Tag: Jerome Powell

  • Harga Emas Dunia Dekati Rekor Termahal Lagi, Ini Pemicunya – Page 3

    Harga Emas Dunia Dekati Rekor Termahal Lagi, Ini Pemicunya – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Harga emas naik pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta), dibantu oleh permintaan aset safe haven karena rencana tarif Presiden AS Donald Trump membuat investor waspada terhadap kebijakan perdagangan. Sementara dolar Amerika Serikat (AS) yang secara keseluruhan lebih lemah juga memberikan dukungan.

    Dikutip dari CNBC, Rabu (16/4/2025), harga emas hari ini di pasar spot naik 0,7% menjadi USD 3.232,88 per ons. Sedangkan harga emas batangan mencapai rekor tertinggi USD 3.245,42 pada hari Senin.

    Untuk harga emas berjangka AS naik 0,6% menjadi USD 3.245,00.

    “Para pedagang menunggu perkembangan fundamental utama berikutnya yang akan mendorong pasar emas, tetapi grafiknya tetap bullish. Masih ada permintaan untuk aset safe haven,” kata Analis Senior Kitco Metals Jim Wyckoff.

    Pengajuan Federal Register pada hari Senin menunjukkan bahwa pemerintah AS sedang memajukan penyelidikan terhadap impor farmasi dan semikonduktor dalam upaya untuk mengenakan tarif.

    Trump pada hari Minggu mengatakan ia akan mengumumkan tingkat tarif pada semikonduktor impor pada minggu depan.

    Harga emas, yang digunakan sebagai investasi aman selama masa ketidakpastian politik dan keuangan, telah meningkat lebih dari 23% sejauh ini pada tahun 2025 dan mencapai beberapa rekor tertinggi.

    “Kenaikan harga emas juga sebagian sejalan dengan terus melemahnya dolar, yang menunjukkan terkikisnya status mata uang AS sebagai aset aman secara bertahap, emas kemungkinan menjadi alternatif bagi banyak investor USD,” kata Commerzbank dalam sebuah catatan.

    “Prospek kebijakan moneter jangka pendek memberikan dukungan lebih lanjut untuk emas,” lanjut dia.

    Dolar diperdagangkan mendekati titik terendah dalam tiga tahun terhadap mata uang lainnya, membuat emas lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

    Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan melanjutkan pemotongan suku bunga pada bulan Juni setelah berhenti pada bulan Januari, dan mengurangi suku bunga kebijakannya sebesar 100 basis poin tahun ini.

    Para investor kini menanti komentar dari Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell, yang dijadwalkan berpidato pada hari Rabu, untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai jalur suku bunga. 

  • Bank Sentral G7 Pasang Ancang-Ancang Hadapi Tarif Trump

    Bank Sentral G7 Pasang Ancang-Ancang Hadapi Tarif Trump

    Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kekacauan di pasar global. Bank sentral negara-negara maju yang tergabung dalam kelompok G7 pun bersiap merilis kebijakan moneter pertama mereka sebagai respons, meskipun kemungkinan akan menghasilkan pendekatan yang berbeda-beda.

    Mengutip Bloomberg, Bank Sentral Kanada diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada Rabu (waktu setempat) guna mengantisipasi potensi inflasi akibat perang tarif yang tengah berlangsung dengan AS.

    Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) dijadwalkan mengumumkan keputusannya pada keesokan harinya, dengan ekspektasi penurunan suku bunga.

    Keputusan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed) baru akan diumumkan pada 7 Mei mendatang. Untuk saat ini, perhatian pasar tertuju pada langkah ECB dan Bank of Canada (BoC) dalam menenangkan investor sambil menilai dampak ekonomi dari kebijakan proteksionis Trump.

    Presiden ECB, Christine Lagarde, menyatakan pada Jumat lalu (11/4/2025) bahwa pihaknya terus memantau situasi dan siap mengambil langkah jika diperlukan, mengingat stabilitas harga dan keuangan saling berkaitan.

    Ini menjadi kali kedua dalam lebih dari dua tahun terakhir ECB dihadapkan pada dilema suku bunga akibat ketidakpastian dari AS sebelum The Fed mengambil tindakan. Saat krisis Silicon Valley Bank pada 2023 yang mengguncang pasar global, ECB tetap menaikkan suku bunga sebesar 0,5 poin seperti yang telah dijanjikan.

    Namun kali ini, arah kebijakan ECB tampak lebih jelas. Tarif impor dari AS diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Eropa. Karena Uni Eropa belum mengambil langkah balasan yang dapat memicu inflasi, ECB diprediksi akan menurunkan suku bunga sebesar 0,25 poin.

    Di sisi lain, Kanada menghadapi pertimbangan yang lebih kompleks. Meski tarif Trump mulai menekan investasi bisnis dan belanja konsumen, ekspektasi inflasi justru meningkat. Data indeks harga konsumen yang akan dirilis Selasa diperkirakan menjadi penentu utama keputusan suku bunga BoC.

    “Keputusan suku bunga ECB pada 17 April tampaknya menjadi lebih mudah. Selain dampak langsung dari tarif AS terhadap ekonomi kawasan euro, Dewan Pemerintahan juga harus mempertimbangkan pengaruh penguatan mata uang euro,” jelas ekonom Bloomberg, yakni David Powell dan Simona della Chiaie.

    Menanti Sikap The Fed

    Di tengah naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS, melemahnya dolar, dan turunnya harga saham akibat kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump, investor menanti sinyal dari para pejabat Federal Reserve (The Fed) terkait kemungkinan penurunan suku bunga.

    Ketua The Fed, Jerome Powell, dijadwalkan menyampaikan pandangan mengenai kondisi ekonomi pada Rabu (16/4) waktu setempat dalam acara Economic Club of Chicago. Para Presiden The Fed wilayah juga nantinya akan memberikan pernyataan mereka. 

    Di sisi data makroekonomi, laporan penjualan ritel Maret 2025 diperkirakan menunjukan lonjakan. Konsumen disebut-sebut mempercepat pembelian mobil dan suku cadang menjelang diberlakukannya tarif impor baru. Survei Bloomberg memperkirakan penjualan naik 1,4% secara bulanan, yakni tertinggi sejak awal 2023. 

    Data industri mencatat penjualan mobil mencapai tingkat tahunan 17,77 juta unit, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini terjadi menjelang penerapan tarif impor mobil dan suku cadang hingga 25% yang mulai berlaku pada 3 April.

    Jika tidak memasukkan mobil, bensin, bahan bangunan, dan layanan makanan, penjualan ritel juga diperkirakan tetap tumbuh, meskipun belanja konsumen di kuartal ini cenderung lesu.

    Selain itu, data produksi industri  diprediksi turun 0,2%, terutama karena suhu udara yang lebih hangat mengurangi konsumsi listrik, serta melambatnya aktivitas manufaktur.

    Data sektor perumahan diperkirakan menunjukkan penurunan jumlah rumah baru yang dibangun. Para pengembang tampaknya memilih fokus pada pengurangan stok rumah yang ada.

    Di sisi lain, pemerintahan Trump memutuskan untuk membebaskan tarif bagi sejumlah barang elektronik populer seperti smartphone, laptop, hard drive hingga prosesor komputer. Barang-barang ini umumnya tidak diproduksi di AS, sehingga kabar ini disambut baik oleh konsumen yang sempat khawatir harga iPhone dan perangkat lain bakal melonjak.

  • Perang Dagang AS-China Meningkat, Harga Produk Mulai Naik

    Perang Dagang AS-China Meningkat, Harga Produk Mulai Naik

    Jakarta, Beritasatu.com – Penundaan kebijakan tarif impor oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump selama 90 hari terhadap 75 negara kecuali China, memanaskan kembali perang dagang antara dua negara adidaya tersebut.

    AS memberlakukan tarif impor sebesar 145% terhadap barang-barang asal China, yang kemudian dibalas oleh China dengan mengenakan tarif sebesar 125% untuk produk-produk asal AS.

    Pada Kamis (10/4/2025), produk asal China yang telah beredar di pasar, termasuk platform seperti Amazon mengalami kenaikan harga. Kenaikan ini langsung dirasakan oleh konsumen di AS.

    “Barang-barang dari China yang ada di market space Amazon sudah dikenakan harga baru. Artinya, tarif impor yang diberlakukan oleh Donald Trump telah berdampak langsung pada harga barang konsumsi di AS. Kekhawatiran terhadap tensi dagang ini masih berlanjut karena ikut mendorong laju inflasi,” jelas Equity Research Analyst Panin Sekuritas Felix Darmawan kepada Beritasatu.com, Jumat (11/4/2025).

    Felix menambahkan bahwa peningkatan inflasi ini berpotensi memicu resesi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi AS secara lebih signifikan dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya.

    Beberapa analis dari Goldman Sachs pun telah memperkirakan potensi terjadinya resesi tersebut.

    “Goldman memperkirakan kemungkinan resesi mencapai 60%. Mayoritas analis juga memprediksi inflasi akan meningkat dari level saat ini, yaitu 2,3%,” tambahnya terkait perang dagang AS.

    Sementara itu, Donald Trump telah memperingatkan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell melalui akun Truth Social miliknya akhir pekan lalu, agar segera memangkas suku bunga. Namun, Powell menegaskan bahwa prioritas utama The Fed saat ini adalah menjaga inflasi tetap terkendali.

    Di sisi lain, mantan wakil ketua The Fed yang kini menjadi ekonom di Pimco menilai bahwa bank sentral tidak bisa gegabah memangkas suku bunga hanya karena ada proyeksi perlambatan ekonomi.

    Seperti dilaporkan The Washington Post, The Fed akan terus memantau data-data ekonomi terbaru untuk memastikan inflasi tetap berada di kisaran 2%, sesuai target bank sentral di tengah perang dagang AS-China.

  • Awas Ancaman Petaka Besar Efek Tarif Trump, Hantam Balik AS-RI Bahaya

    Awas Ancaman Petaka Besar Efek Tarif Trump, Hantam Balik AS-RI Bahaya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pada hari Rabu (2/4/2025) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat (AS)Donald Trump mengumumkan tarif baru atas sejumlah negara. Dia optimistis, dengan kebijakan tarif baru ini, perusahaan asing akan terdorong berinvestasi membangun fasilitas produksinya di AS.

    Trump menetapkan, semua barang impor yang masuk ke AS akan dikenai tarif bea masuk (BM) sebesar 10%. Selain itu, bakal diberlakukan tarif resiprokal alias timbal balik ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Menurut Trump, Indonesia mengenakan tarif BM 64% atas barang-barang AS, sehingga RI dikenakan tarif timbal balik sebesar 32%.

    Kebijakan tarif baru 10% mulai berlaku pada hari Sabtu, 5 April 2025 dan tarif timbal balik diterapkan mulai hari ini, Rabu (9/4/2025).

    Lalu bagaimana efek kebijakan Trump tersebut? Seberapa besar sebenarnya bahaya yang mengancam?

    Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, kebijakan tarif resiprokal ala Trump berpotensi menjadi senjata makan tuan, terutama bagi AS sendiri.

    “Efek ini dapat muncul dalam jangka pendek hingga menengah, dengan eskalasi dampak tergantung pada respons negara-negara mitra dagang utama serta ketahanan sektor industri dan konsumsi domestik AS,” katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (9/4/2025).

    Pertama, sambungnya, banyak perusahaan Amerika, khususnya di sektor alas kaki dan tekstil/pakaian jadi (TPT), sangat bergantung pada skema maklon atau produksi di luar negeri, termasuk di Indonesia, Vietnam, dan China.

    “Saat AS mengenakan tarif hingga 32% terhadap produk dari Indonesia (dan bahkan lebih tinggi terhadap negara lain seperti Vietnam 46%, China 34%), maka biaya impor bahan jadi maupun setengah jadi akan naik drastis. Akibatnya, harga barang jadi di pasar domestik AS pun melonjak, menciptakan tekanan inflasi yang tinggi,” jelasnya.

    “Hal ini diperkuat oleh pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menyatakan bahwa tarif baru Trump diperkirakan akan meningkatkan inflasi AS, meskipun The Fed sendiri masih menahan diri dalam mengambil keputusan kebijakan moneter,” terang Josua. 

    Inflasi tinggi ini, lanjutnya, dapat menggerus daya beli konsumen AS, yang pada akhirnya memukul sektor ritel dan manufaktur domestik, terutama yang berorientasi konsumsi.

    “Sebagai contoh, merek-merek seperti Nike, Apple, dan Levi’s-yang sangat tergantung pada pabrik-pabrik di luar negeri-akan mengalami kenaikan biaya produksi dan mungkin harus menaikkan harga, mengurangi marjin keuntungan, atau bahkan mengurangi produksi,” sebutnya.

    Ancaman Bahaya Saat Tarif Trump Hantam Balik AS

    Akibatnya, kondisi itu bukan tidak mungkin akan memicu efek domino global. Aksi retaliasi atau tindakan balas dendam alias perang dagang akan terjadi, yang kemudian dapat mengguncang rantai pasok global, memperlemah perdagangan dunia. Bahkan memicu ancaman resesi global, di mana risiko resesi global tahun 2025 kini naik dari 40% menjadi 60%.

    “Secara keseluruhan, studi IMF, OECD, dan bank sentral besar menunjukkan bahwa konflik dagang seperti ini bisa menurunkan PDB global hingga 1,7-5,5% dan menaikkan inflasi global sebesar 1,5-3%,” ujarnya. 

    “Untuk AS sendiri, PDB bisa turun 2-4%, dan jika rantai pasok global terus terganggu, perusahaan AS yang sangat tergantung impor bahan baku akan kesulitan mempertahankan produksi dan tenaga kerja,” tambahnya.

    “Dengan begitu, kebijakan ini berisiko menjadi “bumerang” bagi AS. Alih-alih meningkatkan daya saing dan melindungi pekerjaan domestik, justru bisa menimbulkan inflasi tinggi, pelemahan konsumsi, ketidakpastian pasar keuangan, hingga potensi resesi,” tukas Josua.

    Pada fase inilah ancaman bahaya lebih besar mengintai.

    “Ini adalah ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global dan dapat memukul pertumbuhan ekonomi dunia secara luas, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia,” kata Josua mengingatkan. 

    Terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro mengatakan hal senada. 

    “Kebijakan Trump ini memang menyebabkan potensi stagflasi di AS. Kalau ke pertumbuhan, ekspektasinya memang tahun ini potensi resesi di AS meningkat hingga 60% ya,” kata Andry kepada CNBC Indonesia.

    “Efek dominonya bisa lebih besar kalau trade war berkepanjangan. Makin panjang dan makin meluas,” ucapnya.

    (dce/dce)

  • Trump Naikkan Tarif Impor! Saham Anjlok, Investor Harus Apa Sekarang?

    Trump Naikkan Tarif Impor! Saham Anjlok, Investor Harus Apa Sekarang?

    Jakarta: Pekan pertama April 2025 jadi momen penuh gejolak bagi pasar global. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif impor baru yang ia sebut sebagai “Liberation Day”. 
     
    Tarif dasar 10 persen dikenakan untuk semua barang impor ke AS, sementara tarif lebih tinggi dikenakan untuk mitra dagang utama seperti Tiongkok (54 persen), Vietnam (46 persen), dan Indonesia (32 persen).
     
    Kebijakan ini langsung mengguncang pasar. Mengutip Bibit, Rabu, 9 April 2025, Indeks saham utama AS seperti S&P 500 dan Nasdaq anjlok masing-masing -10,7 persen dan -11,4 persen hanya dalam waktu lima hari yakni dari 2 April hingga 7 April 2025.

    IHSG ikut terpukul
    Setelah libur panjang Idulfitri, IHSG langsung dibuka dengan penurunan tajam -9,19 persen pada 8 April 2025, sebelum akhirnya membaik dan ditutup di -7,71 persen pada sesi I.

    Meski terkesan dramatis, situasi ini tak perlu membuat kamu panik. Penting untuk melihatnya dari berbagai sisi.
     

    Mengapa tarif ini berbahaya?
    Trump ingin melindungi industri dalam negeri AS. Tapi strategi ini memicu reaksi keras dari negara lain. Tiongkok langsung membalas dengan tarif 34 persen untuk produk AS.
     
    Ketua The Fed, Jerome Powell, memperingatkan bahwa tarif ini bisa mendorong inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Pasar saham yang jatuh jadi salah satu refleksi kecemasan investor global.
     
    Bagi Indonesia, dampaknya bisa terasa di sektor ekspor. Produk seperti mesin, elektronik, pakaian, dan sepatu yang dikirim ke AS akan dikenai tarif lebih tinggi. Ini bisa menekan kinerja emiten berorientasi ekspor.
    Apa dampaknya ke aset investasi?

    Saham & Reksa Dana Saham: Secara jangka pendek, IHSG akan melihat sentimen negatif. Perusahaan yang bergantung pada ekspor, seperti manufaktur dan komoditasdapat menghadapi tekanan jika tarif balasan berlanjut dan permintaan AS serta pertumbuhan global melemah. Adapun dalam jangka menengah, Indonesia memiliki peluang untuk merebut pangsa pasar ekspor seiring berubahnya dinamika manufaktur dan perdagangan global.  
    SBN, Obligasi FR & Reksa Dana Obligasi: Meskipun pasar saham AS turun signifikan, yield obligasi jangka pendek AS (4% menjadi ~3,8 persen. Penurunan ini juga dapat mendorong naik harga obligasi Indonesia. Namun, mengingat ketidakpastian ekonomi global, investor dapat mempertimbangkan obligasi jangka pendek yang volatilitasnya lebih rendah, seperti Obligasi FR PBS003 dan ST014-T2.
    Reksa Dana Pasar Uang: Aset ini tetap bisa menjadi safe haven untuk stabilitas dan likuiditas jangka pendek, dengan imbal hasil lebih tinggi dan pajak yang lebih rendah dibandingkan deposito bank.  

    Should You Panic? Absolutely Not

    Kepanikan pasar bukan hal baru. Tahun 2008 IHSG sempat anjlok -62 persen, dan -38 persen saat pandemi 2020. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Pasar bangkit dengan rebound 173 persen pada 2009 dan 66 persen pada 2021.
     
    Kuncinya adalah tetap tenang dan percaya pada fundamental investasi yang kamu pegang. Sejarah menunjukkan bahwa badai pasar selalu bisa berlalu.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • Arah Suku Bunga The Fed di Tengah Kebijakan Tarif Trump dan Bayang-Bayang Resesi Global

    Arah Suku Bunga The Fed di Tengah Kebijakan Tarif Trump dan Bayang-Bayang Resesi Global

    Bisnis.com, JAKARTA – Ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) pada 2025 melonjak seiring dengan kebijakan tarif agresif yang diluncurkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang menimbulkan kecemasan akan bayang-bayang resesi global.

    Kepanikan pasar tercermin dari lonjakan posisi pada skenario pemangkasan darurat. Mengutip laporan Bloomberg, Selasa (8/4/2025), kontrak swap suku bunga overnight kini mencerminkan ekspektasi penurunan sebesar 125 basis poin sepanjang tahun, setara dengan lima kali pelonggaran masing-masing 25 basis poin.

    Padahal, hingga pekan lalu, pelaku pasar hanya memperkirakan tiga kali pemangkasan. Kini, probabilitas bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin sudah mendekati 40%, bahkan sebelum rapat resmi kebijakan yang dijadwalkan pada 7 Mei 2025.

    Penyesuaian ekspektasi yang mendadak mencerminkan kepanikan kolektif pasar. Trump, yang tak menunjukkan sinyal akan melunak, tetap kukuh dengan kebijakan tarif perdagangannya. Trump mengatakan kepada wartawan pada Minggu malam untuk melupakan pasar sejenak.

    Sebagai respons spontan, investor melepaskan aset berisiko dan berbondong-bondong berlari ke obligasi, memicu penurunan tajam pada imbal hasil obligasi. Yield obligasi Treasury AS tenor dua tahun, yang merupakan indikator paling sensitif terhadap perubahan suku bunga, merosot 22 basis poin ke level 3,43% pada Senin, mencatat total penurunan sekitar 50 basis poin sejak pengumuman tarif pada Rabu lalu.

    Analis senior Pepperstone Michael Brown mengatakan tidak ada kabar baik dalam sentimen kali ini. Pasar semakin buruk, perubahan kebijakan baik dari Gedung Putih atau The Fed, adalah yang diinginkan pasar.

    ”Tapi keduanya tampaknya belum akan bergerak, dan itu artinya lebih banyak gejolak ekonomi,” tutur Brown seperti dikutip Bloomberg.

    Gejolak serupa juga mengguncang Eropa. Obligasi Jerman melonjak, menyebabkan yield dua tahunnya merosot 20 basis poin dan hanya sedikit di atas 1,60%—terendah sejak Oktober 2022. Di sisi lain, mata uang safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss menguat tajam terhadap dolar.

    Bayang-Bayang Resesi

    JPMorgan Chase & Co. kini secara terbuka memproyeksikan bahwa perekonomian Amerika akan tergelincir ke dalam resesi tahun ini. Kepala ekonom Michael Feroli memperkirakan The Fed akan memulai pemangkasan pada bulan Juni, dan melanjutkannya di setiap pertemuan hingga awal tahun depan.

    Sentimen serupa datang dari Goldman Sachs Group Inc. yang pekan lalu memperbarui proyeksinya: tiga kali pemotongan suku bunga kini menjadi skenario dasar, tak hanya untuk The Fed, tetapi juga bagi Bank Sentral Eropa.

    Di tengah turbulensi ini, berbagai pemerintahan di seluruh dunia berebut kursi negosiasi dengan pejabat AS, berusaha meringankan beban tarif atas ekspor mereka. Namun pasar tetap gamang—tak ada jaminan bahwa kompromi akan tercapai dalam waktu dekat.

    Pergeseran ini pun menyeret harapan pemangkasan suku bunga di Eropa. Untuk ECB dan Bank of England, swap pasar kini memproyeksikan setidaknya tiga kali pemangkasan, masing-masing sebesar 25 basis poin. Peluang pemotongan keempat pada akhir tahun diperkirakan sekitar 50%.

    Namun di tengah gelombang tekanan, Ketua The Fed Jerome Powell masih menahan pedal gas. Dalam pidatonya baru-baru ini, ia menyampaikan kehati-hatian tinggi karena inflasi yang masih mengintai. Menurut Powell, lonjakan harga akibat tarif membuat langkah buru-buru justru berisiko.

    Analis senior Brown Brothers Harriman Elias Haddad mengatakan pasar sebaiknya tidak berharap The Fed turun tangan dengan pemangkasan darurat.

    “Ini adalah badai yang diciptakan oleh kebijakan. Tidak ada alasan bagi The Fed untuk menyelamatkan pasar dari gejolak yang mereka ciptakan sendiri,” tambahnya.

  • Donald Trump Unggah Video: Isinya Sengaja Hancurkan Pasar Saham – Halaman all

    Donald Trump Unggah Video: Isinya Sengaja Hancurkan Pasar Saham – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM, AS –  Dua hari ini pasar saham global anjlok.

    Termasuk pasar saham di Amerika Serikat (AS).

    Ini terjadi sebagai reaksi terhadap pengumuman tarif Presiden AS Donald Trump.

    Terkait hal itu, Trump justru bagikan  video di media sosial yang mengklaim bahwa kejatuhan pasar saham itu disengaja.

    Trump mengunggah tautan ke video tersebut ke Truth Social, platform media sosial miliknya, pada Jumat (4/4/2025) waktu AS.

    Judul video di X (Twitter)  berbunyi: “Trump sedang bermain catur sementara yang lain bermain catur.”

    “Trump menghancurkan pasar saham tetapi dia melakukannya dengan sengaja,” demikian isi video itu dikutip dari Newsweek.

    Mengapa Hal Ini Penting

    Seperti diketahui bursa saham AS Wall Street mengalami minggu terburuknya dalam lima tahun terakhir setelah Trump mengumumkan tarif besar-besaran pada hampir 200 negara.

    Pada penutupan pasar hari Jumat, indeks S&P 500 turun hampir 6 persen dan Dow Jones Industrial Average turun 5,5 persen. Indeks gabungan Nasdaq yang sarat teknologi turun 5,82 persen.

    Pasar saham anjlok setelah pengumuman hari Rabu bahwa AS mengenakan tarif “dasar” 10 persen pada hampir semua impor.

    Beberapa negara mengenakan tarif yang jauh lebih tinggi, termasuk 34 persen pada Tiongkok, 46 persen pada Vietnam, sementara tarif 20 persen dikenakan pada Uni Eropa ( UE ).

    Tiongkok telah menanggapi dengan mengenakan tarif sebesar 34 persen terhadap barang-barang AS, sementara Uni Eropa sedang mempertimbangkan tanggapannya sendiri seiring meningkatnya perang dagang.

    Yang Perlu Diketahui soal Video Trump

    Video tersebut, yang aslinya berasal dari pengguna TikTok @wnnsa11, diunggah ke X pada Kamis malam oleh akun pro-Trump “AmericanPapaBear,” .

    Diklaim bahwa Trump tengah memainkan “permainan rahasia” yang dapat “membuat rakyat bisa kaya.”

    “Jadi mengapa dia melakukan ini? Untuk memasukkan uang tunai ke dalam obligasi pemerintah yang memaksa Fed memangkas suku bunga pada bulan Mei dan suku bunga yang lebih rendah tersebut memberi Fed kemampuan untuk membiayai kembali triliunan utang dengan sangat murah. Hal itu juga melemahkan dolar dan menurunkan suku bunga hipotek. Sekarang ini adalah langkah yang liar tetapi berhasil.”

    Video tersebut berlanjut: “Anda mungkin bertanya-tanya tentang tarifnya, saya akan memberi tahu Anda; ini adalah permainan yang jenius. Tarif ini sebenarnya memaksa perusahaan untuk membangun di sini untuk menghindarinya, tarif ini juga memaksa petani untuk menjual lebih banyak produk mereka di AS untuk menurunkan harga bahan makanan. Sekarang ingat, 94 persen dari semua saham hanya dimiliki oleh 8 persen orang Amerika, jadi Trump mengambil dari orang kaya dalam jangka pendek dan memberikannya kepada kelas menengah melalui harga yang lebih rendah.”

    Video @wnnsa11 diunggah di TikTok pada tanggal 15 Maret dan saat ini telah ditonton 2,5 juta kali.

    Meskipun ada saran dalam video tersebut, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada hari Jumat bahwa ia yakin tarif tersebut kemungkinan akan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat .

    Komentarnya menunjukkan bahwa Fed kemungkinan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada sekitar 4,3 persen dalam beberapa bulan mendatang dan tidak mungkin memangkasnya dalam waktu dekat.

     

  • Imbas Tarif Trump, Bursa Wall Street Kehilangan US Triliun

    Imbas Tarif Trump, Bursa Wall Street Kehilangan US$5 Triliun

    Bisnis.com, JAKARTA- Kebijakan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membuat bursa saham Wall Street lesu darah. Banyak investor khawatir perang dagang menjerumuskan perekonomian global ke jurang resesi.

    Dikutip dari Reuters, pada Jumat (5/4/2025), bursa Nasdaq jatuh ke pasar yang lesu karena investor khawatir perang dagang Presiden AS Donald Trump akan menjerumuskan dunia ke dalam resesi. Kurang dari 48 jam setelah Trump menaikkan hambatan tarif ke level tertinggi dalam lebih dari satu abad, memicu China membuat hambatan bea tambahan sebesar 34% pada terhadap semua impor AS.

    Harapan investor terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell yang akan menyelamatkan dengan mengisyaratkan kesiapan untuk memangkas suku bunga – seperti yang tampaknya ditekan Trump dalam unggahan media sosial sebelumnya hari itu – pupus, karena Powell menekankan “risiko tinggi” terhadap pertumbuhan dan inflasi.

    Pendekatan hati-hati ini semakin mengguncang Wall Street – penurunan 6% S&P 500 berarti kapitalisasi pasar indeks anjlok U$5 triliun hanya dalam dua hari. The Fed benar-benar terjepit, dihadapkan dengan risiko resesi yang meningkat pesat dan tekanan harga yang melonjak.

    Terdapat tren aksi jual pasar ekuitas, seiring anjloknya kepercayaan, dan prospek yang sangat tidak pasti, tidak akan menjadi kejutan total jika Fed memangkas suku bunga pada pertemuannya tanggal 6-7 Mei.

    Ini adalah penurunan terberat di seluruh saham global sejak pandemi pada 2020. Namun tidak seperti kejatuhan itu dan Krisis Keuangan Global pada 2008, kekacauan saat ini di Wall Street adalah hasil dari pilihan kebijakan yang jelas yang dibuat oleh pemerintah AS.

    Banyak analis memperkirakan hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ekonom di Barclays sekarang memperkirakan inflasi AS akan melebihi 4% tahun ini sementara PDB akan berkontraksi pada kuartal keempat, sebuah langkah yang “konsisten dengan resesi”.

    Seluruh dunia tidak akan luput dari rasa sakit. Ekonom di Citi mengatakan pertumbuhan zona euro akan turun hingga satu poin persentase tahun ini, yang mendorong blok tersebut ke ambang resesi, sedangkan China dapat mengalami pukulan serupa terhadap pertumbuhan PDB-nya, yang menurut mereka sudah melambat hingga sub-5%.

    Dengan permintaan global yang tiba-tiba melambat, jika tidak menyusut, harga minyak pada hari Jumat merosot lebih dari 6% untuk hari kedua berturut-turut. Harga minyak mentah Brent mencapai titik terendah dalam empat tahun mendekati US$62 per barel, dan sekarang turun 26% dari tahun lalu.

  • Deretan Dampak Tarif Trump: China Membalas-Pasar Saham Anjlok

    Deretan Dampak Tarif Trump: China Membalas-Pasar Saham Anjlok

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengumumkan kebijakan tarif untuk 100 negara atau mitra dagang. Tarif tersebut merupakan balasan dari kebijakan tarif yang didapat oleh AS.

    Dampak dari kebijakan tersebut langsung terjadi. Dikutip dari CNBC, Sabtu (5/4/2025), China langsung membalas Trump. Barang-barang AS yang diekspor ke China akan dikenakan tarif balasan 34%.

    Kemudian, harga minyak diketahui anjlok dan menjadi yang terendah sejak pandemi COVID-19. Pasar saham juga merespons negatif, seperti pasar saham Eropa yang anjlok 2%, menjadi yang terburuk dalam 8 bulan terakhir. Kemudian pasar saham AS Dow Jones Industrial Average merosot 1.500 poin dua hari berturut-turut.

    Inflasi AS diperkirakan melonjak yang diperingatkan oleh Ketua The Federal Reserve Jerome Powell. Pertumbuhan ekonomi AS juga dikhawatirkan melambat.

    Namun, saat kebijakan itu diumumkan, Gedung Putih menyebut keputusan Trump akan sangat baik untuk masyarakat AS, demi kemakmuran, dan perdamaian bangsa tersebut.

    “Ini adalah minggu yang sangat sukses bagi rakyat Amerika karena Presiden Donald Trump terus mengejar kekuatan, kemakmuran, dan perdamaian tanpa henti dan meletakkan dasar bagi Amerika untuk menjadi pusat kekuatan global bagi generasi mendatang,” kata Gedung Putih.

    Dalam keterangan berbeda, Trump mengatakan bahwa kebijakan tarif tersebut merupakan tindakan yang berani untuk memberikan balasan setelah lama industri AS dihancurkan

    “Menerapkan rencana yang berani untuk perdagangan timbal balik saat mereka berupaya membalikkan dekade globalisasi yang telah menghancurkan basis industri kita,” tegasnya.

    (ada/ara)

  • Bos The Fed Peringatkan Trump soal Tarif: Bisa Picu Kenaikan Inflasi

    Bos The Fed Peringatkan Trump soal Tarif: Bisa Picu Kenaikan Inflasi

    Jakarta

    Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell memperingatkan dampak besar bagi Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan tarif Presiden Donald Trump terhadap 100 negara atau mitra dagang AS, salah satunya kenaikan inflasi. Kenaikan inflasi mengancam keberlangsungan kondisi perekonomian AS.

    “(Kebijakan) tarif sangat mungkin menghasilkan setidaknya kenaikan sementara dalam inflasi, ada kemungkinan juga bahwa dampaknya bisa lebih persisten,” kata dia dikutip dari CNN, Sabtu (5/4/2025).

    Dalam keterangan berbeda, Ekonom di JPMorgan bahkan melihat dampak dari kebijakan tersebut kepada ancaman resesi global. Persentase angka resesinya 60% jika tarif tetap diberlakukan.

    Sejauh ini The Fed telah menahan kenaikan suku bunga, karena ada tanda-tanda inflasi melambat. Sempat ada rencana memangkas suku bunga tetapi hal itu tidak dilakukan.

    Pada awal 2025, The Fed memutuskan menahan suku bunga di level 4,25-4,50%. Kala itu ekonomi AS dinilai akan kuat dan inflasi akan terkendali.

    Trump telah mengumumkan kebijakan tarif untuk 100 mitra dagang AS. Dalam daftar itu, China, Malaysia, Thailand, hingga Indonesia menjadi negara yang dikenakan tarif oleh Trump.

    Dikutip dari laman Gedung Putih, ada dua alasan mengapa Donald Trump mengenakan tarif balasan kepada Indonesia sebesar 32%. Pertama, Indonesia disebut telah mengenakan tarif kepada produk etanol AS sebesar 30% dibanding tarif AS 2,5%. Kedua, Trump menyinggung kebijakan TKDN yang diberlakukan Indonesia.

    “Indonesia menerapkan persyaratan konten lokal di berbagai sektor, rezim perizinan impor yang kompleks, dan, mulai tahun ini, akan mengharuskan perusahaan sumber daya alam untuk memindahkan semua pendapatan ekspor ke dalam negeri untuk transaksi senilai US$ 250.000 atau lebih,” tulis keterangan di laman Gedung Putih.

    (ada/ara)