Tag: Ignatius Kardinal Suharyo

  • Suasana Misa Natal di Gereja Katedral Jakarta Tahun 2025

    Suasana Misa Natal di Gereja Katedral Jakarta Tahun 2025

    JAKARTA – Hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak Kamis sore, 25 Desember tidak menghalangi niat ribuan jemaat untuk merayakan Natal di Gereja Katedral, Jakarta Pusat.

    Gereja Katedral Jakarta bisa menampung sekitar 4.500-5.000 jemaat setiap kali sesi Misa Malam Natal dan Misa Hari Natal tahun ini.

    Namun kapasitas di dalam gereja hanya 800 orang.Ribuan jemaat lainnya terpaksa duduk di halaman luar di bawah tenda.

    Misa Natal pontifikal dipimpin Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo yang dimulai pukul 08.30 WIB.

    Tema Natal tahun 2025 ini yaitu Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga.

    Simak informasi selengkapnya di VOI.id

  • Misa Natal 25 Desember, Polisi Jaga Ketat Gereja Katedral Jakarta

    Misa Natal 25 Desember, Polisi Jaga Ketat Gereja Katedral Jakarta

    Bisnis.com, JAKARTA – Kepolisian Republik Indonesia memastikan keamanan dan kelancaran rangkaian Misa Natal pada Kamis (25/12/2025) di Gereja Katedral, Jakarta Pusat.

    Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah melakukan peninjauan langsung ke Gereja Katedral dan GPIB Immanuel Jakarta Pusat. Hal itu dilakukan untuk memastikan terciptanya pengamanan dan pelayanan optimal bagi masyarakat yang menjalani ibadah Natal.

    Menurut Sigit, peninjauan ini merupakan tindaklanjut instruksi Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat bisa mendapatkan pengamanan dan pelayanan optimal saat Natal dan Tahun Baru (Nataru).

    “Sesuai arahan presiden, kami diminta memberikan pelayanan terkait operasi Nataru di dalamnya kita mengamankan masyarakat mudik, masyarakat yang melaksanakan Misa ibadah Natal dan masyarakat yang akan melaksanakan kegiatan pergantian tahun,” kata Sigit melalui keterangannya, dikutip Kamis (25/12/2025).

    Sigit memaparkan, untuk mengamankan Nataru tahun ini, sebanyak 147 personel gabungan dikerahkan. Selain itu, Sigit menyebut juga menggandeng organisasi kemasyarakatan (ormas) di antaranya, Banser NU dan Kokam Muhammadiyah.

    Berdasarkan pantauan Bisnis di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, pada Kamis (25/12/2025) pukul 14.45 WIB, situasi terpantau kondusif dengan pengamanan ketat oleh puluhan personel kepolisian yang dilengkapi anjing pelacak.

    Arus lalu lintas di sejumlah ruas jalan sekitar Gereja Katedral juga terpantau lengang dan lancar. Kendaraan yang melintas dapat bergerak tanpa hambatan berarti, dengan pengaturan lalu lintas dilakukan oleh petugas di beberapa titik guna mengantisipasi peningkatan volume kendaraan menjelang jadwal Misa.

    Sejumlah jemaat mulai berdatangan dan memasuki area gereja. Namun, kawasan sekitar masih menjalani proses sterilisasi sambil menunggu rangkaian Misa Natal berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 16.00 WIB.

    Rangkaian Misa Natal di Gereja Katedral

    Berdasarkan dokumen resmi, Gereja Katedral Jakarta menggelar rangkaian Misa Natal pada Kamis (25/12) yang dilaksanakan secara bertahap sejak pagi hingga malam hari. Perayaan Natal tersebut diselenggarakan secara kombinasi daring dan luring guna mengakomodasi umat yang hadir langsung maupun mengikuti ibadah secara online.

    Rangkaian Misa Natal diawali dengan Misa Pontifikal pada pukul 08.30 WIB yang dipimpin Uskup Ignatius Kardinal Suharyo bersama Kuria Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) dan dapat diikuti secara online maupun offline. Selanjutnya, Misa II yang dikhususkan bagi keluarga digelar secara luring pada pukul 11.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Yohanes Deodatus, SJ.

    Pada sore hari, Gereja Katedral kembali menggelar Misa Lansia secara offline pada pukul 16.00 WIB yang dipimpin Romo Macarius Maharsono Probho, SJ. Rangkaian perayaan Natal ditutup dengan Misa Sore pada pukul 18.00 WIB yang dipimpin Romo Albertus Hani Rudi Hartoko, SJ, dan dilaksanakan secara hybrid, baik daring maupun luring.

  • Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa

    Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa

    Kardinal Suharyo: Yang Kaya Rusak Hutan, Korbannya yang Tidak Punya Kuasa
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan bahwa dunia adalah tempat hidup bersama yang harus dijaga, bukan justru merusak alam.
    Pesan ini disampaikan
    Kardinal Suharyo
    usai Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    “Kalau di suatu negara yang kuat, yang kaya merusak hutan, korbannya siapa? Korbannya saudara-saudara kita yang tidak mempunyai kuasa apapun untuk mencegah itu,” ucap Kardinal Suharyo.
    Kardinal Suharyo berharap, momen Natal ini memberikan harapan besar agar pemimpin negara mampu menjalankan amanah dengan baik.
    “Melalui semangat kelahiran juruselamat, Keuskupan Agung Jakarta berharap kepada para pemimpin yang memanggul mandat warga berdaulat untuk bekerja sebaik-baiknya mewujudkan kesejahteraan dan kebaikan bersama. Rumusannya itu,” ucap dia.
    Kardinal Suharyo mengatakan, apabila terjadi perusakan lingkungan yang diperoleh dari izin yang legal, maka legalitas itu didapatkan dengan cara yang tidak baik.
    “Kalau misalnya nanti penegak hukum menengarai ini kerusakan hutan disebabkan karena alamnya memang begini, tetapi karena perusakan hutan yang legal. Meskipun buruk, legalitasnya diperoleh dengan cara yang tidak bagus,” kata dia.
    Menurut dia, ekosistem dunia akan berubah jika penebangan hutan dilakukan dengan tujuan membangun tambang.
    “Kalau hutan ditebang dan diganti dengan apapun lah, tambang kah apa. Itu kan artinya ekosistem dunia ini berubah,” tutur Kardinal Suharyo.
    “Nah siapa yang menandatangani izin menebang hutan? Ketika izin itu diberikan, apakah dengan analisis lingkungan, analisis dampak dan sebagainya dilakukan apa enggak,” imbuh dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Butuh Tobat Nasional
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Butuh Tobat Nasional Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo: Bangsa Ini Butuh Tobat Nasional
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyerukan  pertobatan nasional di tengah maraknya praktik penyalahgunaan kekuasaan dan krisis lingkungan yang terus berulang di Indonesia.
    Ia menyinggung berbagai kasus korupsi kepala daerah yang kerap muncul dalam pemberitaan sebagai tanda bahwa jabatan tidak dijalankan untuk mewujudkan kesejahteraan umum.
    “Kalau kita membaca berita, bupati ditangkap, gubernur ditangkap, itu menunjukkan jabatannya tidak dipakai untuk kebaikan bersama. Maka bangsa ini membutuhkan
    pertobatan nasional
    ,” kata Suharyo Misa Pontifikal Natal di Gedung Karya Pastoral Keuskupan Agung Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    Menurut dia, jabatan publik semestinya dipahami sebagai amanah untuk kebaikan bersama, bukan posisi yang diduduki demi kepentingan pribadi.
    “Ketika seseorang diberi kesempatan menjabat, harapannya bukan menduduki jabatan, tetapi mengemban amanah. Jabatan itu dipangku untuk kebaikan bersama, bukan digunakan untuk kepentingan diri sendiri,” kata Suharyo.
    Suharyo menjelaskan, pertobatan bukan sekadar peristiwa sesaat di akhir tahun, melainkan gaya hidup yang berakar pada iman.
    Dalam pandangan Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah, yang harus diwujudkan secara konkret dalam kehidupan sosial.
    “Sering kali, termasuk saya sendiri, kita tidak memuliakan Allah, tetapi memuliakan diri sendiri. Ketika itu terjadi, arah hidup harus diluruskan kembali. Itulah yang disebut pertobatan rohani,” ujar dia.
    Pertobatan nasional, lanjut dia, bukan sekadar slogan moral, melainkan upaya mengembalikan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
    Dasarnya tetap pertobatan batin, yakni memuliakan Allah dan membaktikan hidup bagi sesama serta tanah air.
    Selain pertobatan sosial dan politik, Suharyo juga menekankan pentingnya pertobatan ekologis yang akan menjadi perhatian Keuskupan Agung Jakarta pada 2026.
    Pertobatan ini menyangkut tanggung jawab manusia menjaga lingkungan hidup melalui tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
    “Misalnya, saat naik pesawat terbang yang menghasilkan emisi karbon tinggi, ada kesadaran untuk menyisihkan sebagian biaya guna memulihkan kerusakan lingkungan. Atau hal kecil seperti tidak membuang makanan dan mengurangi penggunaan plastik,” jelas Suharyo.
    Suharyo menegaskan, pertobatan ekologis menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, dari cara konsumsi hingga pola produksi, karena
    krisis lingkungan
    tidak bisa dilepaskan dari perilaku manusia itu sendiri.
    Ketika ditanya soal harapan terhadap penegak hukum di tengah maraknya korupsi dan kerusakan lingkungan, Suharyo menegaskan bahwa Gereja berbicara dalam ranah iman dan moral, bukan politik praktis.
    Namun, ia berharap para pemimpin yang memikul mandat rakyat bekerja sungguh-sungguh demi kesejahteraan dan kebaikan bersama.
    “Kerusakan alam itu kompleks dan menyangkut banyak kepentingan. Gereja menyampaikan pesan moral. Soal data, investigasi, dan penegakan hukum, itu menjadi tugas wartawan dan aparat penegak hukum,” kata Suharyo.
    Menurut dia, pesan Natal dan seruan pertobatan nasional sejatinya menjadi pengingat bahwa kehidupan bersama hanya bisa diselamatkan jika manusia bersedia meluruskan kembali orientasi hidupnya dari memuliakan diri sendiri menuju bakti bagi sesama dan lingkungan.
    Mengutip ensiklik
    Laudato Si’
    Paus Fransiskus, Suharyo menekankan bahwa dunia adalah rumah bersama.
    Ketika yang kuat dan kaya merusak alam, mereka yang lemah dan miskin justru menanggung dampaknya.
    “Harapan kami sederhana, agar para pemimpin yang memanggul mandat rakyat bekerja sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” kata Suharyo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam Megapolitan 25 Desember 2025

    Kardinal Suharyo Soroti Peran Manusia yang Rusak Lingkungan di Balik Bencana Alam
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan bahwa bencana yang terjadi tidak semata-mata disebabkan faktor alam, melainkan juga berkaitan erat dengan perilaku manusia terhadap lingkungan.
    Hal itu disampaikan
    Kardinal Suharyo
    usai Misa Pontifikal
    Natal 2025
    di Gedung Karya Pastoral, Paroki Katedral Jakarta, Kamis (25/12/2025).
    “Bencana-bencana yang kita alami ini tidak hanya karena faktor alam, tetapi juga karena peran manusia yang merusak lingkungan hidup,” ujar Suharyo.
    Menurut dia, Natal seharusnya menjadi momentum refleksi iman yang diwujudkan dalam tanggung jawab konkret terhadap sesama dan alam ciptaan.
    Ia menjelaskan, pesan Natal tahun ini menekankan bahwa makna keselamatan tidak berhenti pada perayaan liturgi, melainkan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata untuk memulihkan dan menguatkan kehidupan bersama, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga bangsa.
    Kardinal menuturkan, kerusakan lingkungan merupakan persoalan global yang sangat kompleks, mulai dari konsumsi energi berlebihan hingga pemberian izin eksploitasi alam tanpa analisis dampak yang memadai.
    Mengutip ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus, Suharyo menyebut dunia sebagai “rumah bersama”, di mana kerusakan yang dilakukan kelompok kuat dan kaya sering kali ditanggung oleh mereka yang lemah dan miskin.
    “Pesan Gereja adalah pesan moral. Harapannya, para pemimpin yang memikul mandat rakyat bekerja sebaik-baiknya demi kesejahteraan dan kebaikan bersama,” ujar dia.
    Kardinal Suharyo melanjutkan, Keuskupan Agung Jakarta pada 2026 akan memberi perhatian khusus pada isu lingkungan hidup melalui konsep “
    pertobatan ekologis
    ”.
    Pertobatan ekologis, kata dia, tidak selalu berbentuk tindakan besar, melainkan bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
    Misalnya, mengurangi sampah makanan, membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi plastik, hingga menyisihkan dana untuk memulihkan lingkungan sebagai kompensasi emisi karbon saat bepergian.
    “Hal-hal kecil seperti itu adalah bentuk pertobatan yang menyentuh seluruh wilayah kehidupan manusia,” ujar Suharyo.
    Kardinal juga menyerukan pertobatan nasional untuk mengembalikan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, yang berakar pada pertobatan batin dan tanggung jawab moral.
    Kardinal Suharyo menegaskan bahwa pertobatan bukan sekadar ritual sesaat, melainkan gaya hidup yang berlandaskan iman.
    “Dalam konsep Kristiani, manusia diciptakan untuk memuliakan dan berbakti kepada Allah. Memuliakan Allah itu diwujudkan dalam ibadah, tetapi harus diterjemahkan secara konkret dalam bakti kepada sesama,” kata dia.
    Menurut Suharyo, kegagalan manusia memuliakan Allah kerap muncul dalam bentuk memuliakan diri sendiri, termasuk penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan.
    “Jabatan itu bukan untuk diduduki demi kepentingan pribadi, melainkan dipangku sebagai amanah untuk kebaikan bersama. Ketika jabatan digunakan untuk diri sendiri, di situlah akar banyak persoalan, termasuk korupsi,” ujar dia.
    Dalam kesempatan yang sama, Kardinal Suharyo menjelaskan mekanisme solidaritas Gereja Katolik dalam membantu korban
    bencana alam
    , khususnya di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
    Ia menyebut, melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), seluruh keuskupan dan paroki di Indonesia menggalang dana lewat kolekte khusus.
    Dana tersebut kemudian dikelola dan disalurkan melalui Caritas Indonesia, lembaga gereja yang fokus pada penanganan kebencanaan.
    “Namun, karena kebutuhan sangat besar dan mendesak, beberapa keuskupan juga menyalurkan bantuan langsung ke keuskupan setempat, seperti Padang, Sibolga, dan wilayah Aceh,” kata dia.
    Menurut Suharyo, pemulihan pascabencana bukan proses singkat.
    Berdasarkan berbagai kajian, proses pemulihan sosial, ekonomi, hingga persoalan pertanahan dan trauma korban bisa memakan waktu 20 hingga 25 tahun.
    “Ini bukan soal satu atau dua bulan. Membayangkan rumah tertimbun longsor saja sudah sulit, apalagi mengembalikan kehidupan seperti semula,” ujar dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan mengutip pernyataan Paus Fransiskus ketika khotbah dalam Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Ia menuturkan, mendiang
    Paus Fransiskus
    pernah menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan
    korupsi
    yang dinilai merendahkan martabat manusia serta berakibat merusak masa depan.
    “Mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa yaitu bertindak-tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucap
    Kardinal Suharyo
    .
    “Korupsi membuat kita tidak mampu melihat masa depan dengan penuh harapan karena keserakahan yang zalim itu menghancurkan harapan-harapan kaum lemah dan menginjak-injak orang yang paling miskin di antara kaum miskin. Korupsi adalah skandal publik yang berat,” ujar dia.
    Kardinal Suharyo lalu menyebut bahwa dalam dunia dewasa ini, banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
    “Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” kata Kardinal.
    Oleh sebab itu, ia memperingatkan betapa mengerikannya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
    “Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur Kardinal Suharyo.
    Ia menuturkan, Paus Fransiskus berpandangan, kekayaan yang diperoleh dengan cara-cara tidak bermoral tidak akan membawa kekuasaan yang langgeng.
    “Lebih menumpuk kekayaan yang berlumuran darah tidak akan mampu membuat seorang pun tetap berkuasa dan tidak mati,” ujar Kardinal.
    Ia berharap, Perayaan
    Natal 2025
    membuat jemaat terdorong untuk semakin rajin mencari jalan-jalan baru untuk berbuat baik.
    Menurut dia, semakin banyak ragam perbuatan baik semakin banyak pula tanda-tanda pengharapan yang dimaksudkan oleh Paus Fransiskus.
    “Sekali lagi selamat merayakan Natal dan selamat menyambut tahun baru 2026 tahun baru yang kita harapkan penuh pengharapan. Tuhan memberkati,” kata Kardinal Suharyo.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Kutip Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo: Keserakahan yang Zalim Menghancurkan Kaum Lemah

    Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan

    Misa di Katedral, Kardinal Suharyo Singgung Merosotnya Moralitas Kehidupan
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menyampaikan pesan dalam khotbah Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Kamis (25/12/2025).
    Mengawali khotbahnya,
    Kardinal Suharyo
    mengucapkan selamat
    Hari Raya Natal
    dan mengharapkan Firman Yesus hadir di antara jemaat serta menjadi terang sepanjang hidup.
    “Saudari saudaraku yang terkasih. Tetapi nyatanya manusia tidak sepenuhnya menerima terang itu, melainkan sering memilih untuk hidup di dalam kegelapan,” kata Kardinal Suharyo.
    Akibatnya, manusia yang mestinya bermartabat luhur dan mulia merendahkan martabatnya sendiri ketika membiarkan hidupnya dipimpin oleh kegelapan.
    “Buahnya kita semua tahu adalah semakin luntur dan merosotnya moralitas kehidupan,” ucapnya.
    Kardinal Suharyo menuturkan, perendahan martabat manusia terjadi sepanjang sejarah umat manusia sejak awal.
    Ia lalu mengutip pernyataan mendiang Paus Fransiskus yang menyoroti persoalan terkait ketidakadilan, pemujaan uang, dan korupsi yang dinilainya merendahkan martabat manusia.
    “Inilah yang terungkap, misalnya, di dalam tindakan-tindakan yang tidak bermartabat seperti yang diangkat oleh mendiang Paus Fransiskus di dalam pernyataannya ketika memaklumkan tahun suci luar biasa, yaitu bertindak tidak adil, memuja uang, dan korupsi,” ucapnya.
    Masih mengutip pernyataan Paus Fransiskus, Kardinal Suharyo menyebut di dalam dunia dewasa ini banyak luka yang ditanggung oleh orang-orang yang tidak mempunyai suara.
    “Karena teriakan mereka diredam dan dibenamkan oleh sikap acuh tak acuh orang-orang yang berkuasa,” imbuhnya.
    Kardinal Suharyo memperingatkan betapa pentingnya kebahagiaan yang bergantung pada uang.
    “Paus Fransiskus mengatakan begini, ‘Janganlah jatuh ke dalam pola pikir yang mengerikan, yang beranggapan bahwa kebaikan, kebahagiaan bergantung kepada uang, dan bahwa dibandingkan dengan uang, semua yang lain tidak ada nilai dan martabatnya’,” tutur dia.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Natal Jauh dari Keluarga, Cerita Mahasiswa Timor Leste Rayakan Natal di Jakarta
                
                    
                        
                            Megapolitan
                        
                        25 Desember 2025

    Natal Jauh dari Keluarga, Cerita Mahasiswa Timor Leste Rayakan Natal di Jakarta Megapolitan 25 Desember 2025

    Natal Jauh dari Keluarga, Cerita Mahasiswa Timor Leste Rayakan Natal di Jakarta
    Penulis

    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Perayaan Natal 2025 menjadi momen yang berbeda bagi Kennedy dan Lando.
    Dua mahasiswa asal Timor Leste itu merayakan malam Natal di
    Gereja Katedral Jakarta
    tanpa kehadiran keluarga, sesuatu yang belum pernah mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya.
    Jauh dari kampung halaman, Natal kali ini dijalani dengan suasana yang lebih sunyi, namun tetap sarat makna.
    Kennedy dan Lando mengikuti Misa Malam Natal di Gereja Katedral Jakarta, Rabu (22/12/2025) malam.
    Bagi keduanya, Natal di Jakarta terasa berbeda karena harus merayakannya sebagai anak rantau.
    “Yang paling utama sih jauh dari keluarga. Kalau tahun kemarin kan bareng keluarga, tapi di sini ya sendirian sama teman-teman, kayak agak sedih,” ujar Kennedy saat ditemui usai misa malam Natal.
    Keduanya berasal dari Timor Leste dan saat ini tengah menempuh pendidikan di Jakarta.
    Kennedy tercatat sebagai mahasiswa Universitas Trisakti, sementara Lando menjalani perkuliahan di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN).
    Meski jauh dari keluarga, Natal tetap dimaknai sebagai momen refleksi dan harapan.
    Kennedy menyampaikan harapannya agar perjalanan hidup dan pendidikan yang dijalani ke depan dapat berjalan dengan baik dan aman.
    Hal serupa disampaikan Lando yang merasakan beratnya merayakan Natal di perantauan.
    “Sebagai anak rantau yang Natal di sini itu cukup berat, ya belajar buat masa depan dan harus berjuang. Semoga dilancarkan,” kata Lando saat diwawancarai Kompas.com di lokasi.
    Di tengah perayaan Natal yang dijalani jauh dari keluarga, Lando juga menyampaikan doa dan ucapan bagi orang-orang terdekatnya di kampung halaman. Ia berharap keluarganya selalu diberi kesehatan.
    “Selamat hari Natal untuk mereka, semoga sehat selalu di sana, dan jangan lupa berdoa,” tuturnya.
    Sementara itu, Gereja Katedral Jakarta menggelar rangkaian perayaan
    Natal 2025
    pada Kamis (25/12/2025) dengan sejumlah misa yang ditujukan bagi berbagai kelompok umat.
    Perayaan dimulai sejak pagi melalui Misa Natal Pontifikal pada pukul 08.30 WIB yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo bersama Kuria Keuskupan Agung Jakarta.
    Misa tersebut diikuti umat baik secara langsung maupun melalui siaran daring.
    Usai misa pontifikal, perayaan dilanjutkan dengan Misa Keluarga pada pukul 11.00 WIB yang secara khusus diperuntukkan bagi keluarga dan anak-anak, dengan suasana yang lebih komunikatif dan reflektif.
    Pada sore hari, Gereja Katedral menggelar Misa Lansia pukul 16.00 WIB, sebelum ditutup dengan Misa Sore pukul 18.00 WIB yang terbuka bagi umat umum dan kembali disiarkan secara daring.
    Untuk mendukung kelancaran ibadah, pihak Gereja Katedral Jakarta menyiapkan sekitar 5.000 kursi yang tersebar di berbagai area.
    “Kapasitas gereja untuk ibadat misa Natal sebanyak 800 kursi di dalam Gereja Katedral. Ditambah area luar, yakni Plaza Maria dan Gua Maria sebanyak 500 kursi, tenda 3.000 kursi, serta Grha Pemuda lantai 1 dan 4 dengan total 800 kursi,” ujar Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie, dalam keterangan resmi, Rabu.
    Selain itu, sejumlah kursi cadangan juga disiapkan untuk mengantisipasi lonjakan jemaat.
    Area di dalam gereja utama dan Grha Pemuda lantai 1 hanya diperuntukkan bagi jemaat yang telah melakukan registrasi sejak pertengahan Desember.
    Namun, jemaat yang belum mendaftar tetap dapat mengikuti misa dan diarahkan ke area lain.
    “Umat go show di hari H tetap dapat mengikuti misa di Grha Pemuda lantai 4, tenda yang telah disediakan, atau di Plaza Maria,” kata Susyana.
    Adapun
    perayaan Natal 2025
    di Gereja Katedral Jakarta mengusung tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24), yang merupakan pesan Natal bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI).
    (Reporter: Omarali Dharmakrisna Soedirman, Lidia Pratama Febrian | Editor: Dani Prabowo, Ardito Ramadhan)
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Paus Beri Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice kepada Lilik Oetama

    Paus Beri Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice kepada Lilik Oetama

    Paus Beri Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice kepada Lilik Oetama
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Chief Executive Officer Kompas Gramedia, Lilik Oetama menerima penghargaan medali Pro Ecclesia et Pontifice dari Paus Leo XIV.
    Penghargaan tersebut diberikan kepada seseorang yang dinilai telah memberikan pelayanan luar biasa kepada Gereja Katolik dan Paus.
    Nunsius Apostolik Takhta Suci Vatikan di Indonesia Mgr Piero Pioppo menyematkan langsung medali tersebut kepada Lilik di di Kedutaan Besar Vatikan, Jakarta, pada Selasa (11/11/2025).
    Dalam penyematan tersebut hadir Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, dan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.
    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (2016-2019) dan Menteri Perhubungan (2014-2016) Ignasius Jonan serta Menteri Kelautan dan Perikanan (2014-2019) Susi Pudjiastuti hadir pula dalam penyematan tersebut.
    “Saya sangat berkesan karena penghargaan ini diberikan oleh
    Paus Leo XIV
    ,” ujar
    Lilik Oetama
    seusai menerima penghargaan tersebut, dilansir dari
    Kompas.id
    .
    Medali yang diterimanya berbentuk salib berlapis emas dan di sisi depan terpahat figur Santo Petrus dan Santo Paulus.
    Sementara bagian lengan kiri salib bertuliskan Pro Ecclesia (untuk Gereja) dan lengan kanan bertuliskan Et Pontifice (dan Paus). Medali emas itu dipasangkan pada pita berwarna kuning-putih khas Vatikan.
    “(Medali itu diberikan) Karena dianggap telah ikut membantu (persiapan) kedatangan
    Paus Fransiskus
    ke Indonesia pada tahun lalu,” tambah Lilik Oetama.
    Medali Pro Ecclesia et Pontifice pertama kali dianugerahkan oleh Paus Leo XIII pada 17 Juli 1888 untuk memperingati 50 tahun tahbisan imamatnya.
    Kemudian pada Oktober 1898, penghargaan ini ditetapkan sebagai tanda kehormatan permanen bagi mereka yang dinilai berjasa bagi Gereja Katolik dan Paus.
    Penerima pertama dari Indonesia tercatat atas nama Barnabas Sarikromo pada 1928, seorang katekis yang mendampingi Romo Frans Van Lith SJ di Jawa.
    Sebelum penyematan penghargaan kepada para rohaniwan dan tokoh awam, Mgr Pioppo menyampaikan pesan perpisahan. Ia segera menempati penugasan baru sebagai Duta Besar Vatikan untuk Spanyol dan Kerajaan Andorra.
    Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia, Gereja Katolik, para diplomat, serta individu yang selama ini membantunya menjalankan tugas.
    “Syukur kepada Allah, terima kasih banyak, dan Tuhan memberkati,” ujarnya dalam bahasa Indonesia.
    Berita ini dilansir dari Kompas.id dengan judul ”
    Lilik Oetama Terima Penghargaan Pro Ecclesia et Pontifice dari Paus

    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Siapa Tokoh-tokoh dalam GNB yang Usulkan Tim Reformasi Polri ke Prabowo?
                
                    
                        
                            Nasional
                        
                        12 September 2025

    Siapa Tokoh-tokoh dalam GNB yang Usulkan Tim Reformasi Polri ke Prabowo? Nasional 12 September 2025

    Siapa Tokoh-tokoh dalam GNB yang Usulkan Tim Reformasi Polri ke Prabowo?
    Penulis
    JAKARTA, KOMPAS.com
    – Gerakan Nurani Bangsa atau GNB menyampaikan tuntutan ke Presiden Prabowo Subianto agar Prabowo membentuk tim reformasi polri. Siapa anggota GNB?
    Dilansir
    ANTARA
    , Jumat (12/9/2025), GNB berisi banyak tokoh sebagai anggotanya.
    GNB yang diterima Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Kamis (11/9/2025), yakni Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang merupakan istri Presiden ke-4 RI; tokoh agama sekaligus filsuf cum teolog, Romo Franz Magnis-Suseno SJ; agamawan Profesor M Quraish Shihab, dan tokoh Nahdlatul Ulama KH Ahmad Mustofa Bisri.
    Ada pula Uskup Agung Jakarta, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo; Omi Komariah Nurcholish Madjid; Profesor Doktor Amin Abdullah; Bhikkhu Pannyavaro Mahathera, Alissa Q Wahid; hingga mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
    Turut pula, filsuf sekaligus astronom Karlina Rohima Supelli; Ketua Umum PGI Pendeta Jacky Manuputty; Mantan Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom; Romo A Setyo Wibowo SJ; Mantan pimpinan KPK Erry Riyana Hardjapamekas; Eri Seda; Laode Moh Syarif; Makarim Wibisono; Komaruddin Hidayat; dan budayawan Slamet Rahardjo.
    Pembentukan komisi reformasi tersebut adalah salah satu tuntutan masyarakat termasuk Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang terdiri sejumlah tokoh bangsa dan tokoh-tokoh lintas agama.
    Perihal pembentukan komisi reformasi Polri itu disampaikan anggota GNB, Pendeta Gomar Gultom usai GNB bertemu dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan RI, Jakarta pada Kamis (11/9/2025) malam.
    “Tadi juga disampaikan oleh Gerakan Nurani Bangsa perlunya evaluasi dan reformasi kepolisian, yang disambut juga oleh Pak Presiden, (yang) akan segera membentuk tim atau komisi reformasi kepolisian. Saya kira ini juga atas tuntutan dari masyarakat yang cukup banyak,” kata Pendeta Gomar Gultom, dikutip dari
    ANTARA
    .
    Sementara itu, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menambahkan bahwa aspirasi mengenai reformasi Polri yang disampaikan GNB itu telah direncanakan dan dirumuskan konsepnya oleh Presiden Prabowo.
    “Ini gayung bersambut ya, apa yang ada dalam (Gerakan) Nurani Bangsa itu juga dalam nurani saya, kata Bapak Presiden. Jadi, harapan-harapan yang diminta oleh teman-teman itu juga malah sudah dalam konsepnya Bapak Presiden,” kata Nasaruddin. “Jadi, istilahnya tadi itu gayung bersambut ya apa yang dirumuskan teman-teman ini justru itu yang sudah akan dilakukan oleh Bapak Presiden terutama menyangkut masalah reformasi dalam bidang kepolisian,” ujar Menag lagi.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.