Tag: Jerome Powell

  • Wall Street Ditutup Melemah Terkena Sentimen Calon Bos The Fed Pilihan Trump

    Wall Street Ditutup Melemah Terkena Sentimen Calon Bos The Fed Pilihan Trump

    Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Amerika Serikat (AS) ditutup terkoreksi pada perdagangan Kamis (7/8/2025) waktu setempat di tengah kabar mencuatnya nama Christopher Waller sebagai kandidat utama Presiden Donald Trump untuk ketua baru The Fed untuk menggantikan Jerome Powell.

    Melansir Reuters pada Jumat (8/8/2025), indeks S&P 500 turun 4,19 poin atau 0,07% ke level 6.340,87, sementara Nasdaq Composite naik 74,50 poin atau 0,35% ke level 21.243,92. Adapun Dow Jones Industrial Average melemah 218,80 poin atau 0,50% ke posisi 43.974,32.

    Sebelumnya, indeks S&P 500 dan Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi beruntun. 

    Pelaku pasar mencerna laporan Bloomberg yang menyebutkan bahwa Gubernur The Fed Christopher Waller menjadi kandidat utama Presiden AS Donald Trump untuk menjabat sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya.

    Trump selama ini dikenal sebagai pengkritik keras Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, karena menunda penurunan suku bunga acuan. Banyak investor masih memperkirakan bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga pada September mendatang.

    Koreksi Saham Eli Lily

    Sementara itu, indeks Dow Jones dan S&P 500 ditutup melemah karena koreksi saham Eli Lilly setelah data uji coba obat penurun berat badan oral miliknya mengecewakan. 

    Saham perusahaan keamanan siber Fortinet juga anjlok setelah perusahaan memproyeksikan pendapatan di bawah ekspektasi analis Wall Street.

    Eli Lilly sebenarnya menaikkan proyeksi laba dan penjualan untuk setahun penuh. Namun, sahamnya tetap tergelincir setelah data untuk obat orforglipron tidak memenuhi harapan investor.

    “Kenaikan pasar mulai terlihat kehabisan tenaga. Reli sebelumnya didorong oleh kinerja laporan keuangan, dan pasar nyaris mengabaikan kabar seputar tarif,” ujar Peter Cardillo, Kepala Ekonom Pasar di Spartan Capital Securities, New York.

    Dari sisi kebijakan perdagangan, Presiden Trump secara resmi mengumumkan tarif sekitar 100% atas impor semikonduktor, namun kebijakan ini tidak berlaku bagi perusahaan yang memproduksi di AS atau telah berkomitmen untuk relokasi ke dalam negeri.

    Tarif baru yang berlaku mulai Kamis ini mencakup puluhan negara, dan mendorong rata-rata bea masuk AS ke level tertingginya dalam satu abad terakhir.

    Trump juga diperkirakan akan mengumumkan calon pengganti sementara Gubernur The Fed Adriana Kugler dalam beberapa hari ke depan. Nama yang disebut-sebut akan dipilih merupakan sosok berpandangan dovish yang kemungkinan akan mendukung pelonggaran suku bunga.

    Ekspektasi pemangkasan suku bunga tetap stabil setelah rilis data pasar tenaga kerja AS.

    Klaim awal tunjangan pengangguran mingguan naik 7.000 menjadi 226.000 (disesuaikan secara musiman), level tertinggi sejak pekan yang berakhir 5 Juli, dan sedikit di atas estimasi ekonom dalam survei Reuters sebesar 221.000.

    Berdasarkan alat FedWatch milik CME Group, probabilitas pasar terhadap pemangkasan suku bunga sebesar setidaknya 25 basis poin pada September berada di 93,2%, sedikit turun dari 94,6% sehari sebelumnya, namun melonjak dari 37,7% sepekan lalu.

  • Rupiah menguat sejalan potensi pemotongan suku bunga Fed

    Rupiah menguat sejalan potensi pemotongan suku bunga Fed

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah menguat sejalan potensi pemotongan suku bunga Fed
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 07 Agustus 2025 – 14:05 WIB

    Elshinta.com – Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menganggap penguatan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dipengaruhi kemungkinan pemotongan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.

    “Salah satu pejabat Fed, Lisa Cook, menyatakan bahwa laporan pekerjaan AS ‘mengkhawatirkan’, yang dapat menyebabkan pergeseran tren ekonomi AS. Pernyataannya meningkatkan kemungkinan anggota FOMC (Federal Open Market Committee) Fed untuk sepakat terkait dengan pemotongan suku bunga kebijakan dalam waktu dekat,” katanya, di Jakarta, Kamis.

    Sentimen tersebut menyebabkan pelemahan dolar AS yang diikuti sentimen risiko di pasar saham AS.

    Di sisi lain, pasar saat ini mengantisipasi pencalonan pengganti Adrianna Kugler untuk mendapatkan arahan yang lebih jelas tentang arah kebijakan FOMC ke depan.

    “Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ia akan menunjuk seorang calon untuk menggantikan Kugler pada akhir minggu ini, dan mengungkapkan bahwa ia telah mempersempit daftar kandidat pengganti Ketua Fed Jerome Powell menjadi empat finalis,” ujar dia.

    Dia turut mengungkapkan bahwa penguatan kurs mata uang Indonesia didorong pula oleh meningkatnya permintaan rupiah, di tengah berbagai ketidakpastian di kawasan Asia.

    “Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp16.275-Rp16.400 per dolar AS,” ujar Josua.

    Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Kamis pagi di Jakarta menguat sebesar 44 poin atau 0,27 persen menjadi Rp16.318 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.362 per dolar AS.

    Sumber : Antara

  • Rupiah menguat seiring pasar tunggu keputusan Trump terkait The Fed

    Rupiah menguat seiring pasar tunggu keputusan Trump terkait The Fed

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah menguat seiring pasar tunggu keputusan Trump terkait The Fed
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Rabu, 06 Agustus 2025 – 17:58 WIB

    Elshinta.com – Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi sikap pasar yang menunggu keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang penunjukan Gubernur Federal Reserve (The Fed) baru menggantikan Jerome Powell.

    “Pelaku pasar menunggu keputusan Presiden Donald Trump tentang penunjukan pejabat di The Fed untuk kejelasan lebih lanjut tentang prospek kebijakan bank sentral,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Jakarta, Rabu.

    Trump mengemukakan bahwa ada empat nama calon yang dipertimbangkan menjadi Gubernur The Fed, dan mengecualikan Menteri Keuangan Scott Bessent.

    Mengutip Anadolu, dilaporkan oleh CNBC bahwa mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Trump, dan Gubernur Fed Christopher Waller merupakan empat nama yang dipertimbangkan menggantikan Powell. Gubernur The Fed yang saat ini baru bisa diganti pada Mei 2026.

    Di sisi lain, sentimen terhadap rupiah turut dipengaruhi data Institute of Supply Management (ISM) non manufaktur prices sebesar 69,9 dari perkiraan 66,5, ISM non manufaktur Purchasing Managers Index (PMI) 50,1 dari dugaan 51,5, S&P Global Services PMI 55,7 dari prediksi 55,2, serta S&P Global Composite PMI 55,1 dari ekspektasi 54,6.

    “(Penurunan ISM PMI) menandai hampir terhentinya aktivitas jasa dan memperburuk kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi AS,” ucap Ibrahim.

    Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Rabu di Jakarta menguat sebesar 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.362 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.390 per dolar AS.

    Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini bergerak menguat pula di level, yakni sebesar Rp16.379 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.388 per dolar AS.

    Sumber : Antara

  • Trump Ungkap Daftar Calon Pengganti Ketua The Fed, Scott Bessent Dicoret – Page 3

    Trump Ungkap Daftar Calon Pengganti Ketua The Fed, Scott Bessent Dicoret – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa Menteri Keuangan (Menkeu) Scott Bessent telah menyatakan tidak berminat untuk menjadi Ketua Federal Reserve (The Fed). Pernyataan ini membuat Bessent resmi dicoret dari daftar calon pengganti Jerome Powell.

    Dikutip dari The New York Times, Rabu (6/8/2025), Donald Trump mengatakan bahwa Bessent telah menyampaikan keputusannya secara langsung sehari sebelumnya

    .“Saya mencintai Scott, tetapi dia ingin tetap di tempatnya,” kata Trump.

    “Saya baru saja bertanya kepadanya tadi malam, ‘Apakah ini yang Anda inginkan?’ dan dia bilang, ‘Tidak, saya ingin tetap di sini.’” tambah Trump. 

    Ia pun menyebut telah mempersempit pilihannya menjadi empat nama. Dua di antaranya adalah mantan gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, Kevin Hassett.

    “Saya pikir kedua Kevin itu berkinerja baik,” ujar Trump. “Dan saya punya dua orang lain yang berkinerja baik.”

    Meski Trump telah lama mengkritik Powell karena tidak menurunkan suku bunga sesuai keinginannya, ia belum secara resmi mencopot Powell dari jabatan ketua The Fed, yang akan berakhir pada Mei 2026.

    Trump juga menyatakan bahwa ia akan segera menentukan siapa yang akan dipilih untuk menggantikan Powell. Salah satu opsinya adalah menempatkan kandidat pilihannya di kursi Dewan Gubernur Federal Reserve, menggantikan Adriana D. Kugler yang baru-baru ini mengundurkan diri lebih awal dari jabatannya.

    Meski masa tugasnya seharusnya berakhir pada Januari, pengunduran diri Kugler memberi Trump kesempatan untuk lebih cepat menunjuk pengganti yang potensial menjadi Ketua The Fed di masa mendatang.

    “Terkadang mereka semua sangat baik sampai Anda menempatkan mereka di sana, dan kemudian mereka tidak begitu baik,” kata Trump, merujuk pada pengalamannya mengangkat pejabat tinggi yang kemudian mengecewakan.

  • Kursi Kosong di The Fed, Trump Berpeluang Percepat Penunjukan Ketua Baru

    Kursi Kosong di The Fed, Trump Berpeluang Percepat Penunjukan Ketua Baru

    Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump berpeluang menunjuk pejabat baru di The Fed lebih cepat dari jadwal, usai Gubernur Adriana Kugler mengundurkan diri. Langkah ini juga mempercepat penunjukan ketua The Fed berikutnya menggantikan Jerome Powell.

    Melansir Bloomberg pada Senin (4/8/2025), pengunduran diri Kugler terjadi di tengah tekanan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Gedung Putih terhadap bank sentral, menyangkut arah kebijakan moneter. 

    Trump secara rutin menyerang Ketua The Fed Jerome Powell di media sosial, dan pada Kamis (31/7/2025) pekan lalu menyebut Powell terlalu pemarah, bodoh, dan politis karena kembali menolak menurunkan suku bunga.

    Mundurnya Kugler memberi kesempatan langsung bagi Trump untuk menunjuk pejabat yang sejalan dengan keinginannya agar suku bunga diturunkan, tanpa harus menunggu masa jabatan Kugler berakhir pada Januari 2026.

    Namun, satu suara tambahan di Dewan Gubernur tidak serta-merta menjamin perubahan kebijakan. Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pekan ini, panel yang menetapkan suku bunga itu memutuskan dengan suara 9–2 untuk mempertahankan tingkat bunga. 

    Dua suara yang berbeda berasal dari pejabat yang juga ditunjuk Trump pada masa jabatan pertamanya—dissent pertama sejak 1993.

    “Sekarang bola ada di tangan Trump.Selama ini Trump menekan The Fed untuk menurunkan suku bunga dan ingin orang-orang pilihannya sendiri di sana. Sekarang dia punya peluang itu,” kata Derek Tang, ekonom di LH Meyer/Monetary Policy Analytics.

    Skenario Penggantian Ketua The Fed

    Adapun, pengunduran diri Kugler dapat mempercepat keputusan Trump dalam memilih Ketua The Fed berikutnya. Sebab, jika Trump ingin menunjuk orang luar seperti Direktur National Economic Council Kevin Hassett atau mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh, peluang ini bisa jadi satu-satunya dalam waktu dekat.

    Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada Mei 2026, namun jabatannya sebagai anggota dewan berlaku hingga 2028. Jika Powell memutuskan tidak mundur sepenuhnya dari dewan, Trump tidak akan mendapat kursi kosong lagi di jajaran gubernur hingga tiga tahun ke depan.

    Dalam skenario ini, Trump kemungkinan harus menunjuk pengganti Kugler dengan orang yang juga akan dia angkat sebagai ketua baru pada Mei nanti. Jika ingin mempercepat penempatan loyalis, dia harus segera menentukan siapa yang akan memimpin bank sentral ke depan.

    “Ini adalah satu-satunya posisi kosong yang dimiliki Trump saat ini. Kalau dia ingin ketua baru berasal dari luar Dewan Gubernur saat ini, maka identitas orang itu akan segera terungkap,” kata Tobin Marcus, Kepala Riset Kebijakan AS di Wolfe Research.

    Namun, tidak semua pihak percaya Trump akan langsung bertindak cepat.

    Adam Posen, Presiden Peterson Institute for International Economics menilai, tidak ada alasan untuk menunda jika Trump sudah menentukan siapa yang ingin dia jadikan ketua The Fed.

    “Tapi ini bukan situasi yang memaksa. Dewan pernah berjalan dengan kurang dari tujuh anggota, dan pemerintahan ini tidak terlalu peduli soal kekosongan jabatan penting,” jelasnya.

    Hingga saat ini belum ada indikasi Trump sudah memutuskan. Selain Hassett dan Warsh, nama Menteri Keuangan Scott Bessent dan Gubernur The Fed saat ini Christopher Waller juga disebut sebagai kandidat potensial.

    Meski begitu, proses pencalonan tetap harus melalui konfirmasi Senat yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

    “Meski Senat dikuasai Partai Republik, tetap butuh waktu untuk memproses calon,” kata David Wessel, Direktur Hutchins Center for Fiscal and Monetary Policy di Brookings Institution.

    Pun bila Trump berhasil menempatkan ketua baru, keputusan suku bunga tetap berada di tangan mayoritas FOMC. Meski secara tradisi para anggota memberi ruang kepada ketua untuk membangun konsensus, hal itu sulit tercapai bila ketua The Fed tidak mampu menyampaikan argumen ekonomi yang meyakinkan.

    Saat meninggalkan Gedung Putih pada Jumat sore pekan lalu, Trump mengaku sangat senang dengan adanya kekosongan kursi di The Fed. 

    Dia juga mengatakan bahwa Kugler mundur karena berbeda pandangan dengan Powell soal suku bunga.

    Namun, klaim itu bertentangan dengan pandangan kebijakan Kugler yang disampaikan secara terbuka. Dalam pidato terakhirnya pada 17 Juli, Kugler menyatakan dengan inflasi barang yang kembali naik dan pasar tenaga kerja stabil, The Fed sebaiknya mempertahankan suku bunga untuk sementara waktu.

  • Update Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 Agustus 2025 – Page 3

    Update Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 Agustus 2025 – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Sejumlah sentimen membayangi harga emas dunia pekan ini. Salah satu sentimen dari pernyataan ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell.

    Mengutip Kitco, ditulis Minggu (3/8/2025), pekan ini, satu kalimat dari ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell membuat pasar terguncang mendorong harga ke level terendah dalam empat minggu di bawah USD 3.300 per ounce. Setelah mempertahankan suku bunga pada Rabu pekan ini, Powell menyampaikan nada hawkish pada awal konfrensi pers. “Kami belum membuat keputusan apapun untuk September,” ujar dia seperti dikutip dari Kitco.

    Seiring komentar itu membuat harga emas sempat turun sekitar 1%. Pernyataan Powell juga memaksa pasar untuk menata ulang harapan terhadap penurunan suku bunga. Pada Kamis, ada sentimen kemungkinan pelonggaran pada September telah turun menjadi hanya 37%.

    Harga emas pun melompat pada Jumat, 1 Agustus 2025. Hal ini terjadi setelah data ketenagakerjaan yang mengecewakan benar-benar membalikkan pasar. Dalam dua menit setelah rilis laporan, harga emas melonjak USD 30. Harga emas spot terus naik dan mengakhiri sesi perdagangan di USD 2.361,50 per ounce, menguat lebih dari 2%.

    Kenaikan harga emas itu juga bukan tanpa alasan CME FedWatch Tool kini menunjukkan peluang 90% penurunan suku bunga pada September. Pasar juga melihat peluang 50% kalau suku bunga akan turun satu poin persentase penuh sebelum akhir tahun.

    Harapan penurunan suku bunga yang agresif ini kembali muncul meski inflasi tetap tinggi. Analis menuturkan, hal ini ideal untuk emas karena penurunan suku bunga riil memangkas biaya peluang memegang logam mulia.

    Pendorong utama lain dari kenaikan harga emas pekan ini adalah permintaan investasi yang kuat. Investor kembali beralih ke emas untuk melindungi kekayaannya di tengah lanskap ekonomi yang tidak menentu.

  • Trump Pengin Jerome Powell Lengser, Tekan Dewan Gubernur Bank Sentral

    Trump Pengin Jerome Powell Lengser, Tekan Dewan Gubernur Bank Sentral

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan ingin melengserkan Gubernur The Federal Reserve (The Fed) atau Bank Sentral AS, Jerome Powell. Pada Jumat (1/8/2025) kemarin, Trump menyerukan Dewan Gubernur The Fed mengambil alih kewenangan Powell.

    Trump juga mengkritik pimpinan bank sentral AS itu karena tidak menurunkan suku bunga jangka pendek. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyebut Powell keras kepala.

    Selama beberapa bulan terakhir, Powell menjadi sasaran serangan verbal tajam dari presiden Partai Republik tersebut. The Fed bertanggung jawab menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja.

    Powell mempertahankan suku bunga acuan pinjaman tetap sepanjang tahun ini, dengan alasan para pejabat The Fed perlu melihat terlebih dahulu dampak tarif besar-besaran yang diberlakukan Trump terhadap inflasi.

    “Dewan harus mengambil alih kendali dan melakukan apa yang semua orang tahu harus dilakukan!” tegas Trump untuk menekan Powell segera menurunkan suku bunga, dikutip dari AP News, Sabtu (2/8/2025).

    Dua dari tujuh gubernur The Fed, Christopher Waller dan Michelle Bowman, pada Jumat menyatakan bahwa mereka memandang tarif tersebut hanya berdampak satu kali pada harga, sementara pasar tenaga kerja kemungkinan akan melemah.

    Keduanya pun menyatakan perbedaan pendapat dalam rapat The Fed pada Rabu, mendorong pemotongan suku bunga ringan, meski masih di bawah level yang diinginkan Trump.

    Meski Trump mengklaim ekonomi AS sedang melesat, ia menyambut baik pandangan mereka serta menyebut perbedaan pendapat keduanya sebagai sikap tegas. Setelah The Fed mengumumkan pada Jumat sore bahwa Gubernur Adriana Kugler akan mengundurkan diri pekan depan, Trump mengatakan Powell seharusnya melakukan hal yang sama.

    “Dia tahu Powell mengambil langkah keliru soal suku bunga. Dia pun sebaiknya mundur!” tulis Trump di media sosial.

    Laporan ketenagakerjaan pada Jumat menunjukkan perekonomian yang melambat tajam, dengan hanya 73.000 lapangan kerja baru tercipta pada Juli, sementara revisi ke bawah membuat total untuk Juni dan Mei turun menjadi masing-masing 14.000 dan 19.000.

    Trump memandang penurunan suku bunga akan memacu pertumbuhan yang lebih kuat dan menekan biaya bunga, baik bagi pemerintah federal maupun pembeli rumah. Presiden berpendapat hampir tidak ada inflasi, meski ukuran inflasi pilihan The Fed saat ini berada di tingkat tahunan 2,6%, sedikit di atas target 2%.

    Trump menyerukan pemangkasan suku bunga acuan The Fed sebesar 3 poin persentase, yang akan memangkas drastis dari rata-rata saat ini 4,33%. Namun, pemangkasan sebesar itu berisiko membanjiri perekonomian dengan likuiditas yang sulit diserap, yang pada akhirnya dapat memicu percepatan inflasi.

    Mahkamah Agung dalam putusan Mei lalu menyatakan Trump tidak dapat memberhentikan Powell hanya karena perbedaan kebijakan. Hal ini membuat Gedung Putih mencari tahu apakah Ketua The Fed bisa diberhentikan dengan alasan melalui dalih pembengkakan biaya proyek renovasi gedung The Fed senilai US$ 2,5 miliar.

    Masa jabatan Powell sebagai ketua akan berakhir pada Mei 2026, saat Trump dapat menempatkan kandidat pilihannya yang disetujui Senat di posisi tersebut.

    (ily/hns)

  • Daftar Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini 2 Agustus 2025 – Page 3

    Daftar Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini 2 Agustus 2025 – Page 3

    Selain itu, pelaku pasar kini mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga hingga akhir tahun yang dimulai pada September.

    Awal pekan ini, bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%-4,50%, dengan Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, pihaknya belum membuat keputusan apa pun tentang September.

    “Kita berada dalam situasi di mana tekanan inflasi terus berlanjut dari tarif dan upah, namun angka lapangan kerja mengecewakan. Jadi dalam situasi tersebut, jika The Fed memangkas (suku bunga), hal itu akan berdampak material terhadap emas secara positif,” Melek menambahkan.

    Di sisi perdagangan, gelombang tarif terbaru Trump atas ekspor dari puluhan mitra dagang, termasuk Kanada, Brasil, India, dan Taiwan, menyebabkan pasar global anjlok karena negara-negara mendorong perundingan untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik.

    Emas sebagai aset safe haven justru menguat di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik. Harga perak spot naik 0,7% menjadi USD 36,98 per ounce, platinum naik 1,6% menjadi USD 1.309,27, dan paladium naik 1% menjadi USD 1.203,52. Namun, ketiga logam tersebut mencatat kerugian sepanjang pekan ini.

  • Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 Agustus 2025: Antam dan Galeri24 Kompak Stabil – Page 3

    Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 Agustus 2025: Antam dan Galeri24 Kompak Stabil – Page 3

    Selain itu, pelaku pasar kini mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga hingga akhir tahun yang dimulai pada September.

    Awal pekan ini, bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%-4,50%, dengan Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, pihaknya belum membuat keputusan apa pun tentang September.

    “Kita berada dalam situasi di mana tekanan inflasi terus berlanjut dari tarif dan upah, namun angka lapangan kerja mengecewakan. Jadi dalam situasi tersebut, jika The Fed memangkas (suku bunga), hal itu akan berdampak material terhadap emas secara positif,” Melek menambahkan.

    Di sisi perdagangan, gelombang tarif terbaru Trump atas ekspor dari puluhan mitra dagang, termasuk Kanada, Brasil, India, dan Taiwan, menyebabkan pasar global anjlok karena negara-negara mendorong perundingan untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik.

    Emas sebagai aset safe haven justru menguat di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik.

    Harga perak spot naik 0,7% menjadi USD 36,98 per ounce, platinum naik 1,6% menjadi USD 1.309,27, dan paladium naik 1% menjadi USD 1.203,52. Namun, ketiga logam tersebut mencatat kerugian sepanjang pekan ini.

  • Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 Agustus 2025: Antam dan Galeri24 Kompak Stabil – Page 3

    Harga Emas Pegadaian Hari Ini 2 Agustus 2025: Antam dan Galeri24 Kompak Stabil – Page 3

    Selain itu, pelaku pasar kini mengantisipasi dua kali penurunan suku bunga hingga akhir tahun yang dimulai pada September.

    Awal pekan ini, bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25%-4,50%, dengan Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan, pihaknya belum membuat keputusan apa pun tentang September.

    “Kita berada dalam situasi di mana tekanan inflasi terus berlanjut dari tarif dan upah, namun angka lapangan kerja mengecewakan. Jadi dalam situasi tersebut, jika The Fed memangkas (suku bunga), hal itu akan berdampak material terhadap emas secara positif,” Melek menambahkan.

    Di sisi perdagangan, gelombang tarif terbaru Trump atas ekspor dari puluhan mitra dagang, termasuk Kanada, Brasil, India, dan Taiwan, menyebabkan pasar global anjlok karena negara-negara mendorong perundingan untuk mencapai kesepakatan yang lebih baik.

    Emas sebagai aset safe haven justru menguat di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik.

    Harga perak spot naik 0,7% menjadi USD 36,98 per ounce, platinum naik 1,6% menjadi USD 1.309,27, dan paladium naik 1% menjadi USD 1.203,52. Namun, ketiga logam tersebut mencatat kerugian sepanjang pekan ini.