Tag: Jarot Winarno

  • Mastel Minta Komdigi Atur Kualitas Layanan Pemenang Seleksi 1,4 GHz

    Mastel Minta Komdigi Atur Kualitas Layanan Pemenang Seleksi 1,4 GHz

    Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) diminta untuk menerapkan aturan tegas yang mengatur kewajiban pemenang seleksi  pita frekuensi 1,4 GHz. Salah satunya perihal standar kualitas layanan yang lebih baik dari seluler. 

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sigit Puspito Wigati Jarot mengatakan secara teknis, pemenang fixed broadband, tidak akan menjadi pemain selular karena izin penyelenggaraan dan izin frekuensinya juga berbeda. 

    Perusahaan selular memiliki izin frekuensi yang bersifat nasional, sedangkan untuk fixed broadband hanya di wilayah tertentu saja. Dengan kondisi tersebut, maka fixed broadband tidak menjadi seluler karena tidak ada mobilitas.

    Namun, lanjutnya, dari perspektif persaingan usaha, penyedia layanan internet tetap pada seleksi 1,4 GHz berpeluang menghadirkan layanan yang beririsan dengan seluler. Ketika secara layanan ada kemiripan misalnya dalam hal kecepatan dan lain sebagainya, maka kemungkinan target pasar yang diincar ada relevansi atau kemiripan. 

    Sebagai pembeda, kata Sigit, perlu ada aturan kualitas layanan, misalnya antara fixed broadband yang menggunakan FO, fixed broadband yang menggunakan wireless seperti FWA atau BWA, dengan selular. 

    “Sudah sewajarnya, target fixed broadband lebih tinggi daripada selular, karena secara teknis juga lebih kondusif dengan tidak adanya mobilitas kualitas sinyalnya bisa lebih baik,” kata Sigit kepada Bisnis, Jumat (28/2/2025). 

    Diketahui, Komdigi berencana untuk melakukan lelang frekuensi 1.4Ghz untuk layanan broadband wireless access (BWA) pada semester pertama 2025. Harapannya, melalui seleksi tersebut akan melahirkan sebuah perusahaan yang dapat menghadirkan layanan internet cepat 100 Mbps seharga Rp100.000 – Rp150.000. 

    Dalam seleksi tersebut, Sigit berharap Komdigi dapat memastikan pemenang  lelang frekuensi 1.4Ghz hanya untuk memberikan layanan broadband fix 5G dengan kecepatan yang bisa dipastikan 100Mbps. Bukan 4G seperti selular. 

    “Sehingga  bisa menjadi pembeda dengan selular. Jika Komdigi tak tegas dalam membuat regulasi BWA sebagai, maka akan menimbulkan permasalahan persaingan usaha di kemudian hari,” kata Sigit. 

    Dia juga mengusulkan agar iklim persaingan usaha dapat terus terjaga, pemenang tender frekuensi 1.4Ghz di satu regional dapat lebih dari 1 dan tidak melebihi dari 2 pemenang. Sigit melihat hingga saat ini 

    Selain harga, Sigit juga meminta dalam lelang lelang frekuensi 1.4Ghz Komdigi juga dapat memasukan kebijakan lokal dari penyelenggaraan BWA. Misalnya jika ada ada lebih dari satu pemenang di salah satu zona, maka harus ada pembagian beban antara wilayah urban dan rural. Pembangunan di infrastruktur di daerah urban lebih mudah sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibandingkan rural.

  • Rumah, Masjid dan Puskesmas Rusak Diterjang Angin Kencang di Klaten

    Rumah, Masjid dan Puskesmas Rusak Diterjang Angin Kencang di Klaten

    Foto

    Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho – detikNews

    Selasa, 25 Feb 2025 19:00 WIB

    Klaten – Puluhan rumah, tiga masjid, dan satu puskesmas rusak diterjang angin kencang di Klaten, Jawa Tengah. Kini rumah, masjid, dan puskesmas itu mulai diperbaiki.

  • Banjir Bandang di Sumbawa, 21 Rumah Warga Terendam 
                
                    
                        
                            Regional
                        
                        24 Februari 2025

    Banjir Bandang di Sumbawa, 21 Rumah Warga Terendam  Regional 24 Februari 2025

    Banjir Bandang di Sumbawa, 21 Rumah Warga Terendam 
    Tim Redaksi
    SUMBAWA, KOMPAS.com
    – Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan
    banjir bandang
    di
    Desa Serading
    , Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).
    Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (24/2/2025) sekitar pukul 14.30 Wita, yang mengakibatkan 21 rumah warga terendam.
    Kepala
    BPBD Sumbawa
    , Muhammad Nurhidayat, mengkonfirmasi peristiwa tersebut.
    “Benar, terjadi banjir yang menggenangi 21 rumah warga. Saat ini, banjir sudah surut,” ujarnya.
    Nurhidayat menjelaskan, berdasarkan laporan dari Camat Moyo Hilir, Widodo, banjir melanda RT 01 Dusun Karang Jati, Desa Serading, akibat luapan sungai.
    Saat ini, air telah surut, dan warga mulai membersihkan rumah mereka.
    Namun, mereka masih membutuhkan makanan cepat saji karena belum dapat memasak dampak banjir.
    “Pihak kami segera menyalurkan
    bantuan makanan
    ke lokasi terdampak banjir pada malam ini dan juga besok pagi,” kata Nurhidayat.
    Sementara itu, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot, yang sedang mengikuti retret kepala daerah di Akademi Militer Magelang, tetap memantau kondisi terkini di Sumbawa.
    Ia menegaskan pentingnya penanganan bencana yang cepat dan tepat agar masyarakat yang terdampak segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan.
    “Saya telah berkoordinasi dengan wakil bupati, sekretaris daerah dan BPBD untuk memastikan bantuan segera disalurkan. Kita harus bergerak cepat agar masyarakat terdampak tidak mengalami kesulitan yang berkepanjangan,” ujar Jarot.
    Pemerintah Kabupaten Sumbawa juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan banjir susulan.
    Masyarakat diharapkan segera melaporkan kondisi darurat kepada pihak berwenang agar penanganan dapat dilakukan dengan segera.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Layanan FWA Bikin Internet Indonesia Kencang dan Murah, Tapi …

    Layanan FWA Bikin Internet Indonesia Kencang dan Murah, Tapi …

    Jakarta

    Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) memandang bahwa Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang akan menghadirkan layanan Fixed Wireless Access (FWA) di pita frekuensi 1,4 GHz sebagai solusi internet cepat dan murah. Agar bisnis seluler tidak tergerus, Komdigi pun diminta untuk meregulasi layanan FWA.

    Komdigi tengah menyiapkan spektrum 80 MHz di 1,4 GHz yang diharapkan dapat mendorong hadirnya internet di rumah dengan kecepatan akses sampai 100 Mbps dengan harga berkisar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribuan.

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel, Sigit Puspito Wigati Jarot, pun mengakui bahwa kecepatan internet Indonesia terbilang tertinggal dibandingkan negara lainnya. Menurutnya, spektrum frekuensi 1,4 GHz dapat mengakselerasi koneksi Indonesia ke depannya.

    “Saya melihat FWA 1,4 GHz ini sebagai solusi broadband, tapi jangan ketarik ke (pasar) mobile dan harus sadar perbedaannya tetap dengan fiber karena FWA itu in between gitu antara mobile seluler dengan fiber,” ujar Sigit di forum Morning Tech bertajuk “Lelang Frekuensi, Untuk Siapa?” di Jakarta, Senin (24/2/2025).

    Ia kemudian mengacu pada data International Telecommunication Union (ITU) tahun 2020 bahwa penetrasi internet Indonesia belum menyentuh 5% dan hanya lebih baik dari Laos, Kamboja, dan Timor Leste. Sedangkan, berdasarkan data yang dikutip Komdigi, penetrasi internet fixed broadband di Laos saat ini sudah lebih baik dari Indonesia.

    “Ini menunjukkan demikian rendahnya kita, bahkan jauh di bawah rata-rata Asia Tenggara, apalagi rata-rata Asia, sehingga mau tidak mau memang harus ada solusi cepat gitu karena kita melihat solusi FWA ini saya lihat dari dua hal gitu. Pertama itu dari segi affordability dan kedua dari segi kecepatan menggelar,” tuturnya.

    Lebih lanjut, kata Sigit menjelaskan, layanan FWA nantinya dapat dinikmati pengguna rumah melalui perangkat seperti router.

    “Ketika ini didesainya betul, kebijakannya betul, network-nya betul, kemungkinan tidak akan mengganggu pasarnya seluler dan dia justru akan mengkondisikan masuknya jaringan fiber optik. Tapi, ketika ini dilepas dengan mekanisme pasar gitu, bisa jadi dia mengganggu pasarnya seluler, bisa jadi akan menambah justru penetrasi fiber optik,” jelasnya.

    Untuk itu, Sigit mengimbau agar layanan WFA ini tetap menghadirkan koneksi di atas 100 Mbps. Selain itu juga, ia meminta Komdigi dapat tegas bahwa pemenang seleksi pita frekuensi 1,4 GHz tersebut tidak melanggar peraturan yang telah disepakati sebelumnya.

    “Kalau misalnya dia dijaga harus 100 Mbps, seluler nggak akan terganggu. Demikian juga di sini, kalau tidak diikat dengan dia harus 100 Mbps, maka nanti yang dapat lelang frekuensi, ‘sudah saya menggelar 4G saja lah,’ karena 4G itu masih bisa juga meskipun nggak sampai 100 Mbps,” pungkasnya.

    (agt/agt)

  • Mastel Ungkap Tantangan Lelang Frekuensi 1.4GHz untuk Hadirkan Internet Cepat dan Murah – Page 3

    Mastel Ungkap Tantangan Lelang Frekuensi 1.4GHz untuk Hadirkan Internet Cepat dan Murah – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Komdigi (Komunikasi dan Digital) telah memiliki rencana untuk melelang frekuensi 1.4GHz. Ini menjadi cara pemerintah untuk memperluas akses fixed brodband yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

    Rencananya, pita frekuensi ini akan digunakan untuk layanan BWA (Broadband Wireless Access). Meski hadir untuk mengatasi kesenjangan digital di Indonesia, upaya lelang frekuensi 1.4 GHz ini masih perlu mendapatkan catatan.

    Salah satunya berasal dari Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia) Sigit Puspito Wigati Jarot. Hal itu ia ungkapkan dalam event Morning Tech bertajuk “Lelang Frekuensi, Untuk Siapa?”.

    “Dalam bahasa kininya itu, Komdigi harus istiqomah. Kalau tujuannya menggelar 1.4GHz ini untuk solusi broadband, jangan ketarik ke mobile dan harus sadar perbedaannya,” tuturnya dalam event yang digelar di Jakarta, Senin (24/2/2025).

    Ia beralasan, ketika kebijakan soal pemakaian frekuensi untuk BWA ini serta jaringannya betul, kemungkinan tidak akan mengganggu pasar seluler. Bahkan, penerapan ini justru bisa membuka pintu untuk masuknya akses FO (fiber optik).

    Sementara, ketika layanan BWA ini dilepas dengan mekanisme pasar, ada potensi bisa mengganggu pasar seluler. Tidak hanya itu, Komdigi juga harus memastikan kalau kecepatan yang ditawarkan harus benar-benar mencapai 100Mbps.

    “Ketika tidak diikat atau tidak dijaga supaya harus 100Mbps, jika boleh turun-turun, itu bisa merusak pasarnya seluler,” tutur Sigit menjelaskan.

    Untuk itu, ia menekankan, Komdigi harus menetapkan regulasi yang tegas agar memastikan frekuensi 1,4 GHz benar-benar digunakan untuk meningkatkan kualitas fixed broaband, dan berbeda dari regulasi seluler.

  • FWA Alternatif Layanan Internet Rumah, Bukan Pesaing Seluler

    FWA Alternatif Layanan Internet Rumah, Bukan Pesaing Seluler

    Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai Fixed Wireless Access (FWA) atau jaringan tetap nirkabel dapat menjadi alternatif layanan internet rumah yang selama ini penetrasinya bergantung pada serat optik. Teknologi FWA bukan pesaing seluler. 

    Sebab, model ini menawarkan dua keunggulan utama, yakni affordability atau keterjangkauan harga dan kecepatan dalam penggelaran jaringan. 

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel, Sigit Puspito Wigati Jarot menyampaikan seleksi pita frekuensi 1,4 GHz yang diperuntukan untuk FWA bisa menjadi opsi yang untuk membuat jaringan internet semakin meningkat.

    “FWA ini nanti perbandingannya dengan Fiber to the Home (FTTH) dengan kabel dan seterusnya,” kata Sigit dalam agenda Morning Tech di Jakarta, Senin (24/2/2025).

    Sigit menjelaskan, FWA menggunakan perangkat yang dikenal sebagai CPE (Customer Premise Equipment) yang menyerupai router. 

    Namun, ada pertimbangan penting terkait dampaknya terhadap pasar seluler. Jika FWA didesain dan diterapkan dengan baik, dengan kebijakan serta desain jaringan yang tepat, teknologi ini tidak akan mengganggu pasar seluler. 

    Sehingga, penerapan FWA ini justru dapat mendorong perluasan jaringan Fiber Optik (FO), yang memiliki potensi untuk memperkuat infrastruktur komunikasi secara keseluruhan.

    “Tapi ketika ini dilepas dengan mekanisme pasar gitu, bisa jadi dia mengganggu pasarnya seluler bisa jadinya akan menambah justru penetrasi FO,” ujarnya.

    Maka dari itu, Sigit meminta agar jaringan dari FWA ini berada dalam model 5G dan memiliki kecepatan minimal 100 Mbps agar tidak mengganggu pasar seluler.

    “Demikian juga disini kalau tidak diikat dengan dia harus 100 Mbps maka nanti yang dapet lelang frekuensi. Karena 4G itu masih bisa juga Meskipun gak sampai 100 Mbps,” ucap Sigit.

    Diberitakan sebelumnya, Direktur Utama PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) atau Surge Yune Marketatmo menyampaikan bahwa untuk mendorong 5G, pemerintah perlu memperbanyak FWA untuk mempercepat penetrasi tersebut.

    Yune menuturkan, FWA sangat sukses digunakan di negara lainnya seperti Amerika untuk mendorong penetrasi penggunaan internet.

    “Nah kalau kita mau pakai 5G untuk FWA itu akan berhasil sih. Karena itu nanti lebih terkonsentrasi gitu loh. Kalau mobile itu biayanya besar sekali,” kata Yune di Jakarta, Jumat (21/2/2025).

  • Komdigi Mau Internet RI Tembus 100 Mbps, Realistis atau Utopis?

    Komdigi Mau Internet RI Tembus 100 Mbps, Realistis atau Utopis?

    Jakarta

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah bersiap menggelar lelang frekuensi 1,4 GHz di 2025 untuk mengakselerasi kecepatan internet Indonesia hingga 100 Mbps dengan harga terjangkau. Apakah itu realistis atau utopis?

    Untuk mencapai tujuan tersebut, Komdigi akan melepas lebar pita 80 MHz di frekuensi 1,4 GHz yang dialokasikan layanan Broadband Wireless Access (BWA) atau layanan internet cepat tetap nirkabel. Proses seleksi spektrum ini direncanakan dikerjakan pada semester pertama.

    Koordinator Kebijakan Penyelenggaraan Infrastruktur Digital Komdigi, Benny Elian, menegaskan bahwa spektrum ini akan digunakan untuk menghadirkan layanan internet berkualitas dengan harga terjangkau.

    “Kami ingin menghadirkan internet yang lebih murah bagi masyarakat, dengan tarif berkisar Rp 100.000 hingga Rp 150.000 per bulan untuk kecepatan hingga 100 Mbps,” ujar Benny di forum Morning Tech bertajuk “Lelang Frekuensi, Untuk Siapa?” di Jakarta, Senin (24/2/2025).

    Hingga saat ini, terdapat tujuh perusahaan yang menunjukkan minat terhadap frekuensi tersebut. Namun, Benny menyebutkan bahwa jumlah peserta dapat bertambah saat proses lelang resmi dibuka.

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sigit Puspito Wigati Jarot, menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur digital yang berkualitas serta pengembangan talenta digital, terutama di kalangan generasi muda.

    “Saat ini, Indonesia tertinggal dalam pengembangan 5G, dengan kecepatan rata-rata baru mencapai 30 Mbps, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara di ASEAN,” ungkapnya.

    Ia menekankan bahwa regulasi yang adaptif dan kolaboratif sangat dibutuhkan untuk memastikan transformasi digital berjalan berkelanjutan dan kompetitif.

    Dalam dunia telekomunikasi, berbagai model kompetisi dapat diterapkan dalam pengelolaan frekuensi ini. Sigit menjelaskan bahwa terdapat beberapa opsi, mulai dari Infrastructure-Based Competition, Wholesale Access Model, hingga Public-Private Partnership.

    “Setiap model memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing. Untuk Indonesia, pendekatan hibrida yang melibatkan pemerintah daerah bisa menjadi solusi yang tepat,” kata Sigit.

    Selain itu, tarif layanan setelah lelang juga harus menjadi perhatian. Ia menyoroti bahwa harga untuk layanan seluler dan FWA (Fixed Wireless Access) sebaiknya dibedakan.

    “Kompetisi harga seluler bersifat nasional, sedangkan harga FWA bisa lebih variatif, bahkan hingga tingkat lokasi rumah. Oleh karena itu, sebaiknya ada perbedaan harga FWA antara wilayah perkotaan dan pedesaan agar lebih adil,” pungkasnya.

    Dengan berbagai peluang dan tantangan yang ada, keberhasilan lelang frekuensi 1,4 GHz sangat bergantung pada kebijakan yang diambil oleh Komdigi. Jika proses lelang dilakukan dengan transparan dan adil, maka langkah ini dapat menjadi dorongan besar bagi peningkatan akses dan kualitas internet di Indonesia.

    (agt/fyk)

  • Seleksi Pita 1,4 GHz untuk FWA 5G, Terobosan Atasi Ketertinggalan Digital RI?

    Seleksi Pita 1,4 GHz untuk FWA 5G, Terobosan Atasi Ketertinggalan Digital RI?

    Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai kebijakan pemerintah mengalokasikan pita frekuensi 1,4 GHz untuk teknologi Fixed Wireless Access (FWA) 5G merupakan langkah tepat untuk mengejar ketertinggalan Indonesia. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

    Menurut laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) penetrasi broadband tetap Indonesia sekitar 15-20%, tertinggal dari Vietnam (43%) dan Thailand (38%). Indonesia butuh terobosan untuk meningkatkan penetrasi internet tetap.

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel Sigit Puspito Wigati Jarot menyebut langkah ini bisa menjadi solusi hemat biaya untuk meningkatkan penetrasi broadband tetap yang masih di bawah 20% sekaligus memacu produktivitas generasi muda. Namun, dia mengingatkan pemerintah agar tak abai pada kualitas layanan, kesehatan industri, dan beban biaya regulasi yang masih menghambat operator. 

    “Pilihan teknologi Fixed Wireless Access (FWA) mungkin pilihan yang tepat dan timely. Karena penggelarannya jauh lebih hemat biaya dan lebih cepat, dibandingkan dengan menggelar fiber optik,” kata Sigit kepada Bisnis, Minggu (23/2/2025).

    Sigit menambahkan pilihan pita frekuensi 1.4 GHz yang merupakan salah satu pita 5G, diharapkan bisa menjadi terobosan atas kelambanan penggelaran 5G di Indonesia, yang makin hari makin tertinggal dari negara lain.

    Kelambanan ini jika tidak segera dicari solusi, bisa berdampak hilangnya kesempatan generasi muda yang lebih butuh digital dan broadband berkualitas untuk bisa lebih produktif dan berinovasi.

    Logo 5GPerbesar

    Dari sisi biaya pemenang seleksi, pilihan pemberian izin frekuensi yang bersifat regional bukan nasional, diharapkan dapat menjadi jalan mengurangi beban biaya regulasi frekuensi yang selama ini menjadi salah satu faktor penting tidak sehatnya industri telekomunikasi.

    Sigit mengatakan meski demikian, untuk memastikan agar langkah ini memberikan manfaat besar bagi Indonesia, pemerintah perlu menjamin komitmen layanan secara kualitas kecepatan broadband dan cakupan layanan, dengan mengkombinasikan antara daerah yang menguntungkan dengan daerah yang mungkin lebih menantang.

    “Jangan sampai yang terbangun hanya di tempat-tempat yang menguntungkan saja.  Kedua, perlu mempertimbangkan kelayakan dan kemampuan pemenang lelang untuk mewujudkan target tersebut. Jangan sampai tujuan penting dan strategis secara nasional untuk terhambat oleh misalnya kondisi sebuah perusahaan,” kata Sigit.

    Sigit juga mengusulkan agar pemenangnya secara nasional bisa lebih dari satu. Meskipun ada juga contoh negara yang penggelaran 5G hanya dengan satu entitas, namun perlu dukungan dan regulasi yang ketat.

    Terakhirnya, pemerintah perlu juga mengantisipasi dampak seleksi buat kesehatan industri telekomunikasi secara umum dan juga iklim persaingan usaha. Perlu dipastikan tidak makin memperburuk kesehatan industri dan juga melanggar aturan-aturan persaingan usaha, setelah lelang digelar.

  • Seleksi 1,4 GHz Tak Boleh Ditunda, Mastel Singgung Kualitas Internet RI Rendah

    Seleksi 1,4 GHz Tak Boleh Ditunda, Mastel Singgung Kualitas Internet RI Rendah

    Bisnis.com, JAKARTA — Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) mengungkapkan penyelenggaraan seleksi pita 1,4 GHz dapat meningkatkan kualitas internet Indonesia yang saat ini masih rendah. 

    Spektrum 1,4 GHz adalah bagian dari spektrum frekuensi radio yang digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk telekomunikasi dan penyiaran. Frekuensi ini berada dalam rentang Ultra High Frequency (UHF).

    Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional Mastel, Sigit Puspito Wigati Jarot menyampaikan langkah ini baik untuk memperbaiki kualitas infrastruktur broadband di Indonesia. 

    Sebab, seleksi spektrum 1.4 GHz ini direncanakan untuk fixed broadband dengan teknologi FWA (fixed wireless access) dan dari spektrumnya kemungkinan menggunakan 5G TDD yang diharapkan dapat mendorong peningkatan kualitas dan jangkauan layanan broadband.

    Apalagi, Sigit menuturkan berdasarkan data ITU Facts and Figures 2024 yang diterbitkan pada akhir tahun 2024, Indonesia masih tertinggal jauh dalam hal kualitas broadband, terutama dari segi trafik internet dan cakupan 5G. 

    Di tingkat global, rata-rata trafik internet untuk mobile broadband mencapai sekitar 14 GB per bulan, sementara untuk fixed broadband sudah mencapai 311 GB per bulan. 

    Sebaliknya, Indonesia tercatat hanya memiliki rata-rata trafik mobile broadband sekitar 7 GB per bulan, yang bahkan masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara berpendapatan rendah dan negara-negara di Afrika.

    “Maka Seleksi 1,4 GHz untuk Fixed Broadband melalui 5G FWA ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas infrastruktur broadband, dan tidak dapat ditunda lagi,” kata Sigit kepada Bisnis, Rabu (19/2/2025).

    Namun, Sigit menuturkan langkah ini juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap potensi dampak negatif bagi industri, yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami tantangan berat. 

    Komdigi sebagai regulator dan pembina industri, di bawah amanah Undang-Undang No. 36 Tahun 1999, diharapkan dapat mengambil langkah-langkah regulasi yang cermat.

    “Salah tahu yang masih menjadi masalah menahun yang tidak kunjung diubah adalah tingginya beban regulasi, khususnya biaya frekuensi,” ucapnya.

  • Beda Dari Tahun Lalu, Wahana Pasar Malam Diprediksi Jadi Magnet Pengunjung di Dugderan Semarang 2025

    Beda Dari Tahun Lalu, Wahana Pasar Malam Diprediksi Jadi Magnet Pengunjung di Dugderan Semarang 2025

    TRIBUNJATENG.COM – Mengintip persiapan Pasar Dugderan yang akan berlangsung dari 17-26 Februari 2025 di Jalan Agus Salim Semarang.

    Dugderan merupakan tradisi menyambut bulan Ramadan di Kota Semarang.

    Pada Minggu (16/2/2025), para pedagang tampak sibuk mempersiapkan barang-barang dagangan di lapaknya. 

    Mulai dari pedagang permainan tradisional, gerabah, sepatu, baju, hingga berbagai kuliner. 

    Tak hanya itu, wahana permainan Pasar Malam seperti bianglala, ombak banyu, dan kora-kora juga mulai disusun. 

    Salah satu pedagang Pasar Dugderan, Jarot (52), mengatakan, dirinya sudah mempersiapkan barang dagangan untuk dijualkan di Pasar Dugderan sejak satu bulan lalu.

    Dirinya mengaku datang dari Boja, Kendal untuk menjual berbagai permainan tradisional.

    Di antaranya, pecut, barongan, wayang, blangkon, dan masih banyak lagi.

    “Sudah sering jualan di Pasar Dugderan, mungkin sudah 5 tahun ada. Penjual yang ada di sini dari mana-mana, ada Gunungkidul, Jepara, Magelang, banyak. 

    Soalnya ini event tradisi Semarang menyambut Ramadan,” ucap Jarot kepada Kompas.com, Minggu (16/2/2025).

    Jarot menyebutkan, ada sedikit perbedaan antara Pasar Dugderan 2025 dengan tahun sebelumnya. 

    Yaitu diizinkannya kembali adanya wahana permainan Pasar Malam di Pasar Dugderan.

    “Tahun kemarin tidak ada izin dari Wali Kota dengan adanya wahana Pasar Malam, jadi ada penurunan. Tapi tahun ini ada lagi, karena daya tariknya di situ. Semoga semakin ramai,” tutur dia. 

    Lebih jelas Jarot mengatakan, di Pasar Dugderan ini terdapat sekira 100 lebih pedagang yang menjual berbagai macam barang dan kuliner.

    Sehingga dirinya berharap, Pasar Dugderan tahun ini bisa lebih ramai dan dan banyak pengunjung yang datang ke sini untuk menyambut bulan suci Ramadan.

    “Harapannya semoga laris, banyak pengunjung, dan ekonominya semakin membaik,” ucap Jarot.

    Hal senada juga disampaikan oleh pedagang kurma di Pasar Dugderan, Yuli (49). 

    Dirinya menyebutkan, masyarakat Kota Semarang tampak bersemangat menyambut Ramadhan.

    Hal tersebut bisa terlihat dari geliat pembeli yang mampir di lapaknya. 

    “Ini mau dugderan, jadinya banyak yang mampir beli buat persiapan bulan puasa,” ucap Yuli. Di lapaknya yang terletak di seberang Pasar Johar itu Yuli menjualkan berbagai jenis kurma. Seperti kurma Tunisia, Madinah, Mesir, Green Valley, dan masih banyak lagi. 

    Kendati demikian Yuli berharap, Pasar Dugderan tahun ini bisa lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

    “Pendapatannya kalau sekarang masjh belum stabil, nanti kalau sudah Ramadan bisa terlihat. Senang ada Dugderan, semoga tambah ramai,” pungkas Yuli.

    Setelah Pasar Dugderan, nantinya akan ada kirab Dugderan yang dilaksanakan pada Jumat (28/2/2025) yang dimulai dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Kauman Semarang. (*)