Tag: Jerome Powell

  • Pasar cermati arah kebijakan Bank Indonesia, IHSG diprediksi mendatar

    Pasar cermati arah kebijakan Bank Indonesia, IHSG diprediksi mendatar

    Pekerja Bursa Efek Indonesia (BEI) berswafoto di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU/aa).

    Pasar cermati arah kebijakan Bank Indonesia, IHSG diprediksi mendatar
    Dalam Negeri   
    Editor: Novelia Tri Ananda   
    Rabu, 20 Agustus 2025 – 08:21 WIB

    Elshinta.com – Analis Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak mendatar pada perdagangan Rabu (20/08), dengan sentimen utama akan berasal dari tingkat domestik. Sentimen utama akan berasal dari pelaku pasar yang mencermati arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2025.

    “Diperkirakan IHSG menguji level support 7.800 dan sekaligus berpeluang menutup gap down,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

    Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil RDG BI, yang menurut konsensus akan mempertahankan BI Rate pada level 5.25 persen, setelah pada RDG Juli 2025 menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. BI diperkirakan masih berpeluang menurunkan suku bunga lagi pada tahun ini, apabila laju inflasi masih terkendali dalam kisaran target BI yaitu 1,5- 3,5 persen.

    Inflasi Mei-Juli 2025 berturut-turut mengalami kenaikan mencapai 2,37 persen year on year (yoy) pada Juli 2025, yang merupakan inflasi tertinggi sejak Juni 2024, meskipun masih dalam kisaran target BI. Dari mancanegara, pelaku pasar masih menantikan simposium ekonomi tahunan para bank sentral di Jackson Hole, yang mana Ketua The Fed Jerome Powell akan melakukam berpidato.

    Pelaku pasar menantikan bagaimana arah kebijakan moneter The Fed hingga akhir tahun. Menurut FedWatch CME, terdapat peluang 85 persen untuk penurunan suku bunga The Fed sebanyak 25 bps pada pertemuan September 2025 mendatang. Di sisi lain, pelaku pasar mencermati keputusan moneter bank sentral China yang diperkirakan akan kembali mempertahankan Loan Prime Rate 1 tahun pada level 3 persen dan 5 tahun pada level 3,5 persen.

    Dipertahankannya suku bunga pada level rendah, disinyalir sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi China di tengah ancaman perang tarif, melemahnya daya beli dan mendorong pemulihan sektor properti.

    Dari kawasan Eropa, Presiden Trump mengatakan negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia dapat dilakukan selagi kedua negara masih berperang. Selain itu, pertemuan antara Presiden Putin dan Presiden Zelenskyy sedang direncanakan, yang akan diikuti oleh pertemuan trilateral yang akan melibatkan Trump.

    Dari Inggris, akan dirilis data inflasi Juli 2025 yang diperkirakan naik menjadi 3,7 persen (yoy) dari 3,6 persen (yoy) di Juni 2025 yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2024. Pada perdagangan Selasa (19/08), bursa saham Eropa ditutup menguat, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,87 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,34 persen, indeks DAX Jerman naik 0,45 persen, serta indeks CAC Prancis menguat 1,21 persen.

    Sementara itu, bursa saham AS di Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Selasa (19/08), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 10,57 poin atau 0,02 persen ditutup di level 44.922,19, indeks S&P 500 melemah 0,58 persen ke level 6.411,91, indeks Nasdaq Composite melemah 314,82 poin atau 1,46 persen dan ditutup di level 21.314,02.

    Sumber : Antara

  • Trump Mulai ‘Cari Masalah’, Lempar Bola Panas ke The Fed Soal Ini

    Trump Mulai ‘Cari Masalah’, Lempar Bola Panas ke The Fed Soal Ini

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa Ketua Federal Reserve Jerome Powell sangat merugikan industri perumahan. Hal ini terjadi saat hubungan keduanya memasuki

    rangkaian ketegangan terbaru.

    Dalam akun Truth Socialnya, Selasa (19/8/2025), Trump mengulangi seruannya untuk memangkas suku bunga AS secara besar-besaran. Ia yakin, langkah ini memberikan kenyamanan baru di industri properti.

    “Bisakah seseorang memberi tahu Jerome ‘Terlalu Lambat’ Powell bahwa dia sangat merugikan Industri Perumahan? Orang-orang tidak bisa mendapatkan hipotek karena dia. Tidak ada inflasi, dan setiap tanda mengarah pada Pemotongan Suku Bunga yang besar,” tulis Trump di Truth Social.

    Inflasi memang sudah jauh dari puncaknya yang terlihat selama pandemi Covid-19, tetapi beberapa data baru-baru ini memberikan gambaran yang beragam, dan inflasi terus berada di atas target persentase The Fed.

    Serangan terbaru Trump terhadap Powell datang menjelang pidato ketua The Fed pada 22 Agustus di simposium perbankan sentral tahunan Jackson Hole, di mana para investor akan memperhatikan setiap perkataannya untuk mencari petunjuk tentang pandangan ekonominya dan kemungkinan akan adanya pengurangan biaya pinjaman jangka pendek.

    Rapat kebijakan The Fed berikutnya akan diadakan pada 16-17 September. Investor dan ekonom bertaruh The Fed akan memangkas suku bunga sebesar seperempat dari satu poin persentase pada September, dan mungkin ada pengurangan lain dengan ukuran yang sama di akhir tahun, jauh lebih kecil dari beberapa poin persentase yang diserukan oleh Trump.

    Menteri Keuangan Trump, Scott Bessent, telah mempromosikan gagasan pemotongan suku bunga setengah poin pada September. Bank sentral AS memangkas suku bunga kebijakannya setengah poin persentase pada September lalu, tepat sebelum pemilihan presiden, dan memangkasnya lagi setengah poin persentase dalam dua bulan setelah kemenangan elektoral Trump, tetapi tetap mempertahankannya di kisaran 4,25%-4,50% sepanjang tahun 2025.

    Para pembuat kebijakan The Fed khawatir bahwa tarif Trump dapat memicu kembali inflasi dan juga merasa pasar tenaga kerja cukup kuat sehingga tidak memerlukan dorongan dari biaya pinjaman yang lebih rendah.

    Gambaran Inflasi yang Campuran

    Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,2% pada Juli, dengan tingkat 12 bulan hingga Juli sebesar 2,7%, tidak berubah dari Juni. CPI Inti, yang menghilangkan komponen makanan dan energi yang mudah berubah, meningkat 3,1% dari tahun ke tahun pada Juli.

    Berdasarkan data tersebut, para ekonom memperkirakan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) Inti naik 0,3% pada Juli. Hal itu akan menaikkan kenaikan dari tahun ke tahun menjadi 3% pada Juli. PCE adalah ukuran kunci yang dilacak oleh The Fed terhadap target inflasi 2%-nya sendiri.

    Dan meskipun ada kenaikan moderat pada harga konsumen secara keseluruhan pada Juli, harga produsen dan impor melonjak, sebuah indikasi bahwa harga konsumen yang lebih tinggi bisa datang karena para penjual meneruskan biaya yang lebih tinggi kepada rumah tangga.

    Gambaran inflasi datang di tengah gambaran kemungkinan pendinginan di pasar tenaga kerja, dengan penurunan dalam perolehan pekerjaan bulanan, meskipun tingkat pengangguran, yaitu 4,2%, tetap rendah menurut standar historis.

    Serangan daring Trump terhadap The Fed dan Powell lebih sering berfokus pada biaya yang berarti bagi pinjaman pemerintah AS akibat suku bunga yang lebih tinggi. Suku bunga tinggi adalah titik sakit utama bagi calon pembeli rumah yang juga menghadapi harga rumah yang tinggi dan terus naik karena kelangkaan pasokan perumahan.

    (tps/tps)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Rupiah ditutup melemah di tengah pasar cermati arah kebijakan The Fed

    Rupiah ditutup melemah di tengah pasar cermati arah kebijakan The Fed

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah ditutup melemah di tengah pasar cermati arah kebijakan The Fed
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Selasa, 19 Agustus 2025 – 18:57 WIB

    Elshinta.com – Pengamat mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS seiring pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga acuan The Fed.

    Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Selasa sore, melemah sebesar 47,50 poin atau 0,29 persen menjadi Rp16.245 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.198 per dolar AS.

    “Fokus pasar minggu ini adalah risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang akan dirilis pada Rabu (20/8/2025), dan pidato Ketua Fed Jerome Powell di simposium Jackson Hole pada Jumat (22/8/2025), yang keduanya dapat memberikan petunjuk baru tentang prospek kebijakan moneter The Fed,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.

    Dari mancanegara, pidato Ketua The Fed Jerome Powell akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam pertemuan para pejabat bank sentral dunia pada Simposium Jackson Hole di AS tanggal 21-23 Agustus 2025.

    Selanjutnya, pelaku pasar juga akan memperhatikan pidato Jerome Powell pada pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) Minutes pada Kamis (21/08) pekan ini.

    Berdasarkan laporan FedWatch CME, ada kemungkinan sebesar 83 persen The Fed akan memangkas suku bunga.

    Di sisi lain, pelaku pasar mencermati Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menjamu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy di Gedung Putih pada Senin (18/8/2025), didampingi oleh para pemimpin dari negara-negara besar Eropa dalam sebuah pertemuan puncak berisiko tinggi yang bertujuan untuk merintis jalan menuju berakhirnya perang Rusia di Ukraina.

    Dalam pernyataan publik, Trump berjanji bahwa AS akan membantu menjamin keamanan Ukraina sebagai bagian dari penyelesaian damai apa pun, meskipun tidak merinci bentuk atau cakupan jaminan tersebut.

    Trump mengatakan telah mulai mengatur pertemuan antara Volodymyr Zelenskiy dari Ukraina dan Vladimir Putin dari Rusia, dan mengusulkan diskusi tiga arah berikutnya, menjaga harapan tetap hidup untuk jalur menuju negosiasi.

    Para pemimpin Eropa di Washington mendesak gencatan senjata terlebih dahulu, sementara Trump mengisyaratkan dukungan untuk jaminan keamanan yang dipimpin Eropa bagi Kyiv.

    Dari dalam negeri, pemerintah berencana menarik utang baru senilai Rp781,87 triliun pada 2026, yang terungkap dalam Buku II Nota Keuangan Beserta RAPBN 2026.

    Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN)Tahun Anggaran (TA) 2026, pembiayaan utang direncanakan sebesar Rp781,868 miliar yang akan dipenuhi melalui penerbitan SBN dan penarikan pinjaman.

    Adapun pembiayaan utang berasal dari Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)/Sukuk Negara.

    Dalam RAPBN 2026, pembiayaan utang dari SBN mencapai Rp749,19 triliun atau naik apabila dibandingkan outlook 2025. Kemudian, pembiayaan pinjaman (neto) pada 2026 direncanakan sebesar Rp 32,67 triliun atau turun 74,9 persen dibandingkan outlook 2025.

    Pada hari ini, digelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan memberikan asesmen terhadap kondisi perekonomian global serta domestik, termasuk setelah data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 mengejutkan pasar dengan capaian laju PDB 5,12 persen.

    Konsensus memperkirakan BI akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level saat ini yaitu 5,25 persen.

    Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini, juga melemah ke level Rp16.241 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.162 per dolar AS.

    Sumber : Antara

  • Pasar cermati pertemuan bank sentral dunia, IHSG diprediksi mendatar

    Pasar cermati pertemuan bank sentral dunia, IHSG diprediksi mendatar

    Pekerja menyaksikan pidato Presiden Prabowo Subianto menggunakan gawai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (15/8/2025). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencapai All Time High (ATH) ke level 8.000 dalam perdagangan intraday saat Presiden Prabowo menyampaikan pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD Tahun 2025. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr

    Pasar cermati pertemuan bank sentral dunia, IHSG diprediksi mendatar
    Dalam Negeri   
    Editor: Novelia Tri Ananda   
    Selasa, 19 Agustus 2025 – 08:21 WIB

    Elshinta.com – Analis Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak mendatar pada perdagangan Selasa (19/08), dengan sentimen utama akan berasal dari tingkat global. Sentimen utama akan berasal dari pelaku pasar yang mencermati pertemuan para bank sentral dunia dalam Simposium Jackson Hole di Amerika Serikat (AS) tanggal 21-23 Agustus 2025.

    “Diperkirakan IHSG berpeluang menutup ‘gap down’ di level 7.800,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

    Dari mancanegara, pelaku pasar mencermati pertemuan para bank sentral dunia dalam Simposium Jackson Hole di AS tanggal 21-23 Agustus 2025, yang mana Ketua The Fed Jerome Powell dijadwalkan akan berpidato pada Jumat (22/08). Pelaku pasar berharap mendapatkan indikasi arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya dari pidato Jerome Powell tersebut.

    Selain itu, pelaku pasar akan mencermati The Federal Open Market Committee (FOMC) Minutes pada Kamis (21/08), data sektor perumahan, serta data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang akan dirilis di AS, Euro Area, Inggris, Jepang, Australia dan India. Di sisi lain, pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Jumat (15/08), tidak menghasilkan kesepakatan gencatan senjata atau kesepakatan formal untuk mengakhiri perang Ukraina.

    Trump menggambarkan bahwa pertemuan sangat produktif, namun tidak menjelaskan detailnya, di mana dirinya cenderung menekan Ukraina untuk menerima kesepakatan. Selain itu, Trump juga melakukan pertemuan dengan Ukraina dan Uni Eropa pada Senin (18/8). Ia mengatakan negosiasi untuk mencapai perdamaian dapat dilakukan saat kedua negara masih berperang, dan membatalkan seruannya sebelumnya untuk gencatan senjata.

    Trump telah menyarankan agar Ukraina secara resmi menyerahkan wilayah Krimea kepada Rusia untuk mencapai perdamaian.

    Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Rabu (20/8), yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate pada level 5,25 persen. Pada perdagangan Senin (18/08), bursa saham Eropa ditutup variatif, di antaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,25 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,21 persen, indeks DAX Jerman naik 0,18 persen, serta indeks CAC Prancis turun 0,50 persen.

    Bursa saham AS di Wall Street juga ditutup variatif pada perdagangan Senin (18/08), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 33,93 poin atau 0,08 persen ditutup di level 44.912,19, indeks S&P 500 melemah 0,64 persen ke level 6.449,91, indeks Nasdaq Composite menguat 1,69 poin atau 0,03 persen dan ditutup di level 23.713,02.

    Sumber : Antara

  • IHSG akhir pekan ditutup melemah, dipimpin sektor infrastruktur

    IHSG akhir pekan ditutup melemah, dipimpin sektor infrastruktur

    Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup melemah, yang dipimpin oleh saham-saham sektor infrastruktur.

    IHSG ditutup melemah 32,87 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.898,37.

    Sementara, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 5,85 poin atau 0,71 persen ke posisi 821,06.

    “Investor akan menyambut rilis data Penjualan eceran di Amerika Serikat (AS) yang dapat memberikan petunjuk mengenai apakah kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump mempengaruhi kebiasaan belanja konsumen,” sebut Tim Riset Phillips Sekuritas Indonesia dalam kajiannya di Jakarta, Jumat.

    Dari dalam negeri, parlemen menggelar Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2025 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta.

    Dalam rangkaian acara Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD 2025, Presiden Prabowo Subianto memaparkan pidato tentang laporan kinerja lembaga-lembaga negara dan pidato kenegaraan dalam rangka HUT ke-80 Kemerdekaan RI.

    Dari mancanegara, peluang pemotongan suku bunga acuan oleh bank sentral AS The Fed sangat terbuka lebar akan dilakukan pada pertemuan September 2025.

    Pada pekan depan, pelaku pasar akan mendengar pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, yang mengisyaratkan pemangkasan suku bunga acuan di Simposium Ekonomi Jackson Hole.

    Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tiga sektor menguat yaitu dipimpin sektor teknologi yang naik sebesar 2,60 persen, diikuti oleh sektor kesehatan dan sektor barang konsumen non primer yang naik masing- masing sebesar 0,22 persen dan 0,21 persen.

    Sedangkan, delapan sektor melemah yaitu sektor infrastruktur paling dalam minus 1,67 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor barang baku yang turun sebesar 0,73 persen dan 0,69 persen.

    Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu KBLV, UANG MFIN, INPP dan DPUM. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni BRNA, TOSK, KAQI, DKHH, dan NTBK.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.957.298 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 47,80 miliar lembar saham senilai Rp30,97 triliun. Sebanyak 229 saham naik 432 saham menurun, dan 139 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 737,74 poin atau 1,73 persen ke 43.387,00, indeks Shanghai menguat 30,33 poin atau 0,83 persen ke 3.696,71, indeks Hang Seng melemah 249,25 poin atau 0,98 persen ke posisi 25.270,45, dan indeks Straits Times melemah 25,99 poin atau 0,61 persen ke 4.230,20.

    Pewarta: Muhammad Heriyanto
    Editor: Kelik Dewanto
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Trump Kembali Serang Powell, Mau Gugat Proyek Renovasi The Fed

    Trump Kembali Serang Powell, Mau Gugat Proyek Renovasi The Fed

    Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap sedang mempertimbangkan langkah hukum terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor pusat bank sentral yang menuai sorotan akibat pembengkakan biaya.

    Dalam unggahan di media sosial, Trump kembali melancarkan kritik kepada Powell atas keputusan The Fed menahan suku bunga acuan, sekaligus menyoroti pengelolaan renovasi yang dinilainya buruk.

    Dia menilai, kerusakan yang ditimbulkan Powell karena selalu terlambat tidak terhitung jumlahnya. Namun, dia menilai ekonomi AS begitu kuat sehingga Negeri Paman Sam mampu melampaui Powell dan Dewan Gubernur The Fed yang disebutnya pasif.

    “Namun, saya mempertimbangkan untuk mengizinkan gugatan besar terhadap Powell karena pekerjaan yang mengerikan dan sangat tidak kompeten dalam mengelola pembangunan Gedung The Fed,” tulis Trump dikutip dari Bloomberg, Rabu (13/8/2025). 

    Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, juga mengonfirmasi rencana Trump tersebut ketika ditanya apakah pemerintahan AS mempertimbangkan menggugat Powell terkait renovasi tersebut.

    “Itu yang presiden katakan. Dia sedang mempertimbangkannya. Saya akan membiarkan presiden yang menjelaskannya langsung,” ujarnya kepada wartawan dalam jumpa pers, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.

    Pernyataan Trump tersebut membuat kurva imbal hasil obligasi AS semakin curam, dengan imbal hasil tenor 10 tahun berbalik naik dari tekanan data inflasi dan menyentuh level tertinggi sesi.

    Data yang dirilis sebelumnya pada Selasa menunjukkan inflasi inti AS meningkat pada Juli, meski kenaikan harga barang cenderung moderat. Hal ini meredam kekhawatiran tekanan harga akibat tarif dan memperkuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pada September.

    Proyek renovasi menjadi salah satu fokus kampanye tekanan Trump terhadap Powell dan The Fed yang dinilai gagal memangkas biaya pinjaman. Bulan lalu, Trump bahkan melakukan kunjungan langka ke kantor pusat The Fed untuk meninjau langsung lokasi konstruksi, yang sempat menandai jeda singkat ketegangan antara keduanya.

    Namun, kritik kembali menguat setelah The Fed mempertahankan suku bunga pada Juli, diikuti periode gejolak di mana Trump memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja AS usai laporan melemahnya pasar tenaga kerja.

    Trump berulang kali mendesak Powell mundur, bahkan sempat mempertimbangkan pemecatan langsung sebelum memutuskan menunggu hingga masa jabatan Powell berakhir demi menghindari guncangan pasar. 

    Menteri Keuangan AS Scott Bessent saat ini tengah mencari kandidat pengganti, dengan Trump dijadwalkan mengumumkan pilihannya pada musim gugur ini.

    Pekan lalu, Trump juga memanfaatkan peluang lebih awal untuk mempengaruhi arah kebijakan The Fed dengan menunjuk Stephen Miran, penasihat ekonominya, sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed menggantikan Adriana Kugler yang masa jabatannya berakhir Januari 2026. Penunjukan ini masih menunggu konfirmasi Senat.

  • Anggota Dewan Gubernur The Fed Ini Dorong Tiga Pemangkasan Suku Bunga pada 2025

    Anggota Dewan Gubernur The Fed Ini Dorong Tiga Pemangkasan Suku Bunga pada 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Ketua Pengawasan Dewan Gubernur Federal Reserve (The Fed) AS, Michelle Bowman menyatakan bahwa dia mendukung tiga pemangkasan suku bunga tahun ini. Bowman mengatakan dalam pernyataan tertulisnya bahwa pandangannya diperkuat oleh data pasar tenaga kerja yang lemah baru-baru ini.

    “Pengambilan keputusan pada pertemuan pekan lalu akan secara proaktif mengantisipasi risiko memburuknya kondisi pasar tenaga kerja dan pelemahan lebih lanjut aktivitas ekonomi,” kata Bowman dalam sambutan yang disiapkan untuk pertemuan Asosiasi Bankir Kansas dikutip dari Reuters, Minggu (10/8/2025).

    Laporan ketenagakerjaan bulanan Departemen Tenaga Kerja AS pada Jumat (8/8/2025) menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%, yang oleh Bowman disebut “hampir membulat ke 4,3%”. Laporan itu juga merevisi data sebelumnya, menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat tajam dalam tiga bulan terakhir menjadi rata-rata 35.000 per bulan.

    Menurut Bowman, hal ini jauh di bawah laju moderat pada awal tahun yang kemungkinan disebabkan oleh pelemahan signifikan pada permintaan tenaga kerja. 

    “Proyeksi Ekonomi Saya mencakup tiga kali pemangkasan suku bunga tahun ini, konsisten dengan perkiraan saya sejak Desember lalu, dan data pasar tenaga kerja terbaru memperkuat pandangan tersebut,” kata Bowman.

    Adapun, The Fed masih memiliki tiga pertemuan kebijakan tersisa tahun ini, yakni pada September, Oktober, dan Desember.

    Bulan lalu, Bowman menjadi salah satu dari dua gubernur The Fed yang menyatakan tidak setuju atau dissent terhadap keputusan bank sentral AS mempertahankan suku bunga jangka pendek di kisaran 4,25%–4,50% yang berlaku sejak Desember.

    Sebagian besar pejabat The Fed cenderung lebih berhati-hati terhadap penurunan suku bunga, mengingat potensi kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump dapat mengganggu upaya menurunkan inflasi menuju target 2%. Namun, dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pembuat kebijakan The Fed tampak semakin mendukung pemangkasan suku bunga.

    Secara historis, ekonom menilai penciptaan 100.000 lapangan kerja per bulan konsisten dengan pasar tenaga kerja yang stabil. Namun, pengurangan besar dalam imigrasi sejak Trump memulai masa jabatan keduanya pada Januari membuat angka tersebut kemungkinan lebih rendah.

    Dukungan penuh Bowman terhadap pemangkasan suku bunga datang di tengah tekanan Trump kepada The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter sepanjang tahun ini. 

    Pencarian pengganti Ketua The Fed Jerome Powell — yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang — sedang berlangsung, dengan beberapa kandidat, termasuk sesama dissent Bowman, Christopher Waller, masuk dalam pertimbangan. Bowman mengungkapkan bahwa dia sudah mulai mendorong pemangkasan suku bunga Juli sejak rapat The Fed pada Juni.

    Trump sendiri menyebut data ketenagakerjaan terbaru “direkayasa” dan memecat Kepala Biro Statistik Tenaga Kerja sesaat setelah laporan tersebut dirilis.

    Bowman mengulang pandangannya bahwa revisi besar dalam data membuatnya berhati-hati untuk menarik kesimpulan dari laporan pasar tenaga kerja. Namun, dia menyebut berita terbaru mengenai pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, dan inflasi konsisten dengan meningkatnya risiko terhadap sisi ketenagakerjaan dari mandat ganda The Fed.

    Inflasi

    Dia menambahkan, data inflasi terbaru juga meningkatkan keyakinannya bahwa tarif impor yang diberlakukan pemerintahan Trump tidak akan memicu inflasi yang persisten.

    Tanpa kenaikan harga barang terkait tarif, inflasi inti berada jauh lebih dekat ke target 2% The Fed dibandingkan angka resmi 2,8% pada Juni, berdasarkan perubahan tahunan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) inti.

    Menurut Bowman, kebijakan pemerintahan Trump, termasuk pemotongan pajak dan deregulasi, kemungkinan akan mengimbangi dampak negatif atau tekanan harga dari bea impor.

    Dengan permintaan perumahan yang diperkirakan terlemah sejak krisis keuangan dan pasar tenaga kerja yang tidak lagi mendorong inflasi, risiko kenaikan terhadap stabilitas harga telah berkurang. 

    Dia mengatakan,pelonggaran kebijakan secara bertahap dari posisi moderat-restriktif saat ini akan mengurangi kemungkinan Komite harus melakukan koreksi kebijakan yang lebih besar jika pasar tenaga kerja memburuk lebih lanjut.

  • Louis James dan Marc Sumerlin Masuk Kandidat Ketua The Fed Pengganti Powell

    Louis James dan Marc Sumerlin Masuk Kandidat Ketua The Fed Pengganti Powell

    Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah nama baru mencuat sebagai calon Ketua bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menggantikan Jerome Powell.

    Melansir Reuters pada Minggu (10/8/2025), Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent memimpin proses pencarian pengganti Powell dengan daftar kandidat yang diperluas.

    Menurut sumber yang mengetahui proses tersebut, daftar terbaru tersebut mencakup Presiden The Fed St. Louis James Bullard dan Marc Sumerlin, mantan penasihat ekonomi Presiden George W. Bush.

    Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett dan mantan gubernur The Fed Kevin Warsh masih masuk dalam pertimbangan, begitu pula gubernur The Fed saat ini, Christopher Waller.

    Sebelumnya, Wall Street Journal memaparkan bahwa jumlah kandidat calon Ketua The Fed kini berjumlah sekitar 10 orang. Adapun, Presiden AS Donald Trump pekan lalu sempat mengatakan telah mempersempit daftar menjadi empat nama.

    Trump sepanjang tahun ini menekan Powell untuk memangkas suku bunga, melanjutkan kritiknya terhadap Ketua The Fed yang sudah berlangsung sejak masa jabatan pertamanya sebagai presiden, tak lama setelah mengangkat Powell ke posisi tersebut. Adapun, masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei 2026 mendatang. 

    Sejumlah pihak mengkritik bahwa presiden sebaiknya membiarkan Powell menyelesaikan masa jabatannya tanpa intervensi.

    Hassett, Warsh, dan Waller diketahui mendukung suku bunga yang lebih rendah, sejalan dengan kriteria yang disebut Trump sebagai salah satu syarat untuk menjabat Ketua The Fed.

    Bullard, yang meninggalkan The Fed St. Louis tahun lalu untuk menjadi dekan sekolah bisnis Universitas Purdue, merupakan atasan Waller sebelum Trump merekrut direktur riset The Fed regional tersebut ke Dewan Gubernur The Fed. 

    Pada Mei lalu, Bullard mengatakan bahwa The Fed kemungkinan dapat memangkas suku bunga pada September. 

    Pandangan kebijakan moneter terbaru Sumerlin belum diketahui secara jelas. Dampak dari diperluasnya daftar kandidat terhadap waktu penunjukan juga belum pasti.

    Trump bergerak cepat pekan ini untuk menunjuk sekutu politiknya ke Dewan Gubernur The Fed setelah Gubernur The Fed Adriana Kugler, yang diangkat Presiden Joe Biden dan tidak mendukung pemangkasan suku bunga, mengundurkan diri secara mengejutkan. 

    Penasihat Dewan Ekonomi Stephen Miran akan mengisi sisa masa jabatan Kugler hingga 31 Januari 2025.

    Trump juga menyatakan bahwa pencarian masih berlanjut untuk mengisi kursi Dewan Gubernur The Fed dengan masa jabatan penuh 14 tahun mulai 1 Februari 2025.

  • Christopher Waller Mencuat Jadi Kandidat Kuat Gantikan Jerome Powell

    Christopher Waller Mencuat Jadi Kandidat Kuat Gantikan Jerome Powell

    Bisnis.com, JAKARTA — Nama Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mencuat sebagai kandidat terkuat pengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed di masa pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menurut sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.

    Melansir Bloomberg pada Jumat (8/8/2025), penasihat Trump disebut terkesan dengan pendekatan Waller yang berbasis proyeksi ketimbang data terkini, serta pemahaman mendalamnya terhadap sistem The Fed secara keseluruhan. Meski telah bertemu dengan tim presiden, Waller belum melakukan pertemuan langsung dengan Trump.

    Selain Waller, mantan pejabat The Fed Kevin Warsh dan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett juga disebut masih masuk dalam radar pencalonan. Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada Mei 2026.

    “Presiden Trump akan terus mencalonkan individu paling kompeten dan berpengalaman. Namun, kecuali disampaikan langsung oleh Presiden Trump, setiap pembahasan terkait penunjukan pejabat harus dianggap spekulatif,” ujar Juru Bicara Gedung Putih Kush Desai.

    Adapun, The Fed menolak memberikan komentar terkait kabar ini.

    Stephen Miran, Ketua Dewan Penasihat Ekonomi Gedung Putih, menyebut Waller memiliki rekam jejak mengesankan, terutama dalam merespons inflasi dan arah kebijakan suku bunga selama dua tahun terakhir.

    Sementara itu, Trump mengatakan bahwa daftar kandidat Ketua The Fed telah mengerucut menjadi tiga nama. Proses seleksi dipimpin oleh Menteri Keuangan Scott Bessent, Wakil Presiden JD Vance, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick.

    Sebelumnya Hassett dilaporkan telah bertemu langsung dengan Trump untuk membahas posisi tersebut dan mendapatkan kesan positif dari sang presiden. Warsh, yang sempat diwawancarai pada 2017, juga kembali disebut-sebut, termasuk sebagai kandidat Menteri Keuangan pada November lalu.

    Pencarian Ketua The Fed ini berlangsung di tengah upaya pengisian kursi Dewan Gubernur yang akan ditinggalkan Adriana Kugler. Trump menyatakan akan menunjuk gubernur sementara untuk mengisi kekosongan tersebut sebelum menunjuk kandidat permanen yang akan menjalani masa jabatan 14 tahun mulai awal 2026. Kandidat tersebut disebut akan berasal dari kalangan yang mendukung suku bunga rendah.

    Perbedaan Sikap dengan Powell

    Waller baru-baru ini menjadi satu dari dua anggota Dewan The Fed yang tidak sepakat dengan keputusan mempertahankan suku bunga acuan. Bersama Michelle Bowman—sama-sama diangkat oleh Trump—Waller mengusulkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin, mengacu pada pelemahan di pasar tenaga kerja.

    Beberapa hari setelah keputusan The Fed, laporan ketenagakerjaan AS menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja melambat, memperkuat argumentasi Waller dan Bowman.

    Pandangan Waller ini bertolak belakang dengan Powell dan mayoritas pejabat The Fed yang masih menganggap pasar tenaga kerja cukup solid dan memilih pendekatan hati-hati dalam mengantisipasi dampak kebijakan tarif Trump terhadap ekonomi.

    Rekam Jejak dan Pandangan

    Waller, ekonom bergelar Ph.D., diangkat sebagai Gubernur The Fed oleh Trump pada 2020. Sebelumnya, ia menjabat Direktur Riset dan Wakil Presiden Eksekutif di The Fed St. Louis. 

    Dia juga dikenal publik setelah terlibat debat terbuka dengan ekonom kawakan Larry Summers pada 2022 terkait strategi penurunan inflasi pasca-pandemi. Prediksinya terbukti tepat setelah inflasi turun di bawah 3% tanpa disertai lonjakan pengangguran.

    Meski begitu, Trump kerap melontarkan ketidakpuasan terhadap Powell, memunculkan kekhawatiran soal independensi The Fed ke depan. Namun, Waller menyatakan pada April lalu bahwa independensi bank sentral merupakan elemen krusial bagi kestabilan ekonomi AS.

    “Kalau tidak siap dikritik, jangan ambil pekerjaan itu. Presiden bebas menyampaikan pandangannya soal kebijakan, sebagaimana publik lainnya,” ujarnya.

    Dalam wawancara bulan lalu, Waller mengaku belum menerima tawaran langsung dari Trump. 

    “Kalau presiden menghubungi dan meminta saya untuk menjabat, saya akan bersedia. Tapi sejauh ini belum ada komunikasi langsung,” katanya.

  • Trump Tunjuk Stephen Miran Jadi Gubernur Interim The Fed Gantikan Adriana Kugler

    Trump Tunjuk Stephen Miran Jadi Gubernur Interim The Fed Gantikan Adriana Kugler

    Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump menunjuk Ketua Dewan Penasihat Ekonomi atau Council of Economic Advisers (CEA) Stephen Miran sebagai Gubernur Sementara The Fed menggantikan Adriana Kugler yang akan lengser Januari mendatang.

    “Dia telah bersama saya sejak awal masa jabatan kedua, dan keahliannya di bidang ekonomi tidak tertandingi — Dia akan menjalankan tugasnya dengan sangat baik,” kata Trump dalam unggahannya di media sosial, yang dikutip dari Bloomberg, Jumat (8/8/2025)

    Trump menegaskan penunjukan ini bersifat sementara sambil pemerintah terus mencari kandidat permanen untuk mengisi posisi tersebut. Miran masih harus menjalani proses konfirmasi di Senat AS.

    Pengumuman ini langsung berdampak pada pasar, dengan Bloomberg Dollar Spot Index menghapus seluruh kenaikan hariannya setelah kabar penunjukan Miran beredar. Pihak The Fed belum memberikan komentar resmi terkait keputusan tersebut.

    Miran dikenal sebagai pengkritik keras kebijakan The Fed dalam beberapa tahun terakhir. Dalam makalah sepanjang 24 halaman yang dia tulis bersama Dan Katz, kini menjabat Kepala Staf di Departemen Keuangan AS, Miran menuding bahwa kesalahan kebijakan moneter The Fed disebabkan oleh “groupthink” alias pola pikir seragam tanpa keberagaman pandangan. 

    Keduanya juga mengkritik The Fed karena dinilai telah merambah ke ranah politik yang seharusnya di luar mandat bank sentral.

    “Rekam jejak The Fed dalam beberapa tahun terakhir menimbulkan pertanyaan apakah lembaga ini masih dijalankan sesuai prinsip independensi bank sentral yang ideal,” tulis Miran dan Katz dalam makalah tersebut.

    Mereka mengusulkan pemisahan kebijakan moneter dari fungsi pengawasan dan regulasi perbankan, dengan mencabut kewenangan dewan gubernur atas sektor terakhir. Usulan itu memerlukan persetujuan legislatif dan bertujuan untuk menghindari pencemaran proses kebijakan moneter yang tidak perlu. 

    Pro Pelonggaran Kebijakan The Fed

    Joe Gilbert, Manajer Portofolio di Integrity Asset Management, mengatakan penunjukan Miran bukanlah pilihan yang diantisipasi pasar, namun masih sejalan dengan ekspektasi kebijakan yang lebih longgar.

    “Miran bisa menjadi suara tambahan yang mendorong pelonggaran kebijakan The Fed. Ini memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sepanjang sisa tahun ini. Kita telah resmi memasuki siklus pelonggaran,” kata Gilbert.

    Dalam wawancara dengan Bloomberg TV sebelumnya pada hari yang sama, Miran mengatakan tidak ada bukti tekanan harga yang signifikan secara makroekonomi akibat kebijakan tarif Trump terhadap mitra dagang AS.

    “Secara keseluruhan, kami tidak memperkirakan inflasi yang signifikan akibat tarif ini,” ujarnya. 

    Dia melanjutkan, jika pun ada dampak inflasi, hal itu hanya akan bersifat satu kali, bukan tren jangka panjang.

    Pernyataan Miran berbeda dengan pandangan Ketua The Fed Jerome Powell yang sebelumnya menegaskan meski dampak tarif terhadap inflasi kemungkinan bersifat sementara, risiko efek yang lebih persisten tetap perlu diwaspadai oleh pembuat kebijakan.

    “Bisa saja dampaknya lebih bertahan lama, dan itu adalah risiko yang harus dipertimbangkan dan dikelola,” ujar Powell dalam konferensi pers 30 Juli lalu, usai The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga untuk kelima kalinya secara berturut-turut.

    Miran juga memuji Gubernur The Fed Christopher Waller ketika ditanya soal pencarian pengganti Powell, yang masa jabatannya sebagai ketua berakhir Mei tahun depan.

    Waller menjadi satu-satunya anggota dewan yang tidak sepakat dalam keputusan terbaru The Fed untuk menahan suku bunga, dan menyatakan lebih memilih pemangkasan 25 basis poin. Ia juga memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

    “Dia telah menunjukkan integritas luar biasa akhir-akhir ini, tidak terjebak dalam sindrom ‘panik tarif’ seperti yang dialami banyak orang, termasuk di The Fed. Dia berhasil menjaga suara independennya,” ujar Miran

    Sementara itu, Senat AS yang harus mengesahkan penunjukan Miran saat ini sedang dalam masa reses tahunan bulan Agustus dan baru akan kembali bersidang pada awal September. Proses konfirmasi diperkirakan akan memakan waktu, kecuali jika mendapat prioritas dari pimpinan Partai Republik.

    Miran sebelumnya dikonfirmasi untuk posisi ketua CEA pada Maret lalu melalui pemungutan suara yang nyaris sepenuhnya mengikuti garis partai, dengan hasil 53–46.