Tag: Jerome Powell

  • Rupiah melemah seiring banyak pejabat Fed tetap kekeh tahan suku bunga

    Rupiah melemah seiring banyak pejabat Fed tetap kekeh tahan suku bunga

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah melemah seiring banyak pejabat Fed tetap kekeh tahan suku bunga
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Jumat, 22 Agustus 2025 – 18:23 WIB

    Elshinta.com – Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi sikap banyak pejabat Federal Reserve (The Fed) tetap kekeh mempertahankan suku bunga.

    Di sisi lain, banyak pihak pula yang memprediksi bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September 2025.

    “Banyak pejabat gubernur Bank Sentral Amerika yang masih tetap kekeh mempertahankan suku bunga karena kondisi inflasi yang masih tinggi,” ujarnya dalam keterangan diterima di Jakarta, Jumat.

    Mengutip Anadolu, disebutkan bahwa Gubernur The Fed Jerome Powell sedang menghadap tekanan dari Presiden AS Donald Trump untuk memangkas suku bunga.

    Powell sendiri beranggapan bahwa belum ada keputusan yang dibuat terkait pemangkasan suku bunga pada September.

    Gubernur The Fed menekankan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan semua informasi dan data yang tersedia saat ini ketika membuat keputusan saat pertemuan FOMC bulan depan.

    “Saat banyak Gubernur Bank Sentral yang mempertahankan suku bunga untuk bulan September ini, Trump pun juga kembali memberikan satu ancaman untuk melakukan pemecatan terhadap Gubernur Bank Sentral Amerika. Ini yang sebenarnya membuat dolar Amerika ini kembali lagi mengalami penguatan,” kata Ibrahim.

    Kendati jabatan Powell baru akan berakhir pada Mei 2026, Anadolu mengungkapkan, tetapi Pemerintah AS berupaya mempercepat proses tersebut karena Trump yakin penurunan suku bunga sangat dibutuhkan.

    Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari Jumat di Jakarta melemah sebesar 63 poin atau 0,38 persen menjadi Rp16.351 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.288 per dolar AS.

    Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.340 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.283 per dolar AS.

    Sumber : Antara

  • Harga Emas Antam Hari Ini 22 Agustus 2025 Lebih Mahal Rp 2.000, Cek Daftarnya di Sini – Page 3

    Harga Emas Antam Hari Ini 22 Agustus 2025 Lebih Mahal Rp 2.000, Cek Daftarnya di Sini – Page 3

    Sementara itu, Departemen Kehakiman AS berencana untuk menyelidiki Gubernur Fed Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek, dengan seorang pejabat senior mendesak Ketua Jerome Powell untuk mengeluarkannya dari dewan direksi, Bloomberg News melaporkan pada Kamis.

    Perusahaan riset Fitch Solutions, BMI, pada Rabu merevisi perkiraan harga emas 2025 naik sebesar USD 150 menjadi USD 3.250 per ounce.

    “Harga akan tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang karena pasar bersiap untuk penurunan suku bunga The Fed AS pada bulan September. Bahkan saat itu, kami yakin kenaikan harga emas setelah penurunan suku bunga akan terbatas karena sebagian besar sudah diperhitungkan,” kata BMI dalam sebuah catatan.

    Harga perak spot naik 0,6% menjadi USD 38,10 per ounce, platinum naik 1,1% menjadi USD 1.354,20, dan paladium turun 0,6% menjadi USD 1.107,41.

  • Harga Emas Pegadaian Hari Ini 22 Agustus 2025: Antam, Galeri24 dan UBS Kompak Melesat – Page 3

    Harga Emas Pegadaian Hari Ini 22 Agustus 2025: Antam, Galeri24 dan UBS Kompak Melesat – Page 3

    Sebelumnya, harga emas sedikit melemah pada perdagangan Kamis, 21 Agustus 2025. Koreksi harga emas terjadi didorong penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

    Di sisi lain, investor menanti pidato ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell di Simposium Jackson Hole untuk mendapatkan sinyal arah kebijakan AS.

    Mengutip CNBC, Jumat (22/8/2025), harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi USD 3.337,95 per ounce. Harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup melemah 0,2% ke posisi USD 3.386,50.

    Indeks dolar AS naik 0,4% membuat emas yang dihargakan dalam dolar AS menjadi mahal bagi pembeli luar negeri.

    Jerome Powell akan berbicara di konferensi Jackson Hole mengenai prospek ekonomi dan sikap kebijakan the Fed  pada Jumat pekan ini.

    “Jika (Powell) mengisyaratkan penurunan suku bunga pada September, saya rasa tidak banyak yang akan terjadi karena pasar sudah memperkirakan hal itu,” ujar Analis Marex, Edward Meir.

     

     

  • Harga Emas Tergelincir Jelang Pidato Ketua The Fed Jerome Powell – Page 3

    Harga Emas Tergelincir Jelang Pidato Ketua The Fed Jerome Powell – Page 3

    The Fed telah mempertahankan suku bunga sejak Desember, tetapi para pedagang melihat peluang 71% untuk penurunan seperempat poin pada bulan September, menurut perangkat FedWatch CME.

    Jumlah warga Amerika Serikat yang mengajukan tunjangan pengangguran melonjak minggu lalu, menandai peningkatan terbesar dalam hampir tiga bulan.

    Sementara itu, Departemen Kehakiman AS berencana untuk menyelidiki Gubernur Fed Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek, dengan seorang pejabat senior mendesak Ketua Jerome Powell untuk mengeluarkannya dari dewan direksi, Bloomberg News melaporkan pada Kamis.

    Perusahaan riset Fitch Solutions, BMI, pada Rabu merevisi perkiraan harga emas 2025 naik sebesar USD 150 menjadi USD 3.250 per ounce.

    “Harga akan tetap tinggi dalam beberapa minggu mendatang karena pasar bersiap untuk penurunan suku bunga The Fed AS pada September. Bahkan saat itu, kami yakin kenaikan harga emas setelah penurunan suku bunga akan terbatas karena sebagian besar sudah diperhitungkan,” kata BMI dalam sebuah catatan.

    Harga perak spot naik 0,6% menjadi USD 38,10 per ounce, platinum naik 1,1% menjadi USD 1.354,20, dan paladium turun 0,6% menjadi USD 1.107,41.

  • The Fed Bakal Buat Pengumuman Besar Hari Ini, Suku Bunga Turun?

    The Fed Bakal Buat Pengumuman Besar Hari Ini, Suku Bunga Turun?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Federal Reserve Jerome Powell dijadwalkan untuk menyampaikan pidato utama di Jackson Hole, Wyonming, Jumat (22/8/2025). Pidato itu hampir pasti akan menjadi yang terakhir di pertemuan tahunan bank sentral, di tengah salah satu masa paling bergejolak dalam sejarahnya.

    Mengutip CNBC International, pidato tersebut diberi judul “Tinjauan Prospek Ekonomi dan Kerangka Kerja”. Pidato ini menunjukkan bahwa Powell akan menyampaikan pandangannya tentang kondisi secara umum serta membahas tujuan kebijakan jangka panjang The Fed.

    Sejumlah topik akan menjadi bahan pidato tersebut. Ini mencakup sentimen jangka pendek untuk pasar keuangan, jalur kebijakan The Fed jangka panjang, dan upaya untuk melestarikan independensi pada saat institusi itu menghadapi tekanan politik yang sangat besar.

    “Dia telah melakukan pekerjaan yang baik dalam menjaga independensi The Fed, mengabaikan kebisingan dan beberapa pertanyaan yang dia dapatkan, dan tetap fokus pada ketergantungan data dan mandat ganda The Fed,” kata Michael Arone, kepala ahli strategi investasi di State Street Global Advisors. “Dia mengambil jalan yang terhormat terkait independensi The Fed dan beberapa tekanan yang jelas dia dapatkan dari pemerintahan Trump. Jadi saya pikir dia akan terus berjalan di jalur itu.”

    Saat ini, Presiden Donald Trump terus-menerus menekan Powell dan rekan-rekannya. Seperti yang dia lakukan selama sebagian besar masa jabatan pertamanya, Trump mendesak Powell untuk menurunkan suku bunga.

    Namun dalam beberapa hari terakhir, serangan presiden terhadap The Fed telah melampaui kebijakan moneter. Awal musim panas ini, Gedung Putih mengecam The Fed atas proyek rekonstruksi besar di kantor pusatnya di Washington, D.C. Hal itu bertepatan dengan periode ketika Trump bermain-main dengan ide untuk mencopot Powell.

    Kemudian minggu ini, pemerintahan mengalihkan fokusnya ke Gubernur The Fed Lisa Cook. Trump menuduhnya melakukan penipuan hipotek terkait dengan dua pinjaman yang didukung pemerintah federal yang dia ambil.

    Politik dan Kebijakan.

    Di tengah kontroversi dan tekanan ini, Powell bisa menggunakan pidato tersebut untuk setidaknya menyerang gangguan politik. Walau begitu, ia mungkin tetap berpegang pada praktik masa lalu dengan tidak menargetkan secara langsung.

    “Dia akan melontarkan sindiran dan berbicara tentang independensi The Fed, karena apa yang harus dia rugikan pada titik ini?,” kata ekonom senior di Allianz Trade North America, Dan North.

    “Tampaknya cukup jelas bahwa Trump tidak bisa memecatnya secara hukum. Dia tentu bisa memberikan semua jenis tekanan yang luar biasa padanya. Dan saya pikir ini adalah kesempatan bagi Powell untuk mengatakan bahwa bank sentral harus tetap independen, dan itulah yang akan kami lakukan.”

    Pasar memperkirakan Powell akan menyiapkan pemotongan suku bunga pada September. Dalam setiap pidato Jackson Hole sebelumnya, dimulai pada 2018, dia mengisyaratkan pergeseran kebijakan yang signifikan. Dari mendorong pemotongan triwulanan dalam pidato pertamanya, pergeseran penting dalam cara melihat inflasi pada 2020, hingga isyarat tahun lalu menuju langkah agresif pada September.

    Pasar telah mengambil petunjuk dari pidato utama ketua tersebut. Di sisi lain, komentar Wall Street mencerminkan ekspektasi serupa kali ini, meskipun dalam istilah yang agak lebih halus.

    “Kami tidak berharap Powell secara tegas mengisyaratkan pemotongan September, tetapi pidato tersebut harus memperjelas kepada pasar bahwa dia kemungkinan akan mendukungnya,” kata ekonom Goldman Sachs David Mericle dalam sebuah catatan.

    Inflasi vs. pengangguran

    Poin lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana Powell mengkarakterisasi pasar tenaga kerja dan pandangannya tentang dampak inflasi dari tarif Trump.

    Tak lama setelah pertemuan The Fed bulan Juli, Biro Statistik Tenaga Kerja mengumumkan pertumbuhan pekerjaan yang sedikit untuk Juli dan bahkan perolehan yang lebih lemah untuk Mei dan Juni. Namun, beberapa pembuat kebijakan telah menggunakan kata “solid” untuk menggambarkan pasar tenaga kerja, yang mengindikasikan urgensi yang lebih sedikit untuk pemotongan suku bunga.

    Di sisi lain, notulen dari pertemuan Juli mengindikasikan sebagian besar anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) melihat kekhawatiran yang lebih besar terhadap inflasi. Presiden regional The Fed Beth Hammack dari Cleveland, Raphael Bostic dari Atlanta dan Schmid di Kansas City telah menyatakan skeptisisme tentang perlunya pemotongan September.

    “Powell kemungkinan akan tetap berhati-hati dan tidak berkomitmen di muka untuk pemotongan September, yang dapat mengecewakan beberapa investor,” tulis Krishna Guha, kepala kebijakan global dan strategi bank sentral di Evercore ISI.

    “Sebagian besar pidatonya mungkin akan mencoba memberikan kerangka jangka menengah hingga jangka panjang yang stabil untuk strategi kebijakan dan pengendalian inflasi.”

    Lima tahun lalu, dengan latar belakang pandemi Covid dan protes atas kebrutalan polisi, The Fed mengadopsi apa yang disebutnya “target inflasi rata-rata yang fleksibel.” Pada dasarnya, hal ini memungkinkan The Fed untuk membiarkan inflasi berjalan panas jika pengangguran lebih tinggi, terutama bila kondisi ini terjadi kelompok yang kurang terwakili.

    Selama beberapa tahun berikutnya, The Fed tetap tidak berubah sementara inflasi mencapai level tertinggi dalam lebih dari 40 tahun. Kali ini, The Fed kemungkinan akan memperbarui sikapnya kepada posisi sebelumnya, yang mencakup tindakan pencegahan jika inflasi tampaknya meningkat.

    “Meskipun adopsi kerangka kerja baru pada 2020 bukanlah faktor utama di balik keterlambatan The Fed dan kelebihan inflasi yang substansial, itu berkontribusi pada hasil ini,” ujar Matthew Luzzetti, kepala ekonom AS Deutsche Bank, dalam sebuah catatan.

    “Untuk alasan ini, kami berharap pidato Powell di Jackson Hole akan menyoroti perubahan pada pernyataan The Fed tentang tujuan jangka panjang yang akan mencerminkan kenyataan ini. Secara khusus, kami berharap pidato tersebut menyerukan pengembalian modifikasi 2020 dan memulihkan peran utama untuk pencegahan.”

    (tps/tps)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Rupiah melemah seiring sikap hati-hati pasar jelang rilis rapat FOMC

    Rupiah melemah seiring sikap hati-hati pasar jelang rilis rapat FOMC

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    Rupiah melemah seiring sikap hati-hati pasar jelang rilis rapat FOMC
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 21 Agustus 2025 – 18:36 WIB

    Elshinta.com – Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengatakan pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi sikap hati-hati pasar menjelang rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

    “Rupiah mendapat tekanan dari penguatan dolar AS (Amerika Serikat) seiring sikap hati-hati pasar menjelang rilis risalah rapat FOMC,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

    Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis sore melemah sebesar 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp16.288 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.271 per dolar AS.

    Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru menguat ke level Rp16.283 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.291 per dolar AS.

    Pasar disebut menunggu sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang berpotensi menyampaikan pernyataan bernada hawkish. Hal ini akan mempertahankan penguatan dolar AS, sedangkan indikasi pelonggaran suku bunga dapat membuka ruang apresiasi bagi rupiah.

    Mengutip Anadolu, risalah rapat pertemuan FOMC pada Rabu (20/8) menunjukkan bahwa para pejabat khawatir tentang kondisi ekonomi, inflasi, dan pasar tenaga kerja, kendati mayoritas dari mereka sepakat bahwa pemotongan suku bunga acuan masih terlalu dini.

    Risalah rapat dirilis menjelang pidato utama Gubernur The Fed Jerome Powell dijadwalkan pada Jumat (22/8) di simposium tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, AS.

    Melihat sentimen dari dalam negeri, pasar dinyatakan masih mencermati arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), serta data fundamental seperti neraca perdagangan yang menjadi penopang stabilitas rupiah.

    Menurut Taufan, sentimen ini membuat pelemahan rupiah relatif terbatas, kendati dolar AS bergerak menguat.

    “Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak dinamis mengikuti perkembangan data ekonomi global dan respons kebijakan moneter dalam negeri,” ucap dia.

    Sumber : Antara

  • IHSG ditutup melemah di tengah `wait and see` pidato Ketua The Fed

    IHSG ditutup melemah di tengah `wait and see` pidato Ketua The Fed

    Sumber foto: Antara/elshinta.com.

    IHSG ditutup melemah di tengah `wait and see` pidato Ketua The Fed
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Kamis, 21 Agustus 2025 – 18:46 WIB

    Elshinta.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup melemah di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pidato Ketua The Fed Jerome Powell.

    IHSG ditutup melemah 53,10 poin atau 0,67 persen ke posisi 7.890,72. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 2,03 poin atau 0,25 persen ke posisi 828,98.

    “Aksi profit taking terhadap beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar membebani IHSG,” sebut Tim Riset Phintraco Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

    Dari mancanegara, pelaku pasar global menantikan pidato Ketua The Fed Jerome Powell dalam simposium Jackson Hole di Amerika Serikat (AS) pada Jumat (22/8).

    Dari dalam negeri, defisit neraca transaksi berjalan Indonesia mencapai 3 miliar dolar AS pada kuartal II-2025, dari sebelumnya defisit 228 juta dolar AS pada kuartal I-2025, namun relatif sama dibandingkan dengan kuartal IV-2024.

    Data itu menandai defisit neraca transaksi berjalan selama sembilan kuartal berturut-turut dan merupakan defisit terbesar sejak kuartal II-2024, atau setara dengan 0,8 persen Produk Domestik Bruto (PDB). Bank Indonesia (BI) menargetkan defisit transaksi berjalan sekitar 0,5-1,3 persen PDB pada 2025.

    Kemudian, pelaku pasar akan mencermati data jumlah uang beredar M2 di Indonesia periode Juli 2025, yang diperkirakan meningkat 6,7 persen (yoy) atau lebih tinggi dari pertumbuhan Juni 2025 yang sebesar 6,5 persen (yoy).

    Akselerasi jumlah uang beredar M2 menandakan aktivitas ekonomi dan likuiditas mulai meningkat, disinyalir salah satunya berkat pemangkasan BI Rate serta adanya bantuan sosial dari pemerintah.

    Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

    Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor menguat yaitu sektor industri naik sebesar 1,38 persen, diikuti oleh sektor barang konsumen primer dan sektor teknologi yang naik masing-masing sebesar 0,69 persen dan 0,32 persen.

    Sedangkan enam sektor terkoreksi yaitu sektor energi turun paling dalam sebesar 2,16 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor properti yang masing-masing naik sebesar 1,28 persen dan 0,62 persen.

    Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu ACST, PRIM, ACRO, DFAM, dan DATA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni DSSA, PACK, SAPX, BEER, dan PBSA.

    Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.129.608 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 37,80 miliar lembar saham senilai Rp17,00 triliun. Sebanyak 366 saham naik, 283 saham menurun, dan 158 tidak bergerak nilainya.

    Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 248,55 poin atau 0,58 persen ke 42.640,00, indeks Hang Seng melemah 61,33 poin atau 0,24 persen ke 25.101,94, indeks Shanghai naik 4,89 poin atau 0,13 persen ke 3.771,10, dan indeks Strait Times menguat 11,36 poin atau 0,27 persen ke 4.230,90.

    Sumber : Antara

  • Harga Emas Antam Terbang Tinggi 21 Agustus 2025, Cek Rinciannya! – Page 3

    Harga Emas Antam Terbang Tinggi 21 Agustus 2025, Cek Rinciannya! – Page 3

    Harga emas menguat hampir 1% pada perdagangan Rabu, 20 Agustus 2025 waktu setempat. Kenaikan harga emas terjadi seiring dolar Amerika Serikat (AS) melemah.

    Di sisi lain, pelaku pasar bersiap untuk risalah rapat kebijakan terakhir bank sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) dan symposium Jackson Hole yang akan datang untuk mendapatkan petunjuk tentang pergerakan suku bunga ke depan.

    Mengutip CNBC, Kamis (21/8/2025), harga emas di pasar spot naik 0,9% menjadi USD 3.345,38 per ounce pada pukul 13.11 EDT (17.11 GMT) setelah mencapai level terendah sejak 1 Agustus. Harga emas berjangka AS bertambah 0,8% menjadi USD 3.388,7.

    Adapun sentimen yang mempengaruhi harga emas itu yakni dolar AS yang melemah sehingga membuat emas batangan yang dihargakan dalam dolar AS lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.

    Risalah rapat the Federal Reserve pada Juli yang dijadwalkan pukul 14.00 EDT akan dirilis dua hari sebelum pidato ketua the Fed Jerome Powell di symposium ekonomi tahunan Jackson Hole pada Jumat pekan ini.

  • Bitcoin Terkoreksi Jelang Rilis FOMC dan Pidato The Fed Jerome Powell

    Bitcoin Terkoreksi Jelang Rilis FOMC dan Pidato The Fed Jerome Powell

    JAKARTA – Pasar kripto, khususnya Bitcoin turun 3,2% menyentuh level harga 113.000 dolar AS (Rp1,83 miliar) menjelang rilis minutes meeting FOMC Juli dan pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada 22 Agustus ini.

    Analis Reku Fahmi Almuttaqin menilai kecemasan pasar terutama dipicu oleh beberapa faktor yang mengindikasikan bahwa peluang pemotongan suku bunga The Fed pada September bisa tertunda.

    “Faktor-faktor tersebut meliputi tekanan tarif yang berpotensi mendorong kenaikan inflasi lebih tinggi, yang didukung oleh sinyal dari korporasi-korporasi soal pembebanan biaya tarif ke konsumen, serta sinyal ekonomi campuran antara pelemahan tenaga kerja dan permintaan konsumen yang tetap kuat,” kata Fahmi dalam Penjelasannya. 

    Selain itu, Fahmi menambahkan, faktor ketidakpastian kebijakan ekonomi pemerintah AS ke depan, dengan indikator ekonomi yang dapat lebih volatil, juga menjadi alasan kekhawatiran investor. 

    “Investor sepertinya sedang mengambil langkah antisipatif terhadap potensi sinyal negatif dari The Fed bahwa kenaikan inflasi kembali dianggap mengkhawatirkan imbas kebijakan tarif AS yang mulai semakin berdampak,” tuturnya lebih lanjut. 

    Namun, Fahmi menyatakan, terlepas dari tekanan dari sisi kebijakan perdagangan dan ketidakpastian arah kebijakan moneter, sejarah menunjukkan bahwa momentum bullish sering kembali pasca-Jackson Hole. 

    Bagi investor, Fahmi menyarankan strategi yang dapat dilakukan ialah memantau reaksi pasar setelah pidato Powell, langkah defensif dengan menjaga eksposur di sektor-sektor strategis dan siap pivot jika sinyal dovish muncul.

  • Pasar cermati arah kebijakan Bank Indonesia, IHSG diprediksi mendatar

    Pasar cermati arah kebijakan Bank Indonesia, IHSG diprediksi mendatar

    Pekerja Bursa Efek Indonesia (BEI) berswafoto di depan layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU/aa).

    Pasar cermati arah kebijakan Bank Indonesia, IHSG diprediksi mendatar
    Dalam Negeri   
    Editor: Novelia Tri Ananda   
    Rabu, 20 Agustus 2025 – 08:21 WIB

    Elshinta.com – Analis Phintraco Sekuritas Ratna Lim memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak mendatar pada perdagangan Rabu (20/08), dengan sentimen utama akan berasal dari tingkat domestik. Sentimen utama akan berasal dari pelaku pasar yang mencermati arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dalam pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Agustus 2025.

    “Diperkirakan IHSG menguji level support 7.800 dan sekaligus berpeluang menutup gap down,” ujar Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

    Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil RDG BI, yang menurut konsensus akan mempertahankan BI Rate pada level 5.25 persen, setelah pada RDG Juli 2025 menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. BI diperkirakan masih berpeluang menurunkan suku bunga lagi pada tahun ini, apabila laju inflasi masih terkendali dalam kisaran target BI yaitu 1,5- 3,5 persen.

    Inflasi Mei-Juli 2025 berturut-turut mengalami kenaikan mencapai 2,37 persen year on year (yoy) pada Juli 2025, yang merupakan inflasi tertinggi sejak Juni 2024, meskipun masih dalam kisaran target BI. Dari mancanegara, pelaku pasar masih menantikan simposium ekonomi tahunan para bank sentral di Jackson Hole, yang mana Ketua The Fed Jerome Powell akan melakukam berpidato.

    Pelaku pasar menantikan bagaimana arah kebijakan moneter The Fed hingga akhir tahun. Menurut FedWatch CME, terdapat peluang 85 persen untuk penurunan suku bunga The Fed sebanyak 25 bps pada pertemuan September 2025 mendatang. Di sisi lain, pelaku pasar mencermati keputusan moneter bank sentral China yang diperkirakan akan kembali mempertahankan Loan Prime Rate 1 tahun pada level 3 persen dan 5 tahun pada level 3,5 persen.

    Dipertahankannya suku bunga pada level rendah, disinyalir sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi China di tengah ancaman perang tarif, melemahnya daya beli dan mendorong pemulihan sektor properti.

    Dari kawasan Eropa, Presiden Trump mengatakan negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia dapat dilakukan selagi kedua negara masih berperang. Selain itu, pertemuan antara Presiden Putin dan Presiden Zelenskyy sedang direncanakan, yang akan diikuti oleh pertemuan trilateral yang akan melibatkan Trump.

    Dari Inggris, akan dirilis data inflasi Juli 2025 yang diperkirakan naik menjadi 3,7 persen (yoy) dari 3,6 persen (yoy) di Juni 2025 yang merupakan level tertinggi sejak Januari 2024. Pada perdagangan Selasa (19/08), bursa saham Eropa ditutup menguat, di antaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,87 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,34 persen, indeks DAX Jerman naik 0,45 persen, serta indeks CAC Prancis menguat 1,21 persen.

    Sementara itu, bursa saham AS di Wall Street ditutup variatif pada perdagangan Selasa (19/08), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 10,57 poin atau 0,02 persen ditutup di level 44.922,19, indeks S&P 500 melemah 0,58 persen ke level 6.411,91, indeks Nasdaq Composite melemah 314,82 poin atau 1,46 persen dan ditutup di level 21.314,02.

    Sumber : Antara