Tag: Jerome Powell

  • IHSG Pagi Ini Menguat, Simak Proyeksi Pergerakannya Seharian

    IHSG Pagi Ini Menguat, Simak Proyeksi Pergerakannya Seharian

    Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis pagi ini, 24 April 2025, dengan sentimen positif. 
     
    Melansir Antara, IHSG dibuka menguat 36,69 poin atau naik 0,55 persen ke level 6.671,06. Tak hanya itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatat kenaikan 5,25 poin atau 0,71 persen ke posisi 750,03.

    Potensi kenaikan masih terbuka
    Menurut Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman, IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan penguatan di awal sesi, menyusul kenaikan bursa saham Amerika Serikat (AS). 
     
    Namun, investor perlu waspada akan potensi koreksi teknikal karena indeks sudah menguat selama empat hari berturut-turut.

    “IHSG hari ini potensi melanjutkan kenaikan di awal sesi seiring dengan kenaikan bursa AS, tetapi ada potensi koreksi wajar setelahnya karena sudah naik empat hari berturut-turut,” ujar Fanny.
     

    Redanya ketegangan perang dagang AS-Tiongkok
    Dari sisi global, meredanya tensi perang tarif antara AS dan Tiongkok menjadi salah satu pemicu optimisme pelaku pasar. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa tarif tinggi antara kedua negara tidak akan berlangsung lama.
     
    Presiden AS Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan pelonggaran bea masuk atas ekspor Tiongkok. Ia menyebut tarif final tidak akan menyentuh angka 145 persen, meski juga tak akan diturunkan ke 0 persen.
     
    Selain itu, Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak berniat memecat Ketua The Fed Jerome Powell, yang dinilai mampu menjaga stabilitas bank sentral AS. Pernyataan ini turut menurunkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap independensi The Fed.
    BI tahan suku bunga acuan
    Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2025. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar dan turut memberikan stabilitas pada iklim investasi.
     
    Kebijakan suku bunga yang tetap ini juga mendukung likuiditas pasar dan memberikan kepercayaan bagi investor untuk tetap aktif di pasar modal.

     
    Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
    dan follow Channel WhatsApp Medcom.id

    (ANN)

  • IHSG berpotensi menguat seiring meredanya ketegangan hubungan AS-China

    IHSG berpotensi menguat seiring meredanya ketegangan hubungan AS-China

    tetapi ada potensi koreksi wajar setelahnya karena sudah naik empat hari berturut-turut

    Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis berpotensi bergerak menguat seiring meredanya tensi perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan China.

    IHSG dibuka menguat 36,69 poin atau 0,55 persen ke posisi 6.671,06. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,25 poin atau 0,71 persen ke posisi 750,03.

    “IHSG hari ini potensi melanjutkan kenaikan di awal sesi seiring dengan kenaikan bursa AS, tetapi ada potensi koreksi wajar setelahnya karena sudah naik empat hari berturut-turut,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman di Jakarta, Kamis.

    Dari mancanegara, optimisme pelaku pasar menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa tarif tinggi antara AS dan China tidak akan berkelanjutan.

    Seiring dengan itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan keterbukaannya untuk meredakan ketegangan perdagangan antara kedua negara.

    Trump mengindikasikan bahwa tarif final untuk ekspor China ke AS tidak akan mencapai 145 persen, namun, bea masuk itu tidak akan turun menjadi 0 persen.

    Lebih lanjut, Trump juga mengatakan tidak berniat untuk memecat Ketua The Fed Jerome Powell sebelum masa jabatannya berakhir, sehingga mengurangi kekhawatiran investor atas independensi bank sentral.

    Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2025 yang digelar pada Selasa (22/4) dan Rabu (23/4) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 5,75 persen.

    Dari kawasan Eropa, bursa saham juga mencatat penguatan signifikan mencapai level tertinggi dalam hampir tiga pekan terakhir, yang didorong oleh kinerja keuangan positif dari perusahaan perangkat lunak terbesar di Eropa, SAP, serta meredanya ketegangan perdagangan global yang turut mendorong sentimen investor secara keseluruhan.

    Pada perdagangan Rabu (23/4), indeks STOXX 600 pan-Eropa ditutup menguat 1,78 persen ke level 516,77, indeks DAX Jerman melonjak 3,14 persen ke level 21.961,97, indeks FTSE 100 Inggris naik 0,90 persen ke posisi 8.403,18, dan indeks CAC 40 Prancis meningkat 2,13 persen ke level 7.482,36

    Sementara itu, bursa AS Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (23/4), didorong oleh harapan meredanya ketegangan dagang antara AS dan China, serta pernyataan Presiden AS Donald Trump yang meredakan kekhawatiran atas independensi The Fed.

    Indeks Dow Jones Industrial Average naik 1,07 persen, indeks S&P 500 menguat 1,67 persen, dan Nasdaq Composite meningkat 2,50 persen.

    Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 313,04 poin atau 0,90 persen ke 35.181,67, indeks Shanghai menguat 8,31 poin atau 0,25 persen ke 3.304,67, indeks Kuala Lumpur menguat 1,87 poin atau 0,12 persen ke 1.503,06, dan indeks Strait Times menguat 9,52 poin atau 0,25 persen ke 3.841,84.

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Faisal Yunianto
    Copyright © ANTARA 2025

  • Harga Emas Diprediksi Terus Merosot Tajam Hingga Akhir Pekan, Lebih Baik Jual Atau Serok?

    Harga Emas Diprediksi Terus Merosot Tajam Hingga Akhir Pekan, Lebih Baik Jual Atau Serok?

    PIKIRAN RAKYAT – Tren harga emas terus merosot di dua hari ini. pada 23 April 2025 harga beli emas Antam per 1 gram dipatok Rp1.991.000 sedangkan pada 24 April 2025 harga emas Antam ada di harga Rp1.988.000. Melihat grafik yang terus naik turun, para pengamat investasi menilai grafik dengan pola “Head and Shoulders”. Lantas melihat tren ini lebih baik menjual emas atau kembali membeli emas?

    Dengan menganalisa pola yang ada, pola ini menunjukan analisis teknis yang menunjukkan potensi pembalikan tren dari bullish (naik) menjadi bearish (turun). Pola ini terdiri dari tiga puncak: dua “bahu” (shoulders) yang lebih rendah di kedua sisi puncak tengah yang lebih tinggi, yang disebut “kepala” (head).

    Pola Head and Shoulders dianggap sebagai sinyal kuat untuk potensi pembalikan tren karena menunjukkan bahwa momentum naik sedang melemah dan tekanan jual sedang meningkat. Pola ini umumnya digunakan untuk memperkirakan pembalikan tren bearish setelah tren bullish yang kuat. 

    Penurunan harga emas pun diprediksi karena lonjakan beberapa minggu ini yang signifikan. Rilis data dari New Home Sales Amerika Serikat, tercatat lonjakan sebesar 7,2 persen, jauh melampaui ekspetasi 0,2 persen dan data sebelumnya 1,8 persen. Meski saat ini tren harga emas anjlok, namun para ekonom melihat harga emas tidak akan menyentuh harga Rp1,5 juta dan diperkirakan kembali naik di pengunjung tahun 2025.

    Harga emas yang dinilai naik turun ini juga dipengaruhi oleh keputusan Trump menarik kembali ancaman untuk memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell setelah berhari-hari mengkritik keras kepala bank sentral tersebut karena tidak memangkas suku bunga.

    Trump juga menyatakan optimisme bahwa kesepakatan perdagangan dengan China dapat ‘secara substansial’ mengurangi tarif.

    Emas yang tidak memberikan imbal hasil, yang dianggap sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian global dan inflasi serta cenderung tumbuh subur dalam lingkungan suku bunga rendah, mencapai rekor tertingginya yang ke-28 pada hari Selasa saat melonjak ke angka $3.500 per ons untuk pertama kalinya.

    Untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif, berikut adalah perbandingan harga emas dari berbagai produsen (Antam dan UBS) yang diperdagangkan melalui platform Galeri24, serta harga langsung dari Antam dan UBS jika tersedia:

    Harga Emas Hari Ini Denominasi Galeri24 Antam UBS 0,5 gram Rp 1.043.000 Rp 1.090.000 Rp 1.091.000 1 gram Rp 1.988.000 Rp 2.075.000 Rp 2.018.000 2 gram Rp 3.917.000 Rp 4.087.000 Rp 4.003.000 3 gram – Rp 6.105.000 – 5 gram Rp 9.719.000 Rp 10.139.000 Rp 9.891.000 10 gram Rp 19.384.000 Rp 20.221.000 Rp 19.677.000 25 gram Rp 48.341.000 Rp 50.420.000 Rp 49.096.000 50 gram Rp 96.605.000 Rp 100.757.000 Rp 97.988.000 100 gram Rp 193.114.000 Rp 201.432.000 Rp 195.900.000 250 gram Rp 482.545.000 Rp 503.302.000 Rp 489.604.000 500 gram Rp 964.615.000 Rp 1.006.385.000 Rp 978.055.000 1.000 gram Rp 1.929.228.000 Rp 2.012.728.000 –

    Perbedaan harga ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk biaya produksi, kebijakan margin keuntungan, dan permintaan pasar terhadap produk masing-masing entitas.

    Menjual Emas di Saat Harga Tinggi

    Keuntungan

    Keuntungan Maksimal: Jika Anda membeli emas saat harganya masih rendah, menjualnya saat harga tinggi tentu akan memberi keuntungan besar. Uang Tunai Langsung: Hasil penjualan bisa langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat, investasi lain, atau membayar utang. Tidak Ada Beban Bunga atau Biaya Tambahan: Menjual emas berarti Anda tidak perlu membayar bunga atau biaya administrasi seperti saat menggadaikannya.

    Kekurangan

    Kehilangan Aset: Setelah dijual, Anda tidak lagi memiliki emas tersebut sebagai cadangan kekayaan. Kesempatan Masa Depan Hilang: Jika harga emas terus naik, Anda kehilangan potensi keuntungan di masa depan. Terpengaruh Sentimen Pasar: Harga beli kembali (buyback) sering kali lebih rendah dari harga jual emas di pasaran. Baca Juga: Tips Investasi Emas untuk Pemula, Minim Risiko dan Dijamin Cuan Menggadaikan Emas di Pegadaian

    Keuntungan:

    Emas Tidak Hilang: Gadai bersifat sementara. Jika Anda menebusnya, emas kembali menjadi milik Anda. Cair Cepat: Proses gadai di Pegadaian cepat dan mudah, bisa langsung dapat uang tunai dengan jaminan emas. Nilai Gadai Mengikuti Harga Emas: Ketika harga emas tinggi, jumlah pinjaman yang bisa didapat pun lebih besar. Fleksibel: Bisa menebus sebagian atau memperpanjang masa gadai jika belum mampu membayar lunas.

    Kekurangan:

    Biaya Tambahan: Ada bunga atau biaya sewa modal yang harus dibayar per bulan sesuai nilai pinjaman. Risiko Emas Dilelang: Jika gagal menebus dalam waktu yang ditentukan, emas bisa dilelang dan Anda kehilangan aset. Nilai Pinjaman Tidak 100%: Umumnya Pegadaian hanya memberikan pinjaman sebesar 85–92% dari nilai emas. Mana yang Lebih Menguntungkan?

    Jika Anda benar-benar tidak memerlukan emas tersebut lagi, dan ingin memanfaatkan harga yang sedang tinggi, maka menjual emas bisa menjadi pilihan paling rasional.

    Namun, jika Anda hanya butuh dana cepat tapi masih ingin menyimpan emas sebagai aset jangka panjang, maka menggadaikannya di Pegadaian adalah opsi lebih bijak, dengan catatan Anda mampu menebusnya kembali.

    Apapun pilihan Anda, pertimbangkan kondisi keuangan dan tujuan jangka panjang. Jangan terburu-buru hanya karena harga emas sedang naik. Lebih baik rencanakan dan hitung matang agar emas benar-benar menjadi aset yang menguntungkan, bukan sekadar sumber dana darurat.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • IHSG berpotensi menguat seiring meredanya ketegangan hubungan AS-China

    IHSG ditutup menguat seiring BI tahan suku bunga acuan

    Keputusan kebijakan moneter dalam negeri menjadi perhatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global seiring kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) pasar berharap langkah kebijakan moneter yang diputuskan sebagai upaya menjaga stabil

    Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu sore ditutup menguat seiring Bank Indonesia (BI) menahan tingkat suku bunga acuannya tetap berada pada level 5,75 persen.

    IHSG ditutup menguat 96,11 poin atau 1,47 persen ke posisi 6.634,38. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 14,47 poin atau 1,98 persen ke posisi 744,78.

    “Keputusan kebijakan moneter dalam negeri menjadi perhatian pelaku pasar di tengah ketidakpastian global seiring kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) pasar berharap langkah kebijakan moneter yang diputuskan sebagai upaya menjaga stabilitas rupiah dari tekanan eksternal,” ujar Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus alias Nico di Jakarta, Rabu.

    Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2025 yang digelar pada Selasa (22/4) dan Rabu (23/4) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 5,75 persen.

    Suku bunga deposit facility tetap berada pada level 5 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap berada pada level 6,5 persen.

    Dari mancanegara, pelaku pasar bereaksi pasca komentar Presiden AS Donald Trump yang meredakan kecemasan pasar.

    Trump mengkonfirmasi bahwa tidak berencana untuk menyingkirkan Ketua Fed Jerome Powell, sehingga meredakan kekhawatiran pasar tentang independensi bank sentral dan stabilitas kebijakan. Selain itu, Trump menyatakan bahwa tarif akhir untuk impor China tidak akan setinggi 145 persen.

    Menteri Keuangan AS Bessent menyatakan optimisme tentang penurunan tensi perang dagang antara dua ekonomi terbesar dunia, meskipun Ia memperingatkan bahwa negosiasi dengan China akan menjadi proses yang panjang dan menantang.

    Pelaku pasar memiliki pandangan yang mengisyaratkan bahwa potensi de-eskalasi ketagangan dalam perang dagang AS dan China.

    Dari China, bank sentral mendesak perusahaan-perusahaan milik negara untuk memprioritaskan penggunaan Yuan untuk pembayaran dan penyelesaian dalam operasi luar negeri mereka, sebuah langkah yang dipandang sebagai bagian dari dorongan yang lebih luas untuk mempercepat internasionalisasi mata uang tersebut di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.

    Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor menguat yaitu dipimpin sektor properti yang menguat sebesar 2,5 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing naik sebesar 1,83 persen dan 1,76 persen.

    Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu CINT, NETV, DGNS, INET dan FORU. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni GEMA, MEJA, STTP, CITY dan SOFA.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.286.754 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 21,93 miliar lembar saham senilai Rp13,62 triliun. Sebanyak 412 saham naik 193 saham menurun, dan 201 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei menguat 648,03 poin atau 1,89 persen ke 34,868,63, indeks Shanghai melemah 3,40 poin atau 0,10 persen ke 3.296,36, indeks Kuala Lumpur menguat 14,94 poin atau 1,01 persen ke 1.501,19, dan indeks Strait Times menguat 37,89 poin atau 1,00 persen ke 3.822,30.

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Ahmad Buchori
    Copyright © ANTARA 2025

  • Video: Trump Bantah Ingin Pecat Gubernur The Fed

    Video: Trump Bantah Ingin Pecat Gubernur The Fed

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump, membantah kabar dirinya akan memecat Gubernur The FED, Jerome Powell. Bantahan ini diungkapkan, setelah ia berhari-hari memberi kritik intensif kepada Bank Sentral AS, karena tak kunjung memangkas suku bunga.

    Selengkapnya dalam program Squawk Box CNBC Indonesia (Rabu, 23/04/2025) berikut ini.

  • Harga Minyak Naik Imbas Sanksi Baru AS ke Iran – Page 3

    Harga Minyak Naik Imbas Sanksi Baru AS ke Iran – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Harga minyak naik lebih dari USD 1 per barel pada Selasa, didorong oleh sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran dan penguatan pasar saham global, yang memicu reli pemulihan setelah aksi jual tajam harga minyak pada sesi sebelumnya.

    Dikutipd ari CNBC, Rabu (23/4/2025), harga minyak mentah Brent naik USD 1,18 atau 1,78% menjadi USD 67,44 per barel. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei—yang berakhir pada Selasa—menguat USD 1,23 atau 1,95% ke level USD 64,31.

    Pada hari yang sama, AS mengeluarkan sanksi baru yang menargetkan pengusaha pengapalan gas dan minyak mentah Iran serta jaringan perusahaannya.

    Meskipun pembicaraan antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir Iran mengalami kemajuan akhir pekan lalu, kegagalan mencapai kesepakatan dapat menekan ekspor minyak Iran, di tengah pengetatan sanksi AS, menurut John Kilduff, mitra di Again Capital New York.

    “Jika tidak ada kesepakatan nuklir, AS akan berusaha menekan ekspor minyak Iran hingga nol, dan saat ini tampaknya skenario nol itu semakin mungkin terjadi,” kata Kilduff.

    Pasar Saham Bangkit, Minyak Menguat

    Penguatan pasar saham global—indikasi meningkatnya selera risiko dari investor—juga mendukung kenaikan harga minyak, menurut analis Mizuho, Robert Yawger.

    Saham-saham AS naik pada Selasa karena investor fokus pada laporan laba perusahaan. Sebelumnya, kritik keras Presiden Donald Trump terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, telah menyebabkan aksi jual tajam di pasar pada sesi sebelumnya.

    Harga minyak Brent dan WTI sempat anjlok lebih dari 2% pada Senin akibat kemajuan dalam pembicaraan AS-Iran dan kejatuhan pasar saham. Namun pemulihan pada Selasa menunjukkan bahwa pasar tetap sensitif terhadap dinamika geopolitik dan makroekonomi.

     

  • Harga Emas Terus Cetak Rekor, Konsumen Mulai Jual Perhiasan – Page 3

    Harga Emas Terus Cetak Rekor, Konsumen Mulai Jual Perhiasan – Page 3

    Sebelumnya, harga emas dunia memulai pekan ini dengan lonjakan tajam pada perdagangan hari Senin 21 April 2024 dengan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 3.430 per troy ons sebelum terkoreksi ke kisaran USD 3.419. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar, menyusul komentar kontroversial dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menyerang The Fed.

    Seprti diketahui, pada akhir pekan lalu Presiden Trump menyerang independensi Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dengan menyebut Ketua The Fed, Jerome Powell, sebagai pecundang besar karena lambat dalam menurunkan suku bunga. Pernyataan trump ini menjadi pemicu utama meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.

    Pada perdagangan, Selasa (22/4/2025), harga emas sempat kembali menguat dan menyentuh level tertinggi baru di USD 3.450, mencerminkan respons pasar terhadap tekanan politik yang terus memanas di AS.

    Permintaan bullion meningkat tajam seiring meningkatnya ketidakpercayaan pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed, yang dinilai terlalu berhati-hati dalam merespons tantangan ekonomi saat ini.

    Analisis Dupoin Indonesia Andy Nugraha menjelaskan, kombinasi candlestick yang terbentuk serta posisi indikator Moving Average menunjukkan tren bullish yang semakin solid pada harga emas dunia.

    “Tekanan beli yang kuat masih mendominasi pasar. Jika tren ini berlanjut, maka proyeksi harga emas berpeluang menyentuh target psikologis berikutnya di level $3.500,” ujar Andy dalam keterangan tertulis, Selasa (22/4/2025).

    Namun demikian, Andy juga mengingatkan adanya potensi koreksi teknikal jika harga gagal mempertahankan momentum bullish.

    “Jika terjadi reversal, maka penurunan wajar berpotensi mengarah ke area support terdekat di USD 3.374,” tambahnya.

     

  • Donald Trump Ancam Pecat Jerome Powell Gegara Ogah Pangkas Suku Bunga The Fed – Halaman all

    Donald Trump Ancam Pecat Jerome Powell Gegara Ogah Pangkas Suku Bunga The Fed – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan rencana pemecatan Ketua Bank Sentral Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell.

    Isu ini mencuat setelah seorang Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett, melaporkan bahwa  Trump dan tim sedang mempertimbangkan pemecatan Jerome Powell dari kursi kepemimpinan The Fed.

    “Presiden dan timnya akan terus mempelajari masalah itu,” kata direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, dikutip dari Channel News Asia, Selasa (22/4/2025).

    Adapun pemecatan dilakukan usai Trump secara terbuka mengkritik Powell karena menolak perintah untuk memangkas suku bunga. Trump percaya bahwa penurunan suku bunga dapat merangsang pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan pinjaman dan investasi. 

    Menurutnya suku bunga yang lebih rendah akan membuat biaya untuk meminjam uang menjadi lebih murah, yang diharapkan bisa mendorong konsumen dan perusahaan untuk berbelanja, berinvestasi, dan menciptakan lapangan kerja.

    Trump juga berpendapat bahwa suku bunga yang rendah dapat mendorong investor untuk berinvestasi di saham, yang pada gilirannya dapat meningkatkan nilai pasar saham dan menjaga daya saing ekonomi AS di tengah ketidakpastian global.

    Namun bagi pejabat Fed, hal itu berisiko memperburuk inflasi. Bos The Fed, Jerome Powell menegaskan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga acuan.

    Ia menjelaskan tugasnya sebagai Ketua The Fed yakni menjaga independensi bank sentral berlandaskan pada data ekonomi, bukan tekanan politik.

     “Kewajiban kita adalah menjaga ekspektasi inflasi jangka panjang agar tetap terjaga dan memastikan bahwa kenaikan harga satu kali tidak menjadi masalah inflasi yang berkelanjutan,” katanya di Chicago minggu lalu, mengutip dari The Guardian.

    “Kami akan melakukan apa yang kami lakukan dengan ketat tanpa mempertimbangkan faktor politik atau faktor eksternal lainnya,” imbuhnya.

    Komentar inilah yang membuat Trump mengancam ingin melengserkan Powell dari kursi The Fed, lantaran kekuasan Powel membuat Trump tidak bisa langsung mengendalikan kebijakan bank sentral AS sesuai arah kebijakannya.

    Bisakah Trump Memecat Bos The Fed?

    Secara hukum, presiden tidak dapat secara langsung memecat Ketua Federal Reserve (The Fed), hanya karena perbedaan pendapat soal kebijakan ekonomi, meski Ketua The Fed ditunjuk oleh presiden dan dikonfirmasi oleh Senat untuk masa jabatan 4 tahun.

    Adapun pemecatan hanya bisa dilakukan apabila bos The Fed dianggap melakukan pelanggaran hukum, penyalahgunaan kekuasaan, atau ketidakmampuan menjalankan tugas.

    Kendati begitu Presiden memiliki kewenangan untuk tidak memperpanjang masa jabatan Ketua ketika masa jabatan tersebut berakhir, dalam kasus Powell, pada 2026.

    Imbas konflik panas ini, Indeks utama saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, ditutup melemah pada perdagangan Senin (21/4/2025).

    Mengutip Reuters bursa Dow Jones (.DJI) tercatat turun 2,48 persen menjadi 38.170.

    Disusul penurunan bursa S&P 500 (.SPX) turun 2,36 persen menjadi 5.158 dan Nasdaq Composite (.IXIC) turun 2,55 persen menjadi 15.870.

     

  • Wall Street Menghijau, Ada Efek Komentar Menkeu AS soal Perang Dagang dengan China

    Wall Street Menghijau, Ada Efek Komentar Menkeu AS soal Perang Dagang dengan China

    Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street bangkit kembali pada Selasa (22/4/2025) didorong serangkaian laporan laba kuartalan dan sinyal tentang meredanya ketegangan perdagangan AS-China yang menarik minat investor.

    Melansir Reuters pada Rabu (23/4/2025), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 1.016,57 poin, atau 2,66%, menjadi 39.186,98. Kemudian, indeks S&P 500 naik 129,56 poin atau 2,51%, menjadi 5.287,76 dan Nasdaq Composite juga ditutup naik 429,52 poin, atau 2,71%, menjadi 16.300,42.

    Semua 11 sektor utama dalam S&P 500 naik, dengan sektor keuangan dan barang konsumsi mengalami persentase kenaikan terbesar.

    Reli mendorong ketiga indeks utama AS menguat lebih dari 2,5% karena investor mengabaikan serangan Trump terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang secara luas dianggap sebagai kekuatan penstabil bagi pasar.

    Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari, ketika ditanya tentang serangan Trump terhadap Powell, mengatakan independensi Fed adalah dasar untuk hasil ekonomi yang lebih baik.

    Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa meskipun negosiasi perdagangan dengan Beijing kemungkinan akan berjalan lambat, dia yakin bahwa akan ada penurunan ketegangan perdagangan AS-China.

    “Pergolakan terus berlanjut sebagian agresi antara AS dan China mencair, berkat komentar Bessent, yang membantu mendorong keadaan menjadi lebih baik,” kata Ryan Detrick, kepala strategi pasar di Carson Group di Omaha.

    Dia menambahkan Washington memahami bahwa ketidakpastian seputar tarif merugikan pasar dan diharapkan bisa mendapatkan beberapa jenis berita positif di bidang perdagangan.

    Ketidakpastian tersebut mendorong Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memangkas perkiraannya terhadap pertumbuhan ekonomi AS menjadi 1,8% pada tahun 2025, dengan alasan dampak tarif AS, yang sekarang mencapai titik tertinggi dalam 100 tahun.

    Adapun, musim laporan keuangan perusahaan pada kuartal I/2025 mulai memanas. Sejauh ini, 82 perusahaan di S&P 500 telah melaporkan kinerjanya. Dari jumlah tersebut, 73% telah melampaui ekspektasi, menurut LSEG.

    Analis kini memperkirakan pertumbuhan laba agregat S&P 500 sebesar 8,1% untuk periode Januari – Maret, turun dari perkiraan pertumbuhan 12,2% di awal kuartal, menurut LSEG.

    “Laba saat ini menunjukkan kelanjutan fundamental yang baik, yang tidak mengejutkan,” kata Bill Merz, kepala Riset Pasar Modal di U.S. Bank Wealth Management, Minneapolis.

    Merz menambahkan, investor sedang mengkaji panduan perusahaan untuk kejelasan tentang apa yang direncanakan perusahaan untuk menanggapi kebijakan tarif.

  • Dolar Anjlok ke Level Terendah dalam 3 Tahun Usai Trump Sebut Kepala Bank Sentral AS Pecundang Besar – Halaman all

    Dolar Anjlok ke Level Terendah dalam 3 Tahun Usai Trump Sebut Kepala Bank Sentral AS Pecundang Besar – Halaman all

    Dolar Anjlok ke Level Terendah dalam 3 Tahun Usai Trump Sebut Kepala Bank Sentral AS “Pecundang Besar”

    TRIBUNNEWS.COM – Pasar keuangan global sedang terpuruk karena dolar Amerika Serikat (AS) anjlok ke titik terendah dalam tiga tahun dan harga emas melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya, USD 3.500 per ons.

    Kekacauan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump semakin gencar mengkritik Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang ia sebut sebagai “pecundang besar” karena tidak menurunkan suku bunga.

    Meningkatnya Ketegangan Guncang Kepercayaan Investor

    Dalam serangkaian unggahan di platform Truth Social miliknya, Presiden Trump menuntut pemotongan suku bunga segera, dengan peringatan akan potensi perlambatan ekonomi. 

    Ia menuduh Powell secara konsisten “terlambat” dalam menanggapi perkembangan ekonomi.

    Trump menyatakan kalau  pemecatan Powell “tidak akan terjadi cukup cepat”.

    Pernyataan Trump ini menjadi bumerang karena justru meningkatkan kekhawatiran atas independensi Federal Reserve, landasan kebijakan ekonomi AS. 

    Investor khawatir, campur tangan politik dapat merusak kemampuan bank sentral untuk mengelola inflasi dan lapangan kerja secara efektif.

    NILAI TUKAR RUPIAH – Petugas menunjukan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta Pusat, Senin, (8/4/2025). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada hari ini dibuka pada posisi Rp 16.850 per Dolar AS atau melemah 1,78 persen. Usai libur Lebaran Idulfitri 1446 H. Ambrolnya rupiah ini disebabkan oleh sejumlah sentimen yang datang dari global, utamanya kebijakan tarif Donald Trump. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/Jeprima)

    Kekacauan Pasar Cerminkan Meningkatnya Ketidakpastian

    Pernyataan Trump tersebut telah memicu aksi jual besar-besaran di pasar keuangan AS.

    Pasar-pasar saham utama macam S&P 500 turun 2,4 persen, Dow Jones Industrial Average turun 2,5 persen, dan Nasdaq Composite turun 2,6 persen pada Senin.

    Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, turun ke level terendah sejak 2022.​

    Emas, yang secara tradisional dianggap sebagai aset safe haven selama masa ketidakpastian, melonjak ke rekor tertinggi USD 3.500 per ons.

    Analis mengaitkan kenaikan tersebut dengan kekhawatiran investor atas independensi Fed dan potensi peningkatan inflasi akibat tekanan politik.

    Implikasi dan Tanggapan Global

    Volatilitas pasar tidak terbatas di Amerika Serikat. Pasar saham Eropa dibuka melemah pada hari Selasa, dengan DAX Jerman dan CAC 40 Prancis turun sekitar 0,5 persen.

    Poundsterling Inggris mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan terhadap dolar, yang mencerminkan melemahnya dolar AS.

    Para pemimpin dan ekonom internasional telah menyatakan kekhawatiran atas potensi terkikisnya status dolar sebagai mata uang cadangan dunia.

    Situasi ini telah memicu diskusi di antara para bankir sentral dan menteri keuangan pada pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional di Washington, DC, di mana seruan untuk mempertahankan independensi bank sentral telah meningkat.

    Federal Reserve dijadwalkan mengadakan pertemuan kebijakan berikutnya pada bulan Mei. 

    Meskipun Powell telah menekankan pentingnya keputusan berdasarkan data.

    Dia menyatakan kalau tekanan politik yang meningkat menambah kompleksitas pada pertimbangan bank sentral.

    “Saat pasar terus menghadapi dampak dari pernyataan Trump, investor memantau dengan saksama perkembangan untuk mencari tanda-tanda stabilitas atau gangguan lebih lanjut dalam lanskap keuangan global,” kata ulasan RNTV.