Tag: Ibrahim Assuaibi

  • Harga Emas Diramal Tembus Rp 2,7 Juta/Gram Pekan Depan

    Harga Emas Diramal Tembus Rp 2,7 Juta/Gram Pekan Depan

    Jakarta

    Harga emas diperkirakan bakal menguat selama sepekan ke depan. Harga emas diperkirakan akan menyentuh level Rp 2,7 juta per gram pekan depan.

    Hal ini merupakan analisis yang diungkapkan oleh Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi. Dia memaparkan terakhir harga emas Logam Mulia Antam ditutup pada level Rp 2,6 jutaan per gram.

    Secara teknis bila mengalami penguatan, dia memprediksi harga emas akan berada di level Rp 2,63 juta hingga maksimal Rp 2,7 juta per gram.

    “Logam Mulianya kemungkinan akan tembus di Rp Rp 2.700.000 ya kemungkinan di akhir pekan. Kemungkinan besar di hari Senin ya sampai sore itu harga emas tembus di Rp 2.630.000,” kata Ibrahim dalam analisisnya kepada awak media, Minggu (11/1/2026).

    Bila tiba-tiba turun, dia memperkirakan harga emas Logam Mulia hanya turun mencapai level Rp 2,57 juta saja paling mentok.

    Lantas apa saja faktor yang membuat harga emas melonjak? Dari bacaan Ibrahim, sejauh ini faktor geopolitik mempengaruhi sangat besar pergerakan harga emas. Utamanya beberapa konflik yang memanas di berbagai belahan dunia.

    Peran pergerakan politik Amerika Serikat (AS) masih sangat besar mempengaruhi harga emas. Di Amerika Latin, konflik dengan Venezuela memang mulai mereda, hanya saja perhatian kini tertuju ke Timur Tengah dan Eropa.

    Di Timur Tengah iklim politik Iran sedang berkecamuk. Demo besar-besaran terjadi disebabkan oleh mata uang Iran yang terjun bebas, kemudian inflasi tinggi membuat para demonstran terjun ke jalan memprotes rezim Khomeini.

    Pemerintah Khomeini pun merespons keras demonstran dengan kekuatan militer dan pada akhirnya menyebabkan korban jiwa karena penembakan kepada para demonstran. AS dan sekutunya Israel, mulai memata-matai konflik ini dan menimbulkan kekhawatiran perang bisa terjadi di Iran.

    Emas akan menjadi instrumen safe haven yang biasa dipegang oleh para investor bila ketidakpastian, macam perang besar terjadi. Otomatis harga emas akan terkerek pada akhirnya.

    “Amerika mengancam apabila Iran ya melakukan apa penembakan terhadap para demonstran tapi kita lihat bahwa sudah terjadi penembakan dan ini yang membuat kemungkinan besar akan terjadi perang besar ya di Iran,” ujar Ibrahim.

    Selanjutnya, di Eropa hasil proposal perdamaian yang diajukan AS untuk perang Ukraina dan Rusia nampaknya akan gagal setelah Ukraina menyerang kembali Rusia. Ini dinilai menjadi titik balik konflik antara kedua negara kembali memanas.

    “Ada kemungkinan besar perang di Eropa akan meluas dan ini yang ditakutkan menjadi perang dunia ketiga karena negara-negara tetangga pun juga sudah siap,” jelas Ibrahim.

    Rupiah Diprediksi Melemah

    Ibrahim juga memprediksi nilai tukar rupiah akan melemah kepada dolar Amerika Serikat (AS) minggu depan. Dia melihat hal ini terjadi karena gonjang-ganjing global tidak banyak diintervensi langsung oleh Bank Indonesia.

    Menurutnya kondisi geopolitik sudah memicu banyaknya capital outflow dari negara berkembang. Di sisi lain, cadangan devisa saat gonjang-ganjing terjadi dan justru mengalami kenaikan. Maka tak heran rupiah melemah.

    Ibrahim menilai hal ini menjadi indikasi Bank Indonesia kurang melakukan intervensi di pasar keuangan baik di ranah DNDF maupun NDF. Bila hal ini terus terjadi, Ibrahim memperkirakan pelemahan nilai tukar rupiah bisa mencapai Rp 16.900.

    “Saya melihat bahwa pelemahan harga rupiah kemungkinan akan menuju mendekati level di Rp 16.900,” ujar Ibrahim.

    Belum lagi, Ibrahim mengatakan ada dorongan kuat dari Kementerian Keuangan yang menginginkan pasar modal atau IHSG bisa menyentuh 10.000 secara kumulatif. Menurutnya hal ini bisa berpengaruh juga ke nilai tukar.

    “Ya kalau 10.000 ada kemungkinan besar untuk untuk rupiah sendiri dalam kuartal pertama, ya kemungkinan besar akan menuju level Rp 17.000,” sebut Ibrahim.

    Menurutnya Kementeri Keuangan dan Bank Indonesia harus memperkuat kerja sama bagaimana caranya untuk menanggulangi agar rupiah kembali mengalami penguatan.

    “Tetapi lagi-lagi permasalahan geopolitik, ya masalah ekonomi global yang begitu kuat, ya kemungkinan besar akan berdampak pada kelemahan mata uang rupiah, dan rupiah di kuartal pertama, kemungkinan besar masih akan terus mengalami pelemahan,” papar Ibrahim.

    (acd/acd)

  • Prediksi Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 8 Januari 2026, Berpotensi Melemah ke Level Segini

    Prediksi Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 8 Januari 2026, Berpotensi Melemah ke Level Segini

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan kembali melemah pada perdagangan hari ini, Kamis, 8 Januari 2026 di rentang 16.780 hingga 16.810. Pasar dinilai masih akan mencermati perkembangan dampak dari serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela sehingga membayangi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

    “Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.780- Rp 16.810,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (8/1/2026).

    Adapun pada penutupan perdagangan Rabu, 7 Januari 2026, rupiah ditutup melemah di level 16.780 terhadap dolar AS.

    Ibrahim menuturkan, faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah di antaranya, pertentangan pendapat terkait suku bunga dana Federal Reserve (the Fed). Gubernur Fed Stephen Miran, aktivitas bisnis AS tetap solid, tetapi hal itu membenarkan perlunya suku bunga yang lebih rendah. 

    Bertentangan dengan pendapatnya, Presiden Fed Richmond Thomas Barkin menyatakan suku bunga dana Fed berada dalam level netral, yang tidak merangsang maupun menghambat aktivitas ekonomi. 

    Ia menuturkan, kontrak berjangka dana Fed masih memperkirakan sekitar 82% kemungkinan suku bunga akan tetap stabil pada pertemuan bank sentral AS berikutnya pada 27 hingga 28 Januari, menurut alat CME FedWatch. 

    Kendati demikian, ketegangan geopolitik yang terus-menerus dan ekspektasi berkelanjutan akan dua kali pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve (Fed) tahun ini terus mendukung kenaikan harga emas secara lebih luas, menjaga harga tetap berada di sekitar rekor tertinggi. 

    “Investor akan mengamati dengan cermat data penggajian non-pertanian untuk bulan Desember, yang akan dirilis Jumat, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang suku bunga. Kekuatan pasar tenaga kerja merupakan pertimbangan utama bagi Federal Reserve dalam mengubah suku bunga,” ujarnya.

  • Rupiah Diproyeksi Makin Loyo Hari Ini, Bisa Amblas ke Level Segini

    Rupiah Diproyeksi Makin Loyo Hari Ini, Bisa Amblas ke Level Segini

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan mata uang rupiah akan fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp 16.750 hingga Rp 16.780.

    “Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.750 – Rp 16.780,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (7/1/2026).

    Adapun pada perdagangan Selasa (6/1) mata uang rupiah ditutup melemah 18 point, sebelumnya sempat melemah 35 poin dilevel Rp 16.758 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.740.

    Lebih lanjut, Ibrahim mengungkapkan sejumlah faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Untuk faktor eksternal yakni Wakil Presiden Maduro, Delcy Rodriguez, dilantik sebagai presiden sementara pada hari Senin (5/1).

    “Meskipun ia menyampaikan dukungan untuk Maduro, tidak jelas apakah ia berencana untuk menentang intervensi AS. Laporan pada hari Senin menunjukkan bahwa intelijen AS memandang Rodriguez sebagai orang yang paling tepat untuk memimpin pemerintahan sementara,” ujarnya.

    Disisi lain, pada hari Senin, Maduro menyatakan tidak bersalah atas tuduhan AS terkait distribusi narkotika. Munyo, yang muncul di pengadilan New York beberapa hari setelah penangkapannya di Caracas oleh pasukan AS, mengatakan bahwa ia tidak bersalah dan bahwa ia masih presiden Venezuela.

    Penangkapan Maduro, yang menurut Presiden AS Donald Trump dilakukan tanpa persetujuan Kongres, mengejutkan pasar global minggu ini. Trump mengisyaratkan bahwa AS akan mengambil alih kendali sementara Venezuela dan membuka industri minyak negara itu, mengundang perusahaan minyak besar Amerika untuk berinvestasi di negara tersebut.

     

  • Rupiah ditutup melemah 38 poin ke Rp16.725 per dolar AS

    Rupiah ditutup melemah 38 poin ke Rp16.725 per dolar AS

    Jakarta (ANTARA) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (2/1) sore ditutup melemah 38 poin atau 0,23 persen ke level Rp16.725 per dolar AS.

    Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Jumat, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan geopolitik yang masih sarat ketidakpastian.

    Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih mencermati risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember yang dirilis pekan ini. Risalah tersebut menunjukkan pandangan pejabat bank sentral AS alias Federal Reserve (The Fed) yang terbelah terkait arah suku bunga ke depan.

    Sebagian pejabat menilai suku bunga sebaiknya ditahan setelah tiga kali pemangkasan sepanjang tahun lalu, sementara lainnya membuka peluang penurunan lanjutan apabila inflasi terus melandai.

    “Namun, beberapa pembuat kebijakan menilai bahwa kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan penurunan suku bunga lebih lanjut jika inflasi menurun dari waktu ke waktu,” kata dia.

    Tekanan eksternal juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik.

    Konflik Rusia dan Ukraina kembali memanas setelah kedua pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru.

    Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi intensif yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

    Pewarta: Bayu Saputra
    Editor: Zaenal Abidin
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Rupiah Melemah Hari Ini, Simak Prediksi Kurs Dolar Besok 30 Desember 2025

    Rupiah Melemah Hari Ini, Simak Prediksi Kurs Dolar Besok 30 Desember 2025

    Liputan6.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (29/12/2025) sore, ditutup turun 43 poin atau sekitar 0,26 persen ke level Rp 16.788 per dolar AS. Sejalan dengan pergerakan di pasar, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) juga menempatkan rupiah di posisi Rp 16.788 per dolar AS pada perdagangan sore ini.

    Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan besok, 30 Desember 2025 masih melemah di kisaran Rp 16.780 hingga Rp 16.820 per dolar AS.

    “Untuk range besok, masih melemah rupiah Rp 16.780-16.820,” kata Ibrahim kepada Media, Senin (29/12/2025).

    Menurutnya, pelemahan rupiah kali ini tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor domestik. Justru tekanan eksternal dari konflik geopolitik internasional menjadi pemicu utama penguatan dolar AS yang berdampak langsung terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya tensi geopolitik di Amerika Latin. Amerika Serikat disebut masih terus melakukan sabotase terhadap kapal tanker minyak dari Venezuela yang ditujukan ke Tiongkok dan India.

    “Yang membuat rupiah melemah itu adalah tensi geopolitik. Tensi geopolitik di Amerika Latin, ya dimana Amerika masih terus akan melakukan sabotase terhadap kapal-kapal tanker dari Venezuela ke Tiongkok maupun ke India,” ujarnya.

    Langkah tersebut dinilai bertujuan untuk melemahkan perekonomian Venezuela dan memicu tekanan politik domestik terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara regional, tetapi juga mengguncang stabilitas pasar keuangan global.

    “Tujuannya adalah untuk melemahkan perekonomian di Venezuela sehingga masyarakat akan melakukan demonstrasi untuk menurunkan Maduro sebagai presiden,” jelasnya.

     

  • Harga Emas Antam Hari Ini 29 Desember 2025 Susut Rp 9.000, Simak Daftarnya di Sini

    Harga Emas Antam Hari Ini 29 Desember 2025 Susut Rp 9.000, Simak Daftarnya di Sini

    Sebelumnya, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilaimemanasnya situasi perpolitikan di Amerika Latin, antara Amerika Serikat dan Venezuela, dan Amerika Serikat (AS) dengan Nigeria, yaitu di Afrika berpotensi memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi serta mendorong kenaikan harga emas dunia.

    Amerika Serikat dilaporkan melakukan operasi militer terhadap kelompok militan yang menguasai wilayah produksi minyak di Nigeria. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran pengusaha minyak Amerika yang merasa dirugikan akibat terganggunya aktivitas produksi dan distribusi minyak mentah.

    “Di mana pasukan Amerika melakukan penyerangan terhadap militan, militan Nigeria yang menguasai sebagian minyak mentah di Nigeria, dan kita harus tahu bahwa Presiden Donald Trump di media dia mengatakan bahwa Amerika akan melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Minggu (28/12/2025).

    Nigeria sendiri merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dan anggota OPEC, dengan produksi sekitar 1,3 juta barel per hari. Gangguan di negara tersebut berpotensi mengerek harga minyak global dan mendorong inflasi, yang pada akhirnya meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

    “Sehingga Amerika melakukan penyerangan terhadap militan-militan yang kemungkinan besar akan membuat produksi minyak di Nigeria akan terhambat. Kita harus tahu bahwa Nigeria adalah salah satu negara anggota OPEC yang memproduksi diperkirakan 1,3 juta barel perhari. Itu yang pertama,” kata Ibrahim.

  • Harga Emas Diprediksi Terus Bersinar hingga Akhir 2026, Tersengat Geopolitik Memanas

    Harga Emas Diprediksi Terus Bersinar hingga Akhir 2026, Tersengat Geopolitik Memanas

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia saat ini masih berada dalam tren kenaikan dan berpotensi berlanjut hingga akhir 2026. Dia menuturkan, terdapat dua faktor utama yang menjadi penopang kuat reli harga emas, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik global dan melemahnya indeks dolar Amerika Serikat.

    “Apa yang mempengaruhi fluktuasi harga emas dunia dan logam mulia yang kemungkinan besar masih akan mengalami kenaikan sampai akhir tahun 2026 di hari Rabu. Ada 2 faktor yang mempengaruhi adalah faktor geopolitik, yang kedua adalah pelemahan Indeks Dolar. Saya mungkin akan langsung dulu ke faktor Geopolitik,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Senin (29/12/2025).

    Ibrahim menjelaskan, kondisi global saat ini penuh dengan ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik lintas kawasan hingga dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat emas kembali menjadi instrumen lindung nilai (safe haven) favorit bagi investor global.

    Ibrahim menjelaskan, faktor geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan emas, terutama memanasnya situasi politik di Afrika dan Amerika Latin. Ibrahim menyoroti konflik antara Amerika Serikat dan Nigeria yang berkaitan dengan penyerangan pasukan Amerika terhadap kelompok militan di Nigeria.

    Militan tersebut diketahui menguasai sejumlah wilayah penghasil minyak mentah yang selama ini menjadi sumber kepentingan perusahaan energi Amerika. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika tidak akan ragu melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria.

    “Di mana pasukan Amerika melakukan penyerangan terhadap militan, militan Nigeria yang menguasai sebagian minyak mentah di Nigeria, dan kita harus tahu bahwa Presiden Donald Trump di media dia mengatakan bahwa Amerika akan melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria,” ujarnya.

    Nigeria merupakan salah satu negara anggota OPEC dengan kapasitas produksi sekitar 1,3 juta barel minyak per hari. Jika produksi minyak terhambat akibat konflik berkepanjangan, pasar energi global akan kembali bergejolak. Kondisi tersebut biasanya mendorong investor mengalihkan dana ke aset aman seperti emas.

  • Bocoran Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Bersiap Koreksi atau Naik

    Bocoran Prediksi Harga Emas Pekan Ini, Bersiap Koreksi atau Naik

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan harga emas dunia ditutup menguat di level USD 4.531 per troy ons pada perdagangan terakhir. Namun, ia menilai pergerakan emas dalam sepekan ke depan masih rawan koreksi teknikal, terutama jika tekanan jual muncul sejak awal pekan.

    “Harga emas dunia kemarin ditutup di level USD 4.531 per troy ons, Kemudian untuk logam mulianya ditutup di Rp 2.627.000,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Senin (29/12/2025).

    Menurut dia, apabila harga emas dunia melemah pada perdagangan Senin, support terdekat berada di level USD 4.509 per troy ons. Level ini menjadi area krusial yang menentukan apakah koreksi hanya bersifat sementara atau berlanjut lebih dalam.

    Sejalan dengan emas global, harga logam mulia di dalam negeri juga berpotensi ikut terkoreksi. Jika skenario pelemahan terjadi, harga emas fisik diperkirakan turun menuju kisaran Rp 2.600.000 per gram, mengikuti arah pergerakan pasar global.

    “Apabila Harga emas Dunia turun di hari Senin, kemungkinan besar akan terkoreksi di support pertama di USD4.509 per troy ons. Kemudian logam mulianya di Rp 2.600.000,” ujarnya.

    Support Kedua di USD 4.487 Jika Tekanan Berlanjut

    Ibrahim menjelaskan, apabila tekanan jual berlanjut hingga pertengahan pekan, khususnya hingga 31 Desember 2025 harga emas dunia berpotensi menguji support kedua di level USD 4.487 per troy ons. Level ini dinilai sebagai batas bawah yang cukup kuat dalam jangka pendek.

    Dalam kondisi tersebut, harga logam mulia di pasar domestik diproyeksikan turun lebih lanjut ke kisaran Rp 2.570.000 per gram. Level ini dipandang masih wajar secara teknikal dan belum mengubah tren utama emas yang masih berada dalam fase bullish jangka menengah.

    “Kalau seandainya turun sampai di hari Rabu, ya berarti Rabu itu kemungkinan besar support keduanya itu di USD 4.487 per troy ons. Logam mulianya itu kemungkinan di Rp 2.570.000, itu kalau seandainya turun,” jelasnya.

     

     

  • Harga Emas Makin Perkasa, Ketegangan AS dengan Sejumlah Negara jadi Pemicu

    Harga Emas Makin Perkasa, Ketegangan AS dengan Sejumlah Negara jadi Pemicu

    Liputan6.com, Jakarta – Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilaimemanasnya situasi perpolitikan di Amerika Latin, antara Amerika Serikat dan Venezuela, dan Amerika Serikat (AS) dengan Nigeria, yaitu di Afrika berpotensi memberikan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, terutama sektor energi serta mendorong kenaikan harga emas dunia.

    Amerika Serikat dilaporkan melakukan operasi militer terhadap kelompok militan yang menguasai wilayah produksi minyak di Nigeria. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran pengusaha minyak Amerika yang merasa dirugikan akibat terganggunya aktivitas produksi dan distribusi minyak mentah.

    “Di mana pasukan Amerika melakukan penyerangan terhadap militan, militan Nigeria yang menguasai sebagian minyak mentah di Nigeria, dan kita harus tahu bahwa Presiden Donald Trump di media dia mengatakan bahwa Amerika akan melakukan serangan terhadap target militan di Nigeria,” kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Minggu (28/12/2025).

    Nigeria sendiri merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dan anggota OPEC, dengan produksi sekitar 1,3 juta barel per hari. Gangguan di negara tersebut berpotensi mengerek harga minyak global dan mendorong inflasi, yang pada akhirnya meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai.

    “Sehingga Amerika melakukan penyerangan terhadap militan-militan yang kemungkinan besar akan membuat produksi minyak di Nigeria akan terhambat. Kita harus tahu bahwa Nigeria adalah salah satu negara anggota OPEC yang memproduksi diperkirakan 1,3 juta barel perhari. Itu yang pertama,” kata Ibrahim.

  • Sudah Tembus Rp 2,5 Juta/Gram, Harga Emas Diramal Tambah Mahal

    Sudah Tembus Rp 2,5 Juta/Gram, Harga Emas Diramal Tambah Mahal

    Jakarta

    Harga emas diramal masih berpeluang naik di sisa tahun 2025. Diketahui, harga emas dunia sebelumnya sempat berada di level US$ 4.525,18 per troy ons. Kemudian berdasarkan data Reuters pada Rabu (24/12) kemarin, harga logam mulia ini turun 0,2% menjadi US$ 4.479,38 per troy ons pukul 18.57 GMT.

    Sementara di dalam negeri, berdasarkan situs Logam Mulia Antam harga emas hari ini mengalami penurunan Rp 14.000 per gram menjadi Rp 2.576.000 per gram. Angka tersebut turun dari harga di hari sebelumnya, Rabu (24/12), yakni sebesar Rp 2.590.000 per gram.

    Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan harga emas hingga akhir tahun masih berpeluang naik. Namun menurutnya, pergerakan harga emas akan terbatas mengingat tidak banyak aktivitas investor dan pengumuman data ekonomi di akhir tahun.

    Lukman menilai, harga emas dunia dapat bertahan di kisaran level US$ 4.400 hingga US$ 4.500 per troy ons. Pergerakan harga emas hingga akhir tahun juga dapat bergerak tidak stabil mengingat rendahnya volume transaksi di akhir tahun.

    “Tidak banyak aktivitas di akhir tahun, traders umumnya menikmati liburan, dan absennya data-data ekonomi penting, emas diperkirakan akan bertahan dalam kisaran US$ 4.400-US$ 4.500. Walau demikian emas bisa juga volatile oleh rendahnya volume transaksi,” ungkap Lukman kepada detikcom, Kamis (25/12/2025).

    Dihubungi terpisah, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menjelaskan pergerakan harga emas masih banyak dipengaruh sentiment pelonggaran moneter The Fed yang berlangsung tahun depan. Kondisi ini mendorong permintaan safe haven meningkat, seiring meningkatnya tensi geopolitik di Eropa Timur (Rusia-Ukraina) dan AS-Venezuela.

    Nanang menilai, harga emas dunia secara tahunan telah menguat lebih dari 70% secara tahunan. Capaian ini menjadi kenaikan terbesar sejak tahun 1979. Kenaikan harga emas dunia juga mendorong fase baru emas domestik di atas Rp 2,5 juta per gram.

    “Ekspektasi pemangkasan suku bunga AS membuat biaya memegang emas yang tidak berbunga menjadi lebih rendah dan menarik. Pelemahan dolar AS akibat sentimen dovish The Fed turut menopang emas. Selain karena factor geopolitik, kekhawatiran fiskal, utang global, dan volatilitas pasar modal turut mendorong aliran ke emas,” ungkapnya.

    Nanang juga menyebut, bank sentral di wilayah emerging market juga terus menambah cadangan emas mereka untuk diversifikasi. Permintaan emas secara global bahkan meningkat 6% dibanding tahun sebelumnya berdasarkan data WGC. Ia pun memperkirakan harga emas masih dapat merangkak naik hingga akhir tahun nanti.

    “Proyeksi Harga emas (XAUUSD/dunia) di akhir tahun menjadi level resisten kunci US$ 4.580, dengan target tertinggi. Emas Antam (domestik) diperkirakan bergerak dalam rentang Harga Rp 2.400.000 – Rp 2.550.000 per gram di akhir Desember 2025, tergantung nilai tukar dan sentimen pasar,” pungkasnya.

    Sementara itu, Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi, mengatakan ada beberapa sentimen yang mempengaruhi pergerakan harga emas dunia dan dalam negeri, di antaranya geopolitik, perpolitikan Amerika Serikat (AS), kebijakan bank sentral AS, perang dagang, hingga supply dan demand.

    “Geopolitik ya kemungkinan akan cukup menarik bagi pasar karena geopolitik sekarang sudah melebar, yang pertama Timur Tengah, yang kedua adalah Eropa, yang ketiga Amerika Latin, yang keempat itu adalah Laut Asia Timur,” ungkapnya.

    Dari sisi perpolitikan AS, Ibrahim mengatakan tahun depan akan memanas menyusul pemecatan Gubernur The Fed Lisa Cook yang keputusan resminya akan diumumkan pengadilan federal pada awal kuartal 2026. Jaksa Agung Pengadilan Federal AS juga akan memutuskan tentang gugatan tarif impor.

    “Artinya apa? Ini pun juga akan memanaskan situasi perpolitikan di Amerika. Karena Pak Trump sendiri sudah memberikan balasan terhadap Jaksa Agung, kalau seandainya perang dagang ini inkonstitusional, dibatalkan, ya Amerika akan kehilangan pendapatan negara sebesar US$ 2 triliun,” jelasnya.

    Kemudian adanya perubahan struktural pengurus The Fed yang salah satunya akan diisi oleh seseorang yang dekat dengan Presiden AS, Donald Trump. Menurutnya, kondisi ini akan membuat kebijakan The Fed akan lebih lunak.

    Dengan sejumlah sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan harga emas dunia hingga akhir tahun masih dapat bergerak hingga US$ 4.550 per troy ons. Sementara di domestik, harga emas bisa mencapai Rp 2.650.000 hingga Rp 2.700.000 per gram.

    “Kemungkinan besar itu mencapai di US$ 4.550.000-an sampai akhir tahun. Nanti malam itu pasar ditutup jam 2 pagi karena ada Natal. Kemudian rupiah sendiri sudah mendekati level Rp 2.600.000 (data hari Rabu). Artinya apa? Sampai akhir tahun bisa mengenai level Rp 2.650.000 sampai Rp 2.700.000-an. Itu di akhir tahun 2025,” pungkasnya.

    (acd/acd)