Tag: Jerome Powell

  • Powell Tak Bakal Mundur Meski Diminta Trump

    Powell Tak Bakal Mundur Meski Diminta Trump

    Jakarta

    Chairman The Federal Reserve Jerome Powell menyebut tidak akan mundur dari jabatannya walaupun diminta oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Dikutip dari CNN Powell menyebut tidak ada wewenang presiden untuk menurunkan Powell dari jabatannya. “Tidak diizinkan secara hukum,” kata dikutip dari CNN, Minggu (10/11/2024).

    Sekadar informasi, Powell menjabat sebagai Chairman The Fed sejak 2018 lalu menggantikan Janet Yellen yang menjadi Menteri Keuangan di era Presiden Joe Biden.

    Selain kabar pemecatan Powell, The Fed diperkirakan akan menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan sembari mengingatkan bahwa rencana Trump untuk pemotongan pajak, kebijakan imigrasi, dan tarif impor dapat memberikan tekanan pada inflasi serta meningkatkan pinjaman pemerintah yang bisa membuat prediksi tersebut lebih sulit terwujud.

    Powel bilang, masih terlalu dini untuk memastikan agenda pemerintahan baru akan berdampak pada ekonomi AS atau cara The Fed merespon.

    “Ini masih tahap awal, kami belum tahu apa kebijakannya dan kami belum tahu kapan kebijakan itu akan diterapkan. Dalam jangka pendek, pemilu tidak akan mempengaruhi keputusan kebijakan kami,” ujar Powell.

    Sebagai informasi, Powell masih akan menjabat sebagai kepala The Fed sampai 2026 setelah dirinya dipilih oleh Trump sebagai Gubernur The Fed pada Februari 2018. Berkaitan dengan ini, Trump di beberapa kesempatan nampak berbeda pandangan dengan Powell, bahkan kerap mengancam akan memecat Powell.

    Beberapa nama muncul yang digadang-gadang akan menjadi pengganti Powell, seperti Kevin Warsh seorang pimpinan The Fed pada periode pertama kepemimpinan Trump, dan Kevin Hasset yakni mantan kepala ekonom Trump.

    (kil/kil)

  • Harga Emas Tergelincir Imbas Dolar AS Makin Perkasa – Page 3

    Harga Emas Tergelincir Imbas Dolar AS Makin Perkasa – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Harga emas anjlok pada perdagangan Jumat, 8 November 2024. Harga emas mencatat penurunan mingguan terbesar dalam lebih dari lima bulan.

    Koreksi harga emas itu terjadi oleh dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat. Selain itu, pasar juga serap dampak kemenangan Donald Trump di Pemilihan Presiden AS (Pilpres AS) dan dampaknya terhadap suku bunga acuan AS.

    Mengutip CNBC, Sabtu (9/11/2024), harga emas di pasar spot turun 0,8 persen menjadi USD 2.684,03 per ounce pada pukul 01.40 PM ET. Harga emas membukukan penurunan mingguan sebesar 1,8 persen. Harga emas berjangka AS ditutup merosot 0,4 persen ke posisi USD 2.694,80.

    Harga perak di pasar spot turun 2,4% menjadi USD 31,22 per ounce, platinum turun 2,9% menjadi USD 968,04, paladium turun 3,5% menjadi USD 988,80. Ketiga logam tersebut membukukan penurunan mingguan.

    Di sisi lain, indeks dolar AS naik 0,6 persen, dan menandai kenaikan mingguan.

    “Pada bulan lalu, ceritanya adalah risiko ketidakpastian pemilu dan apakah akan ada normalisasi transisi, tetapi pemilu ini tampaknya sangat menentukan bagi Gedung Putih,” ujar Chief Operating Officer Allegiance Gold, Alex Ebkarian.

    Ia menambahkan, banyak aset berisiko mulai diuntungkan dalam hal dampak potensial kebijakan ke depan.

    The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) pada Kamis memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi mengindikasikan pendekatan yang hati-hati untuk pemangkasan lebih lanjut.

    Kemenangan Trump telah memicu pertanyaan tentang apakah Fed akan melanjutkan pemangkasan suku bunga dengan kecepatan yang lebih lambat dan lebih kecil, mengingat kebijakan tarif mantan presiden tersebut.

    Namun, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan hasil pemilu tidak akan memiliki dampak “jangka pendek” pada kebijakan moneter.

     

     

  • IHSG akhir pekan ditutup menguat dipimpin sektor barang baku 

    IHSG akhir pekan ditutup menguat dipimpin sektor barang baku 

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    IHSG akhir pekan ditutup menguat dipimpin sektor barang baku 
    Dalam Negeri   
    Sigit Kurniawan   
    Jumat, 08 November 2024 – 17:06 WIB

    Elshinta.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup menguat dipimpin oleh saham-saham sektor barang baku.

    IHSG ditutup menguat 43,33 poin atau 0,60 persen ke posisi 7.287,18. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 2,85 poin atau 0,32 persen ke posisi 884,14.

    “Kemenangan Donald Trump telah menimbulkan ancaman tarif bagi China dan negara-negara berkembang lainnya, ada optimisme bahwa Pemerintah China akan mengumumkan langkah-langkah untuk mengimbangi dampak dari kenaikan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS),” sebut Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

    Langkah-langkah tersebut dapat mencakup dukungan untuk utang Pemerintah Daerah dan belanja konsumen.

    Investor mencerna pemangkasan suku bunga acuan terkini oleh bank sentral AS The Federal Reserve (Yhe Fed) dan kemenangan Donald Trump dalam Pemilihan Presiden AS.

    The Fed memangkas suku bunga acuan Federal Funds rate (FFR) sebesar 25 bps (basis poin) menjadi di kisaran target 4,5 persen sampai 4,75 persen, yang menandakan pemangkasan suku bunga kedua dalam tujuh pekan terakhir menyusul pemangkasan 50 bps di bulan September 2024.

    Ketua Federal Reserve Jerome Powell berusaha meyakinkan pasar dengan menepis kekhawatiran mengenai potensi pengunduran dirinya atau pemecatannya pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS yang ke 47.

    Bank Of England (BOE) memangkas suku bunga acuan Bank Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen, yang menandakan penurunan suku bunga kedua dalam empat tahun.

    Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat yaitu dipimpin sektor barang baku yang menguat 3,17 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor kesehatan yang naik masing- masing sebesar 2,22 persen dan sebesar 0,54 persen.

    Sedangkan, empat sektor melemah yaitu dipimpin sektor barang konsumen non primer sebesar 1,76 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor properti yang masing- masing turun sebesar 0,46 persen dan 0,26 persen.

    Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu DWGL, MLPT, KLAS dan BREN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni PICO, TOSK, RAJA dan RGAS.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.070.176 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,12 miliar lembar saham senilai Rp10,23 triliun. Sebanyak 289 saham naik 287 saham menurun, dan 204 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 119,00 poin atau 0,30 persen ke posisi 39.500,39, indeks Hang Seng melemah 225,15 poin atau 1,07 persen ke 20.728,18, indeks Shanghai melemah 18,35 poin atau 0,53 persen ke 3.470,65, dan indeks Straits Times menguat 50,88 poin atau 1,39 persen ke 3.724,37.

    Sumber : Antara

  • The Fed Bikin Dolar Keok

    The Fed Bikin Dolar Keok

    Washington: Dolar AS mempertahankan penurunan sebelumnya pada perdagangan Kamis waktu setempat.
     
    Hal ini terjadi setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell gagal memberikan petunjuk kuat bank sentral AS kemungkinan akan menghentikan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, setelah pengurangan 25 basis poin yang diharapkan secara luas.
     
    Melansir Investing, Jumat, 8 November 2024, pedagang juga menutup beberapa taruhan yang menguntungkan pada kepresidenan Donald Trump setelah kemenangan pemilihannya. Para pembuat kebijakan Fed memperhatikan pasar kerja yang “secara umum mereda” sementara inflasi terus bergerak menuju target dua persen bank sentral AS.
    Laporan pekerjaan yang jauh lebih kuat dari yang diharapkan untuk September meningkatkan ekspektasi Fed mungkin akan melakukan lebih sedikit pemotongan suku bunga, meskipun diikuti oleh data yang secara mengejutkan lemah untuk Oktober. Analis mengatakan kenaikan pekerjaan bulan lalu dirusak oleh badai dan pemogokan buruh.
     
    “Tidak ada indikasi jeda sedang dipertimbangkan di Fed. Kedengarannya mereka ingin berada di bawah empat persen atau sangat dekat sebelum berpikir untuk berhenti. Itu mengejutkan mengingat kekuatan data ekonomi,” kata Kepala analis mata uang di ForexLive di Toronto, Adam Button.
     
    Powell juga mengatakan pemilihan umum tidak akan memengaruhi kebijakan Fed dalam waktu dekat, dengan mengatakan bank sentral AS tidak akan berspekulasi tentang bagaimana kebijakan akan memengaruhi tujuan Fed.
     
    Para pedagang memperkirakan peluang 75 persen Fed akan memangkas suku bunga lagi pada Desember, naik dari 69 persen pada Rabu, menurut Fed Watch Tool milik CME Group (NASDAQ:CME).
     
     

     

    Indeks dolar melemah

    Indeks dolar terakhir turun 0,67 persen pada 104,40. Indeks mencapai titik tertinggi empat bulan di 105,44 pada Rabu karena investor memperkirakan kebijakan Trump.
     
    Trump diperkirakan akan memberantas imigrasi ilegal, memberlakukan tarif perdagangan baru, mempertahankan atau memperkenalkan pemotongan pajak baru, dan melonggarkan peraturan bisnis, yang menurut para analis akan meningkatkan pertumbuhan dan inflasi. Namun, dolar melemah pada Kamis, karena para pedagang menutup beberapa posisi ini.
     
    “Dalam tiga minggu menjelang pemilihan, ada banyak pembelian dolar dan posisi dolar sudah cukup lama, jadi saya pikir pembalikan hari ini mungkin dijelaskan oleh beberapa perdagangan sapu bersih yang dilakukan sebelum pemilihan yang mungkin sebagian dikuadratkan,” kata Vassili Serebriakov, seorang ahli strategi valas di UBS di New York.
     
    Sterling naik setelah Bank of England memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin tetapi mengatakan pihaknya memperkirakan inflasi dan pertumbuhan Inggris akan meningkat lebih cepat daripada yang diantisipasi sebelumnya.
     
    Euro naik 0,62 persen menjadi USD1,0794. Mata uang tunggal Eropa mengabaikan krisis politik di Jerman, dengan koalisi yang sudah canggung yang dipimpin oleh Kanselir Olaf Scholz runtuh pada Rabu malam.
     
    Mata uang Jepang kemungkinan akan dirugikan oleh perbedaan suku bunga yang lebar dengan Amerika Serikat setelah kemenangan Trump. Itu dapat meningkatkan tekanan pada Bank of Japan untuk menaikkan suku bunga secepatnya pada bulan Desember untuk mencegah yen merosot kembali ke posisi terendah tiga dekade.
     
    Riksbank Swedia memangkas suku bunga setengah poin, seperti yang diharapkan, sehingga mata uang krona naik 1,74 persen terhadap dolar, sementara Norges Bank tidak mengubah suku bunga Norwegia, dengan dolar AS jatuh sekitar 1,8 persen terhadap mata uang tersebut.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (AHL)

  • The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Ini Alasannya

    The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Ini Alasannya

    Jakarta

    Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps) menjadi 4,50-4,75%. Penurunan suku bunga disepakati dengan suara bulat pada Federal Open Market Committee (FOMC) salah satunya mempertimbangkan angka pengangguran yang naik di AS.

    Dikutip dari CNBC, Jumat (8/11/2024), pemangkasan ini kali kedua yang dilakukan The Fed dalam dua pertemuan FOMC secara beruntun. Sebelumnya, pada September lalu The Fed memangkas suku bunga 50 bps. Dengan demikian, secara akumulasi suku bunga The Fed sudah dipangkas 75 bps.

    Setelah pertemuan tersebut, saham ditutup positif, Nasdaq menguat 1,5%. Baik Nasdaq maupun S&P 500 ditutup pada rekor tertinggi. Sementara imbal hasil Treasury anjlok setelah melonjak pada hari sebelumnya.

    Pernyataan usai pertemuan mencerminkan beberapa perubahan dalam cara Fed memandang ekonomi, salah satunya yakni cara menilai upaya untuk menurunkan inflasi sambil mendukung pasar tenaga kerja. The Fed melihat dukungan terhadap lapangan kerja menjadi prioritas yang sama pentingnya dengan menahan inflasi.

    “Komite menilai bahwa risiko untuk mencapai sasaran ketenagakerjaan dan inflasi secara kasar seimbang,” kata The Fed dalam dokumen.

    Inflasi AS kembali ke target bank sentral sebesar 2%, sementara pasar tenaga kerja telah menunjukkan beberapa indikasi pelemahan. Gubernur The Fed Jerome Powell telah berbicara tentang penataan ulang kebijakan ke arah yang tidak seketat sebelumnya saat berfokus pada penjinakan inflasi.

    “Kalibrasi ulang lebih lanjut dari sikap kebijakan kami akan membantu mempertahankan kekuatan ekonomi dan pasar tenaga kerja, dan akan terus memungkinkan kemajuan lebih lanjut pada inflasi saat kami bergerak menuju sikap yang lebih netral,” kata Powell pada konferensi pers usai pertemuan.

    Berlanjut ke halaman berikutnya.

    Secara umum, pasar tenaga kerja masih bertahan dengan baik. Namun, lapangan kerja nonpertanian meningkat hanya 12.000 pada Oktober, di bawah estimasi 100.000. Akan tetapi pelemahan tersebut disebabkan oleh badai di Tenggara dan aksi mogok buruh.

    Di sisi lain, keputusan pemangkasan suku bunga ini terjadi di tengah perubahan latar belakang politik. Donald Trump memperoleh kemenangan dalam pemilihan presiden (pilpres) AS pada hari Selasa.

    Para ekonom sebagian besar memperkirakan, kebijakan-kebijakannya menimbulkan tantangan bagi inflasi, salah satunya yakni pengenaan tarif hukuman dan deportasi massal bagi imigran tidak berdokumen.

    Trump juga telah menjadi kritikus keras Powell dan rekan-rekannya selama masa jabatan pertamanya. Para bankir sentral dengan tekun menghindari komentar tentang masalah politik, tetapi dinamika Trump dapat menjadi beban bagi arah kebijakan ke depan.

    Akselerasi aktivitas ekonomi di bawah Trump dapat membuat The Fed memangkas suku bunga lebih sedikit, tergantung inflasi. Meski begitu, Powell mengatakan pemerintahan baru tidak akan secara langsung memengaruhi kebijakan moneter.

    “Dalam waktu dekat, pemilihan umum tidak akan mempengaruhi keputusan kebijakan kami,” kata Powell.

    Selain itu, Powell juga mengatakan, dia tidak akan mengundurkan diri bahkan jika presiden terpilih meminta pengunduran dirinya. Powell akan menjabat hingga 2026.

    Lihat juga video: IHSG Stagnan Menunggu Kabar The Fed

  • Jerome Powell Tegaskan Tidak Akan Mundur dari The Fed Jika Diminta Trump

    Jerome Powell Tegaskan Tidak Akan Mundur dari The Fed Jika Diminta Trump

    Jakarta

    Gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell menegaskan tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya jika diminta oleh Presiden terpilih Donald Trump.

    Hal ini disampaikan Powell dalam konferensi pers usai The Fed mengumumkan pemangkasan suku bunga. Ia ditanya terkait kesediaannya untuk mengundurkan diri dari kepemimpinan bank sentral jika diminta Trump.

    Merespons pertanyaan tersebut, Powell menjawab dengan tegas bahwa dirinya tidak akan mundur. Ia juga bilang kalau memecatnya atau petinggi The Fed lainnya sebelum masa jabatan berakhir tidak diizinkan secara hukum.

    “Tidak diizinkan menurut hukum,” ujar Powell, dikutip dari Reuters, Jumat (8/11/2024),

    Pada kesempatan itu, ia menepis banyak pertanyaan tentang langkah-langkah kebijakan yang dapat dilakukan Trump sebagai presiden terhadap pengambilan keputusan bank sentral.

    “Dalam jangka pendek, pemilihan umum tidak akan berdampak pada keputusan kebijakan kami,” ujarnya.

    Konferensi pers tersebut diadakan usai Powell mengumumkan langkah pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi antara 4,5-4,75%. Keputusan ini menyusul langkah pemangkasan 50 basis poin pada September lalu.

    Sebelumnya pada Kamis, seorang penasihat Trump mengatakan presiden terpilih akan mempertahankan Powell hingga akhir masa jabatan kepemimpinannya, yang akan berakhir pada Mei 2026. Masa jabatan Powell sebagai gubernur telah diperpanjang hingga akhir Januari 2028.

    CNN juga melaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan mantan Gubernur Fed, Kevin Warsh, yang sekarang menjadi kritikus bank sentral, dan mantan kepala ekonom pemerintahannya Kevin Hassett sebagai calon pengganti Powell.

    Dalam sejarahnya, Trump menunjuk Powell sebagai Gubernur The Fed pada awal 2018 untuk menggantikan Janet Yellen, yang kemudian menjadi Menteri Keuangan Presiden Joe Biden. Biden mengangkat kembali Powell untuk masa jabatannya saat ini.

    Hubungan antara Trump dan Powell memburuk, dengan Trump sering menyerang Fed dan pimpinannya selama masa jabatan pertamanya atas kebijakan bank sentral. Serangan ini muncul setelah puluhan tahun presiden menghindari kritik langsung terhadap bank sentral.

    Di sisi lain, setiap upaya untuk menyingkirkan pemimpin Fed kemungkinan besar berdampak negatif terhadap pasar keuangan hingga memicu kekhawatiran peningkatan harga.

    Pada saat yang sama, kebijakan Trump yakni kenaikan tarif perdagangan serta deportasi besar-besaran terhadap imigran ilegal kemungkinan mengerek inflasi yang telah berhasil diredam oleh bank sentral.

    Lihat juga video: Akankah Elon Musk Masuk Kabinet Donald Trump?

    (shc/ara)

  • Pangkas Suku Bunga 25 Bps, The Fed Pastikan Donald Trump Tak Bisa Pengaruhi Kebijakan Moneter

    Pangkas Suku Bunga 25 Bps, The Fed Pastikan Donald Trump Tak Bisa Pengaruhi Kebijakan Moneter

    Jakarta, Beritasatu.com – Federal Reserve (The Fed) pada Kamis (7/11/2024) memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 4,50%-4,75%. Pemangkasan suku bunga ini merupakan upaya bank sentral Amerika Serikat (AS) dalam mendukung pasar kerja, serta mengurangi laju inflasi.

    Dilansir dari AP, The Fed mulai menurunkan suku bunga sejak September 2024 dan telah memberi sinyal bahwa penurunan tambahan mungkin akan dilakukan, terutama untuk mempertahankan pasar kerja yang stabil setelah mendekati target inflasi 2%.

    Yang menjadi pertanyaan para investor saat ini adalah seberapa jauh kemenangan Donald Trump dalam Pemilu Presiden Amerika Serikat (Pilpres AS) akan memengaruhi rencana The Fed. Trump mendorong kebijakan tarif dan lainnya yang diyakini oleh para ekonom dapat mendorong inflasi bersama dengan pertumbuhan ekonomi. 

    Para investor pun mulai mengurangi proyeksi terkait pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada tahun depan karena hal ini.

    Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, pemilu tidak akan memengaruhi kebijakan suku bunga dalam waktu dekat. Siapa pun presidennya, Powell menegaskan The Fed akan mempertimbangkan berbagai kebijakan dan dampaknya pada ekonomi sebelum memutuskan arah suku bunga.

    “Kami tidak menduga-duga, tidak berspekulasi, dan tidak membuat asumsi,” kata Powell.

    Menurutnya, kebijakan apa yang akan diambil The Fed setelah Trump kembali ke Gedung Putih masih belum jelas. 

  • The Fed Pangkas Suku Bunga, Powell Tegaskan Donald Trump Tak Bisa Memecatnya

    The Fed Pangkas Suku Bunga, Powell Tegaskan Donald Trump Tak Bisa Memecatnya

    Bisnis.com, JAKARTA – Ketua bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve Jerome Powell menegaskan bahwa dia tidak akan mengundurkan diri jika diminta oleh presiden terpilih AS Donald Trump.

    Hal ini diungkapkan Powell dalam konferensi pers usai The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan kebijakan Federal Open Market Committee yang berakhir pada Kamis, 7 November 2024.

    Melansir Bloomberg, Jumat (8/11/2024), Powell menjawab dengan tegas, “Tidak,” ketika ditanya apakah jika dirinya akan mundur dari posisinya jika diminta oleh Trump. Powell juga mengatakan pemecatan atau penurunan jabatan pimpinan dewan The Fed, termasuk dirinya sendiri, “tidak sah secara hukum.”

    Powell mengatakan pemilihan presiden AS tidak akan memiliki “efek” pada keputusan kebijakan bank sentral dalam waktu dekat, dan menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk mengetahui waktu atau substansi dari setiap kemungkinan perubahan kebijakan fiskal.

    The Fed dengan suara bulat memangkas suku bunga Federal Fund Rate (FFR) ke kisaran 4,5%-4,75%. Penurunan suku bunga kedua berturut-turut ini mengikuti pemangkasan 50 basis poin pada September 2024.

    “Kalibrasi ulang lebih lanjut dari sikap kebijakan kami ini akan membantu menjaga kekuatan ekonomi dan pasar tenaga kerja dan akan terus memungkinkan kemajuan lebih lanjut pada inflasi karena kami bergerak menuju sikap yang lebih netral dari waktu ke waktu,” kata Powell.

    Pada masa jabatan sebelumnya, Trump tercatat kerap mengkritik The Fed secara terbuka dan menjajaki kemungkinan memecat Powell. Trump juga berjanji untuk menerapkan tarif yang lebih agresif, menindak imigrasi dan memperpanjang pemotongan pajak. Kebijakan ini berisiko memberikan tekanan pada harga dan suku bunga jangka panjang dan mendorong The Fed untuk mengurangi penurunan suku bunga.

    “Kami tidak tahu kapan waktu dan substansi dari perubahan kebijakan apa pun nantinya,” kata Powell.

    Oleh karena itu, dirinya mengatakan bahwa efek perubahan kebijakan terhadap perekonomian masih belum bisa diperkirakan, khususnya apakah dan sejauh mana kebijakan-kebijakan tersebut akan berpengaruh terhadap pencapaian variabel-variabel tujuan The Fed, yakni lapangan kerja maksimum dan stabilitas harga.

  • Elon Musk Minta The Fed Pangkas Suku Bunga

    Elon Musk Minta The Fed Pangkas Suku Bunga

    Jakarta

    Elon Musk menyentil bank sentral Amerika Serikat (AS) yang tak pernah menurunkan suku bunga acuan. Menurut Elon Musk, bank sentral harus segera memangkas suku bunga.

    Sentilan tersebut disampaikan melalui cuitan di akun media sosial X. Dikutip dari Reuters, Elon Musk menanggapi pemberitaan terkait pelemahan ekonomi.

    Sebagai informasi The Fed telah memutuskan untuk menahan suku bunga acuan pada kisaran 5,25%-5,50%.

    Hal ini telah diumumkan pekan lalu, namun ada sinyal pada September suku bunga akan dipangkas.

    Chairman The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral dapat menurunkan suku bunga jika perekonomian AS tumbuh sesuai target. Menurutnya jika melihat data perekonomian, beberapa aspek telah mengalami perbaikan terutama terkait penurunan inflasi.

    “Jika kita melihat inflasi, bergerak turun kurang lebih sesuai dengan ekspektasi, pertumbuhan tetap cukup kuat, dan pasar tenaga kerja tetap konsisten dengan kondisi saat ini, maka saya pikir penurunan suku bunga dapat dilakukan pada pertemuan bulan September ” ucap dia dalam pemberitaan Reuters, (1/8) lalu.

    (kil/kil)

  • Harga Nikel Dunia Anjlok di Tengah Banjir Pasokan

    Harga Nikel Dunia Anjlok di Tengah Banjir Pasokan

    Jakarta, CNN Indonesia

    Harga nikel dunia kembali melanjutkan penurunan. Turunnya harga komoditas disinyalir akibat meningkatnya pasokan dari Indonesia.

    Sementara, komoditas logam dasar lainnya juga menurun akibat berkurangnya spekulasi bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menurunkan suku bunga pada bulan depan.

    Dilansir The Business Times, harga nikel di London Metal Exchange (LME) merosot hampir 50 persen selama setahun terakhir. Hal ini mendorong para penambang di luar negeri untuk menutup operasionalnya.

    Minat risiko untuk nikel dan komoditas industri lainnya melanjutkan penurunan pada Senin (5/2) usai Gubernur The Fed Jerome Powell menyebut para pembuat kebijakan kemungkinan akan menunggu hingga Maret sebelum memangkas suku bunga.

    Sementara itu, pasar nikel tercatat dilanda krisis setelah banjir pasokan baru dari Indonesia, yang merupakan hasil dari investasi besar-besaran dari China dan terobosan teknologi.

    Ketika harga jatuh, tambang-tambang di seluruh dunia berisiko ditutup. Sementara, beberapa di antaranya meminta dana talangan dari negaranya, atau bangkrut.

    Contohnya, perusahaan pertambangan asal Melbourne, Australia BHP yang kini tengah mempertimbangkan masa depan tambang unggulannya Nickel West di Australia.

    Lantaran pasokan nikel di Indonesia terus meningkat, pasar diperkirakan akan tetap surplus selama sisa dekade ini.

    Analis BloombergNEF Allan Ray Restauro menyebut hal ini mendorong harga nikel untuk turun lebih jauh.

    Allan meragukan penutupan tambang-tambang yang bukan berasal dari Indonesia akan memiliki dampak langsung yang signifikan terhadap harga.

    Pasalnya, aset-aset tersebut hanya mewakili kurang dari 2 persen kapasitas global sejauh ini.

    Kendati demikian, para analis di bank investasi multinasional AS Morgan Stanley menyebut pemangkasan produksi yang diumumkan sejauh ini setara dengan sekitar 30 persen dari surplus 200 ribu ton yang diperkirakan untuk tahun ini.

    Mereka melihat ada sebanyak 253 ribu ton kapasitas yang berisiko dan mengatakan bahwa produsen besi kasar nikel yang tidak terintegrasi di China dan Indonesia kemungkinan juga akan segera mengurangi produksi.

    “Penurunan harga nikel sebesar 45 persen pada tahun 2023 mulai mendorong pengurangan pasokan, menunjukkan bahwa harga hampir mencapai titik terendah,” tulis para analis bank tersebut.

    Namun, mereka mencatat latar belakang permintaan yang lebih kuat akan dibutuhkan untuk kenaikan harga yang lebih signifikan.

    (del/sfr)