Tag: Jerome Powell

  • Arah Kebijakan The Fed: Tahan Suku Bunga Hampir Pasti, Komentar Powell Dinanti

    Arah Kebijakan The Fed: Tahan Suku Bunga Hampir Pasti, Komentar Powell Dinanti

    Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve atau The Fed diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan dalam pertemuan kebijakan moneter pada Rabu (19/3/2025).

    Langkah ini memberi waktu bagi bank sentral untuk menilai dampak kebijakan Presiden Donald Trump terhadap ekonomi AS yang masih dibayangi tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan.

    Pengenaan tarif baru oleh pemerintahan Trump, serta langkah balasan dari mitra dagang AS, telah melemahkan kepercayaan konsumen dan meningkatkan ekspektasi inflasi. Namun, dengan beberapa kebijakan tarif yang ditunda setelah diumumkan, arah kebijakan perdagangan AS masih belum jelas.

    Ketidakpastian ini kemungkinan akan membuat para pembuat kebijakan tetap berhati-hati dan menghindari komitmen terhadap satu arah kebijakan tertentu.

    Kepala Ekonom KPMG Diane Swonk mengatakan akan ada perbedaan pandangan yang cukup lebar mengenai potensi pemangkasan suku bunga, mengingat ketidakpastian yang ada.

    Keputusan suku bunga The Fed, beserta pembaruan proyeksi ekonomi kuartalan, dijadwalkan rilis pada pukul 14.00 waktu Washington pada Rabu. Ketua The Fed Jerome Powell akan mengadakan konferensi pers 30 menit setelahnya.

    “Lebih banyak pejabat The Fed dapat mengisyaratkan preferensi untuk mempertahankan suku bunga adalah hasil yang wajar mengingat ketidakpastian dari banyak kebijakan Trump, terutama seputar perdagangan,” kata Swonk seperti dikutip Bloomberg.

    The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam kisaran 4,25%-4,5%. Namun, para analis menilai bahwa pernyataan Powell bisa mengalami perubahan, terutama karena data terbaru menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi.

    Sejak proyeksi ekonomi terakhir pada Desember lalu, kondisi makroekonomi AS telah mengalami perubahan signifikan. Ancaman tarif perdagangan meningkat, sentimen konsumen melemah, dan pasar saham mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa pejabat The Fed mungkin mulai mengisyaratkan sikap lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

    Dalam proyeksi sebelumnya pada Desember 2024, median perkiraan The Fed menunjukkan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Sebagian besar ekonom masih memprediksi dua kali pemotongan, meskipun ada perdebatan apakah hanya akan ada satu kali penurunan.

    Guneet Dhingra dari BNP Paribas mengatakan skenario ekonomi yang tercermin dalam proyeksi The Fed mengarah pada stagflasi, atau kombinasi antara perlambatan ekonomi dan inflasi yang tetap tinggi.

    “The Fed kemungkinan masih lebih fokus menekan inflasi dibanding merespons perlambatan ekonomi, yang bisa mengejutkan pasar,” ungkap Dhingra.

    Investor Nantikan Powell

    Bagi pasar keuangan, pernyataan Powell dalam konferensi pers setelah rapat The Fed akan menjadi titik fokus utama. Investor menginginkan kepastian bahwa The Fed siap bertindak jika ekonomi memburuk lebih jauh.

    Powell kemungkinan akan menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini cukup fleksibel untuk menghadapi berbagai skenario ekonomi, tanpa terburu-buru menurunkan suku bunga. Ia juga berpotensi mendapat pertanyaan terkait apakah tarif impor hanya memberikan dampak sementara terhadap inflasi atau justru akan menjadi faktor jangka panjang.

    Selain itu, Powell mungkin akan menghadapi pertanyaan tentang kondisi pasar keuangan, terutama setelah indeks S&P 500 mengalami koreksi sebesar 10%.

    Para analis juga akan mencermati bagaimana The Fed menilai ekspektasi inflasi yang kini mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.

    Meskipun pasar semakin yakin dengan kemungkinan pemangkasan suku bunga, The Fed tampaknya masih menunggu bukti lebih jelas sebelum mengambil keputusan besar.

  • Pasar Tenaga Kerja AS Kuat, The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga

    Pasar Tenaga Kerja AS Kuat, The Fed Diprediksi Tahan Suku Bunga

    Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom KISI Asset Management Arfian Prasetya Aji memprediksi bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga acuan Fed’s Fund Rate (FFR) pada pertemuan FOMC Senin (19/3/2025) mendatang.

    Prediksi ini didasarkan pada masih kuatnya pasar tenaga kerja AS, sebagaimana tercermin dari laporan non-farm payroll yang mencatat tambahan 151.000 pekerjaan pada Februari 2025.

    “Angka ini meningkat dari 143.000 pada bulan sebelumnya. Non-farm payroll mencerminkan sekitar 80% tenaga kerja yang berkontribusi terhadap PDB AS,” ujar Arfian Prasetya Aji dalam keterangan tertulis kepada Beritasatu.com, Rabu (12/3/2025).

    Sementara itu, dalam hal inflasi, Arfian menambahkan bahwa inflasi pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditure (PCE) AS justru menunjukkan tren menurun.

    Baik inflasi umum maupun inflasi inti (core) masing-masing berada di level 2,5% dan 2,6%. Dengan demikian, kecil kemungkinan The Fed akan memangkas FFR dalam waktu dekat.

    “Namun, dalam beberapa bulan ke depan, peluang pemangkasan suku bunga The Fed tetap terbuka, tergantung pada perkembangan data ekonomi yang masuk,” jelasnya.

    Di sisi lain, dalam pidatonya di University of Chicago minggu lalu, Ketua The Fed Jerome Powell mengakui bahwa ketidakpastian ekonomi semakin meningkat.

    Meski begitu, ia menegaskan bahwa ekonomi AS masih berada dalam posisi yang relatif baik, dengan pasar tenaga kerja yang tetap kuat dan inflasi yang semakin mendekati target.

    Powell juga menekankan bahwa mandat utama The Fed tetap berfokus pada optimalisasi tenaga kerja dan stabilitas harga.

    Namun, dalam beberapa waktu terakhir, kekhawatiran pasar terhadap potensi resesi semakin meningkat.

    Suku bunga The Fed membuat pasar saham AS mengalami aksi jual tajam pada Selasa (10/3/2025), dengan Nasdaq Composite turun 4%, yang merupakan penurunan harian terbesar sejak September 2022. S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,7% dan 2,1%.
     

  • MAMI: Stabilitas kurs dan pelonggaran likuiditas kunci pemulihan pasar

    MAMI: Stabilitas kurs dan pelonggaran likuiditas kunci pemulihan pasar

    Jakarta (ANTARA) – Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menyampaikan stabilitas nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan pelonggaran likuiditas menjadi kunci pemulihan sentimen pasar saham Indonesia.

    Secara historis, pasar saham Indonesia cenderung mencatat kinerja positif saat kondisi nilai tukar rupiah stabil atau menguat, serta kondisi likuiditas melonggar.

    “Kami berharap ini dapat terjadi setelah ‘the dust settles’ ketika pengenaan tarif AS sudah lebih jelas, apalagi jika kemudian juga dibantu oleh membaiknya pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” ujar Dimas di Jakarta, Rabu.

    Sejak Januari 2025, Ia menjelaskan keresahan pasar terus meningkat di tengah banyaknya informasi terkait kebijakan tarif AS yang tidak lengkap dan berubah-ubah.

    Tercatat, indeks ketidakpastian kebijakan perdagangan pada Februari 2025 melesat ke level tertinggi kedua sejak kenaikan di era perang tarif tahun 2018.

    “Kami berharap setelah ada kejelasan dan informasi rinci terkait tarif, maka pasar dapat mengkaji ulang risiko dan peluang yang ada, sehingga volatilitas pasar bisa mereda,” ujar Dimas.

    Sementara itu, dari sisi moneter global, komentar terakhir ketua The Fed Jerome Powell mengindikasikan bahwa arah kebijakan moneter saat ini cenderung tidak tergesa-gesa untuk menurunkan suku bunga.

    Selain faktor ketidakpastian kebijakan tarif, pertimbangan lainnya yaitu inflasi yang meskipun sudah turun jauh, masih tetap belum mencapai target 2 persen, serta sektor tenaga kerja yang masih kuat.

    Di sisi lain, secara tidak langsung The Fed juga mengindikasikan potensi pemangkasan lebih agresif dapat terjadi apabila indikator ekonomi menunjukkan pelemahan.

    “Sejauh ini ekspektasi pasar atas pemangkasan FFR tahun ini masih cukup selaras dengan proyeksi The Fed sendiri, yaitu 50 basis poin,” ujar Dimas.

    Bagi Indonesia, menurutnya, risiko atas pengenaan tarif resiprokal cenderung terbatas karena tingkat tarif rata-rata antara Indonesia dan AS yang ada saat ini setara kisaran 4 persen, meskipun masih harus menunggu apakah tarif resiprokal yang akan diimplementasikan mengacu pada level rata-rata tarif antara kedua negara, atau per kategori barang.

    Sementara itu, untuk pengenaan 25 persen tarif untuk baja, tercatat ekspor baja ke AS tahun 2023 hanya senilai 199 juta dolar AS setara 0,07 persen dari total ekspor seluruh komoditas Indonesia yang senilai 264 miliar dolar AS, sehingga dampaknya cukup minim.

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Biqwanto Situmorang
    Copyright © ANTARA 2025

  • Profit Taking, Harga Emas Terkoreksi di Tengah Ketidakpastian Global

    Profit Taking, Harga Emas Terkoreksi di Tengah Ketidakpastian Global

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas mengalami koreksi pada perdagangan Senin (10/3/2025), akibat aksi ambil untung (profit taking). Penurunan ini terjadi di tengah minat terhadap aset safe haven yang disebut tetap tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik.

    Mengutip CNBC Internasional, Selasa (11/3/2025), harga emas spot tercatat melemah 0,2% ke level US$ 2.904,5 per ons setelah sebelumnya mencatat kenaikan 2% dalam sepekan terakhir. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS terkoreksi tipis 0,1% menjadi US$ 2.910,9 per ons.

    Selain aksi profit taking, harga emas turun juga karena para pelaku pasar saat ini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), yang diperkirakan akan memengaruhi pergerakan harga emas ke depan.

    “Penurunan harga emas ini lebih disebabkan oleh aksi ambil untung dan pelemahan di pasar saham. Namun, permintaan terhadap aset safe haven masih berpotensi meningkat kembali,” ujar analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff.

    Bursa saham AS mengalami tekanan di tengah kekhawatiran dampak kebijakan tarif terhadap perekonomian. Presiden AS Donald Trump menolak berkomentar mengenai kemungkinan resesi yang bisa timbul akibat ketidakpastian kebijakan tarif yang diterapkannya.

    Pekan lalu, Trump memberlakukan tarif baru sebesar 25% terhadap impor dari Meksiko dan Kanada, tetapi kemudian memberikan pengecualian sementara untuk beberapa produk dari kedua negara selama satu bulan.

    Menurut Wyckoff, ketidakpastian yang muncul dari perang dagang serta ancaman resesi global cenderung mendukung kenaikan harga emas.

    “Jika ketidakpastian ini terus berlanjut, harga emas bisa kembali mendekati rekor tertingginya. Data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan juga dapat memperkuat posisi emas,” jelasnya.

    Saat ini, pasar menantikan data inflasi AS, yaitu indeks harga konsumen (CPI) yang akan dirilis pada Rabu (12/3/2025) dan indeks harga produsen (PPI) pada Kamis (13/3/2025). Para pelaku pasar memperkirakan kemungkinan besar The Fed akan memangkas suku bunga pada Juni mendatang.

    Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan, dampak inflasi dari kebijakan tarif pemerintahan Trump masih perlu dianalisis lebih lanjut. Biasanya, suku bunga yang lebih rendah membuat emas lebih menarik bagi investor karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil.

    Saat harga emas turun, harga perak ikut turun 0,9% menjadi US$ 32,23 per ons. Sementara itu, harga platinum naik tipis 0,04% ke US$ 963,3 per ons, dan palladium melemah 0,4% menjadi US$ 945 per ons.

  • Harga Emas Melemah Tipis, tetapi Naik dalam Sepekan

    Harga Emas Melemah Tipis, tetapi Naik dalam Sepekan

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas mengalami sedikit penurunan pada perdagangan Jumat (8/3/2025), tetapi masih mencatatkan kenaikan mingguan. Peningkatan permintaan aset safe haven serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan menjadi faktor pendukung. Kondisi ini semakin memperkuat ekspektasi The Fed akan memangkas suku bunga tahun ini.

    Mengutip CNBC Internasional, Sabtu (8/3/2025), harga emas spot turun tipis 0,1% ke level US$ 2.906,04 per ons. Namun, sepanjang minggu ini, harga emas masih menguat sekitar 1,7%. Ketidakpastian kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang terus berubah turut mendorong kenaikan harga.

    Dolar AS juga mengalami tekanan, turun ke level terendah dalam empat bulan, mencatatkan pelemahan mingguan terbesar sejak November 2022. Melemahnya dolar membuat harga emas lebih menarik bagi investor global karena harganya menjadi lebih murah dalam mata uang tersebut.

    Senior Market Strategist RJO Futures Bob Haberkorn menyatakan, data ketenagakerjaan yang lebih rendah dari perkiraan dan pelemahan dolar memberikan dorongan tambahan bagi emas.

    Laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa ekonomi hanya menambah 151.000 lapangan kerja pada Februari, lebih rendah dari perkiraan 160.000 dalam survei Reuters. Tingkat pengangguran pun naik sedikit ke 4,1% dari perkiraan 4%.

    Wakil Presiden Zaner Metals Peter Grant menilai, pasar sedang berada dalam fase konsolidasi, dengan minat terhadap emas sebagai aset safe haven yang tetap kuat.

    Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan, bank sentral akan berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneter. Meskipun inflasi masih menjadi perhatian utama, kondisi ekonomi AS dinilai tetap stabil.

    Saat ini, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 76 basis poin hingga akhir tahun, dengan kemungkinan pemangkasan pertama pada Juni.

    Sementara itu, China terus meningkatkan cadangan emasnya selama empat bulan berturut-turut hingga Februari, menurut data dari Bank Sentral China.

    Saat harga emas turun tipis, diikuti harga logam lainnya bervariasi. Harga perak spot turun 0,8% ke US$ 32,35 per ons, platinum melemah 0,6% ke US$ 960,70, sementara palladium naik tipis 0,4% ke US$ 946,15 per ons.

  • Harga Emas Perkasa Pekan Ini, Investor Borong Aset Safe Haven – Page 3

    Harga Emas Perkasa Pekan Ini, Investor Borong Aset Safe Haven – Page 3

    Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan ekonomi menambah 151.000 pekerjaan pada Februari, dibandingkan dengan kenaikan 160.000 yang diharapkan oleh para ekonom yang disurvei salah satu kantor berita internasional, sedangkan tingkat pengangguran berada pada 4,1% dibandingkan dengan ekspektasi 4%.

    Wakil Presiden dan analis logam senior Zaner Metals Peter Grant menjelaskan, pelaku pasar saat ini berada dalam fase konsolidasi, dengan minat safe haven memberikan dukungan berkelanjutan.

    Ketua Fed Jerome Powell sebelumnya mengatakan Federal Reserve akan mengambil pendekatan hati-hati terhadap pelonggaran kebijakan moneter, menambahkan bahwa ekonomi saat ini “terus berada di tempat yang baik”.

    Meskipun menjadi lindung nilai inflasi, suku bunga yang lebih tinggi dapat meredam daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

    Pasar saat ini memperkirakan penurunan suku bunga Fed sebesar 76 bps pada akhir tahun, dimulai pada bulan Juni.

     

  • Harga Emas Anjlok Terseret Aksi Ambil Untung – Page 3

    Harga Emas Anjlok Terseret Aksi Ambil Untung – Page 3

    Sebelumnya, harga emas menguat pada perdagangan Kamis, 13 Februari 2025. Harga emas melesat di tengah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana mengenakan pajak atas impor AS yang meningkatkan kekhawatiran perdagangan global.

    Mengutip CNBC, Jumat (!4/2/2025), harga emas di pasar spot naik 0,4 persen menjadi SUD 2.915,76 per ounce, kembali dekati rekor tertinggi di USD 29.42,70. Rekor tertinggi itu dicapai pada Selasa, 11 Februari 2025. Harga emas berjangka AS ditutup menguat 0,6 persen ke posisi USD 2.945,40.

    Adapun Donald Trump mengumumkan peta jalan pada Kamis pekan ini untuk mengenakan tarif timbal balik pada setiap negara yang mengenakan bea atas impor AS.

    Di sisi lain, harga produsen AS pada Januari naik pesat memberikan bukti tentang meningkatnya inflasi. Hal ini memperkuat harapan pasar keuangan kalau the Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral AS akan menunda pemotongan suku bunga hingga semester kedua 2025.

    “Faktor utamanya adalah ketidakpastian politik dan konsekuensi ekonomi. Producer Price Index (PPI) cukup netral dan tidak terlalu berpengaruh pada emas, investor di seluruh dunia khawatir tentang apa yang akan dilakukan kebijakan Donald Trump terhadap ekonomi secara keseluruhan,” ujar Managing Partner CPM Gorup, Jeffrey Christian.

    Ketua The Fed, Jerome Powell pada sidang kongres kedua pekan ini kembali menegaskan kalau bank sentral tidak terburu-buru memangkas suku bunga.

    “Meski ada harapan aksi jual pasar karena data PPI baru-baru ini, testimoni Powell dan pembicaraan Trump tentang kemungkinan perdamaian Rusia-Ukraina, pasar tetap positif karena pelarian aset yang aman dan pedagang membeli saat turun bertentangan dengan sinyal bearish ini,” ujar Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn.

  • Harga Emas Tetap Bertahan Walau Suku Bunga The Fed Tinggi

    Harga Emas Tetap Bertahan Walau Suku Bunga The Fed Tinggi

     Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif timbal balik terhadap negara-negara yang mengenakan pajak atas impor AS.

    Adapun Trump telah menginstruksikan tim ekonominya untuk merancang skema tarif baru yang menyasar negara-negara seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa. 

    Langkah tersebut melanjutkan kebijakan tarif sebelumnya, termasuk 25% pada impor baja dan aluminium, serta 10% pada barang-barang asal Tiongkok dan 25% pada Kanada dan Meksiko, meskipun beberapa tarif masih ditangguhkan. 

    “Peningkatan ketegangan perdagangan berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset lindung nilai,” kata Research and Development ICDX Jonathan Octavianus dalam risetnya. 

    Data terbaru makroekonomi menunjukkan, Indeks Harga Produsen (PPI) AS naik 0,4 persen pada Januari 2025, melampaui ekspektasi 0,3 persen, mengindikasikan tekanan inflasi yang masih bertahan.

    Kenaikan inflasi ini kemudian memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan tetap menahan suku bunga di level yang tinggi, setidaknya hingga paruh kedua tahun ini.

    Pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell dalam sidang kongres juga kisan menegaskan bahwa kebijakan moneter akan tetap ketat, dengan suku bunga kemungkinan bertahan lebih lama untuk mengendalikan inflasi.

    Investor juga menantikan rilis data penjualan ritel dan penjualan ritel inti AS untuk Januari 2025 yang akan diumumkan malam ini. Konsensus pasar memperkirakan penurunan penjualan ritel ke -0,2 persen secara bulanan (MoM) dari sebelumnya 0,4 persen MoM, sedangkan penjualan ritel inti diperkirakan turun tipis ke 0,3% MoM dari sebelumnya 0,4 persen MoM.

    Penurunan ini dapat mencerminkan melemahnya konsumsi domestik, yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi AS. 

    Dari sisi teknikal, Jonathan memproyeksi harga emas dengan support terdekat berada di kisaran US$2.924 hingga US$2.921, dengan resistance terdekat di US$2.932 hingga US$2.937. Jika tekanan jual meningkat, ia meramal support lebih dalam berada di US$2.913, sementara resistance terjauh berada di US$2.945. Sedangkan Lukman menargetkan emas di US$3.350 pada semester I 2024.

  • Rupiah menguat dipengaruhi harapan pembicaraan kesepakatan Ukraina

    Rupiah menguat dipengaruhi harapan pembicaraan kesepakatan Ukraina

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah menguat dipengaruhi harapan pembicaraan kesepakatan Ukraina
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 13 Februari 2025 – 18:46 WIB

    Elshinta.com – Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi harapan pembicaraan untuk kesepakatan Ukraina.

    “Rupiah dan mata uang regional maupun dunia pada umumnya menguat terhadap dolar AS yang melemah oleh harapan pembicaraan untuk kesepakatan Ukraina,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

    Pada Rabu (12/2), Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat untuk menghentikan perang di Ukraina. Mereka berbicara tentang kekuatan negara masing-masing dan “manfaat besar” yang akan mereka dapatkan suatu hari nanti jika bekerja sama.

    Trump meminta Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, Penasihat Keamanan Nasional Michael Waltz dan utusan khususnya Steve Witkoff untuk memimpin negosiasi dengan Rusia dan Ukraina. Dia yakin proses negosiasi akan berhasil.

    Efek dari hasil pertemuan ini dinilai memberikan sentimen positif terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah.

    Dolar AS juga tertekan akibat testimoni Gubernur The Fed Jerome Powell di depan Senat AS yang less hawkish.

    “Walau Powell mengatakan tidak akan buru-buru memangkas suku bunga, namun juga mengakui telah ada kemajuan besar dalam inflasi,” ucap Lukman.

    Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa penguatan rupiah tidak signifikan oleh sentimen risk off di pasar ekuitas domestik.

    Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Kamis di Jakarta, menguat 15 poin atau 0,09 persen menjadi Rp16.361 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.376 per dolar AS.

    Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru melemah tipis ke level Rp16.365 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.364 per dolar AS.

    Sumber : Antara

  • IHSG ditutup menguat seiring pasar respon pernyataan Ketua The Fed

    IHSG ditutup menguat seiring pasar respon pernyataan Ketua The Fed

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    IHSG ditutup menguat seiring pasar respon pernyataan Ketua The Fed
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Rabu, 12 Februari 2025 – 17:34 WIB

    Elshinta.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup menguat seiring pelaku pasar merespon positif pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell.

    IHSG ditutup menguat 113,79 poin atau 1,74 persen ke posisi 6.645,78. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 14,22 poin atau 1,87 persen ke posisi 776,31.

    “IHSG dan bursa saham regional Asia menguat, pasar mencerna pernyataan Ketua Fed Jerome Powell yang menekankan fokus bank sentral pada pengendalian inflasi, dan mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan tidak terburu-buru untuk menekan suku bunga. Pernyataannya itu di hadapan Komite Perbankan Senat Amerika Serikat (AS),” sebut Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

    Selanjutnya, Jerome Powell menyebut perekonomian secara keseluruhan kuat dengan pasar tenaga kerja yang solid dan inflasi yang mereda tetapi masih di atas target The Fed sebesar 2 persen.

    Pelaku pasar berargumen bahwa pernyataan Jerome Powell bertindak terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan dapat menggagalkan kemajuan inflasi, sementara bergerak terlalu lambat dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

    Namun demikian, pelaku pasar juga terus mengevaluasi dampak dari kenaikan tarif terbaru Presiden Donald Trump.

    Fokus selanjutnya yaitu pelaku pasar merespon Trump yang mengungkapkan dalam sebuah wawancara bahwa telah berbicara dengan Presiden China Xi Jinping sejak menjabat, menyoroti hubungan pribadi mereka yang sangat baik, meskipun tidak membagikan hasilnya secara spesifik.

    Percakapan antara kedua pemimpin ini dipandang penting untuk kemungkinan pelonggaran atau penundaan tarif perdagangan yang sedang berlangsung.

    Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebelas atau semua sektor menguat yaitu dipimpin sektor infrastruktur yang naik sebesar 2,68 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor teknologi yang masing-masing naik sebesar 1,92 persen dan 1,80 persen.

    Sementara itu, sepuluh sektor menurun yaitu sektor infrastruktur turun paling dalam minus sebesar 4,04 persen, diikuti oleh sektor energi dan sektor transportasi & logistik yang masing-masing turun sebesar 2,94 persen dan 2,41 persen.

    Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BRRC, BUVA, CGAS, PTSP dan BEBS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni SKLT, MTFN, TAXI, ARGO, dan SKBM.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.086.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,25 miliar lembar saham senilai Rp10,92 triliun. Sebanyak 382 saham naik 227 saham menurun, dan 346 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 162,53 poin atau 0,42 persen ke 38.963,70, indeks Shanghai menguat 28,33 poin atau 0,85 persen ke 3.346,39, indeks Kuala Lumpur menguat 13,10 persen atau 0,82 poin ke posisi 1,603,05, indeks Straits Times melemah 13,86 poin atau 0,36 persen ke 3.874,62.

    Sumber : Antara