Tag: Jeff Bezos

  • Jeff Bezos Punya Pekerjaan Baru, Jadi CEO Startup AI

    Jeff Bezos Punya Pekerjaan Baru, Jadi CEO Startup AI

    Jakarta

    Jeff Bezos akan punya kesibukan baru setelah tidak lagi memimpin Amazon. Pria berkepala plontos itu akan menjadi co-CEO startup AI bernama Project Prometheus.

    Bezos tidak hanya menjadi co-CEO tapi juga menjadi salah satu investor terbesar untuk Project Prometheus. Menurut laporan The New York Times, Project Prometheus sudah mengumpulkan investasi sebesar USD 6,2 miliar yang sebagian datang dari Bezos.

    Selain mendanai Project Prometheus, Bezos akan membantu memimpin perusahaan ini bersama co-founder Vik Bajaj. Bajaj adalah ahli fisika dan kimia yang dulunya menggarap sejumlah proyek di Google X, termasuk Wing dan yang kemudian berkembang menjadi Waymo.

    Pada tahun 2018, ia ikut mendirikan Foresite Labs, perusahaan yang mendukung entrepreneur di bidang AI dan ilmu data. Bajaj masih tercatat sebagai CEO Foresite Labs di website perusahaan dan halaman LinkedIn pribadinya.

    Saat ini belum banyak yang diketahui tentang Project Prometheus. Startup ini kabarnya akan fokus menciptakan sistem AI yang dilatih menggunakan informasi dari dunia fisik, bukan sekedar informasi digital seperti chatbot AI pada umumnya.

    Secara spesifik, perusahaan tersebut dilaporkan akan menjajaki bagaimana AI dapat mendukung engineering dan manufaktur di berbagai bidang, termasuk kendaraan dan teknologi antariksa, seperti dikutip dari Engadget, Selasa (18/11/2025).

    Di halaman LinkedIn-nya yang masih kosong, ringkasan tentang Project Prometheus hanya menyatakan mereka adalah perusahaan ‘AI untuk ekonomi fisik’. Mereka juga mencantumkan deskripsi sebagai perusahaan ‘Teknologi, Informasi, dan Internet’ dengan 51-200 karyawan.

    Project Prometheus kabarnya sudah mempekerjakan hampir 100 orang, termasuk mantan karyawan dari OpenAI, DeepMind, dan Meta. Keterlibatannya di Project Prometheus menandakan pekerjaan operasional formal pertama yang dipegang Bezos setelah mengundurkan diri sebagai CEO Amazon pada tahun 2021.

    (vmp/afr)

  • Orang-orang Terkaya Dunia Mau Bangun Pusat ‘Harta Karun’ di Bulan

    Orang-orang Terkaya Dunia Mau Bangun Pusat ‘Harta Karun’ di Bulan

    Jakarta, CNBC Indonesia – Raksasa teknologi berbondong-bondong membangun infrastruktur data center untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI). Sudah banyak kontroversi yang muncul akibat pembangunan data center yang ‘haus’ air dan listrik.

    Di satu sisi, data center menjadi ‘harta karun’ baru yang berpotensi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, utamanya di negara-negara berkembang yang memiliki lahan dan sumber daya memadai. Namun, data center juga berpotensi memicu krisis pasokan air dan listrik, sehingga berdampak kepada kehidupan masyarakat.

    Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan keadaan darurat energi di negaranya. Pemerintah AS mengatakan perlu menambah kapasitas dalam jumlah besar untuk menangani permintaan listrik yang diperkirakan akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

    Sementara itu, perusahaan-perusahaan AI sedang membangun kemampuan pembangkit energi mereka sendiri sambil menunggu jaringan listrik pulih. xAI milik Musk, misalnya, telah menggunakan turbin gas sebagai sumber daya sementara. OpenAI juga mendorong pemerintah untuk bermitra dengan perusahaan-perusahaan guna menambah 100 gigawatt per tahun.

    Keterbatasan pasokan air dan listrik di Bumi membuat para pengusaha AI mengeksplor kemungkinan membangun data center di luar angkasa, tepatnya di Bulan.

    “Bulan adalah anugerah dari alam semesta,” ujar Jeff Bezos baru-baru ini ketika berbicara tentang manfaat eksplorasi Bulan dan pemanfaatannya sebagai pangkalan peluncuran proyek di luar angkasa.

    Pernyataan ini muncul di tengah upaya perusahaan roket Blue Origin dan SpaceX milik Elon Musk untuk membuat perjalanan luar angkasa lebih murah dan rutin.

    Tidak jelas mana yang lebih mendekati kenyataan: pangkalan Bulan atau AI superintelijen? Namun, keduanya tampaknya bertemu di era antusiasme investor yang membuat beberapa orang khawatir kita berada dalam gelembung AI atau ‘AI bubb;e’

    Yang jelas, ekonomi data center berbasis luar angkasa saat ini tidak masuk akal. Namun, hal itu mungkin terjadi di masa depan, sekitar satu dekade dari sekarang, menurut analisis Phil Metzger, seorang profesor riset di University of Central Florida dan mantan anggota Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (NASA), dikutip dari MSN berdasarkan laporan Wall Street Journals, Senin (17/11/2025)/

    “Para penggemar luar angkasa (seperti saya) telah lama mencari potensi bisnis untuk memungkinkan migrasi manusia ke luar planet Bumi,” tulisnya di X di tengah kehebohan baru tersebut.

    “Saya pikir server AI di luar angkasa adalah contoh bisnis nyata pertama yang akan mengarah pada lebih banyak lagi,” ia menuturkan.

    Empat puluh tahun yang lalu, ketika film “Back to the Future” dirilis, poin pentingnya menyorot pada kebutuhan untuk menghasilkan energi yang begitu besar sehingga perjalanan waktu terasa masuk akal bagi penonton.

    Alur ceritanya berkisar pada kebutuhan untuk menemukan daya sebesar 1,21 gigawatt, atau setara dengan sambaran petir, untuk mengirim mesin waktu DeLorean milik Doc Brown yang terkenal kembali ke rumah.

    Kini, 1 gigawatt, yang pernah dicatat oleh Departemen Energi, hanya sekitar setengah daya yang dihasilkan Bendungan Hoover. Argumen ini pada dasarnya bermuara pada keyakinan bahwa kebutuhan AI pada akhirnya akan tumbuh begitu besar sehingga infrastruktur yang dibangun perlu pindah ke luar angkasa. Di sana, daya matahari dapat dipanen dengan lebih efisien.

    Bos-bos Raksasa Jajah Antariksa

    Sinar matahari dapat langsung dan konstan sehingga panel surya dapat mengumpulkan sinarnya, tanpa awan, tanpa hujan badai, tanpa malam hari. Kebutuhan pendinginan juga dapat berkurang karena ruang hampa.

    Selain itu, tidak ada lagi regulasi merepotkan yang sering dikeluhkan para pengusaha karena dinilai memperlambat pembangunan pembangkit listrik baru untuk memenuhi kebutuhan data center.

    “Kita akan mampu mengalahkan biaya data center terestrial di luar angkasa dalam beberapa dekade mendatang,” kata Bezos di sebuah konferensi teknologi bulan lalu.

    “Luar angkasa pada akhirnya akan menjadi salah satu tempat yang terus membuat Bumi lebih baik,” ia mebnuturkan.

    Tentu saja hipotesis ini masih awal. Di Alphabet, rencana Google terdengar agak konservatif. Perusahaan mesin pencari tersebut beberapa saat lalu mengumumkan Project Suncatcher, yang digambarkannya sebagai proyek moonshot untuk meningkatkan skala pembelajaran mesin (machine learning) di luar angkasa. Mereka berencana meluncurkan dua satelit prototipe pada awal 2027 untuk menguji perangkat kerasnya di orbit.

    “Seperti halnya moonshot, ini akan mengharuskan kami memecahkan banyak tantangan teknik yang rumit,” tulis Pichai di media sosial.

    Nvidia juga telah mengumumkan kemitraan dengan perusahaan rintisan Starcloud untuk mengembangkan data center berbasis luar angkasa. Tak mau kalah, Musk telah melukiskan visi terbarunya sendiri untuk dunia luar angkasa.

    Ia telah lama mengincar Mars, pendorong utama SpaceX. Namun dalam beberapa minggu terakhir, ia lebih banyak berbicara tentang bagaimana ia dapat menggunakan pesawat luar angkasanya untuk menyebarkan versi baru satelit Starlink bertenaga surya miliknya yang dilengkapi dengan laser berkecepatan tinggi untuk membangun data center di luar angkasa.

    Pada pekan lalu, Musk kembali menegaskan bagaimana satelit-satelit AI tersebut akan mampu menghasilkan 100 gigawatt daya surya tahunan atau kira-kira seperempat dari konsumsi rata-rata AS dalam setahun.

    “Kami telah merencanakannya,” ujarnya kepada investor Ron Baron dalam sebuah acara.

    Sebelumnya, Musk menyatakan bahwa ia membutuhkan waktu empat hingga lima tahun lagi untuk mencapai kemampuan tersebut. Ia juga mengutarakan ide-ide yang lebih liar, dengan mengatakan di X bahwa 100 terawatt per tahun “dimungkinkan dari pangkalan Bulan yang memproduksi satelit AI bertenaga surya secara lokal dan mempercepatnya hingga mencapai kecepatan lepas dengan penggerak massa.”

    Singkatnya, Musk menyatakan bahwa pangkalan Bulan akan memproduksi satelit dan melemparkannya ke orbit dengan ketapel. Dan panel surya satelit-satelit tersebut akan menghasilkan 100.000 gigawatt per tahun.

    “Saya pikir kita akan melihat kecerdasan terus berkembang hingga ke titik di mana sebagian besar tenaga matahari dimanfaatkan untuk komputasi,” kata Musk dalam sebuah konferensi teknologi pada bulan September.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Jeff Bezos Salip Elon Musk dalam Misi ke Mars, Blue Origin Daratkan Roket New Glenn

    Jeff Bezos Salip Elon Musk dalam Misi ke Mars, Blue Origin Daratkan Roket New Glenn

    Bisnis.com, JAKARTA — Setelah China menyelesaikan pendaratan roket skala kecil yang dapat digunakan kembali pada musim panas, kini giliran Blue Origin berhasil mendaratkan roket pendorong New Glenn-nya sendiri. 

    Dilansir New York Post, pendaratan ini terjadi hampir 10 tahun setelah SpaceX milik Elon Musk, mencapai prestasi yang sama dengan roket pendorong Falcon.

    Perusahaan eksplorasi luar angkasa Blue Origin yang didukung oleh Jeff Bezos berhasil menyelesaikan penerbangan perdana pendorong roket yang dapat digunakan kembali.

    Pendaratan di tongkang di lautan terjadi sekitar 10 tahun setelah SpaceX milik Elon Musk berhasil membawa kembali roket Falcon-nya dengan selamat untuk pertama kalinya. 

    Namun, pendorong New Glenn milik Blue Origin jauh lebih besar. Tingginya mencapai 190 kaki dan diameter 23 kaki, sementara Falcon memiliki dimensi masing-masing 135 kaki dan 12 kaki. 

    Roket New Glenn merupakan generasi wahana orbital terbaru Blue Origin yang dirancang untuk pengangkutan berat. Roket ini juga jauh lebih besar daripada roket Yanxingzhe-1 yang dapat digunakan kembali yang berhasil dibawa kembali oleh China untuk pertama kalinya selama musim panas lalu.

    Selain keberhasilan membawa kembali pendorong roket kelas orbital, yang disebut Jon Edwards dari SpaceX sebagai misi yang “sangat sulit”, Jeff Bezos juga berhasil meluncurkan sesuatu menuju Mars mendahului rival beratnya dalam eksplorasi luar angkasa, Elon Musk, yang juga telah mengincar Mars.

    Misi NASA Mars dengan Blue Origin

    Misi Escape and Plasma Acceleration and Dynamics Explorers (ESCAPADE) NASA menggunakan misi uji pendorong Blue Origin untuk membawa dua wahana antariksa Mars ke orbit. 

    Tahap pertama terpisah sekitar tiga menit setelah lepas landas dan mulai jatuh melalui atmosfer bumi. 

    Beberapa menit kemudian, wahana tersebut menyalakan beberapa mesin BE-4 untuk memperlambat dan memperbaiki arah, lalu mendaratkan pendorong roket New Glenn dengan selamat di tongkang pemulihan khusus yang berada di Samudra Atlantik 375 mil di bawah titik pemisahan tahap.

    Tahap kedua roket terus meluncurkan dua pengorbit Mars milik NASA ke luar angkasa sekitar 33 menit setelah lepas landas. 

    Diberi label Biru dan Emas, wahana antariksa yang identik itu mulai meluncur menuju titik Lagrange-2 stabilitas gravitasi Bumi-Matahari yang terletak 930.000 mil jauhnya. 

    Wahana itu akan berputar kembali untuk menggunakan gravitasi Bumi sebagai ketapel guna melemparkannya ke Mars pada rentang waktu berikutnya yang tersedia, sekitar satu tahun dari sekarang.

    Dua wahana antariksa Mars yang diluncurkan Jeff Bezos untuk NASA akan digunakan untuk memeriksa atmosfer Mars si Planet Merah, atau lebih tepatnya, bagaimana atmosfer tersebut menghilang akibat angin matahari dan faktor-faktor lainnya.

    Sebelumnya Mars disebut memiliki sumber air dan mungkin pernah mempertahankan air di permukaannya berkat atmosfernya, tetapi penipisan selanjutnya kemungkinan berkontribusi pada penguapannya, dan Laboratorium Ilmu Antariksa UC Berkeley yang memprakarsai misi ESCAPADE ingin mengetahui ke mana perginya atmosfer tersebut dengan bantuan dua wahana antariksa yang diluncurkan Blue Origin.

    Sementara itu, SpaceX masih menguji roket Starship 3 yang dimaksudkan untuk memulai misi Mars pada waktu peluncuran berikutnya di tahun 2026, tetapi wahana antariksa NASA yang diluncurkan oleh Blue Origin kemungkinan akan tiba di sana terlebih dahulu. 

    Selain menyelesaikan dilema peluncuran Mars, Rocket Lab membanggakan bahwa mereka berhasil menekan biaya misi ESCAPADE hingga hanya US$18 juta per unit, baik untuk pembuatan wahana maupun peluncurannya. Harga yang sangat rendah ini dimungkinkan oleh wahana orbital Blue Origin yang baru.

  • Peluncuran Roket Raksasa Milik Jeff Bezos Tertunda Akibat Kapal Pesiar

    Peluncuran Roket Raksasa Milik Jeff Bezos Tertunda Akibat Kapal Pesiar

    Bisnis.com, JAKARTA— Perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, Blue Origin, menunda peluncuran kedua roket raksasa New Glenn yang sedianya dilakukan pada Minggu, 9 November 2025 waktu setempat. 

    Melansir laman TechCrunch pada Senin (10/11/2025) penundaan disebabkan oleh kombinasi faktor, mulai dari cuaca yang kurang mendukung, sejumlah kendala teknis di area peluncuran, hingga keberadaan kapal pesiar yang melintas terlalu dekat dengan jalur penerbangan roket.

    Dalam pernyataan resminya pada Minggu malam, Blue Origin menyampaikan peluncuran akan dijadwalkan ulang pada Rabu, 12 November, di Cape Canaveral, Florida. Jendela peluncuran akan dibuka mulai pukul 14.50 hingga 16.17 waktu setempat (ET).

    Misi ini menjadi langkah penting bagi Blue Origin karena membawa beberapa tujuan utama. Selain menjadi uji kemampuan roket untuk dapat digunakan kembali secara penuh, peluncuran ini juga merupakan misi komersial pertama New Glenn.

    Pada penerbangan perdananya bulan Januari lalu, New Glenn berhasil mencapai orbit, namun booster roket mengalami kegagalan saat mendarat di kapal drone di laut. 

    Dalam misi kedua ini, perusahaan menargetkan pendaratan booster yang sukses sebagai bukti kemajuan dalam desain dan keandalan roket. Roket New Glenn akan membawa wahana antariksa ESCAPADE milik NASA, yang akan melakukan misi menuju Mars, serta muatan demonstrasi teknologi milik Viasat yang juga merupakan bagian dari proyek NASA lainnya. 

    Keberhasilan peluncuran ini akan menjadi kunci bagi Blue Origin untuk menunjukkan kemampuannya mengirim muatan ke luar angkasa secara aman dan efisien, serta menekan biaya berkat sistem reusability atau penggunaan ulang roket.

    Peluncuran kedua ini sebelumnya telah beberapa kali mengalami penundaan sejak awal tahun. Pada Minggu, jendela peluncuran sempat dibuka pukul 14.45 ET, namun gangguan teknis dan kondisi cuaca membuat jadwal lepas landas terus bergeser.

    Menjelang hitungan akhir, sebuah kapal pesiar memasuki jalur penerbangan, menurut siaran tersebut. Meskipun kapal tersebut diperkirakan akan meninggalkan jalur sebelum pukul 16.15 ET, cuaca masih menjadi masalah, dan menyebabkan perusahaan membatalkan upaya tersebut.

  • Segini Kekayaan Elon Musk Saat Paket Gaji Rp 16.000 T Disetujui

    Segini Kekayaan Elon Musk Saat Paket Gaji Rp 16.000 T Disetujui

    Jakarta

    Total kekayaan bersih Elon Musk justru melorot usai para pemegang saham Tesla menyetujui paket gaji US$ 1 triliun atau sekitar Rp 16.685 triliun (asumsi kurs Rp 16.685). Meski begitu, Elon Musk berada diurutan pertama orang terkaya di dunia versi Forbes.

    Mengutip data kekayaan di Forbes, Elon Musk memiliki total kekayaan bersih mencapai US$ 482,2 miliar atau sekitar Rp 8.045 triliun per 8 November 2025. Namun total kekayaan pria kelahiran Austin Texas ini justru melorot berdasarkan data Forbes pada Kamis (6/11), yakni sebesar US$ 491,4 miliar.

    Menurut Forbes, Elon Musk menjadi orang pertama yang diperkirakan memiliki kekayaan bersih sebesar US$ 500 miliar. Sementara pada awal tahun ini, kekayaan bersihnya telah mencapai US$ 400 miliar seiring kenaikan saham Tesla sebesar 20% sepanjang tahun.

    Elon Musk saat ini masih menjadi orang terkaya nomor satu di dunia. Adapun setelah Elon Musk, orang terkaya kedua di dunia adalah Larry Ellison dengan total kekayaan bersih US$ 293,5 miliar. Sementara di urutan ketiga, diisi oleh Jeff Bezos dengan total kekayaan bersih sebesar US$ 254,5 miliar.

    Berdasarkan catatan detikcom sebelumnya, diketahui Elon Musk mendapatkan dukungan mayoritas pemegang saham Tesla untuk paket gaji terbesar dalam sejarah, nilainya tembus US$ 1 triliun. Hal tersebut diputuskan dalam rapat pemegang saham yang digelar Kamis (6/11/2025) kemarin.

    Proposal tersebut disetujui dengan dukungan lebih dari 75% pemegang saham. Hasil pemungutan suara ini dinilai sangat penting bagi masa depan Tesla dan valuasinya, yang bergantung pada visi Elon untuk membuat kendaraan yang dapat mengemudi sendiri, menciptakan jaringan robotaxi di seluruh AS, dan menjual robot humanoid.

    Selain produsen mobil listrik Tesla, Elon Musk juga mendirikan SpaceX pada tahun 2002. Perusahaan ini ditaksir bernilai US$ 400 miliar berdasarkan penawaran tender pribadi pada bulan Agustus 2025. Forbes memperkirakan Elon Musk memiliki 42% saham SpaceX.

    Kemudian pada 2022, Elon Musk membeli perusahaan media sosial Twitter dalam kesepakatan senilai US$ 44 miliar. Ia menggabungkan perusahaan tersebut dengan xAI pada bulan Maret, sehingga nilai perusahaan gabungan tersebut mencapai US$ 113 miliar.

    (acd/acd)

  • Saingi Elon Musk, Roket New Glenn Jeff Bezos Meluncur Perdana

    Saingi Elon Musk, Roket New Glenn Jeff Bezos Meluncur Perdana

    Roket raksasa New Glenn milik Blue Origin meluncur dari Florida pada Kamis pagi (16/1). Ini jadi misi pertamanya ke luar angkasa bagi perusahaan antariksa milik miliarder Jeff Bezos yang bertujuan untuk menyaingi SpaceX dalam bisnis peluncuran satelit.

  • Elon Musk-Jeff Bezos Saling Dukung untuk Keberhasilan Misi Roket

    Elon Musk-Jeff Bezos Saling Dukung untuk Keberhasilan Misi Roket

    Elon Musk dan Jeff Bezos jadi dua miliarder yang kini jadi bintang di misi panggung luar angkasa. Setelah keberhasilan Bezos mengorbitkan roket raksasa New Glenn, Musk pun ucapkan selamat. Hal serupa juga dilakukan Bezos jelang penerbangan Starship SpaceX.

  • Alasan di Balik China dan AS Berebut ‘Jajah’ Bulan Terungkap

    Alasan di Balik China dan AS Berebut ‘Jajah’ Bulan Terungkap

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat dan China sedang berlomba untuk kembali ke Bulan. Peneliti asal Pakistan mengungkapkan alasan sebenarnya kedua negara raksasa itu adalah harta karun mineral yang harganya ratusan juta dolar Amerika Serikat.

    NASA menargetkan untuk kembali mendaratkan manusia di Bulan pada 2028, sedangkan China menjadwalkan penerbangan ke Bulan pada 2030.

    Mustafa Bilal dari Centre for Aerospace & Security Studies mengungkapkan bahwa ada sumber daya di Bulan yang diincar oleh beberapa perusahaan di dunia.

    Dalam artikel opini di SpaceNews ia mencontohkan kesepakatan bernilai US$ 300 juta antara startup Interlune dengan Bluefors terkait pembelian 10.000 liter helium-3 yang diambil dari Bulan.

    Helium-3, adalah isotop helium yang stabil, sehingga pas untuk bahan bakar nuklir reaktor tenaga listrik baik di Bulan atau di Bumi. Selain itu, elemen ini juga bisa digunakan untuk bahan “pendingin” komputer kuantum.

    Bulan disebut memiliki kandungan helium-3 jauh lebih banyak dibandingkan dengan Bumi. Elemen helium-3 di Bulan berasal dari partikel yang tersembur bersama angin surya. Di Bumi, elemen yang sama tidak bisa menembus atmosfer yang tebal.

    Interlune adalah satu dari banyak perusahaan yang fokus mencari cara paling efisien untuk menambang sumber daya di luar angkasa. Pesaingnya, antara lain, adalah Blue Origin milik Jeff Bezos. Blue Origin diketahui memiliki kesepakatan untuk memetakan sumber daya, termasuk helium-3 dan air, dari orbit, mengukur ketersediaan di permukaan Bulan, dan menggalinya di lokasi.

    “Selain helium-3, air es di Bulan adalah sumber daya kritis karena bisa diproses menjadi air minum, oksigen, dan bahan bakar roket.” kata Bilal.

    Adanya tambang helium-3 bisa mendorong negara-negara yang memiliki kemampuan jelajah luar angkasa untuk membangun stasiun permanen di Bulan. Pertambangan helium-3 juga bisa menentukan “pemenang” kompetisi di antariksa.

    Pasalnya, stasiun di Bulan tidak bisa bergantung sepenuhnya kepada pembangkit listrik tenaga surya. Di bulan, malam bisa berlangsung hingga 2 pekan waktu Bumi.

    (dem/dem)

    [Gambas:Video CNBC]

  • AI Bikin Boncos! Mark Zuckerberg Terlempar dari Top 3 Terkaya Dunia

    AI Bikin Boncos! Mark Zuckerberg Terlempar dari Top 3 Terkaya Dunia

    Jakarta

    Ambisi besar Mark Zuckerberg di bidang kecerdasan buatan (AI) kini berbalik arah. Saham Meta anjlok tajam hingga membuat kekayaan pribadi sang CEO turun drastis sebesar USD 29,2 miliar (sekitar Rp 470 triliun) hanya dalam satu hari perdagangan, Kamis (30/10/2025). Akibatnya, Zuckerberg terlempar dari posisi tiga besar orang terkaya dunia versi Bloomberg Billionaires Index.

    Penurunan saham Meta sebesar 12,3% menjadi yang terdalam sejak Oktober 2022. Saham ditutup di kisaran USD 658,50, menghapus sebagian besar keuntungan yang dikumpulkan sepanjang tahun. Kini, kekayaan Zuckerberg tercatat sekitar USD 228,5 miliar, menempatkannya di urutan kelima, di bawah Jeff Bezos (Amazon) dan Larry Page (Alphabet).

    Sebelumnya, posisi Zuckerberg cukup kokoh di peringkat tiga setelah Larry Ellison (Oracle) dan Elon Musk (Tesla). Namun kerugian kali ini menjadi keempat terbesar dalam sejarah Bloomberg Billionaires Index, hanya kalah dari kejatuhan besar di era “taruhan metaverse” tahun 2022.

    Anjloknya saham Meta dipicu laporan keuangan kuartal ketiga (Q3) 2025 yang mengecewakan investor. Laba bersih per saham (EPS) tercatat hanya USD 1,05, jauh di bawah perkiraan analis USD 6,72, atau turun 83% year-on-year.

    Padahal pendapatan Meta justru naik ke USD 51,2 miliar, melampaui ekspektasi US$49,5 miliar. Penyebab utama penurunan laba adalah biaya pajak satu kali senilai US$15,9 miliar akibat implementasi kebijakan pajak baru “One Big Beautiful Bill Act” dari Presiden AS Donald Trump.

    Meta menegaskan bahwa biaya tersebut bersifat non-tunai dan akan mengurangi kewajiban pajak di tahun-tahun berikutnya. Tanpa beban pajak tersebut, EPS Meta diperkirakan mencapai USD 7,25, jauh lebih sehat.

    Di bawah kendali Zuckerberg, Meta kini bertransformasi dari perusahaan media sosial menjadi raksasa AI konsumen. Melalui divisi baru bernama Superintelligence Labs, Meta gencar merekrut talenta terbaik di dunia untuk mengembangkan “AI superintelligence pribadi” bagi miliaran pengguna.

    Namun langkah agresif ini justru membuat investor waswas. Meta mengumumkan rencana penjualan obligasi hingga USD 30 miliar guna mendanai proyek ambisius tersebut, serta menaikkan belanja modal (capex) 2025 menjadi USD 70-72 miliar, dengan potensi meningkat ke USD 118 miliar pada 2026.

    Beberapa analis di Bloomberg menurunkan peringkat saham Meta, menilai pengeluaran besar-besaran ini berisiko menekan profit jangka pendek. Zuckerberg menanggapi dengan optimistis, menyebut investasi AI sebagai “pergeseran paradigma generasional” yang akan menghasilkan keuntungan besar dalam jangka panjang.

    Mark Zuckerberg, yang memiliki sekitar 13% saham Meta, dikenal sebagai sosok visioner sejak mendirikan Facebook di asrama Harvard pada 2004. Namun langkah rebranding menjadi Meta pada 2021 dan pivot ke metaverse sempat dianggap gagal setelah saham jatuh 24% pada 2022.

    Kini, arah Meta bergeser lagi-dari metaverse ke superintelligence. Produk baru seperti Vibes, platform video generatif AI yang diluncurkan pada September lalu, telah menghasilkan lebih dari 20 miliar gambar. Zuckerberg menyebutnya sebagai langkah nyata menuju masa depan “AI untuk semua orang”.

    Fenomena ini juga menggambarkan turbulensi yang terjadi di sektor teknologi global. Alphabet naik 2,7% setelah laporan laba positif, sementara Microsoft justru turun 2,2% akibat investasi USD 3,1 miliar ke OpenAI.

    Para analis menilai tantangan Meta kini adalah menyeimbangkan inovasi jangka panjang dengan ekspektasi keuntungan jangka pendek, di tengah kompetisi ketat dalam industri AI yang semakin panas.

    (afr/afr)

  • Raksasa E-Commerce Amazon PHK 14.000 Karyawan, Digantikan dengan AI

    Raksasa E-Commerce Amazon PHK 14.000 Karyawan, Digantikan dengan AI

    Bisnis.com, JAKARTA— Raksasa teknologi Amazon berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 14.000 karyawan korporat di seluruh dunia. 

    Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran seiring meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) di perusahaan tersebut.

    Mengutip laporan Reuters, Rabu (29/10/2024), jumlah karyawan yang terdampak berpotensi meningkat hingga 30.000 orang. Meski belum dikonfirmasi secara resmi, Amazon dalam surat elektronik kepada seluruh karyawan menyebutkan pemangkasan lanjutan akan dilakukan dalam waktu dekat.

    Keputusan ini diambil untuk menyesuaikan jumlah tenaga kerja setelah terjadi kelebihan rekrutmen selama masa pandemi, sekaligus menekan biaya operasional menjelang musim belanja akhir tahun.

    CEO Amazon Andy Jassy sebelumnya telah menyinggung penerapan AI dan otomasi akan berdampak pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja, terutama di bidang administrasi dan pekerjaan yang bersifat rutin. 

    Hingga akhir tahun lalu, Amazon memiliki sekitar 1,56 juta karyawan penuh waktu dan paruh waktu, dengan sekitar 350.000 orang bekerja di posisi korporat.

    Karyawan yang terdampak menerima pemberitahuan PHK melalui email pribadi pada Selasa pagi. Dalam surat yang dikirim Beth Galetti, Wakil Presiden Senior Divisi People Experience and Technology, disebutkan bahwa pegawai yang terkena dampak tidak lagi diwajibkan bekerja atas nama Amazon.

    Galetti menambahkan, karyawan yang terkena PHK diberi waktu 90 hari untuk mencari posisi baru di internal perusahaan, dan tim rekrutmen akan memprioritaskan mereka dalam proses perekrutan.

    Jassy saat ini tengah menjalankan program efisiensi untuk mengurangi lapisan manajemen dan memangkas birokrasi, termasuk membuka jalur pengaduan anonim agar karyawan bisa menyampaikan masukan terkait proses kerja yang tidak efektif. 

    Program tersebut telah menghasilkan sekitar 1.500 masukan dan 450 perubahan sistem kerja.

    PHK kali ini menjadi yang terbesar sejak Amazon memberhentikan 27.000 karyawan pada akhir 2022 dan awal 2023. Sejumlah divisi yang terdampak mencakup perangkat, periklanan, Prime Video, sumber daya manusia, operasi, Alexa, dan unit komputasi awan Amazon Web Services (AWS).

    Meski demikian, Galetti menegaskan bahwa Amazon masih akan membuka lowongan di bidang strategis, terutama yang berkaitan dengan pengembangan teknologi AI dan layanan cloud. Menurutnya, restrukturisasi sebelumnya telah membantu perusahaan bekerja lebih cepat dan efisien.

    Saham Amazon tercatat naik 0,8% pada perdagangan Selasa siang waktu setempat. Namun secara keseluruhan, saham perusahaan baru naik 3,5% sepanjang tahun ini, menjadikannya yang terlemah di antara kelompok saham teknologi besar “Magnificent 7”.

    Dalam pernyataannya, Galetti menegaskan kembali komitmen Amazon untuk memperkuat penggunaan AI di seluruh lini bisnis. “Generasi AI saat ini adalah teknologi paling transformatif sejak kemunculan internet. Teknologi ini memungkinkan perusahaan berinovasi lebih cepat dari sebelumnya,” ujarnya.

    Amazon diperkirakan akan menggelontorkan sekitar US$118 miliar tahun ini untuk belanja modal, sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur AI dan cloud computing. Laporan keuangan kuartal ketiga perusahaan dijadwalkan rilis pada Kamis mendatang.

    Di sisi lain, Senator AS Bernie Sanders meminta pendiri Amazon Jeff Bezos menjelaskan potensi hilangnya ratusan ribu lapangan kerja akibat otomatisasi. Hal ini menanggapi laporan The New York Times yang menyebut eksekutif Amazon memperkirakan hingga 500.000 pekerjaan dapat tergantikan robot di masa mendatang.

    Selain itu, dua senator Amerika juga mendesak Amazon menjelaskan alasan perusahaan tersebut menjadi pengguna terbesar tenaga kerja asing dengan visa H-1B, sementara di saat yang sama sedang melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap tenaga kerja domestik.