Tag: Jerome Powell

  • 5 Minggu Tembus Level Tertinggi, Harga Emas Turun karena Penguatan Dolar

    5 Minggu Tembus Level Tertinggi, Harga Emas Turun karena Penguatan Dolar

    Chicago, Beritasatu.com – Harga emas turun pada Jumat (13/12/2024) karena penguatan dolar AS, setelah mencapai level tertinggi lebih 5 minggu. Namun, harga emas berada pada jalur kenaikan mingguan di tengah ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) minggu depan.

    Harga emas di pasar spot turun 1,1% menjadi US$ 2.652,29 per ons. Harga emas mencapai level tertinggi sejak 6 November pada Kamis (12/12/2024) dan naik 0,8% dalam minggu ini. Adapun harga emas berjangka AS turun 1,1% menjadi US$ 2.678,50.

    “Harga emas mengalami tahun yang eksplosif. Memasuki pengujung tahun, harga emas mungkin akan melemah dalam beberapa minggu terakhir, tetapi itu akan berlangsung singkat. Saya yakin harga emas akan terus bergerak jauh lebih tinggi,” kata analis pasar RJO Futures, Daniel Pavilonis dikutip CNBC International. 

    Harga emas telah memecahkan beberapa rekor pada tahun ini didukung pelonggaran kebijakan moneter, pembelian bank sentral, dan permintaan aset safe haven.

    Fokus investor saat ini tertuju pada komentar Ketua The Fed Jerome Powell pada pertemuan The Fed 17-18 Desember 2024. Dalam kesempatan itu, akan dipaparkan kebijakan moneter AS pada 2025 menyusul rencana tarif presiden terpilih Donald Trump  yang  menurut para ekonom  akan memicu inflasi.

    Bank sentral biasanya mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflas sehingga meningkatkan biaya peluang menyimpan emas yang tidak memberi imbal hasil.

    Saat harga emas turun, harga perak juga melemah 1,3% menjadi US$ 30,55 per ons, platinum turun 0,9% menjadi US$ 921,75, dan paladium anjlok 1,9% menjadi US$ 951,87. 

  • IHSG Jos di Akhir Pekan

    IHSG Jos di Akhir Pekan

    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup menguat dipimpin oleh saham-saham sektor teknologi.
     
    IHSG ditutup menguat 69,47 poin atau 0,95 persen ke posisi 7.382,78. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 1,39 poin atau 0,16 persen ke posisi 875,84.
     
    “Bursa regional Asia cenderung bergerak mixed (variatif). Tampaknya, pelaku pasar fokus pada rilis data ketenagakerjaan yang akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), serta gejolak politik di Asia dan Eropa yang berpotensi memicu volatilitas pasar,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya, dilansir Antara, Jumat, 6 Desember 2024.
     
    Pendukung faktor eksternal

    Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan ekonomi AS lebih kuat dibandingkan perkiraan saat bank sentral mulai memangkas suku bunga acuan pada September 2024. Pelaku pasar membaca pernyataan Powell sebagai sinyal dukungan terhadap penurunan suku bunga acuan yang lebih lambat.
    Di sisi lain, pelaku pasar juga memiliki ekspektasi otoritas Tiongkok akan memperkenalkan langkah-langkah kebijakan ekonomi yang mendukung. Pelaku pasar berharap pada hasil positif dari forum kerja ekonomi pusat yang akan datang dan pertemuan Politbiro di Tiongkok.
     
    Selain itu, optimisme muncul bank sentral Tiongkok akan memberikan pelonggaran moneter lebih lanjut pada tahun depan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengatasi deflasi.
     
     

     
    Sementara dari dalam negeri, pergerakan IHSG berpeluang melanjutkan tren positif, katalis positif didukung oleh hasil pertemuan Presiden Prabowo dengan Wakil Ketua DPR, yang mana disepakati kenaikan PPN sebesar 12 persen pada awal 2025 akan diterapkan secara selektif hanya pada barang-barang mewah, sedangkan barang dan jasa lainnya tetap dikenakan PPN sebesar 11 persen.
     
    Artinya, barang kebutuhan pokok dan layanan yang langsung berkaitan dengan masyarakat akan tetap dikenakan tarif pajak yang berlaku saat ini, yaitu 11 persen.
     
    Bank Indonesia (BI) menilai cadangan devisa yang ada mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Dibuka melemah, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
     
    3 sektor melemah

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sepuluh sektor menguat yaitu dipimpin sektor teknologi sebesar 1,86 persen, diikuti oleh sektor properti dan sektor infrastruktur yang masing-masing sebesar 1,72 persen dan 1,04 persen.
     
    Sedangkan, tiga sektor melemah yaitu sektor kesehatan turun sebesar minus 0,54 persen, diikuti oleh sektor transportasi & logistik dan sektor industri yang masing-masing turun sebesar 0,30 persen dan 0,07 persen.
     
    Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu TMPO, ZBRA, KONI, SSTM dan MTFN. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni UNIQ, PTIS, EMDE, SOFA dan NINE.
     
    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.102.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,95 miliar lembar saham senilai Rp9,60 triliun. Sebanyak 335 saham naik 275 saham menurun, dan 336 tidak bergerak nilainya.
     
    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 304,43 poin atau 0,77 persen ke level 39.091,17, indeks Shanghai menguat 35,22 poin atau 1,05 persen ke posisi 3.364,65, indeks Kuala Lumpur melemah 2,39 poin atau 0,15 persen ke posisi 1.613,25, dan indeks Straits Times melemah 26,52 poin atau 0,69 persen ke 3.796,16.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (AHL)

  • Wall Street Akhiri Rekor Menanti Data Pekerjaan AS

    Wall Street Akhiri Rekor Menanti Data Pekerjaan AS

    New York: Indeks saham berjangka AS turun sedikit pada Kamis malam setelah Wall Street mengakhiri rekor tertingginya.
     
    Para investor menunggu sebelum data nonfarm payrolls November.
     
    Data klaim pengangguran yang lebih tinggi dari perkiraan juga tidak banyak membantu meredam spekulasi pasar tenaga kerja pulih dengan tajam pada November.
     
    Namun, dengan ketahanan dalam pekerjaan yang menandakan laju penurunan suku bunga yang lebih lambat oleh Federal Reserve.
     
    Mengacu laman Investing.com, Jumat, 6 Desember 2024, S&P 500 ditutup turun 0,2 persen menjadi 6.075,11 poin, sementara NASDAQ Composite turun 0,2 persen menjadi 19.702,73 poin pada hari Kamis. Dow Jones Industrial Average turun 0,6 perse menjadi 44.765,71 poin, dengan ketiga indeks turun dari rekor tertingginya.
     

    Nonfarm payrolls ditunggu untuk isyarat suku bunga lebih lanjut
    Fokus saat ini tertuju pada data nonfarm payrolls untuk November akan dirilis Jumat.
     
    Pembacaan diperkirakan akan menunjukkan pasar tenaga kerja pulih secara tajam dari gangguan terkait cuaca di Oktober, dengan perkiraan pertumbuhan gaji sebesar 202 ribu, dibandingkan dengan 12 ribu pada bulan sebelumnya.
     
    Kekuatan di pasar tenaga kerja diperkirakan akan memberi Federal Reserve lebih banyak ruang untuk memangkas suku bunga nantinya.
     
    Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Ketua Jerome Powell, mengatakan kekuatan dalam ekonomi memungkinkan bank untuk lebih berhati-hati ketika mempertimbangkan pelonggaran di masa depan.
     
    Sebagian besar mempertahankan taruhan mereka pada penurunan suku bunga 25 basis poin oleh The Fed pada Desember. Namun keraguan telah muncul tentang pelonggaran di masa depan, terutama karena investor juga melihat kebijakan inflasi di bawah Presiden terpilih Donald Trump.
     
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • IHSG ditutup melemah di tengah optimisme pemangkasan bunga The Fed

    IHSG ditutup melemah di tengah optimisme pemangkasan bunga The Fed

    Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup melemah di tengah optimisme pelaku pasar terhadap pemangkasan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed.

    IHSG ditutup melemah 13,45 poin atau 0,18 persen ke posisi 7.313,31. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 9,14 poin atau 1,03 persen ke posisi 874,45.

    “Pelaku pasar mencerna komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) berada dalam kondisi yang sangat baik, sehingga The Fed tidak perlu terburu-buru dalam menurunkan suku bunga acuan sambil menunggu inflasi turun ke target 2 persen,” sebut Tim Riset Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

    Ketua bank sentral AS The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan tanggal 18 Desember 2024 mendatang.

    Pelaku pasar melihat sebesar 77 persen peluang pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) dari peluang 67 persen seminggu lalu.

    Dari pasar tenaga kerja, data ADP Employment Report memperlihatkan sektor swasta di AS menambah 146.000 pekerja pada November 2024, atau paling sedikit dalam tiga bulan, menyusul penambahan 184.000 pekerja pada Oktober 2024, namun sedikit di bawah ramalan pasar sebanyak 150.000.

    Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor properti sebesar 0,64 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor energi yang masing- masing sebesar 0,49 persen dan 0,46 persen.

    Sedangkan, satu sektor melemah yaitu sektor transportasi & logistik turun sebesar minus 0,40 persen.

    Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu EMDE, SSTM, PTIS, KONI dan JIHD. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni FUJI, DADA, REAL, KMTR dan ZATA.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.199.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 14,90 miliar lembar saham senilai Rp9,43 triliun. Sebanyak 318 saham naik 303 saham menurun, dan 325 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 119,21 poin atau 0,30 persen ke level 39.395,60, indeks Shanghai menguat 4,21 poin atau 0,13 persen ke posisi 3.368,86, indeks Kuala Lumpur menguat 1,55 poin atau 0,10 persen ke posisi 1.615,64, dan indeks Straits Times menguat 22,74 poin atau 0,60 persen ke 3.822,68.

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Biqwanto Situmorang
    Copyright © ANTARA 2024

  • Komentar Bullish Bos The Fed Picu Penguatan Bursa Asia

    Komentar Bullish Bos The Fed Picu Penguatan Bursa Asia

    Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham di Asia menguat setelah pasar global mencapai rekor seiring dengan komentar optimistis Gubernur Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell yang mendukung aset berisiko. Sementara itu, pedagang mata uang tetap waspada karena pemerintah Prancis jatuh setelah mosi tidak percaya.

    Mengutip Bloomberg pada Kamis (5/12/2024), indeks saham Topix Jepang menguat 0,5%, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,7%, sementara saham berjangka di Hong Kong sedikit lebih rendah.

    Saham berjangka AS sedikit berubah setelah kenaikan pada Rabu untuk S&P 500 dan Nasdaq 100 yang sarat teknologi mendorong indeks utama saham global ke level tertinggi baru.

    Pergerakan tersebut didorong oleh perusahaan teknologi AS yang disebut Magnificent Seven menguat selama empat sesi berturut-turut. Reli tersebut dibantu oleh kenaikan untuk Nvidia Corp dan Meta Platforms Inc.

    Imbal Hasil obligasi AS atau US Treasury stabil setelah reli di sesi sebelumnya di seluruh kurva. Imbal hasil 10 tahun turun empat basis poin pada hari Rabu, sementara imbal hasil dua tahun yang sensitif terhadap kebijakan turun lima basis poin. 

    Dalam acara New York Times DealBook Summit di New York, Powell mengatakan ekonomi AS dalam kondisi yang sangat baik, dan menyampaikan bahwa risiko penurunan dari pasar tenaga kerja telah surut.

    Powell juga mengatakan pejabat Federal Reserve mampu bersikap hati-hati saat mereka menurunkan suku bunga ke tingkat netral — yang tidak merangsang atau menahan ekonomi.

    Di Eropa, euro menghadapi tantangan lebih lanjut menyusul perselisihan mengenai anggaran tahun depan di Paris. Pemimpin sayap kanan Prancis Marine Le Pen dan koalisi sayap kiri memberikan suara menentang pemerintahan Perdana Menteri Michel Barnier, sehingga memperburuk prospek bagi investor. 

    Pasar sebagian besar telah memperkirakan hasil tersebut sebelum waktunya yang terjadi setelah perdagangan reguler ditutup.

    Mata uang won stabil setelah kekacauan awal minggu ini di Korea Selatan. Presiden Yoon Suk Yeol diperkirakan akan berpidato di hadapan rakyat pada Kamis malam.

    Yen stabil di sekitar 150 per dolar pada perdagangan Kamis pagi. Imbal hasil untuk utang pemerintah Australia dan Selandia Baru turun pada Kamis pagi, mencerminkan pergerakan dalam Obligasi Pemerintah pada hari sebelumnya.

  • Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat 24 Poin ke Level Rp 15.913 Per Dolar AS

    Rupiah Hari Ini Dibuka Menguat 24 Poin ke Level Rp 15.913 Per Dolar AS

    Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi hari ini, Kamis (5/12/2024), menguat dibandingkan perdagangan sebelumnya.

    Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah berada di level Rp 15.913 per dolar AS atau menguat 24 poin (0,15%) dibandingkan perdagangan sebelumnya.

    Pada perdagangan sehari sebelumnya, nilai tukar rupiah menguat tipis 0,06% ke level Rp 15.937 terhadap dolar AS menjelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang akan memengaruhi arah suku buka The Fed.

    Sementara itu, pada saat rupiah menguat hari ini, dalam pasar obligasi, indeks obligasi turun 0,06%, dan imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun stabil di level 6,90%.

    Untuk pasar saham, pada saat nilai tukar rupiah dibuka menguat hari ini, Yugen Bertumbuh Sekuritas memprediksi IHSG pada hari ini juga akan menguat dan bergerak pada rentang 7.202 – 7.389. 

  • Bos The Fed Beri Sinyal Perlambatan Laju Pemangkasan Suku Bunga

    Bos The Fed Beri Sinyal Perlambatan Laju Pemangkasan Suku Bunga

    Bisnis.com, JAKARTA — Ketua The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan kondisi ekonomi AS sekarang lebih kuat daripada ekspektasi bank sentral pada September 2024 ketika mulai menurunkan suku bunga. Powell juga mengisyaratkan dukungannya untuk perlambatan laju penurunan suku bunga.

    “Ekonomi AS dalam kondisi yang sangat baik dan tidak ada alasan untuk tidak melanjutkannya. Risiko penurunan tampaknya berkurang di pasar tenaga kerja, pertumbuhan jelas lebih kuat dari yang kita duga, dan inflasi telah sedikit lebih tinggi,” kata Powell di sebuah acara New York Times, dikutip dari Reuters pada Kamis (5/12/2024).

    “Jadi kabar baiknya adalah kita mampu bersikap sedikit lebih berhati-hati saat kita mencoba mencari posisi netral.”

    Pernyataannya selama wawancara setengah jam yang membahas kebijakan moneter dan ekonomi secara luas kemungkinan merupakan pernyataan terakhirnya sebelum pertemuan kebijakan pada 17—18 Desember, karena periode tenang ketika pejabat Fed menahan diri untuk tidak berbicara tentang kebijakan moneter sebelum pertemuan dimulai pada Sabtu.

    Komentar mendalam oleh beberapa kolega utama Powell minggu ini telah mengarah pada pemotongan suku bunga ketiga berturut-turut. Gubernur Fed Christopher Waller sebelumnya mengatakan dia cenderung untuk melakukan pengurangan meskipun yang lain menolak untuk berkomitmen sebelumnya terhadap hasil tersebut.

    Pernyataan Powell tersebut tampak sejalan dengan kelompok pembuat kebijakan yang lebih berhati-hati dan sebagian besar menggemakan penampilan publik terakhirnya pada pertengahan November 2024. Kala itu, dia mengatakan bahwa The Fed dapat dengan hati-hati mempertimbangkan pemotongan suku bunga dan tidak perlu terburu-buru. 

    Data inflasi dan pekerjaan sejak saat itu, dan komentar Waller khususnya, secara substansial mendorong ekspektasi pasar terhadap pemotongan suku bunga acuan seperempat poin lagi ke kisaran 4,25% hingga 4,50%.

    “Powell tidak banyak bicara untuk mengubah pandangan pasar bahwa Fed kemungkinan akan memangkas suku bunga,” sebagaimana dirangkum oleh para ekonom di BMO.

    Ketua Fed telah menekankan perlunya bank sentral untuk tetap membuka opsi-opsinya di saat meningkatnya ketidakpastian mengenai bentuk kebijakan ekonomi yang lebih luas di tahun mendatang, beberapa kekhawatiran bahwa kemajuannya dalam inflasi telah terhenti, dan bukti bahwa penurunan yang dikhawatirkan di pasar kerja telah dihindari.

    Powell mengatakan, pemangkasan suku bunga setengah poin oleh The Fed pada September lalu dimaksudkan sebagai sinyal kuat bahwa pihaknya akan mendukung pasar tenaga kerja jika pasar tersebut terus melemah. Pada saat itu, tingkat pengangguran telah meningkat dan pertumbuhan gaji telah melambat, dan setidaknya satu pejabat The Fed secara terbuka khawatir bahwa masalah The Fed berikutnya adalah inflasi yang terlalu rendah.

    “Yang terjadi justru dalam beberapa bulan setelah itu, kami mendapatkan beberapa revisi data, yang secara kuat menunjukkan bahwa ekonomi bahkan lebih kuat dari yang kami duga,” kata Powell.

    Pejabat The Fed akan mendapatkan data baru tentang pasar tenaga kerja pada Jumat (6/12/2024) waktu setempat, dan tentang inflasi minggu depan. Rilis data tersebut akan membantu membentuk tidak hanya keputusan pada pertemuan penetapan kebijakan terakhir mereka tahun ini tetapi juga prospek kebijakan mereka untuk tahun depan.

    Saat Powell berbicara, The Fed menerbitkan survei yang menunjukkan bahwa bisnis di seluruh negeri optimis tentang peningkatan permintaan dalam beberapa bulan mendatang. Namun, pada saat yang sama mereka khawatir tentang potensi implikasi inflasi dari tarif yang dijanjikan oleh Presiden terpilih Donald Trump.

    Dengan kebijakan yang pasti belum diketahui, keputusan yang akan diambil Fed hari ini “bukan tentang itu; melainkan tentang apa yang terjadi dalam perekonomian saat ini,” kata Powell pada hari Rabu.

    Sebelumnya pada hari yang sama, dua pejabat Fed lainnya—kepala bank regional di Richmond dan St. Louis—merahasiakan rencana mereka.

    “Saya tetap membuka semua pilihan saya,” kata Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem, seraya menambahkan bahwa dia akan melihat data yang masuk sebelum memutuskan apakah suku bunga perlu diturunkan lagi dalam dua pekan.

    Sementara itu, Presiden Richmond Fed, Thomas Barkin, mengatakan dia yakin inflasi dan lapangan kerja sedang menuju arah yang benar. Namun, dengan lebih banyak data yang akan keluar sebelum pertemuan, dia masih akan melihat kondisi ke depan.

    Pengukuran utama inflasi, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi tidak termasuk biaya makanan dan energi, telah berjalan menyamping dalam kisaran 2,6% hingga 2,8% sejak Mei, jauh di atas target bank sentral sebesar 2%.

    Meski pejabat The Fed secara rutin mengatakan bahwa mereka merasa tekanan harga masih akan mereda, dengan biaya perumahan khususnya melambat secara riil tetapi belum tercermin dalam data pemerintah yang tertinggal, mereka juga akan menginginkan bukti itu sebelum memangkas suku bunga lebih jauh.

    Menjelang penampilan Powell, survei bisnis utama menunjukkan sedikit pendinginan di sektor jasa AS yang luas. 

    Para pelaku bisnis khawatir tentang kemungkinan putaran tarif baru pada impor dari pemerintahan Trump yang akan datang awal tahun depan. Tarif tersebut dikhawatirkan dapat berdampak pada harga yang lebih tinggi di masa mendatang. 

    Pada saat yang sama, penjualan mobil pada bulan November adalah yang tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, menunjukkan konsumsi tetap sehat.

    Campuran data tersebut yang membuat pejabat The Fed waspada dan enggan menawarkan banyak hal melalui panduan konkret ke depan, bahkan ketika beberapa telah mencatat bahwa suku bunga masih jauh di atas level yang akan berhenti menjadi hambatan bagi ekonomi, dan akan tetap demikian bahkan setelah penurunan seperempat poin lagi.

    Waller, misalnya, melindungi kecenderungannya terhadap penurunan suku bunga bulan ini dengan ketentuan bahwa data menjelang pertemuan dapat mengubah posisinya.

  • 5 Minggu Tembus Level Tertinggi, Harga Emas Turun karena Penguatan Dolar

    Harga Emas Dunia Naik Tipis Ditopang Data Gaji di AS dan Pernyataan Ketua The Fed

    Jakara, Beritasatu.com – Harga emas dunia naik tipis pada Rabu (4/12/2024), setelah data menunjukkan kenaikan gaji sektor swasta di Amerika Serikat (AS) yang lebih rendah dari ekspektasi bulan lalu. Investor juga memantau pernyataan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell dan menantikan laporan nonfarm payrolls yang dijadwalkan rilis pada Jumat (6/12/2024).

    Dilansir dari Reuters, harga emas spot naik 0,4% ke level US$ 2.654,03 per ons, sementara emas berjangka AS ditutup dengan kenaikan 0,3% menjadi US$ 2.676,20 per ons.

    Data tenaga kerja automatic data processing (ADP) AS menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta di AS bertambah 146.000 posisi pada bulan lalu, sedikit di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebanyak 150.000 posisi.

    “Harga emas dunia naik karena laporan ADP tidak sesuai harapan, meskipun hanya sedikit di bawah konsensus. Pasar sebelumnya mengantisipasi kenaikan lebih besar setelah gangguan akibat badai dan dampak dari pemogokan tenaga kerja Boeing,” kata Tai Wong, pedagang logam independen.

    Sementara itu Jerome Powell dalam pidatonya menyebutkan, kondisi ekonomi AS memungkinkan bank sentral mengambil pendekatan lebih hati-hati dalam menentukan arah kebijakan suku bunga di masa mendatang.

    Investor kini menunggu laporan nonfarm payrolls AS pada Jumat, serta data inflasi pekan depan, untuk mendapatkan gambaran lebih jelas tentang arah kebijakan moneter Federal Reserve.

    Everett Millman, kepala analis pasar di Gainesville Coins menyatakan, pasar emas dunia bereaksi tenang terhadap perkembangan terbaru.

    “Data nonfarm payrolls akan menjadi penggerak utama harga emas. Apabila data menunjukkan pelemahan, harga emas dunia cenderung mendapat dukungan,” ujarnya.

    Ketidakstabilan geopolitik global turut mendukung posisi emas sebagai aset aman. Beberapa isu utama yang memengaruhi harga emas naik, meliputi kekacauan politik di Korea Selatan, krisis pemerintahan Prancis, serangan pesawat tak berawak Rusia yang intensif di Ukraina, hingga ancaman perang Israel dengan Lebanon apabila gencatan senjata dengan Hizbullah runtuh.

  • Harga Emas Dunia Naik usai Rilis Data Tenaga Kerja AS, Jadi Berapa? – Page 3

    Harga Emas Dunia Naik usai Rilis Data Tenaga Kerja AS, Jadi Berapa? – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Harga emas berbalik menguat pada Rabu setelah data menunjukkan bahwa lapangan kerja sektor swasta di AS tumbuh dengan laju moderat bulan lalu. Para investor emas kini menantikan pernyataan dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell di hari yang sama, serta laporan ketenagakerjaan non-pertanian AS pada Jumat mendatang.

    Dikutip dari CNBC, Kamis (5/12/2024), harga emas spot naik 0,3% menjadi USD 2.652,14 per ons. Sementara emas berjangka AS juga naik 0,3% menjadi USD 2.676,40 per ons.

    “Harga emas menguat setelah data ADP tidak memenuhi ekspektasi, dengan angka yang sedikit lebih rendah dari konsensus. Pasar sebenarnya mengharapkan lonjakan yang lebih besar setelah dampak badai dan pemogokan Boeing,” ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen.

    Data Tenaga Kerja AS

    Laporan ADP menunjukkan bahwa lapangan kerja sektor swasta meningkat sebesar 146.000 posisi bulan lalu, sedikit di bawah perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yaitu 150.000 posisi.

    Menurut Everett Millman, analis utama di Gainesville Coins, emas masih menunjukkan reaksi yang terbatas terhadap data tersebut. “Dampak yang lebih kuat diperkirakan dari laporan nonfarm payrolls mendatang. Jika data menunjukkan pelemahan ketenagakerjaan, harga emas kemungkinan akan terdorong naik,” katanya.

    Ke depan, pasar akan fokus pada pernyataan Powell hari ini, laporan ketenagakerjaan pada Jumat, serta data inflasi minggu depan sebagai petunjuk arah kebijakan Federal Reserve.

    Bank sentral AS pada Selasa mengindikasikan bahwa inflasi secara bertahap menuju target 2%, memberikan sinyal potensi penurunan suku bunga lebih lanjut.

    Presiden Fed St. Louis, Alberto Musalem, mengatakan pada Rabu bahwa bank sentral AS kemungkinan masih bisa menurunkan suku bunga, tetapi ia memperingatkan bahwa arah kebijakan di masa depan semakin tidak pasti.

    Pedagang memperkirakan peluang 76% untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Fed yang dijadwalkan 17–18 Desember.

    Logam mulia seperti emas, yang tidak menghasilkan bunga, secara historis berkinerja baik di lingkungan suku bunga rendah.

    Selain itu, emas sebagai aset safe haven juga mendapat dukungan dari ketidakstabilan geopolitik global, termasuk krisis politik di Korea Selatan, ancaman runtuhnya pemerintahan Prancis, serangan drone Rusia yang berkelanjutan di Ukraina, serta ancaman Israel untuk berperang dengan Lebanon jika gencatan senjata dengan Hezbollah gagal dipertahankan.

  • Harga Bitcoin Naik hingga Level US$ 99.000 Didorong Rencana Donald Trump

    Harga Bitcoin Naik hingga Level US$ 99.000 Didorong Rencana Donald Trump

    Jakarta, Beritasatu.com – Pasar kripto mengalami lonjakan signifikan dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin naik mencapai level US$ 99.000 setelah presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan rencana untuk mencalonkan Paul Atkins, pendukung mata uang kripto, sebagai pemimpin Securities and Exchange Commission (SEC).

    Menurut data Coinmarketcap pada Kamis (5/12/2024) pukul 06.20 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 2,13% menjadi US$ 3,58 triliun dalam sehari. Bitcoin (BTC), kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, melesat 3,16% mencapai US$ 99.105 per koin atau setara Rp 1,58 miliar (kurs Rp 15.980 per US$).

    Pada 22 November 2024, Bitcoin sempat mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa senilai US$ 99.849,9. Sepanjang tahun ini, nilai Bitcoin telah meningkat lebih dari dua kali lipat.

    Ethereum (ETH) turut mengalami kenaikan tajam sebesar 6,14% mencapai harga US$ 3.629 per koin. Sebaliknya, Binance (BNB) turun tipis 0,53% menjadi US$ 743 per koin, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi hingga US$ 788,8.

    Dikutip dari CoinDesk, kenaikan harga Bitcoin ini didorong pernyataan Jerome Powell dalam pidatonya di New York Times DealBook Summit pada Rabu (4/12/2024), yang menyebutkan bahwa Bitcoin lebih mirip emas dibandingkan dolar AS.

    “Orang-orang memperlakukan Bitcoin sebagai aset spekulatif. Ini seperti emas, tetapi dalam bentuk digital. Bitcoin tidak digunakan sebagai alat pembayaran atau penyimpan nilai. Volatilitasnya sangat tinggi. Jadi, ini bukan pesaing dolar, melainkan pesaing emas. Begitulah pandangan saya,” ujar Powell.

    Selain itu, harga Bitcoin juga terdongkrak setelah Donald Trump mengumumkan pencalonan Paul Atkins sebagai pemimpin baru SEC.

    “Paul adalah pemimpin yang telah terbukti dalam menerapkan regulasi yang masuk akal. Ia percaya pada potensi pasar modal yang kuat dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan investor, sekaligus mendukung pengembangan ekonomi Amerika. Paul juga memahami pentingnya aset digital dan inovasi lainnya dalam menjadikan Amerika lebih hebat lagi,” tulis Trump melalui media sosialnya yang mendorong harga Bitcoin naik.