinkan satelit Starlink beroperasi di lima frekuensi berbeda. 

    Regulator juga mencabut persyaratan sebelumnya yang membatasi cakupan yang tumpang tindih, sehingga memungkinkan peningkatan kapasitas jaringan yang lebih besar.

    Saat ini, SpaceX telah mengukuhkan posisinya sebagai operator satelit terbesar di dunia melalui Starlink. Perusahaan itu tercatat mengelola jaringan sekitar 9.400 satelit yang memancarkan internet ke konsumen, pemerintah, dan korporasi. 

    Dominasi ini sempat menjadi sorotan mantan Ketua FCC Jessica Rosenworcel pada 2024, yang mencatat bahwa Starlink menguasai hampir dua pertiga dari seluruh satelit aktif dan mendesak adanya kompetisi yang lebih ketat.

    Sebelumnya diberitakan, Starlink pada pekan lalu menurunkan ketinggian operasional seluruh satelitnya mulai 2026. 

    Hal ini merupakan bagian dari manajemen keselamatan ruang angkasa. Satelit Starlink yang sebelumnya mengorbit di ketinggian 550 km diturunkan ke 480 km. (Muhammad Diva Farel Ramadhan)

  • AS Bersih-Bersih Produk China, Modalnya Rp 30,1 Triliun

    AS Bersih-Bersih Produk China, Modalnya Rp 30,1 Triliun

    Jakarta, CNBC Indonesia – Rencana untuk menyingkirkan China dari Amerika Serikat (AS) butuh biaya yang tak sedikit. Komisi Komunikasi Federal (FCC) menyebutkan membutuhkan US$4,98 miliar (Rp 78,9 triliun).

    Uang tersebut digunakan untuk menyingkirkan perangkat telekomunikasi BTS merek Huawei dan ZTE yang disebut mengancam keamanan Amerika Serikat.

    Meski begitu, Kongres hanya menyetujui US$1,9 miliar (Rp 30,1 triliun) untuk program yang disebut sebagai Rip and Replace. Namun ketua FCC Jessica Rosenworcel meminta kongres AS untuk menyediakan dana tambahan, dikutip dari Reuters, Senin (9/12/2024).

    Dia menuturkan masih butuh dana setidaknya US$3,08 miliar (Rp 48,8 triliun). Tujuannya untuk program menggantikan peralatan pada jaringan di 126 operator.

    Peralatan itu, Rosenworcel mengatakan membahayakan keamanan nasional dan konektivitas konsumen perdesaan yang memang bergantung pada jaringan tersebut.

    Jika permintaan tersebut tidak diikuti akan berdampak pada jaringan di perdesaan. Menurutnya beberapa jaringan akan ditutup karena kekurangan dana.

    “Dapat menghilangkan satu-satunya penyedia pada beberapa wilayah dan mengancam layanan 911,” jelasnya.

    Uang yang dibutuhkan tahun ini jumlahnya jauh lebih besar dari tahun sebelumnya. Tahun 2023, Gedung Putih meminta US$3,1 miliar (Rp 49,1 triliun) untuk melaksanakan program tersebut.

    Pihak Dewan Perwakilan Rakyat AS dilaporkan akan memberikan suara terkait aturan tersebut pada minggu depan. Aturan itu akan berdampak pada beberapa perusahaan, termasuk Huawei dan ZTE.

    Bukan hanya itu, aturan itu juga mencakup ketentuan lain. Misalnya laporan soal upaya China menghindari aturan AS dan penilaian intelijen soal kemampuan bioteknologi negara tersebut.

    (dem/dem)