Tag: Jerome Powell

  • Koleksi Saham Cuan Pekan Ini, Energi hingga Perbankan

    Koleksi Saham Cuan Pekan Ini, Energi hingga Perbankan

    Jakarta, CNN Indonesia

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 6,62 poin atau plus 0,09 persen ke level 6.983 pada Jumat (20/12) silam.

    Investor melakukan transaksi sebesar Rp12,37 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 19,79 miliar saham.

    Dalam sepekan terakhir, indeks saham menguat sekali, sementara empat hari sisinya melemah. Tak heran, performa indeks melemah 4,65 persen.

    P. H. Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Aulia Noviana Utami Putri mencatat selama periode tanggal 16 sampai dengan 20 Desember 2024 kemarin, rata-rata nilai transaksi harian bursa mengalami penurunan sebesar 39,36 persen dari Rp20,19 triliun menjadi Rp12,25 triliun.

    Kemudian, kapitalisasi pasar bursa pun mengalami penurunan sebesar 3,28 persen dari Rp12.604 triliun menjadi Rp12.191 triliun pada penutupan pekan lalu.

    Sementara, rata-rata volume transaksi harian bursa mengalami penurunan sebesar 17,71 persen dari 23,32 miliar menjadi 19,19 miliar lembar saham.

    Lalu, rata-rata frekuensi transaksi harian turut mengalami penurunan 12,17 persen dari 1,24 juta kali transaksi menjadi 1,08 juta kali.

    “Investor asing hari ini mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp417,99 miliar dan investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp15,84 triliun sepanjang tahun 2024,” kata Aulia seperti dikutip dari situs IDX, Jumat (20/12).

    Lantas seperti apa proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?

    Head of Customer Literation and Education dari Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan indeks saham pekan depan bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 6.911 dan resistance 7.129.

    Ia melihat indikator MACD menunjukkan tren pelemahan meski RSI sudah terlihat cenderung melandai. Ia melihat IHSG terbentuk doji star dengan tekanan volume transaksi yang melemah berpotensi mendorong terjadinya technical rebound.

    Menurutnya, salah satu sentimen pergerakan IHSG pekan ini termasuk normalisasi nilai tukar rupiah dan pelemahan harga komoditas seiring dengan ketidakpastian yang meningkat.

    “Selain itu, potensi berlanjutnya net sell asing juga masih akan menjadi dominasi sentimen negatif untuk pasar,” imbuh Oktavianus kepada CNNIndonesia.com, Minggu (22/12).

    Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham Telkom Indonesia atau TLKM yang ditutup menguat 0,79 persen ke posisi 2.550 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi TLKM dapat menyentuh level 2.720 pada pekan ini.

    Kedua, saham Barito Renewables Energy atau BREN yang ditutup menguat 4,25 persen ke posisi 9.200 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi BREN dapat menyentuh level 10.200 pada pekan ini.

    Ketiga, saham Bank Mandiri atau BMRI yang ditutup di posisi 5.675 pada pekan lalu. Ia memproyeksi BMRI dapat menyentuh level 6.050 pekan ini.

    Sementara itu, Branch Manager JUC GoCuan Semarang Peter Susilo memperkirakan IHSG akan terus mengalami tekanan dalam jangka pendek dengan pergerakan terbatas pada pekan ini.

    Menurutnya, salah satu sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG pekan ini di antaranya penyataan hawkish dari Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan pemotongan suku bunga tahun depan yang lebih lambat dari perkiraan.

    Selain itu, kenaikan yield obligasi AS kata dia berpotensi memicu berlanjutnya capital outflow dari pasar modal Indonesia.

    Untuk sentimen dalam negeri, Peter memperkirakan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 6 persen memiliki dampak terbatas untuk menahan pelemahan dalam jangka pendek.

    Pasar juga mengantisipasi data indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel yang akan mempengaruhi kepercayaan terhadap pertumbuhan ekonomi.

    “Dengan kondisi teknikal dan sentimen tersebut, IHSG diperkirakan akan cenderung tertekan dalam jangka pendek dengan potensi pengujian level support 6.905-6.921,” ujar Peter.

    Ia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan, yakni saham Bank Syariah Indonesia atau BRIS yang ditutup menguat 4,17 persen di level 2.750 pekan lalu. Ia memproyeksi BRIS dapat menyentuh level 2.860 pekan ini.

    Selanjutnya, Peter juga merekomendasikan saham Pantai Indah Kapuk Dua atau PANI yang ditutup menguat 2,23 persen ke level 16.050 pekan lalu. Ia memproyeksi PANI dapat menyentuh level 17.100 pada pekan ini.

    Sama dengan Oktavianus, Peter juga merekomendasikan saham Barito Renewables Energy atau BREN yang ditutup di level 9.200 pekan lalu. Namun ia memproyeksi BREN hanya bisa menyentuh level 9.350 pada pekan ini.

    (pta/pta)

  • Wall Street Menguat berkat Data Inflasi

    Wall Street Menguat berkat Data Inflasi

    Jakarta, Beritasatu.com – Indeks utama Wall Street menguat signifikan pada Jumat (20/12/2024) dan menutup pekan ini dengan lebih baik setelah beberapa hari sebelumnya mengalami kelesuan.

    Indeks S&P 500 naik 1,1% dan berhasil mencatatkan hari terbaiknya dalam enam minggu terakhir, sekaligus memangkas kerugian mingguan menjadi hanya 2%. Dow Jones Industrial Average melonjak 498 poin atau 1,2%, sementara Nasdaq Composite menguat 1%.

    Penguatan Wall Street dipimpin oleh saham unggulan, seperti Nvidia dan perusahaan teknologi besar (big tech) lainnya. Katalis utamanya adalah laporan inflasi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan ukuran inflasi yang digunakan Federal Reserve (The Fed) lebih rendah dari perkiraan para ekonom. 

    Inflasi dalam bentuk indeks pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditure (PCE) menunjukkan kenaikan 2,4% pada November 2024 secara tahunan, tetapi di bawah perkiraan para ekonom sebesar 2,5%. Temuan ini memberikan harapan baru setelah laporan sebelumnya menunjukkan inflasi masih sulit mencapai target The Fed sebesar 2%.

    Meski demikian, inflasi yang masih tinggi menjadi perhatian utama. Ketua The Fed Jerome Powell,mengisyaratkan bahwa bank sentral kemungkinan akan memangkas suku bunga lebih sedikit tahun depan dibandingkan perkiraan sebelumnya.

    Secara keseluruhan, S&P 500 naik 63,77 poin menjadi 5.930,85. Dow Jones Industrial Average melonjak 498,02 poin ke 42.840,26. Sedangkan Nasdaq Composite menguat 199,83 poin ke 19.572,60. Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun turun menjadi 4,52% dari 4,57% pada hari sebelumnya.

    Pada saat Wall Street menguat, di pasar saham internasional, indeks di Asia dan Eropa cenderung melemah tipis, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap berbagai tantangan global.

  • Rupiah Menguat Tipis Mencoba Melawan Dolar AS

    Rupiah Menguat Tipis Mencoba Melawan Dolar AS

    Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan akhir pekan ini terpantau menguat.
     
    Mengacu data Bloomberg, Jumat, 20 Desember 2024, rupiah menguat enam poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.306,5 per USD.
     
    Sementara itu, berdasarkan data Yahoo Finance, rupiah melemah 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.299 per USD.
     

     
    Melansir Antara, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dolar AS tengah masuk tren penguatan pasca The Federal reserve memangkas suku bunga 25 basis points (bps).
     
    Kepala The Fed Jerome Powell juga memberikan pernyataan sangat hawkish terhadap prospek suku bunga dengan mengindikasikan hanya akan terjadi pemangkasan sebesar 50 bps tahun depan, turun 75-100 bps dari yang diharapkan pada kuartal sebelumnya.
     
    “Dolar AS menguat secara luas (sehingga melemahkan nilai tukar rupiah dan mata uang lainnya), dengan kenaikan paling tajam terhadap dolar Australia, euro, poundsterling Inggris, dan yen Jepang,” ujar dia.
     
    The Fed memberikan pernyataan tersebut didasari atas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi dari 2 persen menjadi 2,5 persen. Untuk tahun 2025, menjadi 2,1 persen dari perkiraan sebelumnya 2 persen, dan dengan tetap mempertahankan proyeksi 2 persen untuk tahun 2026.
     
    Selain itu, inflasi inti Personal Consumption Expenditure (PCE) yang diperkirakan berkisar 2,4-2,8 persen, masih di atas target 2 persen. Kemudian, proyeksi pengangguran diturunkan menjadi 4,2 persen dari 4,4 persen untuk tahun 2024 dan 4,3 persen dari 4,4 persen untuk tahun 2025, sementara proyeksi tahun 2026 tetap stabil di 4,3 persen.
     
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Kurs Rupiah ke Dolar Hari Ini, Menguat Tipis 0,03%

    Kurs Rupiah ke Dolar Hari Ini, Menguat Tipis 0,03%

    Jakarta, FORTUNE – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) menguat tipis pada perdagangan pagi ini, Jumat (20/12). Rupiah menguat 5 poin ke level Rp16.307 atau sebesar 0,03 persen jika dibandingkan kemarin yang berada di level Rp16.312 per dolar AS.

    Pada perdagangan kemarin, Kamis (10/12)  mata uang rupiah ditutup melemah 215 poin di level Rp.16.312 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.097 per dolar AS.

    Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menyatakan laju rupiah pada perdagangan kemarin dipengaruhi sejumlah sentimen. 

    Dari eksternal, pernyataan The Fed yang  menyebut pemangkasan Suku Bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen yang telah lama ditunggu-tunggu sekaligus mengindikasikan akan memperlambat laju siklus pelonggaran kebijakan moneternya. Para pejabat mengisyaratkan bahwa mereka kemungkinan akan menghentikan pemangkasan suku bunga di masa mendatang mengingat pasar tenaga kerja dan inflasi yang stabil.

    Suku bunga diperkirakan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama setelah pemangkasan pada Rabu lalu. Pasar telah mengesampingkan kemungkinan pemangkasan pada Januari dan sekarang memperkirakan hanya dua pemangkasan lagi pada tahun 2025, dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya yaitu empat kali.

    Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pemangkasan lebih lanjut bergantung pada kemajuan dalam mengekang inflasi yang terus-menerus, yang mencerminkan penyesuaian pembuat kebijakan terhadap potensi pergeseran ekonomi di bawah pemerintahan Donald Trump yang akan datang.

    Sementara dari dalam negeri, upaya pemerintah memberikan berbagai insentif inilai tidak cukup untuk mengurangi dampak kenaikan PPN menjadi 12 persen. Permasalahan yang muncul di industri sekarang adalah menurunnya permintaan akibat menipisnya jumlah kelas menengah yang merupakan pendorong konsumsi dalam negeri.

    Selain itu, periode pemberian insentif relatif pendek, misalnya hanya dua bulan untuk diskon tarif listrik sebesar 50 persen. Insentif yang diberikan untuk industri padat karya juga diperkirakan belum cukup untuk meredam dampak kenaikan PPN tersebut. Pasalnya, sudah terlalu banyak sektor industri yang terpuruk, seperti industri tekstil dan industri alas kaki.

    Dengan berbagai dinamika eksternal dan dalam negeri, dia memperkirakan rupiah hari ini berpeluang melemah. “Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.300 – Rp16.370,” katanya dalam keterangan dikutip, Jumat (20/12).

    Berdasarkan data yang dihimpun dari beberapa bank besar di Indonesia, kurs dolar (USD) ke rupiah (IDR) hari ini, 20 Desember 2025  tercatat sebagai berikut: 
    Kurs dolar ke rupiah hari ini di Bank Mandiri
    Kurs dolar ke rupiah e-rate pada pukul 09:15 WIB 
    Kurs jual: Rp16.325  per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.295 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah TT counter pada pukul 09:49 WIB 
    Kurs jual: Rp16.400 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.050 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah bank notes pada pukul 09:42 WIB 
    Kurs jual: Rp16.400 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.050 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah hari ini di Bank BCA
    Kurs dolar ke rupiah e-rate pada pukul 10:48 WIB 
    Kurs jual: Rp16.300 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.275 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah TT counter pada pukul 08:04 WIB 
    Kurs jual: Rp16.462  per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.162 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah bank notes pada pukul 08:09 WIB 
    Kurs jual: Rp16.462 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.162 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah hari ini di Bank BNI
    Kurs dollar ke rupiah e-rate pada pukul 11:05 WIB 
    Kurs jual: Rp16296 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.276 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah TT counter pada pukul 11:05 WIB 
    Kurs jual: Rp16.415 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.145 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah bank notes pada pukul 11:05 WIB 
    Kurs jual: Rp16.415 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.145  per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah hari ini di Bank BRI
    Kurs dolar ke rupiah e-rate pada pukul 10:23 WIB 
    Kurs jual: Rp16.305 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.280 per dolar AS

    Kurs dolar ke rupiah TT counter pada pukul 10:23 WIB 
    Kurs jual: Rp16.288 per dolar AS
    Kurs beli: Rp16.263 per dolar AS

  • Hidup Makin Susah, Pengusaha Makin Cemas Rupiah Melemah-PPN Naik

    Hidup Makin Susah, Pengusaha Makin Cemas Rupiah Melemah-PPN Naik

    Jakarta, CNBC Indonesia – Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) memperingatkan agar Indonesia waspada menyusul munculnya gejala Stagnasi Sekuler. Disebutkan, gejala itu terlihat pada pada pertumbuhan ekonomi kuartal III tahun 2024 yang hanya mampu tumbuh 4,95% secara tahunan (year on yeara/ yoy).

    Meski, APINDO melihat ada harapan dari pelaksanaan Pilkada serentak yang digelar pada 27 November 2024 lalu. Serta, dampak dari momen Natal 2024 dan Tahun Baru 2025. APINDO memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2024 dapat ditutup di level 5% secara tahunan.

    Hal itu terungkap dalam dalam konferensi pers Outloook Ekonomi dan Bisnis APINDO 2025 di Jakarta, Kamis (19/12/2024). Dalam catatan APINDO, pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup tangguh di saat berbagai negara dialporkan justru mengalami pelemahan bahkan hingga krisis pada kondisi perekonomian domestik mereka.

    “Kondisi perekonomian Indonesia tahun ini cukup tangguh di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5% diproyeksikan dapat dipertahankan
    sepanjang tahun 2024,” kata Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani dalam konferensi pers tersebut, dikutip Jumat (20/12/2024).

    Hanya saja, imbuh dia, APINDO memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 nanti belum akan melompat jauh. Dan diprediksi bakal stagnan, tumbuh di kisaran 4,90-5,20% secara tahunan.

    “Prediksi ini dibuat berdasarkan berbagai indikator. Seperti kondisi lingkungan strategis global yang belum stabil, inflasi global yang belum sepenuhnya terkendali, berlanjutnya penurunan kelas menengah akibat tekanan kenaikan PPN pada barang-barang
    tertentu, potensi layoff (PHK) akibat kenaikan UMP (upah minimum provinsi) yang tidak diimbangi dengan produktivitas, hingga berakhirnya era boom commodity (windfall) dari komoditas CPO dan batubara,” sebut Shinta.

    Tak hanya itu, APINDO pun menyoroti seriusnya pelemahan daya beli masyarakat. Indikatornya adalah deflasi yang terjadi berturut-turut sejak Mei hingga September 2024. Besarnya penurunan jumlah penduduk kelas menengah yang semakin besar, dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

    “Kelas menengah Indonesia berperan penting dalam mendongkrak konsumsi nasional. Hal ini akan diperparah dengan rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12% per 1 Januari 2025,” cetusnya.

    Sebagai informasi, mengutip Corporate Finance Institute, Stagnasi Sekuler merujuk pada kondisi rendahnya pertumbuhan ekonomi, atau tidak ada pertumbuhan sama sekali. Kondisi di mana perekonomian stagnan dalam jangka waktu panjang.

    Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah mengalami pelemahan di hadapan dolar AS. Seharian pada Kamis, 19 Desember 2024, nilai tukar rupiah berfluktuasi hingga sentuh level Rp16.130/US$ dan terjauh di posisi Rp16,300/US$.

    Melansir data Refinitiv, pada penutupan perdagangan (19/12/2024), rupiah anjlok hingga 1,24% ke level Rp16.285/US$. Pelemahan lebih dari 1% ini adalah yang terdalam sejak 7 Oktober 2024 yakni sebelumnya sebesar 1,26%. Pada awal perdagangan, data Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka melemah 0,28% di angka Rp16.130/US$.

    Pelemahan rupiah tidak terlepas dari sentimen global yang didominasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan lonjakan indeks dolar AS (DXY). Pada perdagangan sebelumnya, DXY melesat 1% ke posisi 108,03, tertinggi sejak November 2022, akibat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS yang lebih konservatif.

    The Fed dalam pernyataan terbarunya menyebutkan bahwa pemangkasan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada 2025 kemungkinan hanya akan terjadi dua kali, lebih rendah dari proyeksi September yang mencapai 100 basis poin (bps).

    Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menegaskan perlunya kehati-hatian dalam penyesuaian kebijakan moneter. Ekspektasi ini memicu penguatan dolar AS dan memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

    Dalam pandangan outlooknya, APINDO pun memproyeksikan, nilai tukar rupiah masih akan tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

    “Rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap USD tahun 2025 diprediksi berada di kisaran 15.800-16.350 per dollar USD,” kata Shinta.

    “Nilai tukar Rupiah diproyeksikan masih akan tertekan pada paruh pertama 2025 karena kecenderungan penguatan Dolar AS dan akan menguat pada paruh kedua setelah pasar mampu mengantisipasi kebijakan Presiden Trump,” tambahnya.

    Hal senada disampaikan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Impor (GPEI) Benny Soetrisno. Dia juga memprediksi pelemahan rupiah masih akan berlangsung sampai awal tahun 2025 nanti.

    “Ini (pelemahan rupiah) bagian dari game moneter. GPEI mendorong ekspor komoditas industri yang berbahan baku lokal semakin banyak,” ujarnya lewat pesan singkat kepada CNBC Indonesia.

    Industri lokal yang menggunakan bahan baku impor dan bukan eksportir akan menjadi sektor paling terkena efek buruk pelemahan rupiah.

    “Kalau bahan baku impor dan barang jadi dijual di dalam negeri, ya rugi besar,” kata Benny.

    Sementara itu, Shinta menuturkan, kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), local currency transaction (LCT), SRBI, dan SVBI belum dapat menjaga nilai tukar rupiah yang diakibatkan karena Indonesia adalah negara small open economy terutama pada produk minyak, pangan, digital services, dan TIK yang perlu menjadi perhatian khusus.

    “Volatilitas nilai tukar Rupiah sangat tinggi sepanjang 2024, sempat terdepresiasi hingga level 16.450 pada Juni 2024 (terburuk sejak pandemi tahun 2020) dan kembali menguat hingga level 15.300 pada kuartal III, namun pada akhir kuartal IV kembali turun ke hingga level 16.000 dan tren pelemahan ini diprediksi akan berlanjut hingga awal tahun depan,” sebut Shinta.

    Berdasarkan hasil konsensus pasar di Amerika Serikat dan dengan track record kepemimpinan Donald Trump di periode sebelumnya maka diproyeksikan The Fed akan menurunkan Fed Fund Rate sebanyak 3 kali di tahun 2025 dengan penurunan di kisaran 0,25% 0,5%.

    “Maka dari itu, APINDO menilai bahwa sebagai respon atas kebijakan tersebut maka Bank Indonesia akan menurunkan suku bunga paling banyak 2 kali di kisaran 0,25% 0,50% menjadi berada dalam kisaran 5,25% -5,75% di tahun 2025 nanti,” kata Shinta.

    Di sisi lain, tren “China De-risking” membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk menarik investasi dan memperluas ekspor dengan menjadi alternatif dalam Global Value Chain (GVC).

    Konflik dagang AS-China menciptakan tren diversifikasi GVC di mana perusahaan global berupaya untuk mendiversifikasi suplai barang dan jasa dari satu perusahaan atau negara saja untuk menghindari risiko rantai pasok (China De-risking).

    “Produk yang mengalami peralihan perdagangan terbesar antara lain semikonduktor, produk elektronik, dan produk-produk terkait alat telekomunikasi Diversifikasi produksi oleh negara-negara maju menciptakan ruang bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi di sektor manufaktur mineral kritis, dan energi hijau,” ujarnya.

    Jakarta, CNBC Indonesia – APINDO mencatat, biaya ekonomi tinggi masih menjadi tantangan struktural yang menghambat daya saing Indonesia. Yang berasal dari tingginya biaya logistik, energi, tenaga kerja, dan pinjaman, menjadikan Indonesia salah satu negara dengan biaya berusaha tertinggi di ASEAN-5.

    Indonesia, jauh di bawah Singapura dan Malaysia dalam hal ketidakefisienan akibat biaya logistik. Di mana Indonesia mencapai 23,5% dari PDB, jauh lebih tidak efisien dibandingkan Malaysia (12,5%) dan Singapura (8%).

    “Meski dilaporkan turun menjadi 14,29% dari PDB pada 2023, Indeks Kinerja Logistik (LPI) menunjukkan penurunan dalam aspek ketepatan waktu dan efisiensi pengiriman internasional,” sebut Shinta.

    “Survei APINDO menunjukkan, 61,26% pelaku usaha kesulitan mengakses pinjaman, sementara 43,05% menilai suku bunga terlalu tinggi. Di sisi lain, sekitar 64,28% perusahaan menyatakan reformasi regulasi belum menjamin kemudahan dan kepastian usaha,” paparnya.

    Sementara, sambungnya, saat ini juga terjadi dominasi sektor informal dan rendahnya produktivitas. Hal ini berpotensi menghambat laju pertumbuhan ekonomi, di mana jumlah sektor informal mencapai 59,17% pada 2024, meningkat dari 55,88% pada 2019.

    “Kondisi ini menggarisbawahi ketidakefisienan struktural yang menghambat daya saing Indonesia dan harus menjadi perhatian pemerintah jika ingin mendorong laju pertumbuhan ekonomi ke depan,” tukasnya.

    Dengan sejumlah peluang dan tantangan yang dimiliki Indonesia saat ini, Shinta mengungkapkan Apindo merumuskan agenda strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, diantaranya, hilirisasi komoditas di sektor-sektor strategis, penguatan UMKM secara konsisten dan terarah dengan pendekatan pentahelix, penguatan ekosistem ekonomi digital, optimalisasi sektor hijau, dan pencapaian swasembada pangan.

    “Jadi, kita selalu mengatakan kunci utama adalah bagaimana Indonesia bisa memperbaiki high cost economy yang ada. Supaya kita bisa lebih kompetitif,” tegas Shinta.

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2025 bisa mencapai 5,2%. Target ini, menurut Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, bisa tercapai dengan terjaganya komponen utama pertumbuhan ekonomi, yakni dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, maupun ekspor.

    “Dengan berbekal basis yang kuat di 2025 dengan beberapa fondasi dan angka-angka tadi, mestinya apa yang menjadi harapan Bapak Presiden akan ada pertumbuhan 8% entah di 2028 maupun di 2029, mestinya cukup realistis kita kejar bersama-sama,” kata Susiwijono dalam Program Evening Up CNBC Indonesia, dikutip Selasa (10/12/2024).

    Lalu bagaimana menurut pengusaha?

    APINDO memperkirakan, situasi perekonomian Indonesia tahun 2025 belum banyak perubahan. Lompatan yang diinginkan pemerintahan Presiden Prabowo sulit untuk terealisasi.

    “Apindo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 belum akan mengalami lompatan jauh, dan akan tetap stagnan berada dalam rentang 4,90% hingga 5,20% (yoy),” kata Shinta.

    Shinta menjelaskan penyebabnya adalah situasi dunia yang masih gelap. Ini dipengaruhi oleh tensi geopolitik, fragmentasi perdagangan global dan berakhirnya era boom commodity (windfall) dari komoditas CPO dan batubara.

    “Inflasi global yang mulai terkendali tetapi belum kembali pada posisi normal, hingga dinamika di Amerika Serikat pasca terpilihnya Presiden Donald Trump,” ujarnya.

    Dalam negeri, kata Shinta pengaruh utamanya adalah pelemahan kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi dalam negeri, tekanan kenaikan PPN pada barang-barang tertentu, dan potensi layoff akibat kenaikan UMP yang tidak diimbangi dengan produktivitas masyarakat. Pada 2024, jumlah penduduk kelas menengah hanya mencakup 47,8 juta orang, menyusut hingga 9,5 juta orang hanya dalam 5 tahun terakhir.

    “Selain itu, tidak adanya booster pertumbuhan seperti pelaksanaan Pemilu dengan timeline yang berulang seperti tahun ini, dapat menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi tahun depan jika hanya mengandalkan faktor pertumbuhan musiman,” jelas Shinta.

    Ekonomi 2025 masih andalkan konsumsi domestik, diikuti dengan realisasi investasi, dan ekspor komoditas dengan dukungan hilirisasi yang semakin masif. Secara sektoral, porsi terbesar masih dipegang oleh industri pengolahan, pertanian, perdagangan, pertambangan, dan konstruksi.

    “Masing-masing sektor tersebut diproyeksikan akan menguasai lebih dari 10% porsi distribusi dalam PDB tahun depan,” kata Shinta.

    “Tahun 2025 akan menjadi sangat krusial bagi perekonomian Indonesia, di mana berbagai tantangan dan peluang akan menentukan arah pertumbuhan di masa mendatang. Untuk
    memastikan Indonesia dapat mencapai pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, sejumlah agenda strategis harus dijalankan dengan terarah,” ucapnya.

    APINDO menekankan kondisi di mana Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam meningkatkan daya beli masyarakat menjelang tahun 2025.

    Shinta memaparkan, berbagai indikator mengindikasikan pelemahan daya beli masyarakat yang memengaruhi perekonomian nasional, yang saat ini masih ditopang oleh konsumsi masyarakat.

    Dia mengutip data BPS menunjukkan Indonesia mengalami deflasi selama 5 bulan berturut-turut dari Mei hingga September 2024. Selain itu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari Bank Indonesia pada Oktober 2024 di angka 121,1 atau mencapai titik 3 terendah sejak Januari 2023. Dan diikuti oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang juga terendah sejak Januari 2023, yaitu turun ke 109,9.

    “Tren penurunan inflasi inti selama periode Mei-September 2024 juga mengindikasikan melemahnya permintaan domestik,” sebutnya.

    “Tantangan ke depan menjadi semakin berat dengan besarnya penurunan jumlah penduduk kelas menengah dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024, dengan proporsi terhadap total populasi turun dari 21,45% menjadi 17,13%,” ujar Shinta.

    4 Rekomendasi APINDO

    Untuk itu, APINDO merekomendasikan beberapa kebijakan kepada pemerintah untuk mendorong perekonomian di tengah tingginya ketidakpastian global alias gelap.

    Pertama, menurut Shinta adalah kebijakan fiskal dan moneter yang pro-stability, pro-growth, dan pro-poor untuk menjaga sisi demand. Dengan meningkatkan penerimaan dan menciptakan belanja yang berkualitas.

    “Relaksasi kebijakan suku bunga dimana skema rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) yang mendukung sektor manufaktur dapat juga mendorong modal sosial melalui peningkatan kualitas SDM,” sebutnya.

    Kedua, meningkatkan efisiensi biaya usaha universal yang berfokus pada pemangkasan biaya melalui reformasi birokrasi dan kepastian hukum, menekan cost of finance dengan suku bunga yang kompetitif, serta pengendalian biaya energi, logistik, dan tenaga kerja.

    “Penguatan National Logistics Ecosystems (NLE) terutama pada jalur laut dan udara diperlukan untuk menciptakan biaya distribusi yang kompetitif,” katanya.

    “Dengan menciptakan ekosistem biaya usaha yang lebih efisien, daya saing Indonesia di akan semakin kuat, sekaligus membuka ruang bagi investasi strategis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang,” tukas Shinta.

    Ketiga, meningkatkan investasi untuk penciptaan lapangan kerja yang berkualitas, ditujukan pada sektor strategis seperti padat karya. Sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan mendorong pertumbuhan sektor formal.

    “Pemerintah harus memastikan percepatan investasi dengan mengeliminasi hambatan birokrasi, penyederhanaan perizinan, dan kepastian hukum. Dengan demikian, investasi yang berkualitas akan menjadi motor utama dalam membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran,” terang Shinta

    Keempat, peningkatan produktivitas dan kualitas SDM. Shinta menegaskan pemerintah harus melakukan akselerasi dengan memastikan link and match antara sistem pendidikan dan kebutuhan industri agar tenaga kerja memiliki keterampilan yang relevan dan siap bersaing di era perkembangan teknologi.

    “Reformasi pendidikan dan pelatihan vokasi yang berorientasi pada reskilling dan upskilling harus menjadi prioritas, dengan penekanan pada penguasaan teknologi dan literasi digital. SDM yang unggul dan adaptif menjadi kunci keberhasilan Indonesia dalam menghadapi transformasi ekonomi global,” pungkas Shinta.

  • Wall Street Anjlok, Bursa Asia Ditutup Melemah Dampak Sikap Hawkish Bos The Fed – Halaman all

    Wall Street Anjlok, Bursa Asia Ditutup Melemah Dampak Sikap Hawkish Bos The Fed – Halaman all

    Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia

    TRIBUNNEWS.COM –  Saham AS di bursa Wall Street, New York ditutup anjlok pada perdagangan usai Bank Sentral AS The Fed memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin.

    Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Bank sentral Amerika Serikat itu juga mengisyaratkan laju pemotongan yang lebih lambat sebanyak dua kali pada tahun depan. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan lebih banyak penurunan suku bunga dilakukan demi menurunkan inflasi yang sangat tinggi.

    “Keputusan untuk memangkas suku bunga hari ini bukanlah suatu kejutan. Namun, mengingat revisi signifikan terhadap proyeksi, hal itu menunjukkan bahwa ini adalah pengurangan yang dilakukan dengan terpaksa yang dirancang untuk memberikan sedikit rasa nyaman bagi pasar saat Fed meletakkan dasar bagi pendekatan kebijakan yang lebih agresif pada tahun 2025,” kata Powell.

    Namun imbas pemangkasan ini, tiga saham unggulan Wall street  jatuh ke zona merah, diantaranya Dow Jones Industrial Average yang merugi 10 hari berturut-turut., jatuh 2,58 persen atau kehilangan 1.123,03 poin, menjadi 42.326,87.

    Kemudian, indeks berbasis luas S&P 500 tersungkur 2,95 persen atau 178,45 poin menjadi 5.872,16, sementara Nasdaq Composite Index melorot 3,56 persen atau 716,37 poin menjadi 19.392,69.

    Ini terjadi lantaran pemangkasan suku bunga merek kenaikan dollar, alhasil para investor mulai meninggalkan pasar saham dan beralih ke aset dollar yang dinilai lebih menguntungkan.

    Saham Asia Ditutup Merah

    Mengekor penurunan Walls Street, mayoritas saham Asia juga ikut anjlok ke level terendah pasca   Federal Reserve (The Fed) mengumumkan sikap hawkish serta mengindikasikan pemangkasan suku bunga lanjutan pada 2025.

    Adapun daftar saham Asia yang mencatatkan penurunan diantaranya, indeks saham Nikkei 225 Tokyo yang amblas 0,7 persen menjadi 38.806,70. Hang Seng Hong Kong melemah 1 persen ke posisi 19.666,12.

    Sementara Shanghai Composite di Tiongkok turun 0,7 persen menjadi 3.357,82. Disusul Kospi Korea Selatan merosot 1,5 persen ke 2.447,17, dan S&P/ASX 200 Australia anjlok 1,9 persen menjadi 8.153,80.

  • Misbakhun DPR Sebut Pelemahan Rupiah Bukan Karena Penggeledahan BI Oleh KPK – Page 3

    Misbakhun DPR Sebut Pelemahan Rupiah Bukan Karena Penggeledahan BI Oleh KPK – Page 3

    Kurs Rupiah terus mengalami penurunan nilai tukar, dan semakin mendekati level 16.500 per USD. Pada Kamis sore (19/12), Rupiah ditutup melemah 215 point terhadap Dolar AS (USD) setelah sebelumnya sempat melemah 220 point dilevel Rp.16.312 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.097.

    “Sedangkan untuk perdagangan besok mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp. 16.300 – Rp.16.370,” kata Direktur PT. Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan di Jakarta, Kamis (19/12/2024).

    Federal Reserve (The Fed) kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 4,25 persen hingga 4,50 persen.

    Seperti diketahui, pemangkasan ini yang lama ditunggu-tunggu sekaligus mengindikasikan akan memperlambat laju siklus pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat.

    Para pejabat The Fed juga mengisyaratkan bahwa mereka kemungkinan akan menghentikan pemangkasan suku bunga di masa mendatang mengingat pasar tenaga kerja dan inflasi yang stabil. “Suku bunga diperkirakan akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama setelah pemangkasan pada hari Rabu,” ungkap Ibrahim.

    Namun, pasar mengesampingkan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed pada Januari 2025.

    Pasar kini memperkirakan hanya dua pemangkasan lagi pada tahun 2025, dibandingkan dengan ekspektasi sebelumnya yaitu empat kali. Ketua Fed Jerome Powell dalam pernyataannya mengatakan pemangkasan lebih lanjut bergantung pada kemajuan dalam mengekang inflasi yang terus-menerus, yang mencerminkan penyesuaian pembuat kebijakan terhadap potensi pergeseran ekonomi di bawah pemerintahan Donald Trump yang akan datang.

  • Bos The Fed Ogah Terlibat Rencana Trump Bentuk Cadangan Strategis Bitcoin AS

    Bos The Fed Ogah Terlibat Rencana Trump Bentuk Cadangan Strategis Bitcoin AS

    Bisnis.com, JAKARTA – Ketua bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell mengatakan pihaknya tidak ingin terlibat dalam upaya pemerintah untuk menimbun bitcoin dalam jumlah besar.

    “Kami tidak diizinkan memiliki bitcoin,” kata Powell dalam konferensi pers dikutip dari Reuters pada Kamis (19/12/2024) setelah pertemuan kebijakan dua hari terakhir Fed.

    Adapun, pada pertemuan itu para pembuat kebijakan memangkas suku bunga seperti yang diharapkan sambil mengisyaratkan jalur yang kurang pasti untuk kebijakan moneter dalam beberapa bulan mendatang.

    Terkait masalah hukum seputar kepemilikan bitcoin, Powell menyebut hal itu perlu dipertimbangkan oleh Kongres AS. Tetapi, Powell mengatakan pihaknya tidak mengharapkan perubahan hukum di Fed.

    Pimpinan Fed tersebut membahas prospek keterlibatan bank sentral dalam gagasan pemerintah membangun Cadangan Strategis Bitcoin setelah Presiden terpilih Donald Trump menjabat.

    Komentar Powell merusak nilai bitcoin, yang telah meningkat tajam bersama dengan aset kripto lainnya sejak kemenangan Trump dalam pemilihan umum 5 November karena prospek pendekatan pemerintah yang lebih lepas tangan terhadap kelas aset yang jarang berfungsi sebagai uang sebenarnya, tetapi sebagian besar digunakan sebagai sarana spekulasi.

    Trump telah mengisyaratkan akan membuat cadangan strategis bitcoin AS. Namun, presiden terpilih tersebut belum memberikan perincian tentang apa saja yang diperlukan untuk cadangan tersebut, selain mengatakan bahwa kepemilikan awalnya dapat mencakup bitcoin yang disita dari penjahat, persediaan sekitar 200.000 token senilai sekitar US$21 miliar pada harga saat ini.

    Bitcoin telah meningkat lebih dari dua kali lipat tahun ini menjadi lebih dari US$100.000 karena optimisme atas sikap Trump yang pro-kripto. Aset tersebut telah terbukti tidak stabil dalam 15 tahun keberadaannya, yang menurut para analis mengurangi kegunaannya sebagai penyimpan nilai atau unit pertukaran, atribut utama mata uang cadangan.

    Senator dari Partai Republik, Cynthia Lummis telah memperkenalkan sebuah Rancangan undang-undang (RUU) untuk membuat cadangan semacam itu. Pada rancangan itu, Departemen Keuangan AS akan membeli 200.000 bitcoin setiap tahun hingga persediaan mencapai satu juta token. Pembelian tersebut akan didanai oleh simpanan bank Fed dan kepemilikan emas.

    Pendanaan cadangan bitcoin strategis kemungkinan akan memerlukan persetujuan Kongres dan penerbitan utang Treasury baru, menurut sebuah analisis yang diterbitkan minggu ini oleh Barclays. Mengingat kemungkinan cara cadangan semacam itu dapat dibuat, “kami menduga rencana semacam itu akan menghadapi perlawanan keras dari Fed,” kata analis Barclays.

    Secara lebih luas, pejabat Fed bersikap skeptis terhadap sekuritas seperti bitcoin karena mereka juga telah menarik diri dari upaya mereka sendiri untuk menciptakan dolar yang sepenuhnya digital demi mengizinkan sektor swasta untuk berinovasi dalam teknologi pembayaran.

    Peran utama Fed terkait mata uang kripto tampaknya berpusat pada bagaimana aset tersebut dapat memengaruhi keamanan konsumen dan sektor perbankan.

    “Kami mengatur dan mengawasi bank dan kami ingin interaksi antara bisnis kripto dan bank … tidak mengancam kesehatan dan kesejahteraan bank,” kata Powell pada tanggal 4 Desember. Namun, dia juga mencatat saat itu bahwa dalam hal aset kripto, “kami tidak mengaturnya secara langsung.”

    Trump berencana untuk menunjuk mantan eksekutif PayPal David Sacks ke posisi baru White House AI dan Crypto Czar. Sementara itu, konsultan pro-kripto Paul Atkins dipilih untuk memimpin Securities and Exchange Commission (SEC).

  • Pernyataan The Fed terkait Bitcoin dianggap beri dampak besar

    Pernyataan The Fed terkait Bitcoin dianggap beri dampak besar

    Jakarta (ANTARA) – Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengatakan pernyataan Kepala The Fed (Federal Reserve) Jerome Powell mengenai Bitcoin (BTC) dan aset kripto lainnya telah memperburuk situasi pasar kripto.

    “Powell menyatakan bahwa bank sentral AS (Amerika Serikat) tidak mendukung kepemilikan Bitcoin dalam jumlah besar dan menekankan bahwa perubahan hukum terkait aset kripto merupakan keputusan Kongres, bukan Federal Reserve,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jakarta, Kamis.

    Menurut dia, pernyataan Powell ini menegaskan bank sentral AS takkan terlibat dalam pembentukan cadangan BTC strategis seperti halnya cadangan emas. Langkah ini dinilai semakin memperlemah narasi bahwa Bitcoin dapat menjadi aset cadangan strategis di masa depan.

    Setelah keterangan tersebut disampaikan oleh Kepala The Fed, harga Bitcoin turun lebih dari 6,5 persen hingga jatuh di bawah 100 ribu dolar AS dari sebelumnya berada di level 108 ribu dolar AS.

    Beberapa kripto utama seperti BTC, Solana (SOL), Ethereum (ETH), dan XRP juga mencatatkan penurunan tajam dalam 24 jam terakhir.

    “Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap kebijakan Fed dan potensi penjualan Bitcoin oleh pemerintah AS di tengah rendahnya permintaan untuk ETF (Exchange-Traded Fund) BTC-spot,” ucap dia.

    Penyebab lain pelemahan kripto adalah hasil pertemuan The Fed dalam Federal Open Market Committee (FOMC) yang membawa dampak besar pada sentimen pasar. Bank sentral AS itu mengumumkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis points (bps), menurunkan suku bunga acuan ke kisaran 4,25-4,50 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar sebelumnya.

    Saat ini, pasar kripto disebut berada dalam fase volatilitas tinggi, dimana keputusan kebijakan moneter memiliki dampak langsung terhadap sentimen investor.

    Fyqieh menilai, ada faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin dalam jangka pendek, yakni aksi ambil untung investor, arus keluar ETF BTC-spot, dan efek relasional Natal.

    “Jika arus keluar ETF BTC-spot meningkat, hal ini dapat menciptakan kekhawatiran di kalangan investor retail, sehingga sulit memulihkan harga BTC ke level 110 ribu dolar AS. Di samping itu, positifnya ada tren historis menunjukkan adanya potensi ‘reli Sinterklas’ pada minggu menjelang dan sesudah Natal. Namun, reli ini bersifat tidak konsisten dan tergantung pada kondisi pasar secara keseluruhan,” ungkapnya.

    Secara historis, BTC telah mengalami reli Sinterklas sebanyak tujuh kali dalam sepuluh tahun terakhir dengan keuntungan rata-rata 1,32 persen sebelum Natal dan 1,29 persen setelah Natal.

    Selama 10 tahun terakhir, data CoinGecko mencatat Bitcoin telah mengalami efek reli Sinterklas sebanyak tujuh kali dalam seminggu menjelang Natal dan lima kali dalam periode hari libur tahunan tersebut. Meskipun potensi reli Sinterklas ada, lanjutnya, investor perlu berhati-hati karena reli ini bukanlah pola yang konsisten.

    “Investor sebaiknya memperhatikan data on-chain, sentimen pasar, dan kebijakan makroekonomi sebelum membuat keputusan. Bagi investor, ini adalah momen untuk kembali ke pasar dengan potensi masuk ke harga yang lebih rendah, sebelum melonjak lebih tinggi. Namun, tetap waspada dan mempertimbangkan strategi investasi yang matang. Analisis yang cermat terhadap tren makroekonomi dan data pasar akan menjadi kunci untuk memanfaatkan peluang di tengah volatilitas pasar kripto,” kata Fyqieh.

    Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
    Editor: Indra Arief Pribadi
    Copyright © ANTARA 2024

  • Rupiah Anjlok Rp16.313! Akhir Tahun Bisa Makin Parah

    Rupiah Anjlok Rp16.313! Akhir Tahun Bisa Makin Parah

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan. Pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (19/12) nilai tukar rupiah melemah 215 poin yang sebelumnya sempat melemah 220 poin ke level Rp16.312,5. Per 15.40 WIB, bahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp16.340.

    Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi menjelaskan sentimen eksternal datang dari Federal Reserve (The Fed) yang memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 4,25–4,5 persen. The Fed mengisyaratkan kemungkinan akan menghentikan pemangkasan suku bunga di masa mendatang mengingat pasar tenaga kerja dan inflasi yang stabil.

    Diketahui, dini hari tadi, Gubernur The Fed Jerome Powell mengumumkan keputusan untuk memangkas suku bunga acuan Fed Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin menjadi 4,25–4,5 persen.

    Powell mengatakan pemangkasan lebih lanjut bergantung pada kemajuan dalam mengekang inflasi yang terus-menerus. Hal itu mencerminkan penyesuaian pembuat kebijakan terhadap potensi pergeseran ekonomi di bawah pemerintahan Donald Trump yang akan datang.

    Selain itu, Bank of Japan (BOJ) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga, mencerminkan sikap hati-hati terhadap prospek ekonomi Jepang dan arah inflasi. Bank sentral tersebut mengungkapkan bahwa mereka memperkirakan inflasi akan naik pada 2025 dan tetap mendekati target tahunan sebesar 2 persen.

    Keputusan BOJ ini mengecewakan sejumlah investor yang mengharapkan kenaikan suku bunga pada Desember, meskipun stabilitas suku bunga dalam waktu dekat memberikan sinyal positif bagi pasar saham Jepang.

    Sentimen domestik

    Permintaan menurun

    Pemberian berbagai insentif tidak cukup untuk mengurangi dampak kenaikan PPN menjadi 12 persen. Permasalahan yang muncul di industri saat ini adalah menurunnya permintaan lantaran menipisnya jumlah kelas menengah yang menjadi pendorong konsumsi dalam negeri.

    Periode pemberian insentif terlalu pendek

    Selain itu, periode pemberian insentif yang terlalu pendek, misalnya hanya dua bulan untuk diskon tarif listrik sebesar 50 persen. Insentif yang diberikan untuk industri padat karya juga diperkirakan belum cukup untuk meredam dampak kenaikan PPN tersebut. Pasalnya, sudah terlalu banyak sektor industri yang terpuruk seperti industri tekstil dan industri alas kaki.

    Meski pemerintah memberikan insentif khusus untuk industri padat karya, daya beli masyarakat yang masih lemah membuat pemberian insentif tersebut menjadi tidak banyak berdampak. Jika kondisi tersebut tidak ditangani secara hati-hati, maka kenaikan PPN tersebut bisa saja meningkatkan potensi pegawai terkena PHK.

    Rupiah bisa makin melemah di akhir tahun

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG Desember 2024 mengungkapkan bahwa hingga 17 Desember, nilai tukar rupiah melemah 1,37 persen (point-to-point/PtP) dibandingkan bulan sebelumnya.

    Pelemahan ini dipengaruhi oleh ketidakpastian global, khususnya kebijakan AS dan potensi penurunan Fed Fund Rate (FFR) yang lebih rendah, serta penguatan dolar AS dan risiko geopolitik yang mendorong alokasi portofolio kembali ke AS.

    Namun, Perry menyampaikan bahwa depresiasi rupiah tetap terkendali, dengan pelemahan 4,16 persen dibandingkan Desember 2023, lebih kecil dari depresiasi mata uang Taiwan, Peso Filipina, dan Won Korea yang masing-masing terdepresiasi lebih dari 5 persen.

    Di sisi lain, Ibrahim Assuaibi menuturkan, pelemahan rupiah akan semakin terpuruk menuju arah Rp16.500 pada akhir 2024. 

    “Rupiah pagi ini makin terdepresiasi begitu tajam, arah menuju Rp16.500 di akhir tahun kemungkinan terjadi,” ujar dia dalam keterangan yang diterima, Kamis (19/12).