JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto terlihat mendatangi Gereja Katedral Jakarta, Jumat, 4 April untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Mgr. Petrus Turang, Uskup Emiritus Keuskupan Agung Kupang yang jehazahnya disemayamkan di Gereja Katedral Jakarta. Presiden Prabowo mengenal sosok Mgr. Petrus Turang sebagai sosok yang selalu mencurahkan hidupnya bekerja untuk rakyat kecil. Kedatangan Presiden Prabowo Subianto disambut Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.
Tag: Ignatius Kardinal Suharyo
-

Mgr. Petrus Turang Wafat, Presiden Prabowo Melayat ke Katedral Jakarta
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto melayat ke Katedral Jakarta, Jumat, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Mgr. Petrus Turang, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang.
Presiden Prabowo tiba di Katedral Jakarta sekitar pukul 15.38 WIB dan langsung masuk ke ruangan tempat Mgr. Petrus Turang disemayamkan, untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Mgr. Petrus Turang.
Di Katedral, kedatangan Presiden Prabowo disambut oleh Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo dan jajaran petinggi Katedral.
Usai melayat, Presiden kemudian menemui sejumlah wartawan yang menunggu di pelataran luar Katedral.
“Saya datang melayat karena memang Mgr. Turang saya kenal baik. (Kami) sering ketemu, dan juga ada hubungan keluarga,” kata Presiden Prabowo dilansir ANTARA, Jumat, 4 April.
Presiden juga menyampaikan langsung belasungkawa kepada keluarga mendiang Mgr. Petrus Turang.
“Jadi, saya kira sebagai manusia kita memberikan penghormatan kita. Saya ucapkan belasungkawa ke keluarga semua. Saya kira itu,” kata Presiden Prabowo.
Usai melayani pertanyaan jurnalis, Presiden kemudian berjalan menuju kendaraannya, dan berpamitan kepada Uskup Agung Jakarta sebelum masuk ke dalam mobil kepresidenan dan meninggalkan Katedral.
Di Katedral, Presiden didampingi oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan sekretaris pribadi Presiden. Di lokasi yang sama, ada juga Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri.
Keuskupan Agung Kupang mengumumkan Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang Mgr. Petrus Turang meninggal dunia di Jakarta, Jumat pagi pukul 06.02 WIB, setelah dirawat secara intensif di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan.
“Dengan penuh iman dan pengharapan akan kebangkitan kami mengumumkan bahwa telah berpulang ke rumah Bapak di Surga Mgr Petrus Turang Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang pada hari ini,” kata Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang Romo Krispinus Saku dalam jumpa pers di Istana Keuskupan Agung Kupang, Jumat siang.
Jenazah Mgr. Turang kemudian disemayamkan sementara di Katedral Jakarta. Di Katedral, sejumlah karangan bunga memenuhi pelataran, termasuk karangan bunga dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Rencananya, jenazah Mgr. Turang diterbangkan ke Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (5/4) pagi. Jasad Mgr. Turang dijadwalkan tiba di Bandara El Tari Kupang pada pukul 10.00 WIB, Sabtu.
Di Kupang, jenazah Mgr. Turang kembali disemayamkan di Gereja Kristus Raja Katedral Kupang, kemudian dimakamkan pada Selasa (8/4) pekan depan.
-
/data/photo/2025/01/28/6798b6e6a40d3.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
100 Hari Prabowo-Gibran, Alissa Wahid hingga Quraish Shihab Tagih Tingkatkan Kualitas Demokrasi Nasional 28 Januari 2025
100 Hari Prabowo-Gibran, Alissa Wahid hingga Quraish Shihab Tagih Tingkatkan Kualitas Demokrasi
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Sederet tokoh yang tergabung di dalam
Gerakan Nurani Bangsa
meminta pemerintah untuk meningkatkan kualitas demokrasi.
Permintaan ini disampaikan dalam pesan kebangsaan yang disampaikan merespons
100 hari pemerintahan
yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Perwakilan gerakan ini, Alissa Wahid mengatakan, demokrasi merupakan manifestasi ‘dari, oleh, dan untuk rakyat’ yang menjadi mendasar dalam menjaga dan menata kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat majemuk.
“Demokrasi merupakan wujud kedaulatan rakyat di mana peningkatan kualitas penerapannya menjadi keniscayaan,” kata Alissa membacakan pesan kebangsaan di Aula Griya Gus Dur, Jakarta Selatan, Selasa (28/1/2025).
Putri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid mengatakan, Gerakan Hati Nurani meminta Penyelenggara Negara untuk mengawal peningkatan kualitas demokrasi dalam setiap langkahnya.
Para tokoh bangsa, kata Alissa, mengajak semua elemen baik penyelenggara negara, pemerintah, masyarakat dan pelaku bisnis untuk menjaga dan merawat nilai-nilai kebangsaan.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Kesejahteraan Keluarga itu bilang, demokrasi penting untuk keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia, sebagaimana amanat konstitusi.
“Seluruh agenda berbangsa dan bernegara perlu disandarkan pada kemaslahatan rakyat dan masa depan negara bangsa secara berkelanjutan, tidak terjebak pada kepentingan segelintir orang dan kepentingan jangka pendek,” kata Alissa.
Mereka yang tergabung dalam gerakan ini adalah Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Omi Komariah Nurkholish Madjid, K.H Quraish Shihab, K.H Mustofa Bisri, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo.
Kemudian, Bhante Sri Pannyavaro Mahathera, Pdt Jacky Manuputty, Amin Abdullah, Komaruddin Hidayat, Slamet Rahardjo, dr Umar Wahid, Erry Riyana Hardjapamekas dan Karlina Rohima Supelli,
Lalu, Pdt Gomar Gultom, Frans Magniz Suseno SJ, A Setyo Wibowo SJ, Laode Muhammad Syarif, Ery Seda, Lukman Hakim Saifuddin, Alissa Q Wahid.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Alissa Wahid hingga Eks Pimpinan KPK Kumpul Bahas 100 Hari Prabowo-Gibran
Jakarta –
Pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming genap 100 hari. Sejumlah tokoh bangsa menyampaikan pesan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran.
Tokoh bangsa yang berkumpul di antaranya Koordinator Jaringan Gusdurian Alissa Wahid, mantan pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas dan Laode M Syarif, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, akademisi Komarudin Hidayat, Karlina Supelli, Ery Seda hingga Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.
Hadir juga, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid yakni Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, lalu Omi Komariah Nurkholish Madjid, dan tokoh agama seperti Pendeta Jacky Manuputty, Pendeta Gomar Gultom, dan A Setyo Wibowo, mereka tergabung ke dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB). Para tokoh bangsa yang hadir ingin memberikan pesan kebangsaan di awal tahun 2025 serta sejumlah catatan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Akademisi Komarudin Hidayat mengatakan, mayoritas rakyat menaruh harapan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran, karena itu dia berharap Presiden Prabowo bisa menuntaskan sejumlah persoalan negara utamanya di bidang penegakan hukum.
“Saya yakin rakyat mendukung dan berharap betul kepada Presiden Prabowo untuk membenahi kondisi bangsa, kami merasakan banyak sekali PR yang harus diselesaikan, utamanya kaitannya dengan penegakan hukum, nepotisme dan korupsi,” kata Komarudin di Griya Gus Dur, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2025).
“Oleh karena itu, lewat forum ini kami berpesan kepada Presiden Prabowo, kami mendukung pernyataan beliau berantas korupsi, penegakan hukum dan menempatkan orang-orangnya dalam meritokrasi diwujudkan,” katanya.
“Kita sangat berharap, presiden untuk merapikan lebih dahulu korupsi di aparat penegak hukum, termasuk KPK, Polisi dan Kejaksaan yang memiliki kuasa menegakkan hukum,” kata Laode.
“Menurut saya, karena Presiden itu juga sekaligus kepala negara, saya pikir bisa dilaksanakan. Beliau bisa menjadi panglima perbaikan politik di Indonesia. Beliau bisa menjadi panglima perlindungan lingkungan di Indonesia. Beliau kita berharap menjadi panglima pemberantasan korupsi,” katanya.
“Tentu saja hiruk pikuk kabinet yang gemoy dan gemuk pada saatnya harus dievaluasi seperti apa, tentu ada maksud-maksud yang kita tidak tahu mengapa harus sebesar itu, maksudnya pasti baik, cuma pelaksanaannya yang belum begitu baik,” ucapnya.
Kemudian, Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo berpesan agar negara menjalankan tanggung jawabnya memajukan kesejahteraan umum. Dia mengatakan, negara tidak boleh berpaling dari perannya untuk memajukan kesejahteraan umum.
“Saya menyampaikan pandangan saya berdasarkan suatu teori, ada teori yang mengatakan bahwa keadaban publik didukung pada tiga pilar yaitu, negara, bisnis, masyarakat warga, kalau masing-masing pilar berfungsi dengan baik lalu keadaban publik terbentuk,” kata Ignatius Kardinal Suharyo.
“Sejauh yang saya tangkap, negara memiliki tanggung jawab besar memajukan kesejahteraan umum, kedua bisnis di dalam ruang publik harus berpegang pada fairness, masyarakat warga itu mesti menerima aturan-aturan yang disepakati bersama, yaitu saling percaya, kalau ketiga pilar berjalan dengan baik keadaban publik akan terbangun. Sebaliknya kalau ada perselingkuhan antara negara dan bisnis itu yang akan paling menderita adalah masyarakat,” ucapnya.
Adapun Alissa Wahid menyampaikan pesan dari para tokoh bangsa kepada pemerintahan Prabowo-Gibran tidak bersifat hitam putih. Dia mengatakan tokoh bangsa memberikan pesan berdasar pada nilai-nilai kebangsaan.
“Para tokoh bangsa menyampaikan tidak pada dikotomi pro dan kontra, mendukung atau oposisi, tetapi pada nilai-nilai yang mendasarinya,” kata Alissa.
Berikut ini 10 poin pesan kebangsaan dari Gerakan Nurani Bangsa:
1 Demokrasi sebagai manifestasi ‘dari, oleh, dan untuk rakyat’ merupakan hal mendasar dalam menjaga dan menata kehidupan bersama berbangsa dan bernegara di tengah masyarakat kita yang majemuk. Demokrasi merupakan wujud kedaulatan rakyat di mana peningkatan kualitas penerapannya menjadi keniscayaan. Penyelenggara Negara perlu mengawal perspektif ini dalam setiap langkahnya.
2 Semua elemen bangsa (penyelenggara negara, pemerintah, masyarakat dan pelaku bisnis) perlu menjaga dan merawat nilai-nilai kebangsaan dan kemasyarakatan demi keutuhan dan kesatuan bangsa Indonesia, sebagaimana amanat konstitusi.
3 Seluruh agenda berbangsa dan bernegara perlu disandarkan pada kemaslahatan rakyat dan masa depan negara bangsa secara berkelanjutan, tidak terjebak pada kepentingan segelintir orang dan kepentingan jangka pendek.
4 Presiden dan para pembantunya agar menjalankan program dan kebijakan yang mampu memperbaiki kualitas pendidikan, layanan kesehatan, kelestarian lingkungan dan sumber daya alam serta penyediaan lapangan kerja, sehingga kualitas hidup warga tetap terjaga dan kian meningkat.
5 Seluruh penyelenggara pemerintahan, khususnya aparat keamanan dan aparat penegak hukum, harus melindungi dan menjaga kebebasan berpendapat dan berekspresi warga negara di era demokrasi, yang merupakan hak asasi yang dijamin konstitusi serta menegakkan hukum secara profesional, berintegritas dan berkeadilan.
6 Para penyelenggara negara di jajaran eksekutif, legislatif, yudikatif, serta pada semua Institusi negara dan instansi pemerintahan, haruslah benar-benar menjadi contoh dalam pemberantasan korupsi dengan menerapkan nilai-nilai anti-korupsi.
7 Presiden dan pembantunya, serta para pemimpin daerah, agar bekerja dengan sungguh-sungguh memberikan teladan melalui efektivitas dan efisiensi birokrasi, mewujudkan pemerintahan yang bersih, menjunjung tinggi nilai etik dan moral demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.
8 Pemerintah dan lembaga legislatif hendaknya membuat dan mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara lebih adil dan bijak. Setiap kebijakan fiskal haruslah berorientasi pada kesejahteraan sosial.
9 Terkait situasi khusus Papua, agar seluruh pihak terkait mampu membangun Papua yang damai dan adil dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup dan ruang hidup warga berdasar kearifan lokal.
10 Semua penyelenggara negara menjadikan ajaran universal agama dan nilai luhur bangsa, khususnya yang terkristalisasi pada Pancasila, sebagai dasar sekaligus orientasi dalam mengemban amanah bangsa. Dengan demikian kepercayaan masyarakat terus terjaga, berpartisipasi bersama mewujudkan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
(idn/idn)
Hoegeng Awards 2025
Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu
-
/data/photo/2024/12/25/676b9b1b0ab4f.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Soal Korupsi, Uskup Agung Jakarta: Jati Diri Paling Dasar Diingkari
Soal Korupsi, Uskup Agung Jakarta: Jati Diri Paling Dasar Diingkari
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Uskup Agung Jakarta LKardinal Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo mengatakan, orang yang melakukan korupsi telah mengingkari jati dirinya yang paling dasar.
Hal ini disampaikan Kardinal Suharyo merespons masih adanya praktik korupsi di Indonesia.
“Jati diri manusia yang bersangkutan, yang korupsi itu, jati diri yang paling dasar yang diingkari,” kata Kardinal Suharyo dikutip dari kanal
YouTube Kompas.com
, Rabu (25/12/2024).
Kardinal Suharyo mengatakan, pelaku tindak pidana korupsi di negara ini seperti dibiarkan terjadi untuk dijadikan alat menjegal seseorang.
“Korupsi dibiarkan supaya nanti pada waktunya bisa digunakan untuk kepentingan tertentu, itu politik yang busuk,” ujar dia.
Lebih lanjut, ia mengatakan, selama budaya di Indonesia selalu mengejar kekuasaan, kedudukan, dan gengsi, korupsi akan terus terjadi.
“Nah, kalau sudah orientasinya seperti itu tanpa disadari, maka segala macam cara dicari untuk mencapai yang dicari, entah itu kekuasaan, gengsi, dan itu semua butuh uang, jadilah korupsi,” ucap Kardinal Suharyo.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Uskup Agung Jakarta: Banyak Keluarga Hancur Karena Judol dan Pinjol
Bisnis.com, JAKARTA — Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyebut banyak keluarga hancur karena praktik judi online atau pinjaman online.
Dia mengatakan, hal tersebut bisa terjadi lantaran masyarakat kerap diiming-imingi oleh kekayaan yang bisa diperoleh dengan sikat melalui dua praktek tersebut.
“Kita sering mendengar keluarga yang hancur karena judi online atau pinjaman online. Itu kan karena apa diiming-imingi seperti di iklan, mau kaya tapi nggak bisa lalu pinjam,” ujarnya di Jakarta, Rabu (25/12/2024).
Suharyo menilai, sejatinya persoalan tersebut dapat dicegah apabila setiap manusia memiliki kepedulian maupun kasih yang tinggi ke sesamanya.
“Itu kan sebetulnya dibalik itu atau peristiwa-peristiwa seperti itu dapat dengan mudah ditempatkan di dalam perjuangan keberpihakan kepada martabat manusia,” tambahnya.
Dengan demikian, dia menekankan agar masyarakat dapat menjunjung tinggi kebaikan bersama atau saling membantu satu sama lain.
“Itulah cita-cita kemerdekaan kita, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita bisa mengecek situasi masyarakat kita, negara kita, apakah benar ini kebaikan bersama, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
-
/data/photo/2024/12/25/676bb6a291daa.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Kunjungan Kelompok Lintas Agama ke Gereja Katedral di Hari Natal, Bawa Hadiah Cinta untuk Jemaat Megapolitan 25 Desember 2024
Kunjungan Kelompok Lintas Agama ke Gereja Katedral di Hari Natal, Bawa Hadiah Cinta untuk Jemaat
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Perwakilan lintas agama mengunjungi
Gereja Katedral Jakarta
, Sawah Besar, saat jemaat sedang melaksanakan ibadah misa Natal, Rabu (25/12/2024).
Kedatangan perwakilan lintas agama dari Islam, Kristen Protestan, Buddha, dan agama lainnya disambut hangat oleh Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo yang mengajak berkeliling gereja.
Usai berkeliling gereja, Dewan Pembina Nurcholis Madjid Society, Yudi Latief, mengatakan bahwa mereka membawa hadiah cinta untuk para jemaat yang sedang bersuka cita merayakan Natal.
“Kedatangan kami di sini bermaksud membawa hadiah bagi saudara-saudara sekalian. Hadiahnya, adik-adik tahu, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada cinta,” ujar Yudi dalam sambutannya di sela ibadah misa.
Yudi mengibaratkan hadiah cinta ini sebagai lilin yang menerangi kegelapan serta harapan di tengah kecemasan.
“Atas nama cinta dari hati yang terdalam dan suasana cinta Natal, izinkan kami mengucapkan selamat Natal bagi saudara-saudara sekalian,” imbuhnya.
Yudi mengatakan, terlepas dari agama yang berbeda, ia menekankan pentingnya eratnya tali persaudaraan antar sesama.
“Bejejak di Tanah Air yang sama, kita semua bersaudara, kita semua anak-anak dari bangsa Indonesia. Jalan keagamaan boleh berbeda, tapi semua agama menyerukan kebaikan,” paparnya.
Oleh karenanya, Yudi meminta semua masyarakat kompak maju bersama dengan bergandeng tangan untuk menghadapi rintangan.
“Semoga cahaya Natal membawa semangat pencerahan, semangat cinta kasih melampaui batas-batas agama, dengan itu kita bisa menyongsong rumah bersama Indonesia yang bahagia,” pungkasnya.
Copyright 2008 – 2024 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Kardinal Suharyo Akhir-akhir Ini Korupsi Digunakan ‘Mematikan’ Orang
Bisnis.com, JAKARTA — Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyoroti proses pemberantasan korupsi yang belakangan ini terkesan tebang pilih dan dipolitisasi untuk menekan pihak tertentu.
Uskup Agung itu menerangkan seakan-akan terlihat dijadikan alat untuk “membunuh” seseorang demi mencapai kepentingan tertentu. Padahal, ujar dia, sebelumnya seperti diabaikan.
“Kita semua mendengar akhir-akhir ini kok korupsi itu malah dijadikan alat ya untuk pembunuh, dalam tanda petik ya untuk mematikan orang, untuk menjaga orang korupsi dibiarkan, supaya nanti pada waktunya bisa digunakan untuk kepentingan tertentu,” katanya dalam konferensi pers yang digelar di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, pada Rabu (25/12/2024).
Lebih lanjut, dia berpandangan bahwa saat seseorang melakukan korupsi, maka jati dirinyalah yang sedang diingkari. Menurut dia, tak bisa dipungkiri budaya masyarakat di Indonesia termasuk dalam budaya Feodalisme.
Sadar atau tidak sadar, tambahnya, dalam budaya feodalisme tersebut seseorang akan berpikir mengenai gengsi, kedudukan, dan status sosial.
“Nah kalau sudah orientasi hidupnya seperti itu tanpa disadari, bahkan segala macam cara mau dicari untuk mencapai yang dicari itu, entah itu kekuasaan, entah itu namanya gengsi dan itu semua butuh uang. Jadilah korupsi,” urainya.
Oleh sebab itu, Ignatius menyebut karena gereja bukanlah hierarki dan gereja adalah umat, maka pihaknya berusaha untuk membuat lembaga gereja bekerja secara transparan, agar dapat dipercaya.
“Membuat lembaga gereja itu transparan, sehingga dapat dipercaya. Tidak mudah, tapi supaya bahaya korupsi di dalam gereja sendiri sejauh mungkin dicegah,” tuturnya.
-

Menko PMK Pratikno Jamin Natal dan Tahun Baru Berjalan Aman dan Lancar
Bisnis.com, JAKARTA — Menko Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengemukakan bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjamin ibadah natal tahun ini dan tahun baru akan berjalan aman, lancar, dan tertib.
Hal ini disampaikannya saat dirinya selesai meninjau persiapan peribadatan Natal di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, pada Selasa (24/12/2024).
“Kami hadir di sini untuk menyampaikan ucapan selamat Natal tahun 2024 dan selamat tahun baru 2025 dan pemerintah berkomitmen untuk menjamin bahwa ibadah Natal tahun ini dan tahun baru juga berjalan aman, lancar dan tertib,” katanya.
Lebih lanjut, eks Mensesneg RI ini turut menyampaikan bahwa telah melakukan kunjungan ke Pelabuhan Merak Bakauheni dan tempat-tempat lain untuk mengecek dan memastikan lalu lintas berjalan dengan lancar.
“Kemudian peribadatan aman dan lancar serta tentu saja kita juga memperhatikan secara serius di lokasi-lokasi wisata agar libur Natal dan tahun baru ini semuanya berjalan lancar, aman, nyaman, dan tertib dan beribadah secara khidmat,” pungkasnya.
Pada kesempatan yang sama, Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menyampaikan rasa terima kasihnya atas kunjungan dan pengamanan yang telah dilakukan.
Ignatius mengatakan pihaknya merasa sangat gembira dan bangga lantaran menurut dia suasana seperti saat inilah yang selalu dilihat oleh saudara-saudara di luar negeri.
“Ini adalah cermin dari cita-cita kita untuk terus berjalan bersama-sama sebagai warga negara dengan peran yang berbeda-beda untuk membangun Indonesia yang semakin baik, menyongsong masa depan yang semakin bahagia dan sejahtera,” pungkasnya.

/data/photo/2024/12/11/67595969763b1.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)