Tag: Jerome Powell

  • The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Tapi Beri Sinyal Jalan Berat ke Depan

    The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Tapi Beri Sinyal Jalan Berat ke Depan

    Keputusan The Fed kali ini juga terjadi dalam situasi politik yang sensitif. Jerome Powell mendekati akhir masa jabatan keduanya sebagai ketua The Fed, dengan hanya tiga pertemuan tersisa sebelum ia digantikan.

    Presiden Donald Trump menegaskan bahwa ia akan memilih ketua The Fed berikutnya berdasarkan preferensi terhadap suku bunga rendah.Pasar prediksi menyebut Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional, sebagai kandidat terkuat dengan peluang 72%.

    Beberapa pelaku pasar khawatir bahwa ketua The Fed pilihan Trump berpotensi lebih mengikuti tekanan politik ketimbang memegang teguh mandat independensi bank sentral.

    Situasi semakin rumit karena banyak data ekonomi resmi terlambat atau hilang akibat shutdown pemerintah AS selama enam minggu. The Fed harus mengambil keputusan dengan data yang terbatas, membuat analisis mereka menjadi jauh lebih sulit.

    Data yang tersedia menunjukkan pasar tenaga kerja melemah, dengan perusahaan enggan merekrut maupun melakukan PHK besar-besaran. Namun data nonresmi menunjukkan tren pengurangan tenaga kerja yang meningkat, dengan pengumuman PHK mencapai lebih dari 1,1 juta hingga November.

    Dengan tekanan politik, inflasi yang belum jinak, dan data ekonomi yang tidak lengkap, The Fed menghadapi periode paling menantang dalam beberapa tahun terakhir. Sikap hati-hati akan terus menjadi kunci dalam beberapa bulan ke depan, sementara pasar menunggu kepastian arah kebijakan moneter selanjutnya.

  • Dinamika Pasar dan Faktor Penentu Fluktuasi

    Dinamika Pasar dan Faktor Penentu Fluktuasi

    Harga emas sedikit turun pada hari Kamis (Jumat waktu Jakarta). Penurunan harga emas dunia ini karena para pedagang mencermati hasil pemungutan suara yang terpecah di Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) mengenai pemotongan suku bunga seperempat poin persentase. Sementara harga perak naik ke rekor tertinggi baru.

    Dikutip dari CNBC, Jumat (12/12/2025), harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi USD 4.216,49 per ons. Sedangkan harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari naik 0,5% menjadi USD 4.244,40 per ons.

    “Ini hanyalah kelebihan posisi (pada emas) sebagai antisipasi penurunan suku bunga, yang memang terjadi, dan oleh karena itu Anda melihat beberapa tekanan jual,” kata Analis Independen Ross Norman.

    The Fed memangkas suku bunga sebesar seperempat poin persentase pada hari Rabu dalam pemungutan suara yang jarang terjadi dengan hasil yang terpecah, tetapi mengisyaratkan jeda pada pelonggaran lebih lanjut karena para pejabat melihat ke depan untuk menilai arah pasar kerja dan inflasi yang “masih agak tinggi.”

    Suku bunga yang lebih rendah biasanya menguntungkan aset yang tidak menghasilkan imbal hasil seperti emas.

    Proyeksi yang dikeluarkan setelah pertemuan The Fed dua hari tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan hanya memperkirakan satu kali penurunan suku bunga pada tahun 2026. Ketua Fed Jerome Powell tidak memberikan indikasi kapan penurunan suku bunga berikutnya mungkin terjadi.

     

  • 24 Karat Sentuh Level Segini

    24 Karat Sentuh Level Segini

    Liputan6.com, Jakarta – Harga emas berbalik arah dan menguat pada perdagangan Rabu, 10 Desember 2025. Kenaikan harga emas dunia ini terjadi setelah the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga meskipun ketidakpastian mengenai prospek kebijakan suku 2026 tetap ada. Sementara itu, harga perak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Lalu bagaimana pergerakan harga emas perhiasan di pasar domestik?

    Mengutip CNBC, Kamis (11/12/2025), harga emas di pasar spot naik 0,7% menjadi USD 4.236,57 per ounce. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari melemah 0,3% ke posisi USD 4.224,70.

    The Fed memangkas suku bunga dalam pemungutan suara yang terpecah, tetapi memberi sinyal kemungkinan akan menunda pengurangan lebih lanjut dalam biaya pinjaman karena para pejabat mencari sinyal yang lebih jelas tentang arah pasar kerja dan inflasi.

    “Para pedagang emas menyukai hasil hari ini, harga emas diperdagangkan pada level tertinggi hari ini setelah melewati aksi ambil untung,” kata Seorang pedagang logam independen, Tai Wong.

    Suku bunga yang lebih rendah meningkatkan daya tarik aset non-imbal hasil bagi investor.

    Mayoritas bank sentral AS percaya perlu memangkas suku bunga jangka pendek tahun depan, tetapi terpecah secara luas mengenai seberapa besar pemangkasan tersebut. Sebagian besar kelompok menentang pemotongan suku bunga sama sekali, sementara tiga orang memperkirakan kenaikan suku bunga.

    Sementara itu, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan kebijakan suku bunga bank sentral berada pada posisi yang baik untuk merespons apa yang akan terjadi pada perekonomian di masa mendatang, dan menolak memberikan petunjuk lebih lanjut apakah pemotongan suku bunga lain akan terjadi dalam waktu dekat.

    “Powell telah bermain-main dengan situasi, membujuk pemotongan suku bunga lain dari komite yang terpecah dengan hanya tiga suara yang menentang, dan pasar utama menguat setelah konferensi persnya. Masih belum jelas apakah emas dapat mencapai level tertinggi baru lagi,” Wong menambahkan.

    Seiring sentimen harga emas dunia usai the Fed pangkas suku bunga acuan, bagaimana harga emas perhiasan di Raja Emas dan Laku Emas Kamis, (11/12/2025)?

  • Kurs Dolar AS Lesu Usai The Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Perkasa ke Level Ini

    Kurs Dolar AS Lesu Usai The Fed Pangkas Suku Bunga, Rupiah Perkasa ke Level Ini

    Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Kamis, (11/12/2025). Penguatan rupiah terhadap kurs dolar AS usai bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) memangkas suku bunga acuan.

    Mengutip Antara, rupiah dibuka naik 25 poin atau 0,15% menjadi 16.663 per dolar AS dari sebelumnya 16.688 per dolar AS. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menuturkan, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dipicu pemangkasan suku bunga the Fed.

    “Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat terbatas di kisaran 16.640-16.690, dipengaruhi oleh sentimen global pemotongan bunga the Fed,” kata dia seperti dikutip dari Antara.

    Mengutip Anadolu, Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 3,5-3,75 persen, seperti yang diperkirakan secara luas.

    Hal ini menandai pemangkasan suku bunga ketiga dan terakhir tahun 2025, karena The Fed telah mempertahankan suku bunga tak berubah dalam lima pertemuan sebelumnya sebelum memangkas pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada September.

    Fed mengatakan data yang tersedia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi AS telah berkembang dengan kecepatan moderat.

    Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa peningkatan lapangan kerja telah melambat tahun ini, tingkat pengangguran sedikit meningkat hingga September, hingga inflasi telah meningkat sejak awal tahun.

    Keputusan pemangkasan suku bunga diharapkan dapat mencapai tingkat lapangan kerja maksimum dan inflasi pada angka 2 persen dalam jangka panjang.

    Akan tetapi, penguatan rupiah dinilai dapat tertahan oleh sentimen negatif dari kondisi ekonomi domestik, seperti penanganan banjir Sumatera.

    “Hal tersebut terlihat dari minat asing pada lelang SUN Selasa, 9 Desember 2025, yang turun (45,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya). Selain itu juga pelaku pasar masih berhati-hati terhadap data ekonomi AS yang akan rilis ke depan,” kata Rully.

     

  • Poin-Poin Penting Putusan Suku Bunga The Fed Desember 2025

    Poin-Poin Penting Putusan Suku Bunga The Fed Desember 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) resmi memangkas suku bunga acuan sebesar 0,25% ke level 3,50%—3,75% pada Rabu (10/12/2025) waktu setempat.

    Dilansir dari Reuters, pejabat The Fed melakukan pemotongan suku bunga (fed fund rate/FFR) untuk ketiga kalinya secara berturut-turut pada tahun ini.

    Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan dengan suara 9 banding 3 untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran target 3,5%—3,75%. Posisi itu menjadi yang terendah sejak Oktober 2022.

    “Meskipun data penting dari pemerintah federal untuk beberapa bulan terakhir belum dirilis, data yang tersedia dari sektor publik dan swasta menunjukkan bahwa prospek untuk lapangan kerja dan inflasi belum banyak berubah sejak pertemuan kami pada bulan Oktober,” ujar Ketua The Fed Jerome Powell dalam konferensi pers, Kamis (11/12/2025) dini hari waktu Indonesia.

    Perbedaan Pandangan

    Perbedaan pandangan (dissent) kembali mencuat di internal Federal Reserve setelah tiga pejabat menyatakan hal tersebut dalam keputusan rapat kebijakan terbaru. Perpecahan tersebut mencerminkan perbedaan penilaian mengenai apakah pelemahan pasar tenaga kerja atau inflasi yang masih membandel menjadi risiko terbesar bagi perekonomian Amerika Serikat.

    Dalam pernyataan Oktober 2025 lalu, FOMC menyebutkan faktor-faktor yang akan dipertimbangkan dalam menilai penyesuaian tambahan atas suku bunga acuan. Namun, pada pernyataan Rabu (10/12/2025) ini, FOMC kembali menggunakan redaksi yang pertama kali dipakai Desember 2024, tepat sebelum jeda pemangkasan suku bunga, yakni mempertimbangkan sejauh mana dan waktu penyesuaian kebijakan selanjutnya.

    Keputusan tersebut menjadi yang pertama sejak 2019 ketika tiga pejabat memilih untuk tidak sejalan dengan keputusan mayoritas, dengan penolakan datang dari dua arah berbeda dalam spektrum kebijakan moneter.

    Dua presiden Fed regional, yakni Austan Goolsbee dari Chicago dan Jeff Schmid dari Kansas City, menolak keputusan pemangkasan dan memilih mempertahankan suku bunga.

    Di sisi lain, Gubernur The Fed Stephen Miran, yang ditunjuk Presiden Donald Trump pada September 2025 lalu, kembali menyatakan dissent karena menginginkan pemangkasan lebih besar, yakni 50 basis poin.

    Proyeksi 2026

    Dalam proyeksi terbaru yang dirilis usai pertemuan FOMC, median pembuat kebijakan hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026—tidak berubah dari proyeksi September 2025.

    Sementara itu, Inflasi diproyeksikan melandai ke sekitar 2,4% pada akhir 2026, seiring pertumbuhan ekonomi AS diprediksi menguat di atas tren menjadi 2,3%, sementara tingkat pengangguran bertahan moderat di kisaran 4,4%.

    “Dalam mempertimbangkan besaran dan waktu penyesuaian lanjutan atas target suku bunga federal funds, Komite akan menilai secara cermat seluruh data yang masuk,” tulis FOMC dalam pernyataan resminya.

    Secara umum, proyeksi Fed terbilang optimistis. Meski suku bunga diperkirakan bertahan lebih tinggi daripada ekspektasi sebelumnya, perekonomian AS diproyeksikan tumbuh lebih cepat sementara inflasi menurun dan tingkat pengangguran sedikit membaik.

    Namun, pernyataan kebijakan dan proyeksi terbaru ini disusun tanpa didukung laporan tenaga kerja dan inflasi terkini. The Fed mengandalkan indikator yang tersedia, termasuk survei internal, masukan dari komunitas, serta data swasta.

    Data resmi terakhir pada September menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3%. Sementara itu, indikator inflasi pilihan Fed naik tipis dari 2,7% menjadi 2,8%, masih berada di atas target 2%. Inflasi tercatat meningkat konsisten sejak April, dari 2,3%, yang sebagian dikaitkan dengan naiknya tarif impor yang dibebankan kepada konsumen.

    Dalam pernyataan kebijakan, The Fed menyebut aktivitas ekonomi terus tumbuh dengan laju moderat. Namun, pertumbuhan lapangan kerja melambat sepanjang tahun ini, sementara tingkat pengangguran cenderung meningkat hingga September, tanpa lagi menyebut kondisi pengangguran sebagai rendah.

    Proyeksi terbaru menunjukkan enam pembuat kebijakan memilih tidak memangkas suku bunga pada tahun ini, sementara tujuh lainnya memperkirakan tidak ada pemangkasan tambahan pada 2026.

    Median proyeksi juga memasukkan satu kali pemangkasan suku bunga tambahan sebesar 25 basis poin pada 2027, seiring inflasi terus bergerak mendekati target 2% bank sentral.

    Kritik Donald Trump terhadap The Fed

    Keputusan The Fed untuk memangkas suku bunga kembali mengundang komentar dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dia menyebut pemangkasan sebesar 25 basis poin sebagai langkah yang terlalu kecil dan seharusnya bisa digandakan, setidaknya dua kali lipat.

    Dia juga melontarkan kritik tajam terhadap Powell dengan menyebutnya kaku dan tak bernyawa dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu waktu setempat.

    “Kita perlu cara berpikir yang benar. Ketika sebuah negara sedang berkinerja baik, Anda tidak boleh membunuh pertumbuhan. Tapi itulah yang sedang mereka lakukan—membunuh pertumbuhan,” ujar Trump.

    Selama masa jabatan keduanya, Trump semakin terbuka menunjukkan keinginannya untuk mengendalikan arah kebijakan bank sentral. Dia secara rutin mengungkapkan kekecewaan karena The Fed, di bawah kepemimpinan Powell, dinilai tidak cukup agresif dalam memangkas biaya pinjaman.

    Trump juga tengah mencari sosok baru untuk memimpin bank sentral AS. Dia mengindikasikan mengharapkan figur yang bersedia mendorong penurunan suku bunga lebih dalam. Proses pencarian tersebut dikabarkan telah memasuki tahap akhir.

    “Kami melihat beberapa kandidat, dan saya sudah punya gambaran cukup jelas siapa yang saya inginkan,” kata Trump kepada wartawan belum lama ini.

    Direktur National Economic Council Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menduduki posisi Ketua The Fed. Trump beberapa kali memberi sinyal mengarah ke nama tersebut. Namun demikian, Trump dikenal kerap membuat keputusan personalia yang mengejutkan, sehingga keputusan final masih menunggu pengumuman resmi. (M. Nurhadi Pratomo)

  • Emas Melemah, Harga Perak Dunia Malah Dekati Level Tertinggi

    Emas Melemah, Harga Perak Dunia Malah Dekati Level Tertinggi

    London, Beritasatu.com – Harga perak kembali melonjak hari ini seiring dengan pelemahan harga emas dunia. Harga perak pun masih bertahan di atas level US$ 60 per ons.

    Perak spot naik 0,6% ke level US$ 61 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 61,61 pada sesi perdagangan.

    Kenaikan ini didorong oleh peningkatan permintaan industri, penurunan stok, serta penetapan perak sebagai mineral kritis oleh pemerintah Amerika Serikat. Sepanjang tahun ini, harga perak telah melonjak 112%.

    “Perak menembus level US$ 60 per ons, menarik lebih banyak spekulan jangka pendek dan pengikut tren ke pasar. Ini juga mencerminkan narasi kelangkaan fisik di pasar perak,” ujar analis Julius Baer, Carsten Menke, seperti dilansir dari Reuters.

    Sementara ahli strategi komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, mengatakan dalam beberapa pekan terakhir, permintaan emas dari investor yang diukur melalui kepemilikan produk berbasis fisik tidak sekuat perak. “Kami melihat ini sebagai faktor utama yang menahan kenaikan harga emas,” jelas Nitesh.

    Sekadar informasi, harga emas spot turun 0,3% ke level US$ 4.197,91 per ons. Kontrak futures emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari turun tipis 0,2% ke level US$ 4.226,40 per ons.

    Para pelaku pasar menunggu Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga, sementara Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan memberikan pernyataan.

  • Update Harga Emas Global Hari Ini Turun ke US$ 4.197

    Update Harga Emas Global Hari Ini Turun ke US$ 4.197

    London, Beritasatu.com – Harga emas dunia melemah pada Rabu (10/12/2025) seiring investor menantikan keputusan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve Amerika Serikat (AS).

    Harga emas spot turun 0,3% ke level US$ 4.197,91 per ons. Kontrak futures emas Amerika Serikat untuk pengiriman Februari turun tipis 0,2% ke level US$ 4.226,40 per ons.

    Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga, sementara Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan memberikan pernyataan.

    Pasar memperkirakan peluang sebesar 88% untuk pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin.

    “Emas saat ini bergerak dalam rentang terbatas hingga kami mendapatkan berita dari FOMC. Yang akan menggerakkan emas bukan semata pivot pemangkasan suku bunga, melainkan panduan kebijakan ke depan,” kata ahli strategi komoditas WisdomTree, Nitesh Shah, seperti dilansir dari Reuters.

    Dia menambahkan, imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi sedang menekan harga emas. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun tercatat naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan terakhir.

    Penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett, yang disebut sebagai kandidat terdepan pengganti Powell, menyatakan masih terdapat “ruang yang luas” untuk memangkas suku bunga lebih lanjut, meskipun kenaikan inflasi dapat mengubah perhitungan tersebut.

    Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan aset tanpa imbal hasil seperti emas.

    RBC Capital Markets menaikkan proyeksi jangka panjang harga emas menjadi rata-rata US$ 4.600 per ons pada 2026 dan US$ 5.100 per ons pada 2027, dengan pertimbangan risiko geopolitik, kebijakan moneter yang lebih longgar, serta defisit anggaran yang persisten.

    Pada sisi lain, harga platinum turun 1,7% ke level US$ 1.661,70 per ons, sementara palladium melemah 1,3% ke level US$ 1.487,11 per ons.

  • Harga Emas Dunia Diramal Tembus USD 4.400, Simak Pendorongnya

    Harga Emas Dunia Diramal Tembus USD 4.400, Simak Pendorongnya

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas dunia kembali menguat hingga menyentuh level USD 4.400 pada akhir tahun, di tengah meningkatnya ketidakpastian politik Amerika Serikat dan spekulasi pergantian Ketua Federal Reserve (The Fed).

    Ibrahim menilai kondisi tersebut mendorong investor global kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai.

    “Kalau saya lihat per hari ini ada kemungkinan besar bahwa harga emas dunia di akhir tahun ya di bulan Desember ini kemungkinan besar adalah di USD 4.400,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).

    Dalam perdagangan akhir pekan lalu, harga emas dunia ditutup di level USD 4.196, meski sebelumnya sempat melonjak hingga USD 4.372 sebelum terkoreksi. Pergerakan tajam ini menunjukkan pasar masih sangat rentan terhadap sentimen global, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat.

    Ibrahim mengatakan volatilitas tersebut bukan semata dipicu oleh faktor teknikal, melainkan oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ke depan.

    Salah satu sentimen terkuat yang memengaruhi pergerakan emas adalah spekulasi pergantian pimpinan The Fed setelah Jerome Powell. Ketidakjelasan mengenai siapa yang akan menggantikan Powell dinilai menambah kecemasan di pasar keuangan.

    Nama Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih dan pendukung kuat Presiden Donald Trump, disebut sebagai kandidat kuat. Jika terealisasi, penunjukan tersebut dinilai berpotensi mengubah arah kebijakan moneter AS secara signifikan.

    “Salah satu penyebabnya adalah tentang spekulasi tentang pergantian kepemimpinan The Fed. Ya ini yang larinya itu adalah perpolitikan di Amerika yang terus memanas. Di mana Trump kemungkinan besar akan menunjuk Kevin Hassett,” ujarnya.

     

  • Harga Emas Antam 9 Desember 2025 Turun Rp 6.000, Cek Rinciannya di Sini!

    Harga Emas Antam 9 Desember 2025 Turun Rp 6.000, Cek Rinciannya di Sini!

    Harga emas dunia bergerak melemah pada perdagangan Senin. Investor memilih berhati-hati menjelang pertemuan kebijakan dua hari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Selain itu, pelaku pasar juga menanti pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang dinilai akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.

    Dikutip dari CNBC, Selasa (9/12/2025), harga emas di pasar spot turun 0,2 persen menjadi USD 4.189,49 per ons pada pukul 13.50 waktu New York. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup turun 0,6 persen ke USD 4.217,7 per ons.

    “Pasar sedang menunggu keputusan The Fed dan panduan lebih lanjut soal kebijakan,” ujar Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant.

    Menurut Grant, emas tetap menarik karena fundamentalnya kuat dan bank sentral global masih terus melakukan pembelian. Ia menambahkan, pergerakan harga emas menuju USD 5.000 per ons pada kuartal pertama 2026 masih mungkin terjadi.

    Pasar memperkirakan kemungkinan besar The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Probabilitasnya mencapai 90 persen, naik dari 66 persen pada November.

    FOMC akan mengumumkan keputusan terakhir mereka tahun ini pada Rabu waktu setempat, diikuti konferensi pers oleh jerome Powell.

    Suku bunga yang lebih rendah umumnya membuat emas—yang tidak memberikan imbal hasil—menjadi lebih menarik bagi investor.

  • Mengenal Kevin Hassett, Calon Kuat Ketua The Fed

    Mengenal Kevin Hassett, Calon Kuat Ketua The Fed

    Jakarta, Beritasatu.com – Kevin Hassett, ekonom senior yang kini menjabat sebagai kepala dewan ekonomi nasional Amerika Serikat (AS), disebut-sebut sebagai calon terkuat ketua federal reserve (The Fed) berikutnya menggantikan Jerome Powell.

    Dikutip dari DLNews, Minggu (7/12/2025), Presiden AS Donald Trump juga menyatakan ia telah memilih kandidatnya itu dan berencana mengumumkannya pada awal tahun depan. Trump bahkan menyebut Hassett sebagai calon potensial Ketua The Fed. Pasar prediksi Kalshi memberikan peluang 74% bagi Hassett untuk menduduki posisi tersebut, jauh di atas pesaingnya, Kevin Warsh.

    Apabila benar terpilih, Hassett akan menjadi ketua The Fed yang dinilai paling selaras secara politik dengan presiden dalam era modern, sebuah perubahan besar bagi lembaga yang selama ini dikenal independen dari tekanan politik.

    Hassett telah menegaskan kesiapannya menjabat. Saat ditanya Fox Business apakah ia akan menerima posisi tersebut, ia menjawab: “Ya, saya melayani presiden. Itu yang saya lakukan.”

    Dikenal Pro Penurunan Suku Bunga Besar

    Kebijakan Hassett menjadi sorotan karena ia termasuk sedikit ekonom yang mendukung penurunan suku bunga yang lebih cepat dan lebih agresif, sejalan dengan tuntutan Trump selama beberapa bulan terakhir. Sikap ini dapat membawa perubahan besar karena pasar kripto dan saham teknologi sangat sensitif terhadap kebijakan likuiditas.

    The Fed secara tradisional memiliki mandat ganda, yakni menjaga stabilitas harga dan memastikan tingkat pekerjaan maksimal. Namun,  The Fed yang lebih dovish di bawah Hassett berpotensi meningkatkan suntikan likuiditas ke pasar, mendorong kenaikan aset berisiko, sekaligus memunculkan kekhawatiran inflasi.

    Masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei 2026, dan masa kepemimpinannya selama ini kerap diwarnai ketegangan dengan Trump terkait kebijakan suku bunga.

    Penasihat Terdekat Trump

    Hassett merupakan penasihat ekonomi paling lama yang masih bekerja di pemerintahan Trump. Ia memimpin dewan ekonomi nasional dan menjadi arsitek kebijakan perdagangan, tarif, hingga moneter presiden.

    Di masa jabatan pertama Trump, Hassett memimpin dewan penasihat ekonomi dan kembali dipanggil saat pandemi sebagai penasihat krisis. Ia dikenal memiliki kemampuan unik dalam menerjemahkan cara komunikasi Trump.

    Selain kedekatannya dengan presiden, Hassett juga memiliki latar akademik dan profesional yang kuat. Ia pernah bekerja di American Enterprise Institute selama dua dekade, menjadi penasihat kampanye Partai Republik, serta mengajar di Columbia Business School dan bekerja di divisi riset The Fed.

    Menteri Keuangan Scott Bessent dikabarkan telah menyelesaikan proses wawancara dan segera memberikan rekomendasinya. Trump diperkirakan akan mengumumkan pilihannya pada awal 2026.