Tag: Jerome Powell

  • Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi Baru, Tembus USD 4.600

    Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi Baru, Tembus USD 4.600

    Liputan6.com, Jakarta – Harga emas dunia mencapai rekor tertinggi baru pada perdagangan Senin, (12/1/2026). Kenaikan harga emas tersebut memperpanjang reli yang luar biasa karena investor berbondong-bondong mencari aset aman di tengah gejolak geopolitik dan kebijakan dalam beberapa hari terakhir.

    Mengutip CNBC, harga emas di pasar spot naik 2% hingga mencapai lebih dari USD 4.600 per ounce untuk pertama kalinya, sebelum turun tipis, menurut data dari LSEG. Harga emas sudah menguat 6% sepanjang 2026.

    Adapun investigasi terhadap ketua the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell dan spekulasi tentang apakah hal itu dapat mempercepat perubahan kepemimpinan di the Fed telah menambah lapisan risiko kebijakan baru.

    “Terutama jika hal itu mengakibatkan dia mengundurkan diri dan kemudian meninggalkan the Fed lebih awal dari jadwal dan digantikan oleh seseorang yang lebih mendukung pemangkasan suku bunga,” ujar Analis Morningstar, Jon Mills.

    Adapun jaksa federal sedang memeriksa renovasi senilai USD 2,5 miliar untuk kantor pusat the Fed di Washington, AS dan kesaksian Powell kepada Kongres. Ketua the Fed Jerome Powell menuturkan, investigasi ini berawal dari rasa frustasi Presiden AS Donald Trump yang sudah berlangsung lama terhadap keengganan the Fed untuk memangkas suku bunga agresif.

    Skenario penunjukan Ketua Fed baru dapat membuka jalan bagi penurunan suku bunga yang lebih cepat, secara tradisional mendukung harga emas. Suku bunga yang lebih rendah cenderung mengangkat harga emas dengan mengurangi biaya peluang untuk memegang logam yang tidak memberikan imbal hasil. Efek tersebut telah diperkuat oleh data ekonomi AS baru-baru ini yang menunjukkan pendinginan pasar tenaga kerja.

    Titik-titik konflik terbaru yang melibatkan Iran dan Venezuela juga semakin memicu daya tarik emas sebagai aset safe haven.

     

     

  • Kapan Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell Diumumkan? Begini Kata Trump

    Kapan Bos Baru The Fed Pengganti Jerome Powell Diumumkan? Begini Kata Trump

    Bisnis.com, JAKARTA – Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan telah memiliki kandidat pilihan untuk menjadi pemimpin Federal Reserve (The Fed) selanjutnya. 

    Meski demikian, dia tidak terburu-buru untuk mengumumkan nama dan juga sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk memecat Kepala The Fed saat ini, Jerome Powell. 

    “Ya, masih. Belum berubah [kemungkinan]. Saya akan mengumumkan pada waktu yang tepat. Masih banyak waktu,” ujar Trump pada konferensi pers, Senin (29/12/2025), sebagaimana dilansir Bloomberg.

    Trump menambahkan Powell seharusnya mengundurkan diri dan menyatakan dia memiliki keinginan untuk memecat sang Kepala The Fed. Presiden AS ini sebelumnya hampir memecat Powell pada Juli lalu, tetapi mengurungkan niat usai pasar keuangan bereaksi negatif. “Mungkin saya masih akan melakukannya [memecat Powell],” kata Trump.

    Meski demikian, dia tidak menyebutkan siapa kandidat utama untuk mengisi posisi tersebut dan mengatakan akan diumumkan pada kisaran Januari 2026. 

    Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett diprediksi sebagai kandidat terdepan, meskipun Trump juga menyatakan minatnya pada mantan gubernur Fed Kevin Warsh. Finalis lain dalam proses ini termasuk gubernur Fed saat ini Christopher Waller dan Michelle Bowman serta Rick Rieder dari BlackRock.

    Trump sebelumnya telah membuat banyak pernyataan samar dan terkadang kontradiktif tentang proses pengambilan keputusannya terkait kepala bank sentral yang baru. 

    Presiden AS itu pernah mengatakan telah mempersempit daftar kandidat menjadi satu, tetapi kemudian dia mempertimbangkan beberapa kandidat dan telah memberikan pujian kepada beberapa nama dalam daftar pendek tersebut.

    Trump telah lama menjadi kritikus Powell, yang dipilih untuk memimpin bank sentral selama masa jabatan pertamanya. Presiden telah mengindikasikan bahwa dia menginginkan ketua berikutnya untuk lebih agresif memangkas suku bunga karena pemerintah berupaya menurunkan biaya kredit perumahan.

    Bank sentral telah menurunkan suku bunga pada setiap tiga pertemuan terakhirnya, tetapi para pejabat mengisyaratkan pada bulan Desember bahwa mereka kemungkinan hanya akan memangkas suku bunga sekali pada tahun 2026.

    Trump mengatakan sedang mempertimbangkan gugatan ketidakkompetenan berat terhadap Powell terkait proyek renovasi yang sedang berlangsung di The Fed. Masa jabatan Powell sebagai ketua akan berakhir pada Mei 2026, tetapi masa jabatannya di Dewan Gubernur The Fed baru berakhir pada 2028.

    Powell belum mengatakan apakah akan mundur ketika masa jabatannya sebagai ketua berakhir. Jika dia tetap menjabat, Powell akan menghalangi Trump untuk menunjuk anggota baru lainnya di dewan The Fed.

  • Aksi Jual Saham Emiten Teknologi Hantam Wall Street jelang Ganti Tahun

    Aksi Jual Saham Emiten Teknologi Hantam Wall Street jelang Ganti Tahun

    Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) tergelincir dua hari berturut-turut seiring dengan aksi jual saham perusahaan teknologi berkapitalisasi tinggi oleh para investor sebelum akhir tahun.

    Dilansir Bloomberg pada Selasa (30/12/2025), indeks S&P turun 0,3% dengan saham Tesla Inc., Nvidia Corp., dan Meta Platforms berada di antara big tech yang mengalami pelemahan.

    Sementara, indeks Nasdaq 100 dan Dow Jones Industrial Average susut masing-masing sebesar 0,5%, sedangkan MSCI World Index turun 0,3%.

    Imbal hasil atau yield surat utang negara AS 10-year Treasuries juga menurun ke level 4,11%. Joe Mazzola, Kepala Trading & Strategi Derivatif di Charles Schwab mengatakan pelemahan di pasar saham merupakan kebalikan dari minggu lalu, saat saham teknologi memimpin kenaikan. “Namun, hal itu tampaknya tidak terkait dengan faktor fundamental,” ujarnya.

    Kinerja indeks S&P 500 naik 17,4% year-to-date, menentang ekspektasi pelemahan yang terus-menerus imbas perang tarif, meskipun kinerjanya lebih rendah dibandingkan banyak indeks global lainnya.

    Sebastian Boyd, Ahli Strategi Makro Bloomberg, menyatakan dolar dan S&P 500 diperkirakan akan bersinar pada 2025. Namun, pada kenyataannya sedikit berbeda karena gejolak dan pengumuman tarif pada April lalu sempat menurunkan kepercayaan terhadap kebijakan Amerika. 

    “Indeks acuan AS telah mengalami tahun yang baik, tetapi belum secara meyakinkan mengalahkan para pesaingnya, bahkan di sektor teknologi,” ungkapnya.

    Konsensus optimis bahwa reli saham akan berlanjut pada 2026 setelah tiga tahun berturut-turut mengalami kenaikan. Terlepas dari sejumlah risiko yang mencakup potensi kegagalan dalam kemajuan kecerdasan buatan hingga guncangan kebijakan yang tidak terduga, para ahli strategi di sisi penjualan memperkirakan kenaikan rata-rata 9% lagi di S&P 500 tahun depan.

    Jason Pride, kepala strategi dan riset investasi, dan Michael Reynolds, wakil presiden strategi investasi di Glenmede menyatakan prospek pertumbuhan ekonomi AS tampak cerah untuk tahun depan. “Gabungan efek kebijakan tarif, stimulus fiskal, pergeseran di pasar tenaga kerja, produktivitas terkait AI, dan potensi deregulasi menunjukkan prospek di atas tren pada tahun 2026.”

    Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa dia memiliki kandidat pilihan untuk menjadi ketua Federal Reserve berikutnya, tetapi tidak terburu-buru untuk membuat pengumuman, sambil mempertimbangkan kemungkinan untuk memecat pemimpin bank sentral saat ini, Jerome Powell.

    Investor juga menilai prospek suku bunga dan kebijakan moneter AS. Para ahli strategi Wall Street memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah AS akan stabil hingga lebih tinggi pada tahun 2026 meskipun ada pemotongan suku bunga Federal Reserve.

  • Menkeu AS: Target Inflasi The Fed 2% Perlu Dikaji Ulang

    Menkeu AS: Target Inflasi The Fed 2% Perlu Dikaji Ulang

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent membuka peluang untuk meninjau ulang target inflasi Federal Reserve sebesar 2% setelah laju kenaikan harga berhasil diturunkan secara berkelanjutan ke level tersebut.

    Melansir Bloomberg pada Rabu (24/12/2025) Bessent menyatakan, pembahasan perubahan target inflasi baru relevan dilakukan setelah inflasi kembali terkendali dan kredibilitas kebijakan moneter terjaga.

    “Begitu kita kembali ke level 2%—yang menurut saya akan segera terlihat—barulah kita bisa berdiskusi, apakah lebih bijak menetapkan rentang target. Setelah target kembali terjangkar, kita bisa membicarakan soal rentang,” ujar Bessent dalam wawancara di All-In Podcast.

    Dalam wawancara yang diunggah pada 22 Desember tersebut, Bessent menyebut rentang target inflasi potensial bisa berada di kisaran 1,5%–2,5% atau 1%–3%. Menurutnya, terdapat ruang diskusi yang cukup luas mengenai pendekatan tersebut.

    The Fed secara resmi mengadopsi target inflasi 2% pada 2012, sejalan dengan kebijakan banyak bank sentral global. Namun, Bessent menilai ketepatan hingga satuan desimal dalam kebijakan inflasi tidak realistis. 

    Meski demikian, dia menegaskan perubahan target di tengah inflasi yang masih di atas sasaran berisiko menimbulkan persepsi bahwa otoritas moneter akan selalu melonggarkan target ketika inflasi melampaui batas.

    Wawancara itu dilakukan setelah rilis indeks harga konsumen (CPI) November pada 18 Desember yang menunjukkan inflasi tahunan sebesar 2,7%. The Fed sendiri lebih mengandalkan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE), yang tercatat naik 2,8% dalam 12 bulan hingga September, berdasarkan data terbaru.

    “Sulit untuk kembali menjangkar ekspektasi inflasi sebelum target tercapai dan kredibilitas terjaga,” ujar Bessent. 

    Dia juga mengakui adanya kekhawatiran rumah tangga terkait keterjangkauan biaya hidup, yang menurutnya tercermin dalam pemilihan sela pada November yang diwarnai kekalahan Partai Republik.

    Bessent menegaskan pemerintah memahami tekanan yang dirasakan masyarakat AS. Dia menilai lonjakan harga dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh kebijakan pemerintahan sebelumnya, meski inflasi kini mulai melandai, salah satunya berkat penurunan biaya sewa.

    Menurutnya, lonjakan sewa sebelumnya turut dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah imigran tidak berdokumen.

    Menanggapi pandangan sebagian ekonom yang menilai data CPI terbaru berpotensi terdistorsi akibat penutupan pemerintahan pada Oktober hingga awal November, Bessent menyatakan angka tersebut relatif akurat. Meski beberapa komponen seperti energi sempat naik, data waktu nyata menunjukkan tekanan harga mulai mereda.

    Selain itu, Bessent menilai stabilisasi defisit anggaran dapat menjadi argumen untuk tingkat suku bunga yang lebih rendah. Dia mencontohkan Jerman sebelum era euro, ketika bank sentral Bundesbank menurunkan suku bunga dengan imbalan komitmen pemerintah menjaga keseimbangan fiskal yang wajar.

    “Pendekatan seperti itu juga bisa diterapkan di sini,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa sebelum Perang Dunia II, Departemen Keuangan AS memiliki peran langsung dalam pengambilan keputusan The Fed.

    Menurut Bessent, menurunkan dan menstabilkan defisit anggaran akan berkontribusi terhadap proses disinflasi.

    Bessent, yang saat ini terlibat dalam proses seleksi calon pengganti Ketua The Fed Jerome Powell di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, kembali mengkritik kebijakan bank sentral yang dinilainya terlalu lama dan terlalu besar dalam memperluas neraca pasca-pandemi Covid-19.

    Dia mengakui pembelian aset skala besar merupakan bagian dari perangkat kebijakan bank sentral dan mendukung penggunaan kewenangan darurat The Fed untuk menyelamatkan sektor strategis saat krisis. Namun, terkait kebijakan pelonggaran kuantitatif secara luas, Bessent menilai durasinya terlalu lama.

  • Bos The Fed Jerome Powell Bakal Diganti, Siapa Kandidat Terkuat?

    Bos The Fed Jerome Powell Bakal Diganti, Siapa Kandidat Terkuat?

    Liputan6.com, Jakarta – Pencarian ketua baru Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve ((The Fed) memasuki fase penting. Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan segera menunjuk sosok pengganti Jerome Powell, yang masa jabatannya sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada Mei 2026.

    Tugas pemimpin baru bank sentral AS ini dipastikan tidak mudah. The Fed tengah menghadapi tekanan politik yang kuat, perbedaan pandangan internal soal arah kebijakan suku bunga tersebut.

    Dikutip dari BBC, Selasa (23/12/2025), Trump secara terbuka menginginkan penurunan suku bunga demi mendorong pertumbuhan ekonomi. Tekanan ini memunculkan kekhawatiran bahwa ketua The Fed berikutnya akan sulit menjaga jarak dari kepentingan politik.

    Setelah ditunjuk, kandidat pilihan Trump masih harus mendapatkan persetujuan Senat AS.

    Lantas, Siapa Kandidat Terkuat?

    Nama Kevin Hassett disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. Ekonom konservatif berusia 63 tahun ini dikenal sebagai penasihat ekonomi utama Trump dan saat ini memimpin Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih.Hassett pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat Ekonomi pada periode pertama kepemimpinan Trump.

    Kedekatannya dengan presiden membuat pasar memandangnya sebagai pilihan paling mungkin, meski peluangnya sempat melemah sejak Desember lalu.Namun, loyalitas Hassett terhadap Trump justru menjadi sorotan. Sejumlah analis mempertanyakan kemampuannya menjaga The Fed, terutama karena ia kerap membela kebijakan ekonomi Trump dan meremehkan data yang menunjukkan pelemahan ekonomi AS.

    Ekonom Deutsche Bank menilai Hassett akan menghadapi tantangan besar untuk meyakinkan pembuat kebijakan lain agar mengabaikan risiko inflasi dan memangkas suku bunga secara agresif.Menanggapi keraguan tersebut, Hassett menegaskan independensi The Fed tetap penting. Ia menyatakan penurunan suku bunga harus didasarkan pada konsensus dan data ekonomi yang kuat.

     

  • Inflasi AS Turun di Bawah Ekspektasi, Beban Biaya Hidup Masih Tinggi

    Inflasi AS Turun di Bawah Ekspektasi, Beban Biaya Hidup Masih Tinggi

    Bisnis.com, JAKARTA — Inflasi Amerika Serikat melambat di bawah perkiraan hingga November 2025, tetapi lonjakan harga kebutuhan pokok seperti daging sapi dan listrik tetap menekan daya beli rumah tangga.

    Data dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) yang dilansir dari Reuters pada Jumat (19/12/2025) mencatat, Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS pada November 2025 naik 2,7% (year on year/YoY). Catatan tersebut melambat dibandingkan kenaikan 3,0% dalam 12 bulan hingga September 2025. 

    Angka tersebut berada di bawah proyeksi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 3,1%. Adapun, CPI tercatat meningkat 0,2% dalam periode dua bulan hingga November 2025.

    BLS menyatakan tidak dapat memberikan panduan spesifik kepada pengguna data untuk menavigasi hilangnya observasi pada Oktober 2025. 

    Sebagai informasi, data CPI umumnya dikumpulkan sepanjang bulan. Namun, penutupan pemerintahan federal (government shutdown) selama 43 hari menyebabkan pengumpulan data tertunda hingga paruh kedua November 2025, bertepatan dengan periode diskon musim liburan.

    Penutupan pemerintahan juga membuat BLS tidak dapat merilis perubahan inflasi bulanan untuk November karena sebagian besar data Oktober 2025 tidak terkumpul. Bahkan, rilis CPI Oktober dibatalkan sepenuhnya, menjadi kali pertama BLS tidak menerbitkan data CPI bulanan.

    Para ekonom memperingatkan agar tidak menarik kesimpulan berlebihan dari laporan yang dinilai “berlubang-lubang” tersebut. Diskon akhir tahun untuk produk seperti pakaian dan peralatan rumah tangga diduga turut memberi bias penurunan pada data inflasi.

    “Laporan ini tidak hanya berisik dan penuh celah, tetapi juga memberikan gambaran inflasi yang bias ke bawah,” kata Kepala Ekonom EY-Parthenon, Gregory Daco.

    Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menyatakan para pembuat kebijakan akan mencermati data ekonomi yang tertunda dengan hati-hati dan sikap skeptis, mengingat gangguan pengumpulan data selama penutupan pemerintahan

    Meski demikian, pejabat Gedung Putih segera merespons rilis laporan tersebut. Penasihat ekonomi utama Trump menyebut data CPI sangat bagus, beberapa jam setelah presiden menyampaikan pidato nasional yang menyoroti isu keterjangkauan harga. 

    Biaya Hidup Jadi Tantangan Trump

    Biaya hidup diperkirakan tetap menjadi isu politik menjelang 2026, ketika Trump dan Partai Republik berupaya mempertahankan kendali atas Kongres AS.

    Sejumlah ekonom memperkirakan inflasi akan kembali meningkat pada Desember, seiring pelaku usaha masih meneruskan kenaikan biaya akibat tarif impor kepada konsumen. Selain itu, pertumbuhan pesat pusat data kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan mendorong permintaan listrik.

    Kebijakan tarif impor Trump telah mendorong kenaikan harga sejumlah barang, meski dampaknya berlangsung bertahap. 

    Kepala Ekonom AS Pantheon Macroeconomics, Samuel Tombs, memperkirakan sekitar 40% tarif telah diteruskan ke konsumen hingga September dan angka tersebut berpotensi naik menjadi 70% pada Maret.

    Harga daging sapi melonjak 15,8% (YoY) pada November—kenaikan terbesar sejak Juni 2020—dengan harga daging giling naik 14,9%. Harga kopi melonjak 18,8%. 

    Sementara itu, Trump telah memangkas tarif pada sejumlah komoditas, termasuk daging sapi, pisang, dan kopi, meski penurunan harga di tingkat konsumen diperkirakan membutuhkan waktu.

    Harga listrik naik 6,9%, tertinggi sejak April 2023. Sebaliknya, harga telur turun 13,2%, sedangkan harga bensin naik 0,9%. Harga kendaraan baru naik tipis 0,6% karena produsen menyerap sebagian biaya terkait tarif.

    “Meski inflasi inti terlihat positif, konsumen kemungkinan masih merasa tertekan karena harga banyak kebutuhan pokok di luar perumahan tetap naik cepat,” ujar Kepala Ekonom Comerica Bank, Bill Adams.

    Trump, yang memenangkan pemilu presiden 2024 dengan janji menurunkan inflasi, dalam beberapa pekan terakhir bergantian meremehkan isu keterjangkauan harga, menyalahkan Mantan Presiden Joe Biden, dan menjanjikan manfaat kebijakan ekonominya mulai tahun depan.

    Pekan lalu, The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,50%—3,75%, namun memberi sinyal biaya pinjaman tidak akan turun lebih jauh dalam waktu dekat sambil menunggu kejelasan arah pasar tenaga kerja dan inflasi.

    Di luar komponen pangan dan energi, inflasi inti naik 2,6% (YoY) pada November, terendah sejak Maret 2021. Inflasi inti tercatat naik 0,2% pada periode September hingga November.

    The Fed sendiri menjadikan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) sebagai acuan target inflasi 2%.

    Sementara itu, biaya perumahan—yang mencakup sewa dan tarif hotel—naik 0,2% dalam periode yang sama, angka yang dinilai sebagian ekonom kurang realistis mengingat komponen ini menyumbang lebih dari 40% inflasi inti.

    Kendati demikian, para ekonom menilai inflasi berpeluang melambat pada 2026 seiring meredanya dampak tarif dan melunaknya pasar tenaga kerja, yang turut menahan pertumbuhan upah dan inflasi jasa.

    Dalam laporan terpisah, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat klaim awal tunjangan pengangguran turun 13.000 menjadi 224.000 pada pekan yang berakhir 13 Desember, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja relatif stabil.

    “Inflasi memang melambat secara tren, meski data terbaru ini cenderung melebihkan perlambatan tersebut. Dikombinasikan dengan pasar tenaga kerja yang melunak, kami masih nyaman dengan peluang pemangkasan suku bunga pada Maret dan Juni tahun depan,” kata Ekonom Senior Wells Fargo, Michael Pugliese. 

  • Harga Emas Antam Hari Ini Rabu 17 Desember 2025, 1 Gram Naik Segini

    Harga Emas Antam Hari Ini Rabu 17 Desember 2025, 1 Gram Naik Segini

    Sebelumnya, harga emas naik pada hari ini Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah laporan pekerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan tingkat pengangguran naik bulan lalu dibandingkan September, memperkuat spekulasi tentang penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) dan menyebabkan indeks dolar AS turun.

    Dikutip dari CNBC, Rabu (17/12/2025), harga emas spot naik 0,2% menjadi USD 4.310,21 per ons. Kontrak berjangka emas AS turun 0,1% menjadi USD 4.332,3.

    Dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua bulan, membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pembeli luar negeri. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun acuan juga sedikit menurun.

    “Data tersebut memberi The Fed lebih banyak alasan untuk memangkas suku bunga, dan jika mereka memangkas suku bunga, itu akan berdampak positif bagi emas… begitulah cara pasar menafsirkannya saat ini,” kata Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Bob Haberkorn.

    Pertumbuhan lapangan kerja di AS pulih pada bulan November, tetapi tingkat pengangguran berada di angka 4,6% di tengah ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh kebijakan perdagangan agresif Presiden Donald Trump. Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan tingkat pengangguran sebesar 4,4%.

    Pekan lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengumumkan penurunan suku bunga seperempat poin, dan komentar Ketua Jerome Powell yang menyertainya dianggap kurang agresif dari yang diperkirakan.

    Kontrak berjangka suku bunga AS masih memperkirakan dua pemotongan masing-masing sebesar 25 basis poin pada tahun 2026, dengan perkiraan pelonggaran sebesar 59 bps tahun depan. Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung berkembang pesat dalam lingkungan suku bunga rendah.

     

  • Harga Emas Pegadaian Hari Ini Rabu 17 Desember 2025, Termurah Dipatok Segini

    Harga Emas Pegadaian Hari Ini Rabu 17 Desember 2025, Termurah Dipatok Segini

    Sebelumnya, harga emas naik pada hari ini Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah laporan pekerjaan Amerika Serikat (AS) menunjukkan tingkat pengangguran naik bulan lalu dibandingkan September, memperkuat spekulasi tentang penurunan suku bunga oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) dan menyebabkan indeks dolar AS turun.

    Dikutip dari CNBC, Rabu (17/12/2025), harga emas spot naik 0,2% menjadi USD 4.310,21 per ons. Kontrak berjangka emas AS turun 0,1% menjadi USD 4.332,3.

    Dolar AS jatuh ke level terendah dalam dua bulan, membuat emas batangan yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih terjangkau bagi pembeli luar negeri. Imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun acuan juga sedikit menurun.

    “Data tersebut memberi The Fed lebih banyak alasan untuk memangkas suku bunga, dan jika mereka memangkas suku bunga, itu akan berdampak positif bagi emas… begitulah cara pasar menafsirkannya saat ini,” kata Ahli Strategi Pasar Senior RJO Futures, Bob Haberkorn.

    Pertumbuhan lapangan kerja di AS pulih pada bulan November, tetapi tingkat pengangguran berada di angka 4,6% di tengah ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh kebijakan perdagangan agresif Presiden Donald Trump. Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan tingkat pengangguran sebesar 4,4%.

    Pekan lalu, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) mengumumkan penurunan suku bunga seperempat poin, dan komentar Ketua Jerome Powell yang menyertainya dianggap kurang agresif dari yang diperkirakan.

    Kontrak berjangka suku bunga AS masih memperkirakan dua pemotongan masing-masing sebesar 25 basis poin pada tahun 2026, dengan perkiraan pelonggaran sebesar 59 bps tahun depan. Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung berkembang pesat dalam lingkungan suku bunga rendah.

     

  • Mekanisme Pemilihan Ketua The Fed jelang Jerome Powell Lengser: Proses, Masa Jabatan, hingga Gaji

    Mekanisme Pemilihan Ketua The Fed jelang Jerome Powell Lengser: Proses, Masa Jabatan, hingga Gaji

    Bisnis.com, JAKARTA — Proses pencarian pengganti Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve alias The Fed kembali menarik perhatian pasar global, seiring semakin dekatnya akhir masa jabatan pimpinan bank sentral Amerika Serikat tersebut.

    Melansir Bloomberg, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut sejumlah nama yang masuk dalam radar Gedung Putih untuk memimpin Federal Reserve berikutnya, di tengah dorongan agar kebijakan suku bunga bergerak lebih agresif. Dua nama yang masuk ke dalam daftar Trump yaitu Kevin Hassett dan Kevin Warsh.

    Namun demikian, Pernyataan Trump itu kembali menyoroti relasi sensitif antara otoritas politik dan independensi bank sentral di Amerika Serikat.

    Di balik dinamika politik tersebut, pergantian Ketua The Fed sejatinya berjalan dalam mekanisme hukum yang ketat dan berlapis. Kerangka ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara kewenangan presiden sebagai kepala eksekutif dan independensi kebijakan moneter yang menjadi fondasi kredibilitas Federal Reserve.

    Untuk diketahui, Jerome Powell mulai menjabat sebagai Ketua Federal Reserve pada 5 Februari 2018, setelah dinominasikan oleh Presiden Donald Trump dan dikonfirmasi oleh Senat Amerika Serikat.

    Powell kemudian dilantik kembali untuk masa jabatan kedua pada 23 Mei 2022. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed berakhir pada 15 Mei 2026, sesuai dengan ketentuan pengangkatan dan konfirmasi yang telah dilalui.

    Selain menjabat sebagai Ketua, Powell juga merupakan anggota Dewan Gubernur Federal Reserve. Masa jabatan Jerome Powell sebagai Anggota Dewan Gubernur The Fed dijadwalkan berakhir pada 31 Januari 2028.

    Lalu seperti apa alur pemilihan Ketua The Fed? Begini penjelasannya.

    Alur dan Mekanisme Pemilihan Ketua The Fed

    Secara hukum, struktur dan tata kelola Federal Reserve System diatur dalam Federal Reserve Act, khususnya Pasal 10 yang mengatur Dewan Gubernur Sistem Federal Reserve. Aturan ini menegaskan bahwa Federal Reserve dipimpin oleh Board of Governors yang terdiri dari tujuh orang anggota.

    Merujuk laman resmi Federal Reserve, beleid tersebut menegaskan bahwa seluruh anggota Dewan Gubernur tersebut dinominasikan oleh Presiden Amerika Serikat dan harus memperoleh persetujuan Senat. Mereka menjabat dengan masa jabatan panjang hingga 14 tahun, dengan pola berlapis sehingga tidak seluruh kursi berakhir secara bersamaan.

    Pasal 10 Federal Reserve Act juga mengatur kriteria penting dalam pemilihan anggota Dewan Gubernur. Presiden diwajibkan memperhatikan keterwakilan yang adil dari kepentingan keuangan, pertanian, industri, dan perdagangan, serta sebaran geografis wilayah Amerika Serikat.

    Bahkan, ketentuan ini secara eksplisit mensyaratkan bahwa setidaknya satu anggota Dewan Gubernur harus memiliki pengalaman utama yang terbukti dalam bekerja di atau mengawasi bank-bank komunitas dengan total aset di bawah US$10 miliar.

    Dari tujuh anggota Board of Governors, Presiden AS kemudian menunjuk Ketua dan Wakil Ketua Federal Reserve. Penunjukan tersebut tidak bersifat sepihak karena harus kembali melalui proses konfirmasi di Senat, terpisah dari pengangkatan sebagai anggota Dewan Gubernur.

    Ketua The Fed Terpilih Menjabat selama 4 Tahun

    Ketua Federal Reserve menjabat selama empat tahun dan dapat diperpanjang, sepanjang kembali memperoleh persetujuan legislatif. Adapun Ketua Federal Reserve bertindak sebagai pejabat eksekutif aktif yang memimpin Dewan Gubernur dan menjadi wajah utama komunikasi kebijakan moneter kepada publik dan pasar keuangan.

    Namun demikian, kewenangan Ketua tetap dibatasi oleh mekanisme kolektif Dewan Gubernur dan Federal Open Market Committee (FOMC), forum yang secara resmi menetapkan arah kebijakan moneter termasuk suku bunga acuan. Di Indonesia, forum seperti ini bernama Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI).

    Meskipun Presiden AS memiliki peran dalam proses penunjukan pimpinan bank sentral, kebijakan moneter Federal Reserve tidak berada di bawah kendali langsung Gedung Putih.

    Setiap keputusan strategis wajib dicatat, dipertanggungjawabkan, dan dilaporkan kepada Kongres sebagai bentuk akuntabilitas publik. Inilah yang membuat setiap isu pergantian Ketua Federal Reserve selalu dicermati pelaku pasar global karena menyangkut kredibilitas dan independensi kebijakan moneter Amerika Serikat.

    Gaji Ketua The Fed

    Dalam aspek profesionalisme, seluruh anggota Dewan Gubernur diwajibkan mencurahkan seluruh waktu kerjanya untuk urusan Federal Reserve dan menerima gaji yang ditetapkan berdasarkan ketentuan hukum federal, beserta penggantian biaya perjalanan yang diperlukan.

    Masih dalam Pasal 10 Federal Reserve Act, turut diatur secara eksplisit mengenai kompensasi anggota Dewan Gubernur. Ketentuan awal undang undang tersebut menyebutkan bahwa setiap anggota Dewan Gubernur menerima gaji tahunan sebesar US$15.000, yang dibayarkan secara bulanan, di luar penggantian biaya perjalanan yang diperlukan untuk menjalankan tugas.

    Dalam praktiknya, ketentuan tersebut mengacu pada Executive Schedule, sehingga gaji Ketua Federal Reserve tidak ditetapkan secara internal oleh The Fed, melainkan mengikuti standar kompensasi pejabat negara di level federal.

    Melansir Investopedia menyebutkan bahwa data Ketua Fed masuk ke dalam kategori Executive Schedule Level I. Menelisik lebih lanjut, berdasarkan tabel gaji yang diterbitkan oleh Office of Personnel Management (OPM), imbalan tahunan untuk level I adalah sekitar US$250.600 per tahun pada Januari 2025. Dengan catatan, besaran gaji setiap tahun disesuaikan.

    Dengan besaran gaji sekitar US$250.600 per tahun, remunerasi Ketua Federal Reserve setara dengan sekitar Rp3,9 miliar atau hampir Rp4 miliar jika dikonversi menggunakan kurs tengah Bank Indonesia yakni Rp15.680 per dolar AS.

    Sebagai informasi, Executive Schedule merupakan skema penggajian resmi bagi pejabat tinggi pemerintah federal Amerika Serikat yang ditetapkan melalui undang undang dan dikelola oleh pemerintah AS. Rujukan gaji ditentukan oleh Kongres AS, yang mencakup posisi-posisi setara di pemerintahan, termasuk Ketua Federal Reserve.

    Skema ini berfungsi sebagai standar nasional untuk menentukan besaran gaji jabatan strategis di tingkat eksekutif, termasuk menteri, kepala lembaga federal, dan pimpinan lembaga independen seperti Ketua Federal Reserve.

    Selain soal gaji, mereka dilarang merangkap jabatan, menjadi pengurus, atau memiliki saham di lembaga perbankan, baik selama menjabat maupun dalam periode tertentu setelah masa jabatan berakhir. Hal ini guna mencegah konflik kepentingan.

    Perbandingan dengan Bank Indonesia

    Lalu bagaimana di Indonesia? Prinsip independensi bank sentral juga tercermin dalam tata kelola di Indonesia, meskipun diatur melalui kerangka hukum yang berbeda.

    Bank Indonesia sebagai bank sentral Republik Indonesia memiliki kedudukan yang secara tegas dinyatakan independen dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia beserta perubahannya.

    Merujuk undang undang tersebut, menegaskan bahwa Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang bebas dari campur tangan pemerintah atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dan wewenangnya, kecuali sebagaimana diatur secara eksplisit dalam peraturan perundang undangan.

    Gubernur Bank Indonesia diusulkan oleh Presiden dan harus memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Adapun masa jabatannya yakni lima tahun dan dapat dipilih kembali satu kali.

    Hal ini berbeda dengan struktur Federal Reserve yang mengandalkan masa jabatan panjang Dewan Gubernur sebagai penyangga independensi kebijakan.

    Dari sisi gaji, berbeda dengan Ketua Federal Reserve yang gajinya ditetapkan secara eksplisit dalam Executive Schedule Amerika Serikat, gaji Gubernur Bank Indonesia tidak ditentukan secara nominal dalam undang-undang. Undang-Undang Bank Indonesia hanya mengatur bahwa remunerasi Dewan Gubernur ditetapkan oleh internal BI dan dilaporkan kepada DPR, dengan kedudukan jabatan setara menteri negara.

    Perbedaan kerangka kelembagaan ini menunjukkan bahwa posisi Ketua bank sentral tidak hanya diukur dari aspek administratif seperti masa jabatan dan remunerasi, tetapi terutama dari bobot strategis kebijakan yang diembannya.

    Dalam konteks tersebut, proses penggantian Jerome Powell tidak semata menjadi isu domestik Amerika Serikat. Pergantian pucuk pimpinan The Fed berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter global, aliran modal, serta stabilitas pasar keuangan internasional. Oleh karena itu, peristiwa ini dicermati secara erat oleh pelaku pasar dan otoritas moneter di berbagai negara, termasuk Indonesia.

  • Terungkap! Ini Sosok yang Dijagokan Trump Jadi Bos The Fed

    Terungkap! Ini Sosok yang Dijagokan Trump Jadi Bos The Fed

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Jumat (12/12) bahwa Kevin Warsh menjadi kandidat terkuat Ketua The Fed. Masih ada kandidat lain yang bersaing.

    “Ya, saya pikir dia,” kata Trump dikutip dari CNBC, Sabtu (13/12/2025).

    Merujuk dari ucapan Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett, yang sebelumnya dijagokan pasar, Trump mengatakan keduanya merupakan orang hebat. Hasset mengatakan bahwa ia akan bersedia jika diminta menjadi Ketua The Fed.

    “Saya pikir Anda memiliki Kevin dan Kevin. Mereka berdua, saya pikir kedua Kevin itu hebat. Saya pikir ada beberapa orang lain yang hebat,” ujar Trump.

    Sementara itu, Senator Elizabeth Warren khawatir Trump akan menunjuk ‘boneka’ sebagai Ketua The Fed. Trump mengulangi pernyataan masa lalu bahwa Ketua The Fed harus berkonsultasi dengan presiden tentang keputusan suku bunga.

    “Biasanya, itu tidak dilakukan lagi. Dulu itu dilakukan secara rutin. Seharusnya tetap dilakukan,” katanya.

    Trump telah berselisih dengan Ketua Fed saat ini, Jerome Powell hampir sejak saat ia mencalonkannya untuk posisi tersebut pada 2017. Trump mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga, bahkan tidak puas dengan laju pemotongan saat ini.

    The Fed terakhir memotong suku bunga pada Rabu (10/12) ke kisaran 3,5-3,75% yang menurut Trump seharusnya lebih rendah lagi. Trump mencatat bahwa Warsh sebagian besar setuju dengannya tentang kebijakan moneter.

    “Dia berpikir Anda harus menurunkan suku bunga, dan begitu juga semua orang lain yang telah saya ajak bicara,” ujar Trump.

    Sepanjang tahun ini, Trump kerap menyalahkan eks Menteri Keuangan Steve Mnuchin karena merekomendasikan Powell. Trump sebenarnya lebih memilih Menteri Keuangan saat ini, Scott Bessent untuk mengambil peran tersebut, tapi ia berulang kali mengatakan tidak tertarik.

    Kandidat lain yang dipertimbangkan termasuk Gubernur petahana Christopher Waller dan Michelle Bowman, serta Rick Rieder, yang memimpin operasi pendapatan tetap di perusahaan manajemen keuangan raksasa BlackRock. Mereka adalah kandidat terakhir dari 11 kandidat yang dipertimbangkan untuk posisi tersebut.

    Masa jabatan Powell berakhir pada Mei, setelah diangkat kembali ke posisi tersebut oleh mantan Presiden AS Joe Biden.

    “Saya benar-benar ingin menyerahkan pekerjaan ini kepada siapa pun yang menggantikan saya dengan kondisi ekonomi yang benar-benar baik. Itulah yang ingin saya lakukan,” kata Powell

    (ara/ara)