Tag: Ibrahim Assuaibi

  • Kurs Dolar Perkasa, Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp 16.777

    Kurs Dolar Perkasa, Rupiah Kembali Melemah ke Level Rp 16.777

    Liputan6.com, Jakarta – Kurs dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Senin ini. Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, mencatat mata uang rupiah melemah ke level Rp 16.777 pada penutupan perdagangan sore ini.

    “Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 27 poin sebelumnya sempat melemah 40 poin di level Rp 16.777 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.750,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (22/12/2025).

    Adapun sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah diantaranya, kekhawatiran atas ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah juga mendorong harga minyak, setelah laporan akhir pekan mengatakan Israel berencana untuk memberi pengarahan kepada AS tentang serangan baru terhadap Iran.

    Selain itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump pada akhir Desember, dan diperkirakan akan mendorong tindakan lebih lanjut terhadap Iran karena kekhawatiran atas rudal balistik dan program nuklir Teheran.

    “Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah dapat mengganggu beberapa produksi minyak di wilayah tersebut, meskipun masih belum jelas apakah rencana untuk tindakan lebih lanjut terhadap Iran akan dilanjutkan,” ujarnya.

    Kemudian faktor lainnya yakni yang menambah ketidakpastian geopolitik global, laporan akhir pekan mengatakan AS sedang bersiap untuk menaiki kapal tanker ketiga di lepas pantai Venezuela, di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Caracas.

    “Washington, di bawah Trump, telah meningkatkan pengawasannya terhadap Venezuela, menuduh negara itu menggunakan uang minyak untuk mendanai pengiriman narkoba dan imigrasi ilegal ke Amerika Serikat. Trump pekan lalu memerintahkan blokade kapal tanker minyak yang dikenai sanksi yang bepergian ke dan dari negara itu, dan juga telah meningkatkan kemungkinan kampanye darat terhadap negara Amerika Selatan tersebut,” ujarnya.

    Adapun Minggu ini, agenda ekonomi AS akan padat pada tanggal 23 Desember, karena minggu yang lebih pendek akibat liburan Natal. Para pedagang akan mencerna data rata-rata 4 minggu Perubahan Ketenagakerjaan ADP, angka pertumbuhan untuk kuartal ketiga, Pesanan Barang Tahan Lama bulan Oktober, dan data Produksi Industri untuk bulan Oktober dan November.

     

  • Emas Diramal Tembus Rp 3 Juta/Gram di 2026, Beli Sekarang atau Nyesel!

    Emas Diramal Tembus Rp 3 Juta/Gram di 2026, Beli Sekarang atau Nyesel!

    Jakarta

    Harga emas diperkirakan terus meningkat pada 2026 mendatang. Potensi kenaikan ini membuat aset logam mulia menjadi salah satu pilihan investasi paling menjanjikan dan aman untuk dibeli akhir tahun ini.

    Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai akhir tahun ini menjadi momen yang pas untuk membeli emas karena nilai logam mulia itu diperkirakan stagnan alias tak mengalami perubahan yang signifikan. sementara untuk tren kenaikan harga emas diperkirakan baru terjadi mulai awal tahun depan.

    “Sebenarnya mungkin kita akan melihat lagi ke emas gitu kan, cuma ini sudah Desember ya, kenaikan emas dan perak sudah cukup tinggi. Jadi saya kira akan jeda,” terangnya kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

    “Bisa saja masih melanjutkan, namun cuma mengharapkan beberapa pekan ke depan, kenaikan tidak akan terlalu besar. Mungkin emas akan kembali naik tahun depannya, jadi bukan Desember,” sambung Lukman.

    Lebih lanjut ia menjelaskan, pada 2026 mendatang harga emas global berpotensi besar mencapai US$ 5.000 per troy ounce. Menurutnya ini merupakan perkiraan paling moderat. Artinya besar kemungkinan nilai logam mulia itu dapat meningkatkan hingga melebihi prediksi.

    “Pada umumnya konsensus US$ 5.000 per troy ounce. Menurut saya itu estimasi yang sangat moderat, karena kita tahu 2024 itu naiknya 20an%, tahun ini naiknya 60an%, kalau tahun depan ke US$ 5.000 itu naiknya cuma belasan persen,” terangnya.

    Menurutnya kenaikan harga emas tahun depan dipicu oleh permintaan domestik maupun global yang masih kuat. Belum lagi dengan kondisi geopolitik saat ini, potensi pemangkasan suku bunga di AS, dan sejumlah faktor eksternal lainnya dinilai dapat ikut mengeret harga emas tahun depan.

    “Kalau emas itu permintaannya masih kuat gitu. Simple, mau bilang pakai alasan apa, nggak perlu, selagi ada permintaan itu kuat ya,” tegasnya.

    Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, juga menilai harga emas pada 2026 mendatang berpotensi terus mengalami kenaikan hingga US$ 5.000 per troy ounce atau sekitar Rp 3.000.000 per gram. Namun menurutnya, potensi kenaikan harga ini akan terwujud pada Kuartal I tahun depan.

    “Sesuai dengan prediksi JP Morgan, Lehman Brothers, dan Bank of America mereka kan sepakat di US$ 5.000. Mereka sampai akhir tahun depan, kalau saya sih nggak. Kalau saya kemungkinan besar kan lebih dari segitu ya. Kemungkinan ya kuartal pertama itu sudah sampai di US$ 5.000an,” kata Ibrahim.

    Ia menjelaskan dari sisi global, ekonomi dunia dipandang sedang tidak baik-baik saja karena banyaknya konflik bersenjata berkepanjangan di area Timur Tengah, Amerika Lantin, di Asia Timur antara China dan Jepang, hingga perang berkepanjangan di Eropa antara Rusia dengan Ukraina.

    Kemudian kondisi ekonomi dan politik di AS yang kerap menjadi poros perdagangan dunia juga sedang tidak stabil karena politik dalam negeri hingga rencana pemangkasan suku bungan bank sentral Negeri Paman Sam, Federal Reserve alias The Fed.

    “Di tahun 2026 ini masih banyak tensi geopolitik. Timur Tengah, Eropa, Amerika Latin, kemudian Laut Asia Timur ini juga cukup signifikan ya untuk tensi geopolitik,” ucapnya.

    “Kemudian ada pergantian bank Sentral Amerika. Ada pergantian yang kemungkinan besar akan diisi oleh orang gedung putih yang kemungkinan akan bisa bekerja sama dengan Trump, dan pasti akan lebih banyak lagi menurunkan suku bunga. Kemudian masalah perang dagang ini pun juga masih akan membuat harga emas naik,” sambung Ibrahim.

    Sementara terkait waktu pembelian, Ibrahim juga berpendapat selama periode akhir tahun ini banyak investor terutama perusahaan atau lembaga keuangan besar cenderung untuk wait and see alias menahan jual-beli aset. Baru setelah itu di awal tahun para investor mulai aktif pada Januari 2026.

    Karena itu harga logam mulia diperkirakan tidak akan mengalami perubahan yang signifikan pada akhir tahun ini. Membuat periode ini bisa jadi momen paling optimal untuk memiliki emas.

    “Memang mendekati di tanggal 25 sampai tanggal 30, ya sampai akhir tahun. Itu biasa wait and see. Misalnya saya melihat harga emas dunia pun juga gitu-gitu saja,” jelas Ibrahim.

    “Harga tertinggi itu cuma hanya di US$ 4.381 per troy ounce, itu pun di bulan Oktober. Untuk mencapai level di atas US$ 4.381, anggaplah di US$ 4.400 sangat sulit sekali karena minggu depan itu nanti sudah flat. Jadi masa ini sudah flat,” terangnya lagi.

    (igo/fdl)

  • Banyak Orang Salah Timing, Ini Momen yang Diam-diam Pas buat Investasi!

    Banyak Orang Salah Timing, Ini Momen yang Diam-diam Pas buat Investasi!

    Jakarta

    Akhir tahun bisa jadi momen krusial untuk mengevaluasi kondisi keuangan sekaligus mulai strategi baru untuk mencapai target ke depan. Mulai berinvestasi bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk dilakukan.

    Belum lagi pada akhir 2025 ini, sejumlah instrumen investasi diperkirakan stagnan alias tak mengalami perubahan yang signifikan. Sehingga menjadi waktu yang cocok untuk melakukan pembelian.

    Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan salah satu instrumen investasi atau aset yang paling memungkinkan untuk stagnan alias tak mengalami perubahan akhir tahun ini adalah emas dan saham.

    Menurutnya pada periode ini, transaksi jual-beli emas dan saham akan terhenti untuk sementara waktu. Kondisi ini membuat nilai kedua aset tersebut cenderung tak mengalami perubahan.

    “Bukan Indonesia saja, hampir semua negara ya. Pada saat memasuki Natal dan Tahun Baru, mereka tidak melakukan transaksi, ya mereka gunakan waktu libur,” kata Ibrahim kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

    Ia berpendapat selama periode akhir tahun ini, banyak investor terutama perusahaan atau lembaga keuangan besar cenderung untuk wait and see alias menahan jual-beli aset. Baru setelah itu di awal tahun para investor mulai aktif pada Januari 2026.

    “Memang mendekati di tanggal 25 sampai tanggal 30, ya sampai akhir tahun. Itu biasa wait and see. Misalnya saya melihat harga emas dunia pun juga gitu-gitu saja,” jelas Ibrahim.

    “Harga tertinggi itu cuma hanya di US$ 4.381 per troy ounce, itu pun di bulan Oktober. Untuk mencapai level di atas US$ 4.381, anggaplah di US$ 4.400 sangat sulit sekali karena minggu depan itu nanti sudah flat. Jadi masa ini sudah flat,” terangnya lagi.

    Namun berbeda dengan emas, perubahan nilai saham pada 2026 tidak bisa dikatakan pasti akan mengalami kenaikan. Sebab hal ini akan sangat bergantung pada saham perusahaan yang dimiliki.

    Artinya ada kemungkinan kinerja saham yang dimiliki tahun depan tak sebaik tahun ini dan dalam kondisi terburuk berpotensi mengalami penurunan. Pada akhirnya untuk memilih instrumen yang satu ini diperlukan perhitungan matang sekaligus kesiapan akan profil risikonya.

    Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong juga menilai nilai dari logam mulia dan saham cenderung stagnan akhir tahun ini. Sebab baik emas maupun saham, menurutnya kinerja kedua instrumen investasi ini sudah mencapai batasnya.

    Sama seperti Ibrahim, terkait instrumen investasi saham ini Lukman juga menilai ada profil risiko yang harus ditanggung oleh investor. Pada akhirnya keuntungan atau kerugian dari instrumen investasi yang satu ini akan sangat bergantung pada kinerja perusahaan, dan kondisi eksternal lainnya.

    “Nggak ada sesuatu yang pasti. Kalau nggak, tiap tahun ada sekali Desember, kalau itu memang sesuatu yang pasti, ya semua orang nunggu Desember saja untuk investasi daripada susah-susah, capek-capek,” terang Lukman.

    “Saham itu intinya kan orang menghitung dari valuasi gitu kan, pertama. Kedua juga sangat tergantung sama geopolitik, dan keadaan belakangnya geopolitik bukannya normal, mendingin, malah memanas gitu. Jadi resikonya sangat besar ya,” tegasnya.

    (igo/fdl)

  • Mau Cuan dan Jadi Lebih Kaya di 2026? Nih Saran Penting dari Pakar Keuangan

    Mau Cuan dan Jadi Lebih Kaya di 2026? Nih Saran Penting dari Pakar Keuangan

    Jakarta

    Akhir tahun kerap menjadi momen terbaik bagi masyarakat untuk mulai berinvestasi. Sebab di momen ini orang-orang bisa mengevaluasi portofolio setahun ke belakang dan menentukan target-target keuangan baru.

    Meski begitu, di tengah perkembangan teknologi finansial beragam instrumen investasi kini semakin mudah diakses hanya lewat genggaman tangan. Mulai dari reksa dana, saham, emas, obligasi negara, pilihan investasi kini sangat beragam dan bisa disesuaikan dengan profil risiko masing-masing.

    Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan semua yang ‘berbau’ investasi bagi dilakukan untuk menjaga stabilitas serta mencapai tujuan finansial pada 2026 mendatang. Namun dari semua pilihan investasi yang ada, menurutnya obligasi dan deposito menjadi pilihan terbaik.

    Hal ini dikarenakan dua instrumen investasi ini memiliki profil risiko paling rendah, cocok bagi investor pemula untuk menjaga stabilitas untuk setahun ke depan. Belum lagi, dua pilihan ini memiliki perlindungan tersendiri, membuat yang bersangkutan tak perlu khawatir akan risiko investasi gagal di tengah jalan.

    “Walaupun deposito kecil ya bunganya, tapi itu sudah cukup bagus karena dilindungi Undang-Undang kan, LPS juga menjamin. kemudian obligasi itu juga dijamin Undang-Undang. Apalagi kalau kita melakukan investasi di obligasi, dia kan sebenarnya pahlawan karena dananya untuk pembangunan. Itu yang dari obligasi sama deposito. Itu anggap yang paling aman lah 100%” katanya kepada detikcom, Jumat (19/12/2025).

    Setelah memilih aset yang pasti aman, Ibrahim menyarankan untuk berinvestasi di instrumen emas. Sebab nilai aset logam mulia yang satu ini diperkirakan akan terus meningkatkan sepanjang 2026 mendatang. Selain itu meski ada potensi penurunan harga, emas tetap menjadi salah satu aset dengan risiko rendah.

    “Kalau logam mulia atau emas perhiasan itu kan jangka menengah, jangka panjang. Tiga sampai lima tahun lah baru akan kelihatan.
    Kalau seandainya hari ini beli, kemudian minggu depan kita jual ya pasti rugi karena ada selisih dari ongkos cetak kan,” terangnya.

    Senada, Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong juga menilai logam mulia menjadi salah satu instrumen investasi paling menjanjikan di akhir tahun. Sebab dirinya juga sepakat bahwa harga emas berpotensi naik cukup tinggi pada 2026 mendatang.

    Belum lagi, menurutnya harga emas akhir tahun ini diperkirakan akan stagnan alias tak mengalami perubahan yang signifikan, sementara untuk tren kenaikan harga emas diperkirakan baru terjadi mulai awal tahun depan. Dengan begitu pembelian di akhir tahun ini bisa menjadi pilihan yang aman untuk dilakukan.

    “Sebenarnya mungkin kita akan melihat lagi ke emas gitu kan, cuma ini sudah Desember ya, kenaikan emas dan perak sudah cukup tinggi. Jadi saya kira akan jeda,” terangnya.

    “Bisa saja masih melanjutkan, namun cuma mengharapkan beberapa pekan ke depan, kenaikan tidak akan terlalu besar. Mungkin emas akan kembali naik tahun depannya, jadi bukan Desember,” sambung Lukman.

    Menurutnya kenaikan harga emas tahun depan dipicu oleh permintaan domestik maupun global yang masih kuat. Sehingga terlepas dari seberapa besar kenaikan harga emas nanti, nilai komoditas ini dijamin akan tetap menguat.

    “Kalau emas itu permintaannya masih kuat gitu. Simple, mau bilang pakai alasan apa, nggak perlu, selagi ada permintaan itu kuat ya,” tegasnya.

    (igo/fdl)

  • Pelemahan rupiah diiringi sentimen ketidakpastian perekonomian AS

    Pelemahan rupiah diiringi sentimen ketidakpastian perekonomian AS

    Jakarta (ANTARA) – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak melemah 29 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.723 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.694 per dolar AS.

    Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan kurs rupiah dipengaruhi ketidakpastian mengenai perekonomian AS yang meningkat pada pekan ini.

    “(Hal ini) terutama karena data resmi pemerintah memberikan sinyal yang beragam mengenai pasar tenaga kerja. Operasi pembelian aset Federal Reserve juga memicu beberapa keraguan atas likuiditas pasar di negara tersebut,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

    Kini, pasar disebut menantikan inflasi inflasi indeks harga konsumen (CPI/Consumer Price Index) untuk mendapatkan petunjuk mengenai perekonomian di AS.

    Data tersebut diperkirakan menunjukkan inflasi CPI utama sedikit meningkat, sementara CPI inti diprediksi tetap stabil di angka 3 persen per tahun.

    “Pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Fed untuk menyesuaikan kebijakan. Namun, selain suku bunga, pasar juga khawatir tentang potensi periode stagflasi bagi perekonomian AS – sebuah skenario di mana pengangguran meningkat seiring dengan inflasi,” kata Ibrahim.

    Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp16.722 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.698 per dolar AS.

    Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
    Editor: Biqwanto Situmorang
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Harga Emas Hari ini 17 Desember 2025 Tembus Level Segini

    Harga Emas Hari ini 17 Desember 2025 Tembus Level Segini

    Sebelumnya diwartakan, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, optimistis harga emas dunia berpeluang mencetak rekor tertinggi baru pada Desember. Ia memperkirakan emas dunia bisa mencapai USD 4.440 per troy ons, melampaui level tertinggi sebelumnya. Ketidakpastian global masih tinggi, emas dinilai akan menjadi buruan investor.

    Jika proyeksi tersebut terealisasi, harga logam mulia domestik berpotensi menembus Rp 2.700.000 per gram. Level ini dinilai sebagai target realistis hingga akhir tahun, seiring meningkatnya permintaan terhadap emas sebagai aset aman.

    “Saya masih optimis bahwa USD 4.440 itu akan tercapai, untuk mendekati USD 4.500 kemungkinan sangat sulit dan logam mulia ya kemungkinan di Rp 2.700.000 per gram,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).

    Ibrahim menegaskan, selama ketidakpastian global masih tinggi dan sentimen pasar tetap defensif, emas akan terus menjadi instrumen favorit investor. Oleh karena itu, peluang harga emas bertahan di tren positif hingga tutup tahun masih terbuka lebar.

    Lebih lanjut, kata Ibrahim, meski pergerakan harga sempat berfluktuasi tajam, arah jangka menengah hingga akhir tahun masih cenderung menguat. Menurutnya, emas dunia saat ini bergerak di area USD 4.300 per troy ons, sementara harga logam mulia di dalam negeri berada di kisaran Rp 2.462.000 per gram.

    “Walaupun kemarin sempat mengalami kenaikan yang cukup signifikan, tetapi turunnya pun juga di pasar Amerika cukup signifikan juga. Akhirnya ditutup di USD 4.300. Kemudian logam mulianya ditutup di hari Sabtu di Rp 2.462.000,” ujarnya. 

  • Kurs Dolar AS Hari Ini, Rupiah Loyo Selasa 16 Desember 2025

    Kurs Dolar AS Hari Ini, Rupiah Loyo Selasa 16 Desember 2025

    Sebelumnya, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah berada direntang Rp 16.660 hingga Rp 16.690, melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa 16 Desember 2025.

    “Untuk perdagangan (hari ini), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.660 – Rp16.690,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (16/12/2025). Adapun pada Senin (15/12/2025) mata uang rupiah mengalami pelemahan di level Rp 16.667.

    Ibrahim memaparkan faktor pendorong pelemahan rupiah dari dalam negeri, yakni di tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu tahun paling tidak terduga dalam beberapa dekade terakhir.

    Kompetisi antara negara besar berpotensi semakin tajam, aliansi global berpotensi bergeser, dan konflik yang sebelumnya bersifat regional berpotensi meluas.

    “Bahkan, berbagai lembaga dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprakirakan pertumbuhan ekonomi global bakal melambat, terfragmentasi, dan sedang mengalami transformasi besar,” ujarnya.

    Perlambatan ini disebabkan oleh perdagangan dunia yang melemah, rantai pasok yang direstrukturisasi demi keamanan bukan sekadar efisiensi, utang publik di banyak negara yang berada pada titik tertinggi, dan perkembangan teknologi yang lebih pesat ketimbang penerbitan regulasi baru.

    Selain itu, Valuasi aset di sejumlah negara berada di posisi rentan setelah naik terlalu cepat dalam beberapa tahun terakhir. Sistem perbankan juga belum benar-benar pulih akibat tekanan kredit bermasalah dan kerugian portofolio di tengah suku bunga tinggi.

     

  • Rupiah Hari Ini 16 Desember Melemah Tertekan Sinyal The Fed

    Rupiah Hari Ini 16 Desember Melemah Tertekan Sinyal The Fed

    Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Selasa (16/12/2025), seiring respons pasar terhadap sinyal kebijakan moneter The Fed.

    Mengacu pada data Bloomberg, hingga pukul 09.45 WIB di pasar spot, rupiah tercatat turun 15 poin atau 0,09% ke posisi Rp 16.682 per dolar AS.

    Pada perdagangan sebelumnya, Senin (16/12/2025), rupiah juga ditutup di zona merah dengan pelemahan 21 poin ke level Rp 16.667 per dolar AS.

    Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh sikap dovish The Fed, yang tidak hanya memangkas suku bunga tetapi juga memberikan sinyal akan memulai pembelian obligasi pemerintah jangka pendek mulai Desember 2025.

    Menurut Ibrahim, rencana pembelian aset tersebut memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, terutama karena tambahan likuiditas dari bank sentral AS berpotensi memperlebar tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

    “Untuk perdagangan Selasa, pergerakan rupiah cenderung fluktuatif tetapi ditutup melemah di kisaran Rp 16.660 hingga Rp 16.690 per dolar AS,” ujarnya.

    Selain itu, Ibrahim menyampaikan bahwa perhatian pasar pada pekan ini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan sektor non-pertanian Amerika Serikat serta data inflasi konsumen (CPI) untuk periode November 2025. Kedua indikator tersebut dijadwalkan diumumkan masing-masing pada hari ini dan Kamis (18/12/2025).

    Ia menambahkan, pelaku pasar akan mencermati setiap sinyal lanjutan yang menunjukkan perlambatan pertumbuhan pasar tenaga kerja serta meredanya tekanan inflasi, mengingat kedua faktor tersebut menjadi pertimbangan utama The Federal Reserve dalam menentukan arah penurunan suku bunga.

    Di luar faktor moneter dan kondisi ekonomi AS, pergerakan rupiah juga masih dibayangi sentimen geopolitik global. Ketegangan di kawasan Eropa Timur dinilai berpotensi menekan nilai tukar, meski Rusia dan Ukraina saat ini masih berada dalam tahap perundingan menuju kesepakatan damai.

    Dalam perkembangan terbaru, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy disebut menawarkan opsi untuk menangguhkan ambisi negaranya bergabung dengan aliansi militer NATO, saat melakukan pertemuan dengan utusan Amerika Serikat di Berlin.

  • Siap-siap Rupiah Loyo Lagi Hari Ini, Bisa Sentuh Level Ini

    Siap-siap Rupiah Loyo Lagi Hari Ini, Bisa Sentuh Level Ini

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah berada direntang Rp 16.660 hingga Rp 16.690, melemah pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa 16 Desember 2025.

    “Untuk perdagangan (hari ini), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.660 – Rp16.690,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (16/12/2025). Adapun pada Senin (15/12/2025) mata uang rupiah mengalami pelemahan di level Rp 16.667.

    Ibrahim memaparkan faktor pendorong pelemahan rupiah dari dalam negeri, yakni di tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu tahun paling tidak terduga dalam beberapa dekade terakhir.

    Kompetisi antara negara besar berpotensi semakin tajam, aliansi global berpotensi bergeser, dan konflik yang sebelumnya bersifat regional berpotensi meluas.

    “Bahkan, berbagai lembaga dunia seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memprakirakan pertumbuhan ekonomi global bakal melambat, terfragmentasi, dan sedang mengalami transformasi besar,” ujarnya.

    Perlambatan ini disebabkan oleh perdagangan dunia yang melemah, rantai pasok yang direstrukturisasi demi keamanan bukan sekadar efisiensi, utang publik di banyak negara yang berada pada titik tertinggi, dan perkembangan teknologi yang lebih pesat ketimbang penerbitan regulasi baru.

    Selain itu, Valuasi aset di sejumlah negara berada di posisi rentan setelah naik terlalu cepat dalam beberapa tahun terakhir. Sistem perbankan juga belum benar-benar pulih akibat tekanan kredit bermasalah dan kerugian portofolio di tengah suku bunga tinggi.

    Era suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama juga berpotensi menjadi tekanan nyata bagi dunia usaha menjelang 2026. Ketidakpastian sosial dan politik juga meningkat.

     

  • Harga Perak Antam Hari Ini 15 Desember 2025 Naik Rp 50

    Harga Perak Antam Hari Ini 15 Desember 2025 Naik Rp 50

    Sebelumnya pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, data pengangguran Amerika Serikat (AS) yang dirilis pada Oktober lalu menjadi salah satu pemicu utama fluktuasi tajam harga emas dunia.

    Menurutnya, kenaikan tingkat pengangguran yang cukup signifikan menunjukkan melemahnya kondisi pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam.

    “Apa yang menyebabkan harga emas dunia maupun loga mulia terus mengalami fluktuatif yang kemungkinan besar akan menguat? Salah satunya adalah rilis data pengangguran di Amerika yang kemarin pengangguran cukup luar biasa di bulan Oktober,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (14/12/2025).

    Ibrahim, mengatakan pelemahan sektor tenaga kerja ini menjadi sinyal bahwa ekonomi AS mulai kehilangan momentum pemulihan. Investor pun merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan kepemilikan aset lindung nilai, salah satunya emas, guna mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global.

    Situasi ini membuat harga emas dunia sempat bergerak naik signifikan, meski diiringi koreksi tajam di pasar Amerika. Pada penutupan terakhir, emas dunia berada di kisaran USD 4.300 per troy ons, sementara harga logam mulia di dalam negeri ditutup di level Rp 2.462.000 per gram.

    “Walaupun kemarin sempat mengalami kenaikan yang cukup signifikan, tetapi turunnya pun juga di pasar Amerika cukup signifikan juga. Akhirnya ditutup di USD 4.300. Kemudian logam mulianya ditutup di hari Sabtu di Rp 2.462.000,” jelasnya.