Tag: Jeff Bezos

  • Data Center Berskala Gigawatt Dibangun di Luar Angkasa 10 Tahun Lagi

    Data Center Berskala Gigawatt Dibangun di Luar Angkasa 10 Tahun Lagi

    Bisnis.com, JAKARTA — CEO Amazon, Jeff Bezos, memprediksi pusat data (data center) berskala gigawatt akan dibangun di luar angkasa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Energi surya yang tersedia secara terus-menerus akan membuatnya melampaui pusat data yang berbasis di Bumi.

    Konsep pusat data orbit mendapat perhatian di kalangan raksasa teknologi lantaran pusat data di Bumi telah meningkatkan permintaan terhadap listrik dan air untuk mendinginkan server yang ada.

    Menurut dia, klaster data center ini akan lebih baik dibangun di luar angkasa yang memiliki suplai tenaga surya selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. 

    Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada cuaca. Kita akan mampu menekan biaya pusat data berbasis darat dengan yang ada di luar angkasa dalam dua dekade mendatang,” kata Bezos dikutip dari Reuters, Senin (6/10/2025).

    Dia menilai pergeseran menuju infrastruktur luar angkasa merupakan bagian dari tren pemanfaatan luar angkasa untuk meningkatkan kualitas hidup di Bumi. Dimulai dengan satelit cuaca dan komunikasi, dilanjutkan dengan pusat data dan berbagai jenis manufaktur lain.

    Namun, pembangunan pusat data di luar angkasa memiliki tantangan tersendiri. Termasuk, kata Bezos, kesulitan dalam melakukan pemeliharaan dan pembaruan, biaya peluncuran roket, serta risiko kegagalan peluncuran.

    Sebelumnya, pendiri Amazon tersebut juga memprediksi jutaan orang akan tinggal di luar angkasa dalam beberapa dekade mendatang lewat pernyataannya di gelaran Italian Tech Week pada Jumat (3/10/2025).  

    Mengutip Tech Crunch, hal itu disampaikan Bezos dalam pembicaraan dengan pewaris dinasti Agnelli dari Italia, John Elkann. Dia menyebut eksodus yang dia yakini itu terjadi karena permintaan yang cukup tinggi. 

  • Jeff Bezos Tiba-Tiba Beri Sinyal Buat Data Center di Luar Angkasa

    Jeff Bezos Tiba-Tiba Beri Sinyal Buat Data Center di Luar Angkasa

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pendiri Amazon Jeff Bezos membuat prediksi yang ambisius dengan menyatakan bahwa pusat data berskala gigawatt akan dibangun di luar angkasa dalam 10 hingga 20 tahun ke depan. Ia meyakini bahwa dengan energi surya yang tersedia secara terus-menerus, pusat data tersebut pada akhirnya akan mengungguli pusat data yang ada di Bumi.

    Pernyataan ini disampaikannya dalam acara Italian Tech Week di Turin, Italia, pada Jumat (3/10/2025). Dalam kesempatan tersebut, Bezos juga membahas lonjakan kecerdasan buatan (AI) yang mengingatkannya pada booming internet di awal tahun 2000-an. Ia mendorong optimisme meskipun ada risiko gelembung spekulatif di sektor tersebut.

    Bezos membandingkan gelombang AI saat ini dengan era dot-com, di mana antusiasme besar diikuti oleh kehancuran pasar. Namun, ia percaya dampak jangka panjang dari AI akan sangat positif dan permanen, sama seperti internet yang telah mengubah dunia secara fundamental.

    “Kita harus sangat optimis bahwa konsekuensi sosial dan manfaat dari AI, seperti yang kita alami dengan internet 25 tahun yang lalu, adalah nyata dan akan tetap ada,” kata Bezos.

    Bezos kemudian menekankan pentingnya untuk tidak mencampuradukkan potensi gelembung pasar dengan realitas kemajuan teknologi yang sebenarnya. Menurutnya, manfaat AI pada akhirnya akan “tersebar luas dan akan ada di mana-mana”.

    Gagasan tentang pusat data di orbit telah mendapatkan daya tarik di kalangan raksasa teknologi. Salah satu pendorong utamanya adalah permintaan listrik dan air yang sangat besar untuk mendinginkan server di pusat data terestrial (di Bumi), yang menjadi tantangan keberlanjutan yang semakin besar.

    Dalam sebuah percakapan publik dengan Chairman Ferrari dan Stellantis, John Elkann, Bezos menjelaskan keunggulan luar angkasa.

    “Klaster pelatihan raksasa itu akan lebih baik dibangun di luar angkasa, karena kita memiliki tenaga surya di sana, 24/7. Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada cuaca,” jelasnya.

    Bezos juga mengatakan bahwa pergeseran ke infrastruktur luar angkasa adalah bagian dari tren yang lebih luas untuk menggunakan ruang angkasa demi meningkatkan kehidupan di Bumi.

    “Itu sudah terjadi dengan satelit cuaca dan komunikasi,” katanya. “Langkah selanjutnya adalah pusat data, lalu jenis manufaktur lainnya.”

    Meski begitu, ia mengakui bahwa membangun dan mengoperasikan pusat data di luar angkasa memiliki tantangannya sendiri. Beberapa di antaranya adalah kesulitan dalam perawatan dan pembaruan, biaya peluncuran roket yang mahal, serta risiko kegagalan peluncuran itu sendiri.

    Namun, Bezos tetap optimis tentang prospek ekonomi jangka panjang dari proyek ambisius ini. Ia yakin bahwa pada akhirnya, biaya operasional pusat data di luar angkasa akan lebih unggul.

    “Kami akan mampu mengalahkan biaya pusat data terestrial dalam beberapa dekade mendatang,” tutupnya.

    (hsy/hsy)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Manusia Rp 3.800 Triliun Buka Suara Soal Gelembung AI

    Manusia Rp 3.800 Triliun Buka Suara Soal Gelembung AI

    Jakarta, CNBC Indonesia — Pendiri Amazon, Jeff Bezos, menilai industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini tengah berada dalam fase “gelembung industri”. Namun, menurutnya, di balik euforia yang berlebihan tersebut, teknologi AI tetap nyata dan akan membawa manfaat besar bagi masyarakat di masa depan.

    “Ini semacam gelembung industri,” kata Bezos saat berbicara di Italian Tech Week di Turin, Italia, dikutip dari CNBC International, Minggu (4/10/2025).

    Orang terkaya ke-4 di dunia itu menjelaskan, gelembung seperti ini biasanya terjadi ketika harga saham atau valuasi perusahaan sudah terlepas dari fundamental bisnisnya. “Orang-orang sangat bersemangat seperti yang terjadi hari ini pada AI. Semua ide, yang baik maupun buruk, dapat pendanaan,” ujarnya.

    Namun, miliarder tersebut menegaskan, meski banyak perusahaan AI yang tengah menumpang tren, hal itu tidak berarti teknologi ini semu. “AI itu nyata, dan akan mengubah setiap industri,” tegas Bezos.

    Ia mencontohkan, saat ini ada perusahaan kecil dengan hanya enam karyawan bisa memperoleh pendanaan miliaran dolar. “Ini perilaku yang tidak biasa, tapi memang sedang terjadi sekarang,” katanya.

    Meski mengakui adanya “AI bubble”, Bezos menilai gelembung di sektor industri tidak selalu berdampak buruk. Ia membandingkan fenomena ini dengan gelembung bioteknologi pada 1990-an yang pada akhirnya melahirkan banyak obat penyelamat jiwa, meski banyak perusahaan di sektor itu akhirnya tumbang.

    “Gelembung industri tidak seburuk itu, bahkan bisa jadi baik. Ketika mereda dan para pemenang muncul, masyarakat akan menikmati manfaat besar dari inovasi tersebut,” ujar Bezos.

    Ia menutup dengan keyakinan bahwa dampak positif AI bagi umat manusia akan luar biasa besar. “Ini nyata. Manfaat bagi masyarakat dari AI akan sangat besar,” kata Bezos.

    Sebagai informasi Bezos saat ini tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di dunia. Menurut Forbes, dia memiliki harta US$ 232,5 miliar atau Rp 3.851 triliun (kurs Rp 16.570).

    (mkh/mkh)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Ramalan Jeff Bezos Soal Eksodus Jutaan Orang Tinggal di Luar Angkasa

    Ramalan Jeff Bezos Soal Eksodus Jutaan Orang Tinggal di Luar Angkasa

    Bisnis.com, JAKARTA – Pendiri Amazon, Jeff Bezos, memprediksi jutaan orang akan tinggal di luar angkasa dalam beberapa dekade mendatang lewat pernyataannya di gelaran Italian Tech Week pada Jumat (3/10/2025). 

    Mengutip Tech Crunch, hal itu disampaikan Bezos dalam pembicaraan dengan pewaris dinasti Agnelli dari Italia, John Elkann. Dia menyebut eksodus yang dia yakini itu terjadi karena permintaan yang cukup tinggi. 

    “Kebanyakan dari mereka menginginkannya, dan bahwa pekerjaan kasar akan ditangani oleh robot, sementara pusat data AI raksasa akan mengambang di atas mereka,” kata Bezos dikutip, Sabtu (4/10/2025).

    Menurut media tersebut, pernyataan ini terdengar seperti upaya Bezos untuk mengungguli pesaing luar angkasanya, Elon Musk, yang telah bertahun-tahun memprediksi manusia akan hidup di Mars. Bahkan, Musk menyebut sebanyak satu juta orang bisa tinggal di planet merah itu pada 2050.

    Sekitar setahun yang lalu, Musk lewat perusahaannya SpaceX mengawali rencana meluncurkan sekitar lima misi Starship tanpa awak ke Mars dalam dua tahun. Dia mengatakan Starship pertama ke Mars akan diluncurkan dalam periode dua tahun.

    Namun, Musk mengatakan jadwal misi berawak pertama akan bergantung pada keberhasilan penerbangan tanpa awak. 

    Apabila misi tanpa awak mendarat dengan selamat, misi berawak akan diluncurkan dalam empat tahun. Namun, kata dia, jika ada tantangan, misi berawak akan ditunda selama dua tahun lagi.

    Setelah itu, tingkat penerbangan diprediksi tumbuh secara eksponensial dari sana untuk membangun kota mandiri dalam waktu sekitar 20 tahun.

    Menurutnya, misi ini juga menandakan manusia bukan hanya tinggal di bumi, melainkan bisa di planet lain.

  • 3.000 Pegawai NASA Kerja Tidak Digaji, Pemerintah AS Zalim!

    3.000 Pegawai NASA Kerja Tidak Digaji, Pemerintah AS Zalim!

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menyetop sebagian besar operasionalnya alias shutdown pada Rabu (1/10). Hal ini menyusul kegagalan Kongres dalam menyetujui anggaran baru.

    Lembaga Antariksa AS atau NASA turut mendapat imbas dari shutdown ini. Plt Kepala Keuangan NASA Steve Shinn mengatakan NASA akan memberlakukan cuti sementara terhadap 15.000 karyawan.

    Kendati demikian, 3.000 karyawan diminta tetap bekerja, meski tidak mendapat gaji. Di antaranya adalah karyawan yang terlibat dalam misi Artemis untuk membawa manusia ke Bulan dan nantinya ke Mars.

    Misi Artemis menggandeng kontraktor dari SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos.

    Para karyawan NASA yang tetap bekerja di tengah shutdown diminta untuk mencatat waktu kerja mereka, menurut Kepala SDM NASA Kelly Elliot, dalam email yang dikirim ke para karyawan pada Rabu (1/10).

    Mereka akan menerima gaji setelah shutdown dicabut dan operasional pemerintah berjalan normal seperti sedia kala.

    Secara perinci, Shinn membeberkan apa saja pekerjaan NASA yang harus tetap berlanjut dan membutuhkan tenaga kerja. Selain misi Artemis, ada pula operasi yang telah direncanakan untuk Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan misi satelit yang sudah berada dalam fase operasi.

    Secara keseluruhan, shutdown berdampak pada ratusan ribu pekerja federal dan menutup sejumlah program dan layanan kunci. Beberapa karyawan yang dinilai ‘esensial’, seperti yang bekerja di Lembaga Keamanan Transportasi (TSA), dan pengawas kemacetan, diminta untuk terus bekerja.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • PT Baru Buka Dikasih Modal Rp 5 Trilliun, Isinya Gak Kaleng-Kaleng

    PT Baru Buka Dikasih Modal Rp 5 Trilliun, Isinya Gak Kaleng-Kaleng

    Jakarta, CNBC Indonesia – Eks karyawan Google, OpenAI, dan Meta ramai-ramai resign kemudian bekerja sama membuat perusahaan baru. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang mereka rintis sudah mengantongi modal US$ 300 juta (Rp 5 triliun).

    Ekin Dogus Cubuk dan Liam Fedus mendirikan Periodic Labs, perusahaan yang bermisi menciptakan program AI yang bisa bekerja seperti “ilmuwan.” Caranya adalah dengan membangun laboratorium yang berisi robot peneliti. Robot-robot tersebut bisa melakukan eksperimen di lab, mengumpulkan data, belajar, mencoba berulang kali, dan mengembangkan sesuatu yang baru dari hasil eksperimen mereka.

    Cubuk adalah pemimpin tim penelitian material dan bahan kimia di Google Brain dan Deepmind. Salah satu hasil karyanya adalah program AI bernama GNoME. GNoME terkenal karena berhasil menemukan 2 juta kristal baru pada 2023.

    Di sisi lain, Fedus adalah salah satu peneliti pencipta ChatGPT. Ia juga menciptakan neural network pertama yang mencapai parameter triliunan.

    Periodic Labs juga diisi oleh peneliti AI lain yang berpengalaman di OpenAI, Microsoft, hingga Meta. Salah satunya adalah Rishabh Agarwal, eks pegawai Meta.

    Agarwal sempat diajak berbicara langsung oleh pendiri Facebook dan CEO Meta, Mark Zuckerberg, untuk bergabung ke “tim super” AI milik Meta. Namun, ia menolak tawaran gaji dan saham bernilai puluhan miliar untuk bekerja di Periodic Labs. 

    Ambisi Periodic Labs didukung oleh sederet investor ternama seperti Andreessen Horowitz, DST, Nvidia, Accel, Elad Gil, Jeff Dean, Eric Schmidt, dan Jeff Bezos. Total modal yang mereka kumpulkan mencapai US$ 300 juta (Rp 5 triliun).

    Pada tahap pertama, Periodic Labs ingin menciptakan superkonduktor yang bisa bekerja lebih baik dan membutuhkan energi lebih sedikit dibanding material yang saat ini digunakan di komputer. Selain itu, mereka ingin mengumpulkan seluruh data tentang seluruh material yang ada. Data tersebut kemudian akan digunakan oleh “ilmuwan AI” untuk mencampur padu untuk menciptakan material baru.

    “Hingga kini, kemajuan AI berasal dari model yang dilatih menggunakan informasi di internet. Sumber tersebut sudah diperas habis. Kami ingin membangun ilmuwan AI dan laboratorium otonom tempat mereka bekerja,” kata Periodic Labs dalam blog resmi perusahaan.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Trump Serang Microsoft, Desak Petinggi Eks Biden Lisa Monaco Dipecat

    Trump Serang Microsoft, Desak Petinggi Eks Biden Lisa Monaco Dipecat

    Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memantik polemik setelah secara terbuka menuntut Microsoft memecat Lisa Monaco.

    Trump menuding Monaco—mantan pejabat tinggi di pemerintahan Barack Obama dan Joe Biden—sebagai ancaman bagi keamanan nasional Amerika dengan dalih dia kini memiliki akses ke data sensitif melalui posisinya di raksasa teknologi itu.

    Dalam unggahan di platform Truth Social, Minggu (28/9/2025) Trump secara eksplisit menyampaikan bahwa dengan latarbelakangnya sebagai Deputi Jaksa Agung para era pemerintahan Biden serta penasihat keamanan dalam negeri Presiden Obama, Monaco ancaman bagi negara.

    Trump bahkan mengungkit telah resmi mencabut seluruh izin keamanan Monaco awal tahun ini, bersamaan dengan pencabutan akses bagi figur-figur Demokrat lain seperti Joe Biden dan Hillary Clinton.

    “Menurut saya, Microsoft harus segera memberhentikan Lisa Monaco,” kata Trump.

    Microsoft menolak berkomentar, sementara Monaco sendiri belum memberikan tanggapan atas serangan Trump.

    Sejak bergabung pada Mei 2025, Monaco memimpin urusan kebijakan keamanan siber Microsoft dan hubungan dengan pemerintah dunia—sebuah posisi strategis yang beririsan dengan banyak kontrak jasa digital penting antara Microsoft dan pemerintah federal AS menurut laporan Axios.

    Trump juga didukung kelompok sayap kanan, seperti aktivis Laura Loomer, yang sejak awal menuding Microsoft keliru menunjuk Monaco.

    Konflik Trump dan industri teknologi sudah berlangsung lama, bahkan sejak periode kepresidenan sebelumnya. Trump pernah menuntut Intel agar melepas CEO Lip-Bu Tan dengan tuduhan konflik kepentingan.

    Namun, setelah Intel memberikan 10% saham ke pemerintah AS sebagai bagian dari perjanjian dana, Trump melunak dan menyebut Tan sebagai CEO yang “sangat dihormati”.

    Tak hanya itu, Trump berkali-kali mengkritik perusahaan media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Google, menuding bias politik dan penyensoran terhadap dirinya dan pendukungnya.

    Selama masa pemerintahannya, beberapa eksekutif teknologi besar seperti Jeff Bezos (Amazon), Tim Cook (Apple), dan Sundar Pichai (Google) juga sempat mendapat tekanan politik ekstensif dari Gedung Putih.

    Aksi terbuka Trump terhadap Monaco dan Microsoft menguatkan kecemasan banyak pihak soal politisasi jabatan krusial di perusahaan teknologi besar, terutama yang berkaitan dengan keamanan digital nasional.

    Banyak pihak menilai langkah Trump tersebut adalah upaya menjadikan perusahaan teknologi sebagai alat politik, sejalan dengan strategi balas dendam terhadap musuh politik lama dan tekanan pada eksekutif yang berafiliasi dengan administrasi lawan.

  • Impian Sekjen Ariksa Aryo Djojohadikusumo Setelah Satelit Nusantara 5 Meluncur ke Orbit

    Impian Sekjen Ariksa Aryo Djojohadikusumo Setelah Satelit Nusantara 5 Meluncur ke Orbit

    Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Antariksa Indonesia (Ariksa) menyebut peluncuran Satelit Nusantara 5 menjadi titik baru bagi pelaku usaha dalam mendorong kemandirian luar angkasa Tanah Air.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ariksa Aryo PS Djojohadikusumo yang hadir dalam peluncuran Satelit Nusantara 5 menyebut PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai perusahaan yang 100% sahamnya dimiliki pengusaha Tanah Air. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian luar angkasa bukan hanya domain badan usaha milik negara (BUMN) dan pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.

    “Indonesia sebagai negara dengan tapak batas terbesar di area khatulistiwa, dengan teritori hak kedaulatan terbesar di khatulistiwa perlu berada di antariksa. Hari ini kita berbangga karena bertambah satu lagi armada satelit Indonesia. Ke depannya akan terus bertambah dan bukan hanya diluncurkan dari negara luar, tetapi juga dari Tanah Air,” kata Arto dari Florida, Amerika Serikat, Kamis (11/9/2025) waktu setempat atau Jumat (12/9/2025) pagi di Tanah Air.

    Aryo menyebut dengan pencapaian baru ini, Ariksa akan memperjuangkan hadirnya kawasan bandar udara antariksa di Tanah Air ke depannya. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat mengembangkan Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida sebagai kawasan ekosistem luar angkasa. Sejumlah perusahaan swasta yang berlomba menembus tepi langit seperti Blue Origin milik Jeff Bezos hingga SpaceX milik Elon Musk memiliki markas pengembangan di kawasan tersebut.

    Ia menekankan, kehadiran kawasan bandar udara antariksa selain meningkatkan perekonomian Indonesia juga akan menjadi sumber aspirasi dan inspirasi bagi anak-anak muda Tanah Air untuk mewujudkan mimpi menembus luar angkasa.

    Satelit Nusantara 5 milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) meluncur mencapai orbit./Istimewa-PSN.

    Adi Rahman Adiwoso, CEO PSN yang juga Ketua Umum Ariksa, menyebut bahwa kemandirian dalam penguasaan orbit adalah sebuah keharusan. Ia mengingatkan adanya kutipan dari film dokumenter Wild Wild Space (2024) yang sangat relevan bagi dunia antariksa.

    “Whoever controls space, may very well control the future of humanity (Siapa pun yang menguasai teknologi antariksa, sangat mungkin akan menguasai masa depan umat manusia),” kata Adi dalam pernyataan terpisah.

    Menurut sosok yang berpengalaman dalam industri luar angkasa sejak era pra-Satelit Palapa 1 atau sejak 1974 itu, Indonesia harus mempertahankan kemandirian atas langitnya di sepanjang garis ekuator. Peluang hadirnya bandar udara antariksa di Biak, Papua, juga dinilai sangat menjanjikan secara bisnis.

    Adi mencontohkan, posisi Biak yang sangat dekat ke orbit ekuator memungkinkan peningkatan signifikan. Tanpa investasi baru, roket India yang hanya mampu mengangkat muatan 600 kilogram dapat ditingkatkan hingga 900 kilogram. Ia menyebut, secara kasar, untuk pengiriman material 1 kilogram ke luar angkasa dibutuhkan biaya sekitar US$12.000. Dengan demikian, terdapat tambahan penghematan hingga US$3,6 juta setiap peluncuran.

    “Saya gak usah koreksi alat [roketnya]. Itu mengurangi biaya sangat banyak. Belum lagi dari penghematan bahan bakar,” kata Adi.

    Ia menambahkan, dengan asumsi pengembangan bandar udara antariksa di Biak sebesar US$50 juta, hanya dibutuhkan 15 kali peluncuran untuk mengembalikan modal investasi. Sedangkan di sepanjang ekuator, dibutuhkan 50 hingga 70 satelit beroperasi secara berkesinambungan. Kawasan ini juga dihuni 12% penduduk bumi atau sekitar 1 miliar orang.

    “Itu legacy [bandar udara Antariksa] akan memberikan Indonesia kemampuan sangat strategis,” katanya.

  • Impian Sekjen Ariksa Aryo Djojohadikusumo Setelah Satelit Nusantara 5 Meluncur ke Orbit

    Harapan Sekjen Ariksa Aryo Djojohadikusumo Setelah Satelit Nusantara 5 Meluncur ke Orbit

    Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Antariksa Indonesia (Ariksa) menyebut peluncuran Satelit Nusantara 5 menjadi titik baru bagi pelaku usaha dalam mendorong kemandirian luar angkasa Tanah Air.

    Sekretaris Jenderal (Sekjen) Ariksa Aryo PS Djojohadikusumo yang hadir dalam peluncuran Satelit Nusantara 5 menyebut PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai perusahaan yang 100% sahamnya dimiliki pengusaha Tanah Air. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian luar angkasa bukan hanya domain badan usaha milik negara (BUMN) dan pemerintah, tetapi juga melibatkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.

    “Indonesia sebagai negara dengan tapak batas terbesar di area khatulistiwa, dengan teritori hak kedaulatan terbesar di khatulistiwa perlu berada di antariksa. Hari ini kita berbangga karena bertambah satu lagi armada satelit Indonesia. Ke depannya akan terus bertambah dan bukan hanya diluncurkan dari negara luar, tetapi juga dari Tanah Air,” kata Arto dari Florida, Amerika Serikat, Kamis (11/9/2025) waktu setempat atau Jumat (12/9/2025) pagi di Tanah Air.

    Aryo menyebut dengan pencapaian baru ini, Ariksa akan memperjuangkan hadirnya kawasan bandar udara antariksa di Tanah Air ke depannya. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat mengembangkan Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida sebagai kawasan ekosistem luar angkasa. Sejumlah perusahaan swasta yang berlomba menembus tepi langit seperti Blue Origin milik Jeff Bezos hingga SpaceX milik Elon Musk memiliki markas pengembangan di kawasan tersebut.

    Ia menekankan, kehadiran kawasan bandar udara antariksa selain meningkatkan perekonomian Indonesia juga akan menjadi sumber aspirasi dan inspirasi bagi anak-anak muda Tanah Air untuk mewujudkan mimpi menembus luar angkasa.

    Satelit Nusantara 5 milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) meluncur mencapai orbit./Istimewa-PSN.

    Adi Rahman Adiwoso, CEO PSN yang juga Ketua Umum Ariksa, menyebut bahwa kemandirian dalam penguasaan orbit adalah sebuah keharusan. Ia mengingatkan adanya kutipan dari film dokumenter Wild Wild Space (2024) yang sangat relevan bagi dunia antariksa.

    “Whoever controls space, may very well control the future of humanity (Siapa pun yang menguasai teknologi antariksa, sangat mungkin akan menguasai masa depan umat manusia),” kata Adi dalam pernyataan terpisah.

    Menurut sosok yang berpengalaman dalam industri luar angkasa sejak era pra-Satelit Palapa 1 atau sejak 1974 itu, Indonesia harus mempertahankan kemandirian atas langitnya di sepanjang garis ekuator. Peluang hadirnya bandar udara antariksa di Biak, Papua, juga dinilai sangat menjanjikan secara bisnis.

    Adi mencontohkan, posisi Biak yang sangat dekat ke orbit ekuator memungkinkan peningkatan signifikan. Tanpa investasi baru, roket India yang hanya mampu mengangkat muatan 600 kilogram dapat ditingkatkan hingga 900 kilogram. Ia menyebut, secara kasar, untuk pengiriman material 1 kilogram ke luar angkasa dibutuhkan biaya sekitar US$12.000. Dengan demikian, terdapat tambahan penghematan hingga US$3,6 juta setiap peluncuran.

    “Saya gak usah koreksi alat [roketnya]. Itu mengurangi biaya sangat banyak. Belum lagi dari penghematan bahan bakar,” kata Adi.

    Ia menambahkan, dengan asumsi pengembangan bandar udara antariksa di Biak sebesar US$50 juta, hanya dibutuhkan 15 kali peluncuran untuk mengembalikan modal investasi. Sedangkan di sepanjang ekuator, dibutuhkan 50 hingga 70 satelit beroperasi secara berkesinambungan. Kawasan ini juga dihuni 12% penduduk bumi atau sekitar 1 miliar orang.

    “Itu legacy [bandar udara Antariksa] akan memberikan Indonesia kemampuan sangat strategis,” katanya.

  • Prancis Diguncang Gelombang Protes Nasional di Tengah Krisis Politik

    Prancis Diguncang Gelombang Protes Nasional di Tengah Krisis Politik

    Jakarta

    Prancis dilanda gelombang protes besar. Ribuan orang turun ke jalan pada Rabu (10/09) dalam aksi bertajuk bloquons tout atau “Blokir Semua”. Gerakan ini lahir dari kemarahan terhadap kondisi ekonomi, privatisasi layanan publik, dan kebuntuan politik di Paris.

    Aksi tersebut bertepatan dengan hari pertama Perdana Menteri baru, Sebastien Lecornu, menjabat. Dia menggantikan Franois Bayrou yang lengser dua hari sebelumnya setelah kalah suara dalam mosi tidak percaya di Majelis Nasional. Lecornu adalah perdana menteri kelima dalam dua tahun masa jabatan kedua Presiden Emmanuel Macron.

    Hal ini cukup merefleksikan rapuhnya stabilitas eksekutif Prancis. Namun, bagi banyak warga, pergantian nama di pucuk pemerintahan tidak menjawab persoalan mendasar.

    Jalanan Paris diblokir

    Sejak Rabu (10/09) pagi, demonstran berusaha menutup jalan lingkar peripherique di Paris, jalur lalu lintas paling sibuk di Ibu Kota Prancis tersebut. Polisi merespons dengan gas air mata dan penangkapan massal. Menurut kepolisian, lebih dari 150 orang ditahan di Paris, sementara seratus orang lainnya ditangkap di sejumlah kota.

    Di beberapa titik, tumpukan sampah dan barikade dibakar. Jalan-jalan utama terganggu dan transportasi publik sempat melambat. “Ada banyak kelelahan, kelelahan bersama, frustrasi bahwa tidak ada yang bergerak maju. Alasan tersebut menjelaskan adanya blokade dan ketidakpuasan yang meluas ini,” kata Lila, seorang pekerja kantoran di Paris, kepada Associated Press.

    Massa dari berbagai elemen menuntut hal serupa

    Protes ini digerakkan oleh berbagai serikat pekerja, mahasiswa, dan kelompok aktivis. Mereka menyebut aksi “blokir semuanya” ini merupakan bentuk tekanan terhadap pemerintah yang dinilai mengabaikan kesejahteraan rakyat.

    “Kami diperintah oleh perampok,” kata Aglawen Vega, seorang perawat di sebuah rumah sakit umum Paris, kepada AP.

    “Orang-orang semakin sulit bertahan hidup hingga akhir bulan, semakin sulit memberi makan keluarga mereka. Kami sedang menjadi bangsa yang makin miskin,” tambahnya.

    Di Marseille, keresahan serupa juga berkumandang. Daniel Bretones, anggota serikat pekerja, menyebut kemarahan rakyat sudah lama membara.

    “Kemarahan ini sudah bergemuruh berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kami sudah punya lima perdana menteri di masa jabatan kedua Macron, tapi tidak ada yang pernah berubah,” ujarnya kepada Reuters.

    Dari Lille hingga Lyon

    Protes tidak hanya terjadi di Paris. Blokade jalan dan barikade dilaporkan terjadi di sejumlah kota, seperti Lille dan Caen di utara, Nantes dan Rennes di barat, hingga Lyon di tenggara. Kementerian Pendidikan Prancis mengatakan aktivitas sekitar seratus sekolah dan perguruan tinggi terganggu, dengan 27 di antaranya benar-benar ditutup.

    Meski begitu, tingkat gangguan relatif lebih rendah dari yang diperkirakan. Pemerintah Prancis telah mengerahkan 80.000 polisi di seluruh negeri untuk mengendalikan situasi.

    Ketidakpuasan yang mengakar

    Gerakan “bloquons tout” bukan sekadar protes terhadap figur perdana menteri baru. Aksi ini merefleksikan kekecewaan yang lebih luas terhadap arah kebijakan negara. Krisis biaya hidup, layanan publik yang dianggap semakin diprivatisasi, dan stagnasi politik membuat banyak warga merasa tidak didengar.

    “Seorang perdana menteri baru saja dilengserkan dan langsung diganti dengan yang lain dari kubu kanan,” kata Baptiste Sagot, mahasiswa berusia 21 tahun.

    “Mereka mencoba membebani kaum pekerja, mahasiswa muda, para pensiunan, dan semua orang yang sedang kesulitan, alih-alih mengenakan pajak pada kekayaan.”

    Bagi sebagian warga, protes dianggap jalan satu-satunya. “Orang-orang menderita, dan mereka tidak lagi percaya pada parlemen yang terpecah belah,” kata seorang pengunjuk rasa di Rennes.

    “Kalau kami tidak turun ke jalan, tidak ada yang berubah.”

    Namun, ada pula suara berbeda. Bertrand Rivard, seorang akuntan yang terjebak macet di Paris, dia menyebut aksi tersebut berlebihan. “Kita hidup dalam demokrasi dan rakyat tidak seharusnya memblokir negara hanya karena tidak setuju dengan keputusan pemerintah,” ujarnya.

    Tuduhan ada dukungan politisi lain dalam unjuk rasa

    Menteri Dalam Negeri Bruno Retailleau menuduh sejumlah politisi sayap kiri diam-diam mendukung aksi ini dan mencoba menciptakan “iklim pemberontakan” di Prancis. Ia menilai sebagian pengunjuk rasa sengaja berkonflik dengan polisi.

    Di sisi lain, Perdana Menteri baru Sebastien Lecornu mencoba menampilkan ketenangan. “Kita akan segera mencapai tujuan bersama. Tidak ada jalan yang mustahil,” katanya dalam pernyataan resmi, sambil berfokus pada penyusunan rancangan anggaran yang harus diajukan sebelum 7 Oktober 2025 mendatang.

    Masa depan yang makin tidak pasti

    Gerakan “bloquons tout” menunjukkan bahwa jalanan kini menjadi arena politik utama di Prancis. Sementara parlemen terbelah antara sayap kanan Rassemblement National dan koalisi kiri Nouveau Front Populaire, masyarakat memilih tekanan langsung lewat aksi massa.

    Pemerintahan Macron berada dalam posisi yang rapuh sejak pembubaran Majelis Nasional pada tahun 2024 lalu. Langkah politiknya tersebut memicu pemilu legislatif di luar jadwal yang seharusnya, membuat parlemen yang ada kini dipenuhi lawan politiknya.

    Gerakan “blokir semua” kerap dibandingkan dengan pemberontakan rompi kuning pada 2018–2019 yang dipicu oleh kenaikan pajak dan biaya hidup, hingga memaksa Macron memberikan konsesi kebijakan senilai miliaran euro.

    Namun, sosiolog Antoine Bristielle dari lembaga kajian Jean Jaurs Foundation menyoroti adanya perbedaan generasi antara kedua aksi ini.

    “Dalam gerakan rompi kuning, kita melihat Prancis yang rentan, banyak pekerja dan pensiunan yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan. Sementara dalam gerakan kali ini, dari sisi usia, banyak didominasi anak muda,” ujarnya.

    Pengunjuk rasa saat ini, kata Bristielle, “memiliki visi tentang dunia dengan keadilan sosial yang lebih besar, ketimpangan yang lebih kecil, dan sistem politik yang berjalan berbeda, lebih baik.”

    “Anak muda adalah masa depan. Generasi lama mewariskan dunia yang kacau dan pemerintahan yang buruk kepada kami. Tugas kami adalah berjuang untuk mengubahnya dan menari di atas abu dunia lama itu,” kata Alice Morin, mahasiswa berusia 21 tahun.

    Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

    Diadaptasi oleh Pratama Indra dan Muhammad Hanafi

    Editor: Melisa Lolindu

    Tonton juga Video Gelombang Protes di Venesia Jelang Pernikahan Jeff Bezos

    (ita/ita)