Tag: Jeff Bezos

  • Duel Maut Dua Perusahaan Raksasa Luar Angkasa, SpaceX Vs Blue Origin

    Duel Maut Dua Perusahaan Raksasa Luar Angkasa, SpaceX Vs Blue Origin

    Jakarta

    CEO SpaceX Elon Musk kembali memancing perseteruannya dengan pendiri Amazon sekaligus CEO Blue Origin, Jeff Bezos. Pemicu terbarunya adalah pengajuan dokumen oleh Blue Origin kepada Administrasi Penerbangan Federal (FAA).

    Dokumen tersebut menyerukan pembatasan rencana peluncuran roket Starship milik SpaceX, dari Kennedy Space Center NASA di Florida. Dalihnya ialah menjaga lingkungan dan komunitas setempat.

    Dilansir dari Futurism, Senin (1/7/2024), Musk menanggapi dengan keras melalui platform media sosialnya, yakni X.com. Ia sampai-sampai menjuluki saingannya itu dengan nama ejekan ‘Sue Origin’.

    “Tidak keren bagi mereka untuk mencoba (untuk ketiga kalinya) menghambat kemajuan SpaceX melalui undang-undang.” tulis Musk.

    Sejarah Panjang Perselisihan

    Sebenarnya persaingan kedua miliarder ini telah berlangsung lama. Musk sering melontarkan kritik pedas terhadap Bezos dan Blue Origin.

    Pada tahun 2019, dia pernah mengejek pendarat ‘Blue Moon’ milik Blue Origin dengan sebutan ‘Blue Balls’ melalui sebuah gambar yang sudah diedit. Lalu tahun 2021, Musk menyindir ketidakmampuan Blue Origin mencapai orbit.

    Diketahui bahwa tuduhan Musk tentang perang hukum yang dilancarkan Blue Origin terhadap SpaceX memiliki dasar. Blue Origin yang telah lama menentang pengembangan Starship miliknya, berpendapat bahwa NASA seharusnya memilih pendarat bulan mereka.

    Perusahaan Bezos bahkan menggugat NASA atas kontrak SpaceX pada Agustus 2021. Meskipun pada akhirnya gugatan tersebut ditolak oleh pengadilan.

    Pertarungan di Berbagai Sektor

    Perseteruan ini tidak terbatas pada proyek pendarat bulan. Kuiper Systems, anak perusahaan Amazon, juga berusaha menghambat ekspansi konstelasi Starlink milik SpaceX pada tahun 2021.

    Saat itu Musk menuduh Bezos pensiun hanya untuk fokus mengajukan gugatan terhadap SpaceX.

    Isu Lingkungan: Alasan atau Dalih?

    Terkait dampak Starship terhadap lingkungan, SpaceX telah menjalani penilaian menyeluruh oleh FAA untuk operasi di Texas Selatan. Namun, rencana pemindahan peluncuran ke Kompleks Peluncuran 39A di Kennedy Space Center, memicu investigasi dampak lingkungan baru pada Mei lalu.

    Kendati demikian, masih menjadi pertanyaan, apakah kekhawatiran Bezos ini cuma iseng? Atau karena alasan lingkungan, apakah regulator benar-benar harus menahan peluncuran Starship?

    *Artikel ini ditulis oleh Fadhila Khairina Fachri, peserta Program Magang Bersertifikat Kampus Merdeka di detikcom.

    (hps/afr)

  • Metis, Chatbot Bikinan Amazon Untuk Saingi ChatGPT

    Metis, Chatbot Bikinan Amazon Untuk Saingi ChatGPT

    Jakarta

    Perusahaan Amazon.com Inc dilaporkan tengah mengerjakan chatbot AI baru untuk bersaing langsung dengan ChatGPT, layanan chatbot milik OpenAI.

    Berdasarkan laporan dari Business Insider, mengutip dari sumber yang mengetahui informasi tersebut, mengklaim bahwa proyek chatbot AI ini nantinya akan dinamai Metis, sebuah nama yang mengacu pada dewi kebijaksanaan Yunani.

    Metis kabarnya akan didukung oleh model AI internal Amazon yang disebut Olympus, model yang lebih kuat daripada model AI Titan yang saat ini tersedia di Amazon.

    Metis digambarkan bisa memberikan jawaban berbasis teks dan gambar dengan cara percakapan dan mampu membagikan tautan ke sumber tanggapan, menyarankan pertanyaan lanjutan, dan menghasilkan gambar, sebagaimana dilansir detiKINET dari SiliconANGLE.

    Amazon juga mengatakan bahwa mereka ingin Metis menggunakan retrieval-augmented generation, sebuah kemampuan untuk mengambil informasi dari luar data aslinya untuk memberikan tanggapan terkini seperti harga saham.

    Menariknya, Metis juga diklaim akan bekerja sebagai agen AI, melakukan tugas secara mandiri dengan menganalisis data, membuat keputusan, dan mengambil beberapa tindakan berdasarkan algoritma yang diprogram dan pola yang dipelajari.

    Amazon sebelumnya telah dituduh tertinggal dalam perlombaan AI, sebuah klaim yang secara mengejutkan datang dari pendiri Amazon dan mantan Chief Executive Officer Jeff Bezos bulan lalu.

    Dilaporkan pada saat itu bahwa Bezos telah mengirim email kepada para eksekutif Amazon yang menanyakan mengapa lebih banyak perusahaan AI tidak menggunakan layanan cloud-nya.

    Apakah Amazon tertinggal dalam hal AI masih bisa diperdebatkan, namun yang pasti, Amazon, meskipun mungkin tidak disorot seperti perusahaan-perusahaan seperti OpenAI, GoogleLLC, dan lainnya, telah mencoba maju dengan penyediaan layanan AI.

    Pada bulan November, Amazon mengumumkan pratinjau Amazon Q, bantuan AI generatif yang dapat disesuaikan dengan bisnis pelanggan. Pada bulan Mei, dilaporkan bahwa Amazon sedang mengerjakan versi baru Alexa yang lebih mumpuni yang akan didukung oleh model Titan AI.

    Untuk mendorong lebih banyak perusahaan AI untuk bekerja sama dengan layanannya, Amazon Web Services Inc. mengumumkan pada tanggal 13 Juni bahwa mereka berkomitmen untuk menggratiskan kredit cloud sebesar USD 230 juta untuk startup AI generatif.

    Sebagai bagian dari penawaran ini, AWS memberikan kredit gratis kepada startup AI generatif tahap awal yang memungkinkan mereka untuk mengakses kekuatan komputer Amazon, berbagai model AI, serta infrastruktur dan layanan spesialis.

    Mark Garman, yang mengambil alih posisi CEO AWS bulan lalu, berbicara dengan SiliconANGLE tahun lalu ketika ia masih menjabat sebagai kepala penjualan AWS tentang bagaimana Amazon bertujuan untuk memimpin dalam AI generatif.

    Dalam wawancara tersebut, Garman mencatat bahwa AI adalah bidang yang telah diinvestasikan secara mendalam oleh AWS dan merasa sangat bersemangat tentang bagaimana AI akan membantu pelanggan AWS mengubah bisnis mereka.

    (jsn/jsn)

  • Ide Gila, Amerika Mau Bangun Kereta ke Bulan

    Ide Gila, Amerika Mau Bangun Kereta ke Bulan

    Jakarta

    Astronaut di masa depan mungkin bisa ke Bulan lebih mudah dengan naik kereta api. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), badan penelitian rahasia Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS), ditugaskan mencari cara untuk mendukung astronaut yang akan tinggal di Bulan untuk waktu yang lama.

    Rencana tersebut sangat hipotetis, karena sejauh ini tidak ada bangunan permanen sama sekali di Bulan, dan tidak ada manusia yang pernah ke sana sejak tahun 1972.

    Namun AS dan negara-negara lain berlomba mengeksplorasi Bulan dan ingin sekali lagi mengirim manusia ke sana. Hal itu memerlukan infrastruktur futuristik untuk menyediakan listrik, komunikasi, dan transportasi yang andal.

    Sebagai bagian dari misi ini, DARPA menugaskan perusahaan teknologi kedirgantaraan dan pertahanan AS Northrop Grumman untuk mengembangkan konsep kereta api ke Bulan.

    “Jika terwujud, jalur kereta api ini dapat mengangkut manusia, perbekalan, dan kargo komersial untuk di Bulan,” kata Northrop Grumman dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Business Insider.

    Perusahaan tersebut bukan ditugaskan untuk membangun jalur kereta api namun mencari tahu apakah hal tersebut memungkinkan secara fisik dan finansial.

    Mereka harus menemukan ide-ide cerdas untuk mengatasi lanskap Bulan yang ekstrem. Mencari cara mengatasi debu Bulan yang bersifat abrasif, misalnya, karena dapat merusak jejak dan pengangkut.

    NASA sebelumnya menyelidiki konsep kereta melayang magnetik yang disebut FLOAT untuk menghindari masalah tersebut. Dalam konsep tersebut, jalur elektromagnetik mengangkut robot melayang yang membawa muatan bolak-balik.

    Studi tersebut menemukan bahwa konsep tersebut dapat dilakukan, tetapi memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Tidak jelas apakah Northrop Grumman berniat meneruskan ide tersebut atau memunculkan ide lain.

    Meskipun ide ini mungkin terdengar gila seperti fiksi ilmiah, hal tersebut tidaklah terlalu mengada-ada. NASA memiliki rencana jangka panjang untuk membawa manusia ke Bulan.

    Program Artemis dimulai dengan penerbangan mengelilingi Bulan pada tahun 2022. Tujuan utamanya adalah untuk menempatkan astronaut di Bulan dan Mars, menetapkan landasan bagi eksploitasi komersial Tata Surya.

    Untuk misi Artemis berikutnya, NASA bertujuan mengirim astronaut kembali ke Bulan untuk pertama kalinya dalam lebih dari 50 tahun pada akhir tahun 2025.

    Sementara itu, mitra komersial sudah memikirkan cara untuk menambang Bulan. Hal ini dapat menghasilkan bahan bangunan, air yang dapat digunakan untuk menggerakkan roket menuju Mars, dan Helium-3, sebuah isotop berharga yang dapat digunakan dalam reaktor fusi.

    NASA dan badan antariksa lainnya juga sedang mempertimbangkan untuk menempatkan reaktor nuklir mini di Bulan untuk memberi daya pada pangkalan tersebut.

    Rencananya juga mencakup penempatan satelit komunikasi dan GPS di orbit Bulan untuk memungkinkan astronaut melakukan navigasi, berbicara, dan bahkan streaming dari permukaan Bulan.

    Namun, sebelum hal ini terjadi, NASA perlu menyelesaikan masalah pengiriman astronaut ke Bulan dari Bumi. Pada saat ini, hal ini bergantung pada SpaceX dan Blue Origins yang menyempurnakan roket raksasa mereka.

    Starship milik Elon Musk pekan lalu melewati tonggak sejarah ketika roket setinggi hampir 121 meter terbang ke luar angkasa untuk pertama kalinya. Sedangkan Blue Origin milik Jeff Bezos, sedang bersiap meluncurkan roket raksasa New Glenn pada akhir tahun ini.

    (rns/afr)

  • Lebih Baik Lindungi Bumi Daripada ke Mars

    Lebih Baik Lindungi Bumi Daripada ke Mars

    Jakarta

    Elon Musk dan Jeff Bezos melalui perusahaan masing-masing, SpaceX dan Blue Origin, berambisi membangun koloni di luar angkasa, termasuk ke Planet Mars. Akan tetapi, upaya itu dikritik oleh mantan presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

    Menurutnya, Bumi akan lebih layak huni dibandingkan planet Mars, bahkan setelah perang nuklir. Obama berpendapat bahwa para taipan di Silicon Valley, seharusnya lebih fokus pada penyelamatan Bumi daripada berinvestasi menerbangkan manusia ke antariksa.

    “Ketika saya mendengar beberapa orang berbicara tentang rencana untuk menjajah Mars karena lingkungan Bumi mungkin sudah sangat terdegradasi sehingga tidak dapat ditinggali, saya melihat mereka dan bertanya-tanya, apa yang Anda bicarakan?” kata Obama pada pembukaan KTT POwR.Earth 2024 di Paris.

    “Bahkan setelah perang nuklir, Bumi akan lebih layak huni dibandingkan Mars, bahkan jika kita tidak melakukan apa pun terhadap perubahan iklim, Bumi masih memiliki oksigen. Sejauh yang kami tahu, Mars tidak memilikinya,” imbuhnya.

    Obama menegaskan, pengembangan eksplorasi luar angkasa harus terus berlanjut demi ilmu pengetahuan dan penemuan. Namun beda halnya ketika menyangkut relokasi manusia ke luar angkasa, “Saya lebih suka kita berinvestasi dalam menjaga planet ini di sini,” kata Obama.

    “Kita dirancang untuk tempat ini, dan akan lebih baik jika kita menjaga tempat ini agar tetap layak huni,” cetusnya, seperti dikutip detikINET dari Insider.

    Elon Musk pernah mengatakan ingin mengirim jutaan manusia ke Mars pada tahun 2050 dan menurutnya sangat mungkin manusia akan mendarat di planet merah tersebut dalam dekade berikutnya.

    Sedangkan perusahaan Blue Origin milik Jeff Bezos berencana menguji mega-roketnya sendiri, New Glenn, untuk pertama kalinya pada Agustus tahun ini. Roket tersebut dapat bersaing dengan Starship dari SpaceX untuk rencana NASA untuk kembali ke bulan sebelum menuju ke Mars.

    Mantan CEO Amazon itu mengatakan tahun lalu bahwa dia melihat lebih banyak potensi dalam menempatkan manusia di stasiun luar angkasa raksasa daripada mengirim mereka ke planet lain.

    (fyk/fyk)

  • Elon Musk Nyinyirin Mantan Istri Jeff Bezos, Tweetnya Langsung Dihapus

    Elon Musk Nyinyirin Mantan Istri Jeff Bezos, Tweetnya Langsung Dihapus

    Jakarta

    Elon Musk baru-baru ini menyindir mantan istri Jeff Bezos, MacKenzie Scott, yang memberikan donasi. Tak lama kemudian, tweet itu kemudian dihapus.

    “‘Mantan istri super kaya yang membenci mantan pasangannya’ harus dimasukkan dalam daftar ‘Alasan Kematian Peradaban Barat,’” tulis bos Tesla di platform yang sudah dibeli USD 44 miliar di akhir 2022 itu.

    Elon Musk baru-baru ini menyindir mantan istri Jeff Bezos, MacKenzie Scott, yang memberikan donasi. Tak lama kemudian, tweet itu kemudian dihapus. Foto: X/elonmusk/via The Post

    Musk menulis postingan tersebut sebagai tanggapan terhadap pengguna X yang mengeluh bahwa Scott, yang menceraikan pendiri Amazon pada tahun 2019 setelah 25 tahun menikah, memberikan uang kepada organisasi yang menangani masalah ras dan/atau gender.

    “Dananya seharusnya disebut The AWFL Fund. Itu adalah ekspresi aspirasional tertinggi dari kelompok paling mengerikan di AS,” tulis pengguna X yang bernama ‘i/o’. Musk menghapus postingan itu beberapa jam kemudian.

    Melansir The Post, Musk penah juga berkomentar soal aksi Scott beramal. Musk beranggapan Scott memberikan sumbangan amalnya kepada komite aksi politik yang bersekutu dengan Partai Demokrat.

    [Gambas:Twitter]

    Menurut situs webnya, Scott telah menyumbangkan ratusan juta dolar kepada organisasi-organisasi yang mengabdi pada tujuan-tujuan seperti keadilan rasial, keadilan LGBTQ+, kesetaraan gender, kesehatan masyarakat, perubahan iklim dan sesuatu yang disebut dengan ‘demokrasi fungsional’.

    Penerima sumbangannya termasuk Obama Foundation, Movement for Black Lives, Jackie Robinson Foundation, Morehouse College, Howard University, Planned Parenthood dan George W. Bush Presidential Center.

    (ask/ask)

  • Mantan Istri Jeff Bezos Lepas Saham Rp157,7 T Tahun Lalu

    Mantan Istri Jeff Bezos Lepas Saham Rp157,7 T Tahun Lalu

    Jakarta, CNN Indonesia

    Mantan istri Jeff Bezos, MacKenzie Scott melepas hampir 65,3 juta saham Amazon dengan nilai lebih dari US$10 miliar atau Rp157,75 triliun (Kurs Rp15.775 per dolar AS) pada tahun lalu.

    Usai proses perceraiannya dengan Bezos selesai pada 2019, Scott jadi wanita terkaya di dunia. Dia menerima sekitar 19,7 juta saham atau setara dengan 4 persen saham beredar Amazon.

    Sejak saat itu, Scott telah menjual sebagian sahamnya dan menyumbang miliaran dolar untuk amal.

    Seperti dilaporkan CNN, pada 2019 Scott menandatangani Giving Pledge atau perjanjian yang ditandatangani ratusan orang terkaya di dunia untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka.

    Giving Pledge juga ditandatangani oleh raksasa bisnis seperti Warren Buffett, Bill Gates dan Mark Zuckerberg.

    Bezos bukan salah satu pihak yang turut tanda tangan. Namun pada 2022, ia mengungkap ada rencana untuk mencurahkan sebagian besar kekayaannya untuk memerangi perubahan iklim dan mendukung pihak-pihak yang bisa mempersatukan umat manusia.

    Pada Desember, Scott mengumumkan bahwa dirinya menyumbang lewat yayasannya, Yield Giving, sebesar US$2,15 miliar. Yayasan tersebut telah berdonasi ke 360 organisasi.

    Meski sudah menjual saham dan banyak beramal, kekayaan bersih Scott masih lebih dari US$37 miliar menurut Indeks Miliarder yang dirilis Bloomberg.

    (els/agt)