Tag: Jerome Powell

  • Heboh Dolar Anjlok ke Rp8.170 di Google, Segini Nilai Aslinya

    Heboh Dolar Anjlok ke Rp8.170 di Google, Segini Nilai Aslinya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Netizen dihebohkan dengan laman Google yang menunjukkan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) anjlok ke Rp8.170,65 pada Sabtu (1/2/2025).

    Menurut pantauan CNBC Indonesia di laman Google per pukul 18.18 WIB, kurs rupiah mengalami penguatan lebih dari 50% terhadap dolar AS. Rupiah menguat setelah ditutup pada harga Rp16.355 per Jumat, (31/1/2025).

    Padahal, jika mengacu pada laman resmi Bank Indonesia, kurs jual Rupiah adalah Rp16.340,30 per 1 dolar AS dan Rp16.177,70 untuk kurs beli. Adapun untuk kurs JISDOR tercatat sebesar Rp16.312,00 pada penutupan perdagangan Jumat lalu.

    CNBC Indonesia sudah menghubungi pihak Google untuk mengonfirmasi soal eror di layanannya, tetapi belum ada jawaban.

    Sebelumnya, berdasarkan data Refinitiv nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan terakhir (31/1/2025) tercatat di Rp16.295/US$. Dalam sebulan Mata Uang Garuda ambruk 1,27%.

    Tekanan terhadap mata uang RI ini terjadi setelah bank sentral AS (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya setelah memangkas pada tiga pertemuan sebelumnya dengan total 100 basis poin (bps).

    Foto: Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Sabtu (1/2/2025). (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)
    Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, Sabtu (1/2/2025). (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

    The Fed juga mengisyaratkan akan menahan suku bunga dalam waktu lama dengan menegaskan tidak akan terburu-buru memotong suku bunga. The Fed hanya menegaskan jika keputusan suku bunga ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan data ekonomi.

    Seperti diketahui, The Fed telah membabat suku bunganya tiga kali beruntun pada tahun lalu secara berturut-turut yakni pada September (50 bps), November (25 bps), dan Desember (25 bps).

    Kebijakan menahan suku bunga ini diputuskan pada awal tahun di rapat The Federal Open Market Committee (FOMC) pertama The Fed sejak Presiden Donald Trump memimpin kembali AS.

    Keputusan The Fed ini juga berbanding terbalik dengan keinginan Trump yang menginginkan suku bunga rendah.

    “Kami merasa tidak perlu terburu-buru untuk melakukan penyesuaian apa pun. Saat ini, kami merasa kami berada di posisi yang sangat baik. Kebijakan ini sudah diposisikan dengan baik dan ekonomi berada dalam posisi yang cukup baik.” tutur Chairman The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai menggelar rapat FOMC, dikutip dari CNN International.

    Keputusan bulat untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 4,25%-4,50% saat ini, ditambah dengan pernyataan baru Jerome Powell, membuat The Fed berhati-hati menantikan data inflasi dan ketenagakerjaan lebih lanjut serta kejelasan tentang dampak kebijakan Presiden AS, Donald Trump.

    Jerome Powell mengatakan bahwa pejabat bank sentral AS “menunggu untuk melihat kebijakan apa yang diterapkan” sebelum menilai dampaknya terhadap inflasi, lapangan kerja, dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan, serta tidak terburu-buru untuk menyesuaikan suku bunga lebih lanjut.

    Trump kembali menjabat sebagai presiden AS dengan janji tarif impor lebih tinggi, pengetatan kebijakan imigrasi, pemotongan pajak, dan pelonggaran regulasi. Ia juga mengatakan akan menuntut suku bunga yang lebih rendah dan mengharapkan The Fed untuk menuruti keinginannya.

    Setelah The Fed memangkas suku bunga tiga kali pada akhir tahun lalu, inflasi sebagian besar bergerak mendatar dalam beberapa bulan terakhir.

    Menariknya, dalam pernyataan kebijakan terbarunya, bank sentral menghapus bahasa yang menyatakan bahwa inflasi “telah menunjukkan kemajuan” menuju target inflasi 2%, dan hanya mencatat bahwa laju kenaikan harga “tetap tinggi.”

    (fab/fab)

  • Pasar Saham Asia Melemah, Bagaimana dengan Dolar dan Emas?

    Pasar Saham Asia Melemah, Bagaimana dengan Dolar dan Emas?

    Jakarta, FORTUNE – Pasar Saham Asia mencatat pelemahan pada hari Jumat (31/1), terutama karena kembali dibukanya pasar saham Korea Selatan setelah libur Tahun Baru Imlek. Meski demikian, sentimen investor tetap stabil berkat laporan keuangan yang kuat dari perusahaan teknologi Amerika Serikat.

    Kebijakan tarif baru dari pemerintahan Donald Trump turut mendorong kenaikan nilai tukar Dolar dan Harga Emas. Adapun, kebijakan bank sentral masih  menjadi perhatian utama para pelaku pasar minggu ini.

    Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga sesuai dengan prediksi sebelumnya. Gubernur The Fed, Jerome Powell menyatakan bahwa tidak akan ada pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Sementara itu, Bank Sentral Eropa justru melakukan pemangkasan suku bunga pada hari Kamis (30/1).

    Perdagangan saham di beberapa negara Asia masih terhenti akibat perayaan Tahun Baru Imlek, termasuk di Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan. Namun, pasar saham Korea Selatan kembali aktif dan langsung mengalami tekanan. Indeks KOSPI turun 1 persen akibat pengumuman terobosan model kecerdasan buatan (AI) murah oleh DeepSeek Tiongkok, yang berdampak pada pasar global.

    Beberapa saham teknologi besar mengalami penurunan signifikan. Saham Samsung Electronics anjlok 3 persen karena prospek pertumbuhan laba kuartal pertama yang terbatas. Sementara itu, saham SK Hynix, pemasok utama Nvidia, merosot hingga 8 persen.

    Secara keseluruhan, indeks MSCI saham Asia-Pasifik di luar Jepang mengalami penurunan sebesar 0,3 persen, tetapi masih menunjukkan kenaikan sebesar 1 persen dalam bulan ini. Indeks tersebut berhasil mengakhiri tren penurunan yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

    Di sisi lain, kontrak berjangka Nasdaq naik 0,6 persen dalam sesi perdagangan Asia, didorong oleh proyeksi positif dari Apple Inc, yang memperkirakan pertumbuhan penjualan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa Apple berpotensi pulih dari penurunan penjualan iPhone dengan memanfaatkan fitur kecerdasan buatan yang lebih canggih.

    Pada awal pekan, saham teknologi sempat anjlok drastis akibat kekhawatiran investor terhadap pengaruh model AI murah dari Tiongkok. Saham perusahaan besar seperti Nvidia, Broadcom, dan Oracle terdampak oleh kekhawatiran ini. 

    Namun, beberapa perusahaan teknologi telah berhasil menutupi sebagian kerugian tersebut. CEO Microsoft dan Meta mengemukakan bahwa investasi besar-besaran dalam pengembangan AI sangat penting untuk mempertahankan daya saing di industri ini.

    Vasu Menon, Direktur Pelaksana Strategi Investasi di OCBC, menilai bahwa perkembangan teknologi AI yang diperkenalkan DeepSeek dapat menimbulkan ketidakpastian dan tekanan terhadap valuasi perusahaan AI dalam jangka pendek. Meski demikian, menurutnya, prospek jangka menengah hingga panjang tetap positif.

    “Kebutuhan akan peningkatan infrastruktur AI akan terus berlanjut dan setiap kapasitas komputasi baru harus diserap oleh peningkatan permintaan AI yang dapat tumbuh secara signifikan di tahun-tahun mendatang,” ujarnya, seperti dikutip dari Reuters.

    Ia menambahkan bahwa kebutuhan terhadap infrastruktur AI akan terus meningkat. Karenanya, setiap kapasitas komputasi yang baru harus dapat mengakomodasi permintaan AI yang terus berkembang.

    Sementara itu, data dari LSEG menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS mengalami perlambatan pada kuartal keempat 2024, meskipun masih cukup kuat untuk memungkinkan The Fed menurunkan suku bunga secara bertahap sepanjang tahun ini.

    Pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 45 basis poin dalam tahun 2025, dengan probabilitas dua kali pemangkasan yang cukup besar. Fokus investor kini beralih pada laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS pada Desember, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed.
     

  • The Fed Tahan Suku Bunga Berdampak ke Dunia, Tetangga Indonesia Jadi Korban Pertama Trump di ASEAN

    The Fed Tahan Suku Bunga Berdampak ke Dunia, Tetangga Indonesia Jadi Korban Pertama Trump di ASEAN

    PIKIRAN RAKYAT – Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), kembali mempertahankan suku bunga acuan (FFR) di level 4,25-4,50% pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pertama tahun ini, yang berlangsung Rabu 29 Januari 2025 waktu AS atau Kamis 30 Januari 2025 dini hari waktu Indonesia.

    Keputusan ini menjadi langkah pertama The Fed setelah sebelumnya memangkas suku bunga dalam tiga pertemuan berturut-turut.

    Mengapa The Fed Menahan Suku Bunga?

    Keputusan ini diambil di tengah optimisme terhadap pasar tenaga kerja AS yang tetap kuat. Meskipun tingkat pengangguran mengalami sedikit penurunan menjadi 4,1% pada Desember 2024, inflasi masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.

    Menurut pernyataan resmi, ekonomi AS masih tumbuh dengan solid, namun laju inflasi tetap menjadi perhatian utama. Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa meskipun tekanan inflasi masih ada, bank sentral akan mengambil keputusan berdasarkan data ekonomi yang tersedia.

    “Kami merasa tidak perlu terburu-buru untuk melakukan penyesuaian kebijakan apa pun saat ini. Kami berada dalam posisi yang baik,” ujar Powell dalam konferensi pers.

    Keputusan ini berbanding terbalik dengan keinginan Presiden Donald Trump yang menghendaki suku bunga lebih rendah. Trump sebelumnya menyatakan bahwa penurunan suku bunga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan menekan inflasi. Namun, Powell menegaskan bahwa The Fed akan tetap independen dan tidak tunduk pada tekanan politik.

    Dampak Global: Pasar Keuangan dan Kebijakan Dagang

    Pasar merespons negatif keputusan The Fed yang menahan suku bunga. Indeks Dow Jones turun 0,31%, S&P 500 melemah 0,47%, dan Nasdaq Composite turun 0,51%.

    Investor yang sebelumnya mengharapkan pemangkasan suku bunga lebih lanjut kini harus menyesuaikan ekspektasi mereka.

    Sementara itu, kebijakan perdagangan Trump yang agresif juga menjadi perhatian. Rencana Trump untuk menaikkan tarif perdagangan terhadap sejumlah negara dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga dan inflasi. Powell menegaskan bahwa The Fed akan terus mengamati dampak dari kebijakan tarif sebelum mengambil langkah lebih lanjut dalam kebijakan moneternya.

    Korban Pertama Trump di ASEAN: Krisis Kemanusiaan di Perbatasan Thailand-Myanmar

    Kebijakan ekonomi Trump tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga pada bantuan kemanusiaan. Presiden Trump baru-baru ini membekukan sebagian besar bantuan luar negeri AS, termasuk yang diberikan kepada organisasi kemanusiaan di ASEAN.

    Akibatnya, pusat layanan kesehatan di perbatasan Thailand-Myanmar yang selama ini didanai oleh International Rescue Committee (IRC) terpaksa ditutup.

    Keputusan ini memicu krisis bagi puluhan ribu pengungsi dari Myanmar yang selama ini bergantung pada fasilitas kesehatan di kamp Mae La, Thailand. Banyak pasien, termasuk wanita hamil dan penderita penyakit kronis, dipulangkan tanpa mendapatkan perawatan yang memadai. Sistem distribusi air dan sanitasi di kamp juga terdampak akibat penghentian bantuan.

    Pekan lalu, Trump menegaskan bahwa penghentian sementara bantuan pembangunan oleh Badan Pembangunan Internasional AS (USAID) dilakukan untuk menilai kesesuaian dengan kebijakan “America First” miliknya. Namun, kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran besar di sektor bantuan global, yang selama ini bergantung pada pendanaan AS.

    Nai Aue Mon, direktur program Yayasan Hak Asasi Manusia Monland (HURFOM), mengungkapkan keprihatinannya.

    “Para pengungsi ini sepenuhnya bergantung pada bantuan untuk kebutuhan dasar mereka, termasuk layanan kesehatan. Tanpa bantuan ini, kehidupan mereka berada dalam bahaya,” tuturnya, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Reuters.

    Masa Depan Kebijakan Moneter dan Dampaknya

    Dengan keputusan The Fed untuk menahan suku bunga, pelaku pasar kini memperkirakan bahwa pemangkasan suku bunga berikutnya mungkin tidak terjadi dalam waktu dekat. Sementara itu, dampak kebijakan proteksionis Trump mulai dirasakan di berbagai sektor, termasuk di ASEAN.

    Bagi investor dan pelaku ekonomi, kebijakan The Fed dan langkah-langkah ekonomi Trump akan menjadi faktor utama yang perlu dicermati sepanjang 2025. Ketidakpastian kebijakan moneter dan perdagangan ini dapat membawa dampak luas, baik bagi stabilitas ekonomi global maupun bagi masyarakat yang paling rentan terkena dampaknya.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • The Fed Pertahankan Suku Bunga, Apa Dampaknya untuk Investasi?

    The Fed Pertahankan Suku Bunga, Apa Dampaknya untuk Investasi?

    Jakarta: Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), baru saja memutuskan untuk mempertahankan kisaran suku bunga dana federal di angka 4,25 persen hingga 4,5 persen pada Rabu waktu setempat.
     
    Keputusan ini diambil karena data terkini menunjukkan inflasi masih terus naik meskipun sudah mereda dalam dua tahun terakhir. 
     
    Melansir Xinhua, Kamis, 30 januari 2025, Ketua The Fed, Jerome Powell, inflasi memang sudah mulai menurun, tetapi masih lebih tinggi dari target jangka panjang mereka yang hanya 2 persen.

    Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang menjadi acuan inflasi pilihan The Fed, naik 2,1 persen pada September lalu, 2,3 persen pada Oktober, dan 2,4 persen pada November. Hal ini menandakan tekanan inflasi masih ada.
     
    “Jika ekonomi tetap kuat dan inflasi tidak turun ke angka dua persen, kami mungkin akan terus mempertahankan kebijakan ini lebih lama,” kata Powell.
     
    Nah, dengan keputusan The Fed untuk menahan suku bunga, bagaimana pengaruhnya terhadap pasar keuangan? Apa yang harus dilakukan investor dalam situasi ini?
     

    Dampak keputusan The Fed menahan suku bunga
    Sebelum membahas strategi investasi, yuk kita pahami dulu apa saja dampak yang bisa terjadi saat The Fed menahan suku bunga:
     
    Suku bunga tetap stabil 
    Suku bunga acuan AS tidak berubah. Ini bisa mempengaruhi suku bunga di negara lain, termasuk Indonesia.
     
    Dolar AS cenderung melemah
    Biasanya, keputusan menahan suku bunga membuat dolar AS melemah terhadap mata uang lainnya.
     
    Pasar saham berpotensi menguat
    Ketika suku bunga stabil atau rendah, investor cenderung mencari aset berisiko seperti saham, yang bisa mendorong pasar saham naik.
     
    Harga obligasi bisa naik 
    Ketika suku bunga ditahan, harga obligasi cenderung naik karena investor akan mencari instrumen investasi yang memberikan imbal hasil yang lebih baik.
    Pengaruh suku bunga terhadap instrumen investasi
    Melansir laman Bibit, bagaimana suku bunga ini memengaruhi instrumen investasi? Berikut beberapa dampaknya:
     
    Obligasi dan reksa dana obligasi
    Kebijakan suku bunga langsung berdampak pada harga obligasi. Biasanya, ketika ada ekspektasi suku bunga akan turun, harga obligasi bisa naik. Hal ini bisa membuat investasi di obligasi menjadi lebih menarik.
     
    Saham dan reksa dana saham
    Suku bunga lebih berpengaruh tidak langsung pada saham. Jika suku bunga turun, biaya pinjaman atau kredit jadi lebih murah. Ini bisa mengurangi beban bunga bagi perusahaan dan meningkatkan laba bersih mereka. Dalam jangka panjang, ini biasanya memberi sentimen positif untuk harga saham.
     
    Selain itu, suku bunga juga mempengaruhi “risk appetite” atau selera risiko investor. Ketika suku bunga naik, investor cenderung menghindari saham dan beralih ke investasi yang lebih aman. 
     
    Sebaliknya, saat suku bunga turun, banyak investor yang berlomba-lomba mencari saham untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih tinggi.
    Apa yang Bisa Dilakukan Investor?
    Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga bisa membawa peluang dan tantangan bagi investor. 
     
    Dengan memahami dampaknya, Sobat Medcom bisa mengambil langkah yang tepat dalam investasi. Mulailah dengan mengevaluasi kembali portofolio investasi kamu dan pastikan kamu siap untuk memanfaatkan peluang yang ada ya.
     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Panasnya Sikap Trump ke Bos The Fed usai Suku Bunga Ditahan

    Panasnya Sikap Trump ke Bos The Fed usai Suku Bunga Ditahan

    Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu (29/1/2025) waktu setempat. The Fed juga menegaskan tidak akan terburu-buru melanjutkan penurunan suku bunga. 

    Keputusan The Fed dalam pertemuan kebijakan itu direspons negatif oleh Presiden AS Donald Trump.

    Mengutip Reuters pada Kamis (30/1/2025), The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 4,25%-4,50%. Keputusan tersebut dan komentar Gubernur The Fed, Jerome Powell, menempatkan kebijakan Fed dalam pola bertahan pada saat kondisi ekonomi AS tampak stabil dan sangat tidak menentu. 

    Ketidakpastian tersebut seiring dengan serangkaian fundamental ekonomi makro yang sehat dan tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir.

    Namun, keputusan yang diambil dari pemerintahan Trump mengenai imigrasi, tarif, pajak, dan bidang-bidang lainnya dapat terbukti mengganggu.

    Seusai pertemuan kebijakan pertama mereka pada masa jabatan kedua Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Powell mengatakan para pejabat Fed menunggu untuk melihat kebijakan yang akan diberlakukan Trump sebelum menilai dampaknya terhadap inflasi, lapangan kerja dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. 

    Dia menuturkan, tidak ada alasan untuk menyesuaikan suku bunga lebih lanjut hingga data menunjukkan penurunan inflasi yang kembali terjadi atau peningkatan risiko terhadap pasar tenaga kerja.

    “Saya pikir sikap kebijakan kami telah terkalibrasi dengan sangat baik. Tngkat pengangguran secara umum stabil selama enam bulan… Beberapa pembacaan inflasi terakhir… telah menunjukkan pembacaan yang lebih positif,” kata Powell dalam konferensi pers usai pertemuan kebijakan.

    Keputusan The Fed langsung mendapat respons dari Presiden AS, Donald Trump. Dia mempertanyakan keputusan pejabat bank sentral AS setelah mereka mempertahankan suku bunganya setelah pertemuan kebijakan pertama The Fed sejak Trump kembali menjabat.

    “Karena Jay Powell dan The Fed gagal menghentikan masalah yang mereka timbulkan akibat Inflasi, saya akan melakukannya dengan melepaskan produksi energi Amerika, memangkas regulasi, menyeimbangkan kembali Perdagangan Internasional, dan menghidupkan kembali Manufaktur Amerika,” tulisnya di platform Truth Social miliknya dikutip dari CNBC International, mengacu pada Powell.

    “Jika The Fed menghabiskan lebih sedikit waktu untuk membahas DEI, ideologi gender, energi ‘hijau’, dan perubahan iklim palsu, Inflasi tidak akan pernah menjadi masalah,” katanya.

    Trump meningkatkan tekanan pada para pejabat The Fed untuk menurunkan suku bunga pada minggu lalu, memperluas kebiasaannya mempublikasikan pandangannya mengenai kebijakan moneter – sesuatu yang telah lama dihindari oleh presiden untuk mempertahankan otonomi The Fed dari politik.

    Merespon hal tersebut, Powell mengaku dia belum berbicara dengan Trump sejak presiden baru AS itu memberi tahu para pemimpin bisnis bahwa dia akan menuntut bank sentral menurunkan suku bunga. Powell mengatakan bahwa dia tidak melakukan kontak dengan presiden sejak pernyataan Trump minggu lalu.

    “Saya tidak akan menanggapi atau mengomentari apa pun tentang apa yang dikatakan presiden. Tidak pantas bagi saya untuk melakukannya,” kata Powell. 

    Powell menuturkan, publik harus yakin bahwa The Fed akan terus melakukan pekerjaannya sebagaimana yang selalu dilakukan. 

    “Hal ini dilakukan berfokus pada penggunaan perangkat kebijakan untuk mencapai tujuan dan benar-benar bekerja keras dan menyelesaikan pekerjaan kami,” kata Powell. 

    Sejak didirikan pada 1913, Federal Reserve dirancang untuk membuat keputusan suku bunga yang independen dari tekanan pejabat terpilih. 

    Namun, dalam masa jabatan pertamanya sebagai presiden, Trump sangat vokal dengan pendapatnya tentang apa yang harus dilakukan bank sentral. Pernyataannya selama kampanye 2024 dan sejak kemenangan pemilihannya telah menunjukkan bahwa hal itu akan berlanjut dalam masa jabatan keduanya di Gedung Putih.

    “Saya akan menuntut agar suku bunga segera turun. Dan demikian pula, suku bunga harus turun di seluruh dunia. Suku bunga harus mengikuti kita di mana-mana,” kata Trump saat tampil secara virtual di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, minggu lalu.

    Powell awalnya dinominasikan untuk menjadi ketua Fed oleh Trump, mengambil alih posisi tersebut pada 2018. Dia sekarang menjalani masa jabatan keduanya di posisi tersebut, yang berlangsung hingga 15 Mei 2026.

    Powell mengatakan dirinya tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya jika diminta oleh Trump. Dia yakin tindakan presiden mencopot atau menurunkan jabatan ketua Fed tidak diizinkan menurut hukum.

    Inflasi Masih Tinggi

    Sementara itu, Federal Open Market Committee (FOMC) dalam sebuah pernyataan sesuai memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan mengatakan, setelah The Fed menurunkan suku bunga tiga kali pada akhir tahun lalu, inflasi sebagian besar bergerak sideways dalam beberapa bulan terakhir, namun tetap tinggi.

    Angka inflasi penting baru-baru ini masih sekitar setengah poin persentase atau lebih di atas target The Fed, jauh lebih rendah dibandingkan angka tertinggi dalam 40 tahun setelah pandemi.

    Para pejabat The Fed mengatakan mereka yakin kemajuan dalam penurunan inflasi akan berlanjut tahun ini, namun kini mereka menahan suku bunga sambil menunggu data yang mengonfirmasi hal tersebut.

    “Aktivitas ekonomi terus berkembang dengan kecepatan yang solid. Tingkat pengangguran telah stabil pada tingkat rendah dalam beberapa bulan terakhir, dan kondisi pasar tenaga kerja tetap solid,” demikian pernyataan The Fed.

    The Fed melanjutkan, dalam mempertimbangkan tingkat dan waktu penyesuaian tambahan terhadap kisaran target suku bunga dana federal, FOMC akan secara hati-hati menilai data yang masuk, prospek yang berkembang, dan keseimbangan risiko.

    Powell menambahkan, The Fed tidak perlu terburu-buru untuk menyesuaikan sikap kebijakannya. Menurutnya, kebijakan moneter saat ini berada pada posisi yang baik untuk menghadapi tantangan yang ada. 

    Adapun, dia mencatat adanya risiko penurunan suku bunga yang terlalu agresif. Powell menuturkan, mengurangi pembatasan kebijakan terlalu cepat atau terlalu banyak dapat menghambat kemajuan inflasi.

  • The Fed Tahan Suku Bunga di Kisaran 4,25%-4,5% – Page 3

    The Fed Tahan Suku Bunga di Kisaran 4,25%-4,5% – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu (29/1).

    Melansir CNBC International, Kamis (30/1/2025) The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25% hingga 4,5%.

    Langkah tersebut membuat biaya pinjaman di AS tetap tinggi, namun The Fed masih berupaya untuk menurunkan inflasi.

    Bank sentral AS sebelumnya memperkirakan dua pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai bagian dari proyeksinya untuk tahun 2025, yang akan membawa suku bunga acuan ke kisaran 3,75% hingga 4% pada akhir tahun.

    Namun, waktu pemotongan suku bunga belum diketahui pasti.

    Pasalnya, inflasi tahunan AS meningkat dari 2,5% menjadi 2,9% sejak September 2024, bersamaan dengan ketidakpastian terkait dampak inflasi dari tarif yang diusulkan Presiden Donald Trump Trump pada barang-barang dari China.

    Fase Baru

    Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral memasuki fase baru di mana ia akan berhati-hati tentang pemotongan lebih lanjut.

    “Kami tahu bahwa mengurangi pengekangan kebijakan terlalu cepat atau terlalu banyak dapat menghambat kemajuan inflasi,” ujar Powell dalam konferensi pers bulan lalu.

    Survei ekonom CNBC menunjukkan bahwa 65% memperkirakan dua pemotongan suku bunga The Fed, turun dari 78% dalam survei sebelumnya yang dilakukan pada bulan Desember 2024.

     

  • Waspada Kebijakan Trump, Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga

    Waspada Kebijakan Trump, Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga

    Jakarta

    Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve (The Fed) masih teguh menahan suku bunga acuannya di level 4,25-4,5%. Chairman Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pihaknya tidak akan terburu-buru untuk memangkas suku bunga lagi sampai data inflasi dan pekerjaan menunjukkan perbaikan signifikan.

    Penurunan suku bunga The Fed secara ekstrim sudah dinanti banyak pihak sejak tahun 2024. Namun, The Fed masih tak mau terburu-buru memangkas suku bunga. Seperti diketahui suku bunga tinggi bisa berdampak pada larinya modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia, ke Amerika. Hal ini bisa membuat nilai tukar Dolar yang terus menguat.

    Dilansir dari Reuters, Kamis (30/1/2025), kebijakan The Fed berada dalam pola bertahan pada saat lanskap ekonomi AS tampak stabil dengan sedikit ketidakpastian dalam beberapa waktu ke belakang. Serangkaian data fundamental ekonomi makro cukup dirasa sehat dan tidak banyak berubah dalam beberapa bulan terakhir.

    Yang jadi kekhawatiran saat ini adalah keputusan mendatang dari pemerintahan Presiden Donald Trump yang baru saja dilantik. Mulai dari kebijakan imigrasi, perang tarif, kebijakan pajak, dan beberapa kebijakan ekstrim lainnya dinilai dapat menganggu kondisi ekonomi.

    Jerome Powell mengatakan pejabat Fed masih akan menunggu untuk melihat kebijakan apa yang diberlakukan Trump sebelum menilai dampaknya terhadap inflasi, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Kemungkinan The Fed tidak akan buru-buru memangkas suku bunga lebih lanjut sampai data menunjukkan penurunan inflasi yang baru.

    Setelah The Fed menurunkan suku bunga tiga kali pada tahun 2024 lalu, inflasi sebagian besar bergerak menyamping dalam beberapa bulan terakhir, tetapi tetap tinggi.

    “Saya pikir sikap kebijakan kami sangat terkalibrasi dengan baik. Tingkat pengangguran secara umum stabil selama enam bulan. Beberapa pembacaan inflasi terakhir menunjukkan hasil yang lebih positif,” sebut Powell.

    Dalam komentar di platform media sosial Truth Social, Trump tidak secara langsung menyerukan pemotongan suku bunga, seperti yang dikatakan sebelumnya. Namun, Trump sempat mengaitkan inflasi yang melonjak pada tahun 2021 setelah pandemi COVID-19 dengan Fed yang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menaikkan suku bunga.

    Trump resmi jadi orang nomor satu di AS lagi sejak seminggu lalu. Kedatangannya di Gedung Putih untuk kedua kalinya membawa janji tarif impor, tindakan keras imigrasi, pemotongan pajak, dan regulasi yang lebih longgar.

    (hal/rir)

  • Pantau Kebijakan Trump, The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga pada FOMC Januari

    Pantau Kebijakan Trump, The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga pada FOMC Januari

    Bisnis.com, JAKARTA — Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed, diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada Federal Open Market Committee (FOMC) periode Januari 2025.

    Kebijakan tersebut akan memberi The Fed lebih banyak waktu untuk menurunkan inflasi dan menilai dampak kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap perekonomian.

    Pemotongan suku bunga akan dilakukan setelah tiga kali penurunan berturut-turut sejak September yang menurunkan suku bunga acuan Fed sebesar satu poin persentase penuh. Kisaran target mereka sekarang adalah 4,25% hingga 4,5%.

    Beberapa pembuat kebijakan mengatakan mereka memperkirakan penurunan suku bunga yang lebih sedikit tahun ini setelah data menunjukkan ekonomi AS berada pada posisi yang kokoh dan tingkat inflasi yang lebih tinggi dari yang diantisipasi. Data Desember untuk pengukur inflasi pilihan Fed, indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi, akan dirilis pada Jumat (31/1/2025) mendatang.

    Namun, setelah serangkaian data mengejutkan dan ketidakpastian mengenai bagaimana ekonomi AS akan merespons berbagai kebijakan baru Trump terkait perdagangan, perpajakan, imigrasi, dan regulasi, para pejabat cenderung tidak berkomitmen pada jalur suku bunga tertentu.

    “Mereka tidak melakukan pemotongan suku bunga. Tetapi mereka ingin mempertahankan sebanyak mungkin opsi untuk menyesuaikan suku bunga dana federal lebih lanjut sepanjang tahun,” kata Gregory Daco, kepala ekonom untuk EY dikutip dari Bloomberg pada Rabu (29/1/2025).

    Keputusan suku bunga The Fed akan dirilis pada pukul 2 siang waktu Washington pada Rabu waktu setempat atau Kamis (30/1/2025) waktu Indonesia. Ketua The Fed Jerome Powell akan mengadakan konferensi pers pasca-pertemuan 30 menit kemudian. 

    Penyesuaian di Masa Depan

    Pengamat The Fed tidak memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) melakukan banyak perubahan dalam pernyataan pasca-pertemuan mereka.

    Daco menuturkan, poin yang merujuk pada tingkat dan waktu penyesuaian tambahan saat ini telah memberikan fleksibilitas kepada para pembuat kebijakan untuk mengubah pendekatan mereka sesuai dengan perkembangan ekonomi.

    Powell hampir pasti akan ditanya oleh para wartawan soal bagaimana dia dan koleganya memasukkan kebijakan Trump dalam proyeksi ekonomi mereka. Namun pejabat The Fed baru akan merilis proyeksi ekonomi terbaru dalam pertemuan kebijakan bulan Maret.

    Risalah dari pertemuan bulan Desember menunjukkan sejumlah peserta memasukkan asumsi awal tentang rencana Trump dalam proyeksi mereka, dan hampir semua peserta melihat risiko kenaikan inflasi yang makin meningkat.

    Ketua The Fed Jerome PowellPerbesar

    Menurut Daco, investor juga ingin mendengar lebih banyak dari Powell mengenai “suku bunga netral,” yaitu tingkat suku bunga di mana The Fed tidak merangsang atau memperlambat ekonomi.

    Selama setahun terakhir, para pejabat telah menaikkan perkiraan mereka untuk tingkat netral ini. Jika banyak pembuat kebijakan percaya bahwa suku bunga saat ini sudah mendekati tingkat netral, ini menunjukkan bahwa kecepatan pemotongan akan lebih lambat dan jumlah total pemotongan mungkin lebih sedikit.

    Para wartawan kemungkinan juga akan menekan Powell untuk menjelaskan kondisi apa yang harus terjadi sebelum The Fed kembali menurunkan suku bunga, serta faktor-faktor yang dapat memaksa mereka mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Setelah laporan ketenagakerjaan Desember yang sangat kuat, para ekonom di Bank of America Corp. bahkan memperkirakan langkah The Fed berikutnya bisa jadi adalah kenaikan suku bunga.

    Namun, kekhawatiran tersebut mereda setelah indeks harga konsumen utama—yang tidak mencakup makanan dan energi—naik lebih rendah dari perkiraan pada Desember. Hal ini menandai penurunan pertama dalam enam bulan. Para pembuat kebijakan menyambut baik laporan tersebut, tetapi menegaskan bahwa masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai target inflasi 2%.

    Tekanan Politik

    Powell juga mungkin akan diminta untuk menanggapi kritik terbaru Trump terhadap bank sentral.

    “Saya rasa saya memahami suku bunga jauh lebih baik daripada mereka, dan saya yakin saya memahaminya lebih baik daripada orang yang terutama bertanggung jawab atas keputusan itu,” kata Trump pada 23 Januari, dalam pernyataan yang tampaknya ditujukan kepada Powell.

    Powell sebelumnya kerap mengabaikan atau menghindari komentar Trump tentang kebijakan moneter, tetapi pernyataan ini, yang datang di pekan pertama Trump kembali menjabat, menunjukkan bahwa ketua The Fed bisa menghadapi tekanan lebih besar dari pemerintahan baru.

    “The Fed kemungkinan harus menghadapi upaya Trump untuk mempengaruhi kebijakan moneter, baik melalui penunjukan pejabat maupun potensi cara lain untuk meningkatkan pengaruhnya terhadap institusi tersebut,” tulis Michael Feroli, kepala ekonom AS di JPMorgan Chase & Co., dalam sebuah catatan email pada Jumat.

    Dia memperkirakan pertemuan minggu ini akan menjadi awal yang membosankan untuk tahun yang penuh gejolak bagi The Fed.

  • Wall Street Bangkit, Nasdaq Melejit 2 Persen Didukung Nvidia

    Wall Street Bangkit, Nasdaq Melejit 2 Persen Didukung Nvidia

    Jakarta, Beritasatu.com – Bursa perdagangan utama Amerika Serikat (AS) Wall Street kembali menguat pada Selasa (28/1/2025), setelah mengalami aksi jual besar sehari sebelumnya akibat kemunculan startup kecerdasan buatan (AI) asal China, DeepSeek. Nasdaq bahkan mencatat lonjakan hingga 2% berkat kenaikan saham Nvidia.

    Melansir CNBC International, Rabu (29/1/2025), Nasdaq Composite naik 2,03% ke level 19.733,59 setelah sebelumnya turun 3,1%. Sementara itu, S&P 500 menguat 0,92% menjadi 6.067,70, dengan sektor teknologi mencatat kenaikan tertinggi.

    ETF teknologi, Technology Select Sector SPDR Fund, juga melonjak lebih dari 2% setelah sebelumnya anjlok 4,9% pada Senin (27/1/2025). Indeks Dow Jones Industrial Average turut mengalami kenaikan 136,77 poin (0,31%) ke posisi 44.850,35.

    Saat Wall Street menguat, Nvidia menjadi pusat perhatian karena Saham perusahaan ini melonjak hampir 9% setelah sempat melemah di awal sesi. Sehari sebelumnya, Nvidia kehilangan 17% nilai sahamnya, setara dengan hampir US$ 600 miliar kapitalisasi pasar dengan penurunan satu hari terbesar dalam sejarah perusahaan AS.

    Saham teknologi lainnya, seperti Broadcom dan Oracle, juga berhasil pulih dengan kenaikan masing-masing 2,6% dan 3,6%, setelah mengalami koreksi signifikan pada hari sebelumnya.

    Gejolak di sektor teknologi dipicu oleh DeepSeek, startup AI asal China yang menjadi viral di media sosial. Startup ini baru saja meluncurkan model bahasa besar (large language model) open-source dengan biaya pengembangan kurang dari US$ 6 juta, jauh lebih efisien dibandingkan investasi besar yang dikeluarkan perusahaan teknologi raksasa dalam riset AI.

    Bahkan, DeepSeek berhasil mengungguli OpenAI dengan menjadi aplikasi gratis yang paling banyak diunduh di App Store AS pada Senin (27/1/2025). Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap kelangsungan investasi besar di sektor AI, khususnya yang berkaitan dengan saham perusahaan chip seperti Nvidia.

    Meskipun Nvidia menunjukkan pemulihan, para analis menilai pasar masih diliputi ketidakpastian. “Saya belum yakin bahwa kita benar-benar keluar dari risiko. Pasar masih berusaha mencerna situasi ini,” ujar Senior Portfolio Manager di Globalt Investments Thomas Martin.

    Ia menambahkan, meskipun kebutuhan daya komputasi untuk pemrosesan data dan pusat data tetap tinggi, kepercayaan investor telah terguncang.

    Kini, perhatian pasar beralih ke laporan keuangan beberapa perusahaan teknologi besar yang dijuluki Magnificent Seven, termasuk Meta Platforms, Microsoft, Tesla, dan Apple, yang dijadwalkan merilis laporan kinerja mereka pekan ini.

    Selain itu, keputusan suku bunga terbaru dari The Fed yang akan diumumkan pada Rabu menjadi sorotan utama yang bisa memengaruhi Wall Street. Para analis memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga saat ini, tetapi investor akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga tahun ini.

  • Analis Perkirakan The Fed Pangkas Suku Bunga Acuan Hanya Satu Kali pada 2025, Kapan?

    Analis Perkirakan The Fed Pangkas Suku Bunga Acuan Hanya Satu Kali pada 2025, Kapan?

    Jakarta, Beritasatu.com – Vice President Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi Kasmarandana memperkirakan, Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) tidak akan agresif memangkas suku bunga acuan pada 2025.

    Merujuk data CME FedWatch, Audi memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga acuan hanya satu kali pada 2025 sebesar 20 basis poin. Perkiraan ini jauh lebih lambat dibandingkan prediksi pasar, yakni sebanyak dua kali pada 2025.

    “Jadi ini memang jauh dibandingkan pada kuartal II dan kuartal III dengan kemungkinan ada ekspektasi 75 basis poin,” ujar Audi dalam Investor Market Closing di BEI, Jakarta, Selasa (21/1/2025).

    Adapun pemangkasan suku bunga acuan The Fed diprediksi akan terjadi sekitar Juni atau Juli pada 2025. Namun, prediksi ini masih bersifat dinamis.

    “Jadi sebenarnya kalau kita lihat data dari CME FedWatch, pemangkasan ini sebenarnya terjadi antara periode pertemuan Juni sama dengan Juli,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Audi menjelaskan, pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell yang bersifat dovish karena adanya relaksasi kebijakan moneter membuat mereka belum melonggarkan pemangkasan suku bunga acuan.

    Kemudian, setelah adanya dorongan terkait dengan narasi yang mengakibatkan inflasi AS tidak tercapai dalam waktu yang pendek dan data tenaga kerja AS yang masih cukup kuat, menjadi landasan The Fed diprediksi akan memangkas suku bunga acuan hanya satu kali pada 2025.

    “Itulah yang menjadi landasan juga Jerome Powell ini masih belum melonggarkan atau memangkas hubungannya mungkin lebih dari itu, tetapi memang masih cukup dinamis,” ucap Audi.

    Diberitakan sebelumnya, dalam proyeksi terbaru, ke-19 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan hanya dua kali pemangkasan suku bunga pada 2025, turun dari perkiraan empat kali pemangkasan pada September lalu.

    Hal ini memengaruhi ekspektasi suku bunga yang lebih rendah untuk hipotek, pinjaman mobil, kartu kredit, dan pinjaman lainnya pada 2025.

    Ketua The Fed Jerome Powell menjelaskan, keputusan untuk memperlambat pemangkasan suku bunga acuan The Fed dipengaruhi oleh inflasi yang masih tinggi dan suku bunga acuan yang mendekati level netral, yaitu level ketika suku bunga tidak memacu atau menghambat ekonomi.