Tag: Jerome Powell

  • Rupiah menguat dipengaruhi respon pemerintah cegah stagnasi ekonomi

    Rupiah menguat dipengaruhi respon pemerintah cegah stagnasi ekonomi

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah menguat dipengaruhi respon pemerintah cegah stagnasi ekonomi
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 20 Maret 2025 – 19:05 WIB

    Elshinta.com – Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi respon serius pemerintah mencegah stagnasi ekonomi.

    “Pemerintah serius merespon gejolak di pasar keuangan melalui langkah-langkah yang akan diambil guna mencegah stagnasi ekonomi dan dukungan BI (Bank Indonesia) memberi ruang penurunan suku bunga,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

    Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini di Jakarta menguat sebesar 46 poin atau 0,28 persen menjadi Rp16.485 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.531 per dolar AS.

    Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga menguat ke level Rp16.491 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.528 per dolar AS.

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan kebijakan pelaksanaan pembelian kembali saham (buyback) tanpa melalui rapat umum pemegang saham (RUPS), yang dikeluarkan oleh perusahaan terbuka, di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan.

    Kebijakan ini dikeluarkan dengan pertimbangan bahwa perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 19 September 2024, mengalami tekanan yang terindikasi dari penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) per 18 Maret 2025 sebesar 1.682 poin atau minus 21,28 persen dari highest to date.

    Kebijakan buyback saham tanpa RUPS ini sudah disampaikan kepada direksi perusahaan terbuka melalui surat resmi OJK tertanggal 18 Maret 2025.

    Sesuai Pasal 7 Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023, dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan, perusahaan terbuka dapat melakukan pembelian kembali saham (buyback) tanpa memperoleh persetujuan RUPS.

    Pelaksanaan pembelian kembali saham karena kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan juga wajib memenuhi ketentuan POJK Nomor 29 Tahun 2023 tentang Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka.

    Sementara itu, penetapan kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan berlaku sampai dengan enam bulan setelah tanggal surat yang dikeluarkan oleh OJK.

    Menurut Rully, sentimen terhadap respon pemerintah ditangkap secara positif dari para pelaku pasar. Hal ini tergambar dari membaiknya pasar saham dan kenaikan harga obligasi negara.

    Penurunan yield obligasi negara di kisaran 1-2 basis points (bps) untuk tenor 2,5 & 10 tahun. Selain itu, IHSG BEI dibuka menguat 63,85 poin atau 1,01 persen ke posisi 6.375,51.

    Di samping itu, penguatan kurs rupiah juga dipengaruhi pernyataan dovish dari Federal Reserve (The Fed).

    Gubernur The Fed Jerome Powell memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS diturunkan dari 2,1 persen menjadi 1,7 persen.

    Adapun penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) diperkirakan dari posisi saat ini 4,25-4,50 basis points (bps) saat ini menjadi 3,75-4,00 bps.

    Berdasarkan informasi Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), The Fed sudah diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan FFR di kisaran 4,25 – 4,50 persen.

    Namun, proyeksi ekonomi terbaru dari para pejabat The Fed menjadi sorotan utama mengingat risiko resesi meningkat akibat kebijakan perdagangan yang agresif.

    Saat ini, sentimen pasar menunjukkan kekhawatiran bahwa tarif impor AS dapat memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Pasar juga mencermati pernyataan The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga di semester kedua tahun ini.

    Sumber : Antara

  • Prediksi Pergerakan dan Dampak Wall Street yang Tertekan

    Prediksi Pergerakan dan Dampak Wall Street yang Tertekan

    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Jumat, 21 Maret 2025 dengan catatan positif. 
     
    IHSG dibuka naik 7,02 poin atau 0,11 persen ke level 6.388,69. Namun, apakah penguatan ini bisa bertahan sepanjang hari?
     
    Sementara itu, indeks LQ45 justru mengalami penurunan sebesar 8,25 poin atau 1,16 persen ke posisi 701,95. Artinya, saham-saham unggulan masih berjuang menghadapi tekanan pasar.

    Menurut Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman,  IHSG hari ini berpotensi menguji level resistance di 6.480. Jika gagal menembus level tersebut, maka koreksi masih mungkin terjadi.
     
    Support IHSG: 6.260 – 6.300
    Resistance IHSG: 6.480 – 6.500
     

    Wall Street melemah, ekonomi AS makin tidak pasti
    Sentimen global juga berperan dalam pergerakan IHSG hari ini. Pada perdagangan Kamis, 20 Maret 2025 bursa saham Amerika Serikat (Wall Street) mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi yang semakin membebani investor.
     
    S&P 500 turun 0,22 persen ke level 5.662,89, Nasdaq Composite melemah 0,33 persen ke 17.691,63 akibat turunnya saham Apple dan Alphabet, Dow Jones Industrial Average turun tipis 0,03 persen ke 41.953,32.
     
    Salah satu sentimen negatif datang dari Accenture, yang sahamnya anjlok lebih dari 7 persen setelah kehilangan kontrak federal dengan pemerintah AS akibat kebijakan penghematan di bawah pemerintahan Trump.
     
    Selain itu, Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan kekhawatirannya terhadap tarif impor yang dapat menekan daya beli konsumen. 
     
    The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi dan menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi, yang semakin membuat investor ragu terhadap prospek pasar ke depan.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Harga Emas Terkoreksi setelah Mencapai Rekor Tertinggi

    Harga Emas Terkoreksi setelah Mencapai Rekor Tertinggi

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (20/3/2025), setelah sempat mencapai level tertinggi sepanjang sejarah di awal sesi perdagangan. Namun, prospek harga emas masih tetap moncer karena didukung kemungkinan penurunan suku bunga oleh The Fed serta ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terus berlanjut.

    Melansir CNBC International, Jumat (21/3/2025), harga emas spot turun 0,3% ke level US$ 3.038,79 per ons akibat aksi ambil untung setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi di angka US$ 3.057,21 per ons. Di sisi lain, kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) justru mengalami kenaikan 0,1% menjadi US$ 3.043,8 per ons.

    “Investor mencoba memanfaatkan momentum pasar dengan mengambil sebagian keuntungan. Ketika harga emas menyentuh rekor tertinggi, biasanya ada sedikit hambatan teknis yang menyebabkan koreksi harga,” ujar Chief Operating Officer Allegiance Gold Alex Ebkarian.

    Menurut Ebkarian, emas masih belum sepenuhnya dianggap sebagai aset safe haven oleh investor ritel karena ekonomi AS belum secara teknis memasuki fase resesi. Namun, perlambatan ekonomi yang sedang berlangsung dapat menambah ketidakpastian dan berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset pelindung nilai.

    Ketua The Fed Jerome Powell dalam pernyataannya pada Rabu (20/3/2025) menyebutkan, kebijakan awal Donald Trump, termasuk tarif impor yang tinggi, turut berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatnya inflasi.

    Trump mengkritik keputusan The Fed yang mempertahankan suku bunga, meskipun ada proyeksi pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali sebesar 0,25% hingga akhir tahun sebagai respons terhadap perlambatan ekonomi dan inflasi yang masih tinggi.

    Saat ini, pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 69 basis poin sepanjang tahun ini, dengan pemangkasan pertama diperkirakan terjadi pada bulan Juli, menurut data dari LSEG.

    Sementra, analis Citi memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 3.500 per ons pada akhir tahun, didorong oleh peningkatan permintaan sebagai lindung nilai terhadap kekhawatiran stagflasi atau kemungkinan hard landing ekonomi AS.

    Selain itu, ketegangan geopolitik turut memengaruhi pergerakan harga emas. Serangan udara Israel ke Gaza menyebabkan setidaknya 91 warga Palestina meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka, setelah Israel kembali melancarkan serangan usai gencatan senjata dua bulan berakhir, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza.

    Sebagai aset yang sering digunakan untuk melindungi nilai terhadap ketidakpastian, harga emas cenderung menunjukkan performa yang baik di tengah kondisi suku bunga rendah.

    Sementara itu, harga perak spot turun 1,2% menjadi US$ 33,41 per ons, platinum melemah 1,1% ke US$ 982,00 per ons, dan palladium mengalami penurunan 1,3% ke US$ 946,50 per ons. Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pasar, harga emas diperkirakan akan tetap menjadi perhatian utama para investor di tahun ini.

  • Harga Emas Antam Cetak Rekor Termahal Lagi Hari Ini, Simak Rinciannya! – Page 3

    Harga Emas Antam Cetak Rekor Termahal Lagi Hari Ini, Simak Rinciannya! – Page 3

    Harga emas turun pada perdagangan Kamis, 20 Maret 2025 setelah mencapai rekor tertinggi pada awal sesi perdagangan. Namun, harga emas tetap mempertahankan prospek bullish yang didorong potensi penurunan suku bunga yang diisyaratkan oleh the Federal Reserve (the Fed).

    Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang berlanjut membayangi harga emas. Mengutip CNBC, Jumat (21/3/2025), harga emas di pasar spot turun 0,3 persen menjadi USD 3.038,78 per ounce pada pukul 15.38 GMT. Koreksi harga emas terjadi didorong aksi ambil untung setelah mencapai rekor tertinggi di posisi USD 3.057,21.

    Harga emas di pasar berjangka ditutup naik 0,1 persen ke posisi USD 3.043,80 per ounce.

    “Spekulan mencoba mengambil untung dari pasar dan mengambil sebagian keuntungan dari pasar. Saya pikir setiap kali harga emas mencapai titik tertinggi, kita melihat sedikit perlawanan,” ujar Chief Operating Officer Allegiance Gold, Alex Ebkarian.

    Ia menuturkan, emas bahkan belum bertindak sebagai aset safe haven bagi investor ritel seiring secara teknikal tidak sedang dalam resesi.

    “Kita melihat perlambatan ekonomi dan itu dapat menciptakan ketidakpastian lebih lanjut dan keinginan lebih besar untuk aset safe haven,” kata dia.

    Sementara itu, ketua The Federal Reserve Jerome Powell menuturkan, kebijakan awal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump termasuk tarif impor yang luas, mungkin telah memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatkan inflasi.

    Sementara itu, Donald Trump kritik keputusan the Fed untuk menahan suku bunga, meski ada proyeksi untuk dua pemangkasan suku bunga pada akhir 2025. Hal ini karena melemahnya pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang lebih tinggi.

    Pelaku pasar prediksi pelonggaran suku bunga the Fed, ada dua pemangkasan suku bunga masing-masing 25 bps dengan pemangkasan suku bunga pada Juli sudah diperhitungkan sepenuhnya, demikian ditunjukkan data LSEG.

    “Dalam kasus bull, kami melihat harga emas mencapai USD 3.500 per ounce pada akhir tahun, didukung permintaan lindung nilai/investasi yang jauh lebih tinggi karena kekhawatiran akan stagflasi AS,” ujar Analis Citi.

  • Bank Sentral China Tahan Suku Bunga Ikuti The Fed – Page 3

    Bank Sentral China Tahan Suku Bunga Ikuti The Fed – Page 3

    Sebelumnya, The Federal Reserve (the Fed) atau bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga acuan. Selain itu, the Fed juga masih mengindikasikan pengurangan suku bunga pada akhir 2025.

    Mengutip CNBC, Kamis (20/3/2025), menghadapi kekhawatiran yang mendesak atas dampak tarif terhadap ekonomi yang melambat, the Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan pertahankan suku bunga di kisaran 4,25 persen-4,5 persen yang telah dipatok sejak Desember. Pasar telah memprediksi hampir tidak ada peluang perubahan pada pertemuan the Fed dua hari ini.

    Meski dampak tarif dagang oleh Presiden AS Donald Trump tidak pasti serta kebijakan fiskal yang ambisius berupa keringanan pajak dan deregulasi, pejabat mengatakan masih melihat penurunan suku bunga acuan 50 basis poin lagi hingga 2025. The Fed lebih suku bergerak dalam peningkatan 0,25 persen sehingga berarti ada dua pengurangan suku bunga pada 2025.

    Langkah the Fed pertahankan suku bunga acuan disambut positif investor. Indeks Dow Jones melesat lebih dari 400 poin menyusul keputusan itu. Namun, dalam konferensi pers, ketua the Fed Jerome Powell menuturkan, bank sentral akan merasa nyaman mempertahankan suku bunga acuan tinggi jika kondisinya memerlukannya.

    “Jika ekonomi tetap kuat, dan inflasi tidak terus bergerak berkelanjutan menuju 2 persen, kita dapat mempertahankan pengekangan kebijakan lebih lama,” ujar dia.

    “Jika pasar tenaga kerja melemah secara tak terduga atau inflasi turun lebih cepat dari yang diantisipasi, kita dapat melonggarkan kebijakan yang sesuai,” ia menambahkan.

  • IHSG Hari Ini Menguat! Apakah Tren Positif Ini Akan Bertahan?

    IHSG Hari Ini Menguat! Apakah Tren Positif Ini Akan Bertahan?

    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan taringnya dengan dibuka menguat pada perdagangan Kamis pagi. 
     
    Kenaikan ini terjadi seiring respons positif investor terhadap kebijakan suku bunga yang dipertahankan oleh Bank Indonesia (BI) dan The Fed. Namun, apakah tren ini akan berlanjut? Simak analisis lengkapnya!
    IHSG menguat
    Melansir Antara, Kamis, 20 Maret 2025. Pada sesi pembukaan, IHSG langsung melesat 63,85 poin atau 1,01 persen ke level 6.375,51. Sementara itu, Indeks LQ45 juga mengalami kenaikan sebesar 0,89 persen ke posisi 718,02.
     
    CFP Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG masih berpotensi bergerak sideways dengan kecenderungan koreksi, tergantung pada perkembangan sentimen pasar. 

    Beberapa faktor utama yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG hari ini meliputi kebijakan bank sentral, kondisi makroekonomi, serta dinamika bursa global.
     

    Dampak kebijakan The Fed
    The Fed kembali menahan suku bunga acuannya di level 4,25 hingga 4,5 persen, sesuai dengan ekspektasi pasar. Jerome Powell, Ketua The Fed, menyatakan bahwa ekonomi AS tetap solid dengan inflasi yang semakin mendekati target 2 persen.
     
    Keputusan ini memberikan sinyal positif bagi pasar global, termasuk Indonesia. Dengan suku bunga yang tetap, tekanan terhadap arus modal asing di pasar saham Indonesia bisa lebih terjaga.
    Keputusan Bank Indonesia tetap menahan BI-Rate 
    Dari dalam negeri, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
     
    Langkah BI yang mempertahankan suku bunga bisa menjadi katalis positif bagi IHSG. Namun, investor tetap harus mencermati potensi dampak dari kondisi global, seperti kebijakan moneter AS dan pergerakan harga komoditas.
     

    Bursa global menguat jadi sentimen positif untuk IHSG
    Perdagangan di bursa saham AS menunjukkan tren positif, dengan Wall Street ditutup menguat pada Rabu malam:
     
    Dow Jones naik 0,92 persen ke 41.964,63.
    S&P 500 melonjak 1,08 persen ke 5.675,29.
    Nasdaq Composite bertambah 1,41 persen ke 17.750,79.
     
    Sentimen positif dari Wall Street ini diharapkan dapat mendorong IHSG untuk tetap bertahan di zona hijau. Namun, investor tetap harus waspada terhadap potensi volatilitas di pasar global.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Dolar AS Pagi Ini Berapa? Cek di Sini – Page 3

    Dolar AS Pagi Ini Berapa? Cek di Sini – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS setelah pernyataan dovish dari Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa pelemahan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendorong penguatan rupiah.

    “Rupiah memiliki peluang menguat setelah Ketua The Fed memberikan sinyal dovish dengan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS serta mengisyaratkan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini,” ujar Lukman dikutip dari ANTARA, Kamis (20/3/2025).

    Jerome Powell memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat turun dari 2,1 persen menjadi 1,7 persen. Selain itu, suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) diperkirakan akan turun dari level saat ini 4,25-4,50 basis poin menjadi 3,75-4,00 basis poin.

    Berdasarkan data dari Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), pasar sebelumnya memang telah memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di kisaran tersebut.

    Namun, proyeksi terbaru mengenai ekonomi AS menjadi perhatian utama pasar global, terutama karena kekhawatiran akan potensi resesi akibat kebijakan perdagangan yang agresif.

    Sentimen Pasar Dipengaruhi Risiko Resesi dan Inflasi

    Saat ini, sentimen pasar juga tertekan oleh kekhawatiran meningkatnya tarif impor AS yang berpotensi memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.

    Kondisi ini mendorong peningkatan permintaan terhadap aset safe haven seperti emas, serta membuat investor mencermati potensi penurunan suku bunga oleh The Fed di paruh kedua 2025.

    Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa penguatan rupiah kemungkinan akan terbatas karena sentimen domestik masih belum stabil. Salah satu faktor yang mempengaruhi ialah kondisi pasar saham dalam negeri.

    Pada Selasa (18/3), Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 5 persen. Penurunan IHSG dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi perekonomian, defisit anggaran, penurunan peringkat saham, hingga isu pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani.

     

  • Harga Emas Dunia Sudah 16 Kali Catat Rekor Tertinggi

    Harga Emas Dunia Sudah 16 Kali Catat Rekor Tertinggi

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 3.055,96 per troy ons pada awal perdagangan Kamis (20/3/2025).

    Sepanjang 2025, harga emas telah mencatatkan 16 rekor tertinggi, dengan empat di antaranya melampaui level psikologis US$ 3.000 per troy ons.

    Dilansir dari Reuters, rekor ini tercipta setelah Federal Reserve (The Fed) mengindikasikan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Sinyal ini meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven di tengah ketidakstabilan ekonomi dan geopolitik global.

    Menurut Dick Poon, manajer umum Heraeus Metals Hong Kong Ltd, kenaikan harga emas dunia didorong oleh kombinasi ketidakpastian pasar, ketegangan geopolitik yang meningkat, pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), serta ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

    Sebelumnya pada Rabu (19/3/2025), The Fed telah mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 4,25%-4,50%.

    Di sisi lain, kebijakan perdagangan pemerintahan Donald Trump, termasuk tarif impor yang luas, dinilai telah memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan meningkatkan inflasi dalam jangka pendek. Ketua The Fed Jerome Powell menyebutkan tarif yang diberlakukan Trump telah memicu ketegangan perdagangan dan menghambat laju pertumbuhan ekonomi.

    Sementara itu, ketegangan di Gaza semakin memanas setelah militer Israel melanjutkan operasi darat di wilayah tengah dan selatan dengan serangan udara yang menewaskan sedikitnya 48 warga Palestina. Berbagai faktor tersebut telah mempengaruhi pergerakan harga emas dunia.

    Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas tetap menjadi pilihan utama bagi investor sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global, terutama dalam kondisi suku bunga yang lebih rendah.

    Nicholas Frappell, kepala pasar institusional global di ABC Refinery memperkirakan, meskipun emas telah menunjukkan performa luar biasa sepanjang kuartal pertama, potensi koreksi tetap ada. Namun, sejauh ini koreksi harga masih tergolong kecil dan permintaan tetap tinggi.

    Pada saat harga emas dunia yang terus naik, harga emas batangan Antam pada hari ini juga mencapai rekor tertinggi sebesar Rp 1,774 juta per gram dari sebelumnya Rp 1,759 juta per gram.

  • Rupiah menguat dipengaruhi pernyataan dovish dari The Fed

    Rupiah menguat dipengaruhi pernyataan dovish dari The Fed

    Jakarta (ANTARA) – Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi pernyataan dovish dari Federal Reserve (The Fed).

    “Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah setelah Kepala The Fed (Jerome Powell) memberikan pernyataan dovish dengan menurunkan asumsi pertumbuhan ekonomi AS (Amerika Serikat) dan mengisyaratkan akan ada lagi dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

    Powell disebut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi AS diturunkan dari 2,1 persen menjadi 1,7 persen.

    Adapun penurunan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) diperkirakan dari posisi saat ini 4,25-4,50 basis points (bps) saat ini menjadi 3,75-4,00 bps.

    Berdasarkan informasi Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), The Fed sudah diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuan FFR di kisaran 4,25-4,50 persen.

    Namun, proyeksi ekonomi terbaru dari para pejabat The Fed menjadi sorotan utama mengingat risiko resesi meningkat akibat kebijakan perdagangan yang agresif.

    Saat ini, sentimen pasar menunjukkan kekhawatiran bahwa tarif impor AS dapat memperburuk inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi yang berpotensi mendorong permintaan terhadap aset safe haven seperti emas. Pasar juga mencermati pernyataan The Fed terkait potensi pemangkasan suku bunga di semester kedua tahun ini.

    “Namun, penguatan mungkin terbatas mengingat sentimen domestik yang belum pulih,” ungkap Lukman.

    Pada Selasa, BEI melakukan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) sistem perdagangan pada pukul 11.19.31 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS). Pembekuan perdagangan dipicu oleh penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 5 persen.

    Beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tersebut ialah kekhawatiran investor terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, penurunan peringkat saham, hingga isu pengunduran Menteri Keuangan Sri Mulyani.

    Berdasarkan berbagai faktor tersebut, rupiah pada hari ini diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.400-Rp16.550 per dolar AS.

    Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Kamis pagi di Jakarta melemah sebesar 38 poin atau 0,23 persen menjadi Rp16.493 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.531 per dolar AS.

    Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
    Editor: Kelik Dewanto
    Copyright © ANTARA 2025

  • IHSG menguat seiring pasar respons positif keputusan BI dan The Fed

    IHSG menguat seiring pasar respons positif keputusan BI dan The Fed

    IHSG hari ini berpotensi sideways cenderung koreksi

    Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis pagi bergerak menguat seiring pelaku pasar merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) dan The Fed yang menahan tingkat suku bunga acuannya.

    IHSG dibuka menguat 63,85 poin atau 1,01 persen ke posisi 6.375,51. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 6,35 poin atau 0,89 persen ke posisi 718,02.

    “IHSG hari ini berpotensi sideways cenderung koreksi,” ujar CFP Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman di Jakarta, Kamis.

    Dari mancanegara, bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed mengumumkan tetap mempertahankan suku bunga acuannya dan masih memproyeksikan dua kali pemangkasan suku bunga pada 2025.

    The Fed tetap mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25 sampai 4,5 persen, sesuai ekspektasi pasar.

    Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers usai pengumuman kebijakan mengatakan bahwa ekonomi AS tetap berada dalam kondisi kuat.

    “Secara keseluruhan, ekonomi telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam dua tahun terakhir. Kondisi pasar tenaga kerja tetap solid, dan inflasi semakin mendekati target jangka panjang 2 persen, meskipun masih sedikit tinggi,” kata Powell.

    Dari dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Bulan Maret 2025 pada Selasa (18/3) dan Rabu (19/3), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 5,75 persen.

    Dari Jepang, Bank Sentral Jepang, Bank of Japan (BOJ), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 0,5 persen, mereka juga mencermati lebih lanjut dampak prospek kenaikan tarif AS terhadap perekonomian Jepang yang sangat bergantung pada ekspor.

    Sementara itu, bursa saham AS Wall Street menguat pada perdagangan Rabu (19/03), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 383,32 poin atau 0,92 persen ke 41.964,63, indeks S&P 500 melonjak 60,63 poin atau 1,08 persen ke 5.675,29, dan Nasdaq Composite bertambah 246,67 poin atau 1,41 persen menjadi 17.750,79.

    Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain, indeks Nikkei melemah 93,54 poin atau 0,00 persen ke level 37.751,61, indeks Shanghai menguat 9,85 poin atau 0,29 persen ke posisi 3.416,52, indeks Kuala Lumpur menguat 0,01 poin atau 0,00 persen ke posisi 1.517,81, dan indeks Straits Times menguat 23,36 poin atau 0,60 persen ke 3.931,85.

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Agus Salim
    Copyright © ANTARA 2025