Tag: Jerome Powell

  • Welcome Trump 2.0, Ekonomi Dunia Diramal Ngeri-Ngeri Sedap

    Welcome Trump 2.0, Ekonomi Dunia Diramal Ngeri-Ngeri Sedap

    Jakarta, CNBC Indonesia – Donald Trump, presiden terpilih Amerika Serikat (AS), tak lama lagi dilantik sebagai orang nomor satu di Negeri Paman Sam. Dirinya telah menarik perhatian besar sebagai sosok yang kontroversial dengan platform kebijakan ekonominya yang radikal.

    Adapun 2025 diperkirakan akan menjadi tahun penuh tantangan bagi perekonomian global, dengan tingkat pertumbuhan yang diproyeksikan stabil oleh Dana Moneter Internasional (IMF), namun kurang memuaskan sebesar 3,2%. Sementara itu, Bank Dunia mematok proyeksi yang lebih pesimistis, yakni 2,7% sekaligus menjadi kinerja terlemah bersama sejak 2019, kecuali kontraksi tajam yang terjadi di puncak pandemi Covid-19.

    Kombinasi inflasi, suku bunga, dan tarif perdagangan menjadi faktor kunci yang akan mempengaruhi dinamika ekonomi di tahun mendatang.

    Sepekan sebelum Natal, pemotongan suku bunga ketiga berturut-turut oleh Federal Reserve AS memberikan angin segar bagi jutaan peminjam Amerika. Namun, pasar saham merosot tajam setelah Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, menyatakan bahwa tidak akan ada banyak pemotongan suku bunga tambahan di tahun 2025.

    “Dari sini, kita memasuki fase baru, dan kita akan berhati-hati terhadap pemotongan lebih lanjut,” ujar Powell, dikutip dari BBC, Jumat (17/1/2025).

    Dalam beberapa tahun terakhir, pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina telah menyebabkan lonjakan harga di seluruh dunia. Meski kenaikan harga mulai melambat, inflasi pada November tetap meningkat di AS, zona euro, dan Inggris, masing-masing mencapai 2,7%, 2,2%, dan 2,6%.

    Target inflasi 2% mungkin lebih mudah dicapai jika ekonomi terus tumbuh, namun banyak bank sentral menghadapi tantangan di tahap akhir penurunan inflasi ini.

    Perang Dagang

    Ketidakpastian global semakin diperparah oleh kebijakan perdagangan yang direncanakan oleh Trump. Sejak memenangkan pemilu pada November, Trump terus mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap mitra dagang utama seperti China, Kanada, dan Meksiko hingga 60%. Bahkan, semua mitra dagang pun akan dikenai tarif baru antara 10%-20%.

    “AS sedang menuju kebijakan yang lebih isolasionis, menaikkan tarif untuk melindungi industri manufaktur dalam negeri,” kata Luis Oganes, Kepala Riset Makro Global di JP Morgan.

    Kebijakan tarif baru berpotensi merugikan ekonomi negara-negara yang sangat bergantung pada perdagangan dengan AS, termasuk Meksiko dan Kanada.

    Direktur Ekonomi Global dan Program Keuangan Chatam House, Creon Butler, menilai meski Trump menjanjikan tarif menyeluruh, kemungkinan besar ia akan menggunakan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk mendapatkan manfaat bagi AS.

    Hasil akhirnya akan bergantung pada respons negara-negara lain, terutama blok perdagangan utama seperti China dan Uni Eropa, yang kemungkinan akan melakukan retaliasi yang ditargetkan dan mencari negosiasi.

    Sementara itu, Maurice Obstfeld, mantan Kepala Ekonom IMF, menyatakan bahwa tarif ini dapat menyebabkan gangguan besar di sektor otomotif yang sangat bergantung pada rantai pasok lintas negara.

    Visi Ekonomi Trump

    Deputi Kepala Ekonom Bank Dunia, Ayhan Kose, memperingatkan bahwa tarif perdagangan yang diancam akan diperkenalkan oleh Trump pada impor ke AS dapat memiliki dampak ekonomi global yang luas.

    Menurutnya, tarif adalah bagian sentral dari visi ekonomi Trump. Ia melihatnya sebagai cara untuk menumbuhkan ekonomi AS, melindungi lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan pajak.

    Perlu jadi perhatian, AS adalah importir terbesar di dunia, dengan China, Meksiko, dan Kanada menyumbang sekitar 40% dari total impor barang AS sebesar US$3,2 triliun per tahun. Ancaman tarif ini membuat banyak pemimpin dunia khawatir karena akan membuat barang mereka lebih mahal di pasar terbesar dunia.

    Kose menyatakan bahwa “meningkatnya ketegangan perdagangan antara ekonomi besar” adalah salah satu kekhawatiran terbesar Bank Dunia terhadap ekonomi global pada 2025.

    “Kapan pun Anda memperkenalkan pembatasan pada perdagangan, akan ada konsekuensi buruk yang paling sering dialami oleh negara yang memperkenalkan pembatasan tersebut,” katanya.

    Bank Dunia menyatakan bahwa bahkan peningkatan 10% dalam tarif AS pada impor dari setiap negara dapat mengurangi pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,2% jika negara-negara tidak membalas. Jika mereka membalas, ekonomi global dapat terkena dampak lebih parah.

    Kose menambahkan bahwa tingkat pertumbuhan yang rendah yang diproyeksikan untuk ekonomi dunia pada 2025 berarti standar hidup tidak akan meningkat “dengan kecepatan yang kita lihat di masa lalu”. Sebelum pandemi, pertumbuhan rata-rata lebih dari 3% per tahun.

     

    (luc/luc)

  • IHSG Diprediksi Terkoreksi di Akhir Pekan, Ini Sentimennya

    IHSG Diprediksi Terkoreksi di Akhir Pekan, Ini Sentimennya

    Jakarta, FORTUNE – Indeks Harga Saham Gabungan (Ihsg) diproyeksikan melemah pada Jumat (10/1), setelah bergerak sideways di rentang 7.030–7.130 kemarin.

    Head of Research Phintraco Sekuritaas, Valdy Kurniawan mengatakan, bersamaan dengan pergerakan tersebut, Stochastic RSI melanjutkan kecenderungan menjauhi overbought area (9/1). “Dengan demikian, IHSG diperkirakan kembali bergerak dalam rentang konsolidasi (7030-7130) tersebut,” kata Valdy dalam riset hariannya.

    Pergerakan IHSG masih dibayangi oleh risalah FOMC The Fed yang memvalidasi pernyataan Kepala the Fed, Jerome Powell bahwa The Fed tidak perlu tergesa-gesa memangkas suku bunga acuan pada 2025. Pasalnya, dalam risalah tersebut, The Fed pun mengakui kekhawatiran dampak kebijakan Presiden Donald Trump yang akan memperberat upaya-upaya normalisasi inflasi di Amerika Serikat di 2025.

    Sentimen negatif eksternal itu diimbangi dengan optimisme outlook ekonomi Indonesia di kuartal I 2025 menyusul sejumlah stimulus fiskal pada awal 2025. Sebagai validasi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia naik ke 127,7 pada Desember 2024 dari 125,9 pada November 2024.

    Valdy berujar, “Kenaikan ini cukup menarik mengingat di Desember 2024, sentimen pasar masih dibayangi oleh rencana kenaikan PPN menjadi 12 persen mulai 1 Januari 2025.”

    Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG hari ini bergerak di antara support 7.030, pivot 7.100, dan resisten 7.130. Daftar saham pilihan tim riset mereka meliputi ACES, BBCA, BMRI, JSMR, INDF, dan MTEL.

    Sementara itu, secara teknikal, Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova memprediksi IHSG melemah di antara level 7.025 dan 7.080. Saham-saham yang ia soroti hari ini, yakni: BBCA, BBRI, INCO, MDKA, dan PGEO.

    IHSG berpotensi menguji resisten 7.129, menyusul penembusan di atas resisten minor 7.091 pada Kamis. Selanjutnya, adanya penembusan d atas level 7.129 akan membuka jalan menuju 7.216.

    “Namun demikian, IHSG dapat menguji kembali zona support 7.011–7.028 jika turun di bawah 7.046,” kata Ivan dalam riset hariannya.

    Adapun, level support IHSG hari ini berada di 6.993, 6.931, dan 6.875. Sementara level resistennya di 7.129, 7.216, 7.301, dan 7.402. Indikator MACD menunjukkan kondisi netral.

  • Harga Bitcoin Kembali ke Level US$ 100.000

    Harga Bitcoin Kembali ke Level US$ 100.000

    Jakarta, Beritasatu.com – Pasar kripto kembali menguat dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) juga mulai kembali ke level  psikologis US$ 100.000 seperti yang dicapai setelah kemenangan Donald Trump dalam Pilpres Amerika Serikat (AS). 

    Berdasarkan data dari Coinmarketcap pada Selasa (7/1/2025) pukul 07.11 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 2,66% menjadi US$ 3,6 triliun dalam 24 jam. Harga Bitcoin naik 3,59% mencapai US$ 102.099 per koin.

    Selain itu, penguatan juga terjadi pada Ethereum (ETH) sebesar 0,91% menjadi US$ 3.678 per koin. Sedangkan Binance (BNB) menguat 2,89% menjadi US$ 729,9 per koin.

    Menurut James Van Straten, analis senior di CoinDesk, kenaikan harga kali ini didorong oleh pembelian spot daripada leverage. Sebelumnya pada akhir 2024, pasar kripto sempat mengalami koreksi akibat aksi ambil untung investor setelah reli besar-besaran pasca kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS. Harga BTC turun ke titik terendah sebesar US$ 91.000 pada 30 Desember 2024, sebelum kembali bangkit pada awal tahun baru.

    Dengan berakhirnya masa liburan, permintaan terhadap BTC meningkat. MicroStrategy mengumumkan pembelian tambahan 1.020 BTC, sementara perusahaan energi KULR Technology Group menggandakan kepemilikan BTC-nya dengan investasi senilai US$ 21 juta.

    Selain itu, dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) BTC spot mencatat arus masuk sebesar US$ 908 juta pada akhir pekan lalu. 

    Direktur senior Wincent Paul Howard mengingatkan, volatilitas bisa meningkat dalam dua minggu mendatang, meski BTC melampaui US$ 100.000. Ia menekankan pentingnya berhati-hati terhadap pergerakan pasar, terutama menjelang pelantikan Donald Trump.

    Laporan dari 10x Research memprediksi kenaikan harga kripto akan terus berlanjut hingga awal Januari, tetapi memperingatkan potensi aksi jual menjelang pertemuan Federal Reserve pada akhir bulan. Komentar hawkish dari Ketua The Fed Jerome Powell pada Desember lalu masih menjadi faktor risiko utama, terutama apabila inflasi kembali menjadi perhatian.

    Meski optimisme membayangi pasar kripto, investor diimbau untuk tetap waspada terhadap dinamika global yang dapat memengaruhi pergerakan harga Bitcoin pada tahun yang baru ini.

  • Kode Keras 2 Pejabat The Fed Soal Target Inflasi

    Kode Keras 2 Pejabat The Fed Soal Target Inflasi

    Bisnis.com, JAKARTA — Dua pejabat bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve alias The Fed menekankan pentingnya melawan lonjakan harga setelah pandemi sehingga target inflasi 2% bisa tercapai.

    Dilansir dari Bloomberg Minggu (5/1/2025), Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mengakui adanya kemajuan signifikan dalam menurunkan harga barang atau jasa dalam dua tahun terakhir. Hanya saja, level inflasi masih di atas target The Fed.

    Gubernur The Fed Adriana Kugler turut menyuarakan sentimen serupa di acara yang diselenggarakan oleh American Economic Association di San Francisco pada Sabtu (4/1/2024) waktu setempat.

    “Jelas pekerjaan kami belum selesai, kami belum mencapai 2%. Jadi kami jelas masih berusaha untuk mencapainya,” ujarnya.

    Di samping itu, Daly dan Kugler juga mengatakan The Fed harus tetap waspada terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Daly menyarankan para kolega agar berpikir lebih luas daripada hanya tertuju kepada dua pilihan.

    Sejauh ini, sambungnya, upaya Fed untuk meredam inflasi belum merusak pasar tenaga kerja secara signifikan. Pengangguran telah meningkat tetapi berada pada titik terendah secara historis yaitu 4,2% pada November.

    Daly mengaku tidak ingin melihat perlambatan lebih lanjut di pasar tenaga kerja karena dapat mengganggu keseimbangan dalam lanskap ketenagakerjaan. 

    “Jadi, meskipun kita benar-benar harus terus menekan inflasi ke target 2%—kita harus tegas tentang hal itu—kita harus melakukannya dengan cara yang bijak sehingga kita juga dapat mendukung target tidak adanya pengangguran,” jelasnya.

    The Fed sendiri telah menurunkan suku bunga acuan hingga satu poin persentase penuh sejak September. Kendati demikian, setelah inflasi melambat beberapa waktu belakangan, The Fed mengisyaratkan akan mengambil pendekatan lebih berhati-hati pada 2025.

    Para pembuat kebijakan The Fed secara luas diharapkan untuk mempertahankan biaya pinjaman tetap stabil ketika mengadakan pertemuan pada akhir Januari ini. 

    Sebelumnya, Ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan akan ada pemotongan suku bunga acuan lebih lanjut agar target inflasi 2% bisa tercapai. The Fed mencatat inflasi naik 2,4% pada November dibandingkan tahun sebelumnya.

  • Harga Bitcoin Kembali Naik di Tengah Prospek Cerah 2025

    Harga Bitcoin Kembali Naik di Tengah Prospek Cerah 2025

    Jakarta, Beritasatu.com – Pasar kripto kembali mencatatkan kenaikan dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) juga kembali naik seiring prospek 2025 yang diyakini akan membawa angin segar dan peluang cerah bagi sektor aset digital ini.

    Berdasarkan data dari Coinmarketcap pada Sabtu (4/1/2025) pukul 14.12 WIB, kapitalisasi pasar kripto global naik 2,90% menjadi US$ 3,5 triliun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin, yang merupakan kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, naik 1,78% ke level US$ 98.174 per koin.

    Tidak hanya Bitcoin, kripto utama lainnya juga menunjukkan penguatan. Ethereum (ETH) mencatat kenaikan 4,98% menjadi US$ 3.606 per koin. Sementara itu, Binance Coin (BNB) naik 2,31% menjadi US$ 717,94 per koin.

    Trader dari Tokocrypto Fyqieh Fachrur mengungkapkan, 2025 menjadi momen yang menjanjikan untuk pasar kripto. 

    “Bitcoin mulai pulih secara perlahan dari tekanan yang terjadi pada akhir tahun 2024,” ujar Fyqieh. Tekanan tersebut sebelumnya dipicu oleh sentimen negatif dari pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, serta aksi ambil untung oleh investor menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

    Fyqieh menyampaikan, meski sempat terkoreksi, pasar tetap optimistis terhadap prospek pertumbuhan kripto di masa depan. 

    “Keuntungan Bitcoin sepanjang 2024 mencapai 120%, dan koreksi yang terjadi tidak mengurangi keyakinan investor,” tambahnya.

    Salah satu faktor pendukung optimisme pasar adalah pembukaan perdagangan di Wall Street untuk pertama kalinya pada 2025 yang mendorong harga Bitcoin kembali naik. Selain itu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump juga memberikan sinyal positif terhadap sektor kripto.

  • Kilau Meredup, Harga Emas Dunia Dibanderol Cuma USD2.604/Ons

    Kilau Meredup, Harga Emas Dunia Dibanderol Cuma USD2.604/Ons

    Chicago: Harga emas dunia turun pada perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB) karena para pedagang menunggu katalis baru, termasuk data ekonomi Amerika Serikat (AS) minggu depan, yang dapat memengaruhi prospek suku bunga Federal Reserve untuk 2025, serta kebijakan dari Presiden baru Donald Trump.
     
    Mengutip data Yahoo Finance, Selasa, 31 Desember 2024, harga emas spot turun 0,6 persen menjadi USD2.604,49 per ons. Sementara harga emas berjangka AS ditutup 0,5 persen lebih rendah pada USD2.618,10.
     
    Ketegangan geopolitik diperkirakan akan tetap tinggi hingga tahun depan, dengan bank sentral terus membeli emas. Sementara situasi utang AS kemungkinan akan memburuk dan defisit akan tumbuh di bawah pemerintahan Trump, memicu permintaan safe haven yang berkelanjutan untuk logam tersebut.
    Emas telah melonjak hampir 27 persen tahun ini, mencapai rekor tertinggi USD2.790,15 pada 31 Oktober, karena investor mencari logam kuning di tengah ketidakpastian geopolitik dan pemotongan suku bunga AS.
     
    Antisipasi perubahan kebijakan utama AS pada 2025, termasuk potensi tarif , deregulasi, dan perubahan pajak, telah tumbuh saat Trump bersiap untuk menjabat pada Januari.
     

     

    Sikap hati-hati Fed soal suku bunga

    Awal bulan ini, Ketua Fed Jerome Powell mengisyaratkan sikap hati-hati terhadap penurunan suku bunga lebih lanjut setelah memberikan pengurangan seperempat poin, sejalan dengan ekspektasi pasar.
     
    Serangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis minggu depan mencakup angka lowongan kerja, laporan ketenagakerjaan ADP, risalah FOMC Fed pada Desember, dan laporan ketenagakerjaan AS, untuk mengukur kesehatan ekonomi.
     
    Emas batangan dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak, tetapi suku bunga yang tinggi mengurangi daya tarik untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
     
    Adapun harga perak spot turun 1,3 persen menjadi USD28,98 per ons dan platinum turun 1,5 persen menjadi USD905,62, setelah mencapai titik terendah dalam lebih dari tiga bulan pada Jumat. Sementara paladium turun 1,0 persen menjadi USD902,16.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (HUS)

  • Sepi Katalis, Harga Emas Turun Jelang Pergantian Tahun – Page 3

    Sepi Katalis, Harga Emas Turun Jelang Pergantian Tahun – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Harga emas dunia turun dalam perdagangan yang sepi di hari Senin karena para pelaku pasar menunggu katalis baru, termasuk data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dapat memengaruhi prospek suku bunga Bank Sentral AS atau Federal Reserve (Fed) di 2025. Selain itu, pelaku pasar juga menunggu kebijakan dari Presiden terpilih Donald Trump.

    Mengutip CNBC, Selasa (31/12/2024), harga emas spot turun 0,6% menjadi USD 2.603,53 per ons. Sedangkan harga emas berjangka ASturun 0,6% menjadi USD 2.616,4 per ons.

    “Saya pikir ini hanya perdagangan yang sepi karena liburan. Mungkin ada sedikit penyesuaian sebelum akhir tahun,” kata Wakil Presiden dan analis senior Zaner Metals Peter Grant.

    Ia mengatakan, ketegangan geopolitik diperkirakan akan tetap tinggi hingga tahun depan, dengan bank sentral terus membeli emas. Sementara situasi utang AS kemungkinan akan memburuk dan defisit akan tumbuh di bawah pemerintahan Trump, yang memicu permintaan logam mulia sebagai tempat berlindung yang aman.

    Emas telah melonjak hampir 27% tahun ini, mencapai rekor tertinggi USD 2.790,15 per ons pada 31 Oktober, karena investor mencari logam kuning di tengah ketidakpastian geopolitik dan pemotongan suku bunga AS.

    Antisipasi perubahan kebijakan utama AS pada tahun 2025, termasuk potensi tarif, deregulasi, dan perubahan pajak, telah meningkat saat Trump bersiap untuk menjabat pada bulan Januari.

    Awal bulan ini, Ketua Fed Jerome Powell mengisyaratkan sikap hati-hati terhadap pemotongan suku bunga lebih lanjut setelah memberikan pengurangan seperempat poin, sejalan dengan ekspektasi pasar.

    Serangkaian data ekonomi AS yang akan dirilis minggu depan termasuk angka lowongan kerja, laporan ketenagakerjaan ADP, risalah FOMC Fed bulan Desember, dan laporan ketenagakerjaan AS, untuk mengukur kesehatan ekonomi.

    Emas batangan dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak tetapi suku bunga yang tinggi mengurangi daya tarik untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

    Harga Logam Lain

    Harga perak di pasar spot turun 1,5% pada USD 28,94 per ons. Untuk harga platinum turun 1,5% menjadi USD 905,70 per ons, setelah mencapai titik terendah dalam tiga bulan pada hari Jumat.

    Harga Palladium turun tipis 1,1% menjadi USD 901,22 per ons.

  • Harga Emas Dunia Turun Tipis, tetapi Menguat 27 Persen Selama 2024

    Harga Emas Dunia Turun Tipis, tetapi Menguat 27 Persen Selama 2024

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas melemah pada perdagangan Senin (30/12/2024) di tengah rendahnya aktivitas perdagangan. Investor saat ini sedang menunggu data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan depan, serta potensi dampak kebijakan presiden terpilih Donald Trump terhadap langkah The Federal Reserve pada 2025.

    Mengutip CNBC International, Selasa (31/12/2204), harga emas spot turun 0,3% ke level US$ 2.611,39 per ons. Sementara kontrak emas berjangka AS melemah 0,3% ke posisi US$ 2.624,00.

    “Perdagangan sepi dengan likuiditas yang rendah di berbagai kelas aset, kemungkinan besar akibat musim liburan,” ungkap analis dari UBS Giovanni Staunovo.

    Ia menambahkan, harga emas turun saat para pelaku pasar akan mencermati data ekonomi AS yang akan datang untuk menentukan apakah perlambatan ekonomi dapat mendorong The Fed melanjutkan kebijakan pemangkasan suku bunga.

    Sebelumnya, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan, bank sentral akan bertindak hati-hati terkait kebijakan pemangkasan lebih lanjut, setelah memangkas suku bunga sebesar 0,25 persen pada Desember lalu.

    Pekan depan, fokus pasar akan tertuju pada data pembukaan lapangan kerja AS, laporan ketenagakerjaan ADP, risalah pertemuan FOMC Desember, serta laporan pekerjaan AS, yang diharapkan memberikan gambaran tentang kondisi ekonomi terbesar di dunia.

    “Ke depan, kami melihat faktor pendukung untuk harga emas tetap ada, seperti pembelian oleh bank sentral untuk diversifikasi cadangan serta kebijakan suku bunga rendah di AS yang mendorong investasi,” tambah Staunovo.

    Sepanjang 2024, harga emas mencatatkan kenaikan sekitar 27%, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level US$ 2.790,15 pada 31 Oktober.

    Pasar kini bersiap menghadapi perubahan kebijakan besar di AS pada 2025, termasuk kemungkinan pengenaan tarif baru, deregulasi, serta perubahan sistem perpajakan, seiring kembalinya Trump ke Gedung Putih pada Januari mendatang.

    Sebagai aset lindung nilai, emas tetap menjadi pilihan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. 

    Selain harga emas yang turun, harga logam mulia lainnya, seperti perak spot tidak mengalami perubahan di level US$ 29,38 per ons, platinum menguat 0,4% menjadi US$ 923,53 setelah mencapai titik terendah dalam lebih dari tiga bulan pada akhir pekan lalu, dan palladium juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1% ke level US$ 912,73 per ons.

  • Tunggu Donald Trump Dilantik, Pelemahan Rupiah Diproyeksi Masih Terjadi hingga Awal 2025

    Tunggu Donald Trump Dilantik, Pelemahan Rupiah Diproyeksi Masih Terjadi hingga Awal 2025

    Jakarta, Beritasatu.com – Depresiasi atau pelemahan rupiah berpotensi masih akan terjadi hingga awal 2025 mengingat banyak ketidakpastian, terutama penantian pasar atas pelantikan presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump pada 20 Januari 2025.

    “Pada 20 Januari Donald Trump dilantik. Jadi nanti akan lebih jelas lagi kebijakan-kebijakan apa yang akan diambil Donald Trump secara resmi ketika memegang kendali pemerintahan di Amerika,” tutur Head of Macroeconomic and Financial Market Research PT Bank Mandiri Tbk, Dian Ayu Yustina dalam “Investor Market Today” di IDTV, Senin (23/12/2024).

    Dikatakan Dian, pelaku pasar menunggu outlook variabel penting di AS, seperti inflasi dan tingkat pengangguran setelah Donald Trump dilantik. Jika dua indikator makroekonomi AS tersebut sejalan dengan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed), pasar dapat bernapas lega. 

    Namun, jika kontradiksi, akan memberi sentimen negatif.  “Nah, kita harus cautious. Jadi mungkin sampai awal 2025 kita perlu tetap waspadai volatilitas nilai tukar rupiah,” kata dia.

    Dalam sepekan terakhir, rupiah terus melemah bahkan sempat menyentuh Rp 16.300 per dolar AS. Depresiasi atau pelemahan rupiah dipicu kebijakan suku bunga The Fe dan lonjakan indeks dolar Amerika Serikat, utamanya seusai pengumuman Gubernur The Fed Jerome Powell tentang arah pemangkasan suku AS pada 2025. 

    Menjelang Donald Trump dilantik, data Bloomberg Selasa (24/12/2024) pagi menyebutkan, rupiah berada pada level Rp 16.180 per dolar AS atau menguat tipis 16 poin (0,10 persen) dibandingkan perdagangan sebelumnya.
     

  • Siap Efisiensi Bank Sentral AS, Elon Musk: Jumlah Staf The Fed Tak Masuk Akal

    Siap Efisiensi Bank Sentral AS, Elon Musk: Jumlah Staf The Fed Tak Masuk Akal

    Bisnis.com, JAKARTA – Elon Musk, miliarder yang bakal mengepalai departemen efisiensi pemerintahan AS pada Januari 2025, telah memusatkan perhatian pada bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).

    Dalam platform media sosial X yang dikutip dari Bloomberg pada Senin (23/12/2024), Musk menyebut bank sentral yang bertugas melindungi ekonomi terbesar di dunia itu “kelebihan staf secara tidak masuk akal,”. Pernyataan tersebut merupakan bagian dari rangkaian yang dimulai ketika seseorang memposting tentang keputusan kebijakan terbaru Fed. 

    Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden terpilih AS Donald Trump juga menjadikan Fed sebagai target, dengan alasan bahwa ia seharusnya memiliki suara dalam kebijakan moneter dan penetapan suku bunga.

    Musk telah menjadi salah satu penasihat terdekat Trump saat Trump bersiap kembali ke Gedung Putih. Musk akan memimpin badan baru — yang disebut Departemen Efisiensi Pemerintah — bersama pengusaha Vivek Ramaswamy. DOGE, seperti yang dikenal, berupaya mewujudkan pemerintahan yang lebih ramping dan lebih efisien, termasuk pemotongan pengeluaran sebesar US$2 triliun. 

    Dewan Federal Reserve di Washington dan 12 bank cadangan regional di seluruh AS mempekerjakan sekitar 24.000 orang tahun lalu — jauh lebih sedikit daripada lembaga yang sebanding.

    Dalam Eurosystem, yang terdiri dari Bank Sentral Eropa dan 20 bank nasional sejawat di kawasan itu, bank sentral Jerman, Prancis, dan Italia bersama-sama memiliki lebih banyak staf.

    The Fed dan Ketua Jerome Powell telah sering menjadi sasaran Trump, yang mengangkatnya selama masa jabatan pertamanya. Baru-baru ini, ia mengejek peran Powell sebagai “pekerjaan terbesar dalam pemerintahan,” dengan mengatakan, “Anda datang ke kantor sebulan sekali, dan Anda berkata, ‘Coba lihat, lempar koin.’”

    Meskipun Powell belum menanggapi secara langsung, Presiden ECB Christine Lagarde menantang keluhan Trump, mengundangnya untuk datang dan mengamati pekerjaan timnya di Frankfurt.

    “Saya memiliki ribuan orang pekerja keras — ekonom, ahli hukum, ilmuwan komputer — dan saya dapat meyakinkan Anda bahwa mereka bekerja sangat keras setiap hari, bukan hanya sebulan sekali,” katanya kepada Bloomberg TV. 

    “Kami membela euro, dan kami berjuang untuk euro, seperti halnya The Fed membela dolar, saya yakin — saya tidak ingin berbicara atas nama Jay Powell, tetapi saya yakin begitulah cara dia memandang pekerjaannya.”