Tag: Jerome Powell

  • Rupiah Ditutup Menguat 3 Poin terhadap Dolar AS

    Rupiah Ditutup Menguat 3 Poin terhadap Dolar AS

    Jakarta: Nilai tukar rupiah terpantau menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini.
     
    Mengacu data Bloomberg, Rabu, 18 Desember 2024, rupiah menguat tiga poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.097,5 per USD.
     
    Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah melemah 26 poin atau 0,16 persen menjadi Rp16.085 per USD.
     

    Prediksi The Fed
    Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan, indeks dolar AS masih terpantau menguat pada hari ini. Hal itu didorong oleh prediksi The Fed yang secara luas diharapkan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi fokusnya akan tertuju pada proyeksi ekonomi masa depan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell.
     
    “Sinyal tentang prospek suku bunga jangka panjang The Fed tetap menjadi fokus karena inflasi tetap membandel dan diperkirakan akan terus meningkat di bawah Presiden Donald Trump yang akan datang,” jelas Ibrahim.
    Selain The Fed, Bank of Japan dan Bank of England juga dijadwalkan untuk membuat keputusan suku bunga minggu ini.
     
    BOE diharapkan mempertahankan suku bunga tetap stabil, sementara pasar terbagi atas apakah BOJ akan menaikkan suku bunga lebih lanjut.
     
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Rupiah Diprediksi Lesu Dibayangi Pemangkasan Suku Bunga AS

    Rupiah Diprediksi Lesu Dibayangi Pemangkasan Suku Bunga AS

    JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis, 19 Desember 2024 diperkirakan akan bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

    Mengutip Bloomberg, nilai tukar Rupiah hari Rabu, 18 Desember 2024, Kurs rupiah spot di tutup menguat tipis 0,02 persen ke level Rp16.097 per dolar AS. Sementara, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) ditutup turun 0,31 persen ke level harga Rp16.100 per dolar AS.

    Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan The Fed secara luas diharapkan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, tetapi fokusnya akan tertuju pada proyeksi ekonomi masa depan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell.

    “Sinyal tentang prospek suku bunga jangka panjang The Fed tetap menjadi fokus karena inflasi tetap membandel dan diperkirakan akan terus meningkat di bawah Presiden Donald Trump yang akan datang,” ujarnya dalam keterangannya, dikutip Kams, 19 Desember.

    Selain itu, Ibrahim menyampaikan Bank of Japan dan Bank of England juga dijadwalkan untuk membuat keputusan suku bunga minggu ini. BOE diharapkan mempertahankan suku bunga tetap stabil, sementara pasar terbagi atas apakah BOJ akan menaikkan suku bunga lebih lanjut.

    Sementara dari dalam negeri, Pasar merespon negatif terhadap kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025. Kebijakan ini dinilai tidak membawa perubahan signifikan. Kenaikan tarif PPN akan berdampak besar pada ekonomi Masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

    Meskipun pemerintah menyatakan keberpihakan pada masyarakat bawah, kenyataannya PPN tetap naik untuk sebagian besar kebutuhan mereka. Tidak hanya itu, saya juga mengkritik perbandingan yang dibuat pemerintah mengenai tarif PPN Indonesia dengan negara-negara seperti Kanada, China, dan Brazil. Perbandingan tersebut tidak relevan karena negara-negara tersebut memiliki pendapatan per kapita tinggi dan ekonomi yang stabil.

    Selain itu, Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan atau BI rate pada level 6 persen di tengah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen.

    Keputusan ini konsisten dengan arah kebijakan moneter untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2024 dan 2025, serta untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

    Kebijakan moneter diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak makin tingginya ketidakpastian perekonomian global akibat arah kebijakan Amerika Serikat dan eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai wilayah.

    Ke depan, BI akan terus memperhatikan pergerakan nilai tukar rupiah dan prospek inflasi, serta dinamika kondisi yang berkembang, dalam mencermati ruang penurunan suku bunga moneter lebih lanjut.

    Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 19 Desember 2024 dalam rentang harga Rp16.080 – Rp16.140 per dolar AS.

  • Rupiah melemah tajam karena The Fed beri pernyataan sangat “hawkish”

    Rupiah melemah tajam karena The Fed beri pernyataan sangat “hawkish”

    Kepala The Fed, Powell memberikan pernyataan yang sangat hawkish akan prospek suku bunga dengan mengindikasikan hanya akan terjadi pemangkasan sebesar 50 bps tahun depan, turun dari 75-100 bps perkiraan sebelumnya

    Jakarta (ANTARA) – Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan tajam nilai tukar rupiah disebabkan Kepala The Fed (Federal Reserve) Jerome Powell memberikan pernyataan yang sangat hawkish terkait prospek suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

    “Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam pasca pertemuan FOMC yang dimana The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 bps (basis points), namun Kepala The Fed, Powell memberikan pernyataan yang sangat hawkish akan prospek suku bunga dengan mengindikasikan hanya akan terjadi pemangkasan sebesar 50 bps tahun depan, turun dari 75-100 bps perkiraan sebelumnya,” ujarnya ketika ditanya ANTARA di Jakarta, Kamis.

    Menurut dia, alasan mengapa The Fed memberikan pernyataan tersebut ialah proyeksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari 2 persen menjadi 2,5 persen.

    Selain itu juga inflasi inti Personal Consumption Expenditure (PCE) yang diperkirakan berkisar 2,4-2,8 persen, masih di atas target 2 persen.

    “The Fed juga mengantisipasi kemungkinan kebijakan tarif Trump tahun depan,” ungkap dia.

    Lukman memprediksi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berkisar antara Rp16.150-Rp16.300 per dolar AS.

    Adapun keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 6 persen pada Rabu (18/12) dinilai merupakan bentuk komitmen lembaga tersebut tetap menjaga kurs mata uang Indonesia.

    Suku bunga deposit facility juga tetap ditahan pada level 5,25 persen serta suku bunga lending facility juga tetap sebesar 6,75 persen.

    “BI tetap pada komitmen menjaga rupiah seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya,” ucap dia.

    Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi, melemah tajam 127 poin atau 0,79 persen menjadi Rp16.225 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.098 per dolar AS.

    Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
    Editor: Faisal Yunianto
    Copyright © ANTARA 2024

  • Usai Pangkas Suku Bunga, The Fed Fokus Kendalikan Inflasi

    Usai Pangkas Suku Bunga, The Fed Fokus Kendalikan Inflasi

    Bisnis.com, JAKARTA – The Federal Reserve (The Fed) menutup 2024 dengan pemangkasan suku bunga ketiga berturut-turut pada pertemuan periode Desember. Bank sentral Amerika Serikat itu juga mengindikasikan bahwa kekhawatiran inflasi kembali mengemuka. 

    Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan dalam konferensi pers pada Rabu (18/12/2024) waktu setempat bahwa proyeksi inflasi akhir tahun bank sentral agak meleset.

    Para pejabat kini melihat butuh waktu lebih lama bagi inflasi untuk mencapai target 2% mereka, yang telah mereka lewatkan selama hampir empat tahun. Akibatnya, mereka mengurangi ekspektasi untuk pemotongan suku bunga tahun depan, dan Powell menjelaskan bahwa penyesuaian apa pun akan bergantung pada kemajuan lebih lanjut dalam mendinginkan kenaikan harga.

    Fokus yang lebih kuat pada inflasi merupakan perubahan strategi yang signifikan sejak September ketika para pejabat melihat pelemahan pasar tenaga kerja sebagai risiko yang lebih besar. Namun, data terkini telah menghidupkan kembali kekhawatiran tentang inflasi yang terhenti di atas target 2% bank sentral — seperti halnya proposal kebijakan dari Presiden terpilih Donald Trump. 

    “Saat kita memikirkan pemotongan lebih lanjut, kita akan mencari kemajuan pada inflasi. Kita telah bergerak menyamping pada inflasi 12 bulan,” kata Powell dikutip dari Bloomberg pada Kamis (19/12/2024).

    Pembuat kebijakan kini hanya melihat median pengurangan sebesar setengah poin persentase tahun depan, setengah dari yang diharapkan pada bulan September. 

    Pasar bereaksi cepat dan keras terhadap jalur baru yang diproyeksikan Fed. Pasar dan saham Treasury AS anjlok, sementara dolar AS menguat ke level terkuat dalam lebih dari dua tahun.

    Beberapa bulan yang lalu, Powell membujuk komite untuk memangkas suku bunga setengah poin sebagai langkah pertama mereka. Dengan pemangkasan seperempat poin pada bulan November dan Rabu, Fed telah mengurangi biaya pinjaman hingga satu persen penuh selama tiga pertemuan, serangkaian pemangkasan paling tajam di luar krisis sejak tahun 2001.

    Langkah terbaru, yang menurunkan suku bunga dana federal ke kisaran 4,25%-4,5%, merupakan keputusan yang lebih tepat, kata Powell. Presiden Fed Cleveland Beth Hammack memberikan suara menentang tindakan tersebut, lebih memilih untuk mempertahankan suku bunga tetap stabil.

    Risiko Inflasi

    “Sejak saat ini, akan jauh lebih sulit untuk mendapatkan pemangkasan suku bunga tanpa perbaikan lebih lanjut pada inflasi,” kata Conrad Dequadros, penasihat ekonomi senior di Brean Capital LLC. “Saya membayangkan bahwa kurangnya konsensus mungkin lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh satu perbedaan pendapat.”

    Lima belas dari 19 pejabat sekarang melihat risiko inflasi yang lebih tinggi akan melebihi ekspektasi mereka daripada di bawah ekspektasi mereka, perubahan besar dari tiga pejabat yang merasakan hal yang sama pada bulan September. Dan 14 pejabat mengatakan mereka melihat ketidakpastian yang lebih tinggi seputar perkiraan inflasi mereka.

    Banyak ekonom mengatakan rencana Trump untuk pemotongan pajak, deportasi massal, dan tarif baru berisiko memicu inflasi. Powell mengatakan beberapa orang mulai memasukkan kebijakan yang diusulkan ke dalam perkiraan mereka pada pertemuan Desember.

    “Ini adalah akal sehat untuk berpikir bahwa ketika jalannya tidak pasti, Anda akan melaju sedikit lebih lambat. Ini tidak seperti mengemudi di malam yang berkabut atau berjalan ke ruangan gelap yang penuh dengan perabotan. Anda hanya memperlambat laju kendaraan,” ujar Powell.

    The Fed kini memperkirakan inflasi sebesar 2,5% pada akhir tahun depan, naik dari median September sebesar 2,1% dan di atasnya, yang menurut mereka pertumbuhan harga akan stabil pada akhir tahun ini. Para pembuat kebijakan kini tidak berharap untuk mencapai target 2% mereka hingga tahun 2027, proyeksi terbaru menunjukkan.

    “Komite ini jelas berfokus pada tantangan inflasi bagi masyarakat dan mereka berkomitmen pada mandat untuk menurunkannya kembali,” kata Patricia Zobel, kepala penelitian ekonomi makro di Guggenheim Investments dan mantan pejabat senior di New York Fed. 

    Meskipun inflasi sejauh ini telah mereda tanpa banyak kerusakan pada perekonomian, Powell mengakui bahwa lonjakan tingkat harga masih membebani kantong masyarakat Amerika.

    “Masyarakat masih merasakan harga yang tinggi,” Powell mengakui. “Yang terbaik yang dapat kami lakukan untuk mereka, dan itulah yang kami perjuangkan, adalah menurunkan inflasi kembali ke targetnya.”

  • The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Ketiga Kali Tahun Ini

    The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Ketiga Kali Tahun Ini

    Jakarta, CNN Indonesia

    Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan (Fed Fund Rate/ FFR)25 basis poin pada Rabu (18/12), waktu setempat. Pemangkasan ketiga kalinya untuk tahun ini itu membuat FFR berada di rentang 4,25-4,5 persen, atau terendah dalam dua tahun terakhir.

    Dilansir CNN, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan pemangkasan suku bunga terbaru adalah “keputusan yang lebih sulit”.

    Ia mengungkapkan angka inflasi baru-baru ini adalah “faktor tunggal terbesar” dalam pikiran para pejabat selama pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pekan ini.

    Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack adalah satu-satunya yang tidak setuju dengan keputusan pemangkasan tersebut dan lebih memilih untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

    The Fed sebelumnya mengisyaratkan dalam pernyataan kebijakannya bahwa bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tetap stabil di masa mendatang.

    Pasalnya, inflasi tetap jauh di atas target bank sentral sebesar 2 persen. Ekonomi AS juga terbukti sangat tangguh dalam menghadapi biaya pinjaman yang tinggi.

    Menurut perkiraan terbaru, The Fed hanya akan menurunkan suku bunga acuan dua kali tahun depan, turun dari empat kali yang mereka proyeksikan pada bulan September lalu.

    Para pejabat juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang sedikit lebih kuat, pengangguran yang sedikit lebih rendah, dan inflasi pada tahun 2025 akan lebih tinggi dari yang mereka perkirakan sebelumnya.

    The Fed juga memperkirakan ekonomi AS tahun depan akan menguat, tanpa resesi yang terlihat. Bank sentral juga memperkirakan inflasi akan mencapai target mereka dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang mereka perkirakan sebelumnya, tidak akan menyentuh 2 persen hingga tahun 2027.

    Powell memuji ekonomi AS dalam konferensi pers pascapertemuan, dengan mengatakan kekuatannya telah menjadi “cerita” tahun ini. Ia menegaskan kemungkinan penurunan suku bunga yang lebih sedikit tahun depan seperti yang ditunjukkan oleh proyeksi.

    Hal itu mengguncang pasar dengan indeks Dow anjlok lebih dari 1.000 poin.

    Beberapa investor optimis dengan prospek pertumbuhan yang kuat tahun depan, yang dapat terwujud dari kebijakan Presiden terpilih Donald Trump.

    Pemerintahan yang baru berjanji untuk memperpanjang pemotongan pajak 2017 dan memangkas regulasi – kebijakan yang siap untuk meningkatkan pertumbuhan jika diberlakukan.

    Namun, ancaman Trump untuk mengenakan tarif besar-besaran pada barang-barang yang berasal dari Meksiko, Kanada, dan Tiongkok dapat menggagalkan ekonomi karena berisiko memicu inflasi.

    Sepanjang tahun ini, The Fed telah memangkas suku bunganya sebesar 100 bps dari 5,25-5,50 persen menjadi 4,25-4,50 persen. Pemangkasan sebelumnya dilakukan pada September lalu sebesar 50 bps dan November 25 bps.

    Sejak Maret 2022-Juli 2023, The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 525 bps. Kemudian, FFR ditahan di rentang 5,25-5,5 persen pada periode September 2023 – Agustus 2024.

    (sfr/sfr)

  • BI Tahan Suku Bunga, IHSG Diprediksi Lanjut Koreksi

    BI Tahan Suku Bunga, IHSG Diprediksi Lanjut Koreksi

    Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova mengatakan,  IHSG ditutup di bawah support Fibonacci 7.112 pada hari Rabu, yang mengindikasikan adanya kemungkinan untuk menguji kembali support fraktal 7.041

    “Atau bahkan melanjutkan tren turunnya menuju 6.985 jika terjadi penembusan di bawah level tersebut,” kata Ivan dalam riset hariannya.

    Adapun, level support IHSG berada di 7.041, 6.958, dan 6.875. Sementara level resistennya di 7.216, 7.263, 7.297, dan 7.345. Indikator MACD menunjukkan sinyal death cross.

    Ivan memprediksi IHSG hari ini bergerak di antara support 7.060 dan resisten 7.140. Daftar saham pilihannya adalah ADRO, ANTM, BMRI, GOTO, dan ITMG.

    Di sisi lain, Phintraco Sekuritas (Phintas) memproyeksikan IHSG hari ini melaju di kisaran support 7.000, pivot 7.075, dan resisten 7.130. IHSG masih rawan melanjutkan pelemahan pada Kamis (19/12).

    “IHSG memiliki level critical support di kisaran .7030 dan level psikologis 7.000. Waspadai potensi pelemahan ke kisaran level tersebut di hari ini (19/12) dan besok (20/12),” kata Head of Research Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan dalam riset hariannya.

    Sentimen negatif utama tentunya berasal dari pernyataan hawkish Kepala the Fed, Jerome Powell (18/12). Powell mengindikasikan bahwa pemangkasan tahun depan akan lebih lambat dari perkiraan pasar karena the Fed sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin di November dan Desember 2024 serta kecenderungan the Fed yang lebih berhati-hati.

    Lonjakan yield obligasi di AS diperkirakan memicu berlanjutnya capital outflow dari pasar modal Indonesia. Keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan di 6 persen (18/12) diperkirakan berdampak terbatas terhadap hal tersebut, khususnya dalam jangka pendek.

    Adapun, daftar saham yang masih dapat diperhatikan pada perdagangan Kamis (19/12) menurut Phintas, yakni: SSIA, ACES, ANTM, HRUM, dan TINS.

  • Powell Buka-Bukaan Alasan The Fed Hanya Isyaratkan 2 Kali Cut Rate Tahun Depan

    Powell Buka-Bukaan Alasan The Fed Hanya Isyaratkan 2 Kali Cut Rate Tahun Depan

    Bisnis.com, JAKARTA – Chairman Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan bank sentral AS akan lebih bersikap hati-hati dalam memutuskan pemangkasan suku bunga pada tahun mendatang, usai The Fed memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pada Rabu (18/12/2024).

    Melansir Reuters, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memangkas suku bunga Fed Fund Rate (FFR) ke kisaran 4,25%-4,5%.

    “Aktivitas ekonomi terus berkembang dengan kecepatan yang solid dengan tingkat pengangguran yang ‘tetap rendah’ dan inflasi yang ‘tetap sedikit meningkat,” jelas FOMC dalam pernyataannya.

    Dalam konferensi pers setelah keputusan suku bunga, Powell mengatakan sikap kebijakan The Fed saat ini jauh lebih longgar setelah memangkas suku bunga hingga 100 bps dari puncaknya sepanjang 2024.

    “Oleh karena itu, kami dapat lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan penyesuaian lebih lanjut terhadap suku bunga kebijakan kami,” jelas Powell seperti dikutip Bloomberg, Kamis (19/12/2024).

    Meskipun demikian, Powell menambahkan bahwa suku bunga masih “secara signifikan” menahan aktivitas ekonomi, dan The Fed berada di jalur yang tepat untuk terus memangkas. Namun, para pejabat harus melihat lebih banyak kemajuan pada inflasi sebelum melakukan penurunan suku bunga tambahan.

    Dot plot atau proyeksi suku bunga triwulanan terbaru The Fed menunjukkan sejumlah pejabat memperkirakan penurunan suku bunga lebih sedikit untuk tahun depan daripada yang mereka perkirakan beberapa bulan yang lalu, menimbang laju penurunan inflasi yang lebih lambat pada 2025.

    Para pejabat saat ini memperkirakan suku bunga acuan mencapai kisaran 3,75%-4% pada akhir 2025, menyiratkan dua kali penurunan masing-masing sebesar 25 bps, menurut perkiraan median. Hanya lima pejabat yang mengindikasikan preferensi untuk lebih banyak pemangkasan tahun depan.

    Proyeksi ini lebih rendah dari mayoritas ekonom dalam survei Bloomberg yang memperkirakan estimasi median suku bunga akan mengarah pada tiga kali pemangkasan tahun depan.

    Indeks S&P 500 melemah setelah pengumuman tersebut, sementara imbal hasil Treasury AS dan indeks doalr AS menguat. Imbal hasil obligasi bertenor dua tahun, yang lebih sensitif dibandingkan obligasi bertenor lebih panjang terhadap perubahan kebijakan The Fed, memimpin pergerakan Treasury dengan penguatan 8 basis poin menjadi 4,33%, level tertinggi sejak 25 November.

    Powell juga menjawab pertanyaan tentang bagaimana bank sentral dapat menanggapi potensi tarif dari pemerintahan Trump.

    Ia mengatakan bahwa beberapa pembuat kebijakan telah mulai mempertimbangkan dampak potensial dari tarif yang lebih tinggi yang mungkin akan diterapkan oleh Presiden terpilih Donald Trump. Namun ia mengatakan bahwa dampak dari proposal kebijakan tersebut pada saat ini masih sangat tidak pasti.

    “Kami hanya tidak tahu, sungguh, sangat tidak tahu sama sekali tentang kebijakan-kebijakan yang sebenarnya. Jadi masih terlalu dini untuk mencoba menyimpulkan apa pun,” jelas Powell.

  • Harga Emas Dunia Jatuh ke Level Terendah dalam Sebulan

    Harga Emas Dunia Jatuh ke Level Terendah dalam Sebulan

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas dunia mengalami penurunan tajam lebih dari 2% pada Rabu (18/12/2024) dan mencapai posisi terendah dalam satu bulan.

    Penurunan ini terjadi setelah Federal Reserve AS (The Fed) menurunkan suku bunga sesuai ekspektasi, tetapi memberikan sinyal akan memperlambat laju pemangkasan di masa mendatang. Kebijakan ini memperkuat dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatkan imbal hasil obligasi.

    Dilansir dari Reuters, harga emas spot turun 2,1% menjadi US$ 2.589,91 per ons, menandai level terendah sejak 18 November 2024. Sementara itu, harga emas berjangka AS ditutup melemah 0,3% di angka US$ 2.653,30 per ons.

    Tai Wong, seorang pedagang logam independen mengatakan pasar emas tertekan oleh kekhawatiran investor terhadap komentar Ketua The Fed Jerome Powell, yang menyatakan bahwa penurunan suku bunga akan berlangsung lebih lambat seiring dengan kemajuan inflasi.

    “Harga emas dunia yang turun di bawah US$ 2.600 kemungkinan akan membuat sebagian investor waspada,” ujarnya.

    Wakil presiden dan ahli strategi logam di Zaner Metals, Peter Grant optimistis terhadap tren jangka panjang emas.

    “Saya melihat konsolidasi saat ini sebagai pola yang mendukung kelanjutan tren naik emas dalam jangka panjang. Tren tersebut kemungkinan akan kembali terjadi pada kuartal pertama 2025,” katanya.

    Dengan kebijakan The Fed yang cenderung berhati-hati dan data ekonomi penting yang akan dirilis, harga emas dunia masih berada di bawah tekanan hingga akhir tahun.

  • The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Isyaratkan Hanya Dua Kali di 2025

    The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Isyaratkan Hanya Dua Kali di 2025

    Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga acuan 25 basis poin dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berakhir Rabu (18/12/2024).

    Melansir Reuters, Kamis (19/12/2024), The Fed memangkas suku bunga acuan Fed Fund Rate (FFR) 25 bps ke kisaran 4,25%-4,50%.

    “Aktivitas ekonomi terus berkembang dengan kecepatan yang solid dengan tingkat pengangguran yang ‘tetap rendah’ dan inflasi yang ‘tetap sedikit meningkat,” jelas FOMC dalam pernyataannya.

    Namun The Fed mengindikasikan jeda penurunan suku bunga acuan dalam pertemuan kebijakan pada 2025 mendatang, dengan mengatgakan akan bersikap hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko.

    Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan bahwa lebih banyak penurunan suku bunga bergantung pada kemajuan lebih lanjut dalam menurunkan inflasi yang sangat tinggi. Pernyataan ini menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan mulai memperhitungkan prospek perubahan ekonomi yang luas di bawah pemerintahan Trump yang akan datang.

    Referensi eksplisit Powell mengguncang Wall Street, membuat saham-saham turun tajam dan memacu penurunan estimasi pasar mengenai seberapa jauh suku bunga akan turun tahun mendatang.

    “Saya pikir kita berada di tempat yang baik, tetapi saya pikir dari sini ini adalah fase baru dan kami akan berhati-hati tentang pemotongan lebih lanjut,” kata Powell pada konferensi pers setelah berakhirnya pertemuan FOMC.

    The Fed dan Powell secara luas diperkirakan akan memberikan penurunan suku bunga “hawkish” dengan memperkirakan sekitar setengah dari pelonggaran kebijakan pada tahun 2025 dari 100 basis poin yang diproyeksikan oleh para pembuat kebijakan tiga bulan yang lalu.

    Namun, pada saat Powell selesai berbicara, pasar hanya memperkirakan akan terjadi satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun mendatang.

    Memang, keputusan untuk menurunkan suku bunga menarik perbedaan pendapat dari Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, yang bergabung dengan bank sentral awal tahun ini dan mengindikasikan bahwa ia lebih suka membiarkan suku bunga tidak berubah pada pertemuan minggu ini.

    Para gubernur bank sentral AS saat ini memproyeksikan bahwa mereka hanya akan menurunkan suku bunga dua kali, masing-masing sebesar 25 bps pada 2025.

    Ini berarti pelonggaran kebijakan tahun depan lebih sedikit 50 bps dari yang diantisipasi oleh para pejabat pada bulan September, dengan proyeksi inflasi The Fed untuk tahun pertama pemerintahan Trump yang baru melonjak dari 2,1% pada proyeksi sebelumnya menjadi 2,5% pada proyeksi saat ini, jauh di atas target 2% bank sentral.

    Progres penurunan inflasi yang lebih lambat menuju target The Fed sebesar 2%, diterjemahkan ke dalam laju penurunan suku bunga yang lebih lambat dan titik akhir yang sedikit lebih tinggi sebesar 3,1%, juga tercapai pada tahun 2027.

  • IHSG awal pekan ditutup melemah ikuti bursa kawasan Asia

    IHSG awal pekan ditutup melemah ikuti bursa kawasan Asia

    kekhawatiran tentang kebangkitan inflasi di bawah pemerintahan Trump yang akan datang membuat pasar menjadi perhatian para pengambil kebijakan moneterJakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore ditutup turun mengikuti pelemahan bursa saham kawasan Asia.

    IHSG ditutup melemah 66,16 poin atau 0,90 persen ke posisi 7.258,63. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,97 poin atau 0,46 persen ke posisi 861,74.

    “Bursa regional Asia bergerak melemah, pasar menantikan kebijakan moneter bank sentral sejumlah negara pada pekan ini, kekhawatiran tentang kebangkitan inflasi di bawah pemerintahan Trump yang akan datang membuat pasar menjadi perhatian para pengambil kebijakan moneter,” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

    Pada pekan ini, pelaku pasar fokus pada pernyataan kebijakan terbaru dan arahan ke depan dari Ketua Fed Jerome Powell, dan pasar berspekulasi bahwa The Fed memiliki probabilitas sebesar 93 persen akan memangkas suku bunga acuannya pada pekan ini.

    Pelaku pasar juga beraksi terhadap data aktivitas November 2024 dari China, yang mana penjualan ritel di daratan China secara tak terduga melemah dari bulan lalu, atau tumbuh hanya 3 persen year on year (yoy) dan menggarisbawahi urgensi bagi Beijing untuk memacu konsumsi.

    Data Produksi industri China tumbuh sebesar 5,4 persen (yoy) pada November 2024, sedikit melampaui estimasi pasar dan tingkat pertumbuhan pada Oktober sebesar 5,3 persen dan juga pejabat Bank Rakyat China mengatakan selama akhir pekan bahwa China akan memangkas suku bunga dan persyaratan cadangan tahun depan.

    Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada 17 sampai 18 Desember 2024, dimana pasar fokus perhatian akan kebijakan moneter yang akan diambil, disaat rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

    Pelaku pasar memiliki pandangan meskipun BI mempunyai ruang untuk pemangkasan suku bunga acuannya, namun pasar memiliki keraguan hal ini dengan melihat kondisi tekanan yang terjadi pada nilai rupiah.

    Keraguan pasar itu dilatarbelakangi dengan aksi intervesi BI dalam menjaga nilai rupiah, namun teryata rupiah tetap melemah ke level psikologi Rp16.000, sehingga memberikan pandangan apa yang dilakukan oleh BI belum mampu menahan penguatan dollar AS.

    Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebelas atau semua sektor melemah yaitu sektor properti turun paling dalam minus sebesar 2,95 persen, diikuti oleh sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik yang masing- masing minus sebesar 2,30 persen dan 1,90 persen.

    Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu SKBM, MTFN, GPSO, KREN dan TRUS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni SAPX, SNLK, SSTM, JIHD dan PANI.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.068.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,51 miliar lembar saham senilai Rp11,77 triliun. Sebanyak 174 saham naik 461 saham menurun, dan 311 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 12,95 poin atau 0,03 persen ke level 39.457,49, indeks Shanghai melemah 5,55 poin atau 0,16 persen ke posisi 3.386,33, indeks Kuala Lumpur menguat 1,90 poin atau 0,12 persen ke posisi 1.606,85, dan indeks Straits Times menguat 10,68 poin atau 0,28 persen ke 3.821,03.

    Baca juga: IHSG akhir pekan ditutup melemah dipimpin sektor barang baku

    Baca juga: IHSG Jumat dibuka melemah 14,49 poin

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Agus Salim
    Copyright © ANTARA 2024