Tag: Igor Kirillov

  • Jenderal Berpengalaman Rusia Tewas Dihantam Bom Mobil di Moskow

    Jenderal Berpengalaman Rusia Tewas Dihantam Bom Mobil di Moskow

    GELORA.CO –  Seorang jenderal Rusia tewas setelah sebuah alat peledak meledak di bawah mobilnya dalam peristiwa yang digambarkan Moskow sebagai kemungkinan pembunuhan oleh dinas intelijen Ukraina.

    Letnan Jenderal Fanil Sarvarov, kepala direktorat pelatihan operasional staf umum angkatan bersenjata Rusia tewas karena luka-lukanya. Demikian juru bicara Komite Investigasi Rusia dalam sebuah pernyataan.

    “Para penyidik ​​sedang menyelidiki berbagai kemungkinan terkait pembunuhan tersebut. Salah satunya adalah bahwa kejahatan itu diatur oleh dinas intelijen Ukraina,” kata juru bicara tersebut.

    Saluran Telegram Rusia yang terkait dengan dinas keamanan melaporkan bahwa mobil Sarvarov meledak saat melaju di Jalan Yaseneva di Moskow sekitar pukul 7 pagi pada Senin. Menurut laporan, kendaraan tersebut telah menempuh jarak beberapa meter sebelum ledakan terjadi.

    Sarvarov, yang mengawasi pelatihan tempur dan kesiapan angkatan bersenjata Rusia dalam perang di Ukraina memiliki pengalaman luas dalam perang pasca-Soviet Kremlin.

    Ia ikut serta dalam kedua perang Chechnya dan kemudian berperan dalam mengorganisir intervensi militer Rusia tahun 2015–16 di Suriah.

    Kremlin diperkirakan akan memberikan komentar lebih lanjut mengenai serangan tersebut, tetapi beberapa pejabat Rusia telah menyerukan pembalasan.

    “Kita perlu mengidentifikasi dan melenyapkan seluruh rantai pelaku operasi tersebut. Saya rasa mereka sama sekali tidak perlu ditawan – mereka seharusnya langsung dimusnahkan di tempat, seperti yang dilakukan terhadap teroris,” kata Andrey Kolesnik, anggota komite pertahanan Duma, seperti dikutip oleh situs berita Lenta.ru.

    Ukraina belum mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Badan intelijen Ukraina telah menargetkan puluhan perwira militer Rusia dan pejabat yang ditunjuk Rusia sejak awal perang, menuduh mereka terlibat dalam kejahatan perang.

    Sedikit yang diketahui tentang sel-sel perlawanan Ukraina yang diyakini berada di balik pembunuhan dan serangan terhadap infrastruktur militer di dalam Rusia dan di wilayah yang dikuasai Rusia.

    Desember lalu, Kyiv mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Letnan Jenderal Igor Kirillov, kepala pasukan perlindungan nuklir, biologi, dan kimia militer.

    Jenderal itu tewas akibat bom yang disembunyikan di dalam skuter listrik di luar gedung apartemennya, sehari setelah Ukraina mengajukan tuntutan pidana terhadapnya. Asistennya, Ilya Polikarpov, juga tewas dalam serangan itu.

    Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada September tampaknya memberi sinyal bahwa serangan lebih lanjut terhadap tokoh-tokoh militer senior Rusia dapat terjadi.

    Penargetan terus-menerus terhadap tokoh-tokoh militer senior Rusia oleh Ukraina telah menggarisbawahi kegagalan dalam dinas keamanan Rusia.

    Vladimir Putin tahun lalu menggambarkan pembunuhan Kirillov sebagai “kesalahan besar” oleh badan-badan keamanan negara itu, dan mengatakan mereka harus belajar darinya dan meningkatkan efektivitas pencegahan.

    Tidak jelas apakah pembunuhan Sarvarov yang menjadi sorotan akan berdampak pada perundingan perdamaian. Saat ini pejabat Ukraina dan AS sedang mengadakan diskusi di Florida yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang hampir empat tahun antara Rusia dan Ukraina.

    Rusia mengadakan pembicaraan terpisah dengan AS di Florida, yang diperkirakan akan berlanjut pada Senin.

    Keith Kellogg, perwakilan khusus yang ditunjuk Donald Trump untuk Ukraina dan Rusia, mengkritik pembunuhan jenderal-jenderal Rusia oleh Ukraina tahun lalu, dengan mengatakan tindakan tersebut dapat melanggar aturan perang.

  • Moskow Diguncang Ledakan Bom, Jenderal Senior Rusia Tewas

    Moskow Diguncang Ledakan Bom, Jenderal Senior Rusia Tewas

    Moskow

    Sebuah ledakan mengguncang wilayah Moskow bagian selatan di Rusia pada Senin (22/12) waktu setempat. Seorang jenderal senior Rusia tewas akibat ledakan tersebut, yang diduga berasal dari sebuah alat peledak atau bom yang dipasang di bawah mobilnya.

    Komite Investigasi Rusia, seperti dilansir AFP, Senin (22/12/2025), mengatakan ledakan bom tersebut menewaskan seorang jenderal senior Rusia yang bernama Letnan Jenderal Fanil Sarvarov. Dia menjabat sebagai kepala departemen pelatihan pada Kantor Staf Umum Rusia.

    Dituturkan Komite Investigasi Rusia, yang menyelidiki kejahatan-kejahatan besar, bahwa pihaknya telah meluncurkan penyelidikan terhadap ledakan mematikan tersebut. Penyelidikan difokuskan pada dugaan “pembunuhan” terhadap Sarvarov.

    Dalam pernyataannya, Komite Investigasi Rusia juga menyebut bahwa kemungkinan soal ledakan bom itu “berkaitan” dengan “pasukan khusus Ukraina” juga ikut diselidiki.

    Sejak Moskow mengirimkan pasukan dalam invasi skala besar ke Ukraina pada Februari 2022, Kyiv telah dituduh mendalangi beberapa serangan mematikan yang menargetkan para pejabat militer Rusia dan tokoh-tokoh pro-Kremlin di wilayah Rusia dan di wilayah Ukraina yang dikuasai pasukan Moskow.

    Salah satunya pada April lalu, ketika Jenderal Yaroslav Moskalik, yang menjabat sebagai Wakil Staf Umum Rusia, tewas akibat ledakan mobil di dekat Moskow.

    Pada Desember 2024, kepala pasukan pertahanan radiologi, kimia, dan biologi Rusia, Igor Kirillov, tewas ketika sebuah skuter listrik yang dipasangi bom meledak di Moskow. Dinas keamanan Ukraina, SBU, mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut.

    Dalam serangan lainnya, seorang blogger militer Rusia, Maxim Gomin, tewas ketika sebuah patung kecil yang dipegangnya tiba-tiba meledak di sebuah kafe di area Saint Petersburg pada April 2023.

    Kemudian pada Agustus 2022, sebuah bom mobil menewaskan Daria Dugina, anak perempuan dari seorang ideolog ultranasionalis Rusia, Alexander Dugin.

    Tonton juga video “Putin Siap Bahas Perdamaian Jika Zelensky Bersedia ke Moskow”

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Jenderal Angkatan Laut Rusia Tewas dalam Pertempuran di Perbatasan Kursk

    Jenderal Angkatan Laut Rusia Tewas dalam Pertempuran di Perbatasan Kursk

    JAKARTA – Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Laut Rusia Mayor Jenderal Mikhail Gudkov tewas di wilayah Kursk, lapor Gubernur Wilayah Primorye Oleg Kozhemyako melaporkan melalui Telegram.

    Sahabat setia Mayjen Gudkov, Nariman Shikhaliyev, juga tewas, Kozhemyako menambahkan.

    “Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga, sahabat dan sesama prajurit Mikhail Gudkov, Nariman Shikhaliyev, dan semua pejuang lainnya yang tewas di Wilayah Kursk,” tulis gubernur wilayah di Timur Jauh Rusia itu dalam unggahan di Telegram, melansir TASS 3 Juli.

    Menurutnya, Mayjen Gudkov adalah pejuang berkemauan keras yang tidak pernah berhenti mengunjungi posisi pasukan angkatan laut, bahkan setelah ia memangku jabatan wakil panglima tertinggi Angkatan Laut Rusia.

    Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi pada Hari Kamis, Mayor Jenderal Gudkov tewas saat menjalankan misi tempur di wilayah perbatasan Wilayah Kursk pada tanggal 2 Juli.

    Mayjen Gudkov (42) berpartisipasi dalam operasi militer khusus sebagai Komandan Brigade Infanteri Angkatan Laut Terpisah ke-155 sejak tanggal 24 Februari 2022.

    Pada Bulan Maret 2025, ia diangkat menjadi Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Laut Rusia. Presiden Vladimir Putin mengumumkan pengangkatan Mayjen Gudkov dalam pertemuan dengan para pelaut kapal selam bertenaga nuklir Arkhangelsk.

    Kepala negara kemudian menugaskan Mayjen Gudkov untuk memimpin seluruh infanteri angkatan laut dan semua pasukan rudal serta artileri pantai Angkatan Laut.

    Mayjen Gudkov dianugerahi penghargaan militer tertinggi di Kremlin oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada Bulan Februari lalu, dikutip dari Reuters.

    Saluran Telegram militer Rusia dan Ukraina yang tidak resmi sebelumnya melaporkan, Mayjen Gudkov tewas bersama dengan prajurit dan perwira lainnya, dalam serangan rudal Ukraina ke pos komando di wilayah Kursk Rusia, yang berbatasan dengan Ukraina, dengan rudal HIMARS buatan AS.

    Tewasnya Mayjen Gudkov memperpanjang dafatr jenderal senior Rusia yang tewas sejak perang di Ukraina pecah tahun 2022 lalu.

    Sebelumnya, Mayjen Andrei Sukhovetsky menjadi jenderal senior pertama Rusia yang tewas di medan perang. Ia ditembak sniper di wilayah Kyiv pada 28 Februari 2022.

    Berikutnya ada Mayjen Vladimir Frolov yang dilaporkan juga tewas ditembak sniper pada Bulan April. Setelah ada Mayjen Kanamat Botashev, Letjen Roman Kutuzov, Mayjen Sergei Goryachev, Letjen Oleg Tsokov, Kayjen Vladimir Zavadsky, Mayjen Pavel Klimenko, Letjen Igor Kirillov, serta Letjen Yaroslav Moskalik.

  • Jenderal Rusia Tewas Dibom, Zelensky Puji Intelijen Ukraina

    Jenderal Rusia Tewas Dibom, Zelensky Puji Intelijen Ukraina

    Kyiv

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melontarkan pujian terhadap dinas intelijen asing Ukraina atas pembunuhan sejumlah pejabat militer Rusia sejak perang dimulai tahun 2022 lalu. Komentar Zelensky ini disampaikan setelah kematian seorang jenderal senior Rusia akibat ledakan bom mobil di pinggiran Moskow, ibu kota Rusia.

    Namun dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Selasa (29/4/2025), Zelensky tidak secara langsung menyebut soal ledakan bom mobil yang menewaskan sang jenderal Rusia tersebut.

    Kremlin menyalahkan Ukraina atas ledakan bom mobil pada Jumat (25/4) pekan lalu di pinggiran Moskow yang menewaskan Jenderal Yaroslav Moskalik (59), yang menjabat sebagai wakil kepala Direktorat Operasional Utama pada Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia.

    Sejak ledakan itu terjadi, otoritas Kyiv belum memberikan komentar langsung. Namun ledakan itu menjadi serangan terbaru terhadap deretan pejabat militer Rusia dan tokoh pro-perang yang terbunuh sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

    Pernyataan terbaru Zelensky yang disampaikan via aplikasi pesan Telegram pada Senin (28/4) itu, tidak menyebut secara langsung pada kejadian spesifik soal terbunuhnya para pejabat militer Rusia.

    “Kepala intelijen luar negeri Ukraina melaporkan pemusnahan sejumlah orang dari komando tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia. Keadilan pasti ditegakkan,” ucap Zelensky dalam pernyataannya, merujuk pada kepala dinas intelijen asing Ukraina, Oleg Ivashchenko.

    “Pimpinan telah melaporkan langkah-langkah lanjutan untuk melawan jaringan agen Rusia di Ukraina dan para pelaku sabotase. Hasilnya bagus. Terima kasih atas kerja keras Anda,” ujar Zelensky memberikan pujian.

    ‘Lihat juga Video: Detik-detik Ledakan Bom yang Menewaskan Jenderal Rusia di Moskow’

    Dinas intelijen Ukraina, SBU, sebelumnya mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Letnan Jenderal Igor Kirillov, yang merupakan jenderal top Rusia yang dituduh oleh Kyiv sebagai sosok yang bertanggung jawab atas penggunaan senjata kimia terhadap pasukan Ukraina. Kirillov tewas di Moskow pada Desember lalu.

    Pengadilan Moskow, pada akhir pekan lalu, memerintahkan penahanan terhadap seorang warga negara Ukraina yang dijerat dakwaan terorisme terkait ledakan bom yang menewaskan Moskalik.

    Orbituari Moskalik yang diterbitkan oleh surat kabar resmi Kementerian Pertahanan Rusia, Krasnaya Zvezda, pada Selasa (29/4), dan ditandatangani oleh Menteri Pertahanan Andre Belousov, para deputinya dan sejumlah komandan top militer Rusia, menggambarkan Moskalik sebagai “putra loyal” Rusia.

    Disebutkan bahwa sejak dimulainya perang, Moskalik mengawasi pekerjaan kelompok kontrol tempur Staf Umum militer Rusia. Orbituari tersebut tidak memberikan rincian tentang tugas dari jabatan tersebut.

    Menurut orbituari itu, dari tahun 2015 hingga tahun 2021, Moskalik terlibat dalam delegasi internasional Kementerian Pertahanan Rusia yang mengurusi berbagai isu berkaitan dengan wilayah Ukraina bagian tenggara. Disebutkan bahwa dia “bertanggung jawab untuk menyiapkan materi bagi Presiden Rusia mengenai situasi di Ukraina bagian tenggara”.

    ‘Lihat juga Video: Detik-detik Ledakan Bom yang Menewaskan Jenderal Rusia di Moskow’

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • FSB Rusia Tahan Tersangka Pengebom Jenderal Moskow: Agen Khusus Ukraina Pakai Bom Rakitan Jarak Jauh – Halaman all

    FSB Rusia Tahan Tersangka Pengebom Jenderal Moskow: Agen Khusus Ukraina Pakai Bom Rakitan Jarak Jauh – Halaman all

    FSB Rusia Tahan Tersangka Pembunuh Jenderal Moskow: Agen Khusus Ukraina Pakai Bom Jarak Jauh

    TRIBUNNEWS.COM – Pihak berwenang Rusia dilaporkan menahan seorang pria yang diduga membunuh seorang jenderal Rusia dalam ledakan mobil di luar Moskow atas perintah Ukraina, kata dinas rahasia keamanan federal Rusia (FSB) pada Sabtu (26/4/2025).

    Moskow sebelumnya menuduh Kiev berada di balik ledakan pada Jumat (25/4) yang menewaskan jenderal senior Rusia Yaroslav Moskalik, wakil kepala Direktorat Operasional Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia.

    Pihak FSB mengatakan, terduga pelaku merupakan seorang agen khusus Ukraina yang beroperasi di wilayah Moskow.

    “Agen layanan khusus Ukraina Ignat Kuzin, lahir tahun 1983, warga Ukraina, yang menanam bahan peledak di sebuah Volkswagen Golf di kota Balashikha di wilayah Moskow, menewaskan Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik, telah ditahan,” kata FSB dalam sebuah pernyataan.

    Menurut FSB, Kuzin telah memasang alat peledak rakitan pada mobil tersebut, yang diambilnya dari tempat penyimpanan rahasia Ukraina di wilayah Moskow, dan bom tersebut kemudian diledakkan dari jarak jauh dari Ukraina.

    Sebuah video yang dirilis oleh FSB menunjukkan Kuzin tampaknya mengaku, begitu pula penangkapannya di jalan hutan dan komponen bom.

    Tersangka, yang dapat menghadapi hukuman seumur hidup atas tuduhan terorisme, muncul sendirian dalam video tersebut tetapi tidak jelas apakah ia berbicara di bawah tekanan.

    Keiv belum mengomentari ledakan itu, yang memiliki ciri-ciri serangan sebelumnya terhadap tokoh militer dan pendukung penting ofensif Kremlin selama 3 tahun terakhir.

    JENDERAL RUSIA DIBOM – Kolase foto lokasi pengeboman mobil Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik, wakil kepala Direktorat Operasional Utama Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia. Dinas keamanan federal Rusia (FSB) menyatakan sudah menangkap pelaku yang diidentifikasi sebagai agen khusus Ukraina.

    Bom Rakitan Berisi Pecahan Peluru

    Seperti diberitakan, sorang jenderal senior di Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia tewas dalam ledakan mobil di timur Moskow pada Jumat, penyelidik polisi mengonfirmasi.

    “Menurut informasi awal, ledakan itu menewaskan Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik,” kata juru bicara Komite Investigasi Rusia, yang menyelidiki kejahatan besar, dalam sebuah pernyataan.

    “Laporan awal menunjukkan ledakan itu disebabkan oleh alat peledak rakitan yang berisi pecahan peluru,” kata badan penegak hukum tersebut, seraya menambahkan bahwa detektif dan ahli forensik sedang memeriksa lokasi ledakan di pinggiran kota Moskow, Balashikha.

    Polisi meluncurkan penyelidikan pembunuhan, serta penyelidikan terhadap  perdagangan ilegal bahan peledak. Pihak berwenang tidak mengatakan apakah mereka telah mengidentifikasi tersangka.

    Media pemerintah awalnya melaporkan kalau sebuah mobil yang diparkir meledak karena kebocoran gas.

    Rekaman kamera keamanan yang dibagikan oleh media pro-Kremlin menunjukkan ledakan dahsyat di dekat blok apartemen saat seorang pejalan kaki berjalan melewati kendaraan tersebut.
     
    Moskalik, 59 tahun, menjabat sebagai wakil kepala Direktorat Operasional Utama Staf Umum Rusia.

    Direktorat ini bertanggung jawab untuk merencanakan operasi militer dan mengawasi kesiapan tempur.

    Saluran berita Telegram pro-Kremlin, Mash, melaporkan kalau mobilnya telah dijual kembali sedikitnya tiga kali sejak akhir Januari, dengan pembeli terakhir diidentifikasi sebagai penduduk asli kota Sumy di timur laut Ukraina berusia 40 tahun.

    Sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022, banyak pejabat militer Rusia, tokoh pro-perang, pembelot Ukraina, dan pemimpin yang diangkat Kremlin di Ukraina yang diduduki telah menjadi sasaran rencana pembunuhan.

    Pada bulan Desember, Letnan Jenderal Igor Kirillov dan asistennya  tewas saat berjalan keluar dari gedung apartemen Moskow pada pagi hari setelah alat peledak yang dipasang pada skuter di dekatnya meledak. 

    Saat itu, Kirillov adalah pejabat militer Rusia berpangkat tertinggi yang dibunuh sejak invasi besar-besaran.

     

     

    (oln/tmt/*)

  • Teror Bom Guncang Rusia, Tewaskan Jenderal Senior Moskow Jelang Lawatan Trump Ke Kremlin – Halaman all

    Teror Bom Guncang Rusia, Tewaskan Jenderal Senior Moskow Jelang Lawatan Trump Ke Kremlin – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Seorang pejabat militer senior Rusia dilaporkan tewas usai Moskow diguncang teror bom, Jumat (25/4/2025).

    Menurut pernyataan resmi pihak berwenang Rusia, jenderal senior yang tewas tersebut adalah Jenderal Yaroslav Moskalik yang saat ini menjabat sebagai wakil kepala Direktorat Operasi Utama pada Staf Umum Angkatan Bersenjata Rusia.

    Dikutip dari The Guardian, Yaroslav Moskalik tewas setelah menjadi korban ledakan bom misterius, menjelang Vladimir Putin memulai pertemuan penting di Kremlin dengan utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff.

    Komite Investigasi Rusia mengatakan bom misterius itu merupakan alat peledak rakitan isi pecahan logam yang dipasang di bawah mobil Volkswagen Golf milik Moskalik. 

    Tak dirinci jenis bubuk logam apa yang dimasukan dalam bom rakitan itu, namun para penyelidik memperkirakan hasil ledakan itu setara dengan 300 gram TNT.

    Imbas ledakan dahsyat itu, jenderal Yaroslav Moskalik bahkan sampai terlempar “beberapa meter”.

    Sementara kendaraan yang diparkir di samping mobil-mobil lain di dalam kawasan permukiman di sebelah blok apartemen bertingkat tinggi, terbakar habis setelah ledakan.

    Kematian Jenderal Yaroslav Moskalik menambah daftar panjang pejabat militer Rusia yang menjadi sasaran serangan dalam beberapa tahun terakhir. 

    Sejauh ini otoritas Rusia belum mengungkapkan siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. 

    Sementara, beberapa sumber menyebutkan serangan ini merupakan ulah kelompok oposisi dalam negeri atau elemen militan yang tidak puas dengan kebijakan militer Rusia di Ukraina dan Suriah.

    Bukan Kali Pertama

    Pasca-insiden ini terjadi, pihak berwenang Rusia berjanji akan melakukan penyelidikan menyeluruh dan membawa pelaku ke pengadilan, mengingat kejadian seperti bukan kali pertama yang dialami Moskow.

    Desember lalu, sebuah serangan bom turut menewaskan Letnan Jenderal Igor Kirillov, yang menjabat sebagai komandan Pasukan Pertahanan Radiologi, Kimia, dan Biologi Rusia (RChBZ). 

    Ia dibunuh bersama seorang ajudannya saat mereka keluar dari sebuah gedung di Moskow.

    Para penyelidik Rusia menuding serangan tersebut dilakukan oleh dinas khusus Ukraina dengan melibatkan alat peledak yang disembunyikan di dalam skuter listrik, yang ditempatkan di sebelah pintu masuk dan dipantau melalui kamera yang dipasang di mobil yang diparkir.

    Teror Bom Terjadi saat Lawatan Trump ke Kremlin

    Sebagai informasi, kematian Letnan Jenderal Yaroslav Moskalik dalam ledakan bom mobil di Balashikha menjadi sangat mencolok karena bertepatan dengan kunjungan Steve Witkoff, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, ke Moskow. 

    Kunjungan ini bertujuan membahas inisiatif perdamaian yang diprakarsai Amerika Serikat untuk menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

    Sejumlah pihak khawatir bahwa pembunuhan ini bisa dianggap sebagai bentuk sabotase terhadap proses diplomasi damai yang sedang dijajaki.

    Atau bahkan sebagai pesan politik dari pihak-pihak yang menolak perdamaian.

    Imbas teror ini menciptakan iklim ketidakpercayaan, yang berpotensi membuat proses negosiasi menjadi lebih sulit, terutama jika Rusia menganggap itu bukan kebetulan semata.

    (Tribunnews.com / Namira)

  • Jenderal Rusia Tewas Dibom Ukraina, Putin Akui Kegagalan Keamanan

    Jenderal Rusia Tewas Dibom Ukraina, Putin Akui Kegagalan Keamanan

    Moskow

    Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui kegagalan badan keamanan negaranya terkait pembunuhan seorang jenderal senior dalam ledakan bom yang mengguncang Moskow pekan ini. Ini menjadi pengakuan langka yang disampaikan Putin menyusul serangan mematikan yang diklaim oleh Ukraina.

    Letnan Jenderal Igor Kirillov, yang menjabat sebagai Kepala Pasukan Perlindungan Nuklir, Biologi dan Kimia Rusia, dikonfirmasi tewas dalam ledakan bom yang dipasang pada sebuah skuter di luar sebuah gedung apartemen di area Ryazansky Prospekt, Moskow, pada Selasa (17/12) aktu setempat.

    Kirillov tewas bersama asistennya yang bernama Ilya Polikarpov. Kematian dua personel militer Rusia itu menjadi pembunuhan paling berani yang diklaim oleh Kyiv sejak awal konflik.

    Dalam konferensi pers akhir tahun, seperti dilansir AFP, Jumat (20/12/2024), Putin untuk pertama kalinya memberikan komentarnya atas kematian Kirillov. Dia bahkan mengakui adanya kegagalan dari sektor keamanan Rusia yang memungkinkan terjadinya serangan mematikan tersebut.

    “Dinas khusus kita melewatkan serangan ini. Mereka melewatkan serangan ini. Artinya kita perlu meningkatkan kinerja. Kita tidak boleh membiarkan kesalahan serius seperti ini terjadi,” tegas Putin dalam pernyataannya.

    Putin menyebut serangan yang menewaskan Kirillov dan asistennya itu sebagai serangan “terorisme”.

    Komentar Putin ini disampaikan lebih dari 48 jam setelah ledakan mengguncang area Ryazansky Prospekt di Moskow. Kirillov dan asistennya tewas saat berjalan keluar dari gedung apartemen di area tersebut pada dini hari, setelah bom yang dipasang pada sebuah skuter yang diparkir di lokasi itu tiba-tiba meledak.

    Lihat juga Video ‘Detik-detik Ledakan Bom yang Menewaskan Jenderal Rusia di Moskow’:

  • Media Rusia Tiba-Tiba Sorot RI soal Pembunuhan Jenderal Nuklir Putin

    Media Rusia Tiba-Tiba Sorot RI soal Pembunuhan Jenderal Nuklir Putin

    Jakarta, CNBC Indonesia – Media Rusia, RT, tiba-tiba menyoroti Indonesia terkait pembunuhan jenderal nuklir pemerintahan Presiden Vladimir Putin, Igor Kirillov. Letnan Jenderal yang menjabat sebagai Kepala Pasukan Pertahanan Radiologi, Kimia, dan Biologi itu sebelumnya tewas terbunuh bersama ajudannya dalam sebuah ledakan di ibu kota Moskow, Selasa lalu.

    Ini terkait tuduhan Kirillov ke Amerika Serikat (AS), di mana Washington diklaim melakukan penelitian biologi rahasia dengan kedok bantuan kemanusiaan dan kerja sama militer ke sejumlah negara. Dinas Keamanan Ukraina (SBU) dilaporkan telah mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Kirillov.

    “Pembunuhan Letnan Jenderal Rusia Igor Kirillov, kepala Pasukan Pertahanan Radiologi, Kimia, dan Biologi negara tersebut, telah menarik perhatian baru terhadap penyelidikannya terhadap program penelitian biologi rahasia AS, termasuk dugaan kegiatan di Indonesia,” ujar laman itu mengutip media lokal RI, dikutip Jumat (20/12/2024).

    “Selama masa jabatannya, Kirillov berulang kali menyoroti dugaan laboratorium biologi AS yang beroperasi secara global, dengan fokus pada Ukraina, tetapi juga menunjuk ke fasilitas di Asia Tenggara, termasuk laboratorium NAMRU-2 milik Angkatan Laut AS yang kini telah ditutup di Jakarta,” tambahnya.

    “Dalam laporannya pada tahun 2022, ia mengklaim laboratorium tersebut melakukan penelitian biologi tanpa izin hingga ditutup pada tahun 2010 setelah Kementerian Kesehatan Indonesia menetapkannya sebagai ‘ancaman terhadap kedaulatan nasional’,” muat laman itu lagi.

    Disebut bagaimana pengungkapan Kirillov telah membuat permintaan peninjauan kembali NAMRU-2 muncul. Media itu menyebut “media terkemuka, menerbitkan laporan investigasi yang menunjukkan bahwa personel militer AS terus melakukan penelitian biologi rahasia bahkan setelah laboratorium tersebut ditutup”.

    Dikatakan pula bagaimana laporan 2016 ada aktivitas di atas kapal rumah sakit USNS Mercy di Indonesia, yang melakukan operasi ke 23 pasien tanpa izin. Disebut bahwa personel militer AS juga dituduh mengekspor sampel darah secara ilegal dan mengangkut anjing gila dari Padang, Sumatera Barat, ke wilayah endemis rabies tanpa izin.

    Laman itu pun menyebut bagaimana pejabat kesehatan setempat melaporkan bahwa tim Amerika telah mencari sampel virus demam berdarah dari nyamuk lokal. Ini pun, muatnya, diduga melanggar peraturan Indonesia.

    “Mantan Menteri Kesehatan Indonesia Siti Fadilah Supari, yang memimpin upaya penutupan NAMRU-2, sebelumnya menggambarkan operasi laboratorium selama puluhan tahun itu sebagai “tidak efektif” dan berpotensi berbahaya,” ujar RT lagi.

    “Dalam wawancara tahun 2022 dengan Kepala Biro RT Indonesia Denis Bolotsky, ia mencatat bahwa meskipun dinyatakan fokus pada penelitian malaria dan tuberkulosis, kontribusi NAMRU-2 tidak signifikan,” tulis RT.

    “Perlawanan Supari dilaporkan menyebabkan ketegangan dengan Washington. Kabel diplomatik AS yang bocor yang dipublikasikan oleh WikiLeaks pada tahun 2010 mengungkapkan beberapa pertemuan tingkat tinggi di mana pejabat AS membahas strategi untuk “mengelola” Supari dan menekannya agar mengizinkan laboratorium untuk melanjutkan operasi,” tutup lama itu.

    (sef/sef)

  • Profil Akhmad Kurbanov Pemb*nuh Bayaran yang Tewaskan Jenderal Senjata Kimia Rusia

    Profil Akhmad Kurbanov Pemb*nuh Bayaran yang Tewaskan Jenderal Senjata Kimia Rusia

    GELORA.CO – Kepala Pasukan Perlindungan Radiasi, Kimia, dan Biologi Rusia, Letnan Jenderal Igor Kirillov tewas pada Selasa (17/12/2024) akibat ledakan bom yang disembunyikan dalam skuter listrik dekat pintu masuk gedung apartemennya di Moskow bagian tenggara. Asisten Kirillov, Ilya Polikarpov, juga turut tewas dalam serangan tersebut.

    Menurut Layanan Keamanan Federal Rusia (FSB), bom tersebut diledakan dari jarak jauh. Ledakan tersebut terekam dalam video dari kamera yang terpasang di dalam mobil, memperlihatkan orang-orang berjalan keluar dari gedung dan kobaran api akibat ledakan.

    Melansir The Associated Press, seorang pejabat dari badan intelijen Ukraina (SBU) mengungkapkan bahwa mereka merupakan dalang di balik serangan tersebut. Secara anonim pejabat tersebut menyebut Kirillov sebagai penjahat perang yang sepenuhnya sah untuk dijadikan sasaran.

    Pada Rabu (18/12/2024), FSB mengatakan bahwa mereka telah menangkap seorang tersangka yang disebut sebagai warga negara Uzbekistan yang lahir pada tahun 1995. Menurut Kantor berita Tass dan RIA-Novosti, tersangka diidentifikasi bernama Akhmad Kurbanov.

    Menurut FSB, tersangka mengaku direkrut oleh layanan khusus Ukraina. Namun, belum ada kepastian di mana tersangka membuat pernyataan tersebut kepada pihak keamanan.

    Akhmadzhon Kurbonov 

    FSB juga menyatakan bahwa tersangka dijanjikan USD100.000 (sekira Rp1,6 miliar) dan pemukiman di negara Uni Eropa sebagai imbalan untuk membunuh Kirillov. Berdasarkan instruksi dari Ukraina, tersangka pergi ke Moskow, mendapatkan bom rakitan, menempatkannya di skuter listrik, dan memarkirkannya di pintu masuk gedung apartemen Kirillov.

    FSB juga menambahkan bahwa tersangka menyewa mobil untuk memantau lokasi dan memasang kamera yang menyiarkan langsung kejadian tersebut kepada petugasnya di kota Dnipro, Ukraina, dan meledakkan bom ketika Kirillov keluar dari gedung. Tersangka akan mendapatkan hukuman penjara seumur hidup. Laporan media Rusia mengatakan bahwa FSB melacak tersangka dengan mempelajari video dari kamera pengawas dan panggilan telepon seluler.

    Bagaimana tersangka direkrut belum dijelaskan oleh FSB. Namun, pejabat Kementerian Dalam Negari Rusia, Irina Volk, mengatakan kepada Tass bahwa tersangka akhirnya ditangkap di sebuah desa di wilayah Moskow.

    Lokasi penahanan dan jadwal persidangannya belum dapat diketahui secara pasti. Diperkirakan akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, untuk mendengarkan syarat-syarat penahanan pra-persidangan. Berdasarkan hukum Rusia, seseorang hanya dapat ditahan selama 48 jam sebelum keputusan pengadilan dibuat.

  • Heboh Jenderal Rusia Bos Senjata Kimia Terbunuh di Moskow

    Heboh Jenderal Rusia Bos Senjata Kimia Terbunuh di Moskow

    Jakarta

    Senjata kimia diduga marak digunakan dalam perang antara Rusia dengan Ukraina. Terbunuhnya Igor Kirillov, salah satu jenderal paling terkenal di Rusia, dalam sebuah ledakan di Moskow, membuat senjata kimia makin disorot.

    Sebagai kepala pasukan Radiation, Chemical and Biological Protection, dia dituding negara barat bertanggungjawab dalam penggunaan senjata kimia dalam perang di Ukraina.

    Otoritas Rusia menahan tersangka terkait pembunuhan yang disebut warga Uzbekistan. Tersangka ini disebut direkrut oleh pasukan Ukraina untuk membunuh sang jenderal.

    “Seorang warga negara Uzbekistan, kelahiran 1995, ditangkap atas dugaan melakukan serangan yang menewaskan komandan pasukan pertahanan radiologi, kimia, dan biologi Rusia, Igor Kirillov, dan asisten Ilya Polikarpov,” kata Komite Investigasi Rusia yang dikutip detikINET dari BBC, Kamis (19/12/2024).

    Komite Investigasi Rusia menyebut warga negara Uzbekistan, yang tidak disebut namanya itu, direkrut pasukan khusus Ukraina. Sumber di militer Ukraina membenarkan mereka adalah dalangnya dan menilai Kirillov adalah target sah terkait kejahatan perang.

    Kirillov dan ajudannya tewas akibat bahan peledak yang ditanam di skuter listrik, yang meledak saat ia meninggalkan bangunan tempat tinggalnya di tenggara Moskow. Kantor Luar Negeri Inggris melabelinya sebagai corong disinformasi Kremlin, karena kerap mengumbar informasi yang tidak didukung fakta.

    Tugas Radiation, Chemical and Biological Protection yang dia pimpin adalah mengidentifikasi bahaya dan melindungi unit dari kontaminasi kimia tapi juga menyerang musuh. Salah satu senjatanya kemungkinan adalah sebuah sistem yang dapat menghancurkan target menggunakan hulu ledak termobarik yang sangat berbahaya bagi manusia.

    Kantor Luar Negeri Inggris menuding pasukan Kirillov mengerahkan senjata kimia biadab di Ukraina, di mana banyak laporan tentang penggunaan agen pencekik beracun chloropicrin. Sebelum pembunuhannya, Ukraina menyatakan ia terlibat pidana penggunaan massal senjata kimia terlarang Ukraina.

    Disebut bahwa ada lebih dari 4.800 kasus Rusia menggunakan amunisi kimia di wilayah Ukraina sejak invasi di Februari 2022. Dikatakan zat beracun telah digunakan dalam serangan drone serta granat tempur Rusia.

    Kirillov tenar sejak awal perang karena melontarkan serangkaian klaim yang ditujukan kepada Ukraina dan negara Barat. Di antaranya adalah bahwa AS telah membangun laboratorium senjata biologis di Ukraina. Hal itu digunakan untuk membenarkan invasi skala penuh terhadap Ukraina.

    (fyk/fay)