Tag: Jerome Powell

  • Duh! Saham AS Jeblok, Nasdaq Boncos hingga Lebih dari 2%

    Duh! Saham AS Jeblok, Nasdaq Boncos hingga Lebih dari 2%

    New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street berakhir merosot tajam pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu pagi WIB), karena investor bereaksi terhadap pernyataan Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang menekankan kesabaran dalam menurunkan suku bunga.
     
    Mengutip Xinhua, Sabtu, 16 November 2024, indeks Dow Jones Industrial Average turun 305,87 poin, atau 0,70 persen, menjadi 43.444,99. Indeks S&P 500 turun 78,55 poin, atau 1,32 persen, menjadi 5.870,62. Indeks Nasdaq Composite turun 427,53 poin, atau 2,24 persen, menjadi 18.680,12.
     
    Sebanyak delapan dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan sektor teknologi dan kesehatan memimpin penurunan dengan masing-masing turun 2,49 persen dan 1,88 persen. Sementara itu, sektor utilitas dan keuangan memimpin kenaikan dengan masing-masing naik 1,47 persen dan 0,53 persen.
     
    Data penjualan ritel menggarisbawahi daya beli konsumen AS yang kuat, sejalan dengan pandangan Powell tentang kekuatan ekonomi. Penjualan bulan Oktober meningkat sebesar 0,4 persen dari bulan ke bulan, melampaui perkiraan 0,3 persen. Selain itu, pertumbuhan bulan September direvisi naik menjadi 0,8 persen dari 0,4 persen yang dilaporkan sebelumnya.
     
    “Perekonomian tidak mengirimkan sinyal apa pun kita perlu terburu-buru menurunkan suku bunga. Kekuatan yang kita lihat saat ini dalam perekonomian memberi kita kemampuan untuk mendekati keputusan kita dengan hati-hati,” kata Powell sebelumnya.
     

     

    Saham-saham teknologi hadapi tekanan
     
    Saham teknologi berkapitalisasi besar menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat pagi. Amazon dan Meta Platforms masing-masing turun sekitar empat persen, sementara Nvidia dan Microsoft turun masing-masing 3,26 persen dan 2,79 persen. Alphabet turun 1,95 persen, dan Apple turun 1,41 persen.
     
    Dalam pergerakan penting lainnya, saham Applied Materials anjlok 9,2 persen setelah produsen peralatan semikonduktor itu membukukan laba yang lebih rendah dari perkiraan. Sebaliknya, saham Disney naik 5,46 persen, memperpanjang reli dari sesi sebelumnya menyusul laba yang kuat dan prospek yang optimis.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Dolar AS Makin Beringas

    Dolar AS Makin Beringas

    New York: Dolar Amerika Serikat (AS) bersiap untuk kenaikan mingguan terbesarnya dalam lebih dari sebulan pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena pasar menilai kembali ekspektasi penurunan suku bunga di masa mendatang dan pandangan kebijakan Presiden terpilih Donald Trump dapat bersifat inflasioner.
     
    Dolar telah diuntungkan dari ekspektasi pasar dimana kebijakan pemerintahan Trump, termasuk tarif dan pemotongan pajak, dapat memicu inflasi, sehingga membuat Federal Reserve memiliki lebih sedikit ruang untuk memangkas suku bunga.
     
    Mengutip data Yahoo Finance, Sabtu, 16 November 2024, indeks dolar diperdagangkan mendekati level tertinggi dalam satu tahun terhadap sekeranjang mata uang di 107,07, setelah naik hampir 1,65 persen minggu ini, yang merupakan performa terbaiknya sejak September. Indeks terakhir turun 0,19 persen di 106,68.
     
    Dolar AS terakhir turun 1,4 persen menjadi 154,145 per dolar. Dolar AS juga bersiap untuk mencatat kenaikan mingguan terhadap yen Jepang setelah diperdagangkan di atas 156 yen minggu ini, untuk pertama kalinya sejak Juli.
     
    Sementara itu, euro menuju kerugian minggu kedua berturut-turut setelah merosot ke level terendah sejak Oktober 2023. Euro terakhir naik pada USD1,054025.
     
    Sedangkan nilai tukar pound sterling berada di jalur penurunan mingguan tertajam sejak Januari 2023, sekitar 2,4 persen. Nilai tukar terakhir turun 0,38 persen pada USD1,2620.
     
    Nilai tukar pound sterling menunjukkan sedikit reaksi terhadap data yang menunjukkan ekonomi Inggris berkontraksi secara tak terduga pada September dan pertumbuhan melambat pada kuartal ketiga.
     
    Fed tak buru-buru pangkas suku bunga
     
    Di sisi lain, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS tidak perlu terburu-buru menurunkan suku bunga, yang mendorong para pedagang untuk membatalkan taruhan mereka yang lebih agresif pada penurunan suku bunga bulan depan dan seterusnya.
     
    Sementara, data Departemen Perdagangan menunjukkan penjualan ritel AS meningkat sedikit lebih banyak dari yang diharapkan pada Oktober, tetapi momentum mendasar dalam belanja konsumen tampaknya melambat pada awal kuartal keempat.
     
    Presiden Boston Fed Susan Collins juga mengatakan pemotongan suku bunga dapat dihentikan segera setelah pertemuan 17-18 Desember, tergantung pada data mendatang mengenai lapangan kerja dan inflasi.
     
    Probabilitas pemotongan suku bunga pada Desember telah turun menjadi sekitar 61 persen dari mendekati 82 persen sehari yang lalu, menurut alat FedWatch CME.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Harga Emas Catat Penurunan Mingguan Terbesar dalam 3 Tahun

    Harga Emas Catat Penurunan Mingguan Terbesar dalam 3 Tahun

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas pada perdagangan Jumat (15/11/2024) jatuh dan mencatat penurunan mingguan terbesar dalam 3 tahun karena ekspektasi pemotongan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tidak terlalu agresif.

    Hal ini membuat dolar menguat sehingga mengurangi daya tarik emas di kalangan investor.

    Harga emas di pasar spot turun 0,1% menjadi US$ 2.562,59 per ons. Sedangkan sepanjang minggu ini, harga emas ambles lebih 4%. Adapun harga emas berjangka AS turun 0,2% menjadi US$ 2.567.

    Dolar mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih sebulan, membuat harga emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

    Sementara itu, imbal hasil obligasi AS melanjutkan kenaikan setelah penjualan ritel Oktober naik lebih dari yang diharapkan.

    “Semua ketidakpastian, khususnya jangka pendek telah disingkirkan. Sekarang emas kembali ke fundamental dasar,” kata Kepala Operasi Allegiance Gold, Alex Ebkarian dilansir CNBC International.

    Para ekonom meyakini rencana kenaikan tarif oleh presiden terpilih Donald Trump akan memicu inflasi, yang berpotensi memperlambat siklus pelonggaran suku bunga Fed.

    Suku bunga lebih tinggi membuat menyimpan emas menjadi kurang menarik karena merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil.

    Sementara Ketua The Fed Jerome Powell pada Kamis (14/11/2024) mengatakan, bank sentral AS tidak perlu terburu-buru menurunkan suku bunga.

    Analis Kinesis Money Carlo Alberto De Casa mengatakan, sejauh ini emas terdampak negatif akibat kemenangan Trump. “Namun, ini dapat berubah jika ada ketidakpastian dalam jangka menengah,” kata dia. 

    Sementara, harga perak turun 0,5% menjadi US$ 30,28 per ons, platinum naik 0,3% menjadi US$ 942,90 dan paladium naik 0,8% menjadi US $949,00. Ketiga logam tersebut mencatat penurunan secara mingguan.
     

  • Wall Street Jatuh karena Investor Khawatir Arah Suku Bunga The Fed

    Wall Street Jatuh karena Investor Khawatir Arah Suku Bunga The Fed

    New York, Beritasatu.com – Bursa saham AS Wall Street jatuh pada perdagangan Jumat (15/11/2024) karena investor khawatir arah suku bunga The Fed.

    Dow Jones turun 305,87 poin atau 0,70% ditutup pada level 43.444, S&P 500 turun 1,32% menjadi 5.870,62, dan Nasdaq Composite turun 2,24% menjadi 18.680,12.

    Penurunan saham farmasi membebani 30 saham unggulan Dow Jones dan S&P 500, dengan Amgen turun sekitar 4,2% dan Moderna ambles 7,3%.

    Presiden terpilih Donald Trump pada Kamis (14/11/2024) mengatakan pihaknya berencana mencalonkan Robert F Kennedy Jr memimpin Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS. Hal ini membuat sentimen negatif pada saham sektor farmasi. 

    Teknologi informasi di S&P 500 merupakan sektor dengan kinerja terburuk, turun lebih 2% karena kejatuhan Nvidia, Meta, Alphabet, dan Microsoft.

    Sementara Tesla naik 3% karena saham perusahaan kendaraan listrik raksasa ini disebut “Trump Trade” menyusul kedekatan pemiliknya Elon Musk dengan Trump.

    “Meski kondisi makro masih menjadi pertanda baik bagi aset berisiko, dalam waktu dekat akan terjadi beberapa volatilitas mikro, khususnya potensi perubahan kebijakan di bawah pemerintahan baru,” kata Kepala Strategi Investasi iShares, Amerika, Kristy Akullian, dilansir CNBC International.

    Para investor juga mencermati komentar terbaru Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang mengatakan bank sentral tidak terburu-buru memangkas suku bunga. Ia mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat memungkinkan pembuat kebijakan mengambil waktu saat memutuskan pemangkasan suku bunga. 

    Data penjualan ritel Oktober yang dirilis Jumat menunjukkan peningkatan 0,4%, sedikit lebih baik dari perkiraan ekonom yang disurvei Dow Jones 0,3%. Temuan tersebut mengikuti laporan inflasi konsumen Oktober yang sejalan dengan proyeksi para ekonom.

    S&P 500 membukukan kerugian mingguan sebesar 2,1%, Nasdaq Composite turun sekitar 3,2% dan Dow Jones turun 1,2% dalam periode tersebut.

  • Rupiah merosot menjelang rilis data neraca perdagangan Indonesia

    Rupiah merosot menjelang rilis data neraca perdagangan Indonesia

    Ilustrasi – Petugas menunjukkan uang dolar AS dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT. Bank Mandiri Persero Tbk, Jakarta. ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom

    Rupiah merosot menjelang rilis data neraca perdagangan Indonesia
    Dalam Negeri   
    Novelia Tri Ananda   
    Jumat, 15 November 2024 – 12:15 WIB

    Elshinta.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal perdagangan Jumat merosot menjelang rilis data neraca perdagangan Indonesia Oktober 2024. Pada awal perdagangan Jumat, rupiah turun 77 poin atau 0,48 persen menjadi Rp15.939 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.862 per dolar AS.

    “Investor menantikan data perdagangan Indonesia siang ini,” kata analis mata uang Lukman Leong saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

    Lukman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sekitar 3,05 miliar dolar AS. Selain itu, ia memproyeksikan hari ini rupiah akan kembali melemah terhadap dolar AS yang melanjutkan penguatan setelah data klaim pengangguran Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan.

    Data klaim pengangguran AS untuk pekan yang berakhir 9 November 2024 berada di angka 217 ribu dibandingkan perkiraan 223 ribu. Penguatan dolar AS juga didukung oleh pernyataan hawkish Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell yang mengatakan bahwa suku bunga tidak perlu terburu-buru diturunkan karena ekonomi AS masih sangat kuat dan terkuat di antara negara ekonomi maju.

    Lukman memprediksi dalam perdagangan hari ini, rupiah akan bergerak di kisaran Rp15.850 per dolar AS sampai dengan Rp16.000 per dolar AS.

    Sumber : Antara

  • Wall Street Boncos Gegara Komentar Powell soal Suku Bunga

    Wall Street Boncos Gegara Komentar Powell soal Suku Bunga

    New York: Indeks saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), gegara komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang menunjukkan jalur lebih lambat terhadap penurunan suku bunga dari bank sentral.
     
    Mengutip data Yahoo Finance, Jumat, 15 November 2024, indeks Dow Jones tercatat turun 207,33 poin, atau 0,47 persen, menjadi 43.750,86, indeks S&P 500 turun 36,21 poin, atau 0,60 persen, menjadi 5.949,17, dan indeks Nasdaq Composite turun 123,07 poin atau 0,64 persen menjadi 19.107,65.
     
    Powell mengatakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pasar kerja yang solid, dan inflasi yang tetap di atas target dua persen berarti menunjukkan bank sentral AS tidak perlu terburu-buru menurunkan suku bunga dan dapat berunding dengan hati-hati.
     
    Komentar Powell tersebut dinilai semakin mendinginkan prospek yang sebelumnya sangat optimis terhadap penurunan suku bunga. Namun, hal itu tidak bisa berasumsi inflasi dan tenaga kerja berada dalam kondisi seimbang, sehingga ini merupakan pesan yang menggembirakan bagi perekonomian.
     
    Saham awalnya menguat setelah pemilihan presiden AS. Setiap indeks utama Wall Street ditutup pada rekor tertinggi pada perdagangan Senin, tetapi terhenti dalam beberapa hari terakhir karena imbal hasil obligasi telah bergerak ke level tertinggi dalam empat bulan.
     
    Para investor tertarik pada aset yang diharapkan mendapat manfaat dari kebijakan Presiden terpilih AS Donald Trump dalam masa jabatan keduanya setelah ia berjanji untuk mengenakan tarif tinggi pada impor dari mitra dagang utama, menurunkan pajak, dan melonggarkan peraturan pemerintah.
     
    Namun, imbal hasil obligasi dan dolar juga melonjak baru-baru ini karena kekhawatiran meskipun kebijakan Trump akan memacu pertumbuhan, kebijakan tersebut juga dapat memicu kembali inflasi setelah perjuangan panjang melawan tekanan harga menyusul pandemi covid-19.
     
    Selain itu, tarif dapat menyebabkan peningkatan pinjaman pemerintah, yang selanjutnya akan menggelembungkan defisit fiskal dan menyebabkan Fed mengubah arah pelonggaran kebijakan moneternya.
     

     

    Saham Eropa malah raup banyak cuan
     
    Sementara itu, indeks saham Eropa malah bangkit dari posisi terendah dalam tiga bulan, dipimpin oleh saham energi dan teknologi setelah serangkaian laba perusahaan yang sebagian besar positif. STOXX 600 ditutup naik 1,08 persen.
     
    Adapun indeks dolar, yang mengukur nilai tukar dolar terhadap sekeranjang mata uang, naik 0,45 persen menjadi 106,94, dengan euro turun 0,41 persen menjadi USD1,052. Dolar AS sedang dalam laju kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut.
     
    Harapan untuk pemangkasan suku bunga Fed lebih lanjut telah mereda selama beberapa minggu terakhir, tetapi menjadi lebih fluktuatif baru-baru ini. Harapan untuk pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan Fed Desember berada di angka 58,7 persen, turun dari 82,5 persen pada sesi sebelumnya, menurut FedWatch Tool milik CME.
     
    Imbal hasil obligasi acuan AS 10-tahun naik 0,2 basis poin menjadi 4,453 persen, menghapus penurunan setelah komentar Powell.
     
    Di sisi lain, minyak mentah AS ditutup naik 0,39 persen menjadi USD68,70 per barel dan Brent naik hingga ditutup pada USD72,56 per barel, naik 0,39 persen pada hari itu, sebagian karena penguatan dolar dan meningkatnya persediaan minyak mentah AS menambah kekhawatiran kelebihan pasokan.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Anjlok ke Level Terendah, Harga Emas Global Kehilangan Kedigdayaannya

    Anjlok ke Level Terendah, Harga Emas Global Kehilangan Kedigdayaannya

    Chicago: Harga emas dunia melemah setelah mencapai titik terendah dalam dua bulan pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Emas tertekan reli dolar yang kuat, meskipun para pedagang belum kehilangan kepercayaan terhadap pemangkasan suku bunga pada Desember menyusul data ekonomi AS terbaru.
     
    Dikutip dari data Yahoo Finance, Jumat, 15 November 2024, harga emas spot turun 0,1 persen menjadi USD2.570,05 per ons, menyentuh level terendah sejak 12 September. Harga emas berjangka AS ditutup 0,5 persen lebih rendah pada USD2.572,90.
     
    Indeks dolar AS diketahui terus melaju tanpa henti, bahkan diperdagangkan pada titik tertinggi dalam satu tahun. Kondisi ini membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
    Pasar mengabaikan emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi, meskipun kebijakan Trump berpotensi meningkatkan inflasi AS.
     

     

    Fed bakal pangkas suku bunga

    Di sisi lain, membaiknya kondisi pasar tenaga kerja diperkirakan akan mendorong Federal Reserve untuk memangkas suku bunga ketiga bulan depan, bahkan saat data menunjukkan kemajuan dalam menurunkan inflasi terhenti.
     
    Pasar kini memperkirakan kemungkinan 76 persen Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember.
     
    Para investor tengah menanti pernyataan dari Ketua Fed Jerome Powell di kemudian hari bersamaan dengan data penjualan ritel Jumat.
     
    Emas bisa diuntungkan jika Powell menghindari menghubungkan langsung potensi pergeseran kebijakan dengan keputusan Fed, karena hal ini bisa meredam ekspektasi suku bunga AS.
     
    Adapun, harga perak spot naik 0,5 persen menjadi USD30,48 per ons, setelah mencapai level terendah sejak 12 September di awal sesi. Platinum turun 0,1 persen menjadi USD936,94, sementara paladium naik 0,8 persen menjadi USD941,00.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Taji Dolar AS Makin Runcing Sejak Trump Balik ke Gedung Putih

    Taji Dolar AS Makin Runcing Sejak Trump Balik ke Gedung Putih

    New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mata uang utama dunia lainnya pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Dolar diperdagangkan pada level tertinggi dalam satu tahun dan menuju kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut, didorong oleh ekspektasi pasar sejak Donald Trump secara dramatis kembali ke Gedung Putih.
     
    Mengutip data Yahoo Finance, Jumat, 15 November 2024, indeks dolar AS, yang mengukur mata uang terhadap enam mata uang utama termasuk euro dan yen, naik 0,17 persen menjadi 106,64, setelah mencapai level tertinggi 107,07, level tertinggi sejak awal November 2023. Imbal hasil obligasi acuan AS 10 tahun turun 3,7 basis poin menjadi 4,414 persen.
     
    Pasar mengantisipasi pemerintahan Trump yang akan datang akan mengenakan tarif perdagangan dan memperketat imigrasi serta memperdalam defisit, tindakan yang dianggap bersifat inflasi.
    Partai Republik yang dipimpin presiden terpilih akan mengendalikan kedua majelis Kongres saat ia menjabat pada Januari, Edison Research memperkirakan memberinya kekuasaan luas untuk mendorong agendanya.
     
    Setelah pemilihan, pasar telah mengamati pengangkatan Trump dan melihat ia tidak akan berkompromi dengan tujuan kampanyenya, baik itu tarif atau Tiongkok. Pasar berasumsi Trump akan terus maju dan menerapkan semua hal yang telah dijanjikannya.
     
    Sementara itu, harga produsen AS meningkat pada Oktober, Departemen Tenaga Kerja melaporkan inflasi konsumen hampir tidak berubah pada bulan lalu. Jumlah warga AS yang mengajukan aplikasi baru untuk tunjangan pengangguran turun minggu lalu, yang menunjukkan kekuatan pasar tenaga kerja, menurut Departemen Tenaga Kerja.
     
    Data tersebut tidak mengubah pandangan Federal Reserve akan memberikan pemotongan suku bunga ketiga bulan depan. Ketua Fed Jerome Powell mengaku tidak perlu terburu-buru memangkas suku bunga mengingat ekonomi AS yang kuat.
     

     

    Dolar AS menguat pada mata uang dunia lain

    Adapun, Euro merosot ke level terlemahnya sejak November 2023 dan turun 0,45 persen menjadi USD1,05165 dalam perdagangan yang tidak menentu.
     
    Poundsterling mencapai level terendah terhadap dolar dalam empat bulan dan terakhir turun 0,44 persen menjadi USD1,2651.
     
    Dolar AS naik di atas 156 yen untuk pertama kalinya sejak Juli dan terakhir naik 0,56 persen menjadi 156,38 per dolar.
     
    Franc Swiss tetap tertekan terhadap dolar, yang naik 0,3 persen menjadi 0,889 franc. Dolar Australia turun ke level terendah tiga bulan setelah data pekerjaan yang sedikit lebih lemah, melemah hingga serendah USD0,6453.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Jelang Akhir Pekan, IHSG Naik-Turun Gak Karuan

    Jelang Akhir Pekan, IHSG Naik-Turun Gak Karuan

    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan menjelang akhir pekan ini, Jumat, 15 November 2024, berada di posisi 7.214,56.
     
    Mengacu data RTI yang terekam hingga pukul 09.38 WIB, IHSG bergerak fluktuatif, naik turun cukup signifikan dengan data terakhir berada di level 7.216,54 atau naik 1,98 poin setara 0,03 persen.
     
    Adapun, sebanyak 192 saham emiten menguat pada perdagangan pagi ini. Sementara, 241 saham lainnya melemah dan sebanyak 196 saham stagnan.
    Untuk sementara, total transaksi yang tercatat hingga pukul 09.38 WIB sebanyak Rp1,89 triliun dengan total saham yang diperdagangkan 4,76 miliar saham.
     

     

    Wall Street boncos

    Sementara itu, indeks saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup lebih rendah pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), gegara komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang menunjukkan jalur lebih lambat terhadap penurunan suku bunga dari bank sentral.
     
    Indeks Dow Jones tercatat turun 207,33 poin, atau 0,47 persen, menjadi 43.750,86, indeks S&P 500 turun 36,21 poin, atau 0,60 persen, menjadi 5.949,17, dan indeks Nasdaq Composite turun 123,07 poin atau 0,64 persen menjadi 19.107,65.
     
    Powell mengatakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, pasar kerja yang solid, dan inflasi yang tetap di atas target dua persen berarti menunjukkan bank sentral AS tidak perlu terburu-buru menurunkan suku bunga dan dapat berunding dengan hati-hati.
     
    Komentar Powell tersebut dinilai semakin mendinginkan prospek yang sebelumnya sangat optimis terhadap penurunan suku bunga. Namun, hal itu tidak bisa berasumsi inflasi dan tenaga kerja berada dalam kondisi seimbang, sehingga ini merupakan pesan yang menggembirakan bagi perekonomian.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Rupiah Dibuka Melemah, Siap-siap Kembali Tembus 16.000 per Dolar AS – Page 3

    Rupiah Dibuka Melemah, Siap-siap Kembali Tembus 16.000 per Dolar AS – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di awal awal perdagangan Jumat ini. Pelemahan rupiah ini terjadi menjelang rilis data neraca perdagangan Indonesia Oktober 2024.

    Pada Jumat (15/11/2024), nilai tukar rupiah turun 77 poin atau 0,48 persen menjadi 15.939 per dolar AS dari sebelumnya sebesar 15.862 per dolar AS.

    “Investor menantikan data perdagangan Indonesia siang ini,” kata analis mata uang Lukman Leong dikutip dari Antara. Lukman memperkirakan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sekitar USD 3,05 miliar.

    Selain itu, ia memproyeksikan hari ini rupiah akan kembali melemah terhadap dolar AS yang melanjutkan penguatan setelah data klaim pengangguran Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan.

    Data klaim pengangguran AS untuk pekan yang berakhir 9 November 2024 berada di angka 217 ribu dibandingkan perkiraan 223 ribu.

    Penguatan dolar AS juga didukung oleh pernyataan hawkish Ketua Bank Sentral AS Jerome Powell yang mengatakan bahwa suku bunga tidak perlu terburu-buru diturunkan karena ekonomi AS masih sangat kuat dan terkuat di antara negara ekonomi maju.

    Lukman memprediksi dalam perdagangan hari ini, rupiah akan bergerak di kisaran 15.850 per dolar AS sampai dengan 16.000 per dolar AS.