Tag: Jerome Powell

  • Harga Emas Anjlok 2 Persen di Tengah Guncangan Pasar Global

    Harga Emas Anjlok 2 Persen di Tengah Guncangan Pasar Global

    Jakarta, Beritasatu.com – Harga emas anjlok lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (4/4/2025), seiring dengan aksi jual besar-besaran oleh para investor yang melepas aset safe haven guna menutupi kerugian dari pelemahan pasar saham global.

    Mengutip CNBC International, Sabtu (5/4/2025), harga emas spot anjlok 2,9% ke posisi US$ 3.024,2 per ons. Di sesi perdagangan, harga emas sempat jatuh ke titik terendah di US$ 3.015,29. Penurunan ini menghapus seluruh kenaikan yang diperoleh di awal pekan.

    Padahal, sehari sebelumnya emas sempat menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa di angka US$ 3.167,57 per ons. Namun, sepanjang minggu ini, logam mulia tersebut tercatat turun sebesar 1,9%.

    Di sisi lain, kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga melemah 2,8%, ditutup di level US$ 3.035,4 per ons.

    Secara teknikal, harga emas spot masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 21 harinya di kisaran US$ 3.023.

    “Ketika pasar mengalami guncangan, emas sering kali dijual untuk memenuhi kewajiban margin di aset lain. Ini bukan hal baru, karena sudah sesuai dengan pola historis,” ungkap analis Standard Chartered Suki Cooper ketika harga emas anjlok.

    Penurunan harga emas ini terjadi seiring tekanan di pasar saham global yang terus berlanjut selama dua hari berturut-turut. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite sama-sama terkoreksi sekitar 5%, menyusul pengumuman China tentang tarif tambahan sebesar 34% terhadap seluruh produk asal Amerika Serikat mulai 10 April.

    Kebijakan ini merupakan balasan atas langkah tarif yang sebelumnya diberlakukan Presiden AS Donald Trump.

    Namun, harga emas masih membukukan kenaikan sekitar 15,3% sepanjang tahun 2025, didukung oleh aksi beli dari bank sentral global serta fungsinya sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

    “Walau harga tengah berfluktuasi, emas tetap dipandang sebagai aset perlindungan utama bagi para investor,” ujar analis senior City Index Matt Simpson.

    Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyebut bahwa kebijakan tarif baru yang diterapkan Pemerintah AS lebih tinggi dari ekspektasi sebelumnya. Ia juga mengingatkan potensi dampak negatif terhadap perekonomian, seperti meningkatnya inflasi dan perlambatan pertumbuhan.

    Dolar AS tercatat menguat 0,7% terhadap sejumlah mata uang utama lainnya, menjadikan harga emas dalam dolar lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

    Saat harga emas anjlok, harga perak juga turun drastis 7,3% menjadi US$ 29,54 per ons, mencatat penurunan mingguan terburuk sejak September 2020. Komoditas logam mulia lainnya, seperti platinum melemah 3,6% ke US$ 918,35, sementara paladium turun 2% menjadi US$ 909,75.

  • Pertumbuhan Upah AS di Atas Proyeksi saat Tingkat Pengangguran Meningkat

    Pertumbuhan Upah AS di Atas Proyeksi saat Tingkat Pengangguran Meningkat

    Bisnis.com, JAKARTA – Realisasi pertumbuhan lapangan kerja di Amerika Serikat berada di atas perkiraan pada Maret 2025, dengan tingkat pengangguran meningkat.

    Dilansir Bloomberg pada Jumat (4/4/2025), realisasi tersebut menjadi tanda pasar tenaga kerja AS yang cukup sehat sebelum ekonomi global dilanda pengenaan tarif dari Presiden Donald Trump.

    Berdasarkan data Biro Statistik Tenaga Kerja AS, pengupahan non-farm naik 228.000 pada bulan lalu setelah revisi ke bawah pada dua bulan sebelumnya. Sementara, estimasi median kenaikan upah secara bulanan sebesar 140.000.

    Tingkat pengangguran meningkat hingga 4,2% seiring meningkatnya tingkat partisipasi, di atas sedikit dari estimasi median sebesar 4,1%. Adapun, kenaikan gaji tetap stabil sebesar 0,3% secara bulanan.

    Laporan tersebut dinilai menunjukkan pasar tenaga kerja AS yang tangguh sebelum ekonomi global menghadapi beban tarif yang diumumkan Presiden Trump. Kebijakan ini menganggu pasar keuangan global dan mengacaukan perkiraan ekspansi berkelanjutan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

    Banyak ekonom di Wall Street yang menyatakan AS berisiko mengalami resesi pada tahun ini, termasuk proyeksi pengangguran dan inflasi yang lebih tinggi.

    Ekspektasi tersebut menempatkan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) dalam posisi yang lebih menantang, karena para pembuat kebijakan mungkin harus meredam ekonomi, dengan suku bunga yang lebih rendah, atau menjinakkan inflasi dengan menjaga bunga kredit tetap tinggi. Gubernur The Fed Jerome Powell dijadwalkan berpidato pada hari ini.

    Adapun, kontrak berjangka dan imbal hasil treasury AS tetap rendah setelah China mengambil tindakan dengan mengenakan tarif balasan untuk barang-barang dari AS.

  • Bursa Eropa Lanjutkan Pelemahan usai Pengenaan Tarif Trump, Rekor Terburuk sejak 2022

    Bursa Eropa Lanjutkan Pelemahan usai Pengenaan Tarif Trump, Rekor Terburuk sejak 2022

    Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Eropa kembali ke zona merah dengan pelemahan terburuk dalam 3 tahun terakhir akibat bayang-bayang pemburukan pertumbuhan ekonomi imbas pengenaan tarif oleh Presiden AS Donald Trump.

    Dilansir Bloomberg pada Jumat (4/4/2025), indeks Euro Stoxx 50 yang berisi saham-saham blue chip merosot 2,6% pada perdagangan hari ini pukul 10.55 am waktu London. Sementara, Stoxx Europe 600 turun 2,5%, menuju pelemahan mingguan sebesar 5%.

    Saham emiten bank dan tambang menjadi beban utama pelemahan indeks. Indeks Perbankan Stoxx 600 melemah 7,5%, paling rendah sejak Maret 2022.

    “Tarif baru Trump terhadap Uni Eropa memicu kekhawatiran global,” kata Ulrich Urbahn, kepala strategi dan penelitian multi-aset di Berenberg, seraya menambahkan bahwa banyak strategi sistematis yang cukup lama memegang saham Eropa, sehingga meningkatkan peluang penjualan lebih lanjut.

    Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Kamis lalu bahwa dia terbuka untuk mengurangi tarifnya jika negara lain mampu menawarkan sesuatu yang dinilai fenomenal.

    Para investor pun akan mengalihkan fokus mereka ke laporan upah bulanan AS dan pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada hari ini sebagai tanda-tanda ketahanan ekonomi AS dan bahwa para pembuat kebijakan mampu memangkas suku bunga lebih lanjut jika diperlukan.

    Pertumbuhan lapangan kerja di AS kemungkinan melambat menjadi 140.000 bulan lalu, dari 151.000 pada Februari 2025, menurut para ekonom yang disurvei oleh Bloomberg.

    Di antara penggerak saham, Gerresheimer AG turun sebanyak 15% setelah Bloomberg News melaporkan KKR & Co. telah meninggalkan konsorsium ekuitas swasta yang membahas pengambilalihan produsen kemasan obat dan kosmetik Jerman tersebut.

  • Obligasi AS Anjlok, Wall Street Terperosok

    Obligasi AS Anjlok, Wall Street Terperosok

    PIKIRAN RAKYAT – Pasar keuangan global kembali bergejolak setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang lebih besar dan luas terhadap banyak negara.

    Keputusan ini langsung memicu kekhawatiran pasar akan pecahnya perang dagang skala global, yang berdampak pada penurunan signifikan harga obligasi AS serta melonjaknya permintaan aset aman.

    Obligasi AS Anjlok Akibat Kepanikan Pasar

    Imbal hasil obligasi pemerintah AS mengalami penurunan tajam. Obligasi 10 tahun turun sebesar 11 basis poin menjadi 4,085%, sementara obligasi 2 tahun mengalami penurunan 9,5 basis poin ke level 3,809%. Penurunan ini menunjukkan bahwa investor mulai beralih ke aset yang lebih aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.

    Sebagai informasi, satu basis poin setara dengan 0,01%, dan dalam dunia obligasi, harga dan imbal hasil bergerak dalam arah yang berlawanan. Penurunan imbal hasil obligasi menunjukkan bahwa investor lebih memilih untuk mengamankan asetnya daripada mengambil risiko lebih besar di pasar saham yang volatil.

    Trump: “Kami Akan Melawan Kecurangan Dagang”

    Donald Trump secara resmi menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan tarif dasar 10% untuk impor ke AS, serta tarif lebih tinggi untuk ratusan negara yang dianggap melakukan praktik perdagangan tidak adil.

    “Kami akan mengenakan biaya kepada mereka sekitar setengah dari apa yang mereka kenakan kepada kami,” ujarnya dalam konferensi pers di Rose Garden, Gedung Putih.

    Menurut Donald Trump, kebijakan ini bukan hanya tentang tarif, tetapi juga untuk menangkal hambatan perdagangan non-moneter serta berbagai bentuk kecurangan lainnya yang merugikan AS. Trump juga meyakini kebijakan ini akan memperkuat industri dalam negeri dan mendorong lapangan kerja di AS.

    Namun, para ekonom justru memperingatkan bahwa langkah ini dapat memperlambat perekonomian AS. Kepala investasi UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, mengatakan kebijakan ini dapat menekan pertumbuhan ekonomi AS hingga di bawah 1% pada 2025.

    Dia juga memperkirakan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan terpaksa memangkas suku bunga sebesar 75-100 basis poin sepanjang tahun untuk menstabilkan ekonomi.

    Wall Street Terguncang, Kapitalisasi Pasar Hilang Triliunan Dolar

    Pasar saham AS mengalami kejatuhan terbesar sejak krisis COVID-19 pada Maret 2020. Total kerugian di pasar saham AS pada Kamis waktu setempat diperkirakan mencapai lebih dari $3 triliun (sekitar Rp47,5 kuadriliun). Indeks utama Wall Street mencatat penurunan tajam:

    S&P 500 turun 4,8% Dow Jones Industrial Average turun 4% Nasdaq Composite turun 6%

    “Sepertinya AS akan menuju resesi,” kata Gary Hufbauer dari Peterson Institute for International Economics.

    Menurutnya, jika resesi terjadi, nilai saham AS yang sudah tinggi sejak akhir 2024 dapat mengalami koreksi lebih lanjut.

    Sementara itu, Donald Trump tetap optimis dengan kebijakan ini. Dalam unggahan di media sosialnya, ia menulis dengan huruf besar:

    “Operasinya sudah selesai! Pasien hidup, dan sedang sembuh. Prognosisnya adalah bahwa pasien akan jauh lebih kuat, lebih besar, lebih baik, dan lebih tangguh daripada sebelumnya.”

    Namun, pasar tampaknya tidak sejalan dengan optimisme Trump. Indeks Volatilitas CBOE (VIX), yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan” di Wall Street, melonjak ke level tertinggi dalam tiga minggu terakhir.

    Reaksi Global: Ancaman Perang Dagang

    Kebijakan tarif Trump telah memicu respons keras dari berbagai negara. Uni Eropa mengancam akan menerapkan langkah balasan dengan menaikkan tarif hingga 20% untuk produk-produk asal AS.

    China, sebagai salah satu mitra dagang terbesar AS, juga berjanji akan mengambil tindakan serupa. Negara lain seperti Korea Selatan, Meksiko, dan India masih menunggu perkembangan lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

    Sebaliknya, Australia yang hanya dikenakan tarif minimum 10% memutuskan untuk tidak menerapkan tarif balasan, melainkan menyiapkan rencana tanggapan ekonomi yang lebih fleksibel.

    “Kami akan memastikan bahwa perdagangan Australia tetap kompetitif di pasar global,” ujar Perdana Menteri Anthony Albanese dalam konferensi persnya, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari ABC News.

    Nasib Perekonomian AS di Tengah Ketidakpastian

    Sejumlah analis memperkirakan kebijakan tarif baru ini akan berdampak besar pada industri AS sendiri. Saham-saham teknologi seperti Apple, Nvidia, dan Amazon mengalami koreksi tajam karena produksi mereka bergantung pada rantai pasok global.

    Sementara itu, sektor perbankan dan energi juga mengalami penurunan akibat melemahnya sentimen investor.

    Seiring dengan ketidakpastian yang meningkat, pelaku pasar kini menunggu pidato Ketua The Fed Jerome Powell serta laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls pada hari Jumat. Data ini akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kesehatan ekonomi AS dan kemungkinan langkah selanjutnya dari bank sentral.

    Dengan situasi yang semakin memanas, pasar keuangan global kemungkinan akan terus mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa bulan mendatang. Perang dagang yang baru ini bisa menjadi salah satu faktor penentu arah ekonomi global dalam jangka panjang.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Pasar Ketakutan Tarif Trump Bikin Perang Dagang, Obligasi AS Anjlok

    Pasar Ketakutan Tarif Trump Bikin Perang Dagang, Obligasi AS Anjlok

    Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar obligasi Amerika Serikat menurun tajam pada hari ini ke level terendah, setelah pengumuman presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi mengumumkan tarif kebijakan impor baru yang lebih besar kepada banyak negara.

    Adanya kebijakan tarif timbal balik dari Trump ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan perang dagang global, yang memicu larinya uang dari aset berisiko ke aset aman.

    Melansir CNBC Indonesia, Kamis (3/4/2025), imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun turun 11 basis poin menjadi 4,085%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 2 tahun turun 9,5 basis poin dan diperdagangkan pada 3,809%.

    Satu basis poin sama dengan 0,01%, dan imbal hasil dan harga bergerak ke arah yang berlawanan.

    Trump telah menandatangani perintah eksekutif terkait penetapan rencana tarif impor baru ini, yang langsung direspons oleh investor. AS menetapkan tarif dasar sebesar 10% yang berlaku pada 5 April mendatang, juga adanya tarif timbal balik yang lebih tinggi ke ratusan negara.

    “Kami akan mengenakan biaya kepada mereka sekitar setengah dari apa yang mereka kenakan kepada kami,” kata Trump dalam konferensi pers dari White House Rose Garden.

    Trump menjelaskan gabungan tarif itu untuk membayar seluruh hambatan non-moneter hingga bentuk kecurangan lainnya.

    Kepala investasi di UBS Global Wealth Management, Mark Haefele, melihat kebijakan ini ini akan mendorong perlambatan jangka pendek dalam ekonomi AS, dan mengurangi pertumbuhan tahun 2025 mendekati atau di bawah 1%.

    Mark juga memprediksi bank sentral AS akan memberikan potongan suku bunga 75-100 bps selama sisa tahun 2025.

    Sehingga kemungkinan investor akan menunggu data ekonomi lebih lanjut, termasuk ISM (Indeks Manufaktur AS) di pagi hari dan nonfarm payrolls pada hari Jumat.

    Ketua Federal Reserve Jerome Powell juga akan memberikan pidato pada hari Jumat, yang akan dipantau oleh investor untuk mendapatkan petunjuk tentang kebijakan moneter dalam iklim ekonomi yang tidak pasti.

    (mkh/mkh)

  • Fed Wanti-wanti Dampak Tarif Trump Terhadap Inflasi dan Konsumsi

    Fed Wanti-wanti Dampak Tarif Trump Terhadap Inflasi dan Konsumsi

    Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) menyebut kebijakan tarif yang dilakukan Preside Donald Trump akan berdampak pada kenaikan inflasi dan perlambatan konsumsi.

    Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin mengatakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat meningkatkan inflasi dan pengangguran. Hal tersebut dapat menciptakan tantangan besar bagi bank sentral AS tersebut.

    Barkin mengatakan guncangan harga akibat tarif dapat mengakibatkan persaingan sengit antara konsumen yang frustrasi karena tidak ingin membayar lebih dan penyedia barang dan jasa yang benar-benar yakin bahwa mereka harus meneruskan kenaikan tarif.

    “Akan sangat menarik untuk melihat ke mana arahnya. Jelas sebagian dari itu akan memengaruhi harga sehingga akan menjadi inflasi,” kata Barkin dalam diskusi yang dimoderatori di New York di Council on Foreign Relations dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/4/2025).

    Namun, kepala Fed Richmond juga memperingatkan bahwa sebagian dampaknya akan terasa di pasar tenaga kerja. Harga yang lebih tinggi kemungkinan akan menurunkan permintaan, sehingga mengurangi penjualan, katanya.

    “Jika Anda adalah perusahaan yang tidak dapat menaikkan harga, maka margin Anda akan turun. Anda akan mulai bekerja pada efisiensi operasional, dan itu berarti jumlah karyawan berkurang,” kata Barkin.

    Barkin menekankan ketidakpastian sangat tinggi atas kebijakan apa yang akan benar-benar dilaksanakan. Trump akan mengumumkan kebijakan tarif timbal balik di sebuah acara di Gedung Putih pada Rabu waktu setempat.

    Hal senada diungkapkan oleh rekan Barkin, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams. Williams menyebut ada risiko inflasi yang lebih tinggi tahun ini akibat dampak kebijakan tarif Trump. 

    Meski demikian, Williams berpandangan bahwa tingkat inflasi akan tetap relatif stabil.

    “Anda melihat pandangan yang sangat luas di antara para peserta komite bahwa ada risiko kenaikan pada prospek inflasi. Itu sepenuhnya konsisten dengan cara saya melihatnya secara pribadi,” ucap Williams mengacu pada proyeksi ekonomi terbaru bank sentral.

    Menurutnya, terdapat risiko kenaikan yang sangat bergantung pada tarif dan kebijakan lain. 

    Williams mengatakan belum jelas dampak tarif Presiden Donald Trump terhadap ekonomi, menggarisbawahi bahwa bank sentral akan mengawasi data yang masuk — khususnya harga dan aktivitas di industri yang terkena dampak.

    Dia menilai efek tidak langsung bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk terwujud. Di sisi lain, dia menolak berkomentar tentang waktu pemotongan suku bunga di masa mendatang.

    Williams mengatakan ketidakpastian tentang kebijakan pemerintahan Trump ini akan memengaruhi perilaku beberapa konsumen dan bisnis. 

    Namun demikian, ekonomi AS tetap dalam kondisi baik dan menegaskan bahwa AS tidak mengalami stagflasi saat ini.

    “Saya merasa kebijakan moneter cukup ketat,” kata Williams, seraya menambahkan bank sentral dapat mempertahankan sikap itu untuk beberapa waktu.

    Dia memperkirakan pertumbuhan akan melambat pada tahun 2025. Williams sebelumnya mengatakan bahwa hal itu sebagian disebabkan oleh perlambatan arus imigrasi.

    DAMPAK TARIF PADA KONSUMSI 

    Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee memperingatkan konsekuensi negatif dari setiap perlambatan dalam belanja konsumen atau investasi bisnis karena ketidakpastian terkait tarif. 

    “Jika konsumen berhenti belanja atau bisnis berhenti berinvestasi karena mereka tidak yakin atau mereka takut ke mana kita akan menuju, itu akan menjadi sedikit kacau,” ucapnya. 

    Goolsbee mencatat bahwa, secara teori, tarif satu kali seharusnya memiliki dampak sementara pada harga, tetapi menambahkan bahwa tarif tersebut mungkin memiliki dampak yang lebih lama. 

    Hal tersebut dapat didorong oleh tarif balasan dan fakta bahwa beberapa pungutan dapat dikenakan pada barang setengah jadi, seperti komponen dan suku cadang yang berakhir pada barang yang diproduksi di dalam negeri. 

    Kepala Fed Chicago itu memperkirakan suku bunga akan turun selama 12 hingga 18 bulan ke depan. Goolsbee mengatakan data konkret masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang solid, bahkan ketika ukuran survei konsumen dan bisnis melemah.

    “Anda telah melihat angka-angka sentimen, kepercayaan, dan bisnis serta konsumen hampir anjlok,” tutur Goolsbee.

    Pejabat Fed tidak mengubah suku bunga untuk pertemuan kedua berturut-turut ketika mereka bertemu pada bulan Maret, setelah pemotongan satu poin persentase penuh pada akhir tahun lalu.

    Ketua Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebu, mengatakan dampak inflasi dari tarif kemungkinan akan bersifat sementara, yang menandakan para pejabat dapat melihat dampak harga.

    Penggunaan kata sementara oleh Powell mengejutkan banyak pengamat Fed karena hal itu menghidupkan kembali istilah yang digunakan pejabat bank sentral sepanjang tahun 2021 untuk menggambarkan dampak pandemi terhadap tekanan harga. Dalam hal itu, Powell dan yang lainnya pada akhirnya terbukti salah besar.

    Ketidakpastian yang meningkat seputar kebijakan tarif Presiden Donald Trump sejauh ini telah mendorong konsumen dan bisnis untuk lebih berhati-hati.

  • Harga Emas Antam Lebih Mahal Rp 1.000 Hari Ini 24 Maret 2025, Cek Rinciannya – Page 3

    Harga Emas Antam Lebih Mahal Rp 1.000 Hari Ini 24 Maret 2025, Cek Rinciannya – Page 3

    Dalam sebuah catatan pada Jumat, Thu Lan Nguyen, Kepala Riset di Commerzbank, mengatakan bahwa kekhawatiran inflasi bisa menahan kenaikan emas.

    Pada hari Rabu, setelah mempertahankan suku bunga tetap, Federal Reserve memperbarui proyeksi inflasinya dan memperkirakan harga konsumen naik 2,8% tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan Desember sebesar 2,5%.

    Meskipun Ketua Federal Reserve Jerome Powell meremehkan ancaman inflasi, Nguyen mengatakan investor tetap berhati-hati.

    “Federal Reserve sebelumnya juga menganggap lonjakan inflasi 2021/22 hanya sementara, tetapi akhirnya harus mengambil tindakan agresif karena kenaikan harga yang tajam. Jika skenario serupa terjadi, itu bisa menjadi berita buruk bagi emas,” katanya.

    Namun, Nguyen menambahkan bahwa setiap koreksi harga emas kemungkinan besar akan menjadi peluang beli.”Emas semakin diminati sebagai aset safe haven, terutama karena ketegangan geopolitik. Selama faktor ini masih berperan, potensi penurunan harga emas akan tetap terbatas,” ujarnya.

     

  • The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Kripto dan Saham AS Melesat?

    The Fed Tahan Suku Bunga, Pasar Kripto dan Saham AS Melesat?

    Jakarta: Pasar keuangan global kembali bergairah setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di level 4,25-4,50 persen. 
     
    Keputusan ini langsung direspons positif oleh pasar, dengan indeks saham AS dan harga aset kripto yang kompak mengalami kenaikan signifikan.
    Pasar saham dan kripto menghijau
    Sesaat setelah pengumuman The Fed, indeks saham utama AS mengalami lonjakan. S&P 500 naik 1,08 persen, Nasdaq melonjak 1,41 persen, dan Dow Jones Industrial Average meningkat 0,92 persen. 
     
    Tak hanya pasar saham, Bitcoin juga melejit menembus level USD83.000 dan sempat diperdagangkan di kisaran USD87.000. Ethereum pun kembali ke level USD2.000 setelah hampir dua pekan berada di kisaran USD1.800-USD1.900.

    Merespons kondisi ini, Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, menyatakan bahwa keputusan The Fed telah memberikan kelegaan bagi investor.
     
    Meredanya kekhawatiran investor telah mendorong reaksi optimis terhadap aset berisiko seperti kripto dan saham AS. Sikap hati-hati namun optimis The Fed turut memberikan sinyal kelegaan bagi pasar dan membuat kepercayaan diri investor meningkat.
     

    “Namun, penurunan suku bunga yang tertunda dan volatilitas yang didorong oleh tarif, tetap
    dapat menekan pasar kripto khususnya dalam jangka pendek,” kata Fahmi dalam keterangan tertulis, Jumat, 21 Maret 2025.
     
    “Korelasi Bitcoin dengan saham AS yang cukup tinggi saat ini masih menjadi perhatian investor akan posisi Bitcoin sebagai inflation hedge, namun narasi aset kripto tersebut sebagai emas digital berpotensi menguat jika inflasi ternyata naik signifikan, yang mungkin akan membuat korelasinya sedikit menurun,” lanjut dia.
     
    Ia juga mengingatkan bahwa reli Bitcoin selanjutnya masih akan dipengaruhi oleh bagaimana pasar memandang risiko inflasi yang masih membayangi. 
    The Fed beri sinyal pemotongan suku Bunga
    Dalam pertemuan tersebut, The Fed tetap mempertahankan proyeksi dua kali pemotongan suku bunga pada 2025. 
     
    Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa inflasi akibat kebijakan tarif kemungkinan bersifat sementara dan ekonomi AS masih cukup tangguh dengan risiko resesi yang rendah.
     
    Sinyal penurunan suku bunga ini membuat pasar semakin yakin akan potensi reli lebih lanjut. Investor kini mengalihkan fokus pada data ekonomi AS, seperti sektor ketenagakerjaan dan perumahan, untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter ke depan.
    Risiko stagflasi dan pengaruhnya terhadap kripto
    The Fed juga menyoroti risiko stagflasi, yaitu kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat dengan inflasi yang masih tinggi. Walaupun inflasi tidak setinggi perkiraan pasar, penundaan pemangkasan suku bunga dan volatilitas akibat kebijakan tarif dapat tetap menekan pasar kripto dalam jangka pendek.
     
    “Korelasi Bitcoin dengan saham AS yang cukup tinggi saat ini masih menjadi perhatian investor akan posisi Bitcoin sebagai inflation hedge. Namun, narasi aset kripto tersebut sebagai emas digital berpotensi menguat jika inflasi ternyata naik signifikan,” ujar Fahmi.
     
    Bagi investor yang mengadopsi strategi diversifikasi, kombinasi Bitcoin, altcoin, dan saham AS dalam portofolio masih dianggap sebagai pilihan yang ideal untuk menjaga keseimbangan risiko.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • IHSG ditutup menguat dipimpin sektor teknologi

    IHSG ditutup menguat dipimpin sektor teknologi

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    IHSG ditutup menguat dipimpin sektor teknologi
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 20 Maret 2025 – 18:58 WIB

    Elshinta.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore, ditutup menguat dipimpin oleh saham-saham sektor teknologi.

    IHSG ditutup menguat 70,01 poin atau 1,11 persen ke posisi 6.381,67. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,47 poin atau 0,21 persen ke posisi 711,67.

    “Bursa regional Asia cenderung mixed, pasar merespons hasil rapat FOMC The Fed yang mengisyaratkan adanya kemungkinan pemotongan suku bunga pada akhir tahun ini,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus atau Nico dalam kajiannya, di Jakarta, Kamis.

    Para pejabat kebijakan di Amerika Serikat (AS) memprediksi akan ada dua kali pemangkasan suku bunga sebesar seperempat poin selama tahun ini. Sebelumnya, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25 sampai 4,50 persen.

    Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan, dan menyebutkan bahwa kebijakan saat ini dirasa cukup memadai dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian yang ada.

    Selanjutnya, Powell mengungkapkan langkah yang bijak saat ini adalah menunggu informasi yang lebih jelas mengenai kondisi ekonomi.

    Pernyataan itu menunjukkan tantangan yang dihadapi pembuat kebijakan dalam menyikapi rencana Presiden Donald Trump untuk menerapkan tarif pada impor dari mitra dagang AS, serta dampaknya terhadap perekonomian.

    Dari dalam negeri, IHSG melanjutkan penguatan yang didukung dari aksi emiten konglomerasi dan BUMN meningkatkan aksi beli, setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberlakukan kebijakan buyback tanpa perlu persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).

    Kebijakan ini mendorong peningkatan risk-appetite para investor, dan jaminan dari dari bank sentral untuk menjaga stabilitas, dengan Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuannya.

    Keputusan itu sejalan dengan upaya untuk menjaga inflasi pada tahun 2025 dan 2026, agar tetap terkendali dalam kisaran target 2,5 plus minus 1 persen, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

    Di sisi lain pasar juga menantikan langkah kebijakan selanjutnya dari pemerintah dalam komitmen untuk disiplin fiskal dan kebijakan pro-pertumbuhan

    Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sembilan sektor menguat yaitu dipimpin sektor teknologi naik sebesar 10,10 persen, diikuti oleh sektor transportasi dan logistik dan sektor barang baku yang masing- masing naik sebesar 2,35 persen dan 2,16 persen.

    Sementara itu, dua sektor melemah yaitu sektor keuangan dan sektor barang konsumen primer yang masing- masing turun sebesar 0,88 persen dan 0,62 persen.

    Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu MINA, FORU, POLU, RONY dan SAFE. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni IFII, ACES, BOAT, dan MIRA.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.093.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,17 miliar lembar saham senilai Rp11,30 triliun. Sebanyak 318 saham naik, 286 saham menurun, dan 353 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini, antara lain Indeks Nikkei menguat 93,54 poin atau 0,25 persen ke 37.751,88, indeks Shanghai melemah 3,33 poin atau 0,10 persen ke 3.408,43, indeks Kuala Lumpur melemah 10,15 persen atau 0,66 poin ke posisi 1,504,66, dan indeks Straits Times menguat 12,08 poin atau 0,31 persen ke 3.931,05.

    Sumber : Antara

  • Ekonom: Rupiah menguat dipengaruhi sentimen “risk-on” di pasar global

    Ekonom: Rupiah menguat dipengaruhi sentimen “risk-on” di pasar global

    Hari ini, rupiah diperkirakan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.450–Rp16.575 per dolar AS

    Jakarta (ANTARA) – Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan nilai tukar (kurs) rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akibat sentimen risk-on menguat di pasar keuangan global.

    “Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS akibat menguatnya sentimen risk-on di pasar keuangan global seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih agresif,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

    Peningkatan ekspektasi tersebut disebabkan pertemuan rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada bulan Maret 2025 yang memproyeksikan perlambatan ekonomi AS ke depan.

    Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell mengenai sifat inflasi tarif yang cenderung sementara juga turut mendorong sentimen risk-on lebih lanjut.

    “Hari ini, rupiah diperkirakan diperdagangkan dalam kisaran Rp16.450–Rp16.575 per dolar AS,” ungkap Josua.

    Kendati nilai tukar rupiah menguat sepanjang perdagangan, obligasi mata uang ini diperdagangkan bervariasi pada perdagangan Kamis (20/3).

    Imbal hasil seri acuan 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing tercatat 6,80 persen, 7,11 persen, 7,11 persen, dan 7,12 persen.

    Volume perdagangan obligasi pemerintah tercatat sebesar Rp22,36 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan volume perdagangan Rabu (19/3) yang sebesar Rp26,3 triliun.

    Pada Rabu (19/3), kepemilikan asing pada obligasi rupiah menurun sebesar Rp250 miliar menjadi Rp893 triliun atau 14,39 persen dari total outstanding.

    Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Jumat pagi di Jakarta menguat sebesar 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.481 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.485 per dolar AS.

    Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
    Editor: Agus Salim
    Copyright © ANTARA 2025